background image
HASIL PENELITIAN
Alginat Sebagai Dasar Salep -
Pelepasan Obat, Penyerapan Air,
Aliran Reologi, dan Uji Iritasi Kulit
Hakim Bangun
Laboratorium Formulasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Sumatera Utara, Medan
ABSTRAK
Telah dibuat salep dengan menggunakan alginat sebagai dasar, juga diuji sifat
pelepasan obat, penyerapan air, aliran reologi, dan iritasi kulit dari dasar alginat.
Kloramfenikol dipakai sebagai obat model. Laju pelepasan kloramfenikol dan laju
penyerapan air pada dasar alginat dibandingkan dengan laju pelepasan kloramfenikol
dan laju penyerapan air pada dasar polietilen glikol, salep hidrofilik USP, dan vaselin.
Ditemukan bahwa laju pelepasan kloramfenikol dan laju penyerapan air pada dasar
alginat adalah lebih besar daripada laju pelepasan kloramfenikol dan laju penyerapan
air pada dasar salep hidrofilik USP dan vaselin. Tetapi, laju pelepasan kloramfenikol
dan laju penyerapan air pada dasar alginat adalah lebih kecil daripada laju pelepasan
kloramfenikol dan laju penyerapan air pada dasar polietilen glikol. Kurva aliran reologi
dasar alginat adalah pseudoplastis. Uji iritasi dasar alginat dilakukan terhadap 11 orang
sukarelawan; temyata tidak seorang pun mendapat iritasi kulit.
PENDAHULUAN
Asam alginat adalah suatu polisakarida bahan alam yang
diperoleh dari alga coklat. Biopolimer ini adalah suatu kopo-
limer yang terdiri atas residu
-(1-4)-D-asam manuronat (M)
dan
(1-4)-L-asam guluronat (G), yang tersusun dalam
blok-blok homopolimer dari masing-masing tipe (MM, GG)
dan dalam blok-blok heteropolimer (MG).
(1,2)
Natrium alginat,
yang merupakan garam natrium dari asam alginat bersifat
sangat hidrofilik dan juga bersifat membentuk gel dengan ion
kalsium.
(3)
Pembentukan gel ini adalah oleh karena peng-
kelatan ion kalsium dengan rantai poli-L-guluronat
(4)
.
Alginat bersifat non-toksik, non-alergik, dan dapat terurai
dalam tubuh (blodegradable). Apabila kena jaringan tubuh
maka alginat terurai menjadi gula sederhana dan dapat
diabsorpsi.
(5)
Natrium alginat dalam bidang farmasi antara lain digunakan
sebagai bahan pensuspensi, pengental, pengikat dan penghan-
cur tablet.
(6)
Belakangan ini, alginat bentuk gel telah mendapat
perhatian sebagai pembawa untuk pembuatan sediaan obat
pelepasan terkontrol (controiled drug release).
(7-10)
Dalam
pengobatan topikal, pembalut serat alginat yang dibuat dari
garam kalsium asam alginat telah digunakan dengan sukses
untuk pengobatan borok diabetes.
Dalam penelitian ini, perhatian khusus tertuju pada pema-
kaian alginat sebagai pembawa sediaan topikal, yaitu sebagai
dasar salep. Karena alginat bersifat hidrofilik dan dapat terurai
dalam tubuh, maka sebagai dasar salep akan mempunyai bebe-
rapa keunggulan, yaitu : mempunyai kemampuan absorpsi
yang kuat terhadap cairan (eksudat) dari luka, mudah dicuci
dengan larutan garam, dan sisa-sisa dasar salep yang meng-
alami biodegradasi dalam luka tidak perlu dikeluarkan sehing-
ga mencegah gangguan pembentukan jaringan baru. Selain itu,
dasar alginat memberikan rasa sejuk pada tempat pemakaian.
Apabila kita memakai suatu sediaan salep pada suatu kulit
yang sakit, maka respons klinik timbul dari tiga proses. (1)
pelepasan obat dari pembawa, diikuti oleh (2) penetrasinya
melalui barier kulit dan (3) pengaktipan respons farmakologi
yang diinginkan.
(12)
Oleh karena itu, kefektifan terapi topikal
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 37
background image
dipengaruhi oleh tiga komponen, yaitu : obat, pembawa, dan
kulit.
Dari segi pembawa yang mempengaruhi keefisienan
terapi, dalam laporan ini akan dibahas sifat pelepasan obat,
penyerapan air, aliran reologi, dan uji iritasi kulit dari dasar
alginat. Sebagai obat model digunakan kloramfenikol, suatu
obat yang sukar larut dalam air. Laju pelepasan obat dari dasar
alginat juga dibandingkan dengan laju pelepasan obat dari
dasar polietilen glikol, salep hidrofilik USP, dan vaselin. Se-
lain sifat pelepasan obat, juga didiskusikan sifat penyerapan
air, aliran reologi, dan uji iritasi kulit dasar alginat.
Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai ke-
gunaan natrium alginat sebagai dasar salep, mengingat poli-
mer ini masih kurang mendapat perhatian dalam formulasi
sediaan topikal.
METODE PENELITIAN
Bahan
Natrium alginat adalah produk Wako Pure Chemical
Industries, Ltd. Kloramfenikol adalah produk Sam Wo
Trading Company, LTD. Membran selulosa, kalsium gluko-
nat, gliserin, etanol; metil paraben, vaselin putih, propilen
glikol, natrium lauril sulfat, polietilen glikol 6000, dan stearil
alkohol semuanya adalah produk Merck.
Pembuatan salep kloramfenikol dengan dasar alginat
Formula salep kloramfenikol dengan dasar alginat :
(13)
Kloramfenikol 2
g
Kalsium glukonat 0,05 g
Natrium alginat
3 g
Metil paraben
0,02 g
Gliserin 45
g
Akuades ad
100 g
Kalsium glukonat dan metil paraben dilarutkan dalam air
panas, dan dibiarkan sampai dingin. Gliserin dicampur dengan
natrium alginat, digerus sampai terbentuk pasta yang halus,
kemudian larutan di atas ditambahkan ke dalam campuran ini,
setelah itu digerus sampai homogen. Dibiarkan selama 8 jam
untuk mendapatkan massa yang kental, lalu ditambah kloram-
fenikol, kemudian digerus sampai homogen.
Sebagai sampel uji pelepasan kloramfenikol dari dasar
alginat, digunakan dasar yang tanpa penambahan metil para-
ben untuk menghindari gangguan dalam penentuan kadar
kloramfenikol.
Pembuatan salep kloramfenikol dengan dasar vaselin
(dasar hidrokarbon)
Formula salep kloramfenikol dengan dasar vaselin :
Kloramfenikol 2
g
Vaselin putih ad 100 g
Kloramfenikol dicampur dengan vaselin putih, dan digerus
sampai homogen.
Pembuatan salep kloramfenikol dengan dasar salep
hidrofilik USP (dasar serap)
Formula salep kloramfenikol dengan dasar salep hidrofilik
USP
(14)
Kloramfenikol 2
g
Vaselin putih
25 g
Stearil alkohol
25 g
Propilen glikol
12 g
Natrium lauril silfat
1 g
Akuades ad
37 g
Stearil alkohol dan vaselin putih dilebur di atas penangas
uap, lalu dipanaskan pada 75°C. Ditambahkan bahan-bahan
yang lain, yang sebelumnya telah dilarutkan dalam air pada
75°C; kemudian campuran ini digerus sampai kental. Setelah
itu, ditambahkan kloramfenikol, dan digerus hingga homogen.
Pembuatan salep kloramfenikol dengan dasar salep
polietilen glikol (dasar larut dalam air)
Formula salep kloramfenikol dengan dasar polietilen
glikol(b> yang dimodifikasi
Kloramfenikol 2
g
Propilen glikol
50 g
Polietilen glikol 6000 49 g
Dalam cawan porselin ditimbang propilen glikol dan polietilen
glikol 6000, lalu dipanaskan pada penangas uap pada 65°C,
kemudian dibiarkan dingin sambil diaduk sampai membeku.
Setelah itu, ditambahkan kloramfenikol, dan digerus sampai
homogen.
Uji pelepasan kloramfenikol dari salep
Uji pelepasan kloramfenikol dari salep dilakukan menurut
metode yang diusulkan oleh Zuber
(15)
dengan beberapa
perbaikan; dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat
disolusi yang terdiri dari sebuah gelas silinder berselubung air
volume 300 ml sebagai tempat medium, pipa kaca (panjang 17
cm, diameter 2,4 cm), pengaduk magnet, termometer, dan
termostat.
Sebanyak 1 g salep yang mengandung kloramfenikol
diletakkan di atas membran selulosa berdiameter 3,5 cm.
Membran yang mengandung salep ini kemudian dilekatkan
pada salah satu ujung pipa kaca dengan menggunakan kasa
mesh 40 sebagai penyokong membran di ujung pipa. Dalam
uji pelepasan kloramfenikol dari dasar vaselin, salep hidrofilik
USP, dan polietilen glikol, di sebelah atas salep juga dipasang
kasa mesh 40 untuk mencegah salep tidak mengapung dalam
medium. Ujung pipa kaca yang mengandung salep dicelupkan
dalam 250 ml medium (akuades) sampai seluruh salep
terendam sempurna. Suhu medium dijaga konstan pada 37°C,
dan selama percobaan larutan digerakkan dengan pengaduk
magnet pada kecepatan 5 putaran per detik. Pada interval
waktu tertentu, medium dipipet 4 ml dan dimasukkan ke
dalam labu takar 25 ml, kemudian dicukupkan dengan akuades
sampai garis tanda. Medium yang dipipet segera diganti
dengan medium yang baru dengan volume dan suhu yang
sama, dan volume medium dijaga konstan 250 ml selama
percobaan. Konsentrasi kloramfenikol yang terlepas dianalisis
dengan menggunakan spektrofotometer (Spectrophotometer
1201, Milton Roy) pada panjang gelombang 276 nm:
Masing-masing percobaan dilakukan enam kali.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
38
background image
Uji penyerapan air oleh dasar salep
Uji penyerapan air oleh dasar salep dilakukan dengan
menggunakan kantong dialisis dari membran selulosa. Se-
banyak 1 g dasar salep tanpa obat dimasukkan ke dalam bagian
tengah kantong dialisis (panjang 5 cm dan diameter 2 cm); lalu
kedua ujung kantong dialisis disatukan dan diikat. Setelah itu,
bagian kantong dialisis yang mengandung salep dicelupkan ke
dalam 250 ml akuades (medium) pada 37°C di dalam sebuah
gelas silinder berselubung air. Selanjutnya, kantong dialisis
digantungkan pada suatu klem, dengan menjaga supaya bagian
kantong dialisis yang mengandung dasar salep tetap terendam
dalam medium. Selama percobaan larutan digerakkan dengan
sebuah pengaduk magnet pada kecepatan 5,5 putaran per detik.
Pada interval waktu tertentu berat kantong dialisis ditimbang
dan pertambahan beratnya dicatat.
Percobaan uji penyerapan air dilakukan untuk dasar
alginat, vaselin, salep hidrofilik USP, dan polietilen glikol.
Masing-masing percobaan dilakukan enam kali.
Penentuan kurva aliran reologi dasar alginat
Kurva aliran reologi (reogram) dasar alginat ditentukan
dengan menggunakan viskometer Stromer (Cannon Instrument
Co.) dengan perlengkapan lain yang terdiri dari gelas silinder
berselubung air volume 300 ml, termometer, alat pemberat,
dan termostat.
Sebanyak 200 g dasar alginat dimasukkan ke dalam gelas
silinder berselubung air dan suhu di atur 30°C. Sebuah beban
pemberat ditempatkan pada penggantung untuk memutar rotor.
Waktu yang dibutuhkan rotor untuk berputar 100 kali dicatat.
Percobaan dilakukan dengan variasi berat beban pemberat.
Masing-masing percobaan dilakukan 3 kali. Penentuan kurva
aliran reologi juga dikerjakan untuk larutan natrium alginat
3%, campuran larutan natrium alginat 3% dengan larutan kal-
sium glukonat 0,05%, dan salep kloramfenikol dengan dasar
alginat.
Uji iritasi kulit
Uji iritasi kulit dasar alginat dikerjakan menurut metode
21 day Cumulative Study,
(16)
terhadap 11 orang sukarelawan
yang berumur 23-28 tahun.
Sebanyak 100 mg dasar alginat dioleskan pada lengan
bawah dari tangan kiri dengan luas olesan 3 cm
2
(panjang 3 cm
dan lebar 1 cm) lalu olesan ditutup dengan plester. Pengolesan
dilakukan tiga kali sehari.
Selama percobaan, dasar salep yang telah dioleskan pada
lengan dijaga supaya tidak bersentuban dengan benda-benda
lain. Pengujian dilakukan terus-menerus selama 21 hari, dan
setiap hari skor dibaca dengan melihat apakah ada reaksi yang
timbul pada lengan kiri. Sebagai blanko (tanpa pengolesan
dasar alginat, hanya plester) adalah lengan bawah dari tangan
kanan pada daerah yang sama seperti tangan kiri.
Skor eritema adalah :
0 = tidak ada reaksi yang tampak
1 = eritema ringan
2 = eritema berat
3 = eritema berat dan udem
4 = eritema berat dengan udem dan erosi gelembung
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembuatan dasar alginat
Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa dasar salep
alginat dibuat dari kalsium glukonat, natrium alginat, metil
paraben, gliserin, dan air. Kalsium glukonat berguna untuk
pembentukan gel. Pada Waktu pencampuran bagian yang
mengandung natrium alginat dengan bagian yang mengandung
kalsium glukonat, terjadi reaksi antara kalsium glukonat dengan
natrium alginat dan terbentuk gel kalsium alginat. Penggelan ini
adalah karena dimerisasi antar rantai poli-L-guluronat melalui
pembentukan kelat
(3)
. Pembentukan gel ini mengakibatkan kon-
sistensi dasar salep menjadi lebih kental. Gliserin berguna
untuk mencegah dasar salep tidak mengering selama penyim-
panan, dan metil paraben sebagai pengawet. Dasar alginat
merupakan massa yang transparant, berbau spesifik dan pH
dasar salep ini 6,7.
Pelepasan kloramfenikol dari dasar alginat dan dari dasar
dasar lain
Profil pelepasan kloramfenikol dari dasar alginat dalam
medium air ditunjukkan dalam Gambar 1. Dalam gambar ini
juga diperlihatkan perbandingan antara laju pelepasan kloram-
fenikol dari dasar vaselin, salep hidrofilik USP, dan polietilen
glikol. Terlihat bahwa laju pelepasan kloramfenikol dari dasar
alginat adalah lebih cepat daripada laju pelepasan kloram-
fenikol dari dasar vaselin dan salep hidrofilik USP. Sebaliknya,
laju pelepasan kloramfenikol dari dasar alginat adalah lebih
lambat daripada laju pelepasan kloramfenikol dari dasar
polietilen glikol (Tabel 1). Dapat dilihat bahwa dalam waktu 5
Gambar 1. Pelepasan kloramfenikol dari dasar alginat dan dari dasar·
dasar lain.
Keterangan :
o : polietilen glikol
: alginat
: salep hidrofilik USP
t
: vaselin
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 39
background image
menit kloramfenikol telah terlepas dari dasar alginat sebanyak
5%, tetapi dari dasar salep hidrofilik USP, dan vaselin, masing-
masing baru terlepas sebanyak 1,0 dan 0,05%. Sebaliknya
dalam waktu yang sama, kloramfenikol telah terlepas dari dasar
polietilen glikol sebanyak 97,1%, dan dari dasar salep hidrofilik
USP sebanyak 12,2%. Dasar vaselin ternyata hanya dapat me-
lepaskan kloramfenikol sebanyak 1,2%. Jumlah kloramfenikol
yang terlepas dari dasar vaselin tampak tidak bertambah lagi
setelah 15 menit. Ini berarti 98,8% kloramfenikol tertahan di
dalam dasar vaselin.
Tabel 1. jumlah kloramfenikol yang terlepas (%) dari dasar alginat,
salep hidrofilik USP, vaselin, dan polietilen glikol pada waktu
yang berbeda-beda.
Waktu (menit)
Dasar salep
5 15 30 60 120
180
Alginat 9,2%
34,4%
71,9%
92,7%
97,1%
97,1%
Salep hidrofilik
USP 1,0%
1;8%
5,3%
8,8%
12,2%
15,9%
Vaselin 0,5%
1,2%
1,2%
1,2%
1,2%
1,2%
Polietilen gliko
77,9%
91,5%
Penyerapan air oleh dasar alginat dan oleh dasar-dasar
lain
Dalam Percobaan penyerapan air dengan metode dialisis,
dasar salep dimasukkan ke dalam kantong dialisis, lalu diren-
dam dalam medium. Dasar salep tetap tinggal di dalam
kantong dialisis oleh karena tidak dapat menembus membran,
tetapi air (medium) dapat masuk ke dalam kantong dialisis
oleh karena dapat menembus membran; dengan demikian,
apabila dasar salep mempunyai sifat menyerap air maka berat
kantong dialisis makin bertambah dan jumlah air yang diserap
dapat ditentukan.
Dalam Gambar 2 terlihat bahwa semakin lama dasar
salep direndam dalam air maka semakin banyak Pula air yang
diserap. Terlihat bahwa selama 5 menit berat dasar alginat
yang mula-mula 1 g, telah bertambah 0,4939 g. Ini berarti
terjadi pertambahan berat sebesar 49,39%. Dan selama 3 jam,
berat bertambah 2,0597 g atau 205,97%.
Gambar 2. Penyerapan air oleh dasar alginat dan oleh dasar-dasar lain.
Keterangan :
o : polietilen glikol
: alginat
: salep hidrofilik USP
t
: vaselin
Sifat menyerap air oleh gel alginat sesuai dengan Pene-
litian sebelumnya
(17)
. Sifat ini terdapat pada gel alginat tipe
partly-cured yaitu gel alginat yang masih mengandung
Natrium alginat. Dalam gel tipis ini terdapat Natrium alginat
yang belum bereaksi dengan garam kalsium membentuk gel
kalsium alginat. Gel kalsium
Tabel 2. Jumlah air yang diserap oleh 1 g dasar alginat untuk lama
perendaman 5, 15, 30,120, dan 180 menit.
Waktu
(menit)
Jumlah air yang
diserap (g)
Pertambahan
berat
(%)
5
0,4939
49,39
15
0,8026
80,26
30
1,2298
122,98
60
1,5749
157,49
120
1,8609
186,09
180
2,0597
205,97
alginat bersifat tidak larut dalam air. Dalam pembuatan gel
alginat, jika jumlah natrium alginat berlebihan daripada jumlah
garam kalsium secara stokiometri, maka akan terbentuk gel
alginat yang mengandung natrium alginat yang belum bereaksi
dengan ion kalsium (partly-cured).
Kalau dibuat urutan sesuai dasar salep yang digunakan
maka terlihat laju penyerapan air oleh dasar polietilen glikol >
alginat > salep hidrofilik USP > vaselin (Gambar 2). Perbeda-
an laju penyerapan air tersebut adalah karena perbedaan sifat
hidrofilisitasnya. Dasar salep yang bersifat hidrofobik seperti
vaselin, dengan sudut kontak antara vaselin dan cairan besar,
maka laju pembasahan lambat, sehingga laju penetrasi air ke
dalam vaselin juga lambat; akibatnya laju pelepasan kloram-
fenikol juga sangat lambat. Sebaliknya polietilen glikol ber-
sifat hidrofilik maka laju penyerapan air besar; selain itu dasar
ini larut dalam air. Dengan demikian, laju disolusi atau
pelepasan kloramfenikol dari dasar polietilen glikol menjadi
sangat cepat.
Laju Pelepasan kloramfenikol dari dasar polietilen glikol
> alginat > salep hidrofilik USP > vaselin (Gambar 1). Urutan
ini adalah sama dengan urutan laju penyerapan air oleh dasar-
dasar tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan antara laju
penyerapan air dengan laju pelepasan kloramfenikol; makin
besar laju penyerapan air ke dalam dasar, makin banyak terjadi
pelarutan kloramfenikol dari dasar salep. Dengan demikian
dapat diambil kesimpulan, jika tidak ada ikatan obat dengan
dasar salep, maka makin besar laju penyerapan air ke dalam
dasar salep, makin besar pula laju pelepasan obat dari dasar
salep tersebut.
Kurva aliran reologi dasar alginat
Seperti yang disebutkan terdahulu, dasar alginat terbuat
dari natrium alginat kalsium glukonat, gliserin, air dan
pengawet. Kurva aliran natrium alginat dan campuran natrium
alginat dengan kalsium alginat ditunjukkan dalam Gambar 3.
Kurva ini merupakan plot muatan (g) versus revolution per
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
40
background image
minutes (rpm) dari percobaan dengan menggunakan visko-
meter Stromer. Kurva aliran mulai atau mendekati titik (0,0)
pada rate of shear rendah, tidak ada yield value, dan
merupakan plot non-linear. Dengan demikian, kurva aliran
reologi dari natrium alginat dan campuran natrium alginat
dengan kalsium alginat, keduanya termasuk aliran pseudo-
plastis. Campuran larutan natrium alginat dengan larutan
kalsium glukonat membentuk gel yang mempunyai viskositas
lebih tinggi daripada viskositas larutan natrium alginat. Hal
ini tampak pada gambar bahwa pada harga muatan yang sama
maka harga revolution per minutes (rpm) dari gel adalah lebih
rendah daripada harga revolution per minutes (rpm) dari
larutan natrium alginat.
Gambar 3.Kurva aliran reologi larutan natrium alginat dan campuran
larutan natrium alginat dengan larutan kalsium glukonat.
Kurva aliran reologi gliserin yang ditentukan dengan cara
yang sama seperti natrium alginat, menghasilkan kurva aliran
non-newton, tetapi kurvanya tidak diikutkan dalam tulisan ini.
Kurva aliran reologi dasar salep alginat, yang merupakan
campuran dari gel alginat, gliserin, air dan pengawet adalah
juga aliran pseudoplastis. Demikian juga, kurva aliran salep
kloramfenikol dengan dasar salep alginat mengikuti aliran
yang sama (Gambar 4).
Dasar-dasar salep mungkin menyebabkan iritasi atau
alergi, biasanya terhadap komponen dasar tertentu. Reaksi
iritasi biasanya lebih sering dan lebih penting. Walaupun
alginat memenuhi syarat untuk bahan tambahan dalam makan-
an dan farmasi, tetapi beberapa alginat mengandung jumlah
kecil polifenol yang mungkin merusak sel yang sensitif
(18)
.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan uji iritasi dari
dasar salep alginat, yang dibuat dari natrium alginat yang
merupakan produk Wako Pure Chemical Industries, LTD.
Dari uji iritasi yang dilakukan terhadap 11 orang
sukarelawan selama 21 hari, ternyata tidak seorangpun yang
mendapat reaksi iritasi (Tabel 3).
KESIMPULAN
Laju pelepasan kloramfenikol dari dasar alginat adalah
lebih cepat daripada laju pelepasan kloramfenikol dari dasar
salep
Gambar 4. Kurva aliran reologi dasar alginat dan salep kloramfenikol
dengan dasar alginat.
Tabel 3. Jumlah air yang diserap oleh 1 g dasar alginat untuk lama
perendaman 5, 15, 30,120, dan 180 menit.
Skor
Minggu
Lengan kiri
(dasar alginat)
Lengan kanan
(tanpa dasar alginat)
I 0
0
II 0
0
III 0
0
IV 0
0
hidrofilik USP dan vaselin. Sebaliknya, laju pelepasan kloram-
fenikol dari dasar alginat adalah lebih lambat daripada laju
pelepasan kloramfenikol dari dasar polietilen glikol. Kurva
aliran reologi dasar salep alginat adalah pseudoplastis. Pada uji
iritasi dasar alginat terhadap 11 orang sukarelawan ternyata
tidak seorangpun yang mendapat iritasi kulit.
Ucapan terima kasih
Penulis berterima kasih kepada Dhani Emisma S., S.SI, Apt, mahasiswa
penulis, atas partisipasinya dalam penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1. Haug A, Larsen B. Quantitative determination of uronic acid
composition of alginates. Acta Chem. Stand. 1962; 16; 1908-18.
2.
Haug A, Larsen B. Studies on the sequence of uronic acid residues in
alginic acid. Acta Chem. Stand. 1967; 21 : 691-704.
3.
Smidsrod O, Haug O. The effect of divalent metals on the properties of
alginate solution. Acta Chem. Scand., 1965; 19 : 329-340.
4.
Morris E R, Rees D A, Thom D. Chiroptical and stochiometric evidence
of a specific, primary dimerisation process in alginate gelation.
Carbohydrate Research, 1978; 66 :145-154.
5.
Blaine G. Experimental observations on absorbable alginate product in
surgery. Ann Surg. 1947; 125 : 102.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 41
background image
6.
Reynolds EF, Prased BA. Martindale The Extra Pharmacopeia, 20
th
ed.
The Pharmaceutical Press; London, 1982; Hal 960-1, 1140.
13. Blaug MS. Medicated Applications. Dalam : Gennaro RA, ed.
Remington's. Pharmaceutical Sciences, 17
th
ed. Easton, Penn sylvania :
Mack Publishing Company, 1985; 1523-53.
7.
Sugawara S, Imai T, Otogiri M. The controlled release of prednisolon
using alginate gel. Pharmaceutical Research, 1994; 11 (2) : 272-7.
14. Swinyard EA, Lowenthal W. Pharmaceutical Necessities. Dalam :
Gennaro RA, ed. Remington's Pharmaceutical Sciences, 18
th
ed. Easton,
Pennsylvania : Mack Publishing Company, 1990; 1309-14.
8.
Tatehita K, Sugawara S, Imai T, Otogiri M. Preparation and evaluation
of controlled release formulation of nifedipin using alginate gel beads.
Bio Pharm. Bull. 1993; 16 : 420-424.
15. Hanson AW. Hand Book of Dissolution Testing. Oregon : Pharmaceuti-
cal Technology Publications, 1982; Hal 45-61.
9.
Bangun H, Arianto A. Karakteristik pelepasan kloramfenikol dari butir
gel alginat yang dibuat dengan cara mengempa. Media Farmasi, An
Indonesia Pharmaceutical Journal, 1995; 3 (1) ; 13-22.
16. Block HL. Medicated Applications. Dalam : Gennaro RA, ed.
Remington Pharmaceutical Sciences, 18
th
ed. Easton, Pennsylvania :
Mack Publishing Company, 1990; 1596-608.
10. Bangun H, Arianto A. Efek curing time, kandungan obat, dan pH
terhadap pelepasan kloramfenikol dari butir-butir gel alginat yang dibuat
dengan metode tetes. Komunikasi Penelitian, Lembaga Penelitian
Universitas Sumatera Utara, 1995; 7 (1) : 46-57.
17. Bangun H. Swelling and Shrinking of alginate gel. Komunikasi
Penelitian, Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara, 1990; 2 (4) :
493-505.
18. Smidsrod O, Braek-Skjak G. Alginate as immobilization matrix for cells.
Tibtech-March, 1990; 71-78.
11. Martin AM. Wound treatment with Sorbsan-an alginate fibre dressing.
Biomaterials, 1983; 4 : 317-320.
12. Barry WB. Dermatological Formulations, Percutaneous Absorbtion. New
York : Marcel Dekker, Inc., 1983; Hal 127.
Untuk melawan AIDS :
Tahu risiko, dan ......
Tidak menggunakan risiko !
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
42