TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Marine Toxin
Saxitoxin
Winarti Andayani*, Betty Marita Subrata**, dan Esther Budiman***
*Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta
** Staf Pengajar Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor
*** Mahasiswa Program Pasca Sarjana Kimia, Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Pada umumnya orang berpikir dengan memakan seafood,
mereka akan mendapatkan keuntungan protein yang tinggi,
asam lemak omega-3 dan mineral, yang disertai dengan kan-
dungan lemak dan kalori yang rendah. Namun mereka menge-
tahui bahwa seafood juga bisa mengakibatkan keracunan
disebabkan oleh lingkungan yang tercemar. Tercemarnya
seafood dapat terjadi secara alami (mikroorganisme dan toksin)
maupun oleh kontaminasi bahan kirnia beracun.
Marine toksin (toksin yang terdapat di laut) sudah lama di-
identifikasi di berbagai tempat antara lain Jepang, Filipina, dan
Indonesia. Toksin ini sangat berbahaya dan tidak dapat rusak
oleh panas dan pemrosesan. Mereka berasal dari alam dan aki-
bat kegiatan manusia seperti limbah industri dan kebakaran
hutan, namun yang terpenting dari fitoplankton. Hampir semua
seafood bisa terkontaminasi oleh toksin dan dapat menim-
bulkan sindrom yang berbeda-beda (Gambar 1).
Toksin yang berasal dari plankton ditemukan juga dalam
kerang-kerangan. Hal ini karena kerang mempunyai sifat
penyaring makanan (filter feeding shellfish). Jumlah toksin
akan berlipat ganda sesuai dengan jumlah fitoplankton toksik
yang dimakannya. Toksin ini dapat menyebabkan paralytic,
neurotoxic, amnesic dan diarrhetic shellfish poisoning (PSP,
NSP, ASP, dan DSP), disamping itu mungkin juga dapat
memacu pertumbuhan tumor. Paralytic Shellfish Poisoning
disebabkan oleh saxitoxin yang tidak berpengaruh pada tubuh
kerang karena sudah kebal terhadap kondisi demikian setelah
lama berhubungan dengan toksin tersebut, tetapi dapat
berakibat kegagalan pernapasan yang fatal bagi manusia.
SAXITOXIN
Mikroalgae adalah produsen utama yang menyusun dasar
jaringan makanan laut dan air tawar. Banyak mikroalgae yang
Toxins
Marine dinoflagelates
(Also bacteria)
Toxins
Food chain
Fish
Shellfish
Ciguatera
Paralytic shellfish poisoning
Palytoxin
Neurotoxic shellfish poisoning
Puffer fish poisoning
Diarrhetic shellfish poisoning
Amnesic shellfish poisoning
(Diatoms)
Gambar 1. Beberapa Sindrom Akibat Keracunan Seafood
(1)
juga memproduksi komponen-komponen baru yang menunjuk-
kan aktivitas biologis yang kuat. Komponen-komponen ini di-
anggap sebagai metabolik sekunder, yaitu komponen yang
tidak esensial sebagai dasar metabolisme dan pertumbuhan
pada organisme, dan terdapat dalam kelompok taksonomi yang
terbatas. Biosintesis metabolit sekunder umum terjadi dalam
bakteri seperti dalam mikroba eukariotik dan tanaman.
Dari banyak metabolit sekunder algae yang telah di-
identifikasi, beberapa di antaranya merupakan toksin kuat yang
bertanggung jawab terhadap sejumlah penyakit pada manusia,
ketidaknormalan dan kematian hewan mamalia dan burung,
serta kematian ikan. Toksin yang terutama berarti bagi
kesehatan manusia berasal dari 3 kelas algae bersel satu, yaitu
dinoflagelata, diatoms dan cyanobacteria. Dinoflagelata mem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 37
punyai jaringan yang luas, namun demikian hanya beberapa
lusin spesies, dari beberapa ribu spesies dinoflagelata yang
diketahui, kelihatan bersifat toksigenik. Pada diatoms, genus
tunggal, pseudo-nitschia, menghasilkan toksin yang memiliki
pengaruh kuat terhadap kesehatan manusia, sebaliknya pada
cyanobacteria hanya beberapa yang teridentifikasi menghasil-
kan toksin.
Toksin algae terdiri dari bermacam-macam berdasarkan
struktur dna fungsinya dan banyak yang merupakan turunan
dari jalur biosintesis yang unik. Misalnya dinoflagelata, men-
sintesis semacam toksin polieter yang terbagi atas dua grup
struktural linier dan gabungan (seperti tangga). Toksin algae
yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kesehatan manusia
mungkin dikategorikan sebagai neurotoksin atau hepatotoksin.
Neurotoksisitas dari toksin algae diperantarai oleh bermacam-
macam interaksi yang sangat spesifik dengan saluran-saluran
ion yang terlibat dalam neurotransmisi.
Saxitoxin dihasilkan oleh beberapa spesies dinoflagelata
(2)
,
antara lain Alexandrium catenella, Alexandrium minutum,
Alexandrium tamarense, Gymnodium catenatum, dan Pyrodi-
nium bahamense var. compressum (Tabel 1). Beberapa spesies
dari genus Alexandrium, antara lain A. cohorticula dan A.
tamayavanichi, masih belum dapat dipastikan toksisitasnya
sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Ledakan populasi
(blooming) dari spesies-spesies tersebut di atas menyebabkan
perubahan warna air laut dari biru-biru menjadi merah
kecoklatan. Perubahan warna air laut ini umumnya dikenal
sebagai fenomena red tide. Fenomena red tide dapat dikaitkan
dengan beberapa fenomena alam seperti El Nino, yang ikut
menjadi penyebab red tide blooms di wilayah Indonesia.
Diperkirakan awal musim hujan merupakan masa-masa
terjadinya blooms dari spesies-spesies berbahaya yang ber-
tujuan untuk mengambil makanan dari daratan. Namun tidak
semua gejala red tide menyebabkan dampak negatif, bahkan
umumnya red tide terjadi sebagai tanda
Tabel 1. Plankton penghasil PSP
(2)
Spesies Areas
PSP
Components
Alexandrium
catenella
Pacific coasts-California, British
Columbia, Alaska, Japan,
Venezuela,
Chile
GTXs, STXs
A. tamarense
North Atlantic coasts-New
England, Canada, Denmark, W.
Germany, Holland, Norway,
Japan
GTXs, STXs
A. acatenella
British Columbia
unknown
A. phoneus
North Sea
unknown
A. cohorticula
Gulf of Thai
GTXs
Brunei, Papua New Guinea
unknow
Pyrodinium
bahamense
P. bahamense var.
compressa
Palau Island
GTXs, STXs
Gymnodinium
calenatum
Tasman Sea, Japan
PXs, GTXs
Cochlodinium sp. Japan Zn-bound
PXs
Aphanizomenon
flan-aquae
New England (lakes)
STXs
meningkatnya kesuburan suatu perairan. Red tide yang ber-
dampak merugikan disebut Harmful Algal Bloom (HAB).
Saxitoxin berupa cairan tidak berwarna dengan bau me-
nyengat (seperi asam cuka), dan mempunyai berat jenis 1,0
(g/mL) Saxitoxin bersifat racun dan menyebabkan iritasi apa-
bila kontak dengan kulit, mata, pernafasan dan mulut. Senyawa
ini mempunyai nilai LD
50
sebesar 263 g/kg bobot badan (oral
mencit).
Saxitoxin mempunyai sifat fisik larut dalam air dan metil
alkohol, sedikit larut dalam etil alkohol dan asam asetat tetapi
tidak larut dalam pelarut organik (non polar). Senyawa ini
mudah terhidrolisis dalam larutan basa dan toksinnya tidak
aktif setelah dididihkan selama 3 sampai dengan 4 jam pada pH
3. Racun PSP tidak dapat dihilangkan dari kerang-kerangan
baik melalui proses pemanasan maupun hidrolisis.
Struktur kristal dari komponen induk saxitoxin mula-mula
dilukiskan oleh Schantz dkk yang dapat dilihat pada Gambar
2.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa struktur dari congener
saxitoxin bervariasi, yang dibedakan oleh kombinasi substitusi
OH dan sulfat pada 4 sisi dalam molekul (Rl-4). Berdasarkan
substitusi pada R4, saxitoxin dapat dibagi atas 4 kelompok,
yaitu toksin karbamat, sulfo-karbamoil, dekarbamoil dan de-
oksikarbamoil. Adanya perbedaan substituen pada R4
STX H H H OCONH
2
2483
Neo
STX
OH
H H OCONH
2
2295
GTX1
OH
OSO3-
H
OCONH
2
2468
Carbamate
GTX2
H OSO3- H
OCONH
2
892
GTX3
H
H OSO3- OCONH
2
1584
GTX4
OH
H OSO3- OCONH
2
1803
GTX5
(B1)
H H H OCONHSO3-
160
GTX6
(B2)
OH
H H OCONHSO3-
-
C1
H OSO3- H
OCONHSO3- 15
Sulfocarbamoyl
C2
H
H OSO3- OCONHSO3- 239
C3
OH
OSO3-
H
OCONHSO3-
33
C4
OH H OSO3- OCONHSO3- 143
dcSTX H H H OH
1274
dcNeoSTX
OH
H H OH
-
dcGTX1
OH
OSO3-
H
OH
-
dcGTX2
H OSO3- H
OH
1617
dcGTX3
H
H OSO3- OH
1872
dcGTX4
OH
H OSO3- OH
-
doSTX H H H H
-
Deoxydecarbamoyl doGTX2 H
H OSO3- H
-
doGTX
H OSO3- H
H
-
Gambar 2. Struktur Saxitoxin dan Tosisitas Relatif dari PSP (van Dolah,
in press)
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
38
mengakibatkan perubahan yang besar pada sifat toksisitasnya.
Toksin karbamat adalah yang paling kuat sifat toksisitasnya
(892-2483 mouse unit (MU) /
µmol). Toksin dekarbamoil mem-
punyai potensi di tengah-tengah yaitu 1274-1872 MU/
µmol dan
toksin sulfo karbamoil merupakan toksin yang paling lemah
(15-239 MU/
µnol). Nilai toksisitas ditentukan dalam satuan
Mouse Unit (MU), dimana 1 MU sama dengan jumlah toksin
yang dibutuhkan untuk membunuh seekor mencit seberat 20 g
dalam 15 menit.
PARALYTIC SHELLFISH POISONING (PSP)
Seafood yang telah terkontaminasi oleh saxitoxin apabila
dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan sindrom yang
disebut Paralytic Shellfish Poisoning. Gejala utama dari kera-
cunan saxitoxin adalah kelumpuhan (paralysis) pada otot,
selain otot jantung
(3)
. Penderita mula-mula akan merasakan
kesemutan dan mati rasa pada bibir yang menjalar ke seluruh
mulut dan leher. Gejala selanjutnya terasa pada ujung jari
tangan dan kaki yang nyeri seperti ditusuk-tusuk, pusing, mual,
muntah dan kejang pada otot perut, kesukaran bernafas dan
akhirnya berhenti bernafas, tetapi jantung masih tetap ber-
denyut. Bila tidak ditolong maka penderita akan meninggal
dalam waktu 24 jam. Pertolongan hanya dapat dilakukan
dengan cara menguras isi perut dan memberikan pernafasan
buatan.
Pada suatu penelitian sampel klinis dari terjangkitnya PSP
di Alaska tahun 1994, pembuangan saxitoxin dari darah manu-
sia berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, juga pada
pasien yang mengalami kelumpuhan pernafasan dan dibantu
dengan bantuan pernafasan. Pembuangan ini sebagian besar
melalui urin. Saat ini masih belum tersedia penangkal untuk
PSP Antibodi monoklonal anti saxitoxin yang diuji secara in
vitro dan in vivo menunjukkan perlindungan terhadap terikat-
nya saxitoxin dan pengurangan gerakan di sekeliling saraf aki-
bat saxitoxin pada saraf mencit, diduga antibodi mungkin ber-
potensi menyediakan reagen yang berguna untuk perlindungan
terhadap toksisitas secara in vivo. Sebagai tambahan, peng-
halang saluran K, 4-aminoantipirin, baru-baru ini menunjukkan
pembalikan efek secara signifikan pada serangan saxitoxin
dalarn mencit, mungkin hal ini berguna sebagai penangkal bagi
PSP.
PENYEBARAN PLANKTON PENGHASIL PSP
Penyebaran dari mikroalgae dapat terjadi mengikuti bebe-
rapa pola, baik alami maupun karena kegiatan manusia. Dengan
demikian mikroalgae tersebut dapat terbawa oleh arus ke arah
tertentu dan apabila kondisinya sesuai, berkembang dengan
baik. Dengan perantaraan arus inilah umumnya mikroalgae me-
nyebar.
Di Jepang Alexandrium catenella pertama kali didapatkan
sebagai penghasil PSP di Owase Bay. Survey lain menunjukkan
bahwa spesies plankton ini secara luas terdistribusi di sebagian
besar bagian utara sampai bagian selatan Jepang
(2)
. Pyrodinium
bahamense var. compressum merupakan spesies utama penye-
bab PSP di perairan Indo-Pasifik, seperti di Papua Nugini,
Sabah, Brunei Darussalam, Filipina, Sarawak dan Semenanjung
Malaysia. Di Indonesia spesies ini sudah diidentifikasi dari
beberapa perairan, seperti Teluk Kao, Halmahera, Teluk
Ambon, Teluk Peru, perairan sekitar Biak, Teluk Jakarta, dan
Selat Bangka. Namun sampai seat ini masalah PSP hanya
dijumpai di perairan Teluk Kao dan Nunukan. Tempat penye-
baran plankton penghasil PSP dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Tempat penyebaran plankton penghasil PSP
(4)
.
Gejala PSP yang muncul di Jepang, teramati di Barat Daya
kepulauan Jepang. Terdapat paling sedikit 15 orang meninggal
akibat mengkonsumsi kepiting selama 1909-1988. Selama 20
tahun (1972 sampai dengan 1992), lebih dari 90% makanan
yang terkontaminasi oleh saxitoxin berakibat fatal. Jumlah kor-
ban mencapai 11.157 orang, dengan jumlah korban yang me-
ninggal sebanyak 271 orang.
Gejala PSP lainnya muncul di Taiwan bagian utara
(5)
.
Mereka melakukan penelitian di perairan Ilan County di Taipeh
dari bulan November 1996 sampai dengan Oktober 1997,
ternyata spesies Puffer takifugu rupripes telah terkontaminasi
oleh saxitoxin.
Di Indonesia PSP umumnya terjadi di perairan Teluk Kao,
Halmahera, Maluku. Di perairan sekitar Larantuka-Flores
Timor, gejala keracunan PSP telah tercatat semenjak tahun
1959 dengan korban tiga orang meninggal dan lima orang
mengalami kelumpuhan setelah memakan ikan laut. Kejadian
ini berulang pada tahun 1983, 1985, 1992, dan terakhir tahun
1997. Semua musibah terjadi pada awal musim penghujan,
sekitar bulan November-Desember. Musibah terparah terjadi
pada tahun 1983 dengan korban empat orang meninggal dunia
dan 236 orang mengalami kelumpuhan. Kejadian di Flores
Timor ini agak menyimpang dari kebiasaan, karena korban
jatuh setelah memakan ikan dan bukan kerang. Selain itu
sampai sekarang belum dapat ditentukan spesies mikroalgae
yang menghasilkan toksin PSP. Kesimpulan terjadinya kera-
cunan PSP hanya didasarkan pada gejala klinis penderita.
Lokasi lain di Indonesia yang mengalami kejadian PSP
tercatat di Kalimantan Timur, tepatnya di perairan Nunukan
dan Pulau Sebatik sebelah selatan, suatu pulau yang berbatasan
dengan Sabah. Kejadiannya berlangsung pada tahun 1988 se-
telah orang mengkonsumsi sejenis kerang, Merethrix merethrix
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 39
(kerang tahu). Dua jam setelah memakan kerang, sebanyak 68
orang jatuh sakit dengan gejala PSP dan akhirnya 2 orang
meniggal dunia.
MEKANISME SAXITOXIN DI DALAM TUBUH
Berdasarkan aktivitas tiap molar senyawa, ternyata
saxitoxin paling aktif dalam menghambat (blocking) saluran-
saluran. dari susunan saraf den membran-membran sel jika
dibandingkan dengan senyawa-senyawa derivatnya yang lain.
Skema tahapan pengikatan saxitoxin terhadap saluran
natrium afinitas tinggi dapat dilihat pada Gambar 4, yang
menunjukkan bahwa ikatan ionik dari dari 7,8,9-guanidium ter-
hadap gugus anionik dari reseptor (A, B) menyebabkan
dehidrasi gemdiol pada posisi C-12, menghasilkan suatu keton
(Cl) yang terdapat dalam keadaan kesetimbangan yang cepat
dengan karbokation (C2). Ikatan kedua berupa ikatan kovalen
yang terbentuk di antara reseptor den C-12 (D).
Saxitoxin terikat dengan afinitas yang kuat pada reseptor
asetilkolin di saluran Natrium sehingga menghambat pem-
bukaan saluran. Polaritas molekul saxitoxin sebagian besar
menghambatnya untuk melintasi penghalang darah otak, karena
itu sisi utama tempat aksi saxitoxin pada manusia adalah
kemungkinan besar pada persimpangan otot saraf. Hal ini
sesuai dengan cepatnya serangan (kurang dari satu jam) dari
gejala yang klasik untuk PSP termasuk perasaan geli dan mati
rasa pada daerah-daerah perioral dan kaki tangan, kehilangan
kontrol motorik, perasaan mengantuk, berbicara tidak jelas, dan
pada kasus dengan dosis tinggi, terjadi kelumpuhan pernafasan
(sulit bernapas). Dosis letal untuk manusia adalah 1 - 4 mg
saxitoxin ekuivalen. Gejala klinis PSP terjadi bila kurang lebih
2000 MU (0,72 mg) termakan, dan kasus serius melibatkan
konsumsi 5.000-20.000 MU toksin (0,9-3,6 mg).
KEPUSTAKAAN
1.
Tucker BW. Overview of Current Seafood Nutritional Issues : Formation
of Potentially Toxic Products. In : Seafood safety, Proccesing, and
Biotechnology. Shahidi F, Jones Y, and DD. Kitts (eds). A Technomic
Publishing Co. NY 1997
2. Takashi M. Recent Studies on Marine Toxins. Proceeding Fourth
LIPI-JSPS Joint Seminar on marine Sciences. Jakarta 1994; Hal 183-193.
3. Hashimoto
Y.
Marine Toxins and Other Bioactive Marine Metabolites.
Japan Scientific Societies Press. Tokyo 1977.
4. Van Dolah FM. Diversity of marine and Freshwater Algal Toxins. In
Seafood Toxicity. L. Botana (ed). Marcel Dekker. NY (in press)
5.
Lin, SJ. Chai, T.J. Jong SS. and Deng Fwu Hwang. Toxicity of the Puffer
Takifugu Rubripes Cultured in Northern Taiwan. Fisheries Science 1998;
64 (5) : 766-770.
6. Kao YC and SR Levinson (eds). Tterodotoxin, Saxitoxin, and The
Molecular Biology of The Sodium Channel. The New York Academy of
Sciences. NY 1999.
7.
AOAC Official Methods of Analysis Supplement. Natural Toxins 1995.
Chapter 49 : 46 B-48.
8. International Atomic Energy Agency. Regional Training Workshop on
Receptor Binding Assay Techniques for Harmful Algal Bloom Toxins
Quantification. Philippines 1999.
LAMPIRAN 1.
ANALISIS PSP DENGAN METODE BIOASSAY
(7)
Bahan
1. Larutan standar induk PSP 100
µg/mL (dalam alkohol yang telah
ditambah 20% asam), larutan ini stabil dalam tempat dingin (3-4
°C).
2.
Larutan standar kerja PSP 1
µg/mL, dibuat dengan cara melarutkan 1 mL
larutan standar induk dalam 100 mL aquades, larutan stabil dalam beberapa
minggu pada 3-4°C.
3.
Mencit sehat berukuran 19-21 g. Jika ukuran mencit < 19 g atau > 21 g
maka digunakan faktor koreksi untuk memperoleh waktu kematian yang benar.
Gambar 4. Tahapan Pengikatan Saxitoxin terhadap Saluran Natrium
(6)
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
40
Pada analisis PSP mencit yang digunakan tidak boleh berukuran > 23 g, dan
tidak boleh digunakan berulang.
Standarisasi Bioassay
1. Sepuluh (10) mL larutan standar 1
µg/mL diencerkan dengan musing-
masing 10, 15, 20, 25, dan 30 mL aquades dan pH dikontrol antara 2-4.
Masing-masing 1 mL larutan disuntikkan secara intraperitoneal ke beberapa
ekor mencit dan kemudian dipilih larutan dengan konsentrasi yang memberikan
waktu kematian (death time) antara 5-7 menit.
2. Dari larutan dengan konsentrasi yang terpilih, masing-masing dibuat 3
ulangan dan disuntikkan 1 mL larutan secara intraperitoneal ke masing-masing
10 ekor mencit dan dicatat death time-nya.
3. Apabila ketiga ulangan dari sebuah larutan dengan konsentrasi yang
memberikan median death time lebih kecil dari 5 menit atau lebih besar 7
menit, maka hasil dari konsentrasi ini diabaikan. Sebaliknya, apabila salah satu
atau lebih dari sebuah larutan dengan konsentrasi yang memberikan median
death time antara 5 - 7 menit, maka hasil ini digunakan untuk perhitungan lebih
lanjut termasuk ulangan yang mungkin memberikan median death time lebih
kecil dari 5 menit atau lebih besar 7 menit.
4. Perhitungan nilai faktor koreksi (FK), nilai MU/ml ditentukan dari
median death time konsentrasi terpilih dengan menggunakan Tabel Sommer
yaitu hubungan antara death time terhadap MU untuk PSP (Lampiran 1). FK
dihitung dengan cara membagi konsentrasi terpilih (
µg/mL) dengan nilai
MU/ml. Nilai rata-rata FK yang diperoleh digunakan sebagai FK dalam analisis
sampel.
Persiapan Sampel
Bagian luar kerang-kerangan dicuci dengan air segar, kemudian dibuka
dengan alat khusus pemotong kerang, selanjutnya bagian dalam dibersihkan
dengan air bersih untuk menghilangkan pasir atau zat-zat asing lainnya. Bagian
daging (100 -150 g) diambil dan dikumpulkan (hindari penggunaan pemanasan
atau anestetik sebelum membuka kulit dan dilarang memotong atau merusak
badan pada tahapan ini).
Ekstraksi Sampel
Sampel sebanyak 100 gram ditambah 100 mL 0,1 N HCl, diaduk dengan
cepat dan diperiksa pH nya, jika perlu pH ditepatkan < 4. Campuran dipanaskan
dan dididihkan selama 5 menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar.
Campuran yang sudah dingin ditepatkan pH nya pada pH 2 - 4 dengan
penambahan 5 N HCl atau 0,1 N NaOH setetes demi setetes sambil tetap
diaduk. Sampel ditepatkan di dalam gelas piala sampai homogen atau jika
diperlukan sampel disentrifugasi selama 5 menit pada 3000 rpm kemudian
disaring melalui kertas saring. Filtrat diambil untuk pengujian pada mencit.
Pengujian Mencit
Setiap mencit disuntik secara intraperitoneal dengan 1 mL ekstrak. Waktu
suntikan dicatat dan mencit diamati dengan hati-hati untuk mengetahui death
time nya yang ditunjukkan oleh hembusan nafas terakhir. Satu mencit boleh
digunakan untuk penentuan awal, tetapi pengujian menggunakan 2 atau 3
mencit lebih baik. Jika death time dari beberapa mencit < 5 menit, maka perlu
dibuat pengenceran sampel untuk memperoleh death time 5 - 7 menit. Jika
death time dari 1 atau 2 mencit yang disuntik dengan sampel yang tidak
diencerkan > 7 menit, maka paling sedikit 3 mencit harus disuntik untuk
memastikan toksisitas dari sampel. Jika pengenceran besar diperlukan, maka
pH sampel harus ditepatkan lagi antara 2 - 4. Sebanyak 3 mencit disuntik
dengan larutan yang sudah diencerkan sampai memberikan death time 5 - 7
menit.
Penghitungan Toksisitas
Waktu death time ditentukan, termasuk yang selamat, dan dari Tabel
Sommer ditentukan bilangan MU. Jika beret mencit yang diuji < 19 g atau > 21
g, maka dibuat FK untuk setiap mencit dengan mengalikan MU terhadap death
time mencit. Nilai MU diubah ke
µg racun/mL dengan mengalikan FK.
µg racun/100 g daging = (µg/mL) x faktor pengenceran x 200
Nilai > 80 g/100 g merupakan indikasi bahwa sampel yang diuji sangat racun
dan tidak aman untuk dikonsumsi.
ANALISIS PSP DENGAN METODE SAXITOXIN BERTANDA
(8)
Peralatan
1.
Mikropipet berukuran 1 1000
µL
2. Pipet multi channel berukuran 5 200
µL.
3. Plate mikrotiter dengan 96 lubang
4. Tabung sentrifugasi 15 dan 30 mL
5. Vortex
Bahan Kimia
1. [
3
H] STX diasetat
2. STX dihidroksi HCl
(Lihat halaman berikutnya)
LAMPIRAN 2.
Tabel Sommer (AOAC,1995)
DT MU DT MU DT MU DT MU
1.00 100 3.00 3.70 5.00 1,92 9.00 1,16
1.10 66,2 3.05 3,57 5.05 1,89 9.30 1,13
1.15 38,3 3.10 3,43 5.10 1,86 10.00 1,11
1.20 26,4 3.15 3,31 5.15 1,83 10.00 1,09
1.25 20,7 3.20 3,19 5.20 1,80 11.00 1.075
1.30 16,5 3.25 3,08 5.30 1,74 11.30 1.06
1.35 13,9 3.3e 2,98 5,40 1,69 12.00
1.05
1.40 11,9 3.35 2,88 5,45 1,67 13.00 1.03
1.45 10,4 3
40 2,79 5.50 1,64 14.00 1.015
1.50 9,33 315 2,71 6.00 1,60 15.00
1.000
1.55 8,42 3.50 2,63 6.15 1,54 16.00 0,99
2.00 7,67 3.55 2,56 6.30 1,48 17.00 0,98
2.05 7,04 4.00 2,50 6.45 1,43 18.00
0,972
2.10 6,52 4.05 2,44 7.00 1,39 19.00 0,965
2.15 6,06 4.10 2,38 7.15 1,35 20.00 0,96
2.20 5,66 4.15 2,32 7.30 1,31 21.00 0,954
2.25 5,32 4.20 2,26 7.45 1,28 22.00 0,948
2.30 5,00 4.25 2,21 8.00 1,25 23.00 0,942
2.35 4,73 4.30
2,16 8.15 1,22 24.00
0,937
2.40 4,48 4.35 2,12
.
8.30 1,20 25.00 0,934
2.45 4,26 4.40 2,08 8.45 1,18 30.00 0,917
2.50 4,06 4.45 2,04
40.00 0,898
2.55 3,88 4.50 2,00
60.00 0,875
4.55
1,96
Keterangan :
DT : death time dalam mencit
MU : mouse unit
LAMPIRAN 3.
Tabel Sommer (AOAC, 1995)
WM MU WM MU
10 0,50
17 0,88
10,5 0,53 17,5 0,905
11 0,56
18 0,93
11,5 0,59 18,5 0,95
12. 0,62 19 0,97
12,5 0,65 19,5 0,985
13 0,675
20 1,000
13,5 0,70 20,5 1,015
14 0,73
21 1,03
14,5 0,76 21,5 1,04
15 0,785
22 1,05
15,5 0,81 22,5 1,06
16 0,84
23 1,07
16,5 0,86 -
-
Keterangan :
WM : berat mencit (gram)
MU : mouse unit
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 41
(Lanjutan Lampiran 1)
3.
STX binding buffer =75 mM HEPES + 140 mM NaCI buffer pH 7,5
4.
Rat brain synaptosome
Cara Kerja
1.
Pengenceran larutan baku [
3
H] STX dalam tabung 15 mL, 3
µL [
3
H] STX
3,8 mL STX binding buffer, 35
µL [
3
H] STX yang telah diencerkan
dimasukkan dalam vial dengan scintilant dan di-counting dengan alat
scintilation counter untuk memperoleh total count (cpm).
2. Persiapan kurva standar STX menggunakan STX dihidroksi HCl dalam
tabung dengan berbagai konsentrasi, yaitu 6 x 106
-6
; 6 x 10
-7
; 6 x 10
-8
; 6 x 10
-9
;
6 x 10
-10
M.
3. Pengenceran
rat brain synaptosome murni dalam STX binding bufer.
Jaringan dalam larutan 2 mL diencerkan dengan perbandingan 2 : 10 (2 mL
jaringan + 18 mL buffer) dalam tabung sentrifugasi 50 mL, sampai didapatkan
konsentrasi akhir 0,5 1,0 mg/mL.
4. Ekstrak sampel kerang yang diduga terkontaminasi STX diencerkan
dengan binding buffer.
5.
Masing-masing sebanyak 35
µL sampel dan standar STX dimasukkan ke
dalam plate mikrotiter, ditambah dengan 35
µL, [
3
H] STX dan 140
µL rat
brain sinaptosome yang telah diencerkan. Campuran ditutup dan diinkubasi
pada 4
°C selama 1 jam. Toksin yang tidak terikat oleh jaringan dihilangkan
dengan cara pencucian menggunakan buffer yang dilanjutkan dengan aseton,
kemudian disaring.
6. Masing-masing residu dimasukkan ke dalam vial yang telah berisi 1 mL
larutan scintilator dan di-count,dengan alat scintillator counter untuk
memperoleh total count (cpm).
Cara Perhitungan
Total count dari larutan standar STX dibuat kurva kalibrasi, log STX
terhadap total count (cpm). Dengan mengetahui nilai total count sampel, maka
konsentrasi STX dalarn sampel dapat dihitung. Konsentrasi sampel dihitung
dalam
µg STX equivalen/100 shellfish, menggunakan rumus sebagai berikut :
nM equiv STX dalam ekstrak = nM equiv STX x pengenceran sampel x (V
total/ 35
µL)
µg STX equivalen/mL = nM equiv STX dalam ekstrak x (1 L/1000 mL) x
(372 ng/mmol) x 1
µg / 1000 ng)
µg STX equivalent/100 g shellfish = µg STX eqaivalen/mL x (mL ekstrak
/ g shellfish) x 100
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
42