background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sindrom Nefrotik Infantil
Sudung O. Pardede
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang ditandai dengan proteinuria masif,
edema, hipoalbuminemia, dan hiperlipidemia. Sindrom nefrotik infantil adalah sindrom
nefrotik yang terjadi pada usia 3 bulan sampai 1 tahun, sedangkan jika terjadi sebelum
usia 3 bulan disebut sebagai sindrom nefrotik kongenital.
Sindrom nefrotik infantil sangat jarang ditemukan, dapat berbentuk sindrom nefro-
tik primer atau sekunder. Sindrom nefrotik infantil dapat berupa glomerulonefritis
membranosa atau sklerosis mesangial difus. Menentukan penyebab sindrom nefrotik
infantil sekunder sangat penting karena berguna untuk menentukan terapi. Sindrom
nefrotik infantil dapat disebabkan nail patella syndrome, pseudohermaphroditism, XY
gonadal dysgenesis, tumor Wilms, intoksikasi merkuri, sindrom hemolitik uremik, dan
infeksi seperti sifilis, virus sitomegalo, hepatitis, rubela, malaria, and toksoplasmosis.
Sindrom nefrotik infantil kelainan minimal dapat mengalami remisi dengan
pemberian kortikosteroid dan atau imunosupresan, tetapi kortikosteroid biasanya tidak
efektif pada sklerosis mesangial difus.
Prognosis sindrom nefrotik infantil umumnya buruk tetapi masih lebih baik dari
pada prognosis sindrom nefrotik kongenital.
Kata kunci : sindrom nefrotik infantil, sklerosis mesangial difus, glomerulosklerosis
fokal segmental, kortikosteroid.
PENDAHULUAN
Sindrom nefrotik terdiri dari proteinuria masif, hipo-
albuminemia, edema anasarka, dan hiperlipidemia. Sindrom
nefrotik infantil (SNI) didefinisikan sebagai sindrom nefrotik
yang terjadi setelah umur 3 bulan sampai 12 bulan sedangkan
sindrom nefrotik yang terjadi dalam 3 bulan pertama kehidupan
disebut sebagai sindrom nefrotik kongenital (SNK) yang
didasari kelainan genetik.
1-6
Pembedaan sindrom ini sebenarnya
lebih bermanfaat untuk kepentingan statistik.
2
Kejadian SNI tidak diketahui dengan pasti tetapi diperkira-
kan lebih rendah daripada kejadian sindrom nefrotik pada
anak.
1,2,5
Kejadian sindrom nefrotik pada anak sekitar 1-2 per
100.000 anak.
5
Di Universitas Minnesota, sejak tahun 1954
sampai tahun 1982, didapatkan 9 pasien SNI yang terdiri dari 8
laki-laki dan 1 perempuan. Arkwright dan Clark (1996) me-
laporkan 5 pasien SNI di Rumah Sakit Guy's Hospital London
sejak tahun 1982 sampai 1995 yang semuanya adalah laki-
laki.
7
Umumnya pada SNI tidak terdapat riwayat keluarga,
namun dalam satu keluarga dapat ditemukan sindrom nefrotik
kelainan minimal dan glomerulosklerosis fokal segmental.
1
SNI masih responsif terhadap steroid atau imunosupresan
dan dapat terjadi remisi spontan, sedangkan SNK biasanya
tidak responsif terhadap steroid dan imunosupresan dan remisi
spontan sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah terjadi.
SNI ini akan rentan terhadap infeksi dan dapat menyebabkan
malnutrisi, hipovolemia, dan tromboemboli.
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
32
background image
Umumnya prognosis SNI buruk, namun dengan terapi
medis dan nutrisi yang optimal dapat dicapai hasil yang baik.
6,7
KLASIFIKASI
Umumnya SNI diklasifikasikan berdasarkan beberapa kri-
teria seperti presentasi klinis, riwayat keluarga, hasil labora-
torium, gambaran histologis, dan genetik molekular. SNI dapat
bersifat primer dan sekunder.
6
Secara garis besar SNI dapat dibagi menjadi:
3,5,6
1) SNI primer terdiri dari:
a. SNI idiopatik yang terdiri dari :
-
Sindrom nefrotik kelainan minimal
-
Glomerulosklerosis fokal segmental
- Glomerulonefritis
membranosa
b. Sklerosis mesangial difus ( SMD, diffuse mesangial
sclerosis),
2) SNI yang berhubungan dengan sindrom malformasi:
a. sindrom Denys-Drash (SDD)
b. sindrom
Galloway-Mowat
c. sindrom
Lowe
d. nail
patella
syndrome
3) SNI sekunder atau didapat yang terjadi karena:
a.
infeksi: sifilis, virus sitomegalo, hepatitis, rubella, malaria,
toksoplasmosis, HIV.
b.
toksik: merkuri yang menyebabkan immune-complex-
mediated epimembranous nephritis
c. lupus eritematosus sistemik
d. sindrom hemolitik uremik
e. reaksi obat
f. nefroblastoma atau tumor Wilms
1. Sindrom nefrotik infantil idiopatik
SNI idiopatik lebih sering ditemukan daripada SNK. Diag-
nosis sindrom nefrotik kelainan minimal pada bayi yang sangat
muda biasanya sulit tetapi perlu ditegakkan karena jenis ini
dapat memberikan hasil yang baik dengan terapi imuno-
supresan dan steroid. Meskipun prognosisnya buruk tetapi
masih lebih baik daripada SNK.
1,3,5,6
Patologi
Gambaran patologi anatomi pada SNI bervariasi dan dapat
menunjukkan gambaran sindrom nefrotik kelainan minimal,
glomerulosklerosis fokal segmental, proliferasi mesangial difus
dan glomerulonefriitis membranosa. Pada pemeriksaan imuno-
fluoresen tidak ditemukan kelainan tetapi kadang-kadang dapat
terlihat deposit IgM dan IgG mesangium.
1-7
Patogenesis
Kapiler glomerulus dibatasi oleh sel endotel yang mengan-
dung banyak lubang yang disebut fenestra. Membran basalis
membentuk satu lapisan yang berkesinambungan antara sel
endotel dan sel epitel di bagian luar. Membran basalis terdiri
dari tiga lapisan yaitu lamina rara interna, lamina densa, dan
lamina rara eksterna. Sel epitel viseralis kapsula Bowman
menutupi kapiler dan membentuk tonjolan sitoplasma yang
disebut foot process yang berhubungan dengan lamina rara
eksterna. Di antara tonjolan tersebut terdapat celah filtrasi yang
disebut slit pore dan ditutupi oleh suatu membran yaitu slit
diafragma. Pada glomerulus, sawar filtrasi glomerulus terdiri
dari fenestra endotelium, membran basalis glomerulus, dan sel
epitel viseralis. Membran basalis glomerulus merupakan jaring-
an yang terdiri dari kolagen tipe IV, laminin, nidogen, dan
proteoglikan. Membran basalis ini berfungsi sebagai sawar
size- and charge selective (sawar muatan dan ukuran). Slit
diafragma yang terdapat di antara foot process epitel turut
berperan dalam sawar size-selective.
1,3,6
Molekul utama yang menentukan anionic site yang me-
rupakan size- and charge selective pada glomerulus adalah
proteoglikan heparan sulfat membran basalis terutama lamina
rara eksterna, serta sialoglikolipid dan sialoglikoprotein pada
sel endotel dan permukaan sel podosit epitel viseralis. Selain
heparan sulfat, terdapat juga kelompok anionik lain seperti
residu karboksil yang merupakan glikoprotein membran basalis
glomerulus, dan glikoprotein kondroitin sulfat.
6,9
Patogenesis SNI tidak berbeda dengan patogenesis sin-
drom nefrotik pada anak. SNI terjadi berdasarkan mekanisme
imunologis berupa abnormalitas sintesis globulin dan respons
mitogen limfosit. Adanya defek pada fungsi sel T atau produk-
nya akan menyebabkan disfungsi glomerulus terhadap protein
serum.
1
Pada sindrom nefrotik terdapat peningkatan pengeluar-
an heparan sulfat dan kondroitin sulfat urin. Pengeluaran prote-
oglikan heparan sulfat dalam urin ini akan menyebabkan penu-
runan muatan anionik dan hilangnya sawar elektrostatik yang
mengakibatkan peningkatan permeabilitas membran basalis
glomerulus dan menimbulkan proteinuria. Proteinuria akan
menyebabkan hipoalbuminemia dan selanjutnya terjadi edema,
hiperkolesterolemia, dan manifestasi lain sindrom nefrotik.
5,6,10
Vermylen dkk. (1989) melaporkan penurunan heparan sulfat
pada membran basalis glomerulus sindrom nefrotik jenis
sklerosis mesangial difus dan peningkatan ekskresi heparan
sulfat dalam urin pasien SNI lebih berat dibandingkan penge-
luaran kondroitin sulfat.
11
Nephrin diproduksi sel epitel dan berperan dalam perkem-
bangan atau terpeliharanya sawar filtrasi glomerulus. Nephrin
merupakan protein transmembran superfamili imunoglobulin
yang mempunyai berat molekul 135 kD. Bagian ekstraselular
nephrin mengandung 8 domain immunoglobulin-like dan 1
domain fibronectin tipe III like module. Bagian ini diikuti oleh
1 domain transmembran tunggal dan 1 cytosolic C- terminal.
Protein ini dapat berinteraksi dengan protein membran atau
dengan komponen membran basalis glomerulus. Kelainan pada
interaksi ini dapat menyebabkan disintegrasi sawar filtrasi.
6,12
Manifestasi klinis
Pada SNI biasanya tidak ada riwayat keluarga dan masa
gestasi umumnya normal. Bayi tampak edematous dengan atau
tanpa distensi abdomen karena asites. Bayi biasanya tampak
lebih besar daripada bayi seusianya atau bayi yang menderita
SNK karena dalam beberapa bulan sebelum sakit, pertumbuhan
dan perkembangan bayi masih normal.
1,2,4,5,6
Seperti pada SNK,
kadang-kadang ditemukan hiperplasi gingiva.
13
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat proteinuria berat,
mikrohematuria, dan leukosituria. Kehilangan protein pada SNI
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 33
background image
akan menyebabkan hipoalbuminemia, tetapi berbeda dengan
pada SNK karena kadar albumin masih > 1,5 g/dl akibat nutrisi
enteral yang lebih baik. Ureum dan kreatinin biasanya
normal.
2,5,6
Selain albumin, banyak protein yang keluar melalui urin
seperti imunoglobulin G (IgG), transferin, apoprotein, lipo-
protein lipase, antitrombin III (ATIII), seruloplasmin, protein
pengikat vitamin D (vitamin D binding protein), 25 OH kole-
kalsiferol, dan thyroid binding globulin. Hal ini akan
menyebabkan kadar protein tersebut dalam serum rendah dan
dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, pertumbuhan ter-
hambat, ossifikasi terlambat, dan hipotiroidism. Tiroksin yang
rendah akan menyebabkan peningkatan hormon thyroid sti-
mulating hormon (TSH). IgG serum yang rendah dan penge-
luaran komplemen faktor B dan D melalui urin menyebabkan
meningkatnya risiko infeksi.
2,5,6
Ekskresi plasminogen dan ATIII melalui urin akan menim-
bulkan kompensasi berupa sintesis protein yang menyebabkan
peningkatan makroglobulin, fibrinogen, tromboplastin, faktor
II, V, VII, VIII, X, XII, dan XIII yang dapat menyebabkan ko-
agulopati. Albumin serum yang rendah, dan konsentrasi asam
lemak bebas yang meningkat menyebabkan hipertrigliseride-
mia. Kadar kolesterol total dan kolesterol low density lipo-
protein (LDL) meningkat tetapi high density lipoprotein (HDL)
rendah. Kelainan lemak dan perubahan arteriol dapat merupa-
kan risiko arteriosklerosis
4,5,6
Pada SNI dapat terjadi infeksi bakteri, episode trombosis,
dan defisiensi protein. Berbeda dengan SNK, pada SNI sebagi-
an besar pasien akan mengalami remisi dengan pengobatan
kortikosteroid dan atau imunosupresan. Meskipun pada ke-
banyakan pasien sering terjadi relaps, tetapi umumnya masih
responsif terhadap steroid. Pada SNI yang mengalami remisi,
biasanya tidak terdapat penurunan fungsi ginjal dan dapat
tumbuh dan berkembang dengan normal di antara episode SNI.
Adanya remisi pada SNI dapat digunakan untuk membedakan
SNI dengan SNK. Pada SNI sering terdapat SNI primer yang
resisten steroid, SNI dengan proteinuria persisten, sindrom
nefrotik kambuh berulang, dan perburukan fungsi ginjal.
1,6
Gambaran klinis SNI idiopatik ini lebih berat dibanding-
kan dengan gejala klinis SNI karena infeksi tetapi pada SNI
karena infeksi biasanya disertai gejala kelainan organ lain.
6
Tatalaksana
SNI masih responsif terhadap kortikosteroid dan imuno-
supresan lainnya. Tatalaksana SNI idiopatik sama dengan tata-
laksana sindrom nefrotik idiopatik pada umumnya. Tatalaksana
SNI biasanya ditujukan untuk menjamin pertumbuhan fisik
dengan pemberian protein dan energi yang seimbang, meng-
atasi edema, mencegah dan mengobati infeksi, mencegah hipo-
tiroid, dan mencegah komplikasi tromboemboli sehingga pa-
sien dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana anak pada
umumnya.
2,4,5,6
Beberapa SNI sekunder responsif terhadap pengobatan
spesifik seperti sifilis dengan antibiotik, toksoplasmosis dengan
antimikroba dan steroid, dan lupus eritematosus sistemik de-
ngan imunosupresan.
2,4,5,6
Prednison diberikan dengan dosis 60 mg/m2 luas permuka-
an tubuh/hari atau 2 mg/kg berat badan/hari selama 4-6 minggu
yang dilanjutkan dengan prednison 40 mg/m2 luas permukaan
tubuh/ hari atau 2/3 dosis awal yang diberikan secara inter-
miten (tiga hari berturut-turut) atau selang sehari (alternating)
selama 4-8 minggu. Pada keadaan tertentu seperti sindrom
nefrotik respons inkomplit, sindrom nefrotik resisten steroid,
atau sindrom nefrotik dependen steroid dapat diberikan siklo-
fosfamid dengan dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau kloram-
busil 0,1-0,2 mg/kg berat badan/hari selama 8 minggu. Selain
obat tersebut di atas, beberapa obat lain dapat diberikan antara
lain siklosporin, levamisol, dan azathioprim.
1
Asupan nutrisi dilakukan dengan pemberian protein dan
kalori yang adekuat. Pada keadaan tertentu dapat diberikan
nutrisi parenteral tetapi sebaiknya hal ini dihindari karena
meningkatkan risiko infeksi.
4,5,6
Jika perlu pemberian makanan
dilakukan dengan pipa nasogastrik agar kebutuhan nutrisi ter-
penuhi. Pasien juga perlu mendapat vitamin D2 (2000 IU/hari),
vitamin E atau vitamin yang larut dalam air sesuai dengan ke-
butuhan anak sehat, suplementasi magnesium (40-60 mg/hari)
dan kalsium (umur < 6 bulan: 500 mg/hari, 6-12 bulan : 750
mg/hari; > 12 bulan : 1000 mg/hari).
2,6
Pada kebanyakan kasus, edema sulit dikontrol. Untuk me-
ngurangi edema, dapat diberikan diuretik (furosemid dan spiro-
nolakton) dan infus albumin. Pengeluaran plasminogen dan
AT III melalui urin akan menyebabkan defisiensi faktor ko-
agulasi. Sebagai kompensasi akan terjadi peningkatan sintesis
protein yang menyebabkan hiperkoagulopati sehingga risiko
komplikasi tromboemboli meningkat. Jika terdapat hiper-
koagulopati atau manifestasi klinis trombosis, dapat diberikan
aspirin atau dipiridamol.
2,4,5,6
Pasien SNI sangat rentan terhadap infeksi bakteri seperti
pneumokokus dan bakteri berkapsul karena globulin gamma
dan komplemen faktor B dan D keluar melalui urin.
6
Di bebe-
rapa rumah sakit, ada kebiasaan memberikan imunoglobulin
per infus baik saat episode sepsis maupun sebagai profilaksis
dengan dosis 200-300 mg/kgbb,
14
tetapi pemberian infus
imunoglobulin ini tidak dapat mencegah infeksi karena imuno-
globulin akan segera keluar melalui urin. Agar pemberian infus
imunoglobulin lebih efektif, maka dianjurkan untuk meningkat-
kan dosis infus imunoglobulin menjadi 500 mg/kgbb setiap 2-3
hari, namun cara inipun tetap tidak dapat mencegah infeksi
stafilokokus dan beberapa kuman lainnya.
2,6,14
Manfaat pemberian kaptopril dan indometasin pada SNI
untuk mengurangi proteinuria masih belum jelas. Menurut
Pomeranz dkk. (1995), kaptopril dan indometasin dapat menu-
runkan proteinuria,
15
sedangkan menurut Birnbacher dkk.
(1995) kaptopril tidak mempunyai efek terhadap ekskresi pro-
tein dalam urin, bahkan dapat menyebabkan penurunan laju
filtrasi glomerulus, hipervolemia, gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
16
Pada SNI dapat terjadi defisiensi thyroid-binding globulin
dan tiroksin serta peningkatan thyroid stimulating hormon
(TSH). Tiroksin selalu rendah pada permulaan dan kadar TSH
biasanya normal kemudian meningkat selama bulan pertama.
Oleh sebab itu, perlu pemberian tiroksin dengan dosis 25-50 ug
per hari dan tidak bergantung pada kadar TSH.
2,6
Pemberian
vaksinasi tidak dianjurkan selama nefrosis.
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
34
background image
Biopsi ginjal umumnya dilakukan untuk konfirmasi diag-
nosis dan untuk mengetahui gambaran patologi anatomi ginjal.
Pada beberapa penyakit sistemik seperti nail patella syndrome,
bayi dengan riwayat keluarga menderita SNK dan peningkatan
fetoprotein alfa amnion, maka biopsi ginjal dini mungkin tidak
diperlukan.
5
Prognosis
Prognosis SNI biasanya buruk tetapi dengan steroid dan
atau imunosupresan dapat terjadi remisi; dilaporkan remisi ter-
jadi pada 17/25 (68%) pasien SNI idiopatik. Selain itu dila-
porkan bahwa SNI dapat mengalami remisi spontan.
1
Ark-
wright dan Clark (1996) melaporkan 3 di antara 5 pasien SNI
yaitu 2 pasien SNI yang mendapat terapi prednison dan kap-
topril serta 1 pasien SNI mendapat prednison dan siklosporin A
mengalami remisi. Satu tahun setelah remisi, ketiga pasien ini
tetap dalam keadaan remisi meskipun tidak diterapi. Dua pa-
sien lainnya tidak mengalami remisi. Di Universitas Minnesota,
dilaporkan 7 di antara 9 pasien SNI mengalami remisi.
7
2. Sklerosis mesangial difus
Sklerosis mesangial difus (SMD) atau diffuse mesangial
sclerosis dapat terjadi sebagai penyakit tersendiri atau sebagai
bagian dari sindrom Denys-Drash (SDD).
2,3,5,6
SMD dapat terjadi setiap saat sejak lahir pada umur tahun
pertama. Bahkan SMD pernah dilaporkan pada janin usia 18
minggu dengan peningkatan fetoprotein alfa pada serum ibu
dan pada pemeriksaan USG ditemukan oligohidramnion. Pe-
nyakit ini sangat jarang ditemukan. SMD sering terdapat dalam
satu keluarga sehingga diduga penyakit ini diturunkan secara
autosomal resesif. Ras atau etnik bukan merupakan faktor
predisposisi. SMD sebagai bagian dari SDD dapat menyebab-
kan sindrom nefrotik dan gagal ginjal saat lahir. Pada SMD
tersendiri, dapat ditemukan mutasi gen WT1.
2,3,5,6
Manifestasi klinis
SMD merupakan SNI onset dini, bersifat familial yang di-
turunkan secara autosomal resesif dan pada biopsi ginjal
biasanya terdapat pelebaran tubulus (tubularectasy). Tidak
seperti SNK tipe Finnish, SMD biasanya tidak berhubungan
dengan prematuritas dan berat lahir rendah. Riwayat kehamilan
dan persalinan umumnya normal dengan berat plasenta yang
normal. Gambaran klinis tampak berupa sindrom nefrotik yaitu
proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema. Gejala sindrom
nefrotik dapat terlihat dalam 3 bulan pertama tetapi lebih sering
terjadi setelah 3 bulan terutama pada umur 2-3 tahun. Pada
SMD sering ditemukan hematuria dan hipertensi. Pada ke-
banyakan kasus, jika terdapat proteinuria masif, maka laju
filtrasi glomerulus menurun dengan cepat dan akan menyebab-
kan gagal ginjal stadium akhir dalam beberapa bulan meskipun
beberapa kasus dapat hidup lebih lama. Gambaran laboratorium
pada SMD sama dengan gambaran laboratorium pada SNI
idiopatik.
Biasanya tidak terdapat malformasi meskipun ada yang
melaporkan adanya gejala klinis tertentu seperti hipertelorisme,
strabismus, nistagmus, perkabutan kornea, miopia, mikrosefal,
miokarditis dan aritmia jantung, distrofi otot, dan retardasi
mental.
2,3,5,6
Pada SMD penurunan fungsi ginjal sampai menjadi gagal
ginjal terminal (GGT) terjadi dengan cepat sedangkan pada
SNK tipe Finnish penurunan fungsi ginjal hingga mencapai
GGT dapat terjadi pada usia 5 tahun. SMD biasanya didiag-
nosis sebelum usia 2 tahun dan progresif cepat menjadi GGT
sebelum usia 3 tahun. Prognosis biasanya buruk.
2,3,5,6
SMD dapat terjadi sebagai penyakit tersendiri atau sebagai
bagian dari sindrom Denys-Drash (SDD).
SMD tersendiri
Habib (1993) melaporkan 40 pasien SMD yang terdiri dari
26 (65%) pasien SMD tersendiri (isolated) dan 14 pasien(35%)
SMD dengan SDD. Pada 26 pasien SMD tersendiri, nefropati
didiagnosis pada usia 1 tahun pada 16 pasien (1 pasien saat
lahir, 2 pasien pada usia 1 bulan), nefropati didiagnosis pada
usia 2 tahun didapatkan pada 5 pasien, nefropati didiagnosis
pada usia 3 tahun didapatkan pada 4 pasien, dan sisanya didiag-
nosis pada saat usia 3 tahun 5 bulan. Gejala sindrom nefrotik
timbul pada semua pasien dan semuanya menjadi GGT dengan
waktu yang berbeda antara beberapa hari sampai 5 tahun tetapi
sebagian besar dalam beberapa bulan. GGT terjadi sebelum
usia 4 tahun pada 22/26 (84,6%) pasien. Di antara pasien ini,
terdapat juga pasien yang mempunyai anggota keluarga yang
menderita SMD.
3
SMD dengan SDD
Habib (1993) melaporkan 14 pasien SMD dengan SDD di
antara 40 pasien SMD. Pada 14 pasien ini, 5 pasien mengalami
ketiga gejala klinis SDD (yaitu hermaproditisme lelaki, nefro-
pati, dan tumor Wilms), dan pada 9 pasien hanya terdapat 2 di
antara 3 gejala klinis tersebut. Tumor Wilms dapat terjadi
unilateral atau bilateral. Pada 11 pasien, nefropati terjadi dalam
1 tahun pertama (1 pasien pada usia 2 minggu), dan pada 3
pasien lainnya nefropati terjadi pada usia 18, 24, dan 27 bulan.
Sebanyak 11 pasien mengalami SN dan 3 pasien mengalami
GGT pada saat didiagnosis, 8 di antara 14 pasien mengalami
hipertensi, 10 pasien mengalami GGT sebelum usia 4 tahun
dan pada 1 pasien GGT terjadi pada usia 11 tahun. Pada kelom-
pok ini, tidak ada anggota keluarga yang menderita SMD.
3
Gambaran patologi
Gambaran patologi SMD sangat spesifik yang mengenai
semua glomerulus. Pada stadium awal, biasanya tampak pe-
nambahan fibrilar matriks mesangium glomerulus. Dinding ka-
piler biasanya normal tetapi terdapat hipertrofi podosit. Pada
fase selanjutnya, membran basalis glomerulus tampak menebal
dengan proliferasi sel mesangium yang akan menyebabkan
obliterasi lumen kapiler. Pada fase lanjut, sklerosis mesangium
menyebabkan kontraksi glomerulus yang tampak seperti massa
solid yang menekan ruang urin. Lesi tubulointerstitial dapat
berupa atrofi tubulus dan dilatasi tubulus yang mengandung
protein kaseosa dan silinder hialin tetapi tidak seberat seperti
pada SNK tipe Finnish. Interstitium menjadi fibrotik dan
mengandung sel inflamasi kronik. Dengan mikroskop elektron,
tampak matriks mesangium mengandung filamen dan fibril
seperti kolagen dan membran basalis glomerulus tampak mene-
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 35
background image
bal. Dengan analisis imunositokemikal, pada glomerulus tam-
pak deposit komponen kolagen dan proteoglikan heparan sulfat
tanpa laminin dan kolagen dalam segmen glomerulus terhiali-
nisasi, dan tidak tampak endapan imunoglobulin dan kom-
plemen. Pada membran basalis glomerulus tidak terdapat en-
dapan kompleks imun. Pada stadium awal, gambaran patologi
SMD dapat menyerupai sklerosis yang ringan dengan hiper-
selularitas mesangium dengan crescent pada 10-15% glomeru-
lus. Diagnosis SMD yang spesifik biasanya mudah tetapi sulit
pada stadium dini.
2,3,5,6
Perlu diketahui bahwa gambaran patologi SMD bukan
hanya bagian dari SNI atau SNK primer tetapi dapat juga meru-
pakan bagian dari SNI atau SNK tipe lain seperti sindrom
Denys-Drash.
2,3,5,6
Tatalaksana
Steroid dan imunosupresan biasanya tidak efektif pada
SMD; transplantasi ginjal tampaknya merupakan satu-satunya
terapi yang efektif. Tatalaksana sebelum transplantasi ginjal
umumnya bertujuan agar kadar albumin darah tetap di atas 1,5
g/dl dengan pertumbuhan yang normal.
2,3,5,6
; meliputi nutrisi
adekuat dengan tinggi kalori dan protein serta rendah natrium.
Pemberian diuretik, infus albumin, imunoglobulin, dan anti-
biotik profilaksis sangat bermanfaat. Apabila secara klinis tam-
pak manifestasi trombosis, dapat diberikan aspirin atau dipira-
damol. Kehilangan thyroid binding globulin melalui urin akan
menyebabkan hipotiroidism sehingga perlu pemberian tiroksin.
Terdapatnya gangguan pertumbuhan, proteinuria persisten be-
rat, dan nephritic state meskipun sudah mendapat terapi kon-
servatif merupakan indikasi nefrektomi unilateral atau bilateral,
dan perlu dilakukan dialisis sebelum tindakan transplantasi gin-
jal. Obat antiproteinurik seperti golongan penghambat enzim
konverter angiotensin (angiotensin converting enzyme inhi-
bitors) dan obat antiinflamasi nonsteroid dapat dipertimbang-
kan sebelum nefrektomi.
2,3,5,6,17
3. Sindrom Denys-Drash
Sindrom Denys Drash (SDD) adalah sindrom trias yang
terdiri dari hermaproditism laki-laki (disgenesis gonad XY),
nefropati, dan tumor Wilms. Pada tahun 1992, NAPRTCS
melaporkan 11 (0,5%) SDD di antara 2033 pasien yang memer-
lukan transplantasi ginjal.
5,18,18,20
SDD dapat dibagi menjadi 3
kategori klinis yaitu: 1. genotipe laki-laki dengan ditandai ke-
tiga gejala klinis SDD, 2. genotipe laki-laki dengan nefropati
dan ambigus genitalia interna dan atau eksterna, dan 3. geno-
tipe laki-laki dengan nefropati dan tumor Wilms.SDD sering
tampak sebagai SNK atau sindrom nefrotik; onset manifestasi
kelainan ginjal sangat bervariasi mulai dari neonatus sampai
masa anak-anak.
18
SDD disebabkan oleh mutasi pada gen tumor Wilms WT1.
WT1 yang berlokasi pada kromosom 11p13 adalah gen supres-
sor tumor dan regulator protein transkripsional. Gen WT1 ber-
peran pada interaksi epitel mesenkim untuk menjaga perkem-
bangan dan fungsi yang normal beberapa jaringan atau organ
seperti sistem urogenital dan paru-paru dan dihubungkan
dengan tumor Wilms, malformasi genitourinarius, dan aniri-
dia.
6,19,21
Pada SDD terdapat mutasi germline pada daerah zinc-
finger domain (exon 8 dan 9) yang menyebabkan replacement
arginin oleh histidin pada asam amino 366 pada protein WT1.
Disfungsi gen dapat menyebabkan tumorigenesis dan kelainan
saluran urogenital berupa terjadinya SMD saat usia dini, tumor
Wilms, nefropati, dan gagal ginjal.
19
WT1 dan NPHS 1 merupakan gen yng dihubungkan de-
ngan SN pada manusia. Bagaimana mutasi gen WT1 dapat
menyebabkan penyakit glomerulus belum diketahui, tetapi di-
duga melalui gangguan interaksi yang menyebabkan diferen-
siasi abnormal glomerulus.
21
Gambaran klinis dan tatalaksana
Pada SDD tidak semua gejala klinis harus ada. Pseudo-
hermaproditism laki-laki merupakan tanda diagnostik penting
pada penyakit ini, tetapi SDD tidak terbatas hanya pada jenis
kelamin tertentu. Bayi dengan fenotipe perempuan dengan
kromosom XX dapat juga menderita SDD, namun diagnosis
pada perempuan biasanya lebih lambat dan lebih sulit.
6
Sheu
dan Chen (1999) melaporkan SDD dengan SMD pada neonatus
dengan disgenesis gonad dan sindrom nefrotik.
20
Tumor ginjal
dan nefropati dapat timbul bersamaan tetapi pada umumnya
nefropati lebih dahulu timbul daripada tumor atau merupakan
satu-satunya kelainan pada SDD. Kadang-kadang tumor Wilms
ditemukan pada saat dilakukan otopsi. Manifestasi klinis pada
penyakit tanpa tumor biasanya diawali dengan proteinuria.
Sindrom nefrotik dan hipertensi terjadi sebelum gagal ginjal
kronik.
Pada laki-laki, genitalia ysng meragukan (ambigu) meru-
pakan tanda penting mutasi WT1. Pada setengah pasien SDD,
tidak terdapat tumor ginjal ketika terjadi gejala sindrom nefro-
tik. Mutasi WT1 dapat terjadi pada anak dengan sindrom
nefrotik atau gagal ginjal setelah umur 1 tahun dan bayi tanpa
SMD.
18
Gambaran patologi anatomi biasanya memperlihatkan
SMD
6
dan kadang-kadang glomerulosklerosis fokal seg-
mental.
18
Kelainan ginjal pada SDD resisten terhadap obat, sehingga
transplantasi ginjal merupakan satu-satunya terapi dengan hasil
yang cukup memuaskan tanpa rekurensi atau kekambuhan
SMD. Ada kemungkinan tumor Wilms tidak terdeteksi sehing-
ga dianjurkan untuk melakukan nefrektomi profilaksis pada
saat transplantasi ginjal.
6
4. Sindrom nefrotik infantil dengan malformasi otak
Salah satu bentuk SNI atau SNK dengan malformasi otak
adalah sindrom Galloway-Mowat yang merupakan trias yang
terdiri dari mikrosefal kongenital, hiatus hernia, dan sindrom
nefrotik onset dini. Pada sindrom Galloway-Mowat ini, sin-
drom nefrotik biasanya merupakan SNK tetapi dapat juga
berupa sindrom nefrotik onset dini atau SNI. Sindrom
Galloway-Mowat pertama kali dilaporkan oleh Galloway dan
Mowat pada tahun 1968 pada 2 pasien bersaudara.. Gejala trias
tidak selalu ditemukan pada sindrom Galloway-Mowat Pada
satu laporan disebutkan bahwa hiatus hernia hanya ditemukan
pada 2/22 pasien sindrom Galloway-Mowat. Selain gejala trias,
dapat juga ditemukan kelainan pada susunan saraf, mata,
telinga, dan lain-lain.
Beberapa kelainan dismorfik yang dapat ditemukan pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
36
background image
sindrom Galloway-Mowat antara lain bentuk kepala yang ab-
normal, dahi yang sempit, coarse hair, telinga besar dengan
low set ear, hidung pesek, pinched nose, bibir tipis,
mikrognatia, hipotelorisme, hipertelorisme, club foot, campto-
dactily. Gejala minor ini tidak spesifik untuk sindrom
Galloway-Mowat tetapi penting dalam menegakkan diagnosis.
Gambaran histopatologis ginjal umumnya berupa sklerosis
mesangial difus, glomerulosklerosis fokal, dan penyakit mikro-
kistik. Sindrom Galloway-Mowat dapat dibagi menjadi 2
kelompok yaitu sindrom Galloway-Mowat onset dini yang ter-
jadi sebelum usisa 3 bulan dan sindrom Galloway-Mowat onset
lambat yang terjadi setelah usia 3 bulan. Prognosis sindrom
Galloway-Mowat onset lambat lebih baik. Sindrom ini di-
turunkan secara autosomal resesif.
6,22
5. Sindrom malformasi lain
Sindrom Lowe atau sindrom okuleserebrorenal adalah sin-
drom nefrotik atau proteinuria dengan kelainan pada mata dan
otak yang diturunkan secara sex-linked. Pada sindrom ini
terdapat hipotoni, hipomotilitas, hiporefleksi, retardasi mental,
katarak dengan atau tanpa glaukoma. Kelainan ginjal dapat
berupa albuminuria, sindrom nefrotik, dan disfungsi tubulus
ginjal.
Nail patella syndrome atau osteo-onychodysplasia adalah
sindrom nefrotik atau proteinuria dengan kelainan pada kuku
dan tulang. Pada sindrom ini terdapat: a. kelainan tulang berupa
hipoplasia atau tidak adanya patella, hipoplasia kaput radius
proksimal, hipoplasia tanduk iliaka, dan kelainan pada kaki; b.
kontraktur fleksi sendi; c. hipoplasia atau hilangnya kuku ibu
jari dan telunjuk; d. kelainan pada mata berupa ptosis, pigmen-
tasi iris abnormal, glaukoma, mikrokornea, dan strabismus; e.
keainan ginjal dapat berupa penebalan fokal membran basalis,
penambahan matrik mesangial, dan sklerosis tubulus.
6
6. Sindrom nefrotik sekunder
SNI sekunder dapat terjadi sebagai akibat infeksi (sifilis,
virus sitomegalo, hepatitis, rubela, toksoplasma, malaria), tok-
sisitas merkuri, reaksi obat, lupus eritematosus sistemik infan-
til, sindrom hemolitik uremik, dan tumor Wilms.
6
Gambaran
laboratorium tergantung pada penyebab SNI, misalnya hasil tes
VDRL positif pada sifilis, atau dapat ditemukan antibodi spe-
sifik terhadap toksoplasma, virus sitomegalo, dan hepatitis.
SNI sekunder sering memperlihatkan gambaran spesifik,
misalnya terdapatnya deposit imunoprotein glomerulus dengan
pemeriksaan imunfluoresen dan mikroskop elektron atau lupus
eritematosus sistemik yang berhubungan dengan glomerulo-
nefritis. Seperti pada SNI primer, pada SNI sekunder dapat
ditemukan gambaran patologi berupa glomerulus fetal, proli-
ferasi mesangium, glomerulosklerosis fokal segmental dan
global, atau mikrokistik tubular.
1
a) Infeksi
Sifilis dapat menyebabkan SNI. Umumnya infeksi sifilis
ini lebih sering menyebabkan proteinuria dan jarang terlihat
sindrom nefrotik dengan gejala yang spesifik, dan sering
ditemukan hematuria. Sindrom nefrotik dapat terlihat pada saat
lahir tetapi lebih sering muncul pada umur 1 sampai 4 bulan.
Sifilis dapat menyebabkan kombinasi glomerulonefritis dan
nefritis interstitialis, umumnya berupa glomerulonefritis mem-
branosa. SNI karena sifilis merupakan immune-complex-
mediated epimembranous nephritis. Golongan penisilin menye-
babkan kesembuhan tanpa kelainan ginjal yang ireversibel.
Beberapa infeksi lain seperti infeksi virus sitomegalo,
hepatitis, rubela, HIV, toksoplasma, dan malaria dihubungkan
dengan terjadinya SNI. Hepatitis B dan rubela kongenital dapat
menyebabkan SNI dengan gambaran glomerulonefritis mem-
branosa.
6
b) Lupus eritematosus sistemik infantil
Meskipun lupus eritematosus sistemik jarang sebelum
umur 5 tahun tetapi telah dilaporkan adanya lupus eritematosus
sistemik infantil. Umumnya sindrom nefrotik merupakan ma-
nifestasi klinis utama lupus eritematosus sistemik infantil pada
bayi 6 bulan sampai 6 tahun. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan peningkatan titer antibodi antinuklear, hipokomple-
mentemia, dan gambaran proliferatif difus. Umumnya respons
terhadap terapi imunosupresan tidak memuaskan.
6
c) Intoksikasi merkuri
Intoksikasi merkuri dapat menyebabkan immune-complex-
mediated epimembranous nephritis dengan gejala sindrom
nefrotik.
5,6
d) SNI dapat disebabkan sindrom hemolitik uremik, tumor
Wilms, dan reaksi obat.
5,6
KEPUSTAKAAN
1.
Mahan JD, Hoyer JR, Vernier RL. Nephrotic syndrome in the first year of
life. Dalam: Cameron JS, Glassock RJ, penyunting. The Nephritic
Syndrome, edisi ke-1, Marcel Dekker, New York, 1988;401-22.
2.
Rapola J, Huttunen NP, Hallman N. Congenital and infantile nephrotic
syndrome. Dalam: Edelmann CM, Bernstein J, Meadow SR, Spitzer A,
Travis LB. penyunting. Pediatric Kidney Disease, edisi ke-2, London:
Little-Brown & Co, , 1992,h.1291-1305.
3.
Habib R. Nephrotic syndrome in the 1
st
year of life. Pediatr Nephrol
1993;7:347-53.
4.
Makker SP. Congenital nephrotic syndrome of the Finnish type. Dalam :
Kher KK, Makker SP (penyunting) Clinical Pediatric Nephrology, ed.1,
New York Mc-Graw-Hill Inc,: h. 186-90.
5.
Mauch TJO, Venier RL, Burke BA, Nevins TE. Nephrotic syndrome in
the first year of life. Dalam: Holliday MA, Barratt TM, Avner ED.
penyunting. Pediatric Nephrology, edisi ke-3, Baltimore: Williams &
Wilkins, 1994:h: 788-802.
6.
Holmberg C, Jalanko H, Tryggvason K, Rapola J. Congenital nephrotic
syndrome Dalam: Barratt TM, Avner ED, Harmon WE. penyunting.
Pediatric Nephrology, edisi ke-4, Baltimore: Lippincott Williams &
Wilkins, 1999.h:765-777.
7.
Arkwright PD, Clark G. Infantile nephritic syndrome and atopy. Padiatr
Nephrol 1996;10:509-10
8.
Mattoo TK, Al-Sowallem AM, Al Harbi MS, Mahmood MA, Katawee Y,
Hassab MH. Nephrotic syndrome in 1
st
year of life and the role of
unilateral nephrectomy. Pediatr Nephrol 1992;6:16-8.
9.
Jadresic LP, Filler G, Barratt TM. Urine glycosamiinoglycans in
congeniital and acquired nephrotic syndrome. Kidney Int 1991;40:280-4.
10.
Ljungberg P. Glycosaminoglycan in urine and amniotic fluid in
congeniital nephrotic syndrome of Finnish type. Pediatr Nephrol
1994;8:531-6.
11.
Vermylen C, Levin M, Mossman J, Barratt TM. Reduced heparan sulfate
content of glomerular basement membrane and increased urinary
excreation in congenital nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol
1989;3:122-9.
12.
Patrakka J, Ruotsalainen V, Ketola I, Holmberg C, Heikinheimo M,
Tryggvason K, dkk. Expression of nephrin in pediatric kidney disease. J
Am Soc Nephrol 2001;12:289-96.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 37
background image
13.
Mattoo TK. Gingival hyperplasia in congeniital and infantile nephrotic
syndrome. Padiatr Nephrol 1997;11:388
14.
Ljungberg P, Holmberg C, Jalanko H. Infections in infants with
congenital nephrosis of Finnish type. Pediatr Nephrol 1997;11:148-52.
15.
Pomeranz A, Wolach B, Bernheim J, dkk. Successful treatment of
Finnish congeniital nephrotic syndrome with captopril and indomethacin.
J Pediatr 1995;126:140-2.
16.
Birnbacher R, Forster E, Aufricht C. Angiotensin converting enzyme
inhibitor does not reduce proteinuria in an infant with congenital
nephrotic syndrome of the Finnish type. Pediatr Nephrol 1995;9:400-.
17.
Umesh L, Prashanth A, Benakappa DG, Govindaraj M, Benakappa N.
Diffuse mesangial sclerosis presenting as infantile nephritic syndrome.
Indian Pediatrics 2001;38:663-4.
18.
Schumacher V, Scharer K, Wuhl E, Altrogge H, Bonzel KE, Guschmann,
dkk. Spectrum of early onset nephrotic syndrome associated with WT1
missense mutations. Kidney Int 1998;53:1594-600.
19.
Dharnidharka VR, Ruteshouser EC, Rosen S, Kozakewich H, Harris
HW, Herrin JT. dkk. Pulmonary dysplasia, Denys-Drash syndrome and
Wilms tumor 1 gene mutation in twins. Pediatr Nephrol 2001;16:227-31.
20.
Sheu JN, Chen JH. 46,XY gonadal dysgenesis associated with congenital
nephrotic syndrome and sepsis. Pediatr Nephrol 1999;13:927-9.
21.
Koziell A, Iyer VK, Moghul NE, Ramani P. Taylor CM. Congenital
nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol 2001;16:185-9.
22.
Sano H, Miyanoshita A, Watanabe N, Koga Y, Miyazawa Y, Yamaguchi
Y, dkk. Microcephaly and early onset nephrotic syndrome- confusion in
Galloway-Mowat syndrome. Pediatr Nephrol 1995;9:711-4.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
38