93
cdk 161/ vol. 35 no. 2 Mar - Apr 2008
Berita Terkini
Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2007
dianugerahkan pada para pionir
Stem Cell
Sejak ESC manu-
sia ditemukan, ter-
buka kemungkinan
sangat besar un-
tuk perbaikan dan
pembaruan organ
dan jaringan. Tetapi
hasil ini diikuti oleh
kontroversi karena
semua ESC manu-
sia sampai dengan
saat ini diperoleh
dengan cara meru-
sak embrio manu-
sia, suatu prosedur
yang ditentang oleh
penganut pro ke-
hidupan.
Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau
Kedokteran 2007 diberikan kepada
2 orang Amerika yang memelopori
upaya membuat gen khusus pada ti-
kus, memperbaiki fungsi mereka dan
dampaknya pada penyakit.
Penghargaan tersebut untuk pene-
muan sel induk embrionik
(
embryonic
stem cell, ESC) oleh Martin Evans
dari
Cardiff
U n i v e r s i t y ,
Wales tahun
1981. Evans
membuktikan
bahwa ESC
tikus bersifat
pluripoten
;
berarti dapat
menjadi berb-
agai jaringan
dewasa.
Lyle Amstrong
dari
Institute of
Human Genet-
ics Universitas
N e w c a s t l e ,
Tyne, Inggris mengatakan bahwa
Martin Evans adalah salah satu pio-
ner yang pertama kali menghasilkan
ESC dari tikus tahun 1981.
Evans mendapatkan bagian hadiah
sebesar $1,54 juta bersama de-
ngan Mario Capecchi, kelahiran Italia,
peneliti dari
Howard Hughes Medical
di University of Utah, Salt Lake City
dan Oliver Smithies, kelahiran Ing-
gris, dari University of North Carolina,
Chapel Hill.
Gen-gen `silencing'
Awalnya
Evans
mengerjakan
bagaimana menciptakan tikus hidup
dari sel induk embrionik, Capecchi
dan Smithies melakukan proses lebih
lanjut tahun 1986 dengan mempela-
jari bagaimana memodifikasi secara
genetik sel-sel melalui sebuah proses
yang disebut rekombinasi homolog.
Selanjutnya, terbuka kemungkinan
menghasilkan tikus yang dimodifikasi
secara genetik untuk mendapatkan
gen-gen yang tidak bekerja atau gen-
gen baru seluruhnya dari spesies
lain, termasuk manusia.
Hal ini mengarah pada
pembentukan ribuan tikus
`buatan' dengan gen khu-
sus `silenced' untuk me-
lihat apakah ini berhasil
pada penyakit tikus. Sejak
pertama dilaporkan tahun
1989, lebih dari 10.000
`tikus buatan' dihasilkan,
mencakup kira-kira sete-
ngah gen dalam semua
genom mamalia.
Evans dan peneliti lain
juga telah menggunakan
teknik ini untuk meng-
hasilkan tikus yang me-
ngidap beberapa penyakit
manusia, termasuk pe-
nyakit paru bawaan sistik
fibrosis. Tikus yang telah
dimodifikasi oleh Smithies
mempunyai tekanan da-
rah tinggi dan penyakit ar-
teri yang ekivalen dengan manusia.
Teknologi tikus `buatan' sekarang
dikembangkan untuk menunjukkan
adanya mutasi yang dapat diaktifkan
pada waktu tertentu atau sel-sel/or-
gan tertentu, dalam embrio maupun
dalam hewan dewasa.
Sumber : www.newscientist.com