background image
Terapi Plasmaferesis dalam Dermatologi
Evita H.F. Effendi
Bagian/UPF Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Dr Ciptomangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Plasmaferesis berasal dari kata plasma dan aphairesis, yang
berarti memisahkan plasma. Beberapa penulis membedakan
antara plasmaferesis dan plasma exchange. Plasma exchange
dipakai untuk tindakan yang lebih ekstensif dengan jumlah yang
besar. Plasmaferesis adalah istilah umum dan dapat dipakai
untuk pemisahan plasma dalam jumlah kecil maupun besar
(1)
.
Plasmaferesis mula-mula diperkenalkan pada awal abad ini
oleh Fleig dan Abel dkk. Pada saat itu hanya sedikit yang
menaruh minat untuk pemakaian klinis, sebab pemisahan plasma
secara manual adalah tidak praktis dan membuang waktu. Pada
tahun 1960 Schwab dan Fahey melaporkan bahwa plasmaferesis
berguna bagi penderita makroglobulinemia Waldenstrom dan
penderita hiperviskositas. Sejak saat itu, plasmaferesis manual
merupakan bagian dari pengobatan standard untuk kelainan
tersebut
(2)
.
Namun demikian, hanya sedikit sekali penelitian tentang
terapi plasmaferesis yang disertai dengan kelompok kelola. Hal
ini disebabkan karena :
a.
insidens penyakit yang mungkin dapat diobati dengan
plasmaferesis umumnya tidak tinggi.
b.
kesulitan untuk melaksanakan plasmaferesis palsu pada
kelompok kelola
o
).
Kern ungkinan mekanismekerjaplasmaferesis adalah
menghilangkan autoantibodi, alloantibodi, komplcks imun,
protein monoklonal, toksin atau menambah faktor yang spesifik
dalam plasma
(2,4)
. Jadi plasmaferesis hanya boleh dilakukan
bila terdapat bukti bahwa penyakit tersebut adalah akibat faktor
yang abnormal dalam plasma atau akibat kurangnya faktor
yang normal terdapat dalam plasma
(2)
.
Dalam kesempatan ini akan dibicarakan secara singkat
teknik pelaksanaan plasmaferesis, cairan pengganti yang umum-
nya dipakai, penggunaan terapi plasmaferesis dalam dermato-
logi dan efek samping plasmaferesis.
TEKNIK PELAKSANAAN
Plasmaferesis dapat dilakukan dengan beberapa cars :
1.
Secara manual
Plasmaferesis dalam jumlah yang sedikit (misalnya sampai
kira-kira 500 ml) dapat dilakukan secara manual. Darah vena
dikeluarkan ke dalam kantung yang berisi antikoagulan.
Setelah kantung penuh atau sudah tercapai jumlah yang
diinginkan, aliran darah diputuskan dan penderita diberi larutan
NaCl 0,9% agar aliran pada vena tetap terbuka. Darah dalam
kantung diputar dalam centrifuge, plasmanya dibuang dan
komponen lain dikembalikan ke penderita
(2,3)
.
2.
Dengan menggunakan cell separator
Prinsip kerja cell separator dapat berupa continuous flow
centrifugation (CFC) atau intermittent flow centrifugation
(IFC).
Pada CFC proses pengambilan darah, pemisahan komponen
dan pengembalian komponen berjalan secara kontinyu, sedang-
kan pada IFC proses tersebut berjalan secara bergantian. Saat
ini sedang dikembangkan cell separator yang menggunakan
teknik membrane filtration. Dengan cara ini, plasma mengalir
melalui membran yang akan menyaring komponen spesifik
yang ada di dalam plasma
(3)
.
CAIRAN PENGGANTI
Federal and American Association of Blood Bank memberi
pedoman bahwa plasmaferesis sejumlah 1000 ml/minggu dapat
dilakukan tanpa cairan pengganti yang mengandung protein
pada donor dengan ukuran badan rata-rata, tetapi dengan tetap
memantau kadar protein serum donor tersebut. Terapi plasma-
feresis tentu berbeda dengan plasmaferesis pada donor, tetapi
setidak-tidaknya pedoman ini dapat dipakai sebagai pegangan
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
34
background image
pada penderita dengan keadaan gizi yang baik. Biasanya juga
dianjurkan diit tinggi protein bila bukan merupakan kontra-
indikasi
(1)
.
Fresh frozen plasma, albumin atau derivat plasma lain dapat
dipakai untuk memenuhi kebutuhan koloid sebagai pengganti
plasma penderita. Pemakaian plasma sebagai cairan pengganti,
penting pada penyakit-penyakit akibat kekurangan suatu faktor
dalam plasma misalnya thrombotic thrombocytopenic purpura
(2)
.
Pada penyakit-penyakit dengan komponen plasma yang
patogen, penentuan jenis cairan pengganti juga penting; misal-
nya clearance kompleks imun dapat ditingkatkan dengan
memberikan cairan pengganti yang mengandung komplemen,
meskipun ada penulis lain yang menganjurkan pemberian
cairan yang tidak mengandung komplemen
(2)
.
Pada umumnya tidak diperlukan elektrolit pengganti baik
pada plasmaferesis dengan jumlah kecil maupun dengan
jumlah besar
(1)
.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini belum
ditemukan cairan pengganti yang optimal dan mungkin tidak
akan pernah ditemukan karena hal ini sangat individual
(1)
.
PENGGUNAAN TERAPI PLASMAFERESIS DALAM
DERMATOLOGI
1.
Pemfigus vulgaris
Plasmaferesis pertama kali dilaporkan berhasil pada pen-
derita pemfigus vulgaris pada tahun 1978. Sejak saat itu ter-
dapat banyak laporan dan beberapa penelitian tentang
kegunaan plasmaferesis pada pemfigus vulgaris
(5)
.
Ruocco click (1978) menemukan bahwa penurunan kadar
antibodi interselular pada pemfigus sejajar dengan perbaikan
klinis
(6)
. Guillaume dkk (1988) melakukan suatu penyelidikan
dengan kelompok kelola; beliau menemukan bahwa plasma-
feresis dan pemberian kortikosteroid dosis rendah tidak efektif
untuk pengobatan pemfigus vulgaris
(7)
.
Pada binatang percobaan dan manusia telah dibuktikan
bahwa setelah plasmaferesis terjadi rebound increase dari anti-
bodi. Peningkatan ini berlangsung dalam dua tahap. Yang per-
tama timbul 24 ­ 48 jam setelah plasmaferesis dan merupakan
akibat redistribusi dari imunoglobulin ekstravaskular. Hal ini
tidak dapat dicegah karena merupakan fenomena fisik dan
dapat diatasi dengan plasmaferesis ulangan. Oleh karena itu
paling baik untuk memberi jarak-dua hari bagi plasmaferesis
berikutny supaya dicapai keseimbangan dahulu. Peningkatan
antibodi yang kedua terjadi 1 ­ 2 minggu setelah plasmaferesis
dan merupakan akibat pembentukan antibodi baru. Yang kedua
ini dapat sedemikian besarnya sehingga melebihi titer sebelum
plasmaferesis. Pada binatang percobaan, hal ini dapat dicegah
dengan pemberian siklofosfamid
(8,9)
. Auerbach dan Bystrin
(1979) memakai siklofosfamid 100 mg secarapulse therapy dan
prednison 60 mg/hari untuk mengatasi rebound increase ini
(8)
.
Euler dkk (1987) juga memakai siklofosfamid secara pulse
therapy dengan dosis 36 mg/kg BB/hari serta prednisolon 2
mg/kg BB/ hari
(10)
.
Plasmaferesis bukan merupakan terapi primer pemfigu:
vulgaris, tetapi hanya dipakai bila terapi standard mengalami
kegagalan. Pelaksanaan plasmaferesis harus diikuti dengar
pemberian kortikosteroid yang adekuat ditambah dengan obat
sitotoksik
(9,11,12)
. Plasmaferesis dapat mengurangi dosis total
kortikosteroid dan dapat memperpendek masa perawatan
(13)
.
2.
Pemfigoid bulosa
Walaupun pemfigoid bulosa biasanya merupakan penyakil
yang jinak, swasirna dan mudah dikendalikan dengan dosis
menengah kortikosteroid dikombinasi dengan sulfon atau obat
imunosupresif, ada beberapa penderita yang penyakitnya berat
atau tidak dapat diobati dengan terapi standard. Pada penderita-
penderita ini, bila dilajukan plasmaferesis, tampak perbaikan
klinis. Walaupun titer antibodi meningkat setelah plasmaferesis,
tetapi tidak pernah mencapai titer sebelum plasmaferesis
(14)
.
Roujeau dkk (1984) memperlihatkan kegunaan plasma-
feresis pada pemfigoid bulosa dan efek steroid sparingnya. Kor-
tikosteroid yang diberikan adalah prednisolon 0,3 mg/kg BB/
hari. Pengendalian penyakit terlihat pada 13 dari 22 orang pada
kelompok yang mendapat plasmaferesis dan kortikosteroid.
Kelompok yang diobati dengan prednisolon saja dengan dosis
yang sama tidak menunjukkan perbaikan
(15)
.
3.
Dermatitis Herpetiformis
Dermatitis herpetifonnis adalah suatu penyakit yang memiliki
kompleks imun pada serum penderitanya. Wexler dan Clark
(1982) telah mencoba plasmaferesis pada penderita dermatitis
herpetiformis yang resisten terhadap sulfapiridin dan tidak dapat
mentolerir efek samping dapson dengan dosis 100 mg/hari.
Setelah dilakukan plasmaferesis setiap 4 minggu, penderita
dapat mentolerir dapson dengan dosis yang sama. Lesi kulit
dapat dikendalikan dan tidak ditemukan efek samping.
Beliau menganjurkan agar plasmaferesis dapat merupakan
cara alternatif atau cara tambahan dalam pengobatan dermatitis
herpetiformis untuk penderita yang tidak dapat mentolerir dosis
dapson atau sulfapiridin
(16)
.
4.
Herpes gestasionis
1Penyakit ini merupakan erupsi bulosa sangat gatal yang
timbul dalam kehamilan atau berhubungan dengan tumor tro-
foblastik. Peranan faktor HG dalam patogenesis penyaldt ini
masih dalam perdebatan. Umumnya penyakit ini dapat diobati
dengan prednisolon 40 mg/hari yang kemudian diturunkan
dengan cepat sehingga mencapai dosis pemeliharaan sebesar 10
mg/hari.
Bila penyakit ini tidak responsif terhadap kortikosteroid
atau bila terdapat kontraindikasi pemberian kortikosteroid,
plasmaferesis dapat dipertimbangkan. Cara pengobatan ini telah
berhasil dilaksanakan pada penderita dengan kehamilan maupun
pada penderita dengan herpes gestasionis yang menetap setelah
melahirkan. Tidak ditemukan kesulitan teknis yang berarti
dalam melaksanakan plasmaferesis pada kehamilan
(17)
.
5.
Nekrolisis epidermal toksik
Patogenesis NET belum diketahui dan bermacam-macam
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 35
background image
patomekanisme dapat terlibat. Kompleks antigen-antibodi yang
beredar tidak ditemukan, walaupun terlihat adanya endapan
imunoglobulin dan komplemen pada sel basal. Plasmaferesis
dapat menghilangkan obat penyebabnya, metabolitnya, antibodi
sitotoksik atau mediator sitotoksik. Yang lebih dapat diterima
adalah bahwa plasmaferesis menghilangkan suatu toksin dan
bukan antibodi, karena plasmaferesis pada penyakit dengan
antibodi yang patologis sepertipetnfigus vulgaris, diikuti
dengan rebound production antibodi tersebut. Kamanabroo dkk
(1985) melakukan plasmaferesis pada 5 penderita NET berat
dengan hasil yang baik setelah 1­ 2 plasmaferesis
(18)
.
6.
Penyakit Refsum
Penyakit Refsum ditandai dengan polineuropati kronis,retini-
tis pigmentosa dan iktiosis. Pada penyakit ini kadar asam
fitanat dalam darah meningkat karena kegagalan oksidasi asam
lemak ini. Keadaan klinis berhubungan erat dengan kadar asam
fitanat dalam plasma.
Pengobatan utama adalah diit. Diit yang mengandung asam
fitanat < 0,1 mg/hari hanya dapat ditolerir untuk beberapa hari.
Dengan melakukan plasmaferesis,diit asam fitanat 8mg/hari dan
tinggi kalori hasilnya memuaskan. Plasmaferesis cukup dilaku-
kan 2 kali setahun. Karena retinitis pigmentosa tidak membaik
dengan pengobatan, maka yang penting adalah diagnosis dini
dan pengobatan dini sebelum penglihatan rusak
(19)
.
7.
Hiperkolesterolemia familial
Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kolesterol dan
low density lipoprotein dalam plasma, pembentukan xantoma
dan aterosklerosis dini. Penyakit ini diturunkan secara autosom
dominan. Pengobatan dengan diit, medikamentosa dan secara
bedah tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Beberapa penyelidik telah mencoba melakukan plasma-
feresis, dan hasilnya cukup baik. Pada plasmaferesis. yang di-
lakukan setiap 2 ­ 3 minggu tampak jelas penurunan kadar
LDL dan kolesterol total. Juga terjadi resolusi xantoma
(20)
.
Namun
,
belum dapat dibuktikan plasmaferesis dapat mengobati
atau mencegah aterosklerosis yang biasanya merupakan
problem utama pada penderita-penderita ini
(2)
.
8.
Lupus eritematosus sistemik
Telah lama diketahui, sebagian besar manifestasi iklinis
lupus eritematosus sistemik disebabkan oleh kompleks imun
yang terdapat dalam sirkulasi dan ditimbun di ginjal, pembuluh
darah dan kulit.
Jones dick (1976) melaksanakan plasmaferesis pada 8 pen-
derita lupus eritematosus sistemik. Pada 4 penderita yang mem-
punyai kadar kompleks imun tinggi dalam sirkulasi, plasma-
feresis yang dlakukan setiap minggu memberikan hasil baik
secara klinis maupun laboratoris. Empat penderita lainnya
mempunyai kelainan kadar komplemen yang ringan dan tidak
ditemukan kompleks imun dalam sirkulasi; pada keempat pen-
derita ini, tidak terlihat hasil yang memuaskan pada terapi
plasmaferesis
(21)
.
EFEK SAMPING PLASMAFERESIS
Setiap plasmaferesis menimbulkan kerusakan vena yang
dapat bersifat ringan maupun berat
(1)
. Setiap penderita dapat
mengalami serangan vasovagal yang disebabkan oleh hipovo-
lemia dan diperberat oleh stres psikis
(1,2)
. Keseimbangan cairan
harus diperhatikan untuk menghindari hipo atau hipervolemia
(1)
.
Penderita-penderita yang memiliki gangguan fungsi hepar
cenderung untuk mengalami keracunan sitrat
(1,2)
.
Hal ini ter-
utama terjadi bila menggunakan cairan pengganti yang
mengandung sitrat misalnya plasma
(1)
.
Telah dilaporkan juga penurunan jumlah trombosit dan
faktor-faktor pembekuan
(4,8,9)
. Penurunan jumlah trombosit se-
lain akibat plasmaferesis,juga diakibatkan oleh pemakaian obat-
obat sitostatika yang diberikan bersamaan dengan plasmaferesis
untuk mencegah rebound phenomena
(8)
.
Penderita yang memiliki kelainan kadar elektrolit mem-
punyai risiko untuk mengalami aritmia jantung
(1,2)
. Beberapa
penulis melaporkan tidak ada perubahan kadar elektrolit akibat
plasmaferesis
(8)
, tetapi penulis lain menyatakan bahwa terjadi
ketidak seimbangan elektrolit
(9)
.
Reaksi urtikaria atau kadang-kadang anafilaksis dapat
timbul pada penderita yang memakai plasma sebagai cairan
pengganti
(2,22)
. Risiko timbulnya hepatitis juga meningkat bila
dipakai plasma
(2,4,22)
.
Suatu kendala lain yang membatasi penggunaan plasma-
feresis adalah tingginya biaya
(20)
.
KESIMPULAN
Terapi plasmaferesis bekerja menghilangkan faktor yang
abnormal atau menambah kekurangan faktor yang normal ter-
dapat di dalam plasma. Pada saat ini terapi plasmaferesis
umumnya dilakukan setelah cara pengobatan standard tidak
memberi hasil yang diinginkan.
Ciran pengganti yang dipakai sangat bervariasi dan
tergantung dari kebutuhan masing-masing penderita. Efck
samping yang timbul, biasanya tidak terlalu berat dan beberapa
efek samping berhubungan dengan jenis cairan pengganti yang
dipakai.
Telah dilaporkan kegunaan terapi plasmaferesis pada pe-
nyakit pemfigus vulgaris, pemfigoid bulosa, dermatitis herpeti-
formis, herpes gestasionis, nekrolisis epidermal toksik,
penyakit Refsum, hiperkolesterolemia familial dan lupus
eritematosus sistemik.
KEPUSTAKAAN
1.
Huestis DW, Thomas SF. Presently available plasmapheresis technics. In:
Berkman EM, Umlas J. Therapeutic Hemapheresis. A technical workshop.
Washington DC: American Association of Blood Banks. 1980; pp 1-12.
2.
Shumak KH, Rock GA. Therapeutic plasma exchange. N Eng J Med
1984; 310: 762­71.
3.
McCullough J, Chopek M. Therapeutic plasma exchange. Lab Med 1981;
12: 634­42.
4.
Moschella SL. Topic of Current Interest in Dermatology. In: Moschella
SL, Hurley HJ. Dermatology. 2nd ed, Philadelphia: WB Saunders Co.
1985. pp 2107­8:
5.
Korman N. Pemphigus. J Am Acad Dermatol 1988; 18: 1219­38.
6.
Ruocco Vet al. Pathogenicity of the intercellular antibodies of pemphigus
and their periodic removal from the circulation by plasmapheresis. Br J
Dermatol 1978; 98: 237­41
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
36
background image
7.
Guillaume JC et al. Controlled study of plasma exchange in pemphigus.
Arch Dermatol 1988; 124: 1659-63
8.
Auerbach R, Bystryn JC. Plasmapheresis and immunosuppressive
therapy. Effect on levels of intercellular antibodies in pemphigus vulgaris.
Arch Dermatol 1979; 115: 728-30.
9.
Bysuyn JC. Plasmapheresis therapy of pemphigus. Arch Dermatol 1988;
124: 1702-4.
10.
Euler HH, Loffler H, Christophers E. Synchronization of plasmapheresis
and pulse cyclophosphamide therapy in pemphigus vulgaris.Arch Derma-
tol 1987; 123: 1205-10.
11.
Blaszczyk M, Chorzelski TP, Jablonska S, Daszynski J, Beutner EH.
Indications for future studies on the treatment of pemphigus with plasma-
pheresis. Arch Dermatol 1989; 125: 843-4.
12.
Fine JD, Appell ML, Green LK, Sams WM. Pemphigus vulgaris. Com-
bined treatment with intravenous corticosteroid pulse therapy, plasma-
pheresis and azathioprine. Arch Dermatol 1988; 124: 236-9.
13.
Meurer M, Falco OB. Plasma exchange in the treatment of pemphigus
vulgaris. Br J Dermatol 1979; 100: 231-2.
14.
Goldberg NS, Robinson JK, Roenigk HH, Marder R, Rothe M. Plasma
pheresis therapy in bullous pemphigoid. Arch Dermatol 1985;121:1484-5
15.
Roujeau JC, Guillaume JC, Morel P. Plasma exchange in bullous pem-
phigoid. Lancet 1984; 2: 486-9.
16.
Wexler D, Clark W. Plasma exchange and dermatitis herpetiformis. Arch
Dermatol 1982; 118: 141-2.
17.
Holmes RC, Black MM. Herpes Gestationis. Dennatologic Clinics 1983;
1: 195-203.
18.
Kamanabroo D, Landgraf WS, Czametzki BM. Plasmapheresis in severe
drug-induced toxic epidermal necrolysis. Arch Dermatol 1985; 121;
1548-9.
19.
Gibberd FB, Page NGR, Billimoria JD, Retsas S. Heredopathia atactic:
polyneuritiformis (Refsum's disease) treated by diet and plasma-exchange
Lancet 1979; 575-8.
20.
King MEE, Breslow JL, Lees RS. Plasma-exchange therapy of homo-
zygous familial hyperchelesterolemia. N Engl J Med 1980; 302: 1457-9
21.
Jones JV et al. Plasmapheresis in the management of acute systemic lupus
eruthemetosus. Lancet 1976: 708-11.
22.
Roujeau JC et al. Plasma exchange in pemphigus. Arch Dermatol 1983;
119: 215-21.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 3
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 37