background image
HASIL PENELITIAN
Kadar Asam Urat Serum
pada Penderita Katarak
penelitian kasus-kontrol
Enni Cahyani, Suhardjo, Mu'ttasimbillah Ghozi, Wasisdi Gunawan
Bagian Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
Katarak masih merupakan penyebab utama kebutaan di negara berkembang.
Prevalensi kebutaan di Indonesia tahun 1991 sebesar 1,2% dengan kebutaan karena
katarak sebesar 0,67%, dan pada tahun 1996 meningkat menjadi 1,47%. Katarak terjadi
karena lensa mata berubah menjadi keruh dengan berbagai penyebab terutama proses
ketuaan atau katarak senilis. Dengan bertambahnya angka harapan hidup maka
diperkirakan pada tahun 2010 prevalensinya akan meningkat menjadi dua kali. Selain
proses penuaan katarak senilis juga dipengaruhi berbagai faktor antara lain: gangguan
metabolisme, penyakit sistemik, paparan sinar ultra violet B, kurangnya intake vitamin
dan mineral, indeks masa badan, riwayat pemakaian obat jangka panjang, dan asap
rokok. Telah diketahui bahwa asam urat juga ditemukan di dalam lensa katarak
maupun di dalam serum. Diperkirakan bahwa asam urat serum yang tinggi berhubung-
an dengan lensa secara tidak langsung seperti paparan sinar ultra violet terhadap lensa.
Dilakukan penelitian kadar asam urat serum pada penderita katarak senilis.
Penelitian kontrol kasus dilakukan pada penderita katarak senilis yang datang ke
Poliklinik mata RSUP Dr Sardjito selama bulan Maret sampai dengan Agustus 1997.
Didapatkan nara coba sebanyak 150 penderita dengan perincian 78 penderita kasus dan
72 sebagai penderita kontrol. Hasil yang didapat kelompok kasus didapatkan kadar
asam urat rerata 6,175
±1,52 mg/dl dan kelompok kontrol dengan kadar asam urat rerata
4.437
±0,97 mempengaruhi terhadap jenis katarak (P*: 0,5075). Pada penelitian ini
didapat kenaikan kadar asam urat pada penderita katarak senilis, hal ini menunjukkan
bahwa asam urat juga merupakan salah satu faktor terbentuknya katarak senilis dengan
OR.: 26,66 (8,98<OR<83,04).
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan asam urat pada
orang tua merupakan faktor risiko terjadinya katarak senilis.
Kata kunci: Katarak senilis-proses penuaan-peningkatan asam urat-faktor risiko-
paparan sinar ultra violet.
PENGANTAR
Katarak terjadi apabila lensa mata berubah menjadi keruh
akibat berbagai penyebab antara lain genetik, kongenital, meta-
bolik, traumatik, toksik, senilis, yang paling banyak dijumpai
adalah katarak senilis
(1,2,3)
. Katarak timbul karena sel lensa
mata sangat rentan terhadap gangguan mekanik maupun
hilangnya susunan kimia lensa, sedang sel lensa tidak meng-
alami pergantian dan dipertahankan selama hidup
(4)
.
Katarak banyak ditemukan di klinik penyakit mata, dan
selalu dijumpai pengunjung baru. Di negara berkembang kata-
rak merupakan 50-70% dari seluruh penyebab kebutaan, selain
kasusnya banyak dan munculnya lebih awal. Di Indonesia
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
32
background image
tahun 1991 didapatkan prevalensi kebutaan 1,2% dengan
kebutaan katarak sebesar 0,67%
(2)
, dan tahun 1996 angka ke-
butaan meningkat 1,47%.
(5)
Dengan bertambahnya usia harapan
hidup dan populasi usia lanjut, diperkirakan pada tahun 2010
prevalensi kebutaan katarak meningkat dua kali lipat
(2)
. Oleh
karena itu WHO mencanangkan program penurunan angka ke-
butaan dengan mengendalikan katarak senilis sehingga pada
tahun 2000 angka kebutaan turun 0,5%.
(5)
Katarak senilis adalah kekeruhan lenca baik di korteks,
nuklearis tanpa diketahui penyebabnya dengan jelas, dan mun-
cul pada usia 40 tahun.
(6,7)
Beberapa penelitian mengatakan,
bahwa katarak senilis dipercepat oleh beberapa faktor antara
lain: penyakit diabetes melitus, hipertensi dengan sistole naik
20 mmHg
(6,7,8)
, paparan sinar ultra violet B dengan panjang
gelombang antara 280-315 µm lebih dari 12 jam
(2)
, indeks masa
badan lebih dari 27
(2)
, asap rokok lebih dari 10 batang/hari baik
perokok aktif maupun pasif
(10)
, lama mengenyam pendidikan
formal kurang dari 12 tahun atau kurang kelas 9
(8,11)
. Penelitian
yang dilakukan Leske juga mendapatkan bahwa, kadar asam
urat serum juga berperan dalam menimbulkan katarak berbagai
jenis dengan OR, 1.98; P = 0,01
(2)
. Penelitian lain mendapatkan
adanya asam urat di dalam korteks lensa.
Asam urat merupakan hasil metabolisme purin, dan hampir
dapat ditemukan dalam seluruh jaringan, terutama yang tidak
ada atau sedikit aliran darahnya. Asam urat mudah terionisasi
sehingga membentuk garam monosodium urat, disodium urat
dan postasium urat, dan apabila kemampuan larut garam di
dalam cairan terlampaui mudah membentuk kristal mono-
sodium urat monohidrat yang sangat tajam
(12)
. Bentuk kristal
dapat ditemukan pada kornea, lensa, skera, tarsus dan tendi
muskulus ektraokuler
(13)
. Kadar serum asam urat normal pada
laki-laki 3,3-7,9 mg/100 ml dan wanita 2,2-6,1 mg/100 ml
dengan SD 0,04
(14)
. Penelitian di Rumah Sakit Sardjito Yogya-
karta mendapatkan rerata kadar serum asam urat pada orang
dewasa 6,23 mg/100 ml dengan SD 1,7171
(15)
. Pada penderita
Gout/hiperurikemia, kadar serum asam urat kurang dari 7
mg/dl sudah dapat merusak tubulus ginjal, dikatakan pula
kenaikan kadar serum asam urat 5-10% dari batas maksimal
sudah menimbulkan berbagai kelainan
(12)
. Pemeriksaan histo-
logi kornea pada penderita Gout yang menderita keratopati pita
menjumpai kristal urat.
(13)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada
kenaikan kadar asam urat serum pada penderita katarak senalis
dibanding dengan penderita bukan katarak.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol pende-
rita katarak senilis yang berkunjung di Poliklinik Sardjito dan
dilakukan setelah mendapatkan izin dari Komisi Etik Penelitian
Biomedik pada Manusia Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada dan persetujuan dari penderita nara coba. Peng-
ambilan nara coba sebesar 150 penderita berumur antara 40-80
tahun, dari tanggal 19 Maret 1997 sampai dengan 15 Agustus
1997, dengan perincian 78 kasus yaitu penderita katarak senilis
dan 72 penderita sebagai kontrol yaitu bukan penderita katarak.
Nara coba kelompok kasus dan kontrol pada penelitian ini
sesuai dengan kriteria inklusi juga diperiksa keadaan fisik dan
oftalmologis lengkap, diselaraskan tempat tinggalnya, jenis
kelamin serta umur jangkauan 3 tahun, lama mengenyam pen-
didikan dan pekerjaan. Penderita juga diperiksa kadar gula
darah sesaat dan asam urat serum dengan Monarch Chemistry
System. Tujuh kasus dan 1 kontrol dikeluarkan dari penelitian
karena kandungan kadar gula darah sesaat lebih dari 150 mg/dl,
sehingga yang diikutkan dalam analisis adalah 71 kasus dan 71
kontrol. Analisis data dengan uji perbedaan rerata secara statis-
tik. Data dengan variabel kontinu atau variabel interval diana-
lisis dengan Student T test, data dengan variabel nominal dan
ordinal dianalisis dengan Chi Square. Peran variabel penggang-
gu dianalisis dengan regresi logistik berganda. Uji data dengan
one tail test.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini antara kasus dan kontrol diselaraskan
tempat tinggalnya, diambil dari wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta, jenis kelamin dan umur sehingga pengaruh tempat
tinggal, jenis kelamin, dan penelitian diabaikan.
Distribusi jenis pekerjaan antara kasus dan kontrol terdapat
perbedaan yang bermakna (P*: 0,03). Kelompok kasus terba-
nyak ibu rumah tangga kemudian disusul pegawai negeri, se-
dang pada kontrol terbanyak pegawai negeri kemudian diikuti
oleh ibu rumah tangga. Jenis pekerjaan bagi nara coba kasus
dibandingkan dengan kontrol digambarkan dalam Tabel 3.
Umur di dalam penelitian telah diselaraskan antara kasus
dan kontrol sehingga tidak menunjukkan perbedaan, sehingga
pengaruh umur dari penelitian diabaikan (Tabel 4).
Kelompok kontrol mengenyam pendidikan lebih lama
dibanding dengan kelompok kasus, dan perbedaan ini secara
statistik bermakna (P* : 0,015) (Tabel 4).
Tabel 1. Distribusi menurut alamat antara kasus dengan kontrol.
Alamat Kasus
(%)
Kontrol
(%)
P
(t-test)
Kodya Yogya
26 (36,6)
26 (36,6)
Sleman
34 (47,9)
34 (47,9)
Bantul
9 (12,7)
9 (12,7)
Gunung Kidul
1 (1,4)
1 (1,4)
lain-lain
1 (1,4)
1 (1,4)
Jumlah
71 (100)
71 (100)
1,000
(tidak berbeda
bermakna)
Tabel 2. Distribusi menurut jenis kelamin antara kasus dengan kontrol.
Alamat Kasus
(%)
Kontrol
(%)
P
(t-test)
Laki-laki
30 (42,3)
30 (42,3)
Perempuan
41 (57,7)
41 (57,7)
Jumlah
71 (100)
71 (100)
1,000
(tidak berbeda
bermakna)
Tabel 3. Jenis pekerjaan bagi kasus dan kontrol.
Alamat Kasus Kontrol
PNS/Pensiun
21 (29,6%)
36 (50,7%)
Swasta
8 (11,3%)
5 (7,0%)
Petani
5 (7,0%)
1 (1,4%)
ABRI/Pensiun
12 (16,9%)
5 (7,0%)
Ibu rumah tangga
23 (32,4%)
24 (33,8%)
Lain-lain
2 (2,8%)
0 (0%)
Keterangan
*P = 0,03
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 33
background image
Tabel 4. Karakteristik NaraCoba.
Variabel
Kasus
Rerata ± SB
Kontrol
Rerata ± SB
P (t-test)
Umur
63,126 ± 6,441
62,380 ± 6,504
0,493
Lama Pendidikan
5,732 ± 4,802
9,845 ± 4,597
0,000
Indeks masa badan
22,490 ± 3,931
23,432 ± 3,793
0,148
Tekanan sistolik
144,366 ±23,588
132,746 ±21,075
0,002
Leske dkk. pernah meneliti bahwa, seseorang yang me-
nempuh pendidikan formal kurang dari 12 tahun atau kurang
dari kelas 9 mempunyai risiko terjadi katarak lebih tinggi.
(8,11)
Pada penelitian ini lama mengenyam pendidikan kelompok
kasus maupun kontrol masih lebih pendek dibanding dengan
penelitian di negara barat, tetapi antara keduanya menunjukan
adanya perbedaan yang bermakna dalam menderita katarak
pada usia yang sama.
Indeks Masa Badan antara kedua kelompok tersebut tidak
berbeda bermakna. Indeks Masa Badan (IMB) (*P : 0,148),
(Tabel 5).
Tabel 5. Distribusi Indeks Masa Badan (IMB)
Kasus Kontrol
IMB
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
< 22
19 (57,6%)
14 (42,4%)
9 (36,0%)
16 (64,0%)
22-25
7 (41,2%)
10 (58,8%)
15 (60%)
10 (40,0%)
25-27,8
3 (23,1%)
10 (76,9%)
4 (28%)
10 (71,4%)
> 27,8
1 (12,5%0
7 (87,5%)
2 (28,6%)
5 (71,4%)
(*P : 0,148)
Tingginya indeks masa badan dapat menyebabkan naiknya
konsentrasi serum asam urat dan berisiko menderita penyakit
Gout, dan salah satu obat Gout (allupurinol) terbukti menye-
babkan katarak.
(9,16)
Indeks masa badan tinggi cenderung me-
naikkan tekanan darah, dan juga diduga berpengaruh terjadinya
katarak.
(6)
Pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna antara kelompok kasus dan kontrol (*P : 0,148).
Pada penelitian ini indeks masa badan lebih dari 27,8; kasus
maupun kontrol, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai
persentase terendah dari seluruh pengelompokan. Jika dilihat
dari pembagian tabel indeks masa, yang mempunyai nilai dari
27,8 kasus maupun kontrol tersebut terdapat pada perempuan.
Glynn dkk., dengan penelitian kohort didapatkan laki-laki sehat
dengan indeks masa badan yang tinggi mempunyai kecen-
derungan menderita katarak. Namun demikian mekanismenya
tidak dijelaskan dengan pasti. Penelitian di sini sesuai dengan
pendapat Glynn, sehingga indeks masa badan tidak mem-
pengaruhi terjadinya katarak.
Distribusi kebiasaan merokok antara kasus dan kontrol
tidak bermakna (*P : 0,241), (Tabel 6)
Menurut Sheilla merokok aktif meupun pasif lebih dari 10
batang tiap hari dapat menimbulkan kekeruhan lensa.
(10)
Pada
penelitian di sini nara coba dibatasi bagi mereka yang mem-
punyai kebiasaan merokok baik aktif maupun pasif kurang dari
10 batang tiap hari, sehingga pengaruh faktor merokok dapat
disingkirkan sebagai penyebab katarak.
Banyaknya paparan sinar matahari antara kelompok kon-
trol dengan kelompok kasus berbeda tidak bermakna (*P :
0,393), (Tabel 7)
Health Sector Priorities Review mendapatkan bahwa kata-
rak juga dipengaruhi oleh lamanya terpapar sinar matahari. The
Nepal Eye Survey menyatakan bahwa banyaknya paparan sinar
matahari pada masing-masing individu selain dipengaruhi oleh
lamanya terpapar matahari (lebih dari 12 jam), juga dipeng-
aruhi oleh faktor ketinggian dan keadaan yang dapat menutupi
matahari misalnya awan, selain itu juga bergantung pada pe-
kerjaan serta perlindungan diri dengan memakai topi, kaca-
mata. Taylor, dkk., mengatakan bahwa pemaparan sinar mata-
hari yang dapat menimbulkan katarak terutama adalah sinar
ultra violet. Pada penelitian di sini baik kasus maupun kontrol
pemaparan terbanyak antara 6 sampai 12 jam, menurut Taylor
belum berisiko menimbulkan katarak. Selain pengaruh lamanya
paparan matahari, pada penelitian ini pengaruh faktor-faktor
lain yang mempengaruhi paparan sinar matahari dianggap sama
antara kelompok kasus dan kontrol karena diambil dari daerah
geografi yang sama.
(2)
Kadar asam urat kasus lebih tinggi dibandingkan dengan
kontrol, dan menurut statistik berbeda bermakna (*P : 0,000),
(Tabel 8).
Menurut Emmerson kenaikan asam urat dapat karena: 1)
faktor genetik, apabila terdapat kelainan enzim untuk sintesa
purin, pada penelitian di sini tidak dilakukan pemeriksaan
enzim, dan 2) yang didapat antara lain : kelainan hemopoitik,
nutrisi, gangguan ginjal, pemakaian obat-obatan serta penyakit
sistemik. Kenaikan asam urat kasus penelitian ini diduga
karena :
a) penyakit sistemik ialah hipertensi, karena penderita hiper-
tensi yang tidak diobati 20-30% akan mengalami hiperuri-
kemia
(17)
;
b)
penderita hipertensi yang diobati dengan golongan hidro-
chlorothiazid, antara lain : HCT, dan fotosemid juga akan me-
naikkan kadar asam urat serum
(18)
.
Tabel 6. Kebiasaan merokok antara kelompok Kasus dan Kontrol
Variabel
Kasus
Kontrol
P
Tidak merokok
53 (74%)
56 (78,9%)
Perokok aktif < 10 batang/hari
10 (14,1%)
4 (5,6%)
Perokok pasif < 10 batang/hari
8 (11,3%
11 (15,5%)
0,241
tidak
bermakna
Tabel 7. Banyaknya Paparan Sinar Matahari antara Kasus dan Kontrol.
Paparan sinar matahari
Kasus
Kontrol
P
Kurang dari 6 jam
2 (2,8%)
2 (2,8%)
Antara 6 ­ 12 jam
65 (91,9%)
68 (95%)
Lebih dari 12 jam
4 (5,6%)
1 (1,4%)
0,393
berbeda tidak
bermakna
(*P : 0,393)
Tabel 8. Hasil pemeriksaan asam urat serum Kasus dan Kontrol.
Rerata P
Kasus
6,175 ± 1,52
Kontrol
4,437 ± 0,97
0,000
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
34
background image
Di antara kelompok kasus tingginya kadar asam urat tida
menunjukkan perbedaan terhadap janis katarak (*P : 0,5075).
(Tabel 9)
Tabel 9. Jenis katarak dihubungkan dengan kadar asam urat.
Jenis katarak & lensa
Jumlah
Rerata ± SB
Campuran/matur
15
5,760 ± 1,835
Kortikalis
13
6,007 ± 1,457
Subkapsularis
5
6,620 ± 0,676
Nuklearis
25
6,122 ± 1,546
Pada penelitian ini tingginya asam urat tidak khas untuk
tiap-tiap jenis katarak. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa
tingginya asam urat menaikkan risiko kekeruhan lensa berbagai
jenis, pengaruhnya sama dengan pemakai obat-obatan pada
penderita Gout. Terjadinya katarak karena tingginya asam urat
atau akibat pemakaian obat-obatan kataraktogenik tidak
dijelaskan dengan rinci. Penelitian tingginya asam urat yang
diduga meningkatkan risiko katarak campuran dengan odd
ratio 0,43 didapatkan di Italia
(16)
. Penelitian di sini juga
memperoleh hasil bahwa kadar asam urat serum yang tinggi
terdapat pada penderita katarak, sedang risiko terjadinya kata-
rak karena pengaruh obat-obat kataraktogenik disingkirkan
dengan kuesioner.
Beberapa faktor pengganggu terbentuknya katarak di
dalam penelitian ini ialah tekanan sistolik, lamanya meng-
enyam pendidikan, dan jenis pekerjaan. Apabila dilakukan
analisis regresi berganda dengan variabel tergantungnya asam
urat, sistolik, lama pendidikan, jenis pekerjaan kemungkinan
faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya katarak dapat
dilihat dalam Tabel 10.
Tabel 10. Tabel regresi berganda untuk mengetahui peran faktor-faktor
lain dalam terjadinya katarak.
Variabel Koefisien
Signifikan
Asam urat
0,426846
0,0000 (signifikan)
Sistolik 0,106358
0,2246
Pendidikan -0,216644 0,0032
(signifikan)
Pekerjaan 0,057283
0,4139
Konstanta
0,421
Dari analisis regresi berganda pada penelitian ini terlihat
bahwa asam urat dan pendidikan mempengaruhi terjadinya
katarak. Besarnya pengaruh untuk terjadinya katarak dapat
dilihat dalam Tabel 10.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Leske yaitu tentang
Biochemical Factor in Lens Opacities Case Control Study
didapatkan bahwa asam urat tinggi menaikkan risiko katarak
berbagai jenis
(16)
. Sedang lamanya mengenyam pendidikan for-
mal lebih dari 12 tahun atau mengenyam pendidikan sampai
kelas 9 menurunkan risiko katarak
(8,11)
.
Pada penelitian terdahulu dikatakan kenaikan tekanan sis-
tolik lebih dari 20 mmHg sudah dapat menimbulkan katarak
(8)
.
Jenis pekerjaan-pekerjaan yang banyak berhubungan dngan
sinar ultra violet seperti petani, pekerja lapangan, serta orang
yang senang berjemur pada siang hari, serta operator sinar
radiasi juga dapat menimbulkan katarak.(
3,9,19)
Pada penelitian ini perhitungan jumlah sampel berdasarkan
atas perbandingan rerata kadar asam urat pada kedua kelom-
pok, dan tidak ditujukan untuk suatu analisis regresi berganda.
Dengan demikian ada kemungkinan ketidakbermaknaan,
faktor-faktor tersebut di atas dalam terjadinya katarak pada pe-
nelitian ini disebabkan oleh jumlah sampel yang tidak adekuat.
Pada penelitian ini telah dapat diungkapkan bahwa kadar
asam urat serum penderita katarak lebih tinggi dibanding bukan
katarak. Besarnya kadar asam urat penderita katarak pada pe-
nelitian di sini tidak mempengaruhi jenis katarak. Selain faktor
asam urat yang mempengaruhi timbulnya katarak adanya
pengaruh dari lama mengenyam pendidikan.
Jika dihitung OR terjadinya katarak pada penderita dengan
asam urat tinggi (>60 persentil) dibanding penderita dengan
kadar asam urat rendah (<40 persentil) adalah sebesar 26,66
dengan 95% confidence interval : 8,98-83,04 (Tabel 11).
Tabel 11. OR asam urat pada penderita katarak dengan persentil < 40
(4,9 mg/dl) dan > 60 (5,56 mg/dl).
Kasus
Kontrol
Total
Asam urat tinggi
46
11
57
Asam urat rendah
8
51
59
Total 54
62
116
Dengan melihat hasil Odd Ratio asam urat sebagai faktor
risiko terjadinya katarak, maka pada penelitian ini penderita
dengan asam urat tinggi (dengan persentil >60 = 5,56 mg/dl)
mempunyai risiko menderita katarak sebesar 26,66 kali dengan
jangkauan antara 8,981-83,04 jika dibanding dengan penderita
dengan asam urat rendah (dengan persentil <40 = 4,96 mg/dl),
dan secara statistik bermakna dengan *P : 0,00.
Pada penelitian ini yang mempengaruhi terjadinya katarak
selain asam urat juga lamanya mengenyam pendidikan, jika
dihitung OR terjadinya katarak pada penderita yang meng-
enyam pendidikan panjang (>60 persentile) dibandingkan
dengan kadar asam urat rendah (<40 persentile) adalah sebesar
0,22 dengan 95% confidence interval : 0,09-0,52 (Tabel 12)
Tabel 12. OR lama mengenyam pendidikan pada penderita katarak
dengan persentile < 40 (6 tahun) dan > 60 (12 tahun)
Kasus
Kontrol
Total
Lama pendidikan panjang
22
47
69
Lama pendidikan singkat
32
15
47
Total 54
62
116
Keterangan:
Odds ratio : 0,02 (0,09 <OR<0,52) dengan *P : 0,00012.
Dengan melihat hasil Odd Ratio lama mengenyam pen-
didikan sebagai risiko terjadinya katarak, maka pada penelitian
ini penderita dengan lama pendidikan panjang (dengan per-
sentil >60 = 12 tahun) tidak berisiko menderita katarak sebesar
0,22 kali dengan jangkauan antara 0,09 ­ 0,52 jika dibanding
dengan pendidikan singkat (dengan persentil <40 = 6 tahun),
dan secara statistik bermakna dengan *P : 0,00012.
Jika kedua pengaruh terjadinya katarak pada penelitian ini
dilakukan analisis bertingkat maka didapatkan hasil OR sebesar
26,66 dengan 95% confidence interval : 1,11-3,43.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 35
background image
KESIMPULAN
Kadar asam urat serum rata-rata penduduk Indonesia yang
menderita katarak senilis meningkat sebesar 39,17% dibanding
penderita bukan katarak pada usia sama. Pada penelitian ini
asam urat tinggi (>60 persentil = 5,56 mg/dl) berisiko me-
nimbulkan katarak sebesar 26,66 kali dibanding penderita
dengan asam urat rendah (<40 pesentil = 4,96 mg/dl), dengan
memperhitungkan lama mengenyam pendidikan singkat (< 40
persentil = 6 tahun).
Besarnya kadar asam urat pada penderita katarak tidak
mempengaruhi jenis katarak. Selain kadar asam urat serum
yang mempengaruhi timbulnya katarak adalah lamanya meng-
enyam pendidikan. Ketidakbermaknaan dalam analisis reduksi
berganda kemungkinan disebabkan karena perhitungan sampel
berdasar atas perbandingan rerata kadar asam urat pada kedua
kelompok dan tidak ditujukan untuk suatu analisis regresi
berganda.
KEPUSTAKAAN
1.
Harding JJ, Van Heyningen R. Epidemiology and Risk Factor for
Cataract. Eye 1987; I: 537-41.
2.
Javitt JC. Health Sector Priorities Review: Cataract. Suggeted citation :
Jamiston DT, & Mosley WH (ed), Disease Control Priorities in
Developing Countries. New York : August, 1991.
3.
Leske MC, Sperduto RD. The Epidemiology of Senile Cataracts : A
Review. Am J Epidemiol 1983; 118(2) : 152-65.
4.
Berger BB, Emery JM, Brown NV, Sanders DR, Peymen GA. The Lens
Cataract and Its Management. In : Peyman GA, Sanders DR, Goldberg
MF, editors. Principles of Practice of Opthalmology. Vol. 1 Chap. 7.
Chicago : University Book Pub Co 1983.
5.
Inovatif Kebutaan Departemen Kesehatan. Pengembangan Fungsi RS
Mata Cicendo Sebagai Rujukan Nasional. IGP. RS. Mata Cicendo
Bandung, 1996.
6.
Glynn RJ, Christen W, Manson JE, Bernheimer J, Hennekens CH. Body
Mass Index. An Independent Predictor of Cataract. Arch Ophthalmol
1995; 113 : 1131-7.
7.
Straatsma BR, Lightfoot DO, Barke RM, Horwittz J. Lens Capsule and
Epitheliun in Age-related Cataract. AmJ. Ophthalmol. 1991; 112: 283-96.
8.
Hiller R, Sperduto RD, Ederer F. Epidemiologic Associations With
Cataract in The 1971-1972 National Health and Nutrition Examination
Survey. Am J Epidemiol 1983; 118 : 239-49.
9.
Mohan M, Sperduto RD, Anggra SK, et al. The India-US Case-Control
Study Group. India-US Case-Control Study of Age-Related Cataracts.
Arch Ophthalmol. 1989; 107: 670-6.
10.
Sheila W, Beatrize M, Oliver DS, Susan V, Maureen M, Hugh RT, Neil
RT. Cigarette smoking ang Risk for Progression of Neclear Opacities.
Arch Ophthalmol 1995.
11.
Leske MC, Chylack LT, Suh-Yuh Wu. The Lens Opacities Case-Control
Study Group. Epidemiology and Biostatistics. Risk Factor for Cataract.
Arch Ophthamol. 1991; 109: 244-51.
12.
Kelley WN, Fox IH, Palella TD. Gout and Related Disorder of Purine
Metabolism. In Kelley WN, Harris ED, Ruddy S, Sledge CB, editors.
Textbook of Rheumatology. Crystal-Associated Synovitis. Sec XV, chap.
78,3
rd
ed. Phyladelphia : Saunders 1989.
13.
LaPiana FG. Renal Diseases. In : Clinical Ophthalmologi ­ Sistemic
Ophthalmology. FrancisDuane TD, Jaeger EA, (editors). Vol. V,
Philadelphia: Harper 1987.
14.
Monarch Chemistry System. Reaagent/Application Reference Manual.
Instrumentation Laboratory Co. Lexington-USA : 1992.
15.
Noer W. Penelitian Kasus Kelola: Masukan Diet Penderita Laki-laki
Dengan Infark Miokard Akut Baru Yang Hidup di RSUP Dr. Sardjito-
Yogyakarta. Fak. Kedokt UGM, 1993.
16.
Leske MC, Suh-Yuh Wu, Hyman L, et al. Biochemical Factors in the
Lens Opacities Case-Control Study. Arch Ophthalmol. 1995; 113-9.
17.
Emmerson BT. Hyperuricaemia and Gout in Clinical Practice, Sydney:
AIDS Health Science Press 1983.
18.
Goodman and Gilman's. The Pharmacological Basic of Theurapeutics.
New York : Pergamon Press Inc. 1990.
19.
Jacques PF, Chylack LT, McGandy RB, Hartz SC. Antioxidant Status in
Person with ang without Senile Cataract. Arch Ophthalmol. 1988; 106:
337-40.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
36