background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
46
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Magnesium pada Asma
Bambang Irawan Harsono, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono
Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi di Indonesia tetap menduduki peringkat
teratas sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian. Ber-
bagai jenis antimikroba terbaru telah dikembangkan untuk
mengatasinya. Sedangkan penanggulangan medik penyakit
noninfeksi atau degeneratif seperti kanker paru, bronkitis
kronik, emfisema dan asma saat ini semata-mata ditujukan
pada peningkatan kualitas hidup dan bukan penyembuhan
dalam arti sebenarnya.
Pasien asma sering dijumpai di beberapa rumah sakit baik
di unit rawat jalan maupun gawat darurat.
1
Survai kesehatan
rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 1986,
1992 dan 1995 memperlihatkan asma masih menduduki
peringkat ke 3 dari 10 penyebab kematian utama di Indo-
nesia.
dikutip dari 1
Kejadian akumulasi asma berimbas pada beban pelayanan
kesehatan masyarakat. Mark dan Burney tahun 1998 melapor-
kan sejak tahun 1950 sampai dengan akhir abad duapuluhan,
walaupun rerata angka kematian asma pada orang tua menurun,
angka kematian karena asma pada orang muda tetap atau
meningkat dengan beberapa epidemi. Harrison dan Smith
(1971) melaporkan peningkatan prevalensi asma pada anak
sekolah di Birmingham, Inggris tahun 1960-an. Studi lain
memperlihatkan mengi merupakan suatu atopi jalan napas yang
memberikan respons terhadap agen kolinergik, merokok dan
elektrolit
Di Amerika Serikat asma anak sebanyak 4,8 juta merupa-
kan penyakit kronik dengan peningkatan prevalensi sampai
dengan 75 % dari tahun 1980 sampai dengan 1994. Peningkat-
an kurang lebih 160 % pada anak 0 - 4 tahun, diiringi dengan
peningkatan angka kesakitan dan kematian. Tahun 1980-1994
angka rerata perawatan rumah sakit penderita asma anak dari
lahir hingga 4 tahun meningkat 47%, sementara angka kemati-
an pada anak dan orang dewasa meningkat dua kali lipat dari
1975-1995.
Untuk pasien di instalasi gawat darurat (IGD) dengan
serangan asma akut sedang sampai berat, National Heart, Lung
and Blood Institute (NHLBI) merekomendasikan penggunaan
agonis
2 dan kortikosteroid sistemik. Beberapa percobaan
klinis memperlihatkan bahwa terapi agonis
2 dan kortiko-
steroid sering tidak memuaskan sehingga memerlukan perawat-
an rumah sakit. Sejumlah 31% anak-anak dengan serangan
asma akut sedang sampai berat di IGD yang diterapi dengan
prednison (19-50%), atau dengan nebulasi albuterol selama 4
jam tidak membaik sampai memerlukan perawatan rumah
sakit; sehingga kelihatannya pasien tertentu dengan serangan
asma akut sedang sampai berat mungkin memerlukan terapi
tambahan.
7
HOMEOSTASIS Mg
Magnesium merupakan salah satu kation esensial utama
dalam kehidupan dan terlibat dalam reaksi enzimatik untuk
sintesis protein; Mg juga berperan mempertahankan potensial
listrik membran sel, dalam pembentukan ATP; proses sintesis
dan replikasi asam ribonukleat - asam deoksiribonukleat secara
absolut memerlukan Mg.
2,15
Pengetahuan mekanisme homeos-
tasis untuk mempertahankan konsentrasi Mg di serum sangat
terbatas; faktor utama regulasi keseimbangan Mg adalah ab-
sorpsi gastrointestinal dan ekskresi oleh ginjal. Pengetahuan
tentang kontrol hormonal juga terbatas, beberapa penelitian
menyatakan parathyrin berpengaruh terhadap homeostasis Mg;
defisiensi Mg merupakan efek dari terganggunya sintesis atau
pelepasan parathyrin. Pada hipomagnesemia terjadi peningkat-
an konsentrasi parathyrin imunoreaktif serum setelah pemberi-
an Mg.
Magnesium mungkin menurunkan neutrofil yang berhu-
bungan dengan respons inflamasi pada asma dan juga men-
stabilkan membran sel mast serta menghambat ion kalsium
sebagai antagonis kompetitif.
2
Mekanisme bronkodilatasi tidak
diketahui, mungkin dengan menghambat kanal kalsium otot
polos jalan napas serta menghalangi mediasi kalsium pada
kontraksi otot. Magnesium juga menurunkan pelepasan asetil-
kolin pada neuromuscular junction setelah stimulasi para-
simpatis.
8,17
Mg dalam tubuh manusia kurang lebih 0,33 mg/kg (1,32
mmol/kg), atau untuk dewasa rerata 24 gram. Orang dewasa
sehat memerlukan 200-350 mg/hari. Sebagian besar (99%) di
dalam ruang intraselular, kurang lebih dua pertiga terdapat di
background image
tulang dan sisanya terdapat di otot dan jaringan lunak seperti di
otot jantung, otot rangka dan hati.
8
Magnesium serum seper-
tiganya terikat dengan albumin, duapertiga dalam bentuk ultra-
filtrable yang terdiri dari 80% dalam bentuk ion bebas, 20%
berbentuk ikatan kompleks dengan fosfat, sitrat dan lain-lain.
17
Berbeda dengan kalsium, homeostasis Mg tergantung asupan
diet. Sistem regulasi Mg pada fungsi mobilisasi tulang dan
sirkulasi tidak diketahui. Beberapa faktor yang menyebabkan
berubahnya rasio Mg intraseluler dan ekstra-seluler antara lain
asidosis dan iskemi, dan stimulasi reseptor alfa dan beta yang
menyebabkan Mg keluar dari sel. Pada perawatan di ICU dapat
terjadi pergeseran akut Mg di dalam sel, seperti pada sindrom
refeeding, penggunaan insulin, infus glukosa dan asam amino.
8
Sejumlah 65% pasien di unit perawatan intensif menderita
hipomagnesemia.
Kadar Mg dalam tubuh diatur oleh ginjal dan saluran pen-
cernaan serta menggambarkan keterlibatan metabolisme kalsi-
um, kalium dan natrium. Kadar Mg intraseluler dapat rendah
walaupun kadar Mg ekstraseluler normal.
5
Hipomagnesemia
ringan tidak menyebabkan kelainan patofisiologik yang ber-
makna, jika berat akan tampak eksitabilitas neuromuskuler
seperti tremor, twitching, seizures, tetani dan kelelahan otot
termasuk otot pernapasan.
19
ABSORPSI DAN ELIMINASI
Absorpsi Mg dilakukan di usus halus; yang diserap kurang
lebih 24%-76%, dilakukan secara aktif mirip dengan sistem
transpor Ca; pada pemberian Mg kadar rendah akan terjadi
peningkatan absorpsi Ca. Ekskresi dilakukan di ginjal, kurang
lebih 120-140 mg/24 jam pada orang dengan diet normal dan
dalam keadaan tertentu ginjal dapat mensekresi sampai dengan
5000 mg/24 jam tergantung konsentrasi Mg plasma.
17
Ginjal
merupakan regulator utama konsentrasi serum dan kandungan
total Mg tubuh. Magnesium difiltrasi oleh glomerulus dan dire-
absorpsi di tubulus, 60-75% di tubulus asendens. Hipo-
magnesemia dapat hanya sementara, mungkin disebabkan
karena migrasi dari ekstraselular ke intraselular akibat turunnya
konsentrasi ion Mg intraselular.
27
Sumber Mg dari berbagai jenis makanan dapat dilihat pada
tabel 2.
Tabel 2. Sumber diet Mg
Sumber makanan
Magnesium mg/100g
Kacang-kacangan 200
Sereal belum diproses
66
Kacang polong
20
Sayuran 14
Produk susu
15
Air minum
30-90 (mg/liter)
Daging 14-30
Dikutip dari (25)
HIPOMAGNESEMIA
Beberapa pendapat tentang terjadinya hipomagnesemia
antara lain:
-
Belum dapat dijelaskan tetapi sebagian dikeluarkan oleh
urin.
-
Penggunaan obat, misal agonis
, steroid, dan metilsantin.
-
Asupan yang rendah atau hilangnya Mg karena proses
memasak.
20,21
Faktor-faktor yang berpengaruh pada reabsorpsi Mg dalam
tubuh dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Etiologi defisiensi magnesium
Renal
Obat-obatan
Diuretik, digoksin, amfoterisin-B,
aminoglikosid, cisplatin, siklosporin,
albuterol dan agonis beta, diuretik
loop
dan
tiazid, pentamidin, agen osmotik, alkohol,
diabetes
Gastrointestinal
Diare, emesis, penghisapan nasogastrik,
short
bowel syndrome
,
malabsorption syndrome
,
pankreatitis
Pergeseran intraseluler akut
Refeeding syndrome
, infus glukosa, infus
asam amino, insulin, katekolamin, asidosis
metabolik
Lain-lain
Malnutrisi, nutrisi parenteral total, deplesi
fosfor, alkohol,
hungry
bone syndrome
, darah
sitrat, hipotiroid, hiperkalsemia,
cardiopulmonary bypass,
ekspansi volume
intravaskuler,hipoalbuminemia
Dikutip dari (20)
PEMAKAIAN MAGNESIUM PADA ASMA
Tradelenberg pertama kali memperkenalkan bahwa Mg
mempunyai potensi sebagai bronkodilator dan tahun 1912 telah
dicobakan pada sapi. Rosselo dkk. melaporkan pemberian Mg
pada manusia penderita asma diharapkan dapat mengurangi
gejala stridor dan dispnea. Penelitian selanjutnya menggunakan
Mg pada pasien asma serangan ringan, sedang sampai berat
dengan cara yang bervariasi dari intravena sampai dengan
nebulasi. Fantidis dkk (1995) pertama kali melaporkan kadar
Mg yang rendah di polimorfonuklear (PMN) pasien asma
dibandingkan dengan kontrol.
dikutip dari 3
Selain itu magnesium
menyebabkan perubahan kapasitas volume paksa dan atau
volume ekspirasi paksa detik pertama.
4
Studi cross sectional memperlihatkan hubungan antara
asupan rendah magnesium (Mg) dengan asma, dan pada pasien
asma didapatkan kadar Mg intraselular rendah.
dikutip dari 2
Magnesium merupakan obat standar untuk preeklamsi dan
dianjurkan juga untuk berbagai masalah medis seperti aritmi
jantung sampai migren. Pertama kali digunakan untuk peng-
obatan asma tahun 1936 pada pasien rawat inap dengan asma
berat yang tidak responsif dengan pengobatan standar masa itu
seperti beladona (atropin) dan epinefrin.
5
Hipomagnesemia
pada penderita asma dan penderita asma kronik berhubungan
dengan peningkatan perawatan di rumah sakit; asupan Mg yang
rendah mungkin berperan dalam etiologi asma serta kejadian
sekunder akibat penggunaan obat asma sendiri seperti agonis
beta, steroid dan xantin.
6
Beberapa pe-nelitian membuktikan
bahwa pemberian MgSO4 iv. pada pasien asma yang tidak
memberikan respons adekuat terhadap agonis beta, menghasil-
kan perbaikan bermakna.
7
Pasien dengan serangan asma akut sedang sampai berat
yang tidak responsif dengan pengobatan standar, membutuhkan
tambahan pengobatan, seperti Mg. Picado dkk dengan mem-
berikan Mg peroral harian mendapatkan hasil tidak berbeda
antara subyek sehat dengan pasien asma
dikutip dari 9
sedangkan
McKeever dkk (1991) menyatakan ada hubungan kuat antara
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 47
background image
Mg dengan fungsi paru dan hiperresponsivitas saluran napas;
pada tahun 2000 kembali ditemukan hubungan positif antara
asupan magnesium dan fungsi paru.
10
Ciaralo dkk mengguna-
kan dosis 25 mg/kgbb. MgSO4 pada anak yang tidak responsif
terhadap agonis
2 dan menghasilkan perbaikan ber-
makna.
dikutip dari 9
Studi nutrisi cross sectional memper-lihatkan
hubungan antara asupan diet Mg dengan fungsi paru dan reakti-
vitas bronkus.
Pemberian MgSO
4
iv. pada pasien asma menyebabkan
bronkodilatasi.
11
Ada sembilan percobaan dari tahun 1989
sampai 1997. Empat percobaan menyatakan secara statistik
tidak bermakna dan lima percobaan melaporkan perbaikan ber-
makna; kesembilan percobaan ini melibatkan 859 pasien
dengan hasil perkiraan target yang positif dan tidak ada efek
samping yang berat
12
Magnesium bernomor atom 12 dan massa atom 24,32 Da
merupakan kation ke 4 terbanyak dalam tubuh manusia dan ke
2 terbanyak di cairan ekstraseluler.
16
Mg menyebabkan relaksasi sel otot polos, sedangkan hipo-
magnesemia akan menyebabkan kontraksi otot polos. Pem-
berian parenteral pada penderita asma serangan akut meng-
hasilkan bronkodilatasi.
2,3
Magnesium untuk terapi asma bukan suatu yang baru; efek
relaksan Mg pada otot polos telah diperlihatkan pada trakea
hewan percobaan yang diberi histamin (Hirota dkk).
dikutip dari 8
Skobeloff dkk memperlihatkan perbaikan bermakna arus
puncak ekspirasi dan menurunkan angka perawatan pada 38 pa-
sien dengan eksaserbasi sedang sampai berat setelah pemberian
1,2 g MgSO4 pasca terapi agonis
2 dengan nebulizer. Bloch
dkk. melaporkan peningkatan bermakna VEP1 pada menit ke
120 dan 240 dan perawatan di rumah sakit yang singkat
(kurang lebih 33% dibanding 78%) pada penderita di unit
gawat darurat dengan pemberian 2 g iv. sebagai terapi tambah-
an; sedangkan Mills dkk melaporkan tambahan MgSO4
menghasilkan perbaikan bermakna pada pasien weaning dari
ventilator mekanik setelah agonis
2, steroid dan teofilin hanya
memberikan perbaikan minimal.
dikutip dari 13
Efek langsung yang dikeluhkan pada pemberian Mg iv.
adalah rasa panas dan tidak nyaman pada 3 dari 10 orang,
tekanan darah turun dari 144/94 mmHg menjadi 102/85 mm-
Hg, serta rasa lelah pada 1 dari 10 orang; setelah berbaring 5
menit hipotensi dan rasa lelah menghilang.
14
Percobaan Noppen M dkk.
20
memperlihatkan peran MgSO
4
dalam pengobatan asma. Perubahan VEP
1
selama infus MgSO
4
dan inhalasi albuterol secara berurutan dapat dilihat perban-
dingannya di Gambar 1. Infus MgSO
4
sebelum inhalasi albu-
terol meningkatkan bermakna nilai VEP
1
, menunjukkan Mg
meningkatkan kerja agonis 2 pada penderita asma. Pada
pasien terjadi perbaikan: sesak dan mengi berkurang. Tiga
puluh menit setelah infus MgSO
4
terjadi penurunan VEP
1
pada
seluruh pasien tetapi tidak mencapai nilai basal saat sebelum
pemberian MgSO
4
. Inhalasi albuterol 30 menit setelah selesai
infus MgSO
4
menyebabkan peningkatan bermakna VEP
1
pada
seluruh pasien, peningkatan ini lebih tinggi lagi bila dilihat
setelah pemberian MgSO
4
.
20
Gambar 1. Perubahan VEP1 selama infus MgSO4 dan dilanjutkan pem-
berian inhalasi albuterol
Dikutip dari (20)
MEKANISME INTERAKSI STRES, HORMON STRES
DENGAN MAGNESIUM
Aktivasi sistem simpatis oleh stimulasi sensoris atau emosi
seperti nyeri, lapar, rasa takut dan kemarahan meningkatkan
ekskresi epinefrin dalam urin; dalam keadaan geram/marah,
agresif akan dilepaskan terutama norepinefrin. Jantung juga
mensintesis, menyimpan serta melepaskan norepinefrin. Isolasi
atau keributan, latihan yang berlebihan, lingkungan yang
dingin atau panas, bising, cahaya lampu, syok listrik, stimuli
karena ansietas termasuk frustrasi, mendengar hal yang tidak
menyenangkan akan menyebabkan peningkatan sekresi kateko-
lamin oleh medula adrenal, saraf dan ganglia.
22
Gambar 2
memperlihatkan mekanisme interaksi berbagai keadaan ter-
hadap Mg karena stres psikologis, stres metabolis, trauma fisis
dan stres lingkungan.
Hipomagnesemia terjadi pada pasien dengan kadar
katekolamin darah yang tinggi; pemberian epinefrin pada suka-
relawan dengan atau tanpa penghambat Ca sebelumnya akan
menghasilkan Mg dan K serum yang rendah; pemberian epi-
nefrin atau/dan terapi salbutamol menurunkan kadar Mg plas-
ma pada subyek normal. Infus MgSO
4
menghambat lepasnya
katekolamin pada stres intubasi trakea dan pada atlet didapat-
kan kadar Mg meningkat dalam sel darah merah. Pemberian
suplemen Mg akan menurunkan ekskresi kortikosteroid. Ak-
tivitas glukokortikoid dan mineralokortikoid menyebabkan ke-
seimbangan Mg negatif dan mempengaruhi penyerapan Mg di
usus halus.
22
Penggunaan diuretik menyebabkan keluarnya Mg melalui
urin dan menipisnya simpanan Mg total dan regional tubuh
23,24
Inhalasi histamin menurunkan kadar Mg eritrosit (gambar 3),
sedangkan Mg plasma tidak terpengaruh (kadar Mg plasma
hanya 1%). Induksi histamin menurunkan kadar Mg dan tidak
berhubungan dengan derajat hipereaktivitas bronkus. Peneliti
lain berasumsi ketika terjadi bronkokonstriksi selama uji
provokasi histamin, radikal bebas seperti hidrogen peroksida
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
48
background image
Gambar 2. Berbagai keadaan yang menyebabkan defisiensi Mg dalam
tubuh.
Dikutip dari (22)
(H
2
O
2
) dapat terlepas melalui direct action histamin terhadap
reaksi enzimatik dan sel inflamasi atau indirect action me-
lalui aktivasi C-fibres dan takikinin. H
2
O
2
dapat melakukan
aksi indirect trigger terhadap eritrosit (penghancuran
Na+/Mg2+ ATPase antiport) menyebabkan keluarnya Mg.
25,26
Gambar 3. Konsentrasi Mg dalam eritrosit, sebelum dan setelah provo-
kasi histamin. (1,84 fmol cell
-1
menjadi 1,78 fmol cell
-1
)
Dikutip dari(25)
Asma akut berhubungan dengan kadar Mg eritrosit yang
rendah, sedangkan konsentrasi Mg plasma tidak berubah.
Eleftherios dkk.
26
mengatakan ketika terjadi bronkokonstriksi
Mg keluar dari ruang intrasel dan secara alamiah mengatur
calcium­channel blocker untuk selanjutnya menyebabkan re-
laksasi otot polos saluran napas. Mekanisme pasti bronko-
dilatasi yang diinduksi Mg belum diketahui
20
. Agonis beta 2
(albuterol) dosis terapeutik dapat menurunkan konsentrasi Mg
secara bermakna, mungkin disebabkan beta adrenergic-
induced intracellular shift of Mg. Menormalkan konsentrasi
Mg serum dan intraselular dapat dipertimbangkan sebelum
pengobatan asma.
Dalam sistem neuromuskular, Mg secara langsung bersifat
depresan otot rangka. Penambahan Mg akan menyebabkan
penurunan lepasnya asetilkolin oleh impuls saraf, menurunkan
sensitivitas motor end-plate terhadap asetilkolin serta menurun-
kan amplitudo potensial motor end-plate. Magnesium pada
fungsi neuromuskular bersifat antagonis terhadap Ca. Konsen-
trasi Mg yang rendah pada cairan ekstraselular menyebabkan
peningkatan asetilkolin dan meningkatkan perangsangan otot
menyebabkan tetani.
27
KESIMPULAN
-
Magnesium merupakan elektrolit esensial karena terlibat
pada kurang lebih 300 reaksi enzimatik.
-
Magnesium terutama terdapat di intraselular (terutama
tulang); hanya sedikit di ekstraseluler.
-
Berperan pada otot polos bronkus yang mempunyai sifat
relaksan, berkompetisi dengan kalsium.
-
Penderita asma diduga memiliki kadar Mg intraselular
rendah yang diperberat dengan penggunaan obat-obat asma.
-
Magnesium sulfat dapat dipakai sebagai terapi tambahan
pada asma akut sedang sampai berat, yang tidak responsif
dengan terapi standar.
KEPUSTAKAAN
1.
Mangunnegoro H . Respirologi kini dan mendatang. Pros Temu Ilmiah
Respirologi 2001.
Solo 24-25 Maret 2001. 1-17.
2.
Burney PGJ. Epidemiology. In: Asthma. 4
th
ed. New York, Oxford:
University Press Inc., 2000. 197-217.
3.
Fantidis P. Magnesium deficiency in bronchial asthma. Asthma and the
influence of magnesium. Available from http://www.Asthmaworld
.org/mag.htm. Accesed 21/05/2002.
4.
Bernstein WK, Khastgir T, Khastgir A et al. Lack of effectiveness of
magnesium in chronic stable asthma. Arch Intern Med 1995; 155:271-6.
5.
Silvermen R. The pathobiology of asthma: implications for treatment.
Clin Chest Med, 2000; 21: 361-79.
6.
Alamaodi OSB. Hypomagnesemia in chronic, stable asthmatics: pre-
valence correlation with severity and hospitalization. Eur Respir J, 2000;
16: 427-31.
7.
Scarfone RJ, Loiselle JM, Joffe MD, et al. A randomized trial of magne-
sium in the emergency department treatment of children with asthma.
Ann Emerg Med, 2000; 36: 572-8.
8.
Murray PT, Corbrige T. Pharmacotherapy of acute asthma. In: Hall JB,
Corbrige TC, Rodrigo C, Rodrigo GJ eds. Acute asthma assessment and
management. Singapore : McGraw-Hill, 2000; 139-53.
9.
Picado C, Deulfeu R, Agusti M, Mullol J, Quinto L, Torra M. Dietary
micronutrient / antioxydants and their relationship with bronchial asthma
severity . Allergy 2001; 56: 43-9.
10.
McKeever TM, Scrivener S, Broadfild E, Jones Z, Britton J, Lewis SA.
Prospective study of diet and decline in lung function in a general
population. Am J Respir Crit Care Med, 2002; 165: 1299-303.
11.
Fogarty A, Britton J. Nutritional issues and asthma. Curr Opin Pulm Med,
2000; 6: 86-9.
12.
Rowe BH, Bretzlaff JA, Bourdon C, Bota GW, Camargo CA. Intravenous
magnesium sulfate treatment for acute asthma in the emergency depart-
ment: a systematic review of the literature. Ann Emerg Med, 2000; 36:
181-90.
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 49
background image
13.
Alter HJ, Koepsell TD, Hilty WM. Intravenous magnesium as an
adjuvant in acute bronchospasm: A meta analysis. Ann Emerg Med,
2000; 36: 191-7.
14.
Emelyanov A, Fedosev G, Barnes PJ. Reduced intracellular magnesium
concentrations in asthmatic patients. Eur Respir J. 1999; 13: 38-40.
15.
Cydulka R, JarvisHJ. New medication for asthma. Emerg Med Clin North
Am, 2000; 18: 789-801.
16.
Britton J, Pavord I, Richards K, Wisniewwski A, Knox A, Lewis S et al.
Dietary magnesium, lung function, wheezing, and airway hyperre-
activity. Lancet 1994; 344: 357-62.
17.
Elin Rj. Assessment of magnesium status. Clin Chem, 1987; 33: 1965-70.
18.
Manaker S, Tietze KJ, Wittbrodt ET. Pulmonary pharmacotherapy. In
Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, Grippi MA, Kaiser LR, Robert M,
eds. Pulmonary diseases and disorders 3
rd
ed.New York: McGraw-Hill,
2001, 2648-9.
19.
Rodenberger CH, Ziyadeh F. Electrolyte disorders. In. Lanken P, Hanson
CW, Manaker S. eds. The intensive care unit manual. Philadelphia: WB
Saunders Co, 2001; 415-33.
20.
Noppen M, Vanmaele L, Impens N, Schandevyl W. Bronchodilating
effect of intravenous magnesium sulfate in acute severe bronchial asthma.
Chest, 1990; 97: 373-6.
21.
Dacey MJ. Endocrine and metabolic dysfunction syndromes in the
critically ill: hypomaganesium disorders. Crit Care Clin, 2001; 17: 155-
73.
22.
Okayama H, Aikawa T, Okayama M, Sasaki H, Suetsugu M, Takashima
T. Bronchodilating effect of intravenous magnesium sulfate in bronchial
asthma. JAMA, 1987;1076-8.
23.
Seelig M. Consequences of magnesium deficiency on the enhancement of
stress reactions; preventive and therapeutic implications. Am J Nutrition,
1994; 13: 429-46.
24.
Ralston MA, Murnane MR, Kelley RE, Altschuld RA, Unerferth DV,
Leier CV. Magnesium content of serum, circulating mononuclear cells,
skeletal muscle and myocardium in congestive heart failure. Circulation
1989; 80: 573-80
25.
Zervast E, Lokides S, Papatheodorou G, Psathakis K, Tsindiris K,
Panagou P et al. Magnesium level in plasma and erythrocytes before and
after histamine challenge. Eur Respir J, 2000; 16: 621-5
26.
Zervast E, Paptheodorou G, Psathakis K, Panagou P, Georgatou N,
Loukides S. Reduced intracellular Mg concentration in patient with acute
asthma. Chest, 2003; 123: 113-8.
27.
Reinhart RA. Magnesium metabolism. Arch Intern Med, 1988; 2415-20.
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
50