background image
Kelainan Jantung Pada Penyakit Kawasaki
Dr Candra K. Siregar dan Dr J.M.Ch. Pelupessy
Lembaga Emu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/
RS Ujung Pandang, Ujung Pandang
PENDAHULUAN
Penyakit Kawasaki (PK) atau mucocutaneous lymphnodes
syndrome (MCLS) ialah suatu penyakit peradangan pada anak
yang ditandai oleh demam persisten, peradangan mucocuta-
neous dan adenopati servikalis' . Tomisaku Kawasaki yang per-
tama kali melaporkan di Jepang dalam tahun 1967. Sejak 1974,
penyakit ini sudah banyak dikenal di Amerika Serikat, Jerman
Barat, Kanada dan beberapa daerah Asia Timur
2
'
3
. Di Indonesia
belum pernah dilaporkan.
PK umumnya menyerang anak berusia kurang dari 5
tahun, terutama 1­2 tahun dan lebih sering pada lelaki daripada
perempuan, 1,5 : 12,3,4. Anak Jepang berpredisposisi untuk
penyakit ini
2,3
.
Di Jepang, insidensi lebih dari 15 kasus per 100.000 anak
di bawah umur 5 tahun. Di Amerika Serikat 1,6­5,6 kasus
(pada epidemi 13,5 ­ 16,4 kasus per 100.000 anak). Pada umur
kurang dari 8 tahun, ternyata anak Amerika­Asia lebih sering
diserang daripada anak kulit hutam (3:1), demikian pula lebih
sering daripada anak kulit putih, 6 :
1
2,3,5
Penyakit ini banyak menarik perhatian,. karena meng-
akibatkan lesi arteri koronaria asimtomatik sebagai sekuele
pada 5­10% kasus. Demikian pula, meskipun PK tidak disertai
sekuele iskhemik koronaria, namun dapat menjadi predisposisi
untuk mengalami obstruksi arteri koronaria pada usia dewasa
6
.
Makalah ini membahas secara singkat beberapa aspek
,
PK
serta kelainan jantung yang diakibatkannya.
ETIOLOGI
Penyebab PK belum diketahui dengan pasti. Karena PK
tidak dapat menular dari, orang ke orang, maka bila penyebab-
nya agen infeksi, mungkin berhubungan dengan toksin atau
sebagai reaksi abnormal sistem imunolgik terhadap agen
infeksi
2
.
Walaupun Rickettsia-like bodies telah ditemukan pada
jaringan beberapa penderita, tetapi uji serologik urnumnya
negatif, demikian pula biakan negatif. Penyebab lain yang juga
menjadi perkiraan antara lain strain Pro pionibacterium acnes
yang dipindahkan oleh tungau ke manusia, reaksi imun
abnormal terhadap virus Epstein-Barr, rubeola, rubella, hepa-
titis, parainfluensa, toksin yang diproduksi oleh atau reaksi
imunologik terhadap streptokokus sanguis, treponema palli-
dum, leptospira, brucella atau mycoplasma
2
.
Karena gambaran klinik dan hispopatologik PK hampir
sama dengan penyakit autoimun yang lain, maka telah di-
lakukan uji serologik terhadap antinuklear-antibodi, namun
hasilnya negatif, demikian pula 'tidak ditemukan peninggian
titer antistreptolisin ()
I
'
s
.
Pengaruh faktor lain seperti polusi, toksin, bahan kimia,
pestisida, logam berat dan lain-lain belum dapat dibuktikan
2
.
PATOLOGI
Pada _PK dijumpai radang akut dengan angitis kapiler,
arteri kecil dan sedang. Pada otopsi biasanya ditemukan
aneurisma dan trombosiskoronaria dengan atau tanpa disertai
kelainan arteri sistemik
6
.
Pada pemeriksaan biopsi jaringan yang meradang tidak
terdapat bakteri, hanya infiltrasi sel-sel radang polimorfo-
nuklear
9
.
GAMBARAN KLINIK
Pada prinsipnya PK mempunyai 6 gejala karakteristik,
yaitu
3
:
1.
demam lebih dari 5 hari (38­40°C) tanpa respon terhadap
antibiotika.
2.
kongesti bilateral konyungtiva bulbi.
3.
kelainan bibir dan rongga mulut.
·
bibir kering, kemerahan dan pecah-pecah.
·
strawberry tonzue.
·
hiperemi mukosa mulut dan farings.
4. perubahan bagian perifer anggota gerak.
·
telapak tangan dan kaki kemerahan (stadium awal).
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
38
background image
·
udem dan indurasi (stadium awal).
·
deskuamasi membrana ujung jari-jari tangan dan kaki
(stadium rekonvalesen).
5.
Eksantema polimorf tanpa bentuk vesikel dan krusta pada
badan.
6.
Pembesaran kelenjar limfa servikalis yang akut, non-puru-
len, besar diameter 1,5 cm.
Beberapa gejala lain yang sering ditemukan, ialah
3,9
:
a.
Karditis terutama miokarditis dan perikarditis.
b.
Arthralgia atau arthritis.
Nyeri sendi terutama kalau berjalan atau banyak bergerak,
sering mengenai sendi siku, pergelangan tangan, lutut; sendi
tidak bengkak & eritema tidak ditemukan.
c.
Diare.
d.
Proteinuria dan peninggian lekosit dalam urin.
e.
Laboratorium darah:
·
lekositosis dengan pergeseran ke kiri.
·
penurunan kadar Hb dan jumlah eritrosit.
·
laju endapan darah meninggi.
·
protein C-reaktif positif.
·
peninggian alpha-2 globulin.
·
titer antistreptolisin 0 negatif.
f. Kadang-kadang dijumpai:
­ Meningitis aseptik.
Selain tanda-tanda rangsang menigs dapat juga ditemukan
paresis saraf kranialis yang akan menghilang bila
penyakit sembuh. Kadar protein dan glukosa dalam likuor
normal, sel sedikit meninggi (12-43/mm3) dengan sel
polimorfonuklear yang dominan.
­ Ikterus ringan atau transaminase serum sedikit meninggi.
Peninggian kadar bilirubin dalam darah karena gangguan
fungsi hati, kandung empedu atau penyumbatan saluran
empedu. Peninggian transaminase serum di-. sebabkan
oleh gangguan fungsi hati.
g. Manifestasi klinik yang lain:
­ Sebagian penderita mengeluh batuk-batuk pada stadium
demam akut, tetapi padu foto toraks tidak dijumpai
tanda-tanda infiltrat.
­ Otitis media.
Membrana timpani normal tanpa cairan di belakangnya
dan pertumbuhan bakteri.
­ Pankreatitis.
Pernah dilaporkan Stoler dkk dengan gejala-gejala
muntah, nyeri perut dan punggung serta peninggian
amilase serum. Kelainan ini dapat dibuktikan dengan
ultrasonografi
l0
KELAINAN JANTUNG SEBAGAI SEKUELE PK
Kematian mendadak dan gangguan fungsi jantung serta
pembuluh darah yang berat merupakan masalah serius pada
anak
6
. Kelainan jantung yang paling serius ialah aneurisma,
obstruksi koronaria, infark miokard dan kelainan katup yang
berat.
1) Aneurisma Koronaria (AK)
Insidensi AK pada PK 7­40%
1
. Frekuensi sama pada anak
lelaki: dan perempuan, dapat ditemukan pada semua umur
11
Timbulnya AK biasanya pada hari ke 8­15 perjalanan pe-
nyakit
l
. Demam pada penderita AK yang mendapat AK ber-
langsung lebih lama
l,11
Kelainan ini dapat dideteksi dengan
ekokardiografi 2 dimensi atau angiografi
6
. Pada stadium akut,
lebih dari setengah penderita PK menunjukkan dilatasi koro-
naria, namun hanya 10­20% yang mendapat AK pada akhir
stadium akut. Timbulnya AK tidak berarti menyebabkan
gangguan iskhemik atau disfungsi jantung. Di antara penderita
AK tersebut, setengahnya menunjukkan perbaikan pada pe-
meriksaan angiografi berulang-ulang setelah 1­2 tahun. Hanya
3% yang mendapat sekuele dengan kemungkinan penyakit
jantung iskhemik .
Bentuk AK yang dapat menjadi faktor risiko obstruksi koro-
naria ialah:
·
ukuran aneurisma (diameter lebih 8 mm).
·
bentuk bola, sausage atau aneurisma multipel.
·
kasus yang tidak diobati antitrombosis sejak stadium akut.
2)
Obstruksi Arteri Koronaria (OK)
Kliniknya sangat bervariasi, dari asimtomatik sampai
gejala angina, infark miokard atau mati mendadak
6
. Kelainan
ini dapat dideteksi dengan ekokardiografi atau angiografi
'
koro-
naria
6
. Pada angiografi ternyata kebanyakan penderita infark
miokard yang meninggal menunjukkan obstruksi pada arteri
koronaria kiri atau kanan dan desendens anterior. Pada kasus
yang hidup obstruksi seringkali mengenai satu pembuluh darah,
terutama arteri koronaria kanan12 .
3)
Infark Miokard (IM)
IM biasanya timbul dalam tahun pertama "onset" penyakit
6
tetapi dapat juga setiap saat dan berhubungan dengan stenosis
A.koronaria
6
. Seringkali serangan IM timbul waktu tidur
malam atau istirahat, disertai tanda-tanda renjatan, pucat,
muntah-muntah, nyeri perut, sesak napas dan nyeri dada.
Sekitar 37% kasus IM tidak bergejala
12
.
Pada foto toraks dapat ditemukan pembesaran jantung.
EKG dapat menunjukkan perubanan gelombang Q dan lokasi
IM
13
. Pada ekokardiografi 2 dimensi dapat ditemukan gerakan
abnormal dinding ventrikel kiri
13
. Kateterisasi jantung dan
angiokardiografi merupakan pemeriksaan yang paling tepat
untuk mendeteksi lesi koronaria dan evaluasi fungsi ventrikel
kiri. Pada angiografi koronaria dapat dijumpai obstruksi arteri
koronaria. Kebanyakan penderita IM menunjukkan pembesaran
dan berkurangnya fungsi ventrikel kiri
13
Dengan "thallium 201 myocardial scintigraphy" dapat
diperlihatkan defek perfusi miokardium
13
. Pemeriksaan ensim
jantung seperti kreatin kinase menunjukkan kadar yang me-
ninggi
2
.
Angka kematian IM akut ialah 20-30%, kematian terjadi
terutama pada kasus dengan obstruksi arteri koronaria kiri atau
stenosis berat pada arteri koronaria desendens anterior kiri dan
arteri koronaria kanan
6
.
4)
Kelainan Katup Jantung
Pada PK k-adang-kadang ditemukan kelainan katup seperti
regurgitasi mitial (RM) dan aorta; yang terakhir ini sangat
jarang
6,13
Insidensi RM 1%. RM yang ringan terdapat pada
stadium akut umumnya sembuh, sedangkan yang berat dapat
berakhir dengan payah jantung yang disertai gangguan miokard
dan koroner
6
.
Penyebab RM ialah valvulitis, peradangan atau iskhemik
otot-otot papilla dan dilatasi ventrikel kiri.
5)
Miokarditis
Kebanyakan penderita PK menunjukkan tanda-tanda
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 39
background image
miokarditis pada stadium akut, terutama pada minggu per-tams
dan kedua serta tidak bergantung kepada ada
.
tidaknya kelainan
arteri koronaria
6
.
Pada kelainan ini dijumpai irama gallop, bunyi jantung
melemah, aritmia pada EKG, ekografk yang abnormal dan
peninggian kreatin kinase dalam serum. Umumnya kelainan ini
akan sembuh sendiri sesudah stadium akut dan jarang menetap
atau bertambah berat
6
.
6)
Perikarditis
Tigapuluh persen semua penderita PK mendapat perikar-
ditis pada minggu pertama dan kedua. Pada kebanyakan pen-
derita terdapat efusi perikard yang ringan dengan ekokardio-
grafi. Tamponade jantung jarang ditemukan
6
.
7)
Aneurisma Arteri Yang Lain
Aneurisms dapat pula terjadi pada arteri sistemik yang
lain. Insidensi kurang 3% dan predisposisi pada arteri axillaris,
iliaka, renalis, mammaria interna, femoralis dan subskapula-
ris
6
'
'4
.
Umumnya gejala-gejala sangat kurang. Bila mengenai
arteri renalis, hal ini dapat menimbulkan hipertensi renalis
6
.
DIAGNOSIS
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik. Diag-
nosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik yang disusun oleh
"MCLS Research Committee 1980", yaitu: demam lebih 5 hari,
kongesti bilateral konyungtiva bulbi, kelainan bibir dan rongga
mulut; perubahan bagian perifer anggota gerak, eksantem
polimorf tanpa vesikel dan krusta pada badan, pembesaran
kelenjar limfa servikalis, harus terdapat sekurangkurangnya 5
dad 6 gejala utama
3
.
Sebagai diagnosis banding dipertimbangkan beberapa
penyakit infeksi laih seperti pascastreptokokus, pascastafi-
lokokus dan sindroma Stevens­Johnson
3
. Untuk mengetahui
apakah ada kelainan kardiovaskuler dilakukan pemeriksaan
fisik, foto toraks, EKG, ekokardiografi, angiografi, kateterisasi,
thallium 201 myocardial scintigraphy dan ensim'"
3
'
12
Bila dengan ekokardiografi kelainan arteri koronaria tidak
dapat ditentukan, dipakai sistem skor jantung menurut Asai &
Kusakawa atau modifikasinya (tabel 1). Menurut penelitian di
Jepang, pemeriksaan ekokardiografi labih dipercayai dari pada
sistem skor jantung untuk mendeteksi AK
3
.
Tabel 1. Modifikasi Sistem Skor Jantung menurut Asai & Kusakawa
11
S k o r
gejala
2 1 0
umur < 1 tahun
kelamin
demam (hari)
LED (mm/jam)
kenaikan LED (hari)
Hb<100 g/1
lekosit (x 10
.
/L)
aritmia
kardiomegali (CTR > 50%)
kelainan EKG
­
­
> 16
> 101
> 30
­
> 30
+
­
+
+
laki-laki
14­15
60-100
­
+
26­30
­
+
­
­
­
< 13
<60
­
­
<26
­
­
­
skor 6 : kemungkinan risiko tinggi AK
PENGOBATAN
Salisilat sangat bermanfaat untuk PK. Obat ini efektif se-
bagai anti­piretik dan anti­inflamasi pada stadium akut dan
sebagai anti­koagulasi dengan menghambat agregasi trombosit
pada masa subakut dan konvalesen
15
. Ternyata komplikasi AK
kurang pada penderita yang diobati salisilat dari pada kortikos-
teroid atau antikoagulasi
3
.
Masih belum ada kesepakatan tentang dosis salisilat. Di
Jepang diberikan 30­50 mg/kg BB/hari pada masa demam
akut, kemudian dikurangi menjadi 10­30 mg/kg BB/hari
sampai hasil pemeriksaan darah dan EKG menjadi normal. Bila
terdapat vaskulitis koronaria, salisilat dilanjutkan 30 mg/ kg
BB tiap 2 hari atau 10 mg/kg BB/Ix/hari selama 4­6 minggu
3
.
Salisilat dosis tinggi dapat memperpendek masa demam,
sedangkan dosis rendah tidak menunjukkan efek anti­
inflamasi.
Salisilat dosis anti­inflamasi dapat mengurangi komplikasi
pada jantung' . Selain itu telah dipakai pub obat-obat anti­
trombotik seperti flurbiprofen, dipiridamol secara luas
3
. Akhir-
akhir ini gammaglobulin (GG) telah digunakan pada
pengobatan PK berdasarkan efek anti­inflamasi. Diberikan
dosis tinggi imunoglobulin sulfonat 400 mg/kg BB/hari se-
lama 2­5 hari pada masa dini untuk memperoleh perbaikan
gejala dengan cepat serta mencegah AK yang berat15
Mekanisme kerja GG dosis tinggi untuk mencegah vasku-
litis belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga dengan cara
menghambat aktivasi imunologik atau reaksi radang yang
langsung terhadap permukaan pembuluh darah, saturasi re-
septor Fc pada trombosit atau sel-sel retikuloendotelial atau
menyiapkan suatu antibodi spesifik terhadap bahan penyebab
PK yang belum diketahui, GG dapat juga menurunkan demam
dengan cepat, mungkin karena sekurang-kurangnya bekerja
mengubah sistem imun.
Leung dkk telah menunjukkan bahwa sesudah infus GG
dosis tinggi terjadi aktivasi balik sel­T dan sel­B. Keadaan
tidak terjadi sesudah pemberian salisilat
15
Bila ditemukan tanda-tanda IM, dianjurkan istirahat dan
diberikan 02, heparin 300­400 unit/kg BB/hari iv atau uro-
kinase 10.000 unit/kg BB/hari
3,6
Untuk mengatasi renjatan kardiogendc dan gagal jantung,
katekolamin (dopamine, dobutamine), vasodilator (nitro-
gleserin, nitroprussid) dan diuretik dapat digunakan. Aritmia
yang berat dapat diatasi dengan infus lidocaine
6
.
RM dengan gagal jantung dapat diobati dengan digitalis,
diuretik & vasodilator. Perikarditis ditanggulangi dengan di-
uretik atau perikardiosentesis
6
. Aortocoronary bypass merupa-
kan tindakan bedah yang efektif terhadap obstruksi berat atau
lesi progresif pada bagian proksimal arteri koronaria. Operasi
plastik valvula dapat dilakukan.pada RM yang berat. Tindakan
bedah dapat Fula dikerjakan pada aneurisma ventrikel kiri dan
obstruksi arteri perifer yang lain
6
.
PROGNOSIS
PK ialah suatu penyak# yang dapat sembuh sendiri jika
tidak berkomplikasi. Biasanya penyakit itu berlangsung antara
2 minggu sampai beberapa minggu dengan kemungkinan re-
kuren 2­3%. Angka kematian 1­2% oleh komplikasi pada
arteri koronaria dan jantung
3
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
40
background image
RINGKASAN
Penyakit Kawasaki ialah suatu penyakit peradangan multi-
sistem yang penyebabnya belum diketahui. Gejala-gejala utama
terdiri ats demam lebih 5 had, kongesti bilateral konyungtiva
bulbi, kelainan bibir dan rongga mulut, perubahan bagian
perifer anggota gerak, eksantem polimorf tanpa vesikel dan
krusta pada badan, dan limfadenopati servikalis.
Untuk diagnosis harus terdapat sekurang-kurangnya 5 dari
6 gejala tersebut ("MCLS Research Committee").
AK, OK, IM dari kelainan katup jantung yang berat me-
rupakan komplikasi yang paling serius. Penderita yang diobati
dengan salisilat dan GG dosis tinggi kurang mendapat
komplikasi kardiovaskuler. Tindakan bedah dapat dikerjakan
pada kasus tertentu. Yang tidak disertai komplikasi, mem-
punyai prognosis baik.
KEPUSTAKAAN
1.
Daniels SR, Specker B, Capannani TE. Correlates of Coronary Artery
Aneurysm Formation in Patients with Kawasaki Disease Am J Dis Child
1987; 141 : 205­207.
2.
Feigin RD, Barron KS. Treatment of Kawasaki Syndrome New Engl J
Med 1986; 7 : 388­390.
3.
Lee DB. Kawasaki's Disease: Symptoms, Diagnosis and Manage ment J
Pediatr Obat Gynaecol 1984; 10 : 7­10.
4.
Farmer K. Kawasaki ,Disease Mucocutaneous Lymph Nodes Syndrome J
Pediatr Obst Gynaecol 1987; 13 : 37­40.
4.
Takahashi M, Mason W. Kawasaki Syndrome, Reye Syndrome, and
Aspirin Pediatrics 1986; 77 : 616­617.
5.
Takao A. Kawasaki Disease: Introduction, International Survey and
Therapeutic Guidelina Naskah Lengkap Simposium dan Seminar
Kardiologi Anak Semarang 1986.
6.
Dean AG,
,
Melish ME, Hicks R, Palumbo NE. An Epidemic of Kawasaki
Syndrome in Hawai J Pediatr 1982; 100 : 552­557.
7.
Lee AL, Burns J, Glode M, Harmon C. No Autoantibodies to Nuclear
Antigens in the Kawasaki Syndrome New Engl J Med 1983; 308 : 1034.
8.
Meade R, Brandt L. Manifestations of Kawasaki Disease in New England
Outbreak of 1980 J Pediatr 1982; 100 : 558­562.
9.
Stoler J, Biller JA, Grand RJ. Pancreatitis in Kawasaki Disease Am J Dis
Child 1987; 141 : 306­308.
10.
Koren G, Lavi S, Rose V, Rowe R. Kawasaki Disease: Review of Risk
Factors for Corpnary Aneurysms J Pediatr 1986; 108 : 338-392.
11.
Kato H, Inhinose E, Kawasaki T. Myocardial Infarction in Kawasaki
Disease: Clinical Analysis in 195 Cases J Pediatr 1986; 108 : 923­927.
12.
Kato H, Inhinose E, Kawasaki T. Myocardial Infarction in Ka wasaki
Disease: Clinical Analysis in 195 Cases J Pediatr 1986; 108 : 923­927.
13.
Nakano H. Saito A, Ueda K, Nojima K. Clinical Characteristics of
Myocardial Infarction Following Kawasaki Disease: Report of 11 Cases J
Pediatr 1986; 108 : 198­203.
14.
Sasaguni Y, Kato H. Regression of Aneurysms in Kawasal i Disease A
Pathological Study J Pediatr 1982; 100 : 225­231.
15.
Newberger JW, Takahashi M, Burns J. The Treatment of Kawasaki
Syndrome with Intravenous Gammaglobulin New Engi I Med 1986; 315 :
341­347.