background image
HASIL PENELITIAN
Uji Bioefikasi Beberapa Insektisida
Rumah Tangga terhadap Nyamuk
Vektor Demam Berdarah
Widiarti, Damar T. Bawono, Suskamdani
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Salatiga
PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah saat ini telah berjangkit tidak
saja di daerah perkotaan yang padat penduduknya tetapi sudah
menyebar ke daerah sub urban bahkan juga di daerah pedesaan
(1)
.
Penularan penyakit ini melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti
yang telah mengandung virus penyebabnya. Mengingat vaksin
pembunuh virus demam berdarah saat ini belum ditemukan,
maka pencegahan penularan dilakukan dengan pengendalian
vektor/nyamuk Ae. aegypti.
Usaha pengendalian nyamuk penular demam berdarah
telah dilakukan baik oleh instansi pemerintah maupun oleh
masyarakat sendiri; Upaya masyarakat untuk memberantas
nyamuk antara lain menggunakan insektisida rumah tangga cair
semprot (aerosol). Insektisida tersebut banyak dijual di toko,
pasar maupun pasar swalayan. Jenis, kemasan dan berat bersih
yang dipasarkan sangat bervariasi dan 150­500 gram. Kan-
ABSTRAK
Pada saat ini makin banyak insektisida rumah tangga yang dipasarkan dengan
berbagai merek dagang, kemasan maupun kandungan bahan aktifnya. Masing-masing
contoh perlu dikaji efikasinya terhadap serangga sasaran. Uji bioefikasi 8 obat nyamuk
cair semprot (aerosol) Baygon®, Hit®, Mafu®, Mortein®, Raid®, Sheltox®, Swallow®
dan Vape®, telah dilakukan di laboratorium uji insektisida rumah tangga Stasiun
Penelitian Vektor Penyakit Salatiga.
Pengujian dilakukan terhadap nyamuk vektor Demam Berdarah Aedes aegypti
menggunakan Glass Chamber dan Peet Grady Chamber dengan 3 kali ulangan. Metoda
standar Unit Penyelidikan Kawalan Vektor, Universiti Sains Malaysia digunakan untuk
penelitian ini.
Hasil uji bioefikasi menggunakan Glass Chamber menunjukkan bahwa persentase
kematian nyamuk Aedes aegypti pada 8 jenis obat nyamuk sama yaitu 100%. Knockdown
Time (KT) 50 dan KT 90 berbeda yaitu paling cepat obat nyamuk Mortein® KT 50 2,384
menit dan paling lama pada Sheltox® yaitu 6,893 menit. Knockdown Time 90 paling
cepat pada obat nyamuk Baygon® yaitu selama 3,58 menit dan paling lama pada
Sheltox® yaitu 12.632 menit.
Persentase kematian nyamuk Aedes aegypti pada uji bioefikasi dengan menggunakan
Peet Grady Chamber paling rendah pada Mortein® yaitu sebesar 88,33% sedangkan
pada Baygon®, Hit®, Mafu® dan Swallow® sebesar 100%. Pada Raid®, Sheltox® dan
Vape® masing-masing sebesar 96,29%, 98,33% dan 91,66%. Knockdown Time 50 paling
cepat pada Vape® yaitu 3,501 menit, paling lama pada Mafu® yaitu 13,703 menit.
Sedangkan KT 90 paling cepat pada Vape® selama 8,591 menit dan yang paling lama
pada Sheltox® yaitu 39,464 menit.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 35
background image
dungan bahan aktif pada umumnya dan kelompok sintetik
pyrethroid (d-alletbnin, prolethrin, d-fenothrin, bioallethrin,
esbiothrin dan transfluthrin). Disamping itu digunakan juga
bahan aktif diklorofos dan diklorofinyl dimethilfosfat dari ke-
lompok organofosfat
(2)
dan propoksurdari kelompok karbamat
(3)
.
Insektisida kelompok sintetik pyrethroid banyak digunakan se-
bagai bahan aktif insektisida rumah tangga, karena toksisitasnya
terhadap serangga cukup tinggi dan tidak berbahaya bagi ma-
nusia
(4)
. Nyamuk Aedes yang diketahui sebagai vektor Demam
Berdarah sangat peka terhadap insektisida dari kelompok sintetik
pyrethroid ini. Uji coba yang dilakukan di India dengan obat
pyrethrum 2,1% dan propoxur 1% menyebabkan kematian
100%
(5)
.
Mengingat banyak jenis bahan aktif yang digunakan untuk
pembuatan obat nyamuk cair semprot (aerosol), serta beraneka
ragam merek dagang yang dipasarkan maka perlu dikaji efikasi-
nya. Penelitian ini menggunakan nyamuk Ae. aegypti yang
berperan sebagai vektor Demam Berdarah dan juga bersifat
domestik
BAHAN DAN CARA
Bahan
1) Delapan contoh obat nyamuk cair semprot (aerosol), diper-
oleh dari toko maupun pasar swalayan di kota Yogyakarta dan
Salatiga, Jawa Tengah yaitu:
1) Merek dagang
: BAYGON®
Bahan aktif : Propoksur 1.0% dan transfluthrin 0.04%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 500 gram
Warna kaleng : Hijau-merah
Produksi
: PT. Bayer Indonesia
Registrasi : RIi 1202/11-94/T (Ri. PD. 0701590055)
2) Merek dagang
: HITS
Bahan aktif : Propoksur 1.1 % dan d-allethrin 0.2%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 270 gram
Warna kaleng : Biru-kuning
Produksi
: PT. Globina Karya
Registrasi : Ri. 1143/8-931T
3) Merek dagang
: MAFU®
Bahan aktif : Diklorvos 1 %
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 300 gram
Warna kaleng : Biru-merah
Produksi
: PT. Bayer Indonesia
Registrasi : Ri. 103/3-92/T (Ri. No. PD. 0701590111)
4) Merek dagang
: MORTEIN®
Bahan aktif : Esbiothrin 0.18%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 400 gram
Warna kaleng : Putih-oranye
Produksi
: PT. Tensia Manufacturing Indonesia untuk
PT. Reckitt & Colman Indonesia
Registrasi : Ri. 459/9-91/T (Ri. PD. 0701490062)
5) Merek dagang
: RAID®
Bahan aktif : Propoksur 0.75% dan DDVP 1.00%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 180 gram
Warna kaleng : Hitam
Produksi
: PT. SC. Johnson and Son Ltd.
Registrasi : Ri. 805/3-93/T (Ri. PD. 0701590192)
6) Merek dagang
: SHELLTOX®
Bahan aktif : Diklorvos 1.1%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 170 gram
Warna kaleng : Putih-biru
Produksi
: PT. Tensia Manufacturing Indonesia untuk
PT. Reckitt & Colman Indonesia
Registrasi : Ri. 457/1-91/T (Ri. No. PD. 0701490029)
7) Merek dagang
: SWALLOW®
Bahan aktif : Bioallethrin 0.06%
Diklorovinyl dimethilfosfat 1.1 %
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 180 gram
Warna kaleng : Putih-biru
Produksi
: PT. Globina Karya untuk
PT. Tugasalur Indah
Registrasi : Ri. 629/8-93/T (KD. 3415224)
8) Merek dagang : VAPE (FUMAKILA)®
Bahan aktif : Prolethrin 0.072% dan d-fenothrin 0.2%
Kemasan : Cair semprot (aerosol), netto 300 gram
Warna kaleng : Kuning
Produksi
: PT. Fumakilla Indonesia
Registrasi : Ri. 1024/3-92/T
II) Nyamuk Ae. aegypti betina kenyang larutan gula, umur 2­4
hari,diperoleh dari koloni laboratorium Stasiun Penelitian Vektor
Penyakit, Salatiga Jawa Tengah.
METODA PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan Mei 1996, di laboratorium
uji insektisida rumah tangga, Stasiun Penelitian VektorPenyakit
Salatiga. Pada penelitian ini digunakan metoda uji hayati Stan-
dard Unit Penyelidikan Kawalan Vektor, Universiti Sains Ma-
1aysia
(4)
.
1) Uji hayati meuggunakan Glass Chamber
Glass Chamber adalah kotak kaca berukuran 70x70x70 cm,
satu dinding dapat dibuka sebagai pintu dengan satu jendela
geser berukuran 20 x 20cm pada pintu tersebut. Sebelum dilaku-
kan pengujian, ke dalam Glass Chamber dilepaskan 20 ekor
nyamuk untuk memastikan tidak terkontaminasi. Apabila dalam
waktu lima menit ada nyamuk mati, maka Glass Chamber harus
dicuci ulang dengan deterjen.
Peneraan kadar semprotan obat nyamuk dilakukan dengan
cam sebagai berikut : Obat nyamuk semprot (aerosol) yang akan
diuji ditimbang beratnya, kemudian disemprotkan selama 3 detik
di luar ruangan. Kemudian berat obat nyamuk setelah disem-
protkan ditimbang lagi dan selisih berat dicatat (dalam gram).
Penenaan kadar semprotan dilakukan dengan tiga kali ulangan.
Perhitungan waktu penyemprotan ditentukan dengan rumus:
[0,70* gram : {(Al + A2 + A3 gram) : (3 ulangan X 3 detik)}] = (B) detik
*) Dosis standar digunakan di UPKV, USM Malaysia.
A) Selisih berat ulangan I, II dan III, pada peneraan kadar semprotan ( 0.20
gram).
B) Lama semprotan (dalam detik) yang dilakukan untuk pengujian.
Sebanyak 20 ekor nyamuk Ae. aegypti kenyang larutan gula
(umur 2­4 hari) dilepaskan ke dalam Glass Chamber dan di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
36
background image
tunggu satu menit. Obat nyamuk cair semprot (aerosol) disem-
protkan secara manual ke dalam Glass Chamber menurut waktu
yang telah ditentukan (B) detik. Pengamatan dilakukan selama
20 menit. Jumlah nyamuk pingsan dihitung pada setiap selang
waktu yang ditentukan yaitu : 0.50; 1.25; 2; 2.50; 3.00; 3.50;
500; 7.00; 15.00 dan 20.00 menit. Kemudian semua nyamuk
dipindahkan ke dalam tabung plastik, diberi kapas basah larutan
gula dan disimpan (holding) selama 24 jam di laboratorium.
Setiap contoh obat nyamuk diuji dengan 3 kali ulangan. Per-
sentase kematian ditentukan dan (P) = Jumlah nyamuk pingsan;
(Q) = Jumlah nyamuk mati; (R) = Jumlah nyamuk diuji, dengan
rumus :{(P + Q) : R}X 100%.
2) Uji hayati menggunakan Peet Grady Chamber
Peet Grady Chamber adalah ruangan terbuat dari kaca ber-
ukuran 180 x 180 x 180 cm, dengan satu pintu berukuran 180 x
60cm di salah satu sisinya. Setiap sudut dinding atas dan bawah
dilengkapi jendela geser berukuran 20 x 20 cm. Peet Grady
Chamber ini juga dilengkapi dengan exhaust fan di bagian atas.
Sama seperti metode Glass Chamber sebelum pengujian di-
lakukan peneraan kadar semprotan dan dipastikan bahwa Peet
Grady Chamber tidak terkontaminasi.
Sebelum dilakukan pengujian semua jendela pada Peet
Grady Chamber ditutup dan exhaust fan dihidupkan selama 5­10
menit. Kemudian ke dalam Peet Grady Chamber dilepaskan 20
ekor nyamuk Ae. aegypti kenyang larutan gula dan ditunggu
selama 1 menit. Obat nyamuk yang diuji disemprotkan ke dalam
Peet Grady Chamber melalui 2 jendela di atas dekat pintu selama
waktu yang telah ditentukan. Jumlah nyamuk yang pingsan
diamati selama 20 menit, dengan selang waktu yang telah di-
tentukan seperti pada metode Glass Chamber. Semua nyamuk
dikumpulkan di dalam tabung plastik dan diberi kapas basah
larutan gula. Angka kematian ditentukan setelah disimpan se-
lama 24 jam di laboratorium. Penghitungan persentase kematian
menggunakan rumus sama seperti pada metode Glass Chamber.
Setiap contoh obat nyamuk diuji dengan 3 kali ulangan.
3) Analisis Data
Untuk memperkirakan waktu nyamuk pingsan, yaitu Knock-
down Time 50% dan 90% (KT-50 dan KT-90) digunakan Analisa
Probit. Sedangkan untuk mengetahui adanya perbedaan efikasi
antar contoh obat nyamuk cair semprot (aerosol) dilakukan uji
ANOVA.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Efikasi insektisida rumah tangga ditentukan dari persentase
kematian nyamuk uji setelah disimpan (holding) setelah pema-
paran insektisida selama 24 jam
(4)
.
Hasil uji bicefikasi 8 macam obat nyamuk cair semprot
(aerosol) terhadap Ae. aegypti dengan metode Glass Chamber
(GC) dan Peet Grady Chamber (PGC) disajikan pada Tabel 1
dan 2.
Uji bioefikasi 8 macam contoh obat nyamuk aerosol meng-
gunakan Glass Chamber menghasilkan persentase kematian dan
pingsan nyamuk Ae. aegypti seluruhnya 100%. Sedangkan Knock-
down Time 50 (KT-50) dan KT-90 sangat bervariasi. Dengan
Tabel 1. Persentase nyamuk Aedes aegypti pingsan dan mati serta knock
down time 50 (KT SO) serta KT 90 hasil uji hayati S macam
obat
nyamuk
aerosol
menggunakan
Glass Chamber
Rata-rate
(menit) *
Persentase (%)
Nyamuk
Jenis Obat
Nyamuk
Suhu
Udara (°C)
Kelembaban
Udara (°C)
KT 50 KT 90 Pingsan
Mad
Baygon® 24.0-28.5
69
2.415 3.580 100.0 100.0
Hit® 25.0-27.0 85 5
005
9.104
1000
1000
Mafu® 25.0-27.0
85
4.225 6.318 100.0 100.0
Mortein® 25.5-29.5
73
2.384 3.673 100.0 100.0
Raid®
25.5-28.5
79
3.406 4.762 100.0 100.0
Sheltox® 25.5-27.5
80
6
893 12.632 100.0 100.0
Swallow® 25.5-29.5
83
3.096 4.058 100.0 100.0
Vape® 25.0-27.0
85
2.837 4.389 100.0 100.0
*) Prakiraan menggunakan analisa probit, taraf kepercayaan 0.05%
Tabel 2. Persentase nyamuk Aedes aegypti pingsan dan matl serta knock
down time 50 (KT 50) serta KT 90 hasil uji hayati S macam obat
nyamuk
aerosol
menggunakan
Peet Grady Chamber
Rata-rata
(menit) *
Persentase (`%)
Nyamuk
Jenis Obat
Nyamuk
Suhu
Udara (°C)
Kelembaban
Udara (°C)
KT 50 KT 90 Pingsan Mad
Baygon® 26.0-29.0
79
5.575 11.737
100.0 100.0
Hit® 26.0-29.0 79 10.414
16
099
100.0
1000
Mafu®
26.0-28.5
82 13.703
29.845
100.0
100.0
Mortein® 25.0-27.0
85
3.912 9.330 100.0 88.33
Raid® 26.0-28.5 82 9.114
17.059
100.0
96.29
Sheltox® 26.0-29.0
79
9.622 39.464
100.0 98.33
Swallow® 24.0-27.0 93 12.988
22.180
100.0
100.0
Vape® 24.5-29.0
69
3.501 8.591 100.0 91.66
*) Prakiraan menggunakan analisa probit, taraf kepercayaan 0.05%
analisis probit KT-50 paling cepat pada obat nyamuk Mortein®
selama 2.384 menit, sedangkan paling lama pada obat nyamuk
Sheltox® selama 6.892 menit (Tabel 1). KT-90 paling cepat
adalah obat nyaniuk Baygon® selama 3.580 menit dan paling
lama obat nyamuk Sheltox® selama 12.632 menit (Tabel 1).
Uji bioefikasi 8 macam obat nyamuk aerosol menggunakan
Peet Grady Chamber menghasilkan persentase kematian nyamuk
Ae. Aegypti berkisar antara 88,33%­100% (Tabel 2). Sedangkan
persentase nyamuk pingsan pada ke 8 contoh obat semuanya
100%. Persentase kematian nyamuk Ae. aegypti pada 8 contoh
obat nyamuk, setelah dianalisis dengan ANOVA ternyata tidak
berbeda bermakna (p > 0.05).
Penelitian serupa dengan menggunakan spesies nyamuk
Culex quinquefasciatus menghasilkan kisaran persentase kema-
tian sebesar 13,33% ­ 93,33%
(7)
. Sedangkan diIndia persentase
kematian Cx. quinquefasciatus dengan obat nyamuk yang
mengandung d. allethnin sebesar 79,5%
(5)
. Hal ini menunjukkan
bahwa masing-masing nyamuk mempunyai kepekaan yang ber-
beda terhadap beberapa jenis insektisida. Dari hasil penelitian ini
nampak bahwa Ae. aegypti mempunyai kepekaan lebih tinggi
dari pada Cx. quinquefasciatus pada obat nyamuk yang sama.
Terlihat perbedaan kematian nyamuk Ae. aegypti pada be-
berapajenis obat nyamuk. Namun pada obat nyamuk Baygon®,
Hit®, Mafu®dan Swallow® baik dengan Glass Chamber maupun
Peet Grady Chamber hasilnya tetap sama yaitu kematian nyamuk
setelah disimpan 24 jam di laboratorium tetap 100%. Sedangkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 37
background image
pada Mortein®, Raid®, Sheltox® dan Vape® dengan Peet
Grady Chamber setelah disimpan 24 jam di laboratorium kemati-
an nyamuk berkisar antara 88,33%­98,33%, walaupun nyamuk
pingsan 100%.
Dari hasil penelitian ini nampaknya kombinasi kandungan
bahan aktif memberi gambaran pada hasilnya. Pada Baygon®
dan Hit® kombinasi propoksur-transfluthrin dan propoksur-d.
allethnin yang merupakan kelompok insektisida karbamat dan
sintetik pyrethroid memberikan hasil 100% kematian pada me-
toda Peet Grady Chamber. Kombinasi organophosphat dan
sintetik pyrethroid pada Swallow® menghasilkan kematian
nyamuk 100%. Sebaliknya pada Mortem®, Raid®, Sheltox®
dan Vape® yang hanya menggunakan sintetik pyrethroid atau
organophosphat saja memberikan hasil persentase kematian
nyamuk kurang dari 100%. Selain kombinasi insektisida, kema-
tian nyamuk juga dapat disebabkan oleh kepekaan spesiesnya.
KESIMPULAN
Uji bioefikasi 8 jenis obat nyamuk menggunakan Glass
Chamber setelah disimpan 24 jam menghasilkan rata-rata per-
sentase kematian nyamuk Aedes aegypti seluruhnya sama yaitu
100%. Knockdown Time (KT) 50 dan KT 90 berbeda. Knock-
down Time 50 paling cepat pada obat nyamuk Mortein® yaitu
2.384 menit. Sedangkan paling lama pada obat nyamuk Shel-
tox® yaitu 6.893 menit. Knockdown Time 90 paling cepat pada
obat nyamuk Baygon® 3.58 menit dan paling lama pada Shel-
tox® 12.632 menit.
Persentase kematian nyamuk Aedes aegypti pada uji bio-
efikasi menggunakan Peet Grady Chamber paling rendah pada
Mortein®yaitu 88,33% sedangkan pada Baygon®, Hit®, Mafu®
dan Swallow® sebesar 100%. Pada Raid®, Sheltox®dan Vape®
masing-masing sebesar 96,29%, 98,33% dan 91,66%. Knock-
down Time 50 paling cepat pada Vape® yaitu selama 3.501
menit, paling lama pada Mafu® yaitu 13.703 menit. Sedangkan
KT 90 paling cepat Vape® selama 8.59 1 menit, paling lama
Sheltox® yaitu 39.464 menit.
UCAPAN TERIMA KASIH
Atas selesainya penelitian ini penulis menyampaikan terima kasih kepada
DR. Sustriayu Nalim selaku PJh. Ka. SPVP yang telah membantu penyediaan
fasilitas laboratorium UJI Coba Insektisida Rumah Tangga di Salatiga serta
bimbingannya. Ucapan terima kasih juga kani sampaikan kepada staf dan
karyawan SPVP Salatiga yang telah membantu di dalam penyediaan nyamuk
serta pelaksanaan uji hayati di laboratorium.
KEPUSTAKAAN
1. Ditjen P2B2. Pedoman Pelaksanaan Penganiatan Penyakit Demam Berda
rah, Subdirektorat P2 Arbovirosis, Dir Jend P3M, Departemen Kesehatan
RI, 1981, hal 1.
2. WHO. Interim specification for pesticides for use in Public Health Vector
Control Programmes. WHO/VBC/78.698, 1978.
3. Vandekar M. Monitoring of cholinesterase activity in people exposed to
insecticides during WHO trials. WHO/VBC/75.603, 1975.
4. Yap HH, Chong NL, Abu Hasan Achmad, Zairi Jani. Manual for
workshop in laboratory biological evaluations of household insecticides
products VCRU, Universiti Sains Malaysia, Penang, 1992, 54 p.
5. VCRC. Annual Report, April to December. Pondicherry 605006 India,
1988, p 99­100.
6. Faust EC, Russell PF, Jung RC. Clinical Parasitology, Craig and Faust's
8th Ed, New Orleans, Louisiana, 1971, p. 686.
7. Damar TB, Widiarti, Yuniarti RA. Uji Bioefikasi Insektisida Rumah Tangga
Cair Semprot (Aerosol) terhadap Nyamuk Rumah Cx. quinquefasciatus.
Laporan Penelitian SPVP Badan Litbang Kesehatan, 1996.
A crown is no cure for headache
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
38