TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Keterlibatan Paru dan Pleura
pada SLE
Zuljasri Albar
Sub Bagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit
radang kronik sistemik yang timbul akibat proses otoimun.
Penyakit ini dapat mengenai setiap organ tubuh, dengan
frekuensi dan derajat yang berbeda-beda pada tiap penderita.
Sebagai contoh, keterlibatan ginjal 74%, SSP 54%, paru 44%
selama perjalanan penyakit.
1
Istilah lupus nefritis atau lupus
serebritis sudah sering didengar, sedangkan lupus pneumonitis
atau lupus pleuritis relatif jarang. Mengingat keterlibatan paru-
paru dan pleura pada SLE cukup sering ditemukan bahkan ada
penelitian yang menyatakan sampai 90%
2
, kami mencoba
meneliti kekerapan keterlibatan paru dan pleura pada penderita
SLE. Penelitian retrospektif ini tidak dapat memastikan pe-
nyebab keterlibatan paru dan pleura karena memerlukan
pemeriksaan lebih khusus seperti spirometri, bilas bronkus,
biopsi transbronkhial dan lain-lain
1-4
yang tidak dilakukan
seperti terlihat dalam catatan medik penderita. Di lain pihak,
mengetahui penyebab kelainan paru dan pleura pada SLE
memang sangat sulit karena SLE sendiri dapat menimbulkan
kelainan paru dan pleura akibat kelainan perikardium, gagal
jantung, uremia atau sindrom nefrotik
2
. Keterlibatan paru dan
pleura yang cukup tinggi pada SLE merupakan peringatan
untuk memberikan perhatian kepada hal ini karena keter-
lambatan penanganannya akan mempengaruhi prognosis.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan meng-
evaluasi rekam medik penderita SLE yang dirawat di Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) selama periode 1 Januari
1996 s/d 31 Desember 2000. Diagnosis SLE ditegakkan ber-
dasarkan kriteria American Rheumatology Association (ARA).
Keterlibatan paru dan pleura ditetapkan berdasarkan adanya
kelainan pada pemeriksaan jasmani dan atau foto toraks.
HASIL
Dari 48 rekam medik yang ditemukan, hanya 34 penderita
yang memenuhi kriteria diagnostik SLE dari ARA
5.
Usia pen-
derita berkisar antara 13-50 tahun. Sebagian besar (33 kasus)
adalah wanita, sedangkan penderita pria hanya 1 kasus, berusia
20 tahun (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi penderita SLE berdasarkan usia dan jenis kelamin.
Jenis kelamin
Usia
Wanita Pria
11-15 tahun
16-20 tahun
21-25 tahun
26-30 tahun
31-35 tahun
36-40 tahun
41-45 tahun
46-50 tahun
2
9
7
6
4
1
3
1
-
1
-
-
-
-
-
Jumlah 33
1
Tabel 2. Penderita SLE dengan keterlibatan paru dan pleura.
Jenis kelamin
Usia
Wanita Pria
11-15 tahun
16-20 tahun
21-25 tahun
26-30 tahun
31-35 tahun
36-40 tahun
41-45 tahun
46-50 tahun
2
6
4
1
4
-
2
1
-
1
-
-
-
-
-
Jumlah 20
1
Kelainan paru pada pemeriksaan jasmani berupa ronkhi
basah halus nyaring, ronkhi basah halus dan kasar, pleural
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 31
friction rub dan perkusi redup atau pekak didapatkan pada 20
kasus. Hanya 1 kasus yang tidak menunjukkan kelainan pada
pemeriksaan jasmani (kasus 9). Pada pemeriksaan radiologik
(foto toraks), kelainan berupa infiltrat, edema paru dan efusi
pleura didapatkan pada 17 kasus. Tidak terdapat peninggian
diafragma. Penderita SLE yang menunjukkan kelainan pada
pemeriksaan jasmani dan foto toraks - dengan perkataan lain
tanda keterlibatan paru dan pleura - sebanyak 21 kasus
(61.8%).
Sesak napas merupakan keluhan utama pada 11 kasus
(tabel 3). Dari 11 kasus ini gagal ginjal kronik ditemukan pada
4 kasus, gagal jantung kongestif 2 kasus, pneumonia 6 kasus; 4
kasus pneumonia/bronkhopneumonia ditemukan bersama-sama
dengan gagal ginjal kronik; 2 kasus pneumonia lain berdiri
sendiri (kasus 1 dan 11). Demam dan batuk sebagai keluhan
utama hanya terdapat pada 1 kasus. Keluhan utama yang lain
ialah miksi nyeri, lemah, mata dan kaki bengkak, nyeri ulu hati,
sakit kepala hebat, demam, tak mau makan, tungkai lemah dan
perdarahan bibir.
Tabel 3. Hubungan sesak napas sebagai keluhan utama dengan gagal
ginjal kronik, gagal jantung kongestif dan pneumonia/
bronkhopneumonia
No.
kasus
Keluhan utama
Sesak napas
Gagal ginjal
kronik
Gagal jantung
kongestif
Pneumonia/
Bronkho-
pneumonia
1 +
-
-
+
2 +
+
-
+
3
- - - -
4 +
- - -
5 +
- - -
6 +
+ - +
7 +
- - -
8 -
-
-
+
9
- - - -
10
- - - -
11 +
- - +
12 +
+ - +
13
- - - -
14
+ - + -
15 -
-
-
+
16 -
-
-
+
17 -
-
-
+
18 +
+
-
+
19
- - - -
20
- - - -
21
+ - + -
Diagnosis pneumonia ditegakkan pada 13 kasus, 3 di
antaranya disertai efusi pleura. Sebagai keluhan utama,
kelainan paru/pleura ditemukan pada 3 kasus.
Efusi pleura ditemukan pada 5 kasus, 1 di antaranya
bersama-sama dengan TB paru, sedangkan pleural friction rub
hanya pada 1 kasus (kasus 11) (Tabel 4). Tidak ditemukan
perdarahan paru. Sejumlah 13 penderita diketahui pernah men-
derita SLE, lamanya berkisar antara 1 bulan sampai 14 tahun.
Uji serologi berupa ANA atau anti-dsDNA dilakukann pada 5
penderita dengan hasil positip pada semua kasus dengan titer
berkisar antara 767 sampai 1588.3 (titer normal <200). Fungsi
paru hanya diperiksa pada 1 penderita yang telah menderita
SLE selama 3 tahun. Hasilnya didapatkan restriksi sedang.
Tabel 4. Bentuk keterlibatan paru dan pleura pada SLE
1
.
No.
Kasus
PN/
BP
Efusi
pleura
Per-
darahan
Peninggian
diafragma
Non-
spesifik
Tuber-
kulosis
1 + - -
-
-
-
2 + - -
-
-
-
3 - - -
-
-
-
4 - - -
-
-
-
5 - - -
-
-
-
6 + - -
-
-
-
7 - - -
-
-
-
8 + + -
-
-
-
9 - - -
-
-
+
10 - + -
-
-
-
11 + -
-
-
-
-
12 + + -
-
-
-
13 - - -
-
-
-
14 - - -
-
+
-
15 + -
-
-
+
-
16 + -
-
-
-
-
17 + -
-
-
-
-
18 + + -
-
-
-
19 - - -
-
-
-
20 - - -
-
+
-
21 - + -
-
-
+
Dari 21 kasus dengan keterlibatan paru dan pleura, pada 12
kasus ditemukan kondisi yang mungkin berperan dalam
keterlibatan tersebut, yaitu gagal ginjal kronik (5 kasus), tuber-
kulosis paru (2 kasus), sindrom nefrotik (2 kasus), gagal
jantung kongestif (2 kasus) dan kelainan perikardium (efusi
perikard - 1 kasus).Pada 9 kasus lainnya, keterlibatan paru dan
pleura diduga merupakan akibat langsung SLE atau unfeksi
nonspesifik berupa pneumonia/bronkopneumonikia (tabel 5).
Dari 21 kasus SLE dengan keterlibatan paru dan pleura, 9
penderita meninggal; 5 karena gagal ginjal kronik, 1 karena
gagal napas dan 3 karena syok septik dengan pneumonia
disebutkan sebagai penyebab.
Tabel 5. Faktor-faktor yang diduga berperan dalam keterlibatan paru
dan pleura pada SLE
2
.
Jenis kelainan
Jumlah
SLE/infeksi
Gagal ginjal kronik
Tuberkulosis paru
Sindroma nefrotik
Gagal jantung kongestif
Efusi perikard
9
5
2
2
2
1
Jumlah 21
DISKUSI
Dari seri ini kelainan paru dan pleura ditemukan sebanyak
61.8%; jika 2 kasus tuberkulosis paru tidak dimasukkan, angka-
nya sebesar 55,9%; kira-kira sama dengan yang dilaporkan
dalam kepustakaan, yaitu antara 50-90%
6,7
, 38-89%
2,4
, 50-
60%.
8,9
Inflamasi paru sering ditemukan pada otopsi penderita
SLE. Dengan pemeriksaan yang lebih khusus, prevalensi di
atas lebih tinggi lagi. Penelitian fisiologik pada penderita SLE
menunjukkan adanya kelainan restriktif paru sebagaimana
terlihat dari : penurunan kapasitas difusi pada 80% kasus, pe-
nurunan volume paru pada 65% kasus dan penurunan saturasi
oksigen arterial pada 55% kasus (Guenter dan Welch, 1982);
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
32
pada seri ini hanya 1 kasus yang menunjukkan kelainan
restriktif sedang pada spirometri. Secara klinis, sebagian besar
penderita dengan kelainan paru mengeluh sesak napas disrtai
batuk produktif
(2,3).
Sebelum menetapkan kelainan paru dan
pleura sebagai penyebab sesak napas perlu dipikirkan penyebab
lain, misalnya kelainan jantung karena kadang-kadang kedua-
nya ditemukan bersama-sama.
Keluhan utama yang paling sering pada SLE dengan
kelainan paru/pleura ialah sesak napas (11 dari 21 kasus). Pada
11 kasus ini ditemukan juga kelainan lain yang mungkin
berperan dalam mengakibatkan sesak napas itu, yaitu gagal
ginjal kronik, gagal jantung kongestif, TB paru dan efusi
perikard. Menetapkan SLE sebagai penyebab gangguan paru/
pleura memang tidak mudah.
2,8
Banyak faktor harus diper-
timbangkan. Keane dan Lynch mengemukakan bahwa dalam
satu penelitian post-mortem, pada setiap kasus lupus pneumo-
nitis yang didiagnosis secara klinis dapat pula diterangkan oleh
faktor-faktor lain seperti infeksi, aspirasi, gangguan fungsi
jantung atau gagal ginjal.
2
Pemeriksaan yang lebih agresif di-
perlukan bukan hanya untuk memastikan ada tidaknya kelainan
paru/pleura, melainkan juga untuk mencari penyebab dan
bentuk kelainan paru/pleura tersebut karena bentuk keterlibatan
paru/pleura pada SLE sangat bervariasi. Keterlibatan ini dapat
berupa pneumonitis, pleuritis dengan atau tanpa efusi, per-
darahan paru, emboli paru, hipertensi paru dan shrinking lung
syndrome.
1,2,6
Kelainan paru pada pemeriksaan jasmani berupa ronkhi
basah kasar dan halus.
3
Pada seri ini kelainan yang ditemukan
berupa ronkhi basah halus nyaring, ronkhi basah halus dan
kasar; pada keterlibatan pleura didapatkan pleural friction rub
dan perkusi redup atau pekak yang ditemukan pada 20 kasus.
Gambaran radiologis menunjukkan infiltrat nonspesifik
yang tersebar mungkin sebagai akibat infeksi atau SLE.
2,3,4
Pada seri ini kelainan yang ditemukan berupa infiltrat, edema
paru dan efusi pleura pada 18 kasus.
Pleuritis merupakan kelainan pleuropulmoner yang paling
sering ditemukan. Paling sedikit 2/3 penderita SLE mengalami
pleuritis dengan atau tanpa efusi pada satu waktu dalam per-
jalanan penyakitnya. Gejala ini merupakan keluhan utama pada
5% kasus. Keluhan yang paling sering ialah nyeri dada sebagai
keluhan utama. Bunyi gesekan pleura disertai demam terdapat
pada 1 kasus. Efusi pleura ditemukan sebanyak 40-60%, biasa-
nya sedikit dan bilateral.
2,3,4
Pada seri ini efusi pleura ditemu-
kan sebanyak 28.5%, lebih sering unilateral (4 kasus) di-
bandingkan dengan efusi bilateral (2 kasus). Pada 1 kasus
terdapat juga tuberkulosis paru. Dengan pemeriksaan antibodi
antinuklir (ANA), anti ds-DNA dan sel LE pada cairan pleura
dapat diketahui penyebab efusi.
2,9
Pemeriksaan ini tidak
dilakukan pada seri ini.
Diagnosis pneumonia ditegakkan pada 13 kasus dengan
usia berkisar antara 15-35 tahun. Sebagian besar di bawah 20
tahun (6 kasus 66.7%), lama menderita SLE rata-rata 2 tahun.
Ini sesuai dengan kepustakaan bahwa penderita pneumonitis
akut biasanya berusia muda dan merupakan keluhan utama
pada 50% kasus. Pneumonitis lupus dapat akut atau kronik.
Bentuk akut menyerupai pneumonia dan menunjukkan gejala
demam, dispnea, batuk dan kadang-kadang hemoptisis. Ter-
dapat ronkhi basah kasar dan halus.
2,3
Pneumonitis akut harus
dibedakan dari infeksi. Jika timbul keragu-raguan dilakukan
bilas bronkhoalveolar. Pneumonitis lupus kronik muncul dalam
bentuk penyakit paru interstitial difus dan ditandai oleh sesak
napas jika beraktifitas, batuk kering dan ronkhi basah basal.
Secara histopatologi gambarannya tidak spesifik, berupa ke-
rusakan dan nekrosis dinding alveoli, sebukan sel radang,
edema, perdarahan dan membran hialin.
2,3,8
Tidak ditemukan perdarahan paru pada seri ini. Perdarahan
paru berupa batuk dan hemoptisis atau dalam bentuk infiltrat
paru tidak sering ditemukan, tetapi merupakan bentuk SLE
yang sangat serius. Mortalitasnya tinggi, dapat mencapai 70%.
Diperkirakan kelainan ini akibat vaskulitis paru. Penyebab lain
perdarahan paru seperti pneumonia akibat virus harus diper-
timbangkan dalam diagnosis banding. Perdarahan paru merupa-
kan keluhan utama atau satu-satunya pada 1-2% kasus. Biasa-
nya timbul akut dan rekuren.
Hipertensi pulmoner tidak dapat dinilai pada seri ini
karena data kurang lengkap. Hipertensi pulmoner pada SLE
mirip dengan hipertensi pulmoner idiopatik. Penderita me-
nunjukkan sesak napas, foto toraks normal dan kelainan
restriktif pada pemeriksaan fungsi paru. Sering ditemukan
fenomena Raynaud.Adanya hipertensi pulmoner dipastikan
dengan Doppler dan kateterisasi jantug. Penyebab lain hiper-
tensi pulmoner harus disingkirkan. Penting untuk mencari
emboli paru multipel dan lokalisasi trombosis vena dalam. Jika
timbul keragu-raguan, perlu dilakukan angiografi paru. Juga
harus disingkirkan kemungkinan sindrom antibodi antifos-
folipid dengan pembekuan intrapulmoner.
Istilah shrinking lung syndrome dipakai untuk melukiskan
suatu kompleks peninggian diafragma disertai penurunan
fungsinya. Pada seri ini tidak tampak peninggian diafragma
pada foto toraks, sehingga diperoleh kesan sindrom ini tidak
ada. Mungkin kelainan ini berperan dalam sesak napas yang tak
dapat dijelaskan, tanpa kelainan parenkim paru.
2,6
Hubungan antara ANA, anti-dsDNA dan lama menderita
SLE dengan keterlibatan paru/pleura tidak dapat dinilai karena
data tidak lengkap.
Dari 21 kasus SLE dengan keterlibatan paru dan pleura, 9
penderita meninggal (42,8%); 5 kasus meninggal karena gagal
ginjal kronik (23.8%), 1 kasus karena gagal napas akibat
kejang-kejang pada lupus serebri dan pneumonia (4.7%) dan 3
kasus (14.2%) karena syok septik akibat pneumonia (2 kasus),
meningitis (1 kasus). Pada satu seri penelitian pernah dilapor-
kan kematian pada SLE akibat keterlibatan paru dan pleura
tidak tinggi, yaitu sebanyak 7.9% (3 dari 38 kasus). Tetapi jika
dihitung kasus per kasus, mortalitas pada pneumonitis lupus
akut cukup tinggi yaitu 50%.
2
RINGKASAN/KESIMPULAN
Keterlibatan paru dan pleura pada SLE cukup sering
terjadi. Di samping SLE, terdapat faktor lain yang berperan
dalam keterlibatan ini, yaitu gagal ginjal kronik, gagal jantung,
sindrom nefrotik, kelainan perikardium, infeksi dan tuberku-
losis. Dengan pemeriksaan yang lebih khusus seperti spiro-
metri, bilas bronkhus, biopsi transbronkhial dan lain-lain,
angka keterlibatan paru dan pleura akan lebih tinggi. Pe-
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 33
4.
Haupt HM, Moore GW, Hutchins GM. The lung in systemic lupus
erythematosus. Analysis of the pathologic changes in 120 patients. Am J
Med 1981; 71 : 791-8.
meriksaan yang lebih khusus ini selain memberikan angka
keterlibatan yang lebih tinggi, juga memungkinkan penentuan
diagnosis etiologik yang lebih cepat. Diperlukan penelitian
lebih lanjut untuk menilai keterlibatan paru dan pleura pada
SLE.
5.
Tan EM, Cohen AS, Fries JF et al. Special article : The resived criteria
for the classification of systemic lupus erythematosus. Arthr. Rheum
1982; 25 : 1271-7.
6.
Prakash UBS. Rheumatologic diseases. Dalam : Baum GL, Wolinsky E
(eds.) Textbook of Pulmonary Diseases. 5
th
ed, New York : Little, Brown
& Co, 1994; hal 1471-6.
KEPUSTAKAAN
7.
Mills JA. Medical Progress : Systemic Lupus Erythematosus. New Engl J
Med 1994; 330 : 26; 1871-9.
1.
Gladman DD, Urowitz MB. Systemic Lupus Erythematosus Clinical
and laboratory features. Dalam Klippel JH (ed.) Primer on the Rheumatic
Diseases. 11
th
ed. Arthritis Foundation, Atlanta; GA, 1997; hal 251-7.
8.
Quismorio Jr, FP. Pulmonary manifestations of Systemic Lupus
Erythematosus. Dalam : Wallace DJ, Hahn BJ (eds). Dubois' Lupus
Erythematosus. 5
th
ed, Baltimore : Williams & Wilkins, 1997, hal 673-92.
2.
Keane MP, Lynch III JP. Pleuropulmonary manifestations of systemic
lupus erythematosus. Thorax 2000; 55(2): 159-66.
3.
Orens JB, Martinez FJ, Lynch JP III. Pleuropulmonary manifestations of
systemic lupus erythematosus. Rheum Dis Clin North Am 1994; 20 : 159-
93.
9.
Petri MA. Systemic Lupus Erythematosus : Clinical aspects. Dalam :
Koopman WJ (ed). Arthritis and Allied Conditions A Textbook of
Rheumatology. 14
th
ed, Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins,
2001; hal 1455-79.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
34