background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Tinjauan Sekilas
tentang Penyekat Beta
Dr Sunoto Pratanu
Lab-UPE Ilmu Penyakit Jantung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/
RSUD Dr. Sutomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Obat golongan penyekat beta yang pertama kali dipakai
pada manusia yaitu propranolol pada tahun 1964. Sejak itu
penelitian tentang pemakaian obat-obat ini dalam klinik makin
meluas dan berkembang cepat. Sekitar tahun 1980 penyekat beta
menjadi salah satu obat paling penting untuk pengobatan pe-
nyakit kardiovaskuler.
Dengan munculnya obat-obat golongan penyekat kalsium
dan kemudian obat-obat golongan ACE-inhibitor, banyak peran
penyekat beta dapat diganti oleh kedua jenis obat tersebut.
Meskipun demikian, dalam banyak keadaan klinik tertentu,
penyekat beta masih merupakan obat yang terbaik.
Hingga kini, penelitian dan pengembangan obat-obat go-
longan penyekat beta masih terus berlanjut.
RESEPTOR-RESEPTOR ADRENERGIK
Stimulasi simpatomimetik bisa menimbulkan efek yang
bermacam-macam pada masing-masing organ tubuh. Hal ini
disebabkan karena adanya reseptor-reseptor yang berbeda pada
sel-sel dan organ-organ tersebut.
Ada 2 macam reseptor adrenerjik, yaitu alfa dan beta, yang
masing-masing dibagi lagi menjadi alfa-1, alfa-2 dan beta-1,
beta-2. Selain reseptor alfa dan beta, masih dikenal juga reseptor
dopamin, yang dibagi menjadi dopamin-i dan dopamin-2.
Distribusi reseptor-reseptor adrenerjik pada macam-macam
organ bisa merupakan campuran dari beberapa reseptor. Sebagai
contoh : reseptor-reseptor di jantung terutama ialah beta-1, di
samping sedikit beta-2. Dalam paru terdapat terutama beta-2, di
samping sedikit beta-1 dan alfa (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi reseptor-reseptor adrenerjik dan respons terhadap
stimulasi
(1)
System
Adrenoceptor
Type
Response to stimulation
Heart
beta, > beta
2
increase in heart rate
beta,
increase in conduction velocity
beta,
increase in excitability
beta,
increase in force of contraction
Blood vessels
alpha
constriction of arteries and
beta,
dilatation of coronary arteries, ?
precapillary sphincters
beta
2
dilatation of most arteries
Lung alpha
bronchoconstriction
beta
2
> beta,
bronchodilatation
Skeletal muscle
beta
2
tremor
beta
2
stimulation of Na/K pump
resulting in increased
contractility and hypokalaemia
Bladder­ detrusor
beta
relaxatory­urgency
Smooth muscles:
Uterine beta,
relaxation
Eye alpha
mydriasis
Intestinal
beta,
relaxation
Mast cells
alpha
augmentation of release of
mediators of anaphylaxis
beta
inhibition of release of
mediators of anaphylaxis
Platelets alpha
,
, beta
aggregation promoted
Eye:
Intraocular pressure
beta,
increase in intraocular pressure
Tear secretion
beta
2
increased basic secretion
CNS beta
?
alpha
2
fall in blood pressure
Metabolism:
Gluconeogenesis alpha
promoted
Dibacakan di : Simposium tentang Penyakit Beta, Surabaya, 3 oktober 1993
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 41
background image
Glycogenolysis alpha (liver)
promoted
beta
,
(heart)
promoted
beta,
(skeletal
muscle; ? liver)
promoted
Lipolysis (white
beta, > beta,
promoted
adipocytes)
Calorigenesis beta,
promoted
(brown adipocytes)
Hormone secretion:
Glucagon beta, promoted
Insulin alpha
inhibited
beta, promoted
Parathyroid hormone beta,
promoted
Benin
beta, > beta,
promoted
Neurotransmitter
release:
Acetylcholine alpha
facilitated­skeletal
neuromuscular
junction:
inhibited­sympathetic
ganglia
and intestine leading to
inhibition/relaxation
Noradrenaline alpha
inhibited
beta
(?beta
2
) facilitated
Berbagai obat yang bekerja pada reseptor-reseptor adrenerjik
dapat bersifat agonis (mexnacu) atau antagonis atau penyekat
(menghambat). Suatu obat agonis maupun antagonis dapat be-
kerja pada satu reseptor saja, yang disebut selektif. Kebanyakan
obat mempunyai pengaruh terhadap lebih dari satu reseptor, yang
disebut nonselektif. Sebagai contoh, adrenalin dan noradrenalin
adalah agonis adrenergik yang bekerja luas, yaitu pada alfa-1,
alfa-2, beta-1 dan beta-2. Propranolol adalah penyekat beta yang
nonselektif, yang menyekat beta-1 dan beta-2 (Gambar 1).
PEMBAGIAN PENYEKAT BETA
Pada umumnya obat-obat penyekat beta dibagi berdasarkan
sifat-sifat khusus yang dimilikinya, yang pada umumnya meli-
puti:
1. Selektifitas
2. Intrinsic Sympathomimetic Activity (ISA)
3. Sifat kelarutan dalam air dan lemak
4. Membrane Stabilizing Activity (MSA)
Gambar 1. Skema efek dan obat-obat agonis dan antagonis pada reseptor-reseptor adrenerjik
(1)
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
42
background image
1) Selektifitas
Untuk penanggulangan penyakit jantung, sering dicari
penyekat beta yang selektif menyekat beta-1 saja, tanpa mem-
pengaruhi beta-2. Dengan demikian pengaruh obat itu hanya
pada jantung saja, tanpa mempengaruhi organ-organ lain.
Penyekat beta yang demikian ini disebut penyekat beta yang
kardioselektif. Istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena di luar
jantung terdapat juga reseptor-reseptor beta-1. Maka istilah yang
lebih tepat ialah penyekat beta yang beta-1 selektif.
Penyekat beta-I selektifantara lain acebutolol (+), atenolol
(++), metoprolol (++), bisoprolol (÷++). Penyekat beta yang
non-selektif antara lain ialah : aiprenolol, carteolol, labetalol,
nadolol,oxprenolol, pindolol, propranolol, sotalol.
2) Intrinsic Sympathomimetic Activity (ISA)
Beberapa penyekat beta, di samping mempunyai sifat
menyekat stimulasi pada reseptor beta, mempunyai sifat yang
sebaliknya, yaitu memacu reseptor tersebut. Tentu saja sifat me-
macu ini jauh lebih lemab daripada sifat menyekatnya. Sifat ini
disebut sifat ISA.
Sifat ISA ini kemungkinan besar mempunyai selektifitas
yang sama dengan sifat selektifitas dari penyekat beta tersebut.
Misalnya suatu penyekat beta yang beta-i selektif dan mem-
punyai sifat ISA, akan memacu beta-i selain menyekatnya.
Sifat ISA pada penyekat beta mempunyai pengaruh lebih
nyata dalam keadaan dimana tonus simpatik dalam keadaan mi-
nimal, misalnya selama tidur. Dalam hal ini frekuensi jantung
akan dipacu lebih cepat oleh ISA, dibandingkan dengan
penyekat beta tanpa ISA.
Penyekat beta yang mempunyai ISA antara lain ialah
acebutolol (+), alprenolol (+), carteolol (+), oxprenolol (++),
pindolol (+++).
Penyekat beta yang non-ISA antara lain ialah : atenolol,
metoprolol, nadolol, propranolol, sotalol, bisoprolol.
3) Sifat kelarutan
Sifat farmakokinetik yang penting untuk penyekat beta ialah
sifat kelarutannya dalam lemak dan air. Suatu penyekat beta
yang mudah larut dalam air disebut hidrofilik, yang mudah
larut dalam lemak disebut lipofilik.
Suatu penyekat beta yang lipofilik mempunyai sifat-sifat :
1) Diserap dengan cepat dan sempurna dari saluran pencernaan
2) Dimetabohisir dalam hati
3) Terikat pada protein plasma
4) Tersebar luas dalam jaringan-jaringan tubuh
5) Mempunyai waktu paruh yang pendek.
Suatu penyekat beta yang hidrofilik mempunyai sifat-sifat:
1) Penyerapan dari saluran pencernaan kurang sempurna
2) Tidak dimetabolisir, dan dikeluarkan melalui ginjal tanpa
perubahan
3) Ikatan yang lemah pada protein plasma
4) Penyebaran dalam jaringan tubuh terbatas, hanya sedikit
melewati batas darah-otak
5) Mempunyai waktu paruh yang panjang.
Terdapat perbedaan yang mendasar tentang bioavailabilitas
dari penyekat beta yang lipofilik dan hidrofilik, yaitu penyerapan
penyekat beta yang hidrofilik melalui saluran pencernaan mem-
punyai persentase yang rendah, tetapi mempunyai rasio penye-
rapan yang stabil. Sebaliknya, penyekat beta yang lipofihik di-
serap sempurna melalui saluran pencernaan, tetapi kadarnya
dalam darah ditentukan oleh hasil metabolisme dalam hati,
yang bisa sangat bervariasi.
Penyekat beta yang lipofilik antara lain ialah : propranolol
(+++), oxprenolol (++), timolol (++), metoprolol (+), pindolol
(+), acebutolol (+), bisoprolol (±).
Penyekat beta yang hidrofilik antara lain ialah : atenolol
(+++), sotalol (++), practolol (+), nadolol (+), bisoprolol (±).
4) Sifat Membrane Stabilizing Activity (MSA)
Telah banyak ditelaah tentang sifat MSA dari berbagai jenis
penyekat beta. Sifat MSA suatu penyekat beta ialah sifat men-
stabilkan membran sel sehingga mempunyai sifat antifibrilasi,
menekan depolarisasi, menekan aktivitas ektopik jantung. Sifat
MSA yang paling kuat dimiliki oleh propranolol. Belakangan ini
ternyata bahwa sifat MSA ini baru nyata bila dosis yang diberi-
kan sangat tinggi, hingga 50­100 kali dari dosis terapi. Dengan
demikian secara praktis efek MSA ini tak berguna dalam pe-
makaian klinis, sehingga kini tak relevan lagi mempermasalah-
kan sifat MSA dari suatu penyekat beta.
PEMAKAIAN PENYEKAT BETA DALAM KLINIK
Hingga kini penyekat beta masih merupakan obat yang
sangat banyak dipakai dalam klinik. Penyekat beta hingga kini
masih dianggap sangat penting untuk pengobatan angina pek-
tons, infark miokard akut, pasca miokard infark, aritmia, hiper-
tiroidi, kardiomiopati hipertrofik, hipertensi.
Efek samping penyekat beta
Untuk menghindari efek samping, kita harus memahami
mekanisme kerja dan sifat masing-masing jenis penyekat beta
yang dipakai. Efek samping yang timbul sebagian besar adalah
akibat mekanisme penyekatan reseptor beta-adrenergik, yaitu :
bronkospasme, gagal jantung, penyakit vaskuler perifer, bradi-
kardi/gangguan konduksi, hipotensi.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan ialah
1) Diabetes Mellitus:
Karena metabolisme karbohidrat sebagian dipengaruhi oleh
aktivitas simpatik, maka pemakaian penyekat beta (terutama
yang non-spesifik beta-1) bisa mengganggu kadar glukose darah.
Pada penderita diabetes yang memakai insulin, penyekat beta
bisa menyebabkan hipoglikemia.
2) Gangguan metabolisme lemak:
Pada umumnya penyekat beta menurunkan kadar HDL-
cholesterol darah yang mempunyai akibat buruk terhadap atero-
genesis. Untuk penyekat beta yang beta-l selektif dan yang
mempunyai ISA, penurunan HDL-cholesterol ini tidak jelas.
3) Sistem sarafpusat.
Untuk penyekat beta yang lipofihik, penerobosan batas da-
rah-otak bisa menimbulkan gangguan depresi, insomnia, mimpi
buruk, halusinasi. Sebagian dari keluhan-keluhan demikian
background image
mungkin disebabkan karena penurunan aliran darah otak.
PEMILIHAN PEMAKAIAN PENYEKAT BETA
Meskipun pada garis besarnya efek kiinis penyekat beta
adalah sama, tetapi perbedaan sifat dari masing-masing golong-
an penyekat beta menyebabkan adanya perbedaan efektifitas dan
efek samping untuk keadaan-keadaan klinis tertentu. Sebagai
contoh diberikan beberapa keadaan klinis tertentu dengan pe-
milihan penyekat beta yang dianjurkan:
a) Untuk penderita dengan pengobatan penyekat beta dengan
gangguan-gangguan di iuarjantung seperti : diabetes, gangguan
profil lemak darah, vaskuler perifer, sebaiknya dipilih penyekat
beta yang beta-i selektif, atau penyekat beta dengan ISA. Untuk
penderita-penderita dengan asma bronkhial, sebaiknya tidak di-
pakai penyekat beta, meskipun beta-1 selektif.
b) Untuk pengobatan tirotoksikosis, pilihan obat ialah penye-
kat beta yang non-selektif, untuk menyekat efek adrenergik di
luar jantung juga. Yang terbaik ialah propranolol.
c) Untuk menghindari efek samping yang berupa gangguan-
gangguan serebral seperti : mimpi buruk, halusinasi, insomnia,
dan sebagainya dianjurkan memakai penyekat beta yang hidrofilik.
d) Untuk pengobatan penderita-penderita dengan angina pek-
tons sebaiknya tidak dipakai penyekat beta dengan ISA, karena
efek bradikardia akan berkurang, dan penderita cenderung meng-
alami kenaikan frekuensi jantung waktu tidur, sehingga bisa
timbul serangan angina.
e) Untuk pengobatan hipertensi yang sebaiknya diberi peng-
obatan sekali sehari, sebaiknya dipakai penyekat beta yang
hidrofilik.
f) Untuk penderita dengan gangguan fungsi hati, sebaiknya di-
pakai penyekat beta yang hidrofilik, sedangkan untuk penderita-
penderita dengan gangguan fungsi ginjai, dipakai penyekat beta
yang lipofiuik.
RINGKASAN
Telah dibahas secara singkat tentang penyekat beta secara
umum. Secara global telah dibahas pula tentang pembagian dari
penyekat beta menurut sifat-sifatnya, yaitu selektifitas, sifat
ISA, sifat solubilitas dalam air dan lemak, sifat MSA. Juga telah
diberikan contoh-contoh penyekat beta dan masing-masing
golongan tersebut.
Secara sepintas telah pula dibahas tentang pemakaian
penyekat beta dalam klinik dan efek samping yang bisa timbul.
Telah diberikan beberapa contoh pemiiihan goiongan pe-
nyekat beta dalam pemakaian pada penderita-penderita dengan
keadaan kiinik tertentu.
KEPUSTAKAAN
1. Lees GM. A hitch-hiker's guide to the galaxy of adrenoceptors. BMJ 1981;
283: 173­178.
2. Braunwald. Heart Disease, Fourth Ed. 1992. P. 644­46, 1139, 1307­10,
1412­13.
3. Cruickshank JM, Prichard BN. Beta-blockers in Clinical Practice.
Churchill Livingstone, 1987.
4. Cruickshank JM. The clinical importance of cardioselectivity and lipo-
philicity in beta blockers. Am Heart J 1990; 100: 160.
5. FrithzGL, Weiner. Effects of Bisoprolol, dosed once daily, on blood
pressure and serum lipids andHDL-cholesterol in patients withessential
hypertension. J Cardiovascular Pharmacol 1986; 8 (suppl. II): 77.
6. Harrison. Principles of Internal Medicine. Eleventh Ed. 1987. p. 368­69,
1033­35.
7. Mc Devitt DG. Clinical significance of cardioselectivity. Drug 1983; 25
(suppl 2): 219­226.
No one knows the weight of another's burden
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
44