Prospek Pengembangan
Vaksin Enterik
Cyrus H. Simanjuntak
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
RESUME
Enteric disease is still a health problem in Indonesia, with high morbidity and
mortality. In 1987, morbidity and mortality of diarrhoea were 27.7 cases per 1000
population and 0.78 cases per 100.000 population, respectively with CFR of 0.34°/oo
population.
The most frequent etiology of diarrhoea were V. cholerae 01, Rota virus, ETEC and
Salmonella including S. typhi.
Since the development of biotechnology in medicine, a tremendous development of
vaccine candidate against enteric disease has been explored and evaluated.
Oral vaccine of CVD-103 HgR for V. cholerae 01, which provided a good
immunity in volunteers, is now evaluated for its immunogenicity and side effects in
children of less than 10 year of age in Bangkok, Thailand. The hybrid V. cholerae 01-
Ty2la S. typhi developed in Australia is now ready for field test of phase 1.
There are 3 oral vaccines against Rota virus being developed, RIT-4237 (Bovine
strain), RRV or MMU-18006 (Simian strain) and WC3 (Bovine strain).
Oral vaccine for ETEC contains either virulence factor of LT and ST, increased the
intestinal IgA in volunteers.
Ty2la S. typhi vaccine provides a moderate efficacy in several field trials, but
parenteral vaccine of Vi-CPS promises a better results. Field trial in Nepal and South
Africa, with a high endemic area for typhoid fever, revealed the efficacy of 70 - 80% in
the population with a very minimum side effects.
If the development of these vaccine can be applied in the next 4 - 5 years, it is
expected that the morbidity of the enteric disease will decreased drastically.
PENDAHULUAN
Berbagai usaha untuk menanggulangi atau mencegah pe-
nyakit enterik dapat ditempuh, antara lain : perbaikan kesehatan
perorangan, penyediaan air minum yang sehat, pembuangan
kotoran dan limbah rumah tangga dengan baik, dan pemberian
vaksin berisi kuman penyebab penyakit enterik tersebut. Yang
disebut terakhir merupakan usaha yang paling ampuh apabila
daya lindung (daya proteksi) vaksin tersebut cukup tinggi. Pem-
berian vaksin untuk pemberantasan penyakit menular merupa-
kan senjata ampuh dan hal ini telah terbukti. Salah satu contoh
yang dapat dikemukakan di sini ialah punahnya penyakit cacar
(Variola vera) dari muka bumi akibat keberhasilan usaha vaksi-
Diajukan pada Pertemuan Ilmiah Berkala BKGAI (Badan Koordinasi
Gastroenterologi Anak Indonesia). Jakarta, 29 Juni - 1 Juli 1989.
nasi cacar kira-kira 10 tahun yang lalu. Penyakit ini lenyap
setelah dua kasus terakhir yaitu kasus alami di Etiopia dan
kasus kontaminasi laboratorium di Birmingham, Inggris pada
tahun 1978.
Sejak dilaksanakannya program PPI (Pengembangan Pro-
gram Immunisasi), yang meliputi vaksin DPT, TT, BCG, Polio-
mielitis dan Campak, penurunan insidensi penyakit yang ber-
sangkutan sangat terasa dengan jelas. Tabel 1 memperlihatkan
penurunan angka kesakitan dan juga CFR (Case Fatality Rate)
dari Difteri, Pertusis, Tetanus, Poliomielitis maupun Campak.
Sayang, bahwa hingga saat ini belum ada vaksin yang cukup
baik terhadap penyakit enterik dan yang dapat dipakai secara
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
36
Tabel 1. Morbiditas dan CFR dari penyakit infeksi yang dapat dicegah
dengan vaksinasi di Indonesia, tahun 1981-1985.
Tahun
Penyakit Tolok
ukur
1981 1982 1983 1984 1985
D i f t e r i
Morb.R (%)
1,52
2,15
2,20
1,48
1,05
CFR
(%)
0,100
0,091
0,103
0,096
0,118
P e r t u s s i s
Morb.R (%)
0,29
0,19
0,25
0,18
0,20
CFR
(%)
0,039
0,017
0,018-
0,028
0,024
Tetanus Morb.R
(%)
1,04
0,86
0,83
0,60
0,71
Neonatorum CFR
(%)
0,468
0,461
0,447
0,453 0,436
T e t a n u s
Morb.R (%)
3,63
3,24
3,87
3,00
3,46
CFR
(%)
0,222
0,147
0,193
0,208
0,187
Polyomyelitis Morb.R
(%) 0,11
0,06
0,07 0,05 0,04
CFR
(%)
0,031
0,0
0,064
0,024
0,014
C a m p a k
Morb.R (%)
1,50
1,97
2,07
1,81
1,20
CFR
(%)
0,088
0,061
0,033
0,043
0,036
Sumber data : Ditjen P2M of PLP.
nasional atau massal. Vaksin yang ada sekarang yang sudah
mendapat lisensi dan dipakai secara individu memberi daya
lindung yang memang lumayan (sekitar 60 70%), akan tetapi
memberi gejala samping yang sangat merugikan. Salah satu di
antaranya yang masih dipergunakan ialah Typa, yaitu vaksin
terhadap demam tifoid.
Akhir-akhir ini, berkat kemajuan bioteknologi, baik cara
recombinant DNA dengan sistem clone maupun dengan cara
mutant, telah ditemukan berbagai vaksin terhadap penyakit
enterik yang sebagian besar sudah memasuki taraf ujicoba di
lapangan. Akan tetapi, sebelum membicarakan vaksin tersebut
ada baiknya dikemukakan lebih dahulu tentang besarnya
masalah penyakit enterik di Indonesia.
MORBIDITAS, MORTALITAS DAN ETIOLOGI PENYAKIT
ENTERIK
Penyakit enterik masih merupakan penyebab utama
kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) di Indonesia,
seperti halnya dengan di negara negara sedang berkembang
lainnya, terutama pada anak-anak.
(2,3,4,5)
Survai Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) yang dilaksanakan pada tahun 1988
mengungkapkan bahwa insidensi penyakit diare pada bayi
adalah 25 per 1000 bayi dan pada anak balita (1 - 4 tahun)
adalah 20 per 1000 anak balita dalam kurun waktu 1 bulan.
(6)
Secara nasional, angka kesakitan, kematian dan CFR dari
penyakit diare dapat dilihat pada Tabel 2. Walaupun CFR
cukup rendah yakni 0,34
o
ho pada tahun 1987, akan tetapi
angka morbiditas masih tinggi yakni 22,7 per 1000 penduduk.
Di DKI sendiri, dari 29 rumah sakit pada tahun 1985, angka
kesakitan adalah 1,2 per 1000 penduduk per tahun dan angka
kematian adalah 0,6 per 100.000 penduduk per tahun dengan
CFR sebesar 0,5%.
(7)
Survai penyakit diare yang dilakukan pada masyarakat pada
tahun 1982 di Jakarta, memperlihatkan bahwa morbiditas adalah
sebesar 149 dan mortalitas sebesar 0,2 per 1000 penduduk per
tahun dengan CFR sebesar 0,13%.
(8)
Di sin terlihat ada per-
bedaan morbiditas dan mortalitas menyolok dari data yang
Tabel 2 : Morbiditas,Mortalitas dan CFR dari penyakit diare di Indonesia.
Tolok ukur 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987
Kasus (10
6
) 1,25
1
1,21 1,49 2,42 2,96 4,03
3,55 4,04 3,71
Kematian (10
3
) 1,92 1,35 1,45 1,92 1,36 1,65
1,28 1,50 1,34
Angka morbi-
8,9
8,2 10,1 15,6 18,9 26,6
22,0 24,3 22,7
diatas (10-
3
)
Angka morta-
1,34 0,93 0,96 1,24 0,87 1,03
0,77 0,89 0,78
litas (10-
5
)
CFR(10-
3
)
1,5 1,1 1,0 0,8 0,5 0,4 0,35 0,37 0,34
Sumber data : Dit Jen P2M & PLP
berasal dari rumah sakit dibandingkan dengan data hasil survai
di masyarakat. Hal ini dapat dimengerti karena diare hasil
survai di masyarakat merupakan semua bentuk dan tingkat
diare yang sebagian besar tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit, sedang diare yang di rumah sakit hanyalah mereka
yang menderita lebih berat dan memerlukan pertolongan medis.
Angka diare yang berasal dari rumah sakit lebih kecil dari
angka diare yang berasal dari survai, sedang CFR lebih besar.
Penyakit demam tifoid, juga memperlihatkan insidensi yang
sangat tinggi dimasyarakat yang berkisar antara 360 - 810
kasus per 100.000 penduduk per tahun.
t91
Penyakit ini terutama
menyerang anak berumur 3 - 19 tahun (78%).
Bila kita melihat etiologi diare akut pada penderita yang di-
rawat di rumah sakit maupun berdasarkan survai di masyarakat,
jelas bahwa penyebab diare. yang memberi gejala agak berat
sampai berat pada umumnya adalah : V. cholerae01, Rota virus,
ETEC dan Salmonella termasuk S. typhi.
(8,10)
Maka wajarlah
apabila prioritas pengembangan vaksin terhadap penyakit
enterik terutama ditujukan terhadap keempat penyebab ini.
PENGEMBANGAN VAKSIN ENTERIK
1. Kholera
Hanya setahun setelah ditemukan V. cholcrae 01 sebagai
penyebab penyakit kholera, vaksin kholera yang pertama telah
ditemukan dan dievaluasi. Mula-mula ditemukan vaksin kholera
berupa Vibrio yang masih hidup, lalu menyusul yang dilemah-
kan; kedua-duanya diberikan secara parenteral.
(11)
Kemudian
dikembangkan kuman yang dimatikan yang juga diberikan
secara parenteral. Vaksin ini memberi perlindungan yang
lumayan (sekitar 60%), tapi daya lindungnya hanya bertahan
dalam waktu singkat dan memberi gejala samping yang sangat
mengganggu berupa demam dan malaise secara sistemik serta
merah, sakit dan bengkak secara lokal di tempat suntikan.
Di Indonesia sendiri pada tahun enam puluhan hingga per-
mulaan tahun tujuhpuluhan telah dikenal beberapa vaksin yang
di dalamnya terdapatvaksin terhadap kholera, seperti TCD,
Chotypa, dan belakangan cholera sac. Bahkan pemakaian
vaksin chotypa sudah diprogramkan di beberapa rumah sakit
untuk diberikan dalam satu semprit dengan DPT pada anak
umur 2 - 3 bulan sebagai pemberian awal immunisasi dasar
(12)
Akan tetapi akibat daya lindung yang singkat serta timbulnya
gejala samping yang sangat mengganggu, vaksin ini tidak
begitu populer dan banyak negara yang meninggalkannya,
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 37
bahkan WHO tidak menganjurkan pemakaiannya secara massal.
Sejak permulaan tahun tujuhpuluhan pemerintah selalu
memberikan vaksinasi cholera/cholera sac kepada penduduk di
daerah di mana terjadi wabah. Akan tetapi sejak pertengahan
tahun tujuhpuluhan, karena daya lindung vaksin ini sangat
rendah dan hanya bertahan dalam waktu singkat (2 - 3 bulan),
pemakaian vaksin ini dihentikan. Lalu para ahli berusaha men-
cari vaksin alternatif 'yang lebih baik yang mungkin dapat
dipakai untuk program pemberantasan. Sehubungan dengan itu
maka pada tahun 1978 telah dilakukan uji coba di lapangan
terhadap vaksin kholera adsorbsi-aluminium hidroksida dan
membandingkan hasilnya dengan vaksin kholera tanpa adsorbsi
pada 470.000 penduduk di kodya Surabaya
(13)
Ternyata
hasilnya tidak begitu menggembirakan, karenahanya memberi
daya lindung sebesar 50 - 60% selama 14 bulan.
Vaksin Oral
Oleh karena vaksin parenteral yang klasik, yang
menggunakan adsorbsi atau adjuvan dan yang lain-lain hanya
memberi perlindungan parsial dengan masa perlindungan yang
singkat, maka para ahli berpaling pada vaksin oral karena
pemberian secara oral akan menyebabkan kontak langsung
antara immunogen dengan sistem immunitas mukosa saluran
usus, sehingga akan menghasilkan zat anti yang lebih baik.
Dalam kaitan ini telah ditemukan dan diuji coba vaksin oral
'kholera yang pertama, yang terdiri dari 2 komponen vaksin,
yakni : campuran sel utuh kholera mati (SUKMA) dengan
toksin kholera sub unit B (SB) yang dimurnikan dan SUKMA
saja di Bangladesh. Ternyata hasilnya cukup baik walaupun
tidak terlalu menggembirakan, karena hanya memberi daya
lindung sebesar 62% oleh vaksin SUKMA+SB dan 53% oleh
vaksin SUKMA saja pada pemantauan selama satu tahun.
f141
Pada tahun 1980 dengan teknik recombinant DNA
dikembangkan suatu vaksin oral kholera. Prinsipnya ialah
membuang gen toksin sub unit A atau sub unit A dan B
bersama-sama dari khromosom V. cholerae01 sehingga
didapatkan strain attenuated yang masih mampu membentuk
koloni di usus sehingga sanggup mengeluarkan antitoksin dan
antibakteri yang memberi perlindungan setelah pemberian satu
dosis vaksin secara oral5
15)
Dengan cara ini diperolehlah vaksin A B-JBK70 (derivat
El Tor Inaba N16962) dan A-B+ CVD-101 (derivat klasik
Ogawa 395)
(16),
Belakangan, ditemukan lagi CVD-103, yaitu
turunan dari strain Klasik Inaba 569 B dengan menghilangkan
gen dari toksin sub unit A. Derivat ini, seperti induknya, tidak
lagi memperlihatkan toksin : Shigalike cytotoxin. Pada
sukarelawan vaksin ini memperlihatkan immunitas yang bagus
sekali dengan gejala samping yang sangat minim. Pada
pengembangan selanjutnya diusahakan agar strain ini resisten
terhadap merkuri, guna membedakannya dengan strain alami
(liar); dengan begitu diperolehlah derivat CVD-103HgR
Ternyata vaksin barn ini pada 18 orang sukarelawan tidak
memperlihatkan adanya gejala samping. Saat ini vaksin ini
sedang dinilai immunogenitas dan gejala sampingnya pada
anak-anak di bawah umur 10 tahun di Bangkok, Thailand dan
kemungkinan besar juga di Jakarta Utara, Indonesia.
Akhir-akhir ini telah pula ditemukan di Australia hibrida
V. cholerae Ty21a S. ryphi dengan jalan cloning gen dari antigen
lipopolisakarida Ogawa dan Inaba V. cholerae 01 pada strain
Tabel 3. Daya lindung vaksin oral Ty2la S. typhi terhadap demam tifoid
pada penilaian selama 2 tahun di Kompleks Pertamina Plaju,
Oktober
1986September
1988.
Golongan Jenis Jumlah
positit
Attack Daya
Umur
Vaksin
Penduduk
Rate (10 -5) Lindung (%)
Semua Plasebo
(a)
10.268
184 896
-
Umur Kapsul
(b)
5.209
55 528 41,1
Bubuk
(c)
5.066
41
405
54.5
3-14 tahun
Plasebo (d)
5.168
145
1.403
-
Kapsul
(e)
2.596
47
905
35.5
Bubuk
(f)
2.591
34
656
53.2
15-44 tahun
Plasebo (g)
5.100
39
382
-
Kapsul
(h)
2.613
8
153
52.9
Bubuk
(i)
2.475
7
141
63.1
Nilai (p) : (a) vs (b) 0,0006 (d) vs (e) 0,0097 (g) vs (h) 0,1835
(a)
vs
(c) <
0,0001 (d)
vs
(f)
0,0001 (g)
vs
(i)
0,0176
(b)
vs
(c) 0,2316 (e)
vs
(f)
0,1818
(h)
vs
(I)
>
0,9999
Ty2la S. typhi. Derivat ini menghasilkan titer anti bodi yang tinggi
terhadap antigen 0 dari Ogawa dan Inaba pada sukarelawan.
2.
Rota virus
Umur yang rawan dari penderita Rota virus dan yang me-
rupakan puncak tertinggi kasus yang dirawat ialah anak umur
6 - 12 bulan di negara yang sedang berkembang dan 12 - 18
bulan di negara maju. Oleh karena itu golongan inilah yang ideal
sebagai penerima vaksin Rota virus. Oleh sebab itu kemasan
yang ideal dari vaksin ini sebaiknya dalam bentuk cairan.
Ada tiga calon vaksin yang sudah ditemukan dan yang pada
saat ini sedang dievaluasi, yaitu RIT-4237 (strain bovine), RRV
atau MMU-18006 (strain simian) dan WC3 (strain bovine).
Vaksin RIT-4237 pada mulanya menjanjikan harapan besar di
Eropa, tapa ternyata di negara yang sedang berkembang tidak
memberikan hasil yang memuaskan. Di samping menghasilkan
imunitas yang rendah pada bayi yang masih muda di negara
yang sedang berkembang, kebutuhan dosis yang tinggi (10
8
ICI
Dso) menyebabkan vaksin ini mahal. Oleh karena itu vaksin ini
segera ditinggalkan. Vaksin RRV atau MMU 18006, yaitu
strain simian Rota virus memberi immunitas yang tinggi hanya
pada serotipe 3. Oleh karena itu vaksin terhadap serotipe 1, 2
dan 4 dan mungkin serotipe lainnya yang masih belum
diketahui, harus diusahakan lagi: Vaksin WC3, yaitu vaksin
Rota virus bovine, memberi serorespons 95% pada bayi 5-11
bulan dengan dosis 3 X10
7
PFU. Dikatakan, vaksin ini telah
memberi perlindungan terhadap Rota virus ganas pada bayi
selama 3 tahun.
1 7
3.
ETEC (Enterotoxigenic E. coli)
ETEC dalam penyebab utama dari diare yang disebabkan oleh
E. coli yang mempakan sebagian besar penyebab dari diare pada
pelancong kulit putih dab anak-anak yang tinggal di negara yang
sedang berkembang. Oleh karena itu vaksin terhadap E. coli
ditujukan pada ETEC. Pada saat ini yang sedang dikembangkan
ialah terhadap kedua faktor virulensinya, LT-labile toxin dan
ST-stable toxin. Kira-kira 40% strain patogen E.coli selalu mem-
punyai paling sedikit salah satu dari ketiga antigen fimbrial yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
38
hingga saat ini telah diketahui, yakni CFA/I, CFA/II dan
E8775, yaitu faktor yang merupakan mediator hingga kuman
dapat melekat dan membentuk koloni pada mukosa usus.
Immunisasi per oral pada binatang percobaan dari salah satu
antigen di atas dapat menaikkan antibodi IgA dan dapat me-
nangkis tantangan ETEC yang mengandung antigen yang sesuai,
tapi tidak pada antigen yang berbeda. Telah diketahui bahwa
pembentukan antibodi pada sukarelawan yang dicoba sangat
rendah. Diduga hal ini disebabkan karena gangguan isi lambung
terhadap antigen yang diberi per oral. Oleh karena itu untuk
mengatasi hal ini telah dilakukan immunisasi oral dengan pre-
vaksinasi simetidin untuk menetralisir asam lambung. Dengan
cara ini terlihat adanya peninggian titer antitoksin IgA intestinal.
Vaksin ini melindungi binatang percobaan dari infeksi
tantangan dengan semua bentuk strain antitoksin IgA intestinal
terhadap kedua bentuk toksin (LT dan ST) dan ETEC.
(18)
4. Demam Tifoid
Vaksin parenteral, yang berasal dari sel-utuh kuman yang
telah dimatikan telah tersedia sejak 1896 dan telah luas peng-
gunaannya
(19)
Sekitar tahun 1950 - 1960 WHO telah men-
sponsori suatu uji-coba lapangan di beberapa vaksin parenteral.
Telah diketahui pula bahwa vaksin demam tifoid yang diawetkan
dengan fenol yang dididihkan lebih unggul dari vaksin yang di-
awetkan dan di inaktifkan dengan alkohol.
(20)
Segera setelah uji-
coba tersebut diperoleh, Lembaga Riset Angkatan Darat Walter
Reed, di Washington, Amerika Serikat, menyediakan vaksin
standar yang dilyophilized (dikering-bekukan) untuk WHO yang
akan dipergunakan untuk berbagai uji-coba selanjutnya yang
lebih luas untuk memperoleh hasil yang lebih pasti.
(21)
Vaksin
tersebut diberi kode vaksin L (vaksin inaktifasi fenol) dan vaksin
K (vaksin inaktifasi aseton). Vaksin standar L dan K lalu di
ujicoba secara acak tersamar ganda di Yugoslavia dan
Guyana,
(22,23)
vaksin K di Polandia
(24)
dan vaksin L di Rusia
(25)
Uji-coba tersebut memperlihatkan bahwa vasin parenteral ter-
sebut memberi daya lindung yang cukup baik yaitu berkisar
antara 51 - 88%. Akan tetapi vaksin ini tidak begitu populer
karena gejala samping yang sangat mengganggu, baik secara
sistemik (malaise, demam) maupun secara lokal (merah,
bengkak dan sakit pada tempat suntikan).
Vaksin Oral
Akhir-akhir ini berbagai vaksin oral yang dilemahkan yang
mempunyai daya lindung yang memberi harapan besar sekaligus
memperlihatkn gejala samping yang hampir tidak berarti telah
ditemukan oleh para peneliti. Dalam hal ini ada dua golongan
strain S. ryphi yang dilemahkan yang menonjol dan diharapkan
dapat dimanfaatkan sebagai vaksin yang memberikan daya
lindung cukup poten, yakni Ty2la, dan Ty541 & Ty543.
Pada tahun 1975 vaksin Oral Ty2la suatu strain S. typhi
dengan galaktose epimerase (Gal E) telah ditemukan oleh
Germanier dan Furer.
(26)
Vaksin ini telah dievaluasi di masya-
rakat di beberapa negara. Yang pertama ialah di Alexandria,
Mesir, yang dilakukan secara acak tersamar ganda dengan
kontrol plasebo. Hasilnya sangat bail( karena ternyata daya
lindungnya adalah 96%, dan yang berlaku paling sedikit selama
3 tahun.
27
Akan tetapi vaksin ini mempunyai kelemahan,
karena tidak praktis dipakai secara besar-besaran. Vaksinee
harus lebih dahulu memecahkan ampul dan melarutkan isinya
dengan buffer fosfat sebelum diminum; lagi pula beberapa
menit sebelumnya vaksinee harus mengunyah tablet bikarbonat
untuk menetralisir asam lambung. Lagi pula, penelitian di
Santiago, Chili memperlihatkan daya lindung kapsul berlapis
enterik di daerah dengan insidensi 141,7 per 10
5
penduduk per
tahun adalah sebesar 67% selama 3 tahun pelacakan
(28)
suatu
perbedaan akan daya lindung yang sangat menyolok.
Oleh karena itu di Indonesia telah dilakukan pula uji-coba
lapangan pada karyawan Pertamina, Plaju dan keluarganya
secara acak tersamar ganda dan kontrol plasebo. Vaksin yang
dipakai dikemas dalam 2 bentuk yaitu kapsul berlapis enterik
dan bentuk bubuk yang setiap dosis vaksin mengandung 1-5
X10
9
kuman attenuated Ty2la. Sebagai plasebo dipakai
Lactobacillus acidophylus yang dimatikan. Vaksin bubuk
sebelum diminum, diencerkan dulu dengan buffer sitrat; 1 dosis
dengan 100 ml akua (air minum tanpa khlor). Vaksin diberikan
3 dosis dengan selang waktu 1 minggu antara dosis. Ternyata
vaksin ini pada pengamatan 2 tahun memberi daya lindung
yang lebih rendah lagi dari di Chili yakni sebesar 41,1% oleh
kapsul berlapis enterik dan 54,5% oleh vaksin kemasan bubuk
dan dua-duanya bermakna secara statistik bila dibandingkan
dengan plasebo. Juga tampak bahwa vaksin kemasan bubuk
lebih baik dari pada vaksin kapsul berlapis enterik, meskipun
perbedaan ini tidak bermakna secara statistik.
Vaksin Parenteral V/ Capsular Polysaccharide (Vi-CPS)
Oleh karena vaksin oral Ty2la demam tifoid memberi hasil
yang boleh diktakan tanggung, yang secara ideal kurang meng-
untungkan karena harganya yang mahal, maka para ahli men-
coba beralih pada vaksin parenteral Vi Capsular Polysaccharide
(Vi-CPS). Vaksin ini memberi harapan besar, karena di samping
lebih murah dari Ty2la, pemberiannya hanya sekali suntik,
sehingga tak ada persoalan dengan kemungkinan drop-out
suatu hal yang sering menjadi problem utama pada pelaksanaan
program vaksinasi secara massal pada masyarakat. Vaksin ini
sangat aman, hampir tanpa gejala samping.
(29)
Selain itu telah
diuji coba di dua negara yaitu Nepal
(30)
dan Afrika Selatan
(31)
yang insidensi demam tifoidnya cukup tinggi dengan hasil
masing-masing sebagai berikut. Di Nepal dengan insidensi
demam tifoid 1620 per 10
5
penduduk pertahun daya lindungnya
adalah 72-80% sedang di Afrika Selatan dengan insidensi 850
kasus per 10
5
penduduk pertahun daya lindungnya adalah se-
besar 77 - 81%.
Uji-coba klinik vaksin parenteral Vi-CPS hampir selesai di-
lakukan pada anak umur 1 - 10 tahun dan orang dewasa di
Jakarta Utara untuk menilai gejala samping dan reaksi imun
dari vaksin ini. Hasil sementera memperlihatkan tidak ada gejala
samping yang berarti, dan reaksi imunitas secara serologis masih
sedang dilakukan pemeriksaan sehingga belum dapat disajikan
hasilnya di sin. Bila hal ini memberi hasil baik, maka selanjutnya
akan diterskan dengan uji-coba lapangan pada objek yang lebih
luas untuk menilai daya lindungnya pada masyarakat di Indo-
nesia.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 39
RINGKASAN
Penyakit enterik masih merupakan problem kesehatan
masyarakat di Indonesia, karena masih mempunyai angka
kesakitan dan kematian yang cukup tinggi. Pada tahun 1987,
angka kematian diare adalah 27,7 kasus per 1000 penduduk dan
angka kematian sebesar 0,78 kasus per 100.000 penduduk per
tahun dengan CFR 0,34
0
/oo. Insidensi demam tifoid sekitar
360-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun.
Penyebab tersering penyakit enterik yang memerlukap pe-
rawatan di rumah sakit ialah : V. cholerae 01, Rota virus,
ETEC dan Salmonella termasuk S. ryphi.
Berkat kemajuan bioteknologi kedokteran telah banyak di-
temukan vaksin enterik yang sebagian besar akan dan telah
memasuki uji-coba lapangan tahap 1 dan 2.
Vaksin oral kholera CVD-103 HgR sedang dalam taraf
pengujian immunogenitas dan gejala samping pada anak-anak
dibawah umur 10 tahun di Bangkok, Thailand. Sedang vaksin
yang menyusul, yaitu hibrida V. cho/erae-Ty21a S. ryphi akan
segera memasuki pengujian tahap 1.
Ada 3 vaksin oral terhadap Rota virus yang sudah di-
temukan, yakni : RIT-4237 (strain Bovine), RRV atau MMU-
18006 (strain Simian) dan WC3 (strain Bovine). Ketiga calon
vaksin ini masih sedang menjalani pengujian klinik.
Vaksin oral terhadap ETEC yang ditujukan terhadap kedua
unsur virulensinya (LT dan ST) pada sukarelawan sudah dike-
tahui memberi hasil peninggian antitoksin IgA intestinal ter-
hadap kedua faktor toksin diatas.
Vaksin terhadap demam tifoid merupakan vaksin yang per-
kembangannya lebih maju dari vaksin enterik lain. Walaupun
vaksin oral Ty2la memberi hasil yang cukup baik, tapi vaksin
ini tidak terlalu memberi harapan. Vaksin parenteral Vi-CPS
merupakan calon vaksin yang jauh lebih baik. Uji coba di
lapangan telah membuktikan bahwa daya lindung vaksin ini
antara 70-80% di daerah yang insidensi demam tifoidnya cukup
tinggi dengan gejala samping yang sangat minim.
Bila semua calon vaksin tersebut di atas dapat diaplikasikan
dalam 4 atau 5 tahun mendatang, diperkirakan penyakit enterik
akan segera turun dengan drastis.
KEPUSTAKAAN
1.
Simanjuntak CH. Infectious diseases in Indonesia; Epidemiological
aspects. Antibiotika Monitor 1987; tom III (3) : 42 - 6.
2.
Budiarso RL. Sebab-sebab kematian bayi dan anak balita. Survai Kesehat-
an Rumah Tangga 1980. Bull Penelit. Kes. 1983; XI (1), 1 - 4.
3.
Simanjuntak CH, Paleologo FP, Punjabi NH dkk. Dalam persiapan publi-
kasi.
4.
Sutedjo, Sugiono M, Rochtiatmo K, Sudijanto. Morbidity in outpatients
attending the Department of Health, Medical School University of Indo-
nesia, Dr. Ciptomangunkusumo, General Hospital, Jakarta. Paediatr Indon
1968; 8 : 235.
5.
Tumbelaka WAFJ. Aspect of Paediatric Gastroenterology in Indonesia.
Paediatr Indo 1969; 9 : 59 - 66.
6.
Darmadi S, Budarso RL dan Simanjuntak CH. Pola Kesakitan. Dalam :
Prosiding Seminar Survai Kesehatan Rumah Tangga 1986, Eds L. Ratna
Budiarso dkk. Badan Litbangkes Depkes RI. hal 136 - 49.
7.
Endang ER, Rachman CI, Wirjowidagdo S. Morbiditas dan mortalitas
diare di DKI Jakarta. Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Berkala
BKGAI X Eds. Salimo H dkk. Surakarta, 20 - 22 Nop. 1986. hal 238 - 9.
8.
Sutoto, Mochtar MA, Karyadi, Brotowasisto. Morbidity and mortality
study on diarrhoea] diseases in North Jakarta-An urban area. SEA J Trop
Med Pub H1th 1982; 13 (3) : 405 - 11.
9.
Simanjuntak CH, Hoffman SL, Punjabi NH dkk. Epidemiologi demam
tifoid di suatu daerah pedesaan di Paseh, Jawa Barat. Cermin Dunia Ke-
dokteran 1987; 45 : 16 - 8.
10.
Simanjuntak CH, Hasibuan MA, Siregar LO, Koiman I. Etiologi rnikro
-
biologis penyakit diare akut. Bull Penelit Kes XI (2) : 1 - 9.
11.
Levine MM, Kaper JB, Hemngton D dkk The current status of cholera
vaccine development and experience with cholera vaccine trials in volun-
teers. SEA J Trop Med Pub Hlth 1988; 19 (3 & 4) : 401 - 15.
12.
Sugiono M, Sutedjo. Early combined Chotypa and DPT basic immuni-
zation on Indonesian infants starting at the age of 2 - 3 months. Paediatr
Indon 1964; 4 : 204 - 17.
13.
Saroso JS, Bahrawi W, Witjaksono H dkk. A controlled field trial of plain
and aluminium hydroxyde-adsorbed cholera vaccine in Surabaya, Indo-
nesia, during 1973 - 75. Bull WHO 1978; 56 (4) : 619 - 27.
14.
Clemens JD, Harris JR, Sack DA dkk. Field trial of oral cholera vaccines
in Bangladesh. SEA J Trop Med Pub Hlth 19 (3) : 417 - 22.
15.
Kaper JB, Lockman H, Baldini M, Levine MM. Recombinant non toxino-
genic V. cholerae strains as attenuated cholera vaccine candidate. Nature
1984; 308 : 655 - 8.
16.
Levine MM, Kaper JB, Herrington D dkk. Volunteer studies of deletion
mutants of V. cholerae 01 prepared by recombinant techniques. Inf Immun
1988; 56 : 161 - 5.
17.
Bishop R The present status of Rota virus vaccine development. SEA J
Trop Med Pub Hlth 1988; 19 (3) : 429 - 35.
18.
Klipstein FA. Development of E. coil vaccines, against diarrhoeal disease
in human. Dalam : Development of Vaccines and Drug Against Diarrhea.
Prosiding : 11th Nobel Conference, Stockholm Eds. Jan Holmgren Alf
Lindberg Roland Mollby. 1985, hal 62 - 7.
19.
Groschel DHM, Homick RB. Who introduce typhoid vaccination : Almoth
Wright or Richard Feiffer? Rev Infect Dis 1981; 3 : 1251 - 4.
20.
Yugoslav Typhoid Commission. A controlled field trial of the effectiveness
of phenol and alcohol typhoid vaccines. Bull WHO 1962; 26 : 357 - 69.
21.
Walter Reed Army Institute of Research. Preparation of dried acetone-a
inactiveted and heat-phenol inactivated typhoid vaccines. Bull WHO 1964;
30 : 635 - 46.
22.
Ascroft MT, Nicholson CC, Balwant S, Ritchie JM, Soryan A dan William
F. A seven-year field trial of two typhoid vaccines in Guiana. Lancet 1967;
2 : 1056 - 60.
23.
Yugoslav TyphoidCommission. A controlledfield trial of the effectiveness
of aceton dried and inactivated and heat-phenol-inactivated typhoid vacci-
nes in Yugoslavia, Bull WHO 1964; 30 : 623 - 30.
24.
Polish Typhoid Committee. Controlled field trials and laboratory studies
on the effectiveness of typhoid vaccines in Poland 1961 - 64. Bull WHO
1966; 34 : 221 - 22.
25.
Hejfec LB, Salmin LV, Lejtman MZ, et al. Acontrolled field trial and
laboratory study of five typhoid vaccines in the USSR Bull WHO 1966; 34
: 321 - 39.
26.
Germanier R, Furer E. Isolation and characterization of Gal E mutant
Ty2la of Salmonella typhi : a candidate strain for a live oral typhoid
vaccine. J Infect Dis 1975; 141 : 553 - 8.
27.
Wandan MH, Serie C, Cerisier Y, Sallam S. Germanier R A controlled
field trial of live Salmonella typhi strain Ty2la oral vaccine against typhoid
- Three Year Results. J Inf Dis 1982; 145 (2) : 292 - 5.
28.
Levine MM, Ferreccio C, Black RE dkk. Large-scale field trial of Ty2la
live oral typhoid vaccine in enteric-coated capsule formulation. Lancet
1987; V : 1049 - 52.
29.
Tacket CO, Ferreccio C, Robbins JB dkk. Safety and immunogenicity of
two Salmonella ryphi Vi Capsular Polysaccharide vaccines. J Inf Dis 1986;
154 (2) : 342 - 5.
30.
Acharya IL, Lowe Cu, Thapa R dkk. Prevention of typhoid fever in Nepal
with the VI capsular Polysaccharide of Salmonella ryphi. A preliminary
report. N Engl J Med 1987; 317 (18) : 1101 - 4.
31.
Klugman KP, Gilbertson IT, Kornhof HJ dkk. Protective activity of Vi
Capsular Polysaccharide vaccine against typhoid fever. Lancet 1987; 21 :
1165 - 9.