278
| MEI - JUNI 2010
PENDAHUlUAN
Masyarakat telah lama menggunakan
obat - obat tradisional untuk berba-
gai penyakit, tetapi khasiatnya belum
diketahui pasti sehingga perlu diteliti
lebih lanjut.
Meniran (Phyllanthus niruri Linn) digu-
nakan untuk penyakit hati; sehubungan
dengan hal tersebut dilakukan peneli-
tian apakah rebusan meniran dapat
digunakan sebagai anti hepatotoksik
melalui kemampuannya mempercepat
regenerasi sel hati mencit yang rusak
akibat karbon tetrakhlorida.
Hasil penelitian diharapkan sebagai
tambahan data dan informasi bagi pe-
nelitian selanjutnya, terutama berke-
naan dengan upaya penyembuhan
penyakit hati.
METODOlOGI
Hewan percobaan: mencit sejumlah
63 ekor dibagi menjadi 3 kelompok.
Bahan: Simplisia meniran (Phyllanthus
niruri Linn). Karbontetrakhlorida dalam
minyak jagung kadar 20% b/v.
Cara kerja:
Pengenceran karbon tetrakhlorid:
Campuran 2 ml karbontetrakhlorida
(CCl
4
) dengan 8 ml minyak jagung
diaduk homogen dengan magnetic
stirrer.
Pembuatan rebusan meniran 20%
b/v dan 40% b/v:
Meniran dicuci bersih dan dikeringkan
di sinar matahari sampai kering dan
rapuh, kemudian dimasukkan ke da-
lam oven dengan suhu 40
°C selama 2
hari, lalu dihaluskan dengan Alpin Mill.
Diambil 10 gram simplisia yang dip-
eroleh, tambahkan 100 ml air suling,
panaskan di atas penangas air selama
15 menit terhitung mulai suhu men-
capai 90
°C, sambil sekali-kali diaduk.
Saring selagi masih panas memakai
kain flanel, tambahkan air panas secu-
kupnya hingga diperoleh volume 100
ml. Selanjutnya filtrat yang diperoleh
dipekatkan sehingga diperoleh kadar
20% b/v dan 40% b/v.
Pembuatan preparat dengan me-
tode parafin :
Fiksasi: preparat dimasukkan dalam
larutan formalin 10%.
Dehidrasi: masukkan ke dalam etanol
70%, 80%, 90% dan 100% masing-mas-
ing selama 45 menit.
Penjernihan: Xilen absolut selama 45
menit.
Impregnasi: wax dioven 50-60 selama
30 menit 3x.
Blok Parafin: dibenamkan dalam
parafin cair dan simpan di tempat din-
gin.
Penyayatan: dengan mikrotom kete-
balan 4-6 mikron, lalu tempatkan saya-
tan pada suhu 40
°C di atas penangas
air.
Penempelan: dengan perekat albumin
dan gliserin (1:1).
Pewarnaan Haematoksilin Eosin
Dilarutkan wax: dengan xilen absolut
selama 5 menit; dilakukan 3 kali.
Dehidrasi: Alkohol absolut selama 5
menit 3 x.
Melarutkan alkohol: dengan air suling
selama 1-2 menit dilakukan 3 kali.
Pewarnaan: rendam selama 5-10 me-
nit haematoksilin.
Pengaruh Pemberian Meniran
pada Hati Mencit yang Diberi CCl
4
Siti Sundari Yuwono
Laboratorium Hewan Percobaan, Pusat Penelitian Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Meniran (Phyllanthus niruri Linn) sudah lazim dikenal dan digunakan untuk melancarkan sekresi urine. Tetapi penelitian
efek farmakologinya terutama untuk khasiat antihepatotoksiknya belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk
mendapatkan data tambahan terhadap informasi tersebut.
Percobaan menggunakan 63 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 21 ekor. Semua mencit
diberi karbon tetrakhlorida dengan dosis 1 ml/kg bb. oral, untuk menginduksi keadaan hepatotoksik. Kelompok 1 kel-
ompok kontrol hanya mendapat perlakuan karbon tetrakhlorida. Setelah 24 jam pemberian karbon tetrakhlorida mencit
kelompok II diberi rebusan meniran kadar 20% b/v oral dengan dosis 40 ml/kg bb./hari selama 7 hari, kelompok III diberi
rebusan meniran kadar 40% b/v oral dengan dosis 40 ml/kg bb/hari selama 7 hari.
Hasil percobaan menunjukkan rebusan meniran kadar 40% b/v dengan dosis 40 ml/kg bb/hari memiliki efek anti hepa-
totoksik yang bermakna.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_177 mei ok.indd 278
4/26/2010 10:55:30 AM
279
| MEI - JUNI 2010
Pencucian: dengan air mengalir se-
lama 30 menit.
Perendam: dalam air suling selama
beberapa menit.
Pewarnaan: rendam kaca obyek se-
lama 30-60 menit dalam eosin.
Dehidrasi: alkohol 100%, 90%, 80%
dan 70% sesaat.
Penjernihan: Xilen panas 3 x
Oleskan 1-2 tetes kanada balsem te-
pat di atas preparat lalu tutup dengan
kaca penutup, keringkan pada suhu
kamar kemudian diperiksa dengan
mikroskop.
PERCOBAAN
Sejumlah 63 ekor mencit dibagi da-
lam 3 kelompok, tiap kelompok 21
ekor. Semua mencit diberi karbon tet-
rakhlorida dengan dosis 1 ml/kg bb.
oral, untuk menginduksi keadaan he-
patotoksik.
Kelompok 1 kelompok kontrol hanya
mendapat perlakuan karbon tetra-
khlorida. Setelah 24 jam pemberian
karbon tetrakhlorida mencit kelompok
II diberi rebusan meniran kadar 20%
b/v oral dengan dosis 40 ml/kg bb./
hari selama 7 hari, kelompok III diberi
rebusan meniran kadar 40% b/v oral
dengan dosis 40 ml/kg bb/hari selama
7 hari.
HASIl
Dari foto mikroskopis sel hati men-
cit kelompok 1 setelah pemberian
CC1
4
dosis 1 ml/kg.bb terlihat sel hati
mengalami penimbunan lemak mulai
hari ke 2 sampai ke-7 setelah pem-
berian CC1
4
(Gb.1-6) penimbunan le-
mak berkurang mulai hari ke-5 sampai
ke-8 setelah pemberian CC1
4
(Gb.4-7).
Terdapat pula sel nekrosis (Gb.1-6) di
sekitar vena sentralis menempati zona
sentrilobuler.
Sel nekrosis tampak berwarna lebih
kemerahan dan batas antar sel tidak
jelas. Inti terlihat banyak lisis dan
piknotis (inti sel mengecil dan kehita-
man) sitoplasma bersifat lebih basa
akibat kekurangan protein. Pada hari
ke-8 sel mulai normal kembali dan ba-
tas antar sel jelas (Gb.4-7) Pembend-
ungan terjadi karena mencit dibunuh
dengan cara memutus sumsum bela-
kang, sehingga aliran darah terputus
secara tiba-tiba. Pembendungan ter-
banyak terlihat pada gambar 3, 7, 10,
11, 15, 16, 20.
Adanya penimbunan lemak dapat
dilihat di sitoplasma sel hati, lemak
sitoplasma terlihat sebagai butiran
lemak (rongga bulat jernih) cukup be-
sar dan tidak berwarna. Daerah yang
mulai terkena toksin adalah daerah
periporta (daerah yang lebih dahulu
dialiri darah dibandingkan oleh den-
gan yang di tengah lobulus), sehingga
penimbunan lemak akan mengikuti
sirkulasi darah, bila darah sampai ke
vena sentral biasanya sudah kehabisan
oksigen dan zat-zat makanan, maka di
daerah sentriboluber sel-selnya akan
mati, sehingga terbentuk daerah nek-
rosis sentriboluber.
Mekanisme terbentuknya sel nekro-
sis dan yang mengalami penimbu-
nan lemak setelah pemberian CC1
4
berkaitan erat dengan fungsi hati.
CC1
4
(Gambar 22) membentuk suatu
gugus radikal bebas yang mempen-
garuhi lipid membran retikulum en-
doplasma sehingga menyebabkan
perubahan morfologi dari membran
retikulum endoplasma. Enzim-enzim
retikulum endoplasma akan kehilan-
gan aktivitas katalitiknya. Tidak dapat
mensintesis protein dan selanjutnya
konjugazi lipid dengan protein (lipo-
protein) tidak dapat dikeluarkan dari
hati ke dalam darah.
Mekanisme terjadinya penimbunan
lemak (degenerasi lemak). CC1
4
akan
mengganggu sintesis lipoprotein hati
karena interaksi antara metabolit CC1
4
berupa radikal bebas dan elemen
lipidal retikulum endoplasma sebagai
tempat sintesis protein. Akibatnya ter-
jadi perubahan morfologi retikulum
endoplasma, sehingga aktivitas enzim
yang bertanggung jawab terhadap
biotransformasi obat berkurang atau
bahkan hilang. Mekanisme nekrosis
dapat dilihat pada gambar 23, nek-
rosis akibat interaksi antara radikal
bebas hasil biotransformasi CC1
4
dan
asam lemak tidak jenuh penyusun
membran sel membentuk peroksida
organik yang tidak stabil. Peroksida ini
selanjutnya akan mudah pecah men-
jadi radikal bebas baru yang dapat
memecah penyusunan membran sel
selanjutnya.
Foto mikroskopis sel hati mencit kel-
ompok II setelah pemberian rebusan
meniran kadar 20% b/v dosis 40 ml/
kg BB/hari, memperlihatkan sel hati
mengalami penimbunan lemak mulai
hari pertama sampai ke enam setelah
pemberian rebusan meniran (Gambar
8-13), tetapi penimbunan lemak makin
berkurang pada hari ke empat sampai
ke tujuh setelah pemberian rebusan
meniran. Terdapat pula sel nekrosis di
sekitar vena sentral yang menempati
zona sentrilobuler sampai hari ke lima
setelah pemberian rebusan meniran
(Gambar 8-12). Sel hati mulai normal,
batas antara sel jelas pada hari ke lima
sampai ke tujuh setelah pemberian re-
busan meniran (Gambar 12-14).
Pada mencit kelompok III setelah pem-
berian rebusan meniran kadar 40% b/v
dosis 40 ml/kgbb./hari, terlihat sel hati
mengalami sedikit penimbunan lemak
pada hari pertama dan ke tiga setelah
pemberian rebusan meniran (Gambar
15, 17). Luasnya nekrosis lebih kecil
bila dibandingkan dengan kelompok
II (Gambar 9, 10). Sel hati normal
kembali dan batas antar sel jelas pada
hari ke lima dan ke tujuh setelah pem-
berian rebusan meniran (Gambar 11,
12).
Lama dan luasnya sel yang menga-
lami penimbunan lemak dan nekrosis
antara kelompok I yang diberi CC1
4
berbeda dengan kelompok II dan III
yang diberi rebusan meniran kadar
20% b/v dan 40% b/v.
Diduga meniran dapat mencegah ter-
jadinya peroksida asam lemak tidak
jenuh penyusun membran sel. Padahal
efek hepatotoksik CC1
4
dengan cara
oksidasi asam lemak tidak jenuh peny-
usun membran sel. Dengan demikian
meniran mungkin dapat mencegah
efek hepatotoksik CC1
4
.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_177 mei ok.indd 279
4/26/2010 10:55:30 AM
281
| MEI - JUNI 2010
SIMPUlAN
Rebusan meniran kadar 40% b/v
dengan dosis 40 ml/kgbb./hari, da-
pat mempercepat regenerasi sel hati
mencit yang rusak (hepatotoksik) aki-
bat CC1
4
dosis 1 ml/kgbb.
SARAN
Untuk memperjelas efek antihepato-
toksik meniran, perlu penelitian lebih
lanjut dengan dosis lebih bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Materia Medika Indonesia, jilid II, 1976; 77-82
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Pemanfaatan Tanaman Obat, 1980; 16 dan 68.
3. Disbrey BDJH. Rack. Histological Laboratory
Methods, ES Livingstone, Edinburgh and Lon-
don, 1970; 15-43, 93-106.
4. Gupta DR, Bahar A. Nirurin a New Prenylated
Flavanone Glycoside from Phyllanthus niruri, J.
Nat. Prod. 1984; 47 (6): 958-63.
5. Hapsiati. Kemampuan Regenerasi Sel Hati
Mencit dengan Pemberian Karbon Tetrak-
lorida. Tugas Sarjana Biologi, Jurusan Biologi,
Fakultas MIPA, IPB. 1990; 33-52.
6. Heyne K. Tumbuhan Berguna Indonesia. Ter-
jemahan Badan Litbang Kehutanan. Pener-
bit Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta 1987;
1138-40.
7. Jawahir. Isolasi dan Analisa Phyllanthin dan
Hypophyllanthin dari Phyllanthus niruri. Tugas
Sarjana Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA,
UNPAD. 1987; 1-5, 10-12.
8. Ressang AA. Patologi chusus Veteriner. Pener-
bit Departemen Urusan Research Nasional Re-
publik Indonesia, Bogor. 1963; 59-91.
9. Satyanarayana P et al. New Seco and Hydroxy-
lignans from Phyllanthus niruri, J. Nat. Prod. 51
(1), 1998; 44-9.
10. Sidik. Tumbuhan yang Berkhasiat sebagai He-
patoprotektor. Simposium dan Diskusi Panel
Hepatitis: Penanggulangan serta Pemanfaatan
Tumbuhan Obat sebagai Hepatoprotektor. Ju-
rusan Farmasi, FMIPA, UNPAD 1988; 1-12.
11. Syamansundar KV et al. Antihepatotoxic Prin-
ciples of Phyllanthus niruri Herbs. J. Ethnop-
harmacol 1985; 14: 41-4.
12. Wahjoedi B. Data Toksisitas Akut Tanaman
Obat Indonesia. Medika 1987; 13 (10): 1004-7.
GB. 1-4
GB.5-8
GB.9-12
GB. 13-16
GB. 17-20
GB. 21
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_177 mei ok.indd 281
4/26/2010 10:55:45 AM