background image
HASIL PENELITIAN
Korelasi Sidik Tiroid Radioaktif dengan
Pemeriksaan Histopatologis Pada
Tonjolan Tiroid
Azamris
Divisi Onkologi, Lab/SMF Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Rumah Sakit Perjan Dr. M Jamil Padang
ABSTRAK
Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi kelainan kelenjar tiroid. Salah satunya
adalah dengan memakai bahan radioaktif Technetium 99m Pertechnetate.
Telah dilakukan penelitian cross sectional pada 30 kasus (25 wanita dan 5 pria) tonjolan
kelenjar tiroid menggunakan bahan radioaktif Tc 99m Pertechnetate yang kemudian menjalani
tiroidektomi dan pemeriksaan histopatologis terhadap spesimen hasil operasi. Dari penelitian ini
didapatkan seluruh hasil sidik tiroid menunjukkan hasil cold nodule dan ditemukan keganasan
pada 4 kasus. Tidak terdapat korelasi antara jenis kelamin, kelompok umur, konsistensi tumor
dengan keganasan tiroid. Sedangkan korelasi antara sidik tiroid dan keganasan tidak dapat dinilai
karena semua hasil sidik tiroid menunjukkan cold nodule.
PENDAHULUAN
Untuk mendeteksi kelainan kelenjar tiroid diperlukan suatu
pemeriksaan penunjang diagnostik yang akurat. Beberapa cara
telah dikembangkan untuk membantu menegakkan diagnosis
kelainan kelenjar tiroid seperti sidik tiroid, ultrasonografi,
biopsi aspirasi jarum halus
(1-4)
. Sidik tiroid dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai macam zat radioaktif antara
lain Technetium
99m
pertechnetate atau yodium radioaktif (I
131
atau I
123
)
(2)
.
Technetium lebih populer karena harganya murah, cepat
tersedia dan waktu paruhnya pendek; tetapi zat ini hanya
ditangkap di tiroid tanpa mengalami organifikasi. Sidik tiroid
akan dapat membedakan cold, hot serta warm nodule,
pembesaran difus dan noduler kelenjar tiroid, serta apakah
suatu tonjolan tunggal atau multipel
(2,5)
.
Diperkirakan sekitar
90-95% tonjolan tiroid bersifat cold nodule, hanya 10-20 %
bersifat ganas.
Di Indonesia saat ini belum banyak dilakukan sidik tiroid ,
baik sebagai cara untuk mendeteksi kelainan kelenjar tiroid
atau sebagai salah satu cara pengobatan, dan di bagian Bedah
RS Dr M Jamil Padang hal ini belum pernah diteliti.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mencari hubungan antara hasil pemeriksaan sidik
radioaktif dengan hasil pemeriksaan histopatologis pada
tonjolan tiroid sebagai standar baku penilaian.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode cross sectional;
semua responden adalah penderita tonjolan tiroid secara klinis
diduga ganas yang berkunjung ke Poliklinik Bedah RSUP Dr
M Jamil Padang. Penelitian ini dilakukan dari Mei 2004 sampai
dengan November 2004.
Setiap responden yang secara klinis menderita tonjolan
tiroid diduga ganas menjalani pemeriksaan laboratorium rutin,
TSH dan FT4; dilakukan skintigrafi menggunakan Technetium
99
m
pertechnetate radioaktif 2 mCi, menjalani operasi
tiroidektomi dan spesimen hasil operasi diperiksa
histopatologis dengan blok parafin. Data ditabulasi dan diolah
menggunakan program komputer (SPSS ver 10).
HASIL PENELITIAN
Selama Mei-November 2004 (8 bulan) telah diteliti 30
penderita tonjolan tiroid. Masing-masing responden menjalani
pemeriksaan sidik tiroid menggunakan Tc
99m
Pertechnetate
radioaktif dan pemeriksaan histopatologi terhadap spesimen
hasil operasi. Karakteristik responden dapat dilihat di Tabel 1.
Setelah skintigrafi menggunakan Technetium 99m
Pertechnetate, ternyata semuanya berupa cold nodule dan pada
pemeriksaan klinis seluruhnya berupa tonjolan tunggal. Pada
saat operasi tiroidektomi, didapatkan tonjolan bersifat kistik
pada 2 spesimen sedangkan 28 spesimen sisanya berbentuk
padat. Setelah pemeriksaan histopatologis menggunakan blok
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 31
background image
parafin, 4 spesimen menunjukkan keganasan sedangkan 26
sisanya tidak.
Tabel 1. Hubungan antara hasil pemeriksaan histopatologis dengan
jenis Kelamin
Pemeriksaan Histopatologis
Jenis Kelamin
Ganas Jinak
Jumlah
Wanita
Pria
Jumlah
2
2
4
23
3
26
25
5
30
Dari analisis statistik menggunakan Fisher's Exact Test
atas data (Tabel 1) didapatkan p = 0,119 (p>0,05 ). Tidak
terdapat hubungan antara keganasan tiroid dengan jenis
kelamin.
Tabel 2. Hubungan antara hasil pemeriksaan histopatologis dengan
kelompok umur
Pemeriksaan Histopatologis
Kelompok
Umur
Ganas Jinak
Jumlah
40 tahun
40 tahun
Jumlah
2
2
4
16
10
26
18
12
30
Analisis atas data (Tabel 2) menggunakan Fisher's Exact
Test menghasilkan nilai p=0,531 (p>0,05) tidak terdapat
hubungan antara terjadinya keganasan tiroid dengan kelompok
umur
40 tahun dan 40 tahun.
Tabel 3. Hubungan antara hasil pemeriksaaan histopatologis dengan
temuan operasi
Pemeriksaan Histopatologis
Temuan
Operasi
Ganas Jinak
Jumlah
Padat
Kistik
Jumlah
4
0
4
24
2
26
28
2
30
Tidak terdapat hubungan antara keganasan tiroid dengan
temuan hasil operasi. Analisis statistik menggunakan Fisher's
Exact Test atas data Tabel 3 mendapatkan nilai p = 0,747 (p >
0,05).
Tabel 4 : Hubungan antara hasil sidik tiroid dengan pemeriksaan
histopatologis pada tonjolan tiroid
Pemeriksaan Histopatologis
Sidik Tiroid
Ganas Jinak
Jumlah
Cold Nodule
Hot Nodule
Jumlah
4
0
4
26
0
26
30
0
30
DISKUSI
Karsinoma tiroid termasuk keganasan yang jarang
ditemukan dibandingkan dengan keganasan lain. Penyakit ini
tumbuh dan berkembang lambat, sering residif lokal, invasi
lokal dengan mortalitas rendah, sebagian kecil dapat tumbuh
cepat dan berakhir fatal. Karena variasi yang begitu luas inilah
maka terdapat berbagai pendapat mengenai diagnosis dan
terutama mengenai penatalaksanaan di berbagai pusat
penanggulangan penyakit kanker di dunia
(6)
.
Untuk diagnosis keganasan tiroid terdapat beberapa
pemeriksaan penunjang antara lain pemeriksaan laboratoris,
radiologis, ultrasonografi serta pemeriksaan sidik tiroid.
Pemeriksaan sidik tiroid dapat menggunakan Technetium 99m
Pertechnetate. Pemeriksaan sidik tiroid ini tidak mutlak bila
tidak ada fasilitas untuk mengerjakannya
(6)
.
Dari periode Mei sampai November 2004 didapatkan 30
pasien dengan tonjolan tiroid yang datang berobat ke poliklinik
Bedah Onkologi RS Dr M Jamil Padang. Semuanya menjalani
pemeriksaan sidik tiroid menggunakan Tc
99m
Pertechnetate di
bagian Radiologi dan kemudian menjalani tiroidektomi serta
dibuatkan pemeriksaan histologis blok parafin terhadap
spesimen hasil operasi. Pada penelitian ini didapatkan proporsi
kejadian antara wanita dan pria adalah 5:1 (25 dan 5 orang)
Hazart mendapatkan insiden wanita dan pria adalah 3:1, Mc
Kenzie 5:1, sedangkan peneliti lain Syarwani dan
Reksoprawiro mendapatkan angka 7:2 serta 5 :1
(1,2,6)
.
Pada penelitian ini, kelompok umur terutama antara 31-40
tahun (30%). Laporan penelitian lainnya menyatakan kasus
yang terbanyak berada pada kelompok umur 21-30 tahun. Pada
penelitian ini usia termuda adalah 15 tahun sedangkan yang
tertua adalah 68 tahun dengan rerata 38,73 tahun. Winship
mengemukakan umur yang paling sering terkena adalah 50-70
tahun
(6)
.
Pemeriksaan sidik tiroid menghasilkan gambaran nodul
dingin pada seluruh (30) responden. Tidak satupun yang
menunjukkan nodul panas ataupun nodul hangat. Hal ini sesuai
dengan literatur yang menyatakan bahwa umumnya (90%-95
%) tonjolan tiroid akan menunjukkan gambaran nodul
dingin
(7,8)
. Dari seluruh nodul dingin tersebut 4 orang
menunjukkan keganasan pada pemeriksaan histopatologis
(13,33%). Penelitian Asmara memperlihatkan bahwa 15 %
kasus tonjolan tiroid dengan nodul dingin menunjukkan
keganasan, sedangkan penelitian oleh Katz menemukan
keganasan sebanyak 22,2% pada kasus tonjolan tiroid dengan
nodul dingin. Campbell dan Pillsbury mendapatkan angka
kejadian keganasan pada nodul dingin sekitar 17% sedangkan
Aschraft dan Van Herle memperoleh angka sekitar 16%.
Kakkilaya Harish dkk. mendapatkan angka keganasan 10,25%
pada nodul dingin tiroid
(6,-8)
.
Pada penelitian ini hasil temuan saat operasi adalah 28
spesimen berupa bahan padat sedangkan 2 spesimen kistik.
Pemeriksaan histopatologis atas spesimen padat menunjukkan
adanya keganasan pada 4 spesimen (13,33%), sedangkan dari
spesimen kistik tidak ditemukan keganasan. Hal ini sesuai
dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa tonjolan yang
bersifat kistik sangat kecil kemungkinannya bersifat ganas
(6)
.
Prasmono melaporkan keganasan yang ditemui pada
tonjolan tiroid adalah 14,3%, menurut Wong dkk. 10,2% dan
menurut penelitian ini adalah 13,3%. Angka keganasan pada
tonjolan tiroid bervariasi antara 10-30%
(9)
. Keganasan pada
penelitian ini ditemukan pada 2 responden wanita dan 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
32
background image
responden pria, berupa Karsinoma Papiler pada 3 kasus serta
Adenokarsinoma pada 1 kasus. Kasus keganasan yang termuda
ditemukan pada wanita usia 24 tahun serta yang tertua pada
pria usia 68 tahun setelah dianalisis secara statistik tidak
terdapat hubungan antara kelompok usia di bawah dan di atas
40 tahun dengan terjadinya keganasan. Dari 5 responden pria ,
ternyata 2 orang menderita keganasan (40%) hal ini
menunjukkan bahwa tonjolan tiroid yang diderita oleh pria
memang menunjukkan angka keganasan yang tinggi
(3)
.
Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya korelasi antara
terjadinya keganasan dengan jenis kelamin, kelompok umur
serta konsistensi tumor. Uji korelasi tidak dapat dilakukan
antara hasil sidik tiroid dan terjadinya keganasan karena semua
hasil sidik tiroid menunjukkan cold nodule. Kusic dkk. dari
Universitas Zagreb di Yugoslavia juga menyatakan tidak ada
korelasi antara hasil pemeriksaan patologi anatomi dan
pemeriksaan sidik tiroid pada tonjolan tiroid
(10)
.
KESIMPULAN
1.
Angka keganasan yang didapatkan pada penelitian ini
tidak jauh berbeda dengan penelitian lainnnya.
2.
Tidak terdapat hubungan secara statistik antara jenis
kelamin, kelompok umur, serta hasil temuan operasi
dengan hasil pemeriksaan histopatologis.
3.
Analisis statistik atas korelasi antara sidik tiroid dengan
pemeriksaan histopatologis tidak dapat dilakukan karena
semua hasil sidik berupa cold nodule .
SARAN
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar.
KEPUSTAKAAN
1.
Edwin LK. Thyroid and Parathyroid, In : Seymour IS, Shires T, Frank
CS. eds. Principles of Surgery. 5
th
ed. New York : McGraw-Hill; 1988. p.
1613-85.
2.
Peter FW. Imaging of Thyroid Gland with Radionuclides. In : Blake,
Cady eds. Surgery of The Thyroid and Parathyroid Glands. 3
th
ed. New
York:1991.p.64-9.
3.
Jones MK. Management of Nodular Thyroid Disease. BMJ 2001; 323 :
293-4.
4.
Emily JM, Robin HM . Thyroid nodules and thyroid cancer. MJA
Practice Essentials ­ Endocrinology 2004; 180(5) : 242-7.
5.
Supit E, Peiris AN . Cost Effective Management of Thyroid Nodules and
Nodular Thyroid Goiters, Southern Med. J. 2002; 95 (5).
6.
Tjindarbumi D. Karsinoma Tiroid. Ilmu Bedah. Binarupa Aksara 1995, p
366-76.
7.
Kakkilaya. Radionuclide Scanning. diakses dari http://members.aol.com
/hkakkilaya/scintiscan.html.
8.
David VB, Charkes D, James RH, McDougall R, David CP, Henry DR, et
al. Procedure Guideline for Thyroid Scintigraphy, Society of Nuclear
Medicine. 2002.
9.
Prasmono A, Reksoprawiro S . Potong beku pada benjolan tunggal tiroid.
Ropanasuri.1989 ; 18 (2): 83-7.
10.
Kusic Z et al .Comparison of technetium ­ 99m and Iodine-123 imaging
of thyroid nodules : correlation with pathologic findings. J Nucl Med
1990; 31 (4) : 400-2.
Beware of one who has nothing to lose
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 33

Document Outline