Asetilator Cepat Asetilator Lambat
Isoniazid (INH) dalam masyarakat Jakarta
dr. B. Soeharto , drs. Andi Sutianto, dr. Darmadi
, dra. Yanti Mariana, Bella N. Toha
Pusat Penelitian Pengembangan PT Kalbe Farma, Puslit Farmasi Badan Litbangkes,
Depkes RI.
PENDAHULUAN
Penyakit TBC masih merupakan penyakit rakyat yang
utama di Indonesia: Salah satu obat yang dipergunakan untuk
terapi penyakit tersebut ialah isoniazid (lNH): Dosis lNH
yang optimal hanya dapat diketahui, bila diketahui kecepat-
an biotransformasi obat itu dalam tubuh dan ekskresinya: Bio-
transformasi lNH ialah dengan cara asetilasi, dan ekskresinya
sebagian besar dalam bentuk asetil melalui urin (1,2):
Dalam hal kecepatan asetilasi INH
ini, dibedakan dua
golongan . yaitu golongan asetilator cepat dan asetilator
lambat: Perbedaan kecepatan asetilasi obat itu ditentukan
oleh faktor heriditer sesuai hukum Mendel : Asetilator cepat
diturunkan oleh gen dominan (3): Ellard telah melaporkan
tentang frekuensi golongan asetilator cepat dan asetilator
lambat lNH di antara suku-suku bangsa di dunia (3); sedang-
kan Adji Widjaja dan kawan-kawan melaporkan prosentase
golongan asetelator cepat dan asetilator lambat lNH dari
sejumlah pasien yang terdiri dari suku Jawa dan Madura di
Surabaya (4).
Penelitian
frekuensi asetilator cepat dan asetilator
lambat lNH di lndonesia masih belum lengkap: Tujuan umum
penelitian ini ialah mengetahui frekuensi asctilator cepat dan
asetilator lambat lNH di Indonesia, yang terdiri dari berba-
gai suku bangsa, namun karena keterbatasan waktu dan
biaya, maka baru dapat dilakukan pada sekelompok masya-
rakat Jakarta saja:
METODA DAN BAHAN
Setelah diadakan pemilihan metoda penetapan golongan ase-
tilator cepat dan asetilator lambat yang cukup praktis dan teliti (5,
6,7), maka pada penelitian ini dipilih metoda pemeriksaan Eidus dan
kawan-kawan 15) dengan bahan pemeriksaan urin.
Untuk setiap orang percobaan dicatat : umur, berat badan dan
suku bangsa: Umur orang perCeobaan berkisar antara 20 70 tahun
dan berat badan antara 40 80 kg. Suku bangsa terdiri dari Suku :
Jawa, Sunda, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Tionghoa, Jakarta,
Tapanuli, Arab, Manado, Timor dan Madura.
Mulai tiga hari sebelum pemeriksaan, orang percobaan tidak
boleh makan obat atau vitamin, sehari sebelum pemeriksaan orang
percobaan diberi isoniazid (lNH) 10 mg per kilogram berat badan
dalam kapsul: Obat dimakan 8 jam sebelum pengambilan sediaan urin;
6 jam setelah makan obat orang percobaan membuang urin semua-
nya, 8 jam setelah makan obat, urin ditampung untuk bahan pemerik-
saan. Kemudian dilakukan cara penetapan sebagai berikut :
· Bahan pemeriksaan :
urin diencerkan lCebih dulu dengan air
suling 1:10: Disediakan 2 sample urin @
1 ml, pada masing-masing
sample urin tersebut ditambahkan 0,5 ml 0,5 N HCI, dibiarkan pada
suhu kamar
selama 15 menit: Pada salah satu sample (sample B) di-
tambahkan 1 tetes asam asetat anhidrid p.a: : koeok selama ± 1 menit
kemudian ditambah NaOH 7N 1 tetes : Pada sample yang lain (sample
A) ditambah 2 tetes air suling untuk mendapat jumlah volume yang sa-
ma.Kemudian kedua sample urin tersebut dinetralkan dengan 0,5 ml
0,5N Na011 lalu pada kedua sample diatas ditambahkan berturut-
turut : 1 ml 0,5 N Kalium fosfat buffer (pH : 6); 1 ml larutan KCN
20% (yang dibuat baru), 4 ml larutan ChloraminT 12,5% (larutan
segar) dengan dikocok: Sesudah ditunggu satu setengah menit, kemudi-
an ditambahkan 5 ml aseton p.a: sambil dikocok: Kadang-kadang tim-
bul endapan pada urin yang pekat, endapan ini dapat dihilangkan
dengan dicentrifuge:
Menentukan O.D. loptiCeal density) dari kedua sample tadi dengan
spektro fotometer pada panjang gelombang 550 inu.
· Perhitungan dan penetapan golongan :
ada dua maeam ukur-
an untuk penetapan golongan asetilator cepat dan asetilator lambat
lNH.
1. lndeks inaktifasi :perbandingan antara asetil lNH dan lNH bebas:
Indeks inaktifasi = O.D. larutan A/O:D: larutan (BA) x 0,761;
orang percobaan dengan nilai indeks 3 atau lebih rendah, termasuk
golongan asetilator lambat, sedangkan nilai indeks 5 atau lebih
tinggi, termasuk golongan asetilator Ceepat.
2. Prosentase asetil lNH : perhitungan dari asetil lNH sebagai total
hidrazid yang diekskresi dalam urin.
Prosentase asetil lNH = O.D. larutan A/O.D. larutan B x 100%
;
orang percobaan dengan prosentase asetil lNH
75% atau lebih
tinggi, termasuk golongan asetilator Ceepat. Sedangkan orang per-
cobaan dengan nilai indeks inaktifasi antara 3 dan 5 atau prosen-
tasi asetil lNH antara 70% sampai 75%, termasuk golongan sedang
(intermedier ).
Larutan A(sample A) adalah larutan yang hanya mengandung asetil
lNH dan larutan B (sample B) adalah larutan yang mengandung asetil
lNH dan INH yang telah diubah menjadi asetil INH (dengan asain ase-
tat anhidrid): 0,761 adalah selisih berat molekul asetil 1NH dan
INH.
Blanko yang dipakai pada penetapan ini ialah aquadest yang ditambah
pereaksi-pereaksi
dan diperlakukan sama dengan sample, menurut
mCetoda pemeriksaan.
HASIL
Dari hasil pengamatan dengan cara penetapan golongan
asetilator cepat dan asetilator lambat lNH menurut metoda
Eidus, L dkk: (5) untuk sekolompok masyarakat Jakarta (ta-
bel [) yang terdiri dari suku Jawa, Sunda, Sumatera Barat,
Kalimantan Selatan, Tionghoa, Jakarta,Tapanuli, Arab, Mana-
do, Timor dan Madura, tcrnyata dari 103 orang suku Jawa :
44,66% tergolong asetilator cepat, 53,40% asetilator lambat
dan 1,94 % golongan sedang: Dari 14 orang suku Sunda :
50,86% tergolong asetilator cepat, 42,86% asetilator lambat
dan 7,14 % golongan sedang: Dari 12 orang suku Sumatera
Barat 75% termasuk golongan asetilator cepat, 25% aseti-
lator lambat dan dari 13 orang suku Tionghoa, 76,92% ter-
Cermin Dunia Kedokteran
No. 19. 1980
3 9
TabeI 1.
Hasil penelitian penggoIongan asetilator cepat dan aset0ator
Iambat INH menurut suku bangsa.
ASETlLATOR
SUKU
cepat
lambat
sedang
jumlah
BANGSA
jumlah
%
jumlah
jumlah
jumlah
%
orang
orang
orang
orang
1:Jawa
46 ( 44,66) 55 ( 53,40) 2 (1,94) 103
(65,19)
2.5unda
7 ( 50,00)
6 ( 42,86) 1
(7,14)
14
( 8,86)
3:Sumatera Barat
9 ( 75,00)
3 ( 25,00) -
-
12
( 7,59)
4:Kalimantan Sel.
3 ( 75,00)
1 ( 25,00) -
4
( 2,53)
5:Tionghoa
10 ( 76,92)
2 ( 15,38) 1
(7,69)
13
( 8,23)
6:Jakarta
2 ( 40,00)
3 ( 60,00) -
5
( 3,16)
7:Tapanuli
-
2 (100,00)
2
( 1,27)
8:Arab
1 (100,00)
-
1
( 0,63)
9.Manado
-
-
1 (100,00) -
-
1
( 0,63)
10: Tiinor
1 ( 50,00)
1 ( 50,00) -
2
( 1,27)
11.Madura
-
1 (100,00) -
1
( 0,63)
J u m l a h
79 ( 50,00) 75 ( 47,47) 4
(2,53) 158.
(100)
masuk golongan asetilator cepat, 15,38% asetilator lambat
dan 7,69% golongan sedang:
Untuk suku-suku lainnya (lihat tabel), karena jumlah
orang percobaan terlalu sedikit (kurang dari I0 orang) sukar
ditentukan prosentase dari penggolongan asetilator INH:
Dari seluruh orang percobaan yang berjumlah 158
orang : 50% termasuk golongan asetilator cepat, 47,47%
termasuk golongan asetilator lambat dan 2,53% termasuk
golongan sedang. Data-data tersebut di atas memperIihatkan
penggolongan asetilator lNH hanya pada sebagian kecil saja
dari masyarakat Jakarta:
PEMBAHASAN
Seperti telah disebutkan dalam pendahuluan, biotrans-
formasi INH ialah dengan cara asetilasi dan ekskresinya se-
bagian besar melalui urin: Kecepatan biotransformasi dan
ekskresi obat ini berhubungan erat dengan efektivitas dan
toksisitasnya (1,2): Efek samping yang ditimbulkan oleh lNH
berupa neuritis perifer lebih mudah terjadi pada golongan
asetilator lambat, karena ini disebabkan oleh INH sendiri,
sedangkan ikterus mudah terjadi pada golongan asetilator
cepat, karena ini disebabkan oleh asetil lNH (2,9,10): Jadi
penggolongan asetilator cepat atau asetilator lambat
lNH
sehubungan dengan kecepatan biotransformasi dan eks-
kresinya, penting untuk pemilihan dan penetapan dosis terapi.
Menurut Ellard (1976) pada suku bangsa Jepang dan Es-
kimo kira-kira 10% tergolong asetilator lambat, diantara suku
Cina kira-kira 20% asetilator lambat, sedangkan pada suku
bangsa barat, negro dan lndian kira-kira 60% tergolong ase-
tilator lambat (3).
Dari penelitian Adji Widjaja dkk. yang dilakukan di
Surabaya dengan sekelompok pasien yang terdiri dari suku
Jawa dan Madura, ternyata 64,3% tergolong asetilator cepat
dan 36,6% tergolong asetilator lambat:
Sedangkan dari hasil penelitian kami, untuk sekelompok ke-
cil masyarakat Jakarta yang terdiri dari 12 macam suku
bangsa (daerah) ternyata 50% tergolong asetilator cepat
47,47% tergolong asetilator lambat dan 2,53% termasuk go-
longan sedang (intermedier), namun pada penelitian ini,
untuk beberapa suku bangsa, jumlah orang percobaan ter-
lampau kecil (kurang dari 10 orang) sehingga data-data ter-
sebut belum dapat mewakili seluruh masyarakat Jakarta pada
khususnya atau seluruh masyarakat lndonesia pada umumnya:
Untuk mendapatkan data-data yang lebih lengkap, masih di-
perlukan penelitian/survey lebih lanjut.
RINGKASAN
PeneIitian untuk mengetahui frekuensi asetilator cepat
dan asetilator lambat isoniazid (INH) dimasyarakat, dilaku-
kan pada sekelompok masyarakat Jakarta yang terdiri dari
12 macam suku bangsa. Penetapan golongan asetilator cepat
dan asetilator lambat INH dilakukan dengan cara spektro-
fotometer menurut metoda Eidus dkk: Dari hasil penelitian
pada 158 orang percobaan, ternyata 50% tergolong asetila-
tor cepat, 47,47% tergoIong asetilator Iambat dan 2,53% ter-
golong sedang (intermedier). Untuk mendapatkan data-data
yang dapat mewakili masyarakat lndonesia pada umumnya,
masih memerlukan survey yang lebih luas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami sainpaikan kepada Bagian Farmakologi
FKUI dan PT Kalbe Farma yang telah membantu penelitian
ini sehing-
ga dapat berjalan lancar.
KEPUSTAKAAN
1.
Koch Waser J: The Serum level Approaeh to Individualization
of Drug dosage: Europe J Clin Pharmacol 1975; 9 : 1 - 8
2.
Goodman L S and Gilman F: The PharmaeologicaI Basis of Thera-
peutics: 5th Ed: Me Millan Publishing Co:, 1975; 1204 - 1207
3.
Ellard G A. Variation between individuals and populations in the
aeetylation of isoniazid and its significane for the treatment of
pulmonary tuberculosis: Clin Pharmacol Ther: 1976; 19:5, part 2,
610-624
4.
Adji Widjaja, Benyamin P M, Djati Sampoerno, dkk: : Penelitian
keeepatan in aetivasi lNH pada penderita -penderita penyakit
paru-paru ruinah sakit Dr: Soetomo, Surabaya: Kongres lkatan
Dokter Paru Indonesia ke-l, Jakarta 8-10 Agustus 1977 hal.
129-135:
5.
Eidus L, Varughess P, Hodgkin M M, et al: Simplification of iso-
niazid phenotyping proeedure to promote its applieation in
ehemotherapy of tuberculosis:
Bull World Health Organization: 1973; 49 : 507-516:
6.
Zaeni A, Peetosutan E: Penilaian kadar INH aktif dalain serum
dengan cara Bioassay difusi vertikal: Medika No: 4, thn: I, hal:
37 - 40, Des: 1975:
7.
Venkararainan P Eidus L and Tripathy S P: Method for esti-
ination of aeetylisoniazid in urin: Tuberele, London: 1968; 49 :
210-217:
8.
Toha B N: Slow and Rapid isoniazid Acetylators: Skripsi untuk
memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Farmasi: Jurus-
an Farmasi FlPlA, Ul: Jakarta 1976:
9.
Timbrell J A, Wright J M and Baillie J A: Monoacetylhydrazine
as a metabolite of isoniazide in man: Clin Pharmaeol Ther 1977;
22 : 5, part l, 602-608:
10. Mitehell J R, Ziinmerman H J, Iskak K G, et al: Isoniazide Liver
Injury : Clinieal Speetrum, Pathology and Probable Pathogenesis:
1976; 84 : 181-192:
4 0
Cermin Dunia Kedokteran No 19, 1980