background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Akupunktur Analgesi
Rudy Kastono
KSMF Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Dr. CiptoMangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Penggunaan akupunktur untuk menghilangkan nyeri (aku-
punktur analgesi) sudah berlangsung lama, mungkin sama usianya
dengan Ilmu Akupunktur itu sendiri, tetapi terbatas di Cina dan
beberapa negara tetangga. Setelah isolasi Cina terbuka, ditandai
dengan kunjungan Richard Nixon pada awal 1970-an, ilmu
Akupunktur pun tersebar luas. Keterkejutan dunia Kedokteran
B terjadi setelah menyaksikan film dokumenter tentang pasien
yang tetap sadar selama operasi di bawah pengaruh akupunktur.
Sebagian ilmuwan di Barat menganggap kejadian tersebut se-
bagai oriental hypnosis . Pandangan skeptik tersebut
(1)
bukannya
tanpa alasan. Penggunaan hipnosis, termasuk untuk menghilang-
kan nyeri, sudah tidak asing lagi bagi dunia Kedokteran Barat.
Efek plasebo pada nyeri juga pernah diteliti, yakni bahwa penyun-
tikan morfin menghilangkan nyeri pada seluruh sukarelawan,
dan penyuntikan gula (plasebo) mengurangi nyeri pada 30%
sukarelawan yang yakin menerima morfin
(2)
.
Teori mengenai nyeri pada mulanya menganggap nyeri se-
bagai sensasi (seperti melihat, mendengar, mengecap atau merasa).
melalui pain sensory system dan tempat rangsang ke korteks
serebri persepsi nyeri berbanding lurus dengan kuat-lemahnya
rangsang nosiseptif. Atas dasar teori ini dikembangkan berbagai
teknik bedah saraf untuk menghilangkan nyeri. Dari pengamatan
ternyata nyeri tidak selalu proporsional dengan intensita rang-
sang nosiseptif. Intensitas rangsang yang sama dapat memberi-
kan reaksi berbeda pad orang yang berbeda. Intensitas rangsang
yang sama juga dapat memberikan reaksi berbeda pada orang
yang sama dengai waktu yang berbeda. Fakta lain adalah bedah
saraf untuk menghilangkan nyeri tidak selalu berhasil.
Secara histologis ternyata pain sensory system tidak pernah
ada. Yang ada adalah nociceptive receptor system
(3)
. Beberapa
jenis serabut saraf terlibat dalam mekanisma nyeri melalu jalur
saraf. Dari sini muncul teori Gate Control (Meizack dan Wall)
(Gambar 1), bahwa sistem saraf mempunyai mekanisma untuk
meninggikan atau merendahkan impuls rangsang nosiseptif.
Serabut saraf halus C tak bermielin membuka jembatan hantar-
an, sedangkan serabut saraf besar A bermielin menutup jembat-
an hantaran. Interaksi kedua jenis serabut saraf tersebut menentu-
kan apakah suatu impuls rangsangan nosiseptif akan diteruskan
untuk diproses di otak atau tidak. Meizack menyempurnakan
teorinya lebih lanjut; dikatakan bahwa sistem saraf pusat mem-
punyai pattern generating mechanisms. Aktifitas abnormal ini
dapat terjadi mulai dari cornu dorsalis sampai korteks cerebri,
dengan menciptakan pola impuls yang menghasilkan nyeri.
Penyempurnaan ini untuk menjelaskan beberapa fenomena yang
tak dapat diterangkan sebelumnya seperti nyeri yang muncul
meskipun tanpa rangsang nosiseptif di periler ataupun nyeri
yang muncul setelah jalur saraf diputus.
Gambar 1. Skema Gate Control Theory
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 39
background image
Teori mengenai nyeri semakin lengkap dengan ditemukan-
nya peranan neurotransmitter/neuromodulator dalam pengen-
dalian nyeri. Snyder di tahun 1973 menemukan reseptor opiat.
Kemudian Hugh dan Kosterlitz menemukan morfin endogen
(enkefalin dan endorfin) di tahun 1975. Antara ahun 1976­1988
banyak penelitian dasar ilmiah akupunktur dilakukan di berbagai
pusat penelitian, baik menggunakan binatang percobaan ataupun
sukarelawan, Khusus mengenal akupunktur analgesi.Lebih dari
200 makalah dihasilkan pada periode tersebut.
Berbagai penelitian tersebut membantah efek hipnotik
sugestif dan efek plasebo dari akupunktur analgesi. Efek analge-
sik dari hipnosis atau efek analgesik dari plasebo tidak mungkin
terjadi pada binatang. Dengan kata lain, efek analgesik pada
binatang adalah real physical effect dari akupunktur
(4)
. Efek
analgesik tersebut ternyata dapat ditransfer dari kelinci yang di-
akupunktur melalui cairan serebro-spinalisnya ke kelinci yang
tidak diakupunktur
(5)
. Efek analgesik dan hipnosis dan akupunktur
diketahui terjadi melalui mekanisma yang berbeda
(6)
. Hipnosis
mempengaruhi lobus frontal korteks serebri, dan melalui jaras
fronto-retikuler mempengaruhi sistem retikular
(3)
. Efek analge-
sik hipnosis tidak terppngaruh oleh pemberian nalokson (antago-
nis opiat), sedangkan.efek analgesik akupunktur secara, manual
ataupun elektro akupunktur frekuensi rendah (4 Hz) dan me-
nengah (5­80 Hz) dengan intensitas tinggi dapat dihilangkan
dengan nalokson
(6)
.
MEKANISMA KERJA AKUPUNKTUR ANALGESI
Tindakan akupunktur dalam menghilangkan nyeri dikata-
kan melalui sistem reseptor nosiseptif dan mekanoreseptor
(3)
.
Sistem reseptor nosiseptif bukan akhiran saraf bebas, melainkan
pleksus saraf halus tak bermielin yang mengelilingi jaringan dan
pembuluh darah. Pada keadaan normal, sistem reseptor nosisep-
tif dalam keadaan tak aktif, kecuali bila ada rangsang mekanis
yang cukup kuat atau mengalami deplarisa oleh zat-zat kimia
(seperti asam laktat, ion Kalium. 5-hidroksitriptamin, kinin
polipeptida, histamin dan beberapa prostaglandin). Impuls
rangsang nosiseptif akan diteruskan ke nukleus spinal basal
(lamina 5 clan Rexed). di substansia grisea medulla spinalis.
Sedangkan impuls rangsang mekanis diteruskan oleh serabut
saraf bergaris-tengah besar. Sebelum sampai di nukleus spinal
apikal (lamina 2 dan Rexed) terdapat beberapa percabangan ke
sentral. Dari nukleus spinal apikal, impuls rangsang mekanis
menuju nukleus spinal basal. Di nukleus spinal basal ini terjadi
sinaps axo-axonik dan impuls rangsang nosisept dan impuls
rangsang mekanis. Di sini impuls rangsang mekanis mengham-
bat impuls rangsang nosiseptif.
Selanjutnya impuls rangsang menenuskan penjalanan me-
lalui traktus anterolateral menuju thalamus. Impuls rangsang
dan thalamus melalui jaras thalamo-kortikal (thalamo-cortical
projection system) mencapai korteks serebri (khususnya daerah
parietal, temporal dan frontal), dan melalui jaras fronto-retikuler
(fronto-reficular projection system) menuju sistem retikular.
Sistem retikulan juga menerima masukan impuls dan sub-
stansia gnisea periakuaduktus (periaqueductal grey matter) me-
lalui jaras peka endorfin (endorphin sensitive projection system).
Selanjutnya sistem retikular memberi umpan-balik ke korteks
serebri melalui jaras retikulo-kontikal (reticulo-cortical projec-
tion system), sedangkan impuls penghamba turun dan sistem
jetikular melalui jaras kaudal-retikuler (caudal-reticular pro-
jection system) ke nukleus spinal apikal.
Peripheral modulatioan of the experience of pain
Serabut sensorik di cornu dorsalis
(7)
Nomor Jenis
Asal
Garis
tengah Hantaran Myelinisasi
I (a & b) A alfa * Otot
* Tendon
(proprioseptif)
12­20 µm
Bermyelin
II
III
A beta
A delta
* Otot
* Tendon
* Kulit :
­ sentuhan
­ tekanan
* Otot
* Tendon
* Kulit :
­ nyeri
­ suhu
5­12 µm
2­5 µm
Tercepat
Bermyelin
Bermyelin
IV
C
* Otot
0,5­1,5 pm
Terlambat Tak
* Kulit :
­ nyeri
bermyelin
Serabut saraf perifer
(7)
Jenis Asal Garis
tengah
Myelinisasi
A alfa
beta
delta
gama
B
C
* Afferent
* Efferent
* Visceral afferent
* Preganglionic visceral efferent
* Afferent
Preganglionic visceral efferent
1­20 µm
1­3 µm
0,5­1,5 µm
Bermyelin
Bermyelin
Tak
bermyelin
Selain melalui jalur saraf, tindakan akupunktur dalam meng-
hilangkan nyeri diketahui juga melalui jalur biokimia. Dalam
perjalanannya menyeberangi sinaps atau hambatan antar saraf,
impuls saraf harus dijembatani oleh substansi kimiawi yang
disebut neurotransmitter/neuromodulaton.
Temuan peranan neurotransmitter/neuromodulator dalam
pengendalian nyeri dimulai ketika Snyder menemukan reseptor.
opiat di tahun 1973. Reseptor opiat terutama ditemukan di
substansi agelatinosa medulla spinalis, nukleus traktus desendens,
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
40
background image
nukleus Raphe batang otak, hipothalamus, thalamus bagian
medial, amigdalum, korpus striatum, lobus limbik dan substansia
grisea. Kemudian Hugh dan Kosterlitz menemukan morfin
endogen (enkefalin dan endorfin) di tahun 1975. Penelitian
lanjutan menemukan neuropeptida generasi berikutnya. Sampai
saat ini telah diketahui terdapat 3 kelompok neurotransmitter/
neuromodulator, yaitu
1. Asam amino:
­ GABA (gamma amino butyric acid)
­ Glisin
­ L-glutamat
­ L-aspartat
2. Monoamin:
­ Asetilkolin
­ Katekolamin (norepinefrin, epinefrin dan doparnin)
­ Serotonin (5-hidroksitriptamin)
3. Neuropeptida:
­ Peptida opioid (enkefalin, endorfin, dinorfin, dsb.)
­ Substansi P
­ VIP (vasoactive intestinal polypeptide).
Akupunktur analgesi dapat diringkaskan sebagai endorphin-
dependent system dan serotonin-dependent system
(8)
.
Endorphin-dependent system: Akupunktur secara manual
atau elektroakupunktur frekuensi rendah (4 Hz) merangsang
reseptor sensorik di otot. Impuls rangsang selanjutnya melaku-
kan:
1) Perangsangan nukleus spinal basal (lamina 5 dan Rexed)
di substansia grisea medulla spinalis menghasilkan endorfin
yang akan berikatan dengan reseptor opiat di sel transmisi nyeri,
sehingga terjadi penghambatan presinaptik melalui pengham-
batan pelepasan substansi Poleh serabut saraf halus tak bermielin.
2) Perangsangan substansia grisea periakuaduktus (periaque-
ductal grey matter) menghasilkan enkefalin yang selanjutnya
akan mengaktifkan nukleus raphe dan/atau nukleus retikular
magnoselular. Dari kedua nukleus itu dikirimkan impuls peng-
hambat nyeri ke medulla spinalis melalui jaras kaudal-retikular
(funikulus dorsolateralis = descending inhibitory system). Jaras
kaudal-retikuler yang berasal dari nukleus raphe adalah serabut
serotinergik, sedangkan yang berasal dan nukleus retikular
magnoselular adalah serabut norepinefrinergik. Di medulla
spinalis kedua jenis serabut saraf tersebut bersinaps dengan
serabut enkefalinergik yang juga melakukan penghambatan
presinaptik melalui penghambatan pelepasan substansi P oleh
serabut saraf halus tak bermielin. Jalur kedua ini disebut juga
acupuncture efferent pathway
(9)
.
3) Perangsangan hipothalamus menghasilkan endorfin yang
berikatan dengan reseptor opiat di substansia grisea periakua-
duktus, nukleus accumbens, amigdala, habenula, termasuk
nukleus arcuatus hipothalami yang dikenal sebagai meso-limbic
loop of analgesia sehingga terjadi central pain relief
(10)
. Pe-
rangsangan hipothaląmus juga menghasilkan releasing factor
yang akan merangsang pelepasan endorfin dari hipofisis dan
ACTH. Endorfin dan hipofisis ini dilepaskan ke sirkulasi sis-
temik dan kembali ke otak serta medulla spinalis setelah me-
nembus blood-brain barrier untuk selanjutnya berikatan dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 41
background image
reseptor opiat di susunan saraf pusat. ACTH akan merangsang
pelepasan kortisol untuk menekan reaksi inflamasi, Jalur ketiga
ini disebut juga acupuncture afferent path way
(9)
.
Serotonin-dependent system: Elektroakupunktur frekuensi
tinggi (>80 Hz) merangsang reseptor sensorik di kulit. Impuls
rangsang ini dari medulla spinalis secara langsung merangsang
nukleus raphe dan/atau nukleus retikular magnoselular, tanpa
melalui substansia grisea periakuaduktus. Perjalanan selanjut-
nya melalui acupuncture efferent pathway. Pemberian nalokson
tidak menghilangkan efek analgesi dan elektroakupunktur
frekuensi tinggi, tetapi dapat dihambat oleh paraklorfenilalanin
(penghambat triptofan hidroksilase).
EA : Electroacupuncture
H : Hypothalamus
S Sensory
receptor
P Pituitary
N
tnterneuron
PAG : Periayueductul Gray
e : Enkeplutlinergic neuron
RN : Raphe Nucleus
E : .Endorphin (h-Endorphin or RMC : Reticular Magnocel/ar Nucleus
Dynorphin) DLF
:
Dorsolateral
Funiculus
NA : Noradrenaline
Suatu fenomena yang sering dijumpai pada akupunktur
analgesi adalah adanya toleransi terhadap opioid endogen bila
rangsang akupunktur dilakukan terus-menerus, atau diulang-
ulang dengan selang waktu yang pendek.
Fenomena lain adalah ditemukannya 15­20% binatang per-
cobaan ataupun sukarelawan sebagai kelompok non-responder
(10)
.
Diketahui nukleus sentromedian lateralis thalami dan hipo-
thalamus posterior merupakan bagian dan analgesia inhibitory
system; dengan neurotransmitter/neuromodulator-nya adalah
kolesistokinin. Kolesistokinin merupakan salah satu antagonis
opioid endogen, bekerja dengan mendudtiki reseptor opiat di
substansia gnisea periakuaduktus. Tindakan akupunktur juga
dapat mengaktifkansistem ini, sehingga dapat mengurangi dan
bahkan menghilangkan efektivitas analgesi yang dihasilkannya.
Adanya sistem ini juga menjelaskan mengapa penjaruman bukan
titik akupunktur tidak dapat menimbulkan analgesi, kecuali bila
nukleus sentromedian lateralis thalami dan hipothalamus pos-
terior dirusak, atau setelah pemberian D-fenilalanin. Analgesi
yang terjadi berbeda dari akupunktur analgesi, karena dapat
dihambat dengan pemberian deksametason, tetapi tidak dapat
dihambat oleh nalokson, dan tidak memperlihatkan variasi indi-
vidual
(9)
.
D-fenilalanin adalah penghambat aminopeptidase dan kar-
boksidipeptidilpeptidase. Pemberian D-fenilalanin dapat men-
cegah perusakan enkefalin oleh kedua enzim tersebut, dan secara
langsung rnenghambat kerja sistem penghambat analgesi, se-
hingga dapat mengubah non-responder menjadi responder.
Masih belum jelas hubungan antara D-fenilalanin dan kolesis-
tokinin
(9)
.
Kemungkinan yang lain adalah kurangnya reseptor opiat
pada kelompok non-responder, biasanya bersifat herediter, se-
hingga mengurangi kepekaannya terhadap akupunktur anal-
gesi
(11)
.
Meskipun sudah banyak penelitian mengenai neunofisiologi
akupunktur analgesi, tetapi masih lebih banyak yang belum di-
ketahui, Suatu serabut saraf diketahui dapat mengandung bebe-
rapa neurotransmitter/neuromodulator sekaligus. Beberapa di
antaranya bersifat menghambat, dan yang lain meneruskan impuls
nosiseptif. Beberapa hanya berefek lokal; sedangkan yang lain
kemungkinan dibawa oleh saraf itu sendiri, cairan serebrospinal,
getah bening atau darah sehingga benefek di sinaps yang jauh.
Untuk sementara hanya dapat dikatakan, bahwa tidak satu pun
dari neurotransmitter/neuromodulator tensebut dapat mengen-
dalikan nyeri secara terisolasi, melainkan secara bersama-sama
di dalam suatu biochemical orchestra
(7-12)
.
MEKANISMA LAIN
Tindakan akupunktur dalam pengendalian nyeri melalui
mekanisma neural dan neurohumoral sebagaimana dijelaskan di
atas bersifat simptomatik ­menekan kualitas rangsang nosiseptif
danlatau meninggikan ambang rangsang nyeri. Penelitian labo-
ratoris dan klinis menunjukkan akupunktunjuga bersifat kuratif.
Hiperestesia, yakni peningkatan kepekaan terhadap rang-
sangan terjadi karena proses abnormal pengolahan informasi
sensorik, dan mungkin karena adanya saraf hipersensitif di kornu-
donsalis, sepenti pada neuralgia pasca herpetika. Kerusakan pada
serabut saraf besar bermielin akan mengakibatkan informasi
nosiseptif yang melalui serabut saraf halus tak bermielin dapat
mencapai kornu dorsalis tanpa mengalami banyak hambatan.
Tindakan akupunktur selain menghilangkan nyeri secara
simptomatis,juga melalui regenerasi serabut saraf yang rusak
(11)
.
Dengan pulihnya serabut saraf besar bermielin maka meka-
nisma gate control kembali berfungsi normal.
Akupunktur juga diketahui mengaktifkan refleks akson dan
refleks somato-autonomik dalam menghilangkan nyeri iskemik
(9)
.
Diketahui nyeri iskemik terjadi karena tertumpuknya substansi
sisa metabolisma akibat vasospasme atau sumbatan pembuluh
darah. Serabut saraf afferen CGRP (calcitonin-gene-related
peptide) mempunyai akson yang berhubungan dengan akhiran
serabut saraf simpatik kolinergik di dekatnya. Penjaruman di
lokasi nyeri akan menangsang. serabut saraf CGRP di situ dan
selanjutnya merangsang pelepasan asetilkolin dari serabut saraf
simpatis, sehingga terjadi vasodilatasi lokal.
Refleks somato-autonomik tenjadi pada penjaruman yang
jauh dari lokasi nyeri, misalnya penjaruman Hua To Sia Ci L
4
sampai S
1
ipsilateral untuk nyeri iskemik otot gastnoknemius. Di
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
42
background image
sini serabut sarafateren menuju pusat refleks di anterior hipotha-
lamus kontralateral dan bersinaps dengan serabut saraf simpatik
kolinergik dari segmen yang sama. Selanjutnya serabut saraf
simpatik kolinergik menuju otot gastroknemius kontralateral.
Mekanisma kerja akupunktur melalui retleks somato-auto-
nomik juga berlaku untuk nyeri viseral karena gerakan peristaltik
otot polos yang berlebihan, yakni dengan menyeimbangkan
aktivitas serabut saraf simpatik dan serabut saraf parasimpatik
(n. vagus). Sarafotononi tersebut dapat mempengaruhi produksi
hormon lokal (gastrin, kolesistokinin, dsb) serta produksi enzim
pencernaan: penusukan Zusanli (S-36) dan Shangjuxu (S-37)
menekan nyeri dan memperbaiki fungsi lambung dan usus
kecil
(13)
.
Melalui mekanisma yang belum jelas. akupunktur dapat
menghilangkan nyeri sendi, seperti pada osteoarthritis. Selain
menghilangkan nyeri secara paliatif (melalui jalur neural dan
neurohumoral) dan menekan reaksi inflamasi (melalui perang-
sangan ACTH) diduga efek kuratif terjadi dengan menye-
imbangkan perbaikan dan perusakan tulang rawan sendi (melalui
penghambatan produksi enzim proteolitik) dan pembersihan
serpihan rawan di cairan sendi yang lebih cepat (melalui pe-
rangsangan tagositosis).
AKUPUNKTUR ANALGESI UNTUK PEMBEDAHAN
Dari kenyataan hahwa akupunktur dapat mengendalikan
nyeri baik sebagai gejala utama ataupun gejala ikutan pada ber-
bagai penyakit maka timbul pemikiran untuk memanfaatkan
efek analgesik dan akupunktur untuk pembedahan. Untuk per-
tama kali akupunktur analgesi dipakai pada pembedahan.yakni
di tahun 1959 oleh First People's Hospital of Shanghai pada
tonsilektomi. Pada mulanya mereka memakai dua pasang titik di
lengan: Hegu (LI-4), Neiguan (P-6) dan dua pasang titik di
tungkai: Neiting (S-44) dan Zusanli (S-36) dengan hasil tidak
memuaskan. Efektivitas meningkat setelah kedua pasang titik
di tungkai tidak dipakai, dan efektivitas meningkat sampai me-
lebihi 95% setelah ditambah dengan titik Futu (LI-18). Shanghai
College of Traditional Medicine memberikan rumusan umum,
yakni titik-titik di lengan untuk pembedahan di atas diafragma
dan titik-titik di tungkai untuk pembedahan di bawah diafragma
(14)
.
Terdapat beberapa keuntungan akupunktur analgesi, tetapi
tidak berarti tanpa kelemahan. Keuntungannya antara lain se-
derhana, non-toksik, dapat diberikan kepada pasien yang di-
kontraindikasikan dengan anestesi umum. efek analgesi ber-
langsung sampai 6­36 jam pasca bedah. perdarahan dan kom-
plikasi kurang. serta luka operasi lebih cepat sembuh. Kelemah-
an akupunktur analgesi di antaranya tidak selalu berhasil karena
terdapat kelompok non-responder (15­20%). tidak dapat diberi-
kan pada pasien yang penakut. waktu induksi yang cukup lama
(20­30 menit), membutuhkan beberapa orang untuk menstimu-
lasi beberapa titik secara bersamaan, relaksasi otot tidak sem-
purna, retraksi pada organ dalam dan mesenterium akan me-
nimbulkan rasa tak enak atau mual. Oleh sebab itu akupunktur
analgesi terutama untuk operasi di atas diafragma, tidak banyak
dipakai untuk operasi perut dan ortopedi
(15,16)
.
Keberhasilan menimbulkan efek analgesi untuk pembe-
dahan melalui akupunktur sangat dipengaruhi oleh titik-titik
akupunktur yang dipilih, ketepatan menentukan lokasi titik-
titik akupunktur yang dipilih, ketepatan menentukan lokasi titik-
titik akupunktur tersebut, dan metoda stimulasi.
Prinsip pemilihan titik-titik akupunktur adalah sebagai
berikut
(16)
:
1) Teori klasik
a) Perjalanan meridian
Diketahui terdapat 12 meridian umum, 12 meridian cabang,
12 meridian otot, 12 daerah kulit, 8 meridian istimewa, 15 saluran
Luo besar dan tak terhingga saluran Luo kecil. Kesemuanya
menghubungkan berbagai bagian tubuh secara terintegrasi: luar-
dalam, kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang. Contoh pada
bedah kepala dipilih titik-titik Xiangu (S-43), Zulinci (GB-41),
Taichong (Li-3) dan Quanliao (SI-l8) ipsilateral.
b) Zang-fu
Pada bedah thoraks sering kali penderita mengalami palpi-
tasi, sesak nafas dan iritabilitas ­ sebelum dan sewaktu operasi.
Menurut teori Zang-fu hal tersebut karena gangguan jantung,
maka dipiiih titik-titik Ximen (P-4) dan Neiguan (P-6) karena
berefek memenangkan jantung.
2) Segmen persarafan
a) Titik-titik pada segmen yang sama atau terdekat
Pemilihan titik di sini pada segmen yang sama atau segmen
terdekat dengan lokasi operasi. misalnya Hegu (L1-4) dan
Neiguan (P-6) untuk tiroidektomi.
b) Titik-titik pada segmen yang jauh
Pemilihan titik di sini tidak santa dengan pemihhan titik
jauh pada teori klasik, tetapi berdasarkan indikasi titik atau
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 43
background image
pengalaman, misalnya Neiting (S-44) dan Zusanli (S-36) untuk
tiroidektomi.
c) Titik-titik di atas saraf pada segmen yang sama
Pemilihan titik di sini karena terletak di atas saraf besar
atau pleksus saraf, misalnya Futu (LI-18) untuk tiroidektomi
terletak di atas pleksus kutaneus saraf servikal.
3) Akupunktur telinga
a) Titik umum: Shenmen dan Simpatetik
Pemilihan titik Shenmen dan Simpatetik karena berefek
sedasi dan menekan rasa nyeri.
b) Area
Pemilihan titik berdasarkan area tempat operasi akan di-
langsungkan, misalnya titik lambung untuk pembedahan ter-
hadap lambung.
c) Zang-fu
Pemilihan titik berdasarkan teori Zang-fu, misalnya titik
paru karena paru menguasai kulit, titik ginjal pada bedah orto-
pedi, dan sebagainya.
Sebagaimana sudah dijelaskan, efek analgesik tidak dapat
terjadi pada penjaruman bukan titik akupunktur karena akan
mengaktifkan sistem penghambat analgesi. Oleh alasan tersebut
ketepatan niemastikan lokasi titik-titik akupunktur yang akan
digunakan sangat menentukan.
Setelah dilakukan penjaruman, selanjutnya jarum dimani-
pulasi secara manual, yakni dirotasi atau dirotasi bersamaan
dengan dinaik-turunkan atau dirotasi dan dinaik-turunkan secara
bergantian. Derajat rotasi 90°­360°, sedangkan kedalaman naik-
turun 0,6­1 cm, dengan frekuensi 1­3 kali per detik. Manipulasi
ini untuk mendapatkan de qi. Selanjutnya rnanipulasi dapat di-
teruskan secara manual ataupun menggunakan elektroakupunk-
tur. Frekuensi elektroakupunktur yang lazim digunakan adalah
2­8 Hz atau 40­200 Hz, atau bergantian, dengan gelombang
kontinyu atau intermiten
(16)
.
Sebagai patokan elektroakupunktur ana1gesi
(7)
.
Frekuensi
A beta
A delta
C
Rendah
Menengah
Tinggi
+
+
+
+
+
+
Intensitas
A beta
A delta
C
Rendah
Menengah
Tinggi
+
+
+
+
+
+
Timbulnya de qi menandakan serabut saraf A beta telah
terangsang. Efek analgesiknya masih lemah dan bersifat seg-
mental. Bila intensitas perangsangan semakin bertambah kuat,
maka serabut A delta ikut terangsang. Kedutan otot berubah
menjadi kejang otot. Efek analgesiknya bertambah kuat, dan
paling kuat setelah serabut C ikut terangsang
(9)
. Pada keadaan ini
toleransi terhadap nyeri secara umum meningkat dan bersifat
non-segmental. Keadaan ini disebut diffuse noxious inhibitory
control
(17)
. Untuk mendapatkan efek analgesik yang kuat tersebut
diperlukan waktu induksi yang cukup lama (20­30 menit).
KEPUSTAKAAN
1. Kroger WS. Hypnotism and Acupuncture. JAMA 1972; 220: 1012.
2. Beecher HK. Placebo analgesia in human volunteers. JAMA 1955; 159:
1602­6.
3. Wyke B. Neurological mechanisms in the experience of pain, Acup. &
Electro-Therapeut. Res. Int. J. 1979; 4: 27­35.
4. Pomeranz B, Stux Gabriel. Introduction. In: Pomeranz B, Stux Gabriel:
Scientific Bases of Acupuncture, 1st ed., Springer-Verlag, Berlin-Heidel-
berg, 1989 : 1- 5
5. Research Group of Acupuncture Anaesthesia, Peking. The role of some
neurotransmitters of brain in finger-acupuncture analgesia. Sci. Sin 1974;
17: 112­30.
6. Ulett GA. Studies supporting the concept of physiological acupuncture. In:
Pomeranz B, Stux Gabriel: Scientific Bases of Acupuncture, 1st ed.,
Springer-Verlag, Berlin-Heidelberg, 1989: 177­96.
7. Schneideman I. Medica Acupuncture, 1st ed., Mayfair Med. Supplies Ltd,
Hong Kong. 1988 : 94­97, 153­187.
8. Cheng RSS. Neurophysiology of Electroacupuncture Analgesia. In: Po
meranz B, Stux Gabriel: Scientific Bases of Acupuncture, 1st ed.,
Springer- Verlag, Berlin-Heidelberg, 1989: 119­136.
9. Takeshige C. Mechanism of Acupuncture Analgesia Based on Animal
Experiments. In Pomeranz B, Stux Gabriel. Scientific Bases of Acupunc
ture. 1st ed., Springer-Verlag, Berlin-Heidelberg. 1989: 53­78.
10. Hari Jisheng. Central Neurotransmitters and Acupuncture Analgesia. In
Pomeranz B, Stux Gabriel. Scientific Bases of Acupuncture, 1st ed.,
Springer-Verlag, Berlin-Heidelberg, 1989 : 7­33.
11. Pomeranz B. Acupuncture Research Related to Pain, Drug Addiction and
Nerve Regeneration. ln Pomeranz B, Stux Gabriel. Scientific Bases of
Acupuncture, 1st ed., Springer-Verlag, Berlin-Heidelberg, 1989 : 35­52.
12. Editorial: How does acupuncture work? BMJ 1981; 283.
13. O'Connor J & Bensky D (ed.): Acupuncture ­ A Comprehensive Text.
Eastland Press Inc., Chicago, 1981 : 529­39.
14. O'Connor J & Bensky 0 (ed): Acupuncture ­ A Comprehensive Text.
Eastland Press Inc., Chicago, 1981 : 103­15.
15. Greenbaum GM. Acupuncture anaesthesia. In Schneideman I: Medical
Acupuncture, 1st ed., Mayfair Med. Supplies Ltd. Hong Kong. 1988
88­90.
16. Anonim: Essentials of Chinese Acupuncture, Foreign Languages Press,
Beijing, 1979 : 416­25.
17. Le Bars B dkk. Neurophysiological mechanisms involved in The pain-
relieving effects of counterirritation and related techniques including
acupuncture. In Pomeranz B. Stux Gabriel. Scientific Bases of Acupunc
ture, 1st ed., Springer-Verlag, Berlin-Heidelberg, 1989 : 79­112.
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
44