background image
HASIL PENELITIAN
Pemeriksaan Biopsi
Aspirasi Kelenjar untuk Membantu
Diagnosis Tuberkulosis Anak
Eddy Widodo, Sukma M, Usman Alwi
RSAB Harapan Kita, Jakarta
PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang telah lama ada
dan dapat mengenai orang dewasa maupun anak.
(1)
Insiden
tuberkulosis diduga akan naik dari 8,8 juta di tahun 1995
menjadi 10,2 juta di tahun 2000. Penyebab utama meningkat-
nya tuberkulosis di dunia di antaranya karena kurangnya ke-
patuhan kepada program penanggulangan tuberkulosis, diagno-
sis dan pengobatan yang tidak adekuat.
(2)
Diagnosis tuberkulosis paru pada anak sampai saat ini
masih tetap menjadi masalah, meskipun ada standar yang
masih digunakan yaitu uji coba tuberkulin dan foto toraks.
(3)
Gejala klinis tuberkulosis pada anak umumnya tidak
begitu khas seperti batuk, demam, keringat malam, berat badan
menurun dan sebagainya, sehingga kadang-kadang dibutuhkan
pemeriksaan lain untuk membantu diagnosis antara lain dengan
biopsi aspirasi kelenjar getah bening superfisial.
(4,5)
Tujuan studi ini adalah untuk melaporkan hasil biopsi
aspirasi kelenjar leher pada anak yang dicurigai menderita
tuberkulosis.
BAHAN DAN CARA
Studi ini merupakan studi retrospektif yang dilakukan di
RSAB Harapan Kita periode 1 Desember 1998 s/d 30 Maret
1999 berdasarkan data rekam medis pasien poli paru anak yang
diduga menderita tuberkulosis dengan uji tuberkulin yang
negatif dan dengan kelainan pada foto toraks.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam studi ini antara lain:
1.
Mikroskop binokuler
2.
Kasa steril
3.
Betadine solution
4.
Alkohol 70%
5.
Jarum 25G X 1"
6.
Kaca obyek
7.
Kapas
8.
Pewarnaan Giemsa dan Papaniculou
Biopsi aspirasi kelenjar leher superfisial dilakukan oleh
ahli patologi anatomi dengan prosedur sebagai berikut:
1.
Desinfeksi daerah lokasi biopsi
2.
Anestesi lokal dengan Ethyl Chloride
3.
Aspirasi kelenjar dengan jarum 25G X 1"
4.
Pembuatan preparat dengan pewarnaan Giemsa dan
Papaniculou
5.
Pemeriksaan menggunakan mikroskop
HASIL
Tabel 1. Distribusi Penderita Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Umur
(tahun)
Pria Wanita
N (%)
0 ­ 5
25
17
42
72,4
5 ­ 10
8
4
12
20,6
10 ­ 15
1
1
2
3,5
15 ­ 17
1
1
2
3,5
Jumlah 35
23 58
100
Sebaran umur penderita tuberkulosis pada penelitian ini
antara 1,5 tahun sampai 17 tahun; terutama balita (42 ­ 72,4%)
(Tabel 1). Pria lebih banyak dari wanita (35 : 23).
Tabel 2. Hubungan antara Status Gizi (NCHS) dengan Hasil Biopsi
Limpadentitis TB
Status Gizi
+
-
N (%)
Baik
2
14
16
27,6
Kurang 12
28
40
68,9
Buruk
2
-
2
3,5
Jumlah 16
42
58
100
Status gizi penderita dinilai berdasarkan National Child
and Health Statistics (NCHS); tampak bahwa sebagian besar
bergizi kurang (40 penderita - 68,9%).
Sedangkan hasil biopsi limpadenitis TB positif didapatkan
pada 16 penderita (27,5%), sebagian besar (12) bergizi kurang.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
32
background image
Tebel 3. Korelasi antara Nilai Laju Endap Darah dengan Hasil Biopsi
Limpadentitis TB
Nilai Led
+
-
Persen
(%)
Normal
5
34
67,2
Meningkat
11
8
32,8
Jumlah 16 42
100
Metode Westergreen : sesuai NCCLS (National Commitee for Clinical
Laboratory Standard)
Laju endap darah meningkat pada 19 penderita (32,8%),
terutama di kalangan penderita dengan biopsi limpadenitis TB
positif (11/16 - 68,75%).
DISKUSI
WHO Report on Tuberculosis Epidemic (1997) memper-
kirakan adanya 7,4 juta kasus tuberkulosis di dunia, terbanyak
di Asia Tenggara.
(1)
Indonesia menduduki urutan yang ke 3
terbanyak setelah India dan Cina dengan perkiraan 436.500
kasus.
(5)
Pada anak masih sering dikacaukan antara pengertian
infeksi dan sakit tuberkulosis.
Tuberkulosis pada anak biasanya ditemukan karena :
1.
Pemeriksaan uji tuberkulin yang dikerjakan secara rutin.
2.
Adanya sumber infeksi dengan sputum BTA (Bakteri
Tahan Asam) yang positif.
3.
Gejala klinis yang mencemaskan orang tuanya sehingga
datang berobat.
(6)
Diagnosis tuberkulosis pada anak biasanya dibuat ber-
dasarkan berbagai data yaitu gambaran klinis, gambaran radio-
logis, kontak erat dengan penderita tuberkulosis, dan uji tuber-
kulin yang positif. Diagnosis pasti adalah jika dapat dibuktikan
secara mikrobiologik atau patologi anatomik.
(7)
Sesuai dengan Konsensus Nasional penanggulangan tuber-
kulosis pada anak, beberapa pemeriksaan lain untuk membantu
diagnosis tuberkulosis pada anak antara lain
(8)
:
1.
Pemeriksaan sputum BTA secara langsung.
Pemeriksaan ini sulit dilakukan pada anak karena ke-
sulitan mendapatkan sputum secara langsung.
2.
Bilasan lambung.
Pemeriksaan ini harus dilakukan pada pagi hari dalam
keadaan puasa, sebaiknya dilakukan 3 hari berturut-turut, jadi
sulit dilakukan pada pasien berobat jalan. Selain itu hasil
biakan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dari 18.578 kali pemeriksaan bilasan lambung yang di-
lakukan oleh Gerberaux pada 4.250 pasien hanya menghasilkan
16,8% kultur positif ; sedangkan penelitian di Medical Colege
of Virginia mendapatkan bahwa jika bilasan lambung
dilakukan 1 kali hanya 6% positif, tetapi bila dilakukan 3 kali
berturut-turut bisa mencapai 50 % positif.
(3)
3. Pemeriksaan darah dengan Bactec, PCR(Polymerase
Chain Reaction), Elisa, PAP (Peroksidase Anti Peroksidase),
Mycodot test dan sebagainya belum dapat dipakai secara klinis
praktis karena biaya yang mahal.
(9)
4. Pemeriksaan
Patologi
Anatomik.
Beberapa pertimbangan untuk melakukan pemeriksaan ini
di RSAB Harapan Kita antara lain karena :
- relatif mudah dilakukan
-
tanpa anestesi umum
-
adanya ahli patologi anatomi
-
biaya relatif lebih murah
-
hasil cepat
Walaupun demikian, masih terdapat kelemahan dari pe-
meriksaan patologi anatomi ini antara lain :
-
pasien yang masih kecil kurang kooperatif
-
perlu ketrampilan dan pengalaman dalam melakukan
biopsi aspirasi
-
bila sediaan tidak representatif, biopsi harus diulang.
KESIMPULAN
Pemeriksaan biopsi aspirasi kelenjar dapat merupakan
salah satu cara untuk membantu menegakkan diagnosis tuber-
kulosis pada anak. Diperlukan studi lebih lanjut dengan jumlah
pasien yang lebih banyak.
KEPUSTAKAAN
1.
Kendig's Disorders of the Respiratory Tract in Children, 1990; 730-54.
2.
WHO Report on Tuberculosis Epidemic,1997.
3. Taussig.
Pediatric
Respiratory Medicine, 1998; 702-14.
4.
Hilman BC. Pediatric Respiratory Disease, 1993; 313-19.
5.
Departemen Kesehatan Republik Idonesia, 1998.
6. Rahayoe NN. Tatalaksana mutakhir penyakit respiratorik pada anak.
Respirologi Anak II, 2000.
7.
Pilheu JA. Tuberculosis 2000 : Problems and Solution. Int. J. Tuberc.
Lung Dis. 1998; 2 : 696-703.
8.
Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Konsensus Nasional Tuberkulosis Anak. Bandung, 1998.
9.
Affronti LF, Fife EH, Grow L. Sero Diagnostic Test for Tuberculosis.
Am Rev Respir Dis 1975, 822-5.
I do not speak of what I cannot praise
(Goethe)
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 33