Pengetahuan Penderi
Tentang Penyak
ta Tuberkulosis Paru
it Tuberkulosis
Tjandra Yo
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokt
Rumah Sakit Pers
g
er
a
a Aditama
an Universitas Indonesia/Unit Paru
habatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Panyakit tuberkulosis paru sudah amat lama dikenal di
negara kita. Catatan peninggalan tertua penyakit ini di Indo-
nesia mungkin adalah seperti apa yang tampak pada relief-
relief di Candi Borobudur' . Prevalensi penyakit ini pada saat
ini adalah sekitar 0,3%, sedangkan target di dalam Sistem
Kesehatan Nasional (S.K.N.) adalah menurunkan prevalensi itu
menjadi 0,2% di tahun 2000
2
.
Usaha menurunkan angka prevalensi ini antara lain barupa
upaya penemuan dan pengobatan penderita. Seperti diketahui,
pengobatan tuberkulosis membutuhkan waktu yang cukup
lama, dan untuk ini diperlukan kesadaran penderita untuk
menyelesalkan pengobatannya dengan baik.
Kesadaran dan motivasi
Salah satu kesadaran utama dalam penanganan kasus tuber-
kulosis adalah bagaimana memotivasi penderita agar mereka
mau menyelesaikan
"
pengobatannya sesuai waktu yang telah
ditetapkan
3,4
.
Kurangnya motivasi dan kesadaran ini dapat
terjadi karena kurangnya pengetahuan penderita tentang
penyakitnya dan bagaimana mengobatinya, pelayanan yang
kurang memuaskan dari pihak penyelenggara fasilitas ke-
sehatan, faktor sosio-budaya dan lain-lain"
Pengetahuan tentang tuberkulosis
Kim dkk
3
melakukan penelitian dan membagikan kuesioner
pada 1653 orang di Korea Selatan untuk mengetahui pemaha-
man mereka tentang tuberkulosis. Responden pada penelitian
ini adalah mereka yang tinggal serumah atau bertetangga
dengan penderita penyakit tuberkulosis paru. Hasil penelitian
Kim dkk ini menunjukkan bahwa 57%. responden telah me-
ngetahui bahwa tuberkulosis disebarkan lewat infeksi, se-
mentara sebagian lainnya masih beranggapan bahwa tuber-
kulgsis adalah penyakit turunan. Mengenai sarana diagnostik
terpenting untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis, hanya
10% yang menyatakannya sebagai pemeriksaan sputum/
dahak, sementara 79% lainnya menganggap ronsen toraks
merupakan sarana diagnostik terpenting. Sebagai kesimpulan,
da 2247 responden
Jepang ntuk mengetahui pengetahuan mereka tentang
tuberkulosi
tar 60% respondennya telah mengetahui
bahwa tuberkulosis disebarkan lewat infeksi, sementara sekitar
20% masih beranggapan bahwa tuberkulosis terjadi karena
infeksi dan karena faktor keturunan. Penelitian Shimao dkk ini
juga menunjukkan bahwa di Jepang tuberkulosis paru
menduduki peringkat ke 6 dari penyakit yang paling tidak
disukai masarakat
6
.
Roy
7
melakukan penelitian pada 104 penderita tuber-
kulosis yang dirawat di rumah sakit di daerah Sabah, Malaysia.
77% penderitanya merasa bahwa mereka dirawat di rumah
sakit karena menderita batok kering, dan 71% penderita ini
tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit menular.
70,2% penderita yang dimasukkan dalam penelitian ini tidak
mengetahui penyebab penyakit tuberkulosis, sementara hanya
12% penderita yang mengetahui manfaat dari imunisasi BCG
itu. Kendati menyadari bahwa jumlah kasus yang ditelitinya
masih amat terbatas, Roy mengambil kesimpulan bahwa
merawat penerita di rumah sakit tidaklah sekaligus berarti akan
meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit yang
dideritanya
7
.
Situasi di Indonsia
Di negara kita belum pernah dilakukan penelitian dalam
skala besar tentang pengetahuan masarakat/penderita ten-tang
penyakit tuberkulosis paru, walaupun memang beberapa usaha
ke arah itu sudah pernah dilaksanakan.
De Langen (dikutip dari Rasmin Rasjid
s
) pada tahun 1919
melaporkan bahwa masyarakat Indonesia ketika itu meng-
anggap tuberkulosis ini disebabkan oleh black magic, kesu-
sahan, faktor turunan dan lain-lain. Di pihak lain, Widodo
(dikutip dari Rasmin Rasjid
s
) menyatakan bahwa sebagian
besar masyarakat Indonesia di tahun 1976 telah cukup me-
ngetahui tentang tuberkulosis
walaupun di sana-sini
masih saja ada yang menganggap bahwa tuberkulosis ini
Kim menganggap bahwa pengetahuan masyarakat tentang
tuberkulosis masih belum memadai
3
.
Shimao dkk
6
membagikan kuesioner pa
di
u
s. Seki
paru;
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
36
disebabkan oleh black magic
8
.
ba
tube
menyatakan bahw
emapasan
9
.
engetahuan penderita yang dirawat di rumah sakit
Untuk mengetahui pola pemahaman penderita t
paru tentang penyakit ya
melalukan pengamatan p
ang dirawat di Unit Paru RS Persahabatan.
iminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disusun
alam suatu kuesioner tertentu. Jumlah responden yang hanya
0 itu memang amat terbatas dan belum akan dapat
emberikan gmabaran umum tentang pengetahuan penderita
rkulosis yang dirawat di rumah sakit, tetapi setdaknya
engamatan ini diharapkan dapat memberi gambaran kasar
ntang hal itu.
a yang menjawab pertanyaan pada kuesio-
ner
uberkulosis dapat
men
Penelitian di daerah Pasar Minggu Jakarta menunjukkan
hwa 88,3% responden menyatakan sudah mengerti bahwa
rkulosis ini disebabkan oleh kuman, dan 88% responden
a penularan tuberkulosis adalah lewat
p
P
uberkulosis
ng dideritanya, maka penulis telah
ada 50 penderita tuberkulosis paru
y
d
Setiap penderita
d
5
m
tube
p
te
Dari 50 penderit
ini 64% adalah laki-laki dan 36% wanita, dengan lama rata-
rata hari perawatan selama 12,76 hari. 20% penderita berumur
di bawah 20 tahun, 64% umumya antara 20 dan 40 tahun,
sedangkan 16% sisanya berumur antara 40 60 tahun. Ditinjau
dari sudut pendidikan nampak bahwa 4% penderita ini tdak
sekolah dan 4% lainnya berpendidikan perguruan tinggi, 28%
pendidikannya sampai S.D., 24% sampai pada taraf S.M.P. dan
40% lainnya telah sampai ke taraf pendidikan S.M.A.
92% penderita dalam pengamatan ini menyatakan bahwa
tuberkulosis itu merupakan penyakit menular, dan hanya 8%
yang menyatakan sebaliknya. Tabel 1 berikut ini memperlihat-
kan pola jawaban penderita pada pengamatan ini terhadap
mana penyakit t
pertanyaan tentang bagai
terjadi. Tampak bahwa . 36% responden memilih jawaban yang
yatakan bahwa tuberkulosis terjadi karena keturunan.
Tabel 1. Bagaimana penyakit TBC dapat terjadi ?
J a w a b an
Persentase
Karena keturunan
Disebarkan lewat dahak yang dibatukkan
Disebarkan oleh lalat
Disebarkan oleh nyamuk
36%
52%
8%
4%
Tabel 2 berikut ini memperlihatkan jawaban para penderita
yang menjadi responden pengamatan ini tentang guna vaksin
BCG. Tampak bahwa 80% tesponden memilih jawaban yang
menyatakan bahwa BCG berguna untuk mencegah penyakit
tuberkulosis.
Tabel 2. Apakah guns vaksin BCG itu ?
Jawaban Persentase
Mencegah penyakit TBC
Menambah kekuatan tubuh
Untuk menyembuhkan TBC
Tidak menjawab
80%
12%
4%
4%
Tabel 3 akan menunjukkan pola jawaban responden ter-
Tabel 3.
Pilih dua pemeriksaan yang paling penting untuk
mengetahui ada tidaknya penyakit TBC
Jawaban Persentase
hadap pertanyaan untuk memilih dua pemeriksaan terpenting
untuk mendiagnosis tuberkulosis. Temyata bahwa 56% rspon-
den memilih ronsen dan dahak sebagai dua pemeriksaan ter-
penting.
Ronsen + dahak
Ronsen + darah
Dahak + darah
Ronsen + air kencing
Darah
Tidak menjawab
56%
24%
8%
4%
4%
4%
Hasil pengamatan pada 50 penderita tuberkulosis paru ini
nampaknya sedikit banyak menunjukkan cukup baiknya
pengetahuan penderita tentang penyakitnya. Hal ini ditunjuk-
r, kendati masih ada juga
yang
, Shimao T, Mori T. Study on the Knowledge On
itudes Towards the Disease. Bull IUAT, 1985; 60
4.
R
6
kan dengan kenyataan bahwa sebagian besar penderita telah
memilih jawaban-jawaban yang bena
memilih jawaban yang salah.
Penutup
Pengetahuan masyarakat dan pengetahuan penderita
tuberkulosis paru tentang seluk beluk penyakit ini merupakan
faktor penting dalam menjamin suksesnya pengobatan pen-
derita. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesai-
kan pengobatan tuberkulosis paru membutuhkan kesadaran dan
motivasi yang baik dari penderita untuk mematuhi jadwal yang
ada.
Adalah menjadi tanggung jawab jajaran kesehatan yang
bergerak di bidang tuberkulosis untuk senantiasa meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat secara umum dan
penderita tuberkulosis khususnya tentang' penyakit tuberkulosis
pam yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan
masyarakat ini.
KEPUSTAKAAN
1.
Tjandra Yoga Aditama, Husaeri. Uji Faal Paru Penderita Tuber-kulosis
Paru, Medica 1985; No. 9 Thn 11 : 839-41.
2.
Departemen Kesehatan R.I. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta:
Departemen Kesehatan R.I. 1982: 39.
3.
Kim SC, Jin BW
Tuberculosis and Att
(3=4) : 1312.
ouillon A. Motivation. Bull. IUAT, 1972; 47 : 6872.
5.
Pan American Health Organization. Tuberculosis Control Washing-ton :
Pan American Health Organization, 1986 : 319.
6.
Shimao T, Aoki M, Mori T, Imazu. A. A Survey on the Knowledge of and
Behaviour Towards Tuberculosis in the General Public. Bull IUAT, 1985;
0 (34) : 1225.
7.
Roy RN. Systematic Health Education of Tuberculosis Patients and of
Population. Bull IUAT, 1985; 60 (34) : 133-5.
8.
Rasmin Rasjid. Penemuan Kasus Tuberkulosis di Indonesia. Dalam buku
"Naskah Lengkap KPPIKX FKUP',1979 : 582-91.
9.
Kusnadi H. Aspek Sosial Pemberantasan TBC di Indonesia. Dalam buku
"Kumpulan Naskah Lengkap Kongres Ikatan Dokter Paru Indonesia I".
Jakarta : I.D.P.I., 1978; 33-6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 37