Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
38
HASIL PENELITIAN
Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Penyalahgunaan NAPZA
(Narkotika, Psikotropika & Zat Adiktif)
di Kalangan Siswa SMU
Raharni, Max J. Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Masalah penyalahgunaan napza telah mengkhawatirkan,
yang jika tidak segera ditanggulangi merupakan ancaman bagi
kesejahteraan generasi yang akan datang. Penanggulangan
secara preventif harus dimasyarakatkan dengan berbagai upaya.
Penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika & zat
adiktif) adalah pemakaian obat secara terus-menerus atau
sekali-sekali secara berlebihan, serta tidak menurut petunjuk
dokter. Penyalahgunaan obat tersebut dapat menimbulkan
gangguan baik badan maupun jiwa seseorang, diikuti dengan
akibat sosial yang tidak diinginkan
(1)
.
Korban penyalahgunaan napza di Indonesia akhir-akhir ini
cenderung makin meningkat dan tidak hanya terbatas pada
kelompok masyarakat mampu tetapi telah merambah ke
kalangan masyarakat kurang mampu baik di perkotaan maupun
pedesaan dan melibatkan tidak hanya pelajar SMU dan
mahasiswa tetapi juga pelajar SD
(2)
.
Narkotika adalah bahan yang diperoleh dari opium
mentah (getah yang membeku) dari buah tanaman Papaver
somniverum L dan telah mengalami proses pengolahan tertentu
(morfin, candu, heroin) selain itu petidin, kokain, ganja juga
tergolong bahan narkotika
(1)
.
Psikotropika adalah beberapa
obat atau zat tertentu yang dapat disalahgunakan dan dalam
keadaan tertentu bisa menimbulkan ketergantungan (adiktif)
misalnya fenobarbital, diazepam, benzodiazepin, amfetamin
(1)
.
Zat adiktif lain adalah nikotin dalam rokok, etanol dalam
minuman beralkohol dan pelarut lain yang mudah menguap
seperti bensin dan lain-lain.
Penyalahgunaan napza merupakan penyakit endemik
masyarakat modern, penyakit kronik yang berulangkali
kambuh dan merupakan gangguan mental adiktif. Semua zat
yang termasuk napza menimbulkan adiksi (ketagihan) yang
pada gilirannya berakibat ketergantungan.
Berdasarkan data Rumah Sakit Ketergantungan Obat
(RSKO) di Jakarta, dalam kurun waktu 4 tahun (1997-2000)
kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap korban napza
cenderung meningkat. Baik pasien rawat jalan maupun rawat
inap sebagian besar berpendidikan SLTA (38% untuk rawat
jalan dan 42,5% untuk rawat inap). Sebagian besar (78,1%)
berusia 1524 tahun. Jenis napza yang digunakan sangat ber-
variasi, di antaranya opiat, ganja, amfetamin, sedatif hipnotik,
inhalansia, alkohol, kokain, atau multipel
(3)
.
Dari hasil penelitian terhadap siswa SMU di Jakarta Timur
diketahui pengetahuan siswa terhadap narkoba, sikap, peng-
awasan orang tua, hubungan dengan orang tua responden
berpengaruh terhadap risiko penyalahgunaan napza
(4)
.
Sekolah merupakan lingkungan formal kedua yang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak.
Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan, setiap sekolah mempunyai kebudayaan sendiri
yang unik berupa aturan, tata tertib, dan kebiasaan yang
mempengaruhi proses dan cara belajar anak. Dengan demikian
kurikulum dan peraturan sekolah mempengaruhi kepribadian
anak
(5)
.
Di sekolah yang tidak baik dan terutama muatan
pendidikan agama dan budi pekertinya minimal, jumlah murid
yang terlibat tawuran dan penyalahgunaan obat lebih banyak
dibandingkan dengan di sekolah yang kondusif
(6)
.
Dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan napza perlu
dilakukan melalui pola pre-emptif, preventif, represif,
treatment dan rehabilitasi serta pola peningkatan partisipasi
masyarakat melalui Siskamtibmas Swakarsa
(7)
.
Faktor -faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan
zat pada remaja
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyalah-
gunakan napza meliputi faktor individu (personal) dan faktor
lingkungan. Penerimaan masyarakat, keadaan lingkungan yang
miskin atau serba kurang dan patologi individual dapat me-
nambah kemungkinan penyalahgunaan zat
(1)
.
Faktor kepri-
badian, teman sebaya dan pengaruh orang tua berpengaruh kuat
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 39
salah satu faktor saja sudah cukup untuk menyebabkan
penyalahgunaan napza
(8)
.
Berdasarkan pengertian di atas, penelitian penyalahgunaan
napza pada remaja dirasa sangat penting, khususnya faktor-
faktor yang berhubungan dengan terjadinya penyalahgunaan
napza pada remaja khususnya di kalangan siswa SMU yang
merupakan kelompok yang rawan terhadap penyalahgunaan
napza. Penelitian dilaksanakan di SMU Negeri kota Bekasi,
yang masyarakatnya sangat heterogen serta letaknya yang
berdekatan dengan ibukota Jakarta.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pe-
nyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU Negeri di Kota
Bekasi.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran penyalahgunaan napza di kalangan
siswa SMU di kota Bekasi.
2. Mengetahui hubungan antara faktor individu yang meliputi
karakteristik remaja (umur, jenis kelamin), pengetahuan dan
sikap dengan penyalahgunaan napza di kalangan siswa
SMU di Kota Bekasi
3. Mengetahui hubungan antara faktor lingkungan yang
meliputi lingkungan dalam keluarga (demografi ayah/ibu,
keharmonisan keluarga, komunikasi keluarga, sosial eko-
nomi, kebiasaan merokok) dan lingkungan luar keluarga
(kelompok teman sebaya, penggunaan waktu luang) dengan
penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU di kota
Bekasi.
4. Mengetahui secara bersama -sama hubungan antara faktor
individu yang meliputi karakteristik remaja, pengetahuan,
sikap dan faktor lingkungan yang meliputi demografi ayah
/ibu, keharmonisan keluarga, komunikasi keluarga, sosial
ekonomi, kebiasaan merokok, kelompok teman sebaya,
penggunaan waktu luang dengan terjadinya penyalahgunaan
napza di kalangan siswa SMU di Kota Bekasi.
BAHAN DAN METODE
Penelitian potong lintang dilakukan di SMU Negeri di
Kota Bekasi. Penelitian ini terbatas pada masalah penyalah-
gunaan napza dan faktor-faktor yang berhubungan dengan
faktor individu (umur, jenis kelamin, pengetahuan, sikap) dan
faktor lingkungan yaitu lingkungan dalam keluarga (demografi
ayah/ibu, keharmonisan keluarga, komunikasi keluarga, sosial
ekonomi, kebiasaan merokok), dan lingkungan luar keluarga
(kelompok teman sebaya dan penggunaan waktu luang).
Batasan Variabel
1)
Pengetahuan responden : Kemampuan responden untuk
menjawab 10 pertanyaan tentang hal-hal mendasar mengenai
penyalahgunaan napza, jenis obat yang sering disalahgunakan,
termasuk napza, akibat yang ditimbulkan.
2)
Sikap responden : Suatu bentuk reaksi atau respon ter-
hadap penyalahgunaan obat, yang meliputi pemikiran, pe-
rasaan; diukur melalui 15 pertanyaan .
3)
Tingkat pendidikan ayah/ibu: Pendidikan formal yang
telah diselesaikan oleh ayah/ibu responden
4)
Pekerjaan ayah/ibu: Usaha yang dikerjakan ayah/ibu
responden untuk membiayai keluarganya
5)
Keharmonisan keluarga: Hubungan sehari-hari responden
(adanya pertengkaran, perbedaan paham, perbedaan pendapat)
dengan anggota keluarga lain. Diukur secara tidak langsung
berdasar pendapat responden tentang frekuensi pertengkaran
antar orangtua .
6)
Komunikasi keluarga: Hubungan sehari-hari yaitu adanya
kebiasaan makan bersama, kebiasaan membicarakan masalah
dan kebiasaan berkumpul keluarga seperti menonton TV, olah
raga di dalam keluarga responden, dengan orangtua, kakak,
adik atau anggota keluarga yang lain.
7)
Tingkat sosial ekonomi merupakan gambaran umum
ekonomi keluarga responden, yang diukur berdasarkan kepe-
milikan beberapa kelengkapan rumah tangga yang lazim.
8)
Kebiasaan merokok : Ada tidaknya anggota keluarga yaitu
ayah, ibu atau saudara serumah yang merokok setiap hari.
9)
Kelompok sebaya : Keeratan responden dengan teman pe-
nyalahguna obat diukur dengan menanyakan frekuensi per-
temuannya.
10)
Penggunaan waktu luang: Kegiatan responden di luar
waktu sekolah; yang termasuk kegiatan positif adalah ekstra-
kurikuler, les, olahraga dan yang termasuk kegiatan negatif
adalah ngobrol, nongkrong.
11)
Penyalahgunaan obat: kondisi responden masih mengguna-
kan napza minimal 1 bulan terakhir saat menjawab kuesioner
Populasi
Populasi penelitian adalah siswa SMU Negeri di Wilayah
Kotamadya Dati II Bekasi. Populasi target diambil secara
purposif berdasar kondisi SMU baik dari segi sosial ekonomi,
maupun letak geografi dan sesuai arahan atau kategori SMU
menurut Dinas Pendidikan kota Bekasi yaitu kategori baik,
katagori cukup, dan kategori kurang.
Sampel
Sampel diambil dari populasi yang dipilih dengan
karakteristik berjenis kelamin pria dan wanita, duduk di kelas
satu sampai dengan kelas tiga SMU negeri, tinggal di wilayah
kodya Bekasi.
Besar sampel
{Z
1-a/2
vPo(1-Po)+Z
1-ß
vPa(1-Pa)}
N = -------------------------------------------------
(Pa-Po)
Keterangan :
N = besar sampel minimal
a = 5%; Z
1-a
= 1,96
ß = 20%; Z
1-ß
= 0,84
Po = 0,10
Pa-Po = 0,05
a = Probabilitas kesalahan menolak Ho, seharusnya Ho tidak ditolak.
ß = Probabilitas kesalahan tidak menolak Ho, seharusnya Ho ditolak
Dengan menggunakan rumus di atas, didapat jumlah
sampel minimal 385. Pengambilan sampel secara simple
random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara
survai, dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
40
Analisis Data
Dilakukan secara bertahap yaitu univariat, bivariat dan
multivariat.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Gambaran penyalahgunaan napza berdasarkan kategori SMU
Menyalahgunakan
napza
Kategori SMU
Ya
Tidak
% pengguna
SMU baik
12
77
13,48
SMU cukup
9
135
6,25
SMUkurang
44
109
28,00
Jumlah
65
321
16,84
Analisis Bivariat
Hubungan beberapa variabel dengan penyalahgunaan
napza terlihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hubungan faktor individu (jenis kelamin, umur, pengetahuan,
sikap) dan faktor lingkungan dengan penyalahgunaan napza
Menyalahgunakan napza
Ya
Tidak
Faktor individu
Jumlah
%
Jumlah
%
P
OR
95% CI
Jenis kelamin
*Laki-laki
*Perempuan
60
5
28,8
2,8
148
173
71,2
97,2
0,000
14,03
5,488- 35,849
Umur
* > 17 tahun
* < 17 tahun
59
6
19,7
6,9
240
81
80,3
93,1
0,008
3,42
1,381-7,976
Pengetahuan
* Buruk
* Baik
38
27
22,5
12,4
131
190
77,5
87,6
0,013
2,04
1,188-3,507
Sikap
*Negatif
*Positif
21
44
11,9
21,1
156
165
88,1
78,9
0,023
0,51
0,287-0,887
Faktor
Lingkungan
Pendidikan ayah
*Rendah
*Tinggi
7
58
20,6
16,5
7
294
79,4
83,5
0,710
0,761
,316-1,830
Pendidikan ibu
*Rendah
*Tinggi
10
55
8,4
20,6
109
212
91,6
79,4
0,269
1,48
0,806-2,715
Pekerjaan ayah
*Tidak Bekerja
*Bekerja
5
50
41,7
16,0
17
314
58,3
84,0
0,052
0,27
0,082-0,871
Pekerjaan ibu
*Tidak Bekerja
*Bekerja
38
27
13,5
26,0
244
77
86,5
74
0,006
2,52
1,291-3,925
Keharmonisan
*Tidak harmonis
*Harmonis
62
3
20,7
3,4
237
84
79,3
96,6
0,000
7,33
2,239-23,959
Komunikasi
*Buruk
*Baik
11
54
28,2
15,6
28
293
71,8
84,4
0,076
2.13
0,101-4,537
Sosial ekonomi
*Tinggi
*Rendah
63
2
18,1
5,3
285
36
81,9
94,7
0,075
3,98
0,934 -16,959
Kebiasaan rokok
*Ya
*Tidak
52
13
21,8
8,8
187
134
78,2
91,2
0,002
2,87
1,501-5,474
Teman sebaya
*Bergaul
*Tidak gaul
48
17
30,2
7,5
111
210
69,8
92,5
0,000
5,34
2.930-9,720
Waktu luang
*Kegiatan negatif
*Kegiatan positif
56
9
37,6
3,8
93
228
62,4
96,2
0,000
15,26
7,240-32,100
Tabel 2 adalah model akhir tanpa menyertakan variabel
interaksi yaitu faktor-faktor yang dianggap cukup berpengaruh
terhadap penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU di
antaranya adalah: Jenis kelamin, umur, pengetahuan, komuni-
kasi, teman sebaya, penggunaan waktu luang.
Analisis Multivariat
Analisis menggunakan analisis multipel regresi logistik
pada tingkat kepercayaan 95%. Variabel independen yang
masuk sebagai kandidat dalam model adalah yang mempunyai
hubungan bermakna dengan variabel dependen (penyalahguna-
an napza, p< 0,25), yaitu jenis kelamin, umur, pengetahuan,
sikap, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, keharmonisan keluarga,
komunikasi keluarga, kebiasaan merokok, sosial ekonomi,
teman sebaya, waktu luang. Hasil analisis dapat dilihat pada
tabel 3. Kemudian dilakukan penentuan model faktor penentu
penyalahgunaan napza dengan cara semua variabel kandidat
dicobakan secara bersama-sama (tabel 4). Model terbaik
mempertimbangkan 2 penilaian yaitu nilai rasio log-likelihood
(p< 0,05) dan nilai signifikansi p wald (p< 0,05) Variabel yang
mempunyai p wald > 0,05 dikeluarkan dari model, pengeluaran
variabel secara bertahap satu persatu dimulai variabel yang p
nya tertinggi.
Pemilihan variabel yang berhubungan dengan penyalah-
gunaan napza
Tabel 3. Model standar regresi logistik multivariat tentang faktor-faktor
yang berhubungan dengan penyalahgunaan napza di kalangan
siswa SMU
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jns kelamin
Umur
Pengetahuan
Sikap
Pekerjaan ayah
Pekerjaan ibu
Keharmonisan kel
Komunikasi kel
Sosial ekonomi
Kebiasaan rokok
Teman sebaya
Waktu luang
17,83
11,87
4,87
0,52
2,48
0,59
4,26
4,85
6,78
,79
4,31
25,06
,6120
,6276
,4684
,4529
,7909
,4610
,7424
,6424
1,169
,5408
,5308
,5189
2,88
2,47
1,58
-,65
,91
-,52
1,45
1,58
1,91
-,23
1,46
3,22
0,0000
0,0001
0,0007-0,15
20
0,2513
0,2565
0,0508
0,0139
0,1016
0,6718
0,0059
0,0000
5,372 59,167
3,471 40,633
1,943 12,187
,215 1,269
,526 11,674
,240 1,463
,995 18,271
1,378 17,093
0,685 67,078
,275 2,295
1,522 12,196
9,782 67,079
-2 log likelihood = 155,431 G = 194,540 p-value = 0,000
Tabel 4. Model akhir regresi logistik multivariat tentang faktor-faktor
yang berhubungan dengan penyalahgunaan napza di kalangan
siswa SMU tanpa menyertakan variabel interaksi (rencana
model)
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jenis kelamin
Umur
Pengetahuan
Komunikasi
Teman sebaya
Waktu luang
29,77
9,89
4,52
5,15
5,55
26,62
,5783
,5755
,4329
,5971
,4682
,4940
3,39
2,29
1,51
1,64
1,70
3,28
,0000
,0001
,0005
,0061
,0003
,0000
9.586 92,482
3,203 30,572
1,934 10,552
1,596 16,583
2,197 13,775
10,107 70,089
-2 log likelihood = 167,266 G = 182,705 p-value = 0,000
Pengujian interaksi
Dengan mengacu pada Tabel 4 maka langkah selanjutnya
adalah mencari interaksi dari setiap variabel independen
tersebut, sehingga diperoleh variabel yang berinteraksi dengan
ketentuan p < 0,05. (Tabel 5).
Hasil analisis interaksi tahap pertama antara rencana model
dengan variabel interaksi teman sebaya*jenis kelamin terhadap
penyalahgunaan napza terlihat pada Tabel 6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 41
Tabel 5. Variabel independen yang berinteraksi menggunakan metode
determinan
Variabel independen
Interaksi
Teman sebaya
Teman sebaya *jenis kelamin
Teman sebaya *pengetahuan
Teman sebaya *waktu luang
Tabel 6. Hasil analisis regresi logistik antara va riabel jenis kelamin,
umur, pengetahuan, waktu luang, dengan teman sebaya*jenis
kelamin (full model tahap pertama)
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jenis kelamin
Umur
Pengetahuan
Komunikasi
Teman sebaya
Waktu luang
Tmnsby/jnskel
35871,51
8,93
4,38
5,29
9512,86
27,89
0,0004
20,503
,569
,428
,631
20,509
,493
20,514
10,488
2,189
1,478
1,666
9,160
3,328
-7,909
,6090
,0001
,0005
,0083
,6551
,0000
,6998
,000 1,023E+22
2,922 27,278
1,896 10,139
1,536 18,231
,000 2,728E+21
10,617 73,2 84
,000 1,063E+14
-2 Loglikelihood = 160,909 G = 6,356 p-value = 0,117
Setelah dimasukkan variabel interaksi teman sebaya,jenis
kelamin ke dalam model, nilai p variabel teman sebaya,jenis
kelamin > 0,05, berarti tidak berbeda signifikan. Selain itu
terjadi kelainan nilai OR dan CI pada variabel jenis kelamin
dan teman sebaya. Nilai OR jenis kelamin menjadi 35871,51
dan 95%CI menjadi tidak terhingga. Dengan demikian variabel
interaksi ini tidak masuk dalam model akhir multivariat.
Hasil interaksi tahap kedua antara variabel yang masuk
dalam rencana model dengan variabel interaksi teman sebaya,
pengetahuan terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil analisis regresi logistik antara variabel jenis kelamin,
umur, pengetahuan, waktu luang, dengan teman sebaya,
pengetahuan (full model tahap kedua)
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jenis kelamin
Umur
Pengetahuan
Teman sebaya
Waktu luang
Tmnsby/penget
29,77
9,89
4,52
5,14
5,50
26,61
,5783
,5755
,4329
,5971
,4682
,4940
3,39
2,29
1,51
1,64
1,71
3,28
,0000
,0001
,0005
,0061
,0003
,0000
9,586 92,428
3,203 30,572
1,934 10,553
1,596 16,583
2,198 13,775
10,107 70,089
-2 Loglikelihood = 153,945 G = 3,320 pvalue = 0,0684
Terlihat bahwa nilai p variabel interaksi teman
sebaya*pengetahuan > 0,05, tidak signifikan. Sehingga variabel
interaksi ini tidak masuk dalam model akhir multivariat.
Tabel 8. Hasil analisis regresi logistik antara variabel jenis kelamin,
umur, pengetahuan, waktu luang, dengan teman sebaya,waktu
luang (full model tahap ketiga)
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jenis kelamin
Umur
Pengetahuan
Komunikasi
Teman sebaya
Waktu luang
Tmnsby/luang
30,40
9,71
4,36
5,13
9,90
46,29
,44
,5766
,5697
,4338
,6135
,8848
,8727
1,0061
3,41
2,27
1,47
1,63
2,29
3,84
-,82
,0000
,0001
,0007
,0077
,0096
,0000
,4130
9,821 94,125
3,178 29,651
1,861 10,193
1,540 17,064
1,748 56,088
8,369 256,061
,061 3,153
- 2 Loglikelihood = 183,412 G = 0,707 p-value = 0,4005
Hasil interaksi tahap ke tiga antara variabel interaksi
dengan variabel yang masuk dalam rencana model terlihat pada
Tabel 8. p variabel interaksi teman sebaya/waktu luang >
0,05,berarti tidak berbeda signifikan. Dengan demikian
variabel interaksi ini tidak masuk dalam model akhir
multivariat.
Analisis interaksi mulai dari tahap pertama sampai tahap
ke tiga seperti diuraikan di atas, ternyata menunjukkan tidak
ada interaksi. Adapun model akhir dari seluruh rangkaian dan
tahapan analisis multivariat adalah kembali pada rencana
model tanpa ada interaksi (Tabel 9).
Tabel 9. Model akhir analisis regresi logistik antara variabel jenis
kelamin, umur, pengetahuan, komunikasi keluarga, waktu
luang, dengan penyalahgunaan napza
Variabel
OR
SE
B
P
95% CI
Jnskelamin
Umur
Pengetahuan
Komunikasi
Teman sebaya
Waktu luang
29,77
9,89
4,52
5,15
5,55
26,62
,5783
,5755
,4329
,5971
,4682
,4940
3,39
2,29
1,51
1,64
1,70
3,28
,0000
,0001
,0005
,0061
,0003
,0000
9.586 92,482
3,203 30,572
1,934 10,552
1,596 16,583
2,197 13,775
10,107 70,089
-2 log likelihood = 167,266 G = 182,705 p-value = 0,000
Tabel 9 merupakan model akhir bahwa faktor-faktor yang
berhubungan dengan penyalahgunaan napza di kalangan siswa
SMU di antaranya adalah : Jenis kelamin, umur, pengetahuan,
komunikasi keluarga, teman sebaya, penggunaan waktu luang.
PEMBAHASAN
Keterbatasan penelitian
1)
Penelitian potong lintang (cross sectional) mengukur
variabel independen dan variabel dependen pada saat ber-
samaan, sehingga hasilnya tidak dapat diartikan sebagai
hubungan sebab akibat.
2)
Banyak faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan
napza, tetapi hanya beberapa variabel yaitu karakteristik
remaja, pengetahuan, sikap, pendidikan ayah-ibu, pekerjaan
ayah-ibu, keharmonisan keluarga, komu nikasi keluarga, sosial
ekonomi, kebiasaan merokok dalam keluarga, teman sebaya,
dan penggunaan waktu luang yang diukur.
3)
Kemungkinan bias pada penelitian ini adalah bias seleksi
yaitu distorsi efek berkaitan dengan cara pemilihan subyek atas
dasar sukarela, kemungkinan subyek terpilih kebanyakan dari
siswa yang menyalahgunakan napza, sehingga terjadi over
estimate.
Selain itu bias ketidakjelasan waktu (temporal ambiguity)
yaitu hubungan positif antara penggunaan waktu luang dengan
penyalahgunaan napza, mu ngkin merefleksikan munculnya
penggunaan waktu luang setelah subyek menyalahgunakan
napza. Instrumen atau alat ukur yang belum terstandarisasi,
sehingga hasilnya mungkin kurang sesuai dengan keadaan yang
sesungguhnya bisa menyebabkan under estimate maupun over
estimate.
Faktor individu yang berhubungan dengan penyalahguna-
an napza
Karakteristik (Jenis Kelamin dan Umur)
Responden dalam penelitian ini berjumlah 386 orang siswa
SMU di kota Bekasi laki-laki 53,9% dan perempuan 46,1%,
sebagian besar berumur 17 tahun (44,6%). Hasil analisis
menunjukkan ada hubungan bermakna (p<0,05) antara jenis
kelamin dengan penyalahgunaan napza. Nilai OR 29,77 artinya
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
42
siswa laki-laki berpeluang 29,77 kali lebih besar untuk
menyalahgunakan napza dibanding siswa perempuan.
Hasil analisis dari kelompok umur menunjukkan hubungan
bermakna (p<0,05) antara umur dengan penyalahgunaan napza.
Nilai OR 9,89 artinya siswa yang berumur 17 tahun ke atas
berpeluang 9,89 kali lebih besar untuk menyalahgunakan napza
dibanding siswa SMU yang berumur kurang dari 17 tahun.
Perbedaan jenis kelamin dalam perilaku kenakalan remaja
menunjukkan bahwa remaja pria cenderung lebih nakal
dibandingkan dengan remaja perempuan (Simon, 1996).
Pengetahuan tentang napza
Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang ber-
makna antara pengetahuan tentang napza dengan terjadinya
penyalahgunaan napza (p< 0,05).
Nilai OR 4,52 artinya ada kecenderungan siswa yang
berpengetahuan buruk tentang napza berpeluang sebesar 4,52
kali untuk menyalahgunakan napza dibanding dengan siswa
yang pengetahuannya baik tentang napza .
Hasil ini berbeda dengan Tarigan (2000) 61,6% kelompok
penyalahguna napza mempunyai pengetahuan baik dan 38,4%
mempunyai pengetahuan buruk serta 72,2% kelompok
penyalahguna menggunakan napza pada awalnya hanya karena
ingin tahu. Perbedaan hasil ini mungkin disebabkan karena
metode penelitiannya lain yaitu kasus kontrol, dan cara
pengambilan sampelnya berdasar kriteria kasus dan kontrol,
sedangkan pada penelitian ini pengambilan sampel secara acak
dan menggunakan metode potong lintang.
Faktor Lingkungan yang Berhubungan dengan Penyalah-
gunaan Napza
Komunikasi keluarga
Sebagian besar responden berada dalam keluarga yang
komunikasinya buruk (89,9%). Hasil analisis menunjukkan ada
hubungan bermakna antara komunikasi keluarga dengan
penyalahgunaan napza (p<0,05). Nilai OR 5,15 artinya siswa
yang komunikasi keluarganya buruk berpeluang 5,15 kali lebih
besar untuk menyalahgunakan napza dibandingkan dengan
siswa yang komunikasi keluarganya baik
Komunikasi dalam keluarga sangat penting untuk kesejah-
teraan dan keharmonisan keluarga. Komunikasi yang efektif
sangat dibutuhkan oleh remaja untuk menyelesaikan tahap
perkembangannya, sehingga pengertian, perhatian, dan pe-
nerimaan lingkungan terhadap keberadaannya juga sangat
dibutuhkan. Keluarga merupakan fundamen yang pertama dan
utama bagi pembentukan jiwa anak (Darwis, 2000)
Pergaulan dengan teman sebaya yang menggunakan napza
Sebanyak 49,0% responden mempunyai teman yang
menggunakan napza, sedangkan 58,8% responden tidak pernah
bergaul dengan penyalahguna napza; 22 % tiap hari bergaul
dengan pengguna napza .
Ada hubungan bermakna antara pergaulan teman sebaya
dengan penyalahgunaan napza (p < 0,05).Nilai OR 5,55 artinya
siswa yang bergaul dengan teman sebaya pengguna napza
berpeluang 5,55 kali menyalahgunakan napza dibanding siswa
yang tidak pernah bergaul dengan teman sebaya pengguna
napza.
Para remaja mulai belajar mencari identitas diri dan
biasanya mereka mencoba melonggarkan ikatan dengan orang
tua, sehingga ada dorongan untuk bergaul dengan teman
sebayanya kadang mereka mencoba napza agar bisa diterima
sebagai anggota kelompok sebaya. Penerimaan oleh kelompok
sebaya memberi rasa bangga dan meningkatkan harga diri.
Penggunaan waktu luang
Responden yang menggunakan waktu luang untuk les
sebanyak 33,9%,21,2% untuk kegiatan ekstrakurikuler dan
20,5% digunakan untuk nongkrong. Hasil analiisis menunjuk-
kan hubungan bermakna antara penggunaan waktu luang
dengan penyalahgunaan napza (p<0.05).
Nilai OR 26,62 artinya siswa yang menggunakan waktu
luang untuk kegiatan negatif berpeluang 26,62 kali lebih besar
untuk menyalahgunakan napza dibanding siswa yang meng-
gunakan waktu luang untuk kegiatan positif. Kegiatan negatif
menambah risiko penyalahgunaan napza.
Pembahasan hasil analisis multivariat
Analisis multivariat bertujuan untuk mendapatkan model
terbaik dalam menentukan determinan penyalahgunaan napza.
Dalam pemodelan ini semua variabel kandidat diikutsertakan
dalam model secara bersama-sama. Pemilihan model dilakukan
secara hirarki dengan cara semua variabel yang telah lolos
sensor dimasukkan ke dalam model, kemudian variabel yang
nilai p nya tidak signifikan dikeluarkan dari model secara
bertahap dimulai dari nilai p yang terbesar.
Setelah melalui seluruh tahapan analisis dengan memper-
hitungkan adanya variabel interaksi, maka variabel yang masih
tetap bertahan sampai model akhir multivariat adalah jenis
kelamin, umur, pengetahuan, komunikasi, pergaulan teman
sebaya, penggunaan waktu luang, karena semuanya memiliki
p<0,05, berarti ke enam variabel tersebut berhubungan secara
signifikan dengan penyalahgunaan napza. Nilai OR masing
masing adalah OR jenis kelamin = 29,77; OR umur = 9,89; OR
pengetahuan = 4,52; OR komunikasi keluarga = 5,15; OR
pergaulan teman sebaya = 5,55; dan OR penggunaan waktu
luang 26,62.
Dari keenam variabel signifikan di atas, jenis kelamin
merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan
penyalahgunaan napza, berikutnya adalah penggunan waktu
luang, umur, pergaulan teman sebaya, komunikasi keluarga,
dan pengetahuan.
Tidak ditemukannya beberapa variabel yang diduga ber-
hubungan dengan penyalahgunaan napza,mungkin karena
kesalahan pengisian kuesioner,keterbatasan penelitian,atau
responden tidak jujur dalam mengisi kuesioner.
KESIMPULAN
1) Faktor jenis kelamin OR 29,77 artinya siswa SMU laki-
laki 29,77 kali lebih mungkin menyalahgunakan napza
dibandingkan dengan siswa SMU perempuan setelah variabel
umur, pengetahuan, komunikasi keluarga, pergaulan teman
sebaya, penggunaan waktu luang, dikendalikan. Jenis kelamin
merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan
penyalahgunaan napza.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 43
2) Faktor umur OR 9,89 artinya siswa SMU berumur 17
tahun ke atas 9,89 kali lebih mungkin menyalahgunakan napza
dibandingkan siswa SMU berumur kurang dari 17 tahun,
setelah variabel jenis kelamin, pengetahuan, komunikasi
keluarga, pergaulan teman sebaya, dan penggunaan waktu
luang dikendalikan.
3) Faktor pengetahuan OR 4,52 artinya siswa SMU yang
berpengetahuan buruk tentang napza 4,52 kali lebih mungkin
menyalahgunakan napza dibandingkan siswa SMU yang
berpengetahuan baik tentang napza, setelah variabel jenis
kelamin, umur, komunikasi keluarga, pergaulan teman sebaya
dan penggunaan waktu luang dikendalikan.
4) Faktor komunikasi keluarga OR 5,15 artinya siswa SMU
yang komunikasi keluarganya buruk 5,15 kali lebih mungkin
menyalahgunakan napza dibanding siswa SMU yang komuni-
kasi keluarganya baik, setelah variabel jenis kelamin, umur,
pengetahuan, pergaulan teman sebaya, dan penggunaan waktu
luang dikendalikan.
5) Faktor pergaulan teman sebaya OR 5,50 artinya siswa
SMU yang bergaul dengan teman sebaya pengguna napza 5,50
kali lebih mungkin menyalahgunakan napza dibanding siswa
SMU yang tidak pernah bergaul dengan teman sebaya peng-
guna napza setelah variabel jenis kelamin, umur, pengetahuan,
komunikasi keluarga, dan penggunaan waktu luang, di-
kendalikan.
6) Penggunaan waktu luang OR 26,62 artinya siswa SMU
yang menggunakan waktu luang untuk kegiatan negatif 26,62
kali lebih mungkin menyalahgunakan napza dibanding siswa
SMU yang menggunakan waktu luang untuk kegiatan positif
setelah variabel jenis kelamin, umur, pengetahuan, komunikasi
keluarga dan pergaulan teman sebaya dikendalikan.
SARAN
1. Bagi Dinas Dikbud, perlu meningkatkan program inter-
vensi penanggulangan masalah penyalahgunaan napza dalam
bentuk penyuluhan kepada siswa SMU melalui pendekatan
lintas sektoral melibatkan Departemen Kesehatan, Kehakiman
dan Kepolisian.
2. Perlu dilakukan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, meng-
undang orang tua murid untuk mencari cara mencegah
penyalahgunaan napza.
3. Perlu lebih meningkatkan pengawasan orang tua terhadap
anak, terutama pada kegiatan waktu luang.
4. Disarankan untuk suatu penelitian kualitatif lebih lanjut,
sehingga paduan kedua penelitian akan sangat bermanfaat
sebagai masukan ke institusi SMU, melalui dinas Dikbud.
KEPUSTAKAAN
1. Depkes RI. Pemuda dan Narkoba. Jakarta, 1991.
2.
Depkes RI. Laporan Tahunan Kunjungan Pasien Rawat Jalan dan Rawat
Inap Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Jakarta, 2000.
3.
Depkes RI. Pedoman Penyebarluasan Informasi Tentang Pencegahan
Penyalahgunaa Narkotika, Psikotropika Dan Zat Adiktif lainnya, Buku
Pegangan Bagi Pendidik, 1999/2000
4.
Tarigan B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba
di kalangan murid SMU di Jakarta Timur, 2000.
5.
Yatim DI. Kepribadian, Keluarga dan Narkotika, Tinjauan Sosial
Psikologis. Jakarta: Arcan, 1990,
6.
Hawari D. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotik, Alkohol dan
Zat Adiktif (NAZA), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001.
7.
Wresnowiro M dkk. Masalah Narkotika & Obat Berbahaya. Yayasan
Mitra Bintibmas, Jakarta, 2000,
8.
Brook, dikutip oleh Wetner IB. Child and Adolescent Psychopathology.
Ch. 13: Alcohol and Drug Abuse. New York:Jhon Wiley & Sons Inc.
1982.
9.
Depkes RI. Pedoman Penyebarluasan Informasi Tentang Pencegahan
Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan zat Adiktif lainnya, Buku
Pegangan Bagi Tokoh Masyarakat Orang Tua, Organisasi kemasyarakat-
an/LSM, Jakarta, 1999/2000.
10. Syahrudin D dkk. Mari bersatu memberantas bahaya penyalahgunaan
narkoba (NAZA). BP, 1999.
11. Berk EL. Development through the Lifespan. Allyn & Bacon, A Viacom
Company USA, 1998.
12. Ariawan I. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan. Jurusan
Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Indonesia. 1998,
13. Hawkins D et al. Childhood predictors and the prevention of adolescent
substance abuse. dalam Jones CL dkk. Research Monograph Series 56.
Research Analysis and Utilization System Etiology of Drug Abuse
Implication for Prevention, National Institute On Drug Abuse, 1985.
14. Kaplan HI, Sadock, BJ. Personality Disorder of Drug Dependence,
Modern Synopsis of Comprehensive Textbook of Psychiatry-III.
Baltimore, London: Williams and Wilkins, 1982,
UCAPAN TERIMAKASIH
Disampaikan kepada Prof. DR. Nuning M Kiptiyah dan Dra. Evie
Martha,Mkes atas segala bimbingannya. Juga kepada pimpinan kepala sekolah
SMU Negeri di Kota Bekasi atas bantuan dan partisipasinya sehingga
penelitian ini dapat selesai dengan baik.
All truth is not to be told at all times