background image
P
engaruh pemberian aspirin secara langsung terhadap fungsi
kardiovaskular belum diketahui dengan pasti. Walaupun
demikian, hingga kini aspirin terbukti bermanfaat dalam
mencegah kejadian kardiovaskular.
Penelitian-penelitian memperlihatkan bahwa aspirin merupakan
antioksidan poten yang dapat mengurangi pembentukan
superoksida. Aspirin dalam penelitian juga dapat mencegah
peningkatan tekanan darah yang disebabkan angiotensin
II, mencegah hipertrofi kardiovaskular dan dapat meng-
induksi pelepasan nitric oxide (NO) dari endotel pembuluh
darah. Penelitian lainnya memperlihatkan bahwa pemberian
aspirin dosis rendah pada malam hari menurunkan tekanan
darah pada pasien hipertensi yang tidak mendapatkan
terapi obat-obat antihipertensi.
Selain mengontrol tekanan darah pada wanita hamil
dengan risiko tinggi preeklampsia, pemberian aspirin dosis
rendah juga menurunkan kejadian terjadinya komplikasi
hipertensi dalam kehamilan.
Dr. Ramon Hermida dan rekan dari Universitas Vigo, Spanyol,
melakukan penelitian efek pemberian aspirin dosis rendah
terhadap tekanan darah ambulatori pasien prehipertensi.
Hasilnya dipresentasikan pada pertemuan tahunan the
American Society of Hypertension 2009 yang berlangsung
di New Orleans, Amerika Serikat.
Penelitian ini melibatkan 244 pasien prehipertensi, dengan
umur rata-rata 43 tahun. Pasien dibagi dalam 3 kelompok:
kelompok pertama diterapi dengan modifikasi gaya hidup
saja; kelompok kedua diterapi dengan modifikasi gaya hidup
plus aspirin 100 mg setiap pagi; dan kelompok ketiga
diterapi dengan modifikasi gaya hidup plus aspirin 100 mg
pada malam hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tidak
berubah pada kelompok pertama dan kedua. Namun pada
kelompok ketiga (terapi modifikasi gaya hidup plus aspirin
100 mg malam hari), terjadi penurunan tekanan darah
secara bermakna, dengan penurunan tekanan darah rata-
rata sistolik dan diastolik 24 jam sebesar 6/3 mmHg (p<0,001).
Penurunan tekanan darah ini tidak disertai dengan peru-
bahan denyut jantung. Pada kelompok ketiga kontrol tekanan
darah terjadi baik pada pagi hari, (penurunan tekanan
darah sistolik dan diastolik sebesar 4/4 mmHg) dan juga
pada malam hari (penurunan sebesar 6/3 mmHg).
Penelitian ini sangat penting karena fakta menunjukkan
bahwa pasien prehipertensi akan menjadi hipertensi hanya
dalam beberapa tahun saja, dan oleh karena itu pemberian
aspirin malam hari pada pasien prehipertensi dapat meng-
hambat progresifitas terjadinya hipertensi dan memper-
lambat perlunya terapi antihipertensi.
Dr. Herida dan rekan sedang mempersiapkan sebuah
penelitian preventif dengan jumlah pasien prehipertensi
yang lebih besar untuk mengkonfirmasi apakah pemberian
aspirin malam hari benar-benar dapat menghambat terjadinya
hipertensi.
Kesimpulan:
Terapi modifikasi gaya hidup dan pemberian aspirin 100
mg malam hari pada pasien-pasien prehipertensi dapat
menurunkan tekanan darah, sehingga progresifitas pre-
hipertensi menjadi hipertensi dapat dihambat dan mengu-
rangi perlunya terapi dini antihipertensi. Penelitian dengan
jumlah pasien yang lebih besar diperlukkan untuk meng-
konfiramasi hal ini.
(YYA)
Referensi :
1. Hermida RC, Ayala DE, Calvo C, Lopez JE, Fernandez JR, Mojon a, et al.
Administration Time­Dependent Effects of Aspirin on Blood Pressure in
Untreated Hypertensive Patients. Hypertension 2003; 41; 1259-67.
2. Hermida RC, Ayala DE, Iglesias M. Administration Time­Dependent Influence
of Aspirin on Blood Pressure in Pregnant Women. Hypertension 2003; 41; 651-6.
3. Medscape Cardiology. Nighttime Aspirin May Delay Progression of Prehyper-
tension to Hypertension. [citied 2009 May 27]. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/574649
Pemberian Aspirin pada Malam Hari
Menurunkan Tekanan Darah
Pengaruh pemberian aspirin secara langsung terhadap fungsi kardiovaskular belum
diketahui dengan pasti. Walaupun demikian, hingga kini aspirin terbukti bermanfaat
dalam mencegah kejadian kardiovaskular.
O
bat-obat golongan statin paling sering diberikan sebagai
terapi pasien hiperlipidemia. Selain efektif menurunkan
kadar kolesterol, statin memiliki berbagai efek pleiotropik
sehingga diberikan sebagai terapi tambahan untuk penyakit-
penyakit lain seperti diabetes, aritmia ventrikular, penyakit
arteri perifer, kanker, osteoporosis dan depresi. Metaanalisa
terhadap beberapa penelitian acak terkontrol memperlihatkan
bahwa pemberian statin secara bermakna menurunkan
angka kejadian kardiovaskular.
Efek samping statin yang paling sering terjadi adalah miopati.
Gejala miopati bervariasi, seperti lemah, nyeri, hingga rhab-
domiolisis yang mengancam jiwa. Sejumlah 25% pasien
pengguna statin yang rajin berolah raga mengalami kelema-
han pada otot, nyeri dan kram karena pemberian statin.
Miopati mengganggu kualitas hidup pasien, karena meng-
ganggu kemampuan pasien menjalankan aktifitas hidup
sehari-hari seperti membuka botol, dan juga aktifitas fisik
berat seperti berolah raga.
Hingga kini mekanisme terjadinya miopati akibat statin belum
diketahui dengan jelas, namun diperkirakan berhubungan
dengan apoptosis miofiber dan penurunan biosintesa
coenzyme Q10.
Terapi untuk menghilangkan gejala miopati biasanya adalah
menghentikan terapi statin. Namun hal ini dapat meng-
ganggu kontrol kolesterol LDL (low density lipoprotein) dan
akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Apakah
terapi dengan suplemen coenzyme Q10 dapat membantu
memperbaiki gejala miopati?
Dr. Giuseppe Caso dan rekan dari Stony Brook University,
Stony Brook, New York, Amerika Serikat melakukan sebuah
penelitian untuk mengetahui apakah suplemen coenzyme
Q10 dapat memperbaiki gejala miopati pada pasien yang
diterapi dengan statin. Hasil penelitian ini dipublikasikan
pada American Journal of Cardiology edisi bulan Mei 2009.
Penelitian acak ini melibatkan 32 pasien, yang secara acak
menerima terapi statin 100 mg sehari (n=18) atau vitamin E
400 IU sehari (n=16). (vitamin E dalam penelitian ini dianggap
sebagai plasebo).
Penelitian memperlihatkan bahwa dari 18 pasien yang di-
terapi dengan coenzyme Q10, 16 mengalami penurunan
intensitas nyeri sebesar 40% (p<0,001) setelah diterapi selama
1 bulan. Dari 14 pasien yang diterapi dengan vitamin E,
hanya 3 pasien yang mengalami perubahan intensitas nyeri.
Selain itu, pada pasien yang diterapi dengan coenzyme Q10
dilaporkan perbaikan intensitas nyeri yang berhubungan
dengan aktifitas sehari-hari sebesar 38% (p<0,02). Perbaikan
ini tidak terjadi pada pasien-pasien yang diberikan vitamin E.
Para ahli dalam penelitian ini mengambil kesimpulan bahwa
pemberian suplemen coenzyme Q10 sebesar 100 mg sehari
selama 30 hari dapat mengurangi gejala miopati dan mem-
perbaiki kemampuan pasien dalam aktifitas sehari-hari.
Pada pasien yang baru diberikan statin, namun rentan
terhadap defisiensi coenzyme Q10 (seperti pada pasien usia
lanjut), dianjurkan pemberian coenzyme Q10 profilaksis
sebesar 60-120 mg sehari.
Kesimpulan:
Pemberian suplemen coenzyme Q10 dengan dosis 100 mg
sehari selama 30 hari mengurangi gejala miopati pada
pasien yang diterapi dengan statin. Pada pasien-pasien
yang rentan terhadap terjadinya miopati (seperti pada
pasien usia lanjut), dapat diberikan terapi coenzyme Q10
dengan dosis 60-120 mg sebagai profilaksis.
(YYA)
Referensi :
1. Ballantyne CM, Corsini A, Davidson MH, Holdaas H, Jacobson TA, Leitersdorf E.
Risk for Myopathy With Statin Therapy in High-Risk Patients. Arch Intern 2003;
163:
553-64.
2. Caso G, Kelly P, McNurlan MA. Effect of Coenzyme Q10 on Myopathic Symptoms
in Patients Treated With Statins. Am J Cardiol 2007; 99: 1409 12. Abstract.
[citied 2009 June 01]. Available from: http://www.eclipsconsult.com/eclips/article/
Cardiology/S0145-4145(08)04004-5#
3. Dirks AJ, Jones KM. Statin-induced apoptosis and skeletal myopathy. Am J Physiol
Cell Physiol 2006; 291: C1208C12.
4. Jacobson TA. Toward Pain-Free Statin Prescribing: Clinical Algorithm for
Diagnosis and Management of Myalgia. Mayo Clin Proc. 2008;83(6):687-700
5. Marcoff L, Thompson PD. The Role of Coenzyme Q10 in Statin-Associated
Myopathy. J Am Coll Cardiol 2007;49: 22317.
6. Mescape Cardiology. Coenzyme Q10 May Relieve Myopathic Symptoms in
Patients Treated With Statins. [citied 2009 June 01]. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/558408
7. Medscape Cardiology. Primary Evaluation and Management of Statin Therapy
Complication: The Role of Coenzyme Q10. [citied 2009 June 01]. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/528265_8
Suplemen Coenzyme Q10
Mengurangi Miopati akibat Terapi Statin
Obat-obat golongan statin paling sering diberikan sebagai terapi pasien hiperlipidemia.
Selain efektif menurunkan kadar kolesterol, statin memiliki berbagai efek pleiotropik
sehingga diberikan sebagai terapi tambahan untuk penyakit-penyakit lain seperti
diabetes, aritmia ventrikular, penyakit arteri perifer, kanker, osteoporosis dan depresi.
Metaanalisa terhadap beberapa penelitian acak terkontrol memperlihatkan bahwa
pemberian statin secara bermakna menurunkan angka kejadian kardiovaskular.
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
431
B E R I T A T E R K I N I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
432
B E R I T A T E R K I N I