background image
TINJAUAN PERAN DAN KEDUDUKAN
DOKTER MASA KINI
dr Ibnoe I Djojosoebroto
dr R Subyakto
SUMMARY
At present society is critical towards the honourable medi-
cal profession., as many
"
deviations"
form medical ethics
allegedly performed by medical doctors are reported. Actually
the problem is a very complex one, as many closely related
factors interact until it manifests itself. An appeal is hereby
made to the teaching staff of medical education to be exempla
ry in their dedication and discipline towards the younger doc-
tors and medical students.
Not less important is a better understanding and tolerance
among the medical profession so that by assisting and conec-
ting each other, backed by a positive support from the Depar-
tment of Health a healthier and more respected medical world
will be attained.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini dokter menjadi pusat sorotan dan penilaian
oleh masyarakat luas. Kita baca dalam surat-surat kabar,
tulisan-tulisan baik dari masyarakat awam maupun dari ka-
langan intern kesehatan/kedokteran, satu fihak membeberkan
penyimpangan-penyimpangan tindakan dokter dari Etika
Kedokteran, fihak
lainnya mengutarakan pandangan dan
analisa yang membela atau mencarikan alasan bagi tindakan
dokter yang menyimpang dari Etika Kedokteran tersebut.
Lebih gawat lagi karena ada dokter yang sampai harus mering-
kuk dalam tahanan polisi karena diadukan keluarga pasien-
nya dan ada kalangan kedokteran yang menulis pembelaan
disurat kabar sedemikian jauh menyimpangnya, sampai menu-
duh dan membeberkan penyelewengan yang dilakukan oleh
oknum dari kalangan profesi bukan kesehatan/kedokteran..
Tidak kurang juga bahkan Menteri Kesehatan Republik Indo-
nesia sendiri ikut latah dengan pernyataan disurat kabar yang
mengingatkan para dokter akan sumpahnya dan akan mengam-
bil tindakan terhadap mereka yang jelas-jelas melanggarnya.
Dengan kilat dibentuk Panitia Pertimbangan Pembinaan
Etika Kedokteran di Pusat sampai ketin.gkat Propinsi, dengan
tugas dan deskripsi yang sangat umum, sehingga untuk penge-
trapannya dapat menimbulkan berbagai macam penafsiran.
Ketua IDI Cabang Banyumas.
Ketua Tim Kehormatan Etika Kedokteran, IDI Cabang Banyumas.
MASALAH
Marilah kita tinjau semua kesibukan yang simpang siur
ini dengan kepala dingin dan hati lapang.
Bila kita adakan inventarisasi dari sikap-sikap dan tindakan
para dokter yang kiranya jelas menyimpang dari Etika Kedok-
teran, diantaranya adalah :
· Membanggakan kelebihan diri serta memburukkan Teman
Sejawatnya dimuka seorang penderita, maksudnya yaitu
agar penderita tersebut tetap berobat padanya.
· Dokter umum yang mengaku spesialis karena praktek meng-
gunakan misalnya alat Rontgen, EKG dan lain-lain alat
elektronika.
· Spesialis yang tidak mengembalikan penderita yang dikon-
sulkan kepadanya, akan tetapi mengobatinya langsung se-
olah-olah itu pasien pribadinya.
· Spesialis yang memasang tarip menyaingi dokter umum
dengan maksud menguasai pasaran.
· Setelah
"
general check-up
"
, tanpa alasan kuat, mengan-
jurkan untuk dilakukannya suatu tindakan bedah, tanpa
adanya keluhan dari fihak penderita.
· Memberi keyakinan pada pasiennya bahwa sakitnya berat
dan harus berobat kepadanya secara teratur dan dalam
jangka waktu lama, meskipun hal itu tidak diperlukan.
· Spesialis yang tidak mengijinkan dilanjutkannya terapi
pada dokter ditempat tinggal penderita dan mengharuskan
tetap berobat kepadanya, meskipun penderita datang dari
tempat jauh.
· Membuat pasien seolah-olah "bola" dengan cara konsul-
mengkonsul antara kawan sendiri dari berbagai spesialisasi,
tanpa indikasi tegas.
· Menahan penderita dirumah sakit Pemerintah tanpa diobati,
dengan anjuran pindah kerumah sakit swasta agar dapat
segera ditangani sendiri.
· Menggunakan alat MR untuk aborsi dengan dalih mengatur
haid.
· Menjual obat dikamar praktek, meskipun sudah ada apotik
yang buka diwilayahnya.
· Kerjasama dokter dengan apotik / pedagang obat / pabrik
obat, untuk tujuan komersiil.
· Last but not least,
sikap mental pejabat
dalam bentuk
korupsi dan manipulasi serta pungli dari sementara dokter
yang kebetulan menduduki jabatan kunci dalam pemerin-
tahan, baik dari keuangan proyek maupun dari penempatan
dokter.
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
39
background image
Bila semua cuplikan-cuplikan tersebut diatas kita kaji, maka
hanya satu hal yang mendorong semua tindakan dan sikap
tersebut, yaitu
UANG,
yang dijadikan komoditi mutlak ter-
capainya sekuriti dan status simbolnya dalam masyarakat.
Bila kita tinjau lebih dalam, mengapa justru masa kini timbul
makin banyak penyimpangan Etika Kedokteran, apakah masa
dahulu tidak terdapat? atau tidak terungkap?
Kita semua pasti setuju dan menghayati bahwa profesi dokter
adalah suatu profesi yang luhur dan harus dijunjung tinggi
martabatnya. Untuk itu diperlukan bukan hanya keilmuan
kedokteran saja, akan tetapi diperlukan juga kematangan
mental dokter. Hal terakhir ini baru akan ada bila dokter
tersebut telah mempunyai pendidikan dan lingkungan masa
kanak-kanak dan remaja yang mantap dan terarah. Pendidikan
di Fakultas Kedokteran hanyalah sebagian kecil saja dari jang-
ka waktu pendidikan yang harus dijalaninya.
Dokter
"
tempo doeloe" relatif hanya sedikit dalam masyara-
kat kita, dan umumnya mereka terdiri dari anak-anak orang
yang cukup mampu dalam bidang materi dan tumbuh didalam
lingkungan kemasyarakatan yang mempunyai nilai-nilai sopan
santun yang terjaga ketat. Juga karena peraturan Pemerintah
Hindia Belanda, hanya anak-anak golongan
"
priyayi "
dan
yang mempunyai tingkat kekayaan tertentu saja yang mung-
kin masuk Sekolah Lanjutan Atas dan Fakultas Kedokteran.
Dengan sendirinya segi tabiat dan persiapan mental telah ter-
bina dalam bentuk tatakrama dan penguasaan diri.
Setelah lulus menjadi dokter, lapangan pekerjaan terbuka luas
dengan gaji yang relatif besar, belum lagi kemungkinan untuk
praktek partikelir dengan tarip yang cukup tinggi, sampai-
sampai untuk mereka yang tidak berpraktek partikelir, diberi
tunjangan khusus 200 gulden (bandingkan dengan gaji guru
HIS 75 gulden!). Jadi dari segi penghasilan, tidak ada yang per-
lu diresahkan, rata-rata kedudukan dokter paling sedikit bera-
da dilapisan menengah atas dari masyarakat. Dalam kondisi
sedemikian mereka bisa menjaga martabat dokter secara mur-
ni.
Bagaimana dengan dokter masa kini ? Akibat dari Kemerde-
kaan dan adanya peraturan wajib belajar bagi seluruh rakyat
Indonesia, pintu pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai
Fakultas Kedokteran terbuka luas bagi mereka yang mampu
kecerdasannya.
Fasilitas pendidikan dokter tersedia dengan biaya yang relatif
bisa terjangkau oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Anak-
anak pejabat tinggi sampai anak-anak kusir, anak-anak peda-
gang besar sampai anak-anak tukang batu, bisa dan mungkin
menjadi dokter, apalagi dengan tersedianya berbagai beasiswa
untuk mereka yang cerdas tapi kurang mampu.
Berbeda dengan dokter
"
tempo doeloe", masa kanak-kanak
dan remaja dokter masa kini tidak lagi mengenyam suasana
santai dan serba stabil serta lingkungan ke-"priyayi"-an.
Sejak kecil sudah dikonfrontir dengan kehidupan serba kurang
dan kerja keras, dengan tujuan satu, mencari uang guna men-
capai cita-citanya dan cita-cita keluarganya, yaitu menjadi dok-
ter sehingga mampu untuk mengangkat martabat keluarganya
dan juga mampu mengongkosi biaya pendidikan adik-adiknya.
Jadi sejak mudanya,
dokter masa kini sudah berorientasi
mengejar uang untuk membiayai pendidikannya, membantu
adik dan orang tuanya dan setelah menjadi dokter, mengejar
uang untuk mencapai dan mempertahaiikan kedudukannya
dalam masyarakat, tanpa dilandasi kematangan mental untuk
membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak pantas
dilakukan oleh seorang " priyayi".
Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran, masih belum putus
penderitaannya dalam bidang keuangan, kecilnya gaji sebagai
pegawai negeri dan sulitnya berpraktek partikelir karena he-
batnya persaingan oleh banyaknya jumlah dokter dan ketidak
mampuan masyarakat dalam membayar pertolongan pengo-
batannya.
Belum lagi para dokter lulusan Fakultas Kedokteran Swasta
yang karena peraturan pemerintah harus mengeluarkan lebih
banyak biaya dan frustasi karena masa pendidikan paling se-
dikit sepuluh tahun. Dalam hati dokter ini muncul tekad un-
tuk membalas jasa orangtua yang sudah begitu berat mengong-
kosi pendidikannya dan tekad untuk mengejar status kedu-
dukan para dokter yang lebih senior.
Untuk mengontrol dan menjaga martabat dokter pada waktu
ini, digantungkan pada Etika Kedokteran, yang diharapkan
oleh Pemerintah dan masyarakat dapat menjadi pegangan
para dokter.
Etika Kedokteran ini merupakan kode yang sangat ideal,
akan tetapi pada waktu ini berada dalam suasana dan lingkung-
an dengan nilai dan norma-norma kemasyarakatan yang tidak
sesuai untuk itu.
Dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda dari dok-
ter masa kini dan
"
tempo doeloe", jelas makna yang terkan-
dung didalam Etika Kedokteran tidak dapat sepenuhnya di-
hayati oleh sebagian besar dokter masa kini. Di Fakultas
Kedokteran terutama Fakultas Kedokteran Swasta, sangat se-
dikit diberi pelajaran tentang Etika. Juga kontrol, bimbingan
dan re-edukasi dari Majelis serta Dewan Kehormatan Etika
Kedokteran sangat minim, bila tidak mau dikatakan nol besar.
Kedua Badan itu sendiripun hampir tidak berfungsi.
Bagaimana kita dapat mengharapkan Etika Kedokteran terta-
nam dalam hati sanubari dokter dan tercermin dalam tindak
tanduknya?
Marilah kita tinjau segi ikutan lainnya, yaitu Sumpah Dokter.
Setiap dokter yang menyelesaikan pendidikan dokternya,
diterjunkan kemasyarakat dengan terlebih dahulu harus me-
ngucapkan sumpah. Meskipun sudah berkali direvisi, namun
Sumpah Dokter tetap bermakna inti tekad yang terkandung
dalam Sumpah Hipocrates yang sudah berumur berabad-
abad. Kita semua tahu dan menginsyafi makna luhur dan
idealnya segala yang terkandung dalam Sumpah Dokter, na-
mun dalam hati sanubari kita, bila kita mau berterus terang
pada diri sendiri, adalah hampir tidak mungkin atau sangat
sedikitlah dokter dalam situasi dan kondisi sekarang ini, sang-
gup melaksanakannya. Dan dengan situasi sedemikian itu,
hanya karena dokter telah bersumpah, masyarakat menghen-
daki setiap dokter menjalankan atau mempraktekkan sumpah-
nya secara maksimal. Disinilah timbul konflik dokter -- masya-
rakat. Masyarakat mengharapkan dokter akan selalu memper-
hatikan pasien-pasiennya secara maksimal tanpa pamrih,
selalu meluangkan waktu untuk mereka yang memerlukan per-
tolongan dokter, karena ilmunya semua pengobatannya harus
ces-pleng, selalu ramah dan banyak senyum dan last but not
least memasang tarip rendah, kalau perlu lebih baik menggra-
40
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
background image
tiskan pertolongan pengobatannya. Inilah profil dokter ideal
dipandang dari sudut masyarakat.
Masyarakat menganggap dokter itu manusia super, karena ta-
hu obat, dokter tidak mungkin sakit, tidak mungkin ngantuk
atau lelah, sehingga setiap saat, siap memberi pertolongan.
Disamping itu semua, masyarakat tidak bisa menerima bahwa
seorang dokter itu tidak kaya, masyarakat berpendirian bah-
wa dokter itu pasti kaya, punya rumah dan mobil, anak-anak-
nya sekolah disekolah yang terbaik. Adalah janggal dokter
naik sepeda atau becak, atau makan diwarung kecil. Anggapan
masyarakat inilah yang seringkali mem-"perangkap" dokter,
sehingga mereka mati-matian memuja materi dan untuk men-
cukupi status ini mereka mencari uang dengan segala jalan.
Juga kalangan dokter yang sudah senior dan hidup berkecu-
kupan (bila tidak berkelebihan!), tidak membantu Sejawatnya
yang muda-muda dengan memberi contoh tindak tanduk dan
tingkah laku yang sesuai dengan Etika Kedokteran dan Sum-
pah Dokternya. Terseret oleh masyarakat yang mendamba-
kan materi, memamerkan kekayaan dan memperhitungkan
pelayanan kesehatan yang diberikannya dengan berapa si
pasien mampu membayar.
Tidak pula boleh dilupakan bahwa sebagian besar masyarakat
kita waktu ini adalah kurang atau tidak mampu. Berbeda de-
ngan masyarakat "tempo doeloe
"
, masyarakat sekarang dari
segala lapisan menuntut hak memperoleh pelayanan kesehatan
yang sama, masa dahulu hanya lapisan atas dan menengah saja
menikmati pelayanan dokter, untuk masyarakat bawah cukup
minta dan mendapat pertolongan dari mantri verpleger saja.
Jangan pula dilupakan bahwa masyarakat kita masa kini sangat
berbeda dengan masa lalu, karena kemerdekaan yang kita
capai, dari lapisan masyarakat tertinggi sampai terendah sudah
mengenyam pendidikan dan lebih kritis, berani mengeritik
tingkah laku dokter dengan menulis disurat kabar, salah satu
faktor mengapa tampaknya demikian banyak dan semakin
banyak penyimpangan Etika Kedokteran terungkap.
KELOMPOK SOSIAL DOKTER
Kita tinjau kini kelompok-kelompok sosial dokter dalam
masyarakat kita masa kini, yang dapat kita golongkan dalam:
q Golongan
Mapan.
Termasuk dalam golongan ini adalah
dokter-dokter generasi senior dengan praktek partikelir yang
maju, para spesialis senior dan para superspesialis. Golongan
ini merupakan kelas
"
elite
"
nya kalangan kedokteran. Mereka
mempunyai praktek partikelir yang ramai, dengan tarip tinggi,
pasiennya umumnya dari kalangan atas dan mampu, atau
setidak-tidaknya pasien jauh-jauh hari sudah mempersiapkan
mental untuk tagihan tinggi. Golongan ini pada umumnya
sebagai pegawai negeri mempunyai kedudukan tinggi dan
mantap, karenanya mereka mencurahkan perhatian pada ke-
dinasannya secara penuh dan tanpa pamrih.
Golongan ini sangat kecil jumlahnya dan umumnya berada
di kota-kota besar.
q
Golongan Frustasi.
Golongan ini terutama terdapat dipusat-
pusat pendidikan dokter, terdiri atas para spesialis muda
yang resah. Keahlian mereka punyai, mungkin lebih dari para
senior ataupun profesornya, mereka selalu melirik pada ke-
lebihan finansiil dan materiil Golongan 1 dan berusaha untuk
mencapai status/kedudukan tersebut dalam waktu sesingkat
mungkin. Semua upaya, baik didalam maupun diluar kedina-
san, diukur dengan imbalan yang mereka peroleh atau akan
peroleh. Bila tidak ada keuntungannya, penanganan dinas
dianak tirikan. Sebagai dokter swasta diluar dinas, mereka
merupakan dokter yang ideal dipandang dari sudut pasien
yang sanggup membayar mahal. Berbagai cara digunakan un-
tuk menambah penghasilan sebanyak mungkin, diantaranya
dengan pembentukan grup atau klinik spesialis. Dalam per-
temuan santai pembicaraan dalam golongan ini berkisar
pada topik jumlah pasien, tarip, mobil dan rumah; kapling dan
golf.
q Golongan Santai.
Umumnya terdiri atas para spesialis di-
daerah, dimana hanya terdapat satu -- dua spesialis dalam tiap
cabang
ilmu kedokteran.
Dalam
situasi
pembinaan
karier yang tidak menentu, pada umumnya mereka hidup
santai dan tenang, mempersiapkan diri untuk pensiun ditempat
yang sama, mempunyai kedudukan yang terpandang dalam
dinas maupun dalam masyarakat. Mereka melaksanakan tugas
kedinasannya dengan cukup gairah dan bersungguh-sungguh.
Meskipun tarip praktek partikelirnya tidak setinggi dikota
besar, penghasilannya stabil dan lebih dari cukup. Meskipun
demikian cukup besar jumlahnya yang masih menunjukkan
sikap mengejar materi, terutama mereka yang banyak ber-
hubungan dan bergaul erat dengan rekan-rekannya dikota
besar dan memperbandingkan taraf hidup mereka dengan se-
bayanya di kota besar itu.
q
Golongan Karier Pegawai Negeri.
Tujuan adalah mengejar
jenjang karier dan kedudukan dalam bidang pelayanan kese-
hatan maupun kesehatan masyarakat. Karena terkena mutasi
atau tugas dinas, praktek partikelirnya umumnya tidak maju.
Kurangnya penghasilan tambahan diluar dinas ini banyak men-
dorong mereka terjangkiti penyakit jabatan, korupsi dan ma-
nipulasi uang dinas/uang proyek, manipulasi asuransi kesehat-
an ataupun usaha keluarga berencana, juga untuk jabatan kun-
ci, dipakai suap dan pungli bagi penerimaan atau penempatan
dokter/paramedik ditempat-tempat
"
basah
"
.
q
Golongan Sudra.
Terdiri atas dokter-dokter muda yang
baru mulai praktek partikelir, kedudukan yang rendah dipe-
merintahan dengan gaji kecil, harus praktek dipinggir atau luar
kota dan gang becek, karena beratnya bersaing dengan senior-
nya. Tarip rendah karena masyarakat yang dilayaninya umum-
nya dari lapisan bawah. Termasuk mereka yang terpaksa be-
rada dalam situasi sedemikian karena sedang spesialisasi, setiap
hari disodori suasana serba cukup atau mewah oleh senior-
seniornya, sehingga timbul tekad dalam hati untuk mengejar
gap sosio-ekonomi tersebut. Calon-calon spesialis akan berte-
kad :
"
Tunggulah masanya bila aku sudah selesai spesialisa-
si................................. ".
Bila melihat pembagian kelompok dokter tersebut diatas,
jelas bahwa dokter masa kini sudah umum untuk berorientasi
ke materi dan uang, mereka disodori kenyataan dalam masya-
rakat bahwa dokter itu harus kaya dan mampu untuk kaya,
tanpa dilandasi kematangan pendidikan tatakrama dan sikap
mental yang kuat. Fihak Pemerintahpun tidak memberikan
perhatian kepada masalah ini, hanya bereaksi terhadap keluhan
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
41
background image
dan tanggapan masyarakat. Pembentukan Dewan dan Majclis
Kehormatan Etika Kedokteran tidak pernah diteliti keman-
faatannya, juga oleh kalangan luas dunia kedokteran tidak di-
rasakan kehadirannya. Sandaran hukum bagi kedua Badan
itupun tidak jelas deskripsinya, sehingga menimbulkan keben-
cian.
SARAN
Adalah suatu langkah yang baik dan positif dari Pemerin-
tah untuk membentuk Panitia Pertimbangan Pembinaan
Etika Kedokteran yang terdiri atas unsur Pemerintah dan
I.D.I. dari tingkat Pusat dan Propinsi. Tindakan lanjutan yang
diperlukan adalah peraturan permainan yang jelas dan konsek-
wen, disokong oleh landasan dan tindakan hukum yang tegas
dan konsisten. Panitia ini sebaiknya diteruskan sampai tingkat
Cabang I.D.I./Dinas Kesehatan Kabupaten, karena pada ting-
kat inilah sesungguhnya terjadi persoalan yang berkaitan de-
ngan Etika Kedokteran. Ditingkat ini langsung dapat dilakukan
bimbingan, pengarahan dan re-edukasi para dokter, oleh Seja-
watnya sendiri, dilingkungannya sendiri, dalam suasana keak-
raban persaudaraan.
Etika Kedokteran sendiripun memerlukan revisi secara selektif.
Diusulkan memasukkan kuliah Etika Kedokteran dalam ku-
rikulum Pendidikan Dokter secara luas dan intensip, baik di
Fakultas Kedokteran Negeri maupun Swasta.
Karena keunikan kedudukannya dalam masyarakat, perlu di-
pikirkan pemberian
santunan/gaji yang
"
cukup
"
dengan
kenaikan tingkat yang terjamin, terutama bagi mereka yang
berdinas dipelosok atau ditempat-tempat yang secara ekono-
mis "kering". Diusulkan pemberian tunjangan yang lebih besar
dan kenaikan jenjang karier bagi mereka yang telah bertugas
ditempat terpencil, lebih dari mereka yang ditempatkan dekat
Pusat atau tempat-tempat
"
basah
"
Pengawasan dan bimbingan ditujukan juga terutama kepada
"
pejabat
"
untuk memberi contoh bahwa sebagai dokter yang
berEtik Dokter, mereka tidak minta disuap dan tidak mau
disuap. Khusus dikalangan Fakultas Kedokteran, para pendi-
dik (profesor dan stafnya) agar menjadi suri tauladan bagi
para dokter muda dan mahasiswanya dalam dedikasi dan
disiplin yang tinggi. Banyak contoh dimana staf pendidik
inti lebih banyak bekerja untuk luar dinas negaranya karena
rayuan gaji dan fasilitas yang lebih besar dan lebih menarik,
sehingga dokter muda dan mahasiswanya dibiarkan ditangani
oleh stafnya ditingkat lebih rendah. Yang penting pada akhir-
nya adalah pengertian dan toleransi didalam dunia kedokteran,
saling membimbing dan saling tegur sesama kita, disertai
dukungan yang konkrit dan positif dari fihak Departemen
Kesehatan, Insya Allah kita bersama dapat membangun dunia
kedokteran yang lebih sehat, lebih terhormat.
mohon perhatian ! !
Beritahukanlah kepada kami bila anda pindah alamat!!!
Dan jangan lupa memberikan juga alamat lama anda.
MALNUTRITION AND THE IMMUNE RESPONSE
Ditulis oleh Robert M. Suskind
Kroc Foundation Series, Volume 7
Diterbitkan oleh Raven Press, Publishers, New York, USA,
1977.
Hubungan antara kekurangan gizi (malnutrition) dan mu-
dahnya terserang infeksi sudah diakui oleh dunia kedokteran.
Ini khususnya berlaku untuk penyakit-penyakit diare dan
sistem pernafasan. Selain itu anak-anak dengan keadaan gizi
yang kurang baik lebih mudah mendapat komplikasi yang
serius setelah terserang penyakit-penyakit anak yang menu-
lar, seperti campak (morbili).
Bahwa ini tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan
sudah dapat dibuktikan oleh percobaan-percobaan yang ter-
kontrol baik.
Dalam buku ini diajukan penemuan-penemuan yang ter-
akhir dalam penelitian-penelitian atas akibat malnutrition
pada sistem immune melalui sel (cell mediated immune res-
ponse), sistem immuno humoral, phagocytosis dan sistem-
sistem komplemen.
Buku ini bersampul tebal (hard cover), dicetak diatas kertas
tebal mengkilat dan terdiri dari 468 halaman.
Baik sekali untuk dimiliki oleh mereka yang bekerja dalam
lapangan kesehatan, khususnya dokter umum, dokter anak,
ahli gizi dan ahli immunologi.
Pesanan dapat dilakukan melalui :
KALMAN BOOK SER VICE
Jl. Kwitang Raya No. 11
Jakarta
42
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979