background image
Manajemen Keuangan
Catharina, Akuntan
Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta
PENDAHULUAN
Perkembangan rumah sakit yang merupakan suatu bentuk
usaha pelayanan kesehatan di Indonesia sejak Pelita I sampai saat
ini sangat pesat sekali, baik di sektor pemerintah maupun di
sektor swasta. Hal ini dapat dirasakan pada sekitar tahun 1989
ketika pemerintah membuat kebijaksanaan mengikutsertakan
masyarakat dan pihak swasta untuk mengambil bagian dalam
pembangunan dan penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan
di rumah sakit melalui penanaman modal, baik modal asing
maupun modal dalam negeri.
Hal ini tentu berdampak langsung terhadap situasi perumah
sakitan di Indonesia khususnya rumah sakit swasta baik yang
bersifat profit maupun non profit. Keadaan nyata sehari-hari
menunjukkan bahwa dengan semakin berkembangnya jumlah
rumah sakit, semakin canggihnya alat-alat, dan semakin banyak
jenis pelayanan yang ada akan meningkat pula tuntutan ma-
syarakat terhadap pelayanan kesehatan/rumah sakit, sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di
antara para pemberi pelayanan kesehatan yang akan menye-
babkan berubahnya pola tatanan perumah sakitan di Indonesia.
Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dalam
mengantisipasi perkembangan pesat tersebut telah mengeluar-
kan berbagai peraturan, agar rumah sakit/pelayanan kesehatan
baik yang profit oriented maupun yang non profit oriented
diharapkan dapat berjalan sesuai dengan kepentingan masyar-
akat banyak tetapi tetap dapat mempertahankan kesinambungan
usaha rumah sakit (pelayanan kesehatan).
Dalam melaksanakan fungsi sosialnya terutama rumah
sakit yang non profit oriented sering diharapkan pada suatu
dilema yaitu di satu pihak harus menghadapi biaya-biaya yang
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21 -- 25 November 1993.
terus meningkat dan tak terkendali akibat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta inflasi, dan di lain pihak meng-
hadapi ketidakmampuan masyarakat membayar jasa pelayanan
kesehatan yang semakin mahal. Dilema tersebut dapat meng-
akibatkan situasi sebagai berikut :
1) Bila rumah sakit melaksanakan fungsi sosialnya
.
dan tetap
terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan ilmu pe-
ngetahuan dan teknologi, maka rumah sakit akan dihadapkan
pada masalah cash flow.
2) Bila rumah sakit tetap terus melaksanakan fungsi sosialnya
dan membatasi diri dalam mengikuti perkembangan ilmu pe-
ngetahuan dan teknologi, maka lambat laun mutu pelayanan
kesehatan rumah sakit akan menurun.
3) Bila rumah sakit mengabaikan fungsi sosialnya dan hanya
melayani masyarakat yang dapat membayar saja sehingga ber-
ubah menjadi for profit hospital, maka pada akhirnya rumah
sakit akan berlomba untuk melayani orang-orang kaya saja dan
akan berubah menjadi institusi komersial.
Untuk menjaga keseimbangan situasi tersebut maka para
pembuat keputusan di sektor pelayanan kesehatan harus me-
nyadari bahwa usaha pelayanan kesehatan adalah suatu usaha
yang harus dikelola secara profesional dengan memperhatikan
prinsip-prinsip ekonomi secara baik, sehingga secara otomatis
akan menuntut setiap manajer rumah sakit agar menguasai de-
ngan baik manajemen keuangan, tidak cukup hanya sekedar
mengetahuinya saja. Hal ini sangat penting dan sangat me-
nentukan. Manajemen keuangan rumah sakit bukan hanya
sekedar proses akuntansi yang sehari-hari dilakukan, tetapi men-
cakup semua aspek dari sistim pengambilan keputusan.
Dalam makalah ini asumsi penulis adalah bahwa para pe-
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
53
background image
serta seminar sudah mengetahui secara garis besar peng
ertian
manajemen keuangan (karena sudah begitu sering diseminarkan)
yang meliputi fungsi-fungsi strategis sebagai berikut :
1) Perencanaan keuangan/anggaran.
2) Pengelolaan keuangan termasuk pengawasan dan
pengenalian.
3) Pemeriksaan keuangan.
4) Sistim akuntansi untuk menunjang ketiga fungsi di atas.
Manajemen keuangan yang baik akan terjadi apabila keempat
fungsi tersebut di atas dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
Dalam makalah ini penulis akan membahas secara singkat
hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam sistim akuntansi
yang merupakan tulang punggung dari suatu manajemen ke-
uangan sehingga benar-benar dapat menujang ketiga fungsi
strategis tersebut, berdasarkan aspek teori dan pengalaman
teknis lapangan penulis.
ARTI DAN RUANG LINGKUP SISTIM AKUNTANSI
Istilah sistim akuntansi mempunyai 3 pengertian pokok
yang sangat mendasar :
1) Jikaditinjau dari sistim akuntansi yang menghasilkan output
berupa laporan tentang data dan informasi keuangan maka sistim
akuntansi dibagi 2 yaitu :
­
Sistim akuntansi keuangan (financial accounting).
­
Sistim akun tansi manajemen (managerial accounting).
2) Jika ditinjau dari segi pembukuan maka sistim akuntansi
dibedakan menjadi dua yaitu :
­
Sistim akuntansi cash basis.
­
Sistim akuntansi accrual basis.
3) Jika ditinjau dari segi sistim akuntansi sebagai sistim dan
prosedur maka sistim akuntansi dapat dibedakan menjadi dua
yaitu :
·
Sistim akuntansi pokok yang terdiri dari klasifikasi rekening
(chart of account) baik untuk rekening neraca maupun pen-
dapatan dan biaya, buku besar dan buku pembantu, jurnal jurnal,
formulir-formulir, dan dokumen--dokumen akuntansi atau daf-
tar-daftar keuangan.
·
Sistim akuntansi pendukung dari sistim akuntansi pokok
yang terdiri dari sisdur penjualan dan penerimaan uang, sisdur
pembelian dan pengeluaran uang, sisdur pencatatan waktu kerja
dan penggajian, sisdur produksi dan biaya produksi. Masing-
masing prosedur dalam suatu sistim mempunyai hubungan yang
erat, saling mempengaruhi, dan saling terintegrasi (total sistim)
sehingga sulit untuk dipisahkan sendiri-sendiri.
Definisi sistim akuntansi sebagai sisdur menekankan pe-
ngertian yang sangat teknis mengenai apa yang harus dikerjakan,
dan bagaimana mengerjakananya.
ARTI PENYUSUNAN SUATU SISTIM AKUNTANSI
Penyusunan suatu sistim akuntansi mempunyai dua penger-
tian :
1) Penyusunan sisdur yang harus disesuaikan dengan struktur
organisasi dan sekaligus penciptaan formulir-formulir, jurnal-
jurnal, buku besar dan buku pembantu, serta daftar keuangan
untuk suatu institusi yang masih baru dan belum pernah
menggunakan sistim akuntansi sebelumnya.
2) Revisi atau penyempurnaan suatu sistim akuntansi yang
sudah ada dalam suatu institusi, tetapi dianggap sudah tidak
sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang berjalan maupun
ramalan situasi yang akan datang. Revisi semacam ini biasanya
tidak dilakukan secara menyeluruh, akan tetapi dilakukan dalam
beberapa fase dari sistim akuntansi yang sedang berjalan.
SIAPA YANG HARUS MENYUSUN SISTIM AKUNTANSI
Yang harus menyusun sistim akuntansi dari sautu institusi
adalah :
1) Jika institusi baru akan berdiri dapat memilih konsultan
manajemen, kantor akuntan untuk menyusun sistim akuntansi.
2) Jika institusi telah berdiri dan memiliki akuntan intern, maka
akuntan intern mempunyai tugas utama untuk terus menerus
mempelajari sistim akuntansi yang telah ada dan mengadaka
revisi/penyempurnaan di sepanjang hidup institusi.
Jadi jelaslah bahwa pekerjaan penyusun sistim akuntansi
sebaiknya dilakukan oleh konsultan manajemen atau kantor
akuntan atau akuntan intern yang memang memiliki dasar penge-
tahuan mengenai sistim akuntansi.
KRITERIA/SYARAT-SYARAT POKOK YANG HARUS
DIPENUHI OLEH PENYUSUN SISTIM AKUNTANSI
Untuk dapat menyusun sistim akuntansi yang cukup kom-
pleks diperlukan latihan-latihan akuntansi tertentu, latihan ini
tidak hanya merupakan suatu latihan praktek dasar aplikasi dari
teori akuntansi tetapi juga harus memiliki syarat-syarat pokok
sebagai berikut :
1) Memiliki dasar pengetahuan mengenai sistim informasi
manajemen.
2) Memiliki dasar pengetahuan mengenai struktur organisasi
mengenai fungsi-fungsi akuntansi dalam suatu institusi besar
maupunkecil, dan dasar-dasar dalam penyusunan struktur or-
ganisasi.
3) Memiliki dasar pengetahuan mengenai penyusunan sistim
akuntansi.
4) Memiliki dasar pengetahuan mengenai prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku di Indonesia "Prinsip Akuntansi In-
donesia".
5) Memiliki dasar pengetahuan mengenai prinsip dan praktek
pemeriksaan (internal control) sehingga catatan dan informasi
yang ada siap untuk dicek sewaktu-waktu melalui pemeriksaan
intern yang tepat.
6) Memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pembukuan
dan perpajakan.
7) Memiliki kemampuan untuk mengkoordinasikan seluruh
unit yang ada dalam kaitannya dengan sistim akuntansi.
8) Memiliki persepsi tentang kesediaan untuk selalu berubah
sepanjang masa hidup institusi.
9) Adanya dukungan penuh dari Top Manajemen.
Kriteria/syarat pokok tersebut di atas adalah kriteria-kriteria
standar yang seharusnya dimiliki oleh para penyusun sistim
akuntansi yang baik. Semakin banyak kriteria yang dipenuhi
maka pada umumnya sistim akuntansi dapat berjalan dengan
54
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
background image
lebih baik dan tuntas, sedangkan semakin sedikit kriteria yang
dipenuhi akan menyebabkan sistim akuntansi tetap dapat ber-
jalan tetapi seadanya.
CONTOH BEBERAPA FORMAT LAPORAN YANG
DIHASILKAN OLEH SUATU SISTIM AKUNTANSI
RUMAH SAKIT/PELAYANAN KESEHATAN
1) Neraca : lihat Lampiran 1.
2) Pendaptan dan Biaya : lihat Lampiran 2.
3) Sumber dan Penggunaan Dana : lihat Lampiran 3.
4) Perubahan Susunan Modal Kerja : lihat Lampiran 4.
5) Cash Flow : lihat Lampiran 5.
6) Piutang : lihat Lampitanm 6.
7) Controller Report (Laporan Perbandingan Antara Realisasi
dan Anggaran Pendapatan dan Biaya) : lihar Lampiran 7.
PENUTUP
Untuk dapat menjadi pengambil keputusan yang baik maka
seorang manajer rumah sakit harus menguasai manajemen ke-
uangan dengan baik. Supaya dapat menguasai manajemen ke-
uangan dengan baik maka manajer rumah sakit juga
harus
memiliki pengetahuan mengenai sistim akuntansi. Karena de-
ngan adanya sistim akuntansi yang baik akan mempermudah
keuangan.
Penyusunan suatu sistim akuntansi harus dilakukan oleh
orang yang mengerti dan mempunyai dasar yang mendalam
mengenai sistim akuntansi. Juga perlu adanya dukungan penuh
dari top manajemen.
KEPUSTAKAAN
1. Ascobat Gani. beberapa Pemecahan tentang Pengembangan Manajemen
Keuangan Rumah Sakit, FKM-UI, Jakarta 1985.
2. Chamdani JI. Buku Pedoman Administrasi.
3. Mehta H., Maher J. Hospital Accounting System and Controls. Englewood
Cliffs, NY : Prentice Hall, Inc. 1977.
4. Zaki Baridwan. Sistim Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode. Gajah
Mada University Press, 1979.
5. Sri Suhesti, TH, Peran Rumah Sakit dalam Pengembangan JPKM. Latihan
Dasar Manajemen Rumah Sakit, Lembaga Pengembangan Manajemen Ke-
sehatan, Perdhaki, 1993.
6. Garrett, R D. Hospital Computer Systems and Procedures Accounting Sys-
tems, New York : Petrocelli/Charter, 1976.
Lampiran 1 Rumash Sakit "X" Neraca per 31 Desember 199X
No.
Kode
Jumlah
Nama Perkiraan
Perkiraan
Rp.
A.
Aktiva
I.
Aktiva Lancar
I.
Kas
2.
Bank (Rp.)
3.
Bank (Valuta Asing)
4.
Deposito Berjangka
5.
Panjar/Uang Muka
6.
Piutang Lain-lain
7.
Persediaan Barang
8.
Piutang Penderita
II.
Jumlah Aktiva Lancar (I)
Aktiva Tetap
I.
Tanah
2.
Bangunan
3.
Kendaraan Bermotor
4.
Inventaris
Jumlah Aktiva Tetap Sebelum
Akmulasi Penyusutan
5.
Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aktiva Tetap (II)
Jumlah Aktiva Lancar +
Aktiva Tetap (I + II)
III.
Aktiva Lain-lain
Jumlah Aktiva (I + II + III)
B.
Pasiva
I.
Hutang Lancar
1.
Hutang Kepada Rekanan
2.
Uang Muka Perawatan
3.
Hutang Pajak
4.
Balas
JasaPrestasiYangMasihHarusDibayar
Jumlah Hutang Lancar (1)
II.
Hutang Jangka Panjang
III.
Pasiva Lain-lain
IV.
Modal dan Dana
Modal
Dana Pembangunan
Sisa Hasil Usaha (Kerugian)
Jumlah Modal dan Dana (IV)
Jumlah Pasiva (I + II + III + IV)
Lampiran 2 Rumah Sakit "X" Pendapatan dan Biaya Untuk Periode
Januari s/d Desember 199X
No.
Nama Perkiraan
Kode
Perkiraan
Jumlah
Rp.
A.
Pendapatan
1. Unit Perawatan
2.
Unit Rawa Jalan Spesialistik
3.
Unit Penunjang Medik
4.
Unit Balai Kesehatan Masyarakat
5.
Jumlah Pendapatan Sebelum
Perrawatan Cuma-cuma
Perawatan Cuma-cuma
B.
Bl.
1.
Jumlah Pendapatan (A)
Biaya Operasional
Biaya Operasional Langsung
Unit Perawatan
2.
Unit Rawat Jalan Spesilistik
3.
Unit Penunjang Medik
4.
Unit Balai Kesehatan Masyarakat
B2.
Jumlah Biaya Operasional
Langsung (B I )
Pendapatan Kotor (A ­ B l)
Biaya Operasional Tak Langsung
1.
Direksi dan Administrasi
2.
Departemen Personalia
3.
Departemen Logistik
4.
Pelayangan Umum dan Amdal
C.
Jumlah biaya Operasional
Tak Langsung (B2)
Jumlah Biaya Operasional
(BI +B2)
Pendapatan Bersih Sebelum Pendapatan
dan Biaya Non Operasional (a ­ B)
Pendapatan dan Biaya Non
Operasional
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
55
background image
Pendapatan Non
Operasional
Biaya Non Operasional
Jumlah Pendapatan (Biaya)
Non Operasional (C)
Pendapatan Bersih (A ­ B + C)
Lampiran 3 Rumah Sakit "X" Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Periode Tahun 199X
I.
Sumber Dana
1.
Sisa Hasil Usaha (Kerugian)
RP.....................
2.
Penyusutan
RP.....................
3.
Penambahan Kredit Jangka Panjang
RP.....................
4.
Penjualan Aktiva Tetap
RP.....................
5.
Dan Lain-lain
RP.....................
+
Jumlah Sumber Dana
RP
II.
Penggunaan Dana
1.
Pembelian Tanah
RP.....................
2.
Penambahan Bangunan
RP.....................
3.
Pembelian Kendaraan Bermotor
RP
.
4.
Pembe;lian Inventaris
R
P.....................
5.
Penurunan Kredit Jangka Pajang
RP.....................
6.
Dan Lain-lain
RP.....................
+
Jumlah Penggunaan Dan
RP
Penambahan (Penurunan) Dana (I ­ II)
RP
Lampiran 4 Rumah Sakit "X" Laporan Perubahan Susunan Modal Kerja
Periode Tahun 199X
Lampiran 5 Pelayanan Kesehatan "X" Cash Flow Tahun 199X
Umur Piutang
Jumlah
%
Penyisihan Piutang
Tak Tertagih
Belum Jatuh Tempo
1 - 30 hari
31 - 60 hari
61 - 90 hari
91 - 120 hari
121-150hari
151-180hari
181-210hari
211 - 240 hari
241 - 270 hari
271 - 300 hari
301 - 330 hari
331 - 365 hari
Lebih dari 365 hari
Total
A.
Kenaikan Pos-pos Kerjs Disebabkan karena :
I.
Kenaikan Pos-pos Aktiva Lancar :
1..........................................................................................Rp......................
2.........................................................................................Rp......................
3.........................................................................................Rp........................ +
Sub Total (A.I)
Rp
II.
Penurunan Hutang Jangka Pendek :
1......................................................................................... Rp......................
2.........................................................................................Rp......................
3 ......................................................................................... Rp ........................+
Sub Total (A.II)
Rp
B.
Penurunan Modal Kerja Disebabkan Karena :
I.
Penurunan Pos-pos Aktiva Lancar :
1.........................................................................................Rp......................
2 .........................................................................................Rp ......................
3.........................................................................................Rp........................+
Sub Total (A.I)
Rp
II.
Kenaikan Hutang Jangka Pendek :
1 ....................................................................................... Rp......................
2.........................................................................................Rp.......................
3.........................................................................................Rp........................+
Sub Total (A.11)
Rp
Jumlah Penurunan Modal Kerja (B.I. + B.II.)
Rp
Kenaikan (Penurunan) Modal Kerja (A-B)
Rp
I.
Saldo Awal
1.
Kas Tunai
Rp
2.
Kas di Bank
A. Giro
Rp
B. Deposito
Rp
+
Total Kas di Bank
(12. = 1.2.A. + 1.2.B)
Rp
Total Saldo Awal
(I = I.1. = I.2)
Rp
II.
Penerimaan Kas
1.
Penerimaan Kas dari
Pen enta
Rp
2.
Penerimaan Kas dari
Piutang Penderita
Rp
3.
Penerimaan Kas dari
Piutang Karyawan
Rp
4.
Penerimaan Lain-lain
Rp.......................
+
Total Penerimaan (II)
Rp
4
III.
Total I + II
Rp.......................
IV.
Pengeluaran Kas
1.
Untuk Pasien
Rp.......................
2.
Untuk Material
Rp.......................
3.
Untuk Kegiatan
Rp.......................
4.
Untuk Pemelihanaan
Rp.......................
5.
Untuk Karyawan
Rp.......................
6.
Pengeluaran Lain-lain
Rp.......................
+
Total Pengeluaran (IV)
Rp
V.
Saldo Kas Untuk Kebu-
tuhan Strategi (V = III - IV)
Rp
VI.
Invesrasi
Rp.......................
VII.
Saldo Kas Lebih (VII = V - VI)
Rp.......................
56
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
background image
Rumah Sakit "X" Analisa Piutang Tahun 199X
Belum
Jatuh
Jumlah Piutang Setelah Tanggal Jatuh Tempo (Rp.)
No. Uraian
Tempo
(Rp.)
1-30
Hari
31-60
Hari
61-90
Hari
91-120
Hari
121-150
Hari
151-180
Hari
181-210
Hari
211-240
Hari
241-270
Hari
271-300
Hari
301-330
Hari
331-365
Hari
Lebih
Dari
Total
(Rp.)
365
Hari
1.
2.
3.
4.
5.
6.
8.
9.
10.
Total
Umur Piutang
Jumlah
(Rp.)
%
Penyisihan Piutang
Tak Tertagih
Belum Jatuh Tempo
1 - 30 Hari
31 -60 Hari
6190 Han
91- 120 Han
121 - 150 Han
151 - 180 Hari
181 - 210 Han
211 -240 Han
241 - 270 Han
271 - 300 Han
301 - 330 Han
331 - 365 Hari
Lebih dan 365 Han
Total
Rumah Sakit
"
X
"
Controller Report Untuk Periode Januari s/d Desember 199X
Desember 199X
Januari s/d Desember 199X
Anggaran Realisasi
Lebih/
Kurang
%
No.
Nama Perkiraan
Kode
Perkiraan
Angaran
Realisasi
Lebih/
Kurang
%
A.
1.
Pendapatan
Unit Perawatan
2.
Unit Rawat Jalan Spesialistik
3.
Unit Penunjang Medik
4.
Unit Balai Kesehatan Masyarakat
5.
Operasional Lain
6.
Jumlah Pendapatan Sebelum
Perawatan Cuma-cuma
Perawatan Cuma-cuma
B.
1.
Jumlah Pendapatan (A)
Biaya Operasional
Unit Perawatan
2.
Unit Rawat Jalan Sepsialistik
3.
Unit Penunjang Medik
4.
Unit Balai Kesehatan Masyarakat
5.
Operasional Lain
Jumlah Biaya Operasional Langsung (B 1)
Pendapatan Kotor (A - B 1)
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
57
background image
B2. Biaya Operasional
1.
Direksi dan Administrasi
2.
Departem Personalia
3.
Departemen Logistik
4.
Pelayanan Umum dan Amdal
Jumlah Biaya Operasional
Tak Langsung (B2)
Jumlah Biaya Operasional (B1 + B2)
Pendapatan Bersih Sebelum Pendapatan dan
Biaya Non Operasional (A - B)
C.
Pendapatan dan Biaya Non Operasional
Pendapatan Non Operasional
Biaya Non Operasional
Jumlah Pendapatan (Biaya)
Non Operasional (C)
Pendapatan Bersih (A - B + C)
58
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus
No. 91, 1994