Terapi Laser
pada Tumor Trakeobronkus
M. Ali Hanafiah
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Unit Paru Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Tumor trakeobronkus menimbulkan gejala obstruksi, ko-
laps paru dan perdarahan
(1)
. Tumor trakea sulit penatalaksana-
annya. Diagnosis seringkali baru bisa ditegakkan pada stadium
lanjut, yaitu saat timbulnya obstruksi jalan napas, sehingga pem-
bedahan tidak dapat dilakukan
(2)
.
Pengobatan konvensional dengan reseksi, radiasi dan kemo-
terapi sangat ditentukan oleh stadium tumor, respon pengobatan
dan batas aman dosis yang dapat digunakan. Pada keadaan
darurat dapat timbul risiko yang cukup besar dan membawa ke-
matian
(3,4)
. Kekambuhan (relaps) mungkin timbul pada pasien
yang telah diberikan terapi konvensional dan kebanyakan pasien
tersebut tidak responsif lagi terhadap radioterapi. Pasien tumor
trakeobronkus dengan keluhan sesak napas sangat berat, bila
tidak diterapi mungkin meninggal karena asfiksi secara per-
lahan-lahan
(2)
.
Pada awal 1980 LASER telah digunakan untuk terapi tumor
trakeobronkus. Terapi LASER melalui bronkoskop merupakan
alternatif lain untuk membuka saluran napas, mengurangi sesak
napas dan meningkatkan kualitas hidup penderita atau sebagai
terapi paliatif pada tumor trakeobronkus
(1,5)
. Khususnya pada
saluran napas, LASER telah digunakan untuk membakar tumor,
lesi stenosis jinak dan mengontrol perdarahan superfisial
(6)
. Te-
naga panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk reseksi,
membakar dan koagulasi tumor intralumen pada trakeobronkus.
Tindakan ini meringankan sesak napas serta hemoptisis
(1,5)
.
Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas sifat-sifat LASER,
indikasi penggunaan LASER, kontra indikasi, teknik pemberian,
komplikasi, beberapa hasil penggunaan LASER pada tumor
trakeobronkus dan masa tahan hidup.
SIFAT-SIFAT LASER
LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of
Radiation) dikenal sejak tahun 1917, yaitu ketika Albert Einstein
membuat konsep emisi yang distimulasi, absorbsi yang distimu-
lasi dan emisi spontan. LASER mempunyai 3 sifat utama
yaitu
(7)
:
1) Koherensi, yaitu semua gelombang berada dalam fase yang
sama baik waktu maupun ruangan.
2) Kolimasi, yaitu semua gelombang bergerak dalam arah yang
hampir sejajar.
3) Monokromatik, yaitu semua gelombang mempunyai pan-
jang gelombang sama.
Sifat LASER ini dapat digunakan untuk memotong dan
menguapkan jaringan hidup dengan kecepatan dan ketepatan
yang sangat tinggi, karena sinar ini mempunyai intensitas yang
tinggi.
Suhu jaringan hidup yang dikenai LASER akan meningkat
sampai 60°C. Beberapa detik kemudian terjadi denaturasi pro-
tein dan koagulasi. Jika suhu mencapai 100°C terjadi evaporasi
yang mengakibatkan nekrosis. Jika suhu naik melebihi 100°C
terjadi pembakaran, akibatpenguapan dari panas yang dihasilkan-
nya
(7,8)
.
Ada tiga jenis LASER yang sering digunakan sekarang ini,
yaitu CO
2
, Ar dan Nd-YAG. Masing-masing sinar ini punya
karakteristik yang berbeda yaitu
(5,7,9,10)
:
CO
2
:
· Paling tepat sebagai alat pemotong sehingga dikenal juga
sebagai pisau optik, karena energinya diserap sempurna pada
daerah target dan penyebaran ke daerah sekitar hanya sedikit.
Penetrasi ke dalam jaringan tidak lebih dari 0,1 mm.
· Dapat menaikkan suhu sampai 100°C, sehingga mudah
membakar pipa trakea atau bronkoskop serat optik.
· Dibutuhkan pandangan langsung pada daerah sasaran, tidak
dapat digunakan untuk reseksi jaringan di dinding trakeobronkus
karena kekurang mampuannya mengontrol perdarahan dan ke-
tajamannya.
Argon :
· Mudah menembus jaringan yang luas, dapat menyebabkan
perforasi.
· Dapat mengontrol perdarahan pembuluh darah kecil.
· Efek terapeutik berdasarkan pada lokalisasi tumor dan foto-
aktivitas cairan hematoporfirin yang diinjeksikan pada tumor
menyebabkan kerusakan sel ganas.
Nd-YAG (Neodymium Yttrium Aluminium Garnet) :
· Dapat mengantarkan energi dengan tepat dan efektif pada
massa tumor.
· Energinya dapat digunakan untuk kauterisasi perdarahan
pada trakeobronkus.
· Sangat baik untuk memanaskan jaringan kurang dari 100°C.
· Efek koagulasinya baik, sehingga perdarahan dapat diatasi
dengan baik.
· Ujung/tip fiber tidak kontak langsung dengan massa tumor.
· Lapangan pandang yang jelas dapat diperoleh.
· Pada koagulasi lesi, hanya terbatas pada permukaan, tidak
menyebar ke dalam.
· Pada tenaga rendah dapat menyusutkan dan menggumpal-
kan jaringan, sedangkan pada tenaga tinggi dapat menguapkan
jaringan.
LASER Nd-YAG aman, sangat kuat dan mudah pengguna-
annya. Peranan paliatif LASER Nd-YAG pada penatalaksanaan
tumor trakeobronkus telah terbukti
(1,4)
. Untuk selanjutnya jenis
LASER yang dimaksud adalah Nd-YAG.
Tabel 1. Penggunaan LASER dengan Bronkoskop
Jenis
Panjang
gelombang
(nm)
Kedalaman
penetrasi
(mm)
Aksi
Utama
Jenis
Bronkoskop
CO
2
10.600
0,1 Pemotong
Kaku
YAG 1.060
4 Koagulasi,
Kaku
atau
Tunable 630
12 penguapan
dan
penyusutan
Mengikat hematopor-
fleksibel
fleksibel
Argon 405
1 phyrin:
menyebabkan
nekrosis
Koagulasi; menyebab-
fleksibel
kan
floorescencehe-
matoporphyrins untuk
deteksi tumor ukuran
kecil
dikutip dari 9
INDIKASI
Indikasi penggunaan LASER Nd-YAG pada tumor trakeo-
bronkus antara lain pada kasus-kasus
(1,3,6,11,12)
:
1) Tumor yang tidak dapat dibedah, kambuh setelah terapi
konvensional atau tidak memberikan respon dengan terapi kon-
vensional, terdiri dari tumor jinak, tumor ganas dan tumor
dengan prognosis yang tidak pasti.
2) Perdarahan yang ringan.
3) Pengangkatan
benda
asing.
KONTRA INDIKASI
Terapi LASER Nd-YAG tidak dilakukan pada penderita
tumor trakeobronkus dengan lesi kompresif ekstrinsik, lesi ganas
sangat ekstensif dan obstruksi segmen yang lama
(3,6,12)
.
TEKNIK LASER
Sebelum terapi LASER dilakukan perlu disiapkan ruangan,
peralatan yang digunakan dan pasien.
Persiapan Ruangan
Terapi LASER dilakukan pada ruangan dengan kondisi
sebaik mungkin dan suci hama. Ruang pemulihan hendaklah
tersedia, dilengkapi alat resusitasi dan sebaiknya terletak di
sebelah ruang tindakan. Ruang pemulihan ini berguna untuk
pengawasan pasien pasca tindakan, sekurang-kurangnya 1 jam
setelah dilakukan tindakan
(12)
.
Persiapan Alat
Alat yang digunakan untuk terapi LASER terdiri dari :
1) Alat LASER Nd-YAG, menggunakan He-Ne sebagai pe-
nuntun, sebuah inti kuarsa yang dikelilingi karet silikon dan
dibungkus teflon membentuk serat LASER, kemudian dibungkus
dalam kateter polietilen
(5)
.
2) Bronkoskop
Ada dua jenis bronkoskop yang digunakan yaitu bronko-
skop kaku dan serat optik. Sembilan puluh persen terapi LASER
menggunakan bronkoskop kaku
(14)
. Dengan menggunakan
bronkoskop kaku dapat diamankan jalan napas pasien. Diguna-
kan anestesi umum sehingga tingkat imobilitas jalan napas
seoptimal mungkin dapat dicapai
(5)
.
Juga dapat digunakan untuk tiga tindakan secara bersamaan,
yaitu melihat, memberikan terapi dan menghisap
(15)
. Beberapa
peneliti menggunakan bronkoskop serat optik
(3,4,6,13,16)
.
Ada yang
menggunakan bronkoskop kaku dan serat optik
(2,5,6,17)
.
Bronkoskop
kaku dapat dipakai untuk tumor trakea, karina, bronkus utama
serta keadaan akut. Bronkoskop serat optik dan kaku dapat di-
gunakan secara bersamaan pada keadaan di atas atau tersendiri
pada kasus yang mengenai bronkus lobus dan segmen
(14)
.
Persiapan Pasien
(12)
· Anamesis riwayat kesehatan, penggunaan obat dan terapi
sebelumnya.
· Pemeriksaan laboratorium darah (pembekuan K).
· Penilaian status pulmonologik (Ro, CT-Scan, AGDA).
· Pemeriksaan endoskopi untuk menentukan letak lesi.
Teknik Pelaksanaan
Sebelum dilakukan tindakan terapi LASER, pasien dipuasa-
kan, diberi premedikasi atropin dan sedasi diazepam. Pasien
disiapkan dalam keadaan berbaring. Anestesi dilakukan secara
lokal dengan larutan lidocain 4% dan 2% pada laring dan pipa
trakeobronkus atau anestesi umum.
Pasien diusahakan bernapas spontan. LASER digunakan
dengan tenaga yang tidak lebih dari 45 W, ujung/tip sejajar
dengan dinding saluran napas, berjarak 510 mm dari sasaran
dengan bidikan 0,51 detik. Bila untuk koagulasi digunakan
tenaga yang lebih rendah dan bidikan lama. Untuk reseksi di-
gunakan tenaga tinggi dan waktu singkat. Konsentrasi oksigen
yang diberikan sebaiknya tidak lebih dari 50%. Kepingan
tumor yang terbakar diangkat dengan forsep, perdarahan dihisap
dengan suction
(4,5,6,11,12,17)
.
KOMPLIKASI
Komplikasi terapi LASER dapat terjadi saat atau pasca
terapi. Komplikasi dipengaruhi oleh jenis lesi, lokasi, luasnya
lesi dan penyakit yang menyertai serta keadaan umum pasien.
Komplikasi tersebut adalah :
1) Perdarahan
(3,5,12,18,19)
Merupakan komplikasi utama selama terapi, terutama pada
lesi intrabronkus. Ada tiga bentuk perdarahan yang terjadi
yaitu :
· Perdarahan dari massa tumor, tidak berbahaya, hanya se-
mentara, dapat dikontrol dengan pemberian epinefrin topikal dan
koagulasi LASER.
· Perdarahan arteri bronkus, merupakan komplikasi yang
tidak diinginkan.
· Perforasi arteri paru, biasanya terjadi selama terapi pada
dinding bronkus.
Umumnya perdarahan dalam jumlah kecil (1020 ml) tapi
perdarahan trakea dan perdarahan masif pada bronkus merupa-
kan situasi yang berbahaya dan membawa kematian
(12)
. Hetzel
dkk
(1)
, mendapatkan 2 dari 100 penderita tumor trakeobronkus
yang diterapi LASER mengalami perdarahan, mengakibatkan
asfiksi dan kematian.
2) Hipoksemi
Hipoksemi dapat terjadi karena akumulasi sekret
trakeobronkus atau darah, akibat anestesi atau perdarahan.
Hipoksemi yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan
gangguan kardiovaskuler
(12,19,20)
.
3) Perforasi
Bagian belakang trakea (tidak memiliki cincin) dan 1 inci
pertama bronkus utama kiri yang menempel pada esofagus
merupakan daerah potensial terjadinya perforasi. Perforasi dapat
menyebabkan kematian dengan segera karena diikuti kebocoran
paru dan aorta atau arteri yang terangkat serta pneumotoraks.
Kematian perlahan-lahan dapat karena mediastinitis atau fistel
esofagus
(12,19,20)
.
4) Terbakarnya
trakeobronkus
Penggunaan LASER terus menerus dengan tenaga tinggi
> 45 W dapat menimbulkan kebakaran. Juga dapat terjadi bila
pemakaian oksigen kosentrasi > 50%. Penyebab utama adalah
FiO
2
> 0,5.
Komplikasi biasanya terjadi selama fototerapi LASER un-
tuk lesi obstruksi trakeobronkus ganas (Casey dkk)
(21)
.
5) Pneumotoraks
Toty dkk
(5)
melaporkan 2 dari 164 kasus yang diterapi
LASER mengalami pneumotoraks karena penggunaan ventilasi
jet. Cavaliere dkk juga mendapatkan 4 penderita pneumotoraks
pasca tindakan dari 1000 penderita yang diterapi LASER
(11)
.
6) Kematian
Penyebab utama kematian selama atau setelah terapi adalah
hipoksemi dan perforasi
(12,20)
. Risiko kematian karena perda-
rahan adalah 2%
(14)
.
Dumon dkk melaporkan tingkat kematian
0,4% dari 839 penderita yang diterapi
(12)
.
7) Infeksi pasca tindakan
Infeksi timbul setelah pengembangan paru yang kolaps
(22)
.
PENGAMANAN PADA TERAPI LASER
Penggunaan terapi LASER pada tumor trakeobronkus perlu
hati-hati. Prinsip keamanan adalah menjauhi perforasi dan ke-
bakaran. Hal tersebut ditentukan oleh pasien, operator dan tim-
nya serta cara, alat dan teknik penggunaan LASER
(19)
.
Pasien
Dibedakan tiga kelompok pasien yang akan diterapi
LASER :
1) Pasien dengan kondisi baik, lesi minimal.
2) Pasien dengan kondisi sedang, obstruksi lebih besar tapi
masih dapat melakukan kompensasi.
3) Pasien
gawat/akut.
Pasien kondisi pertama dan kedua perlu diskrining sebelum
ditindak, sedangkan kondisi ketiga merupakan risiko tinggi.
Operator dan timnya
Harus ada kerja sama yang baik antara operator dan timnya
sebelum dan saat tindakan tentang prosedur dan keamanannya;
operator sudah terlatih dalam pemakaian alat serta mengetahui
komplikasinya
(19)
.
Cara, alat dan teknik LASER
(19,20,21,23)
Untuk pasien risiko tinggi digunakan bronkoskop kaku.
Untuk menghindari perforasi digunakan penyinaran inter-
miten (0,51 detik) dengan tenaga tidak lebih dari 45 W.
Selama reseksi, konsentrasi oksigen tidak boleh > 50%.
Nilai FiO
2
sebanyak < 0,4 dan tidak lebih dari 0,5.
Sebaiknya menggunakan oximetry untuk pemberian oksi-
gen.
BEBERAPA HASIL PENGGUNAAN LASER PADA
TUMOR TRAKEOBRONKUS
Respon terapi LASER pada tumor trakeobronkus ditentu-
kan oleh lokasi tumor dan jenis histologinya
(1,11)
. Terapi LASER
paling efektif untuk membersihkan tumor trakea atau karina.
Tumor trakea dan bronkus utama kanan lebih baik responnya
dari tumor bronkus utama kiri atau bronkus lobus, dan tumor
endolumen lebih baik karena terlihat jelas. Hetzel dkk
(1)
men-
dapatkan perbaikan objektif pada 56 penderita tumor
trakeobronkus dan perbaikan simptomatik pada 68 dari 100
penderita yang diterapi LASER. Juga diperoleh hasil bahwa
tumor pada trakea dan karina paling baik responnya daripada
bronkus lobus. Pada Tabel 2 dapat dilihat pengaruh letak tumor
terhadap respon pengobatan dengan LASER.
Tabel 2. Pengaruh Letak Tumor terhadap Respon Pengobatan dengan
LASER
Respon
Simptomatik Objektif
Letak tumor
N
n % n %
Trakea 13
12
92
10
77
Karina 17
13
76
11
65
Bronkus utama
22
17
77
13
59
Bronkus
lobus 7 3 43 3 43
dan mixed
Total 59
45
76
37
63
dikutip dari (1)
Cavaliere dkk
(11)
juga mendapatkan tingkat respon yang
tinggi pada trakea, karina dan bronkus utama kanan. Pada Gam-
bar 1 dapat dilihat pengaruh terapi LASER pada berbagai letak
tumor.
Gambar 1. Hasil terapi LASER pada berbagai letak tumor. Jumlah lesi
pada
masing-masing
lokasi
dan
prosentase
hasil
Gelb dkk
(24)
meneliti tumor trakeobronkus yang menimbul-
kan obstruksi dan kolaps paru; didapatkan keberhasilan terapi
LASER pada tumor ganas ini yaitu di karina 90%, bronkus utama
kanan (91%) lebih besar dari bronkus utama kiri (67%) pada
obstruksi. Pada kolaps paru keberhasilan bronkus utama kanan
38% dan bronkus utama kiri 27%. Perbaikan simptomatik lebih
berhasil pada tumor yang menyebabkan obstruksi sebahagian
yaitu 7080% dan kurang berhasil pada penderita obstruksi total
endobronkus
(25)
.
Berdasarkan histologinya, terapi LASER dilakukan pada
tumor jinak, tumor ganas dan tumor dengan prognosis yang
tidak pasti. Terapi LASER pada tumor jinak (leiomiofibrom,
kondroma) sangat baik dan aman
(11)
. Pada tumor ganas terapi
LASER dapat mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas
hidup penderita terutama pada tumor trakea atau bronkus utama
yang menyebabkan dispnea. Pengangkatan tumor jinak endolu-
men secara sempurna memungkinkan
(26)
. Dumon dkk
(17)
men-
dapatkan 6 dari tumor trakeobronkus (papilloma, hemangioma,
lipoma, myoblastoma dan granuloma) yang diterapi LASER,
semuanya berhasil baik. Pada tumor trakeobronkus ganas derajat
rendah yaitu karsinoid (14 kasus) dan karsinoma adenokistik
(15 kasus) yang diterapi LASER, didapatkan 15 dari 19 penderita
membaik. Tumor dengan prognosis yang tidak pasti (adeno-
kistik, muko epidermoid, mixer tumor) membutuhkan lebih dari
satu kali tindakan karena sering menyebar dan cenderung
kambuh
(17)
.
Respon objektif terapi LASER dinilai dengan uji fungsi
paru. Hetzel dkk meneliti 100 penderita tumor trakeobronkus,
diperoleh peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) 25% pada 37
(63%) dari 59 penderita obstruksi
tll
. Perbaikan simptomatik
lebih dari 76% dan 5 dari 17 penderita yang mengalami kolaps
paru, mengembang kembali.
Gelb dkk
(27)
meneliti volume ekspirasi paksa detik pertama
(VEP1) dan kapasitas vital (KV). Dua puluh tiga dari 27 pen-
derita obstruksi sebahagian, VEP1 meningkat 52% 74% dan
KV meningkat 64% 77%. Pada kolaps paru, 6 dari 19 penderita
mengalami perbaikan gejala dan kapasitas vital paksa (KVP)
meningkat 46% 59%.
Penelitian pada 21 penderita tumor trakeobronkus yang
menjalani reseksi dengan LASER, 11 dari 14 penderita me-
merlukan terapi secara cepat, diperoleh perbaikan tiga hari ke-
mudian. Nilai APE meningkat 26% 512%, rata-rata 36% dan 6
dari 7 penderita dengan kondisi elektif terjadi peningkatan APE
18% 117%
(2)
(Gambar 2).
Gambar 2. Nilai APE sebelum (o) dan 3 hari setelah (·) terapi LASER pada
kondisi
akut
atau
selektif
dikutip
dari
(2)
George dkk
(1)
melakukan penelitian dengan menggunakan
anestesi lokal dan umum pada 1500 terapi LASER, diperoleh
respon objektif lebih baik pada anestesi umum daripada anestesi
(Tabel 3).
Lima puluh satu dari 97 penderita yang diterapi LASER
dengan anestesi lokal dan 46 dengan anestesi umum, didapatkan
banyak pengobatan rata-rata 1,97 pada anestesi lokal dan hanya
1 pada anestesi umum.
Terapi LASER juga meningkatkan nilai perfusi dan venti-
Tabel 3. Indikasi terapi LASER dan Respon Penderita yang Menggunakan
Anestesi Lokal dan Umum
(13)
Respon objektif
Kelompok No
n %
Anestesi lokal
Obstruksi
sebahagian
34
19
56
Obstruksi
sempurna
4
1
25
Pendarahan
13
7
54
Total
51
27
53
Anestesi umum
Obstruksi
sebahgaian
30
22
73
Obstruksi
sempuma
6
2
33
Pendarahan
10
7
70
Total
46
31
67
lasi pada tumor trakeobronkus yang telah direseksi. George
dkk
(26)
mendapatkan 23 (82%) dari 28 penderita mengalami
peningkatan nilai perfusi dan ventilasi. Nilai ventilasi rata-rata
meningkat 24 36 dan perfusi 25 36.
MASA TAHAN HIDUP
Denton dkk
(19)
mendapatkan masa tahan hidup selama 22
bulan pada penderita tumor ganas dengan obstruksi hampir total
yang diterapi LASER. Pada tumor ganas derajat rendah yang
difotoreseksi LASER, 14 dari 19 penderita mengalami obstruksi
karena karsinoid dan 5 oleh karsinoma adenokistik, diperoleh
hasil 15 penderita membaik dan sisanya 6 bulan dan 4 tahun
setelah terapi
(15)
.
George dkk
)2)
meneliti 10 penderita tumor primer dan 11
penderita tumor sekunder, 8 penderita tumor primer masih hidup
6 21 bulan sisanya meninggal setelah 2 dan 5 bulan terapi
LASER. Dua penderita tumor sekunder masih hidup 7 dan 15
bulan, sisanya meninggal setelah terapi dengan masa tahan
hidup rata-rata 52 hari.
Cavaliere dkk
(11)
mendapatkan terapi LASER pada kasus
tumor jinak bersifat kuratif; 34 dari 81 penderita tertolong dan
pada kasus ganas bersifat paliatif yaitu, memperbaiki jalan nafas
(92%). Masa tahan hidup 1 tahun sebesar 26% dan 6 bulan 50%.
KESIMPULAN
1) LASER Nd-YAG merupakan pilihan untuk terapi pada pipa
trakeobronkus.
2) Terapi LASER Nd-YAG pada tumor trakeobronkus me-
rupakan salah satu pilihan pada kasus yang tidak dapat dibedah,
tumor yang berulang dan yang tidak respon pada pengobatan
konvensional.
3) Terapi LASER Nd-YAG merupakan terapi paliatif pada
tumor trakeobronkus.
4) Tumor di trakea, di karina dan bronkus utama kanan mem-
berikan respon lebih baik daripada tumor di bronkus utama kiri
dan bronkus lobus serta tumor jinak lebih baik responnya dari-
pada tumor ganas.
KEPUSTAKAAN
1. Hetzel MR, Nixon C, Edmoston WM et al. Laser therapy in 100 Ira-
cheobronchial tumours. Thorax 1985; 40: 341-5.
2. George PJM, Garrett CPO, Hetzel MR. Role of the neodymium-YAG in
the management of tracheal tumours. Thorax 1987; 42: 440-4.
3. Arabian A, Spagnolo SV. Laser therapu in patients with primary lung
cancer. Chest 1984; 86: 519-23.
4. Hetzel MR, Millard FJC, Ayesh R et al. Laser treatment for carcinoma of
the bronchus. BMJ 1983; 286: 12-6.
5. Toty L, Personnec C, Colchen A, Vourch G. Bronchoscopic management
of tracheal lessions using the neodymium Yttrium Aluminium Garnet
Laser. Thorax 1981; 36: 175-8.
6. Kvale PA, Eichenhorn MS, Radke JR, Miks VR. YAG laser
photoresection of lessions obstructing the central airway. Chest 1985; 87:
283-8.
7. Trigt PV, Wolfe WG. Laser therapy for palliation of bronchogenic and
esophageal carcinoma. Dalam: Roth JA, Ruckdeschel JC, Weisenburger
TH, eds. Thoracic oncology. Philadelphia: WB Saunders Co. 1989: 704-
10.
8. Karlan MS, Ossoff RH. Laser surgery for benign laryngeal disease: Con-
servation and ergonomics. Dalam: North America. Philadelphia: WB
Saunders Co. 1984; 64: 981-1000.
9. Haponik EF, Kvale P, Wang K. Bronchoscopy and related procedures.
Dalam: Fishman AP, ed. Pulmonary Diseases and Disorder. New York:
McGraw-Hill Book Co. 1988; 1: 456-8.
10. Vincent RG. Laser therapy for advanced carcinoma of the trachea and
bronchus. Chest 1983; 84: 509-10.
11. Cavaliere S, Faccoli P, Farina PL. Nd-YAG laser bronchoscopy. A five-
year experience with 1396 application in 1000 patients. Chest 1988; 94:
15-21.
12. Dumon JF. Principles for safety in application of Nd-YAG laser in bron-
chology. Chest 1984; 86: 163-8.
13. George PJM, Garrett CPO, Nixon G, Hetzel MR, Nanson EM, Millard
PJC. Laser treatment for tracheobronchial tumours: local or general
anesthesia ?. Thorax 1987; 42: 656-60.
14. Brutinel WM, Cortese DA, McDougall JC, Gilio RG, Bergstrahl El. A
two-year experience with the neodymium-YAG laser endobronchial
obstruction. Chest 1987; 91: 159-65.
15. Diaz Jimenez JP, Canela Cardona M, Mastre Alcacer J, Nd:YAG laser
photoresection of low-grade malignant tumours of the tracheobronchial
tree. Chest 1990; 97: 920-2.
16. Micks VM, Kvale PA, Riddle JM, Lewis Jr JW. Broncholith removal
using the YAG laser. Chest 1986; 90: 295-6.
17. Dumon JF, Reboud E, Garbe L, Aucomte F, Mere B. Treatment of
tracheobronchial lessions by laser photoresection. Chest 1982; 81: 278-84.
18. Joyner LR, Maran AG, Sarama R, Yakaboski A. Neodymium-YAG laser
treatment of intrabronchial lessions. A new mapping technique via flexible
fiberoptic bronchoscope. Chest.1985; 87: 418-27.
19. Denton RA, Dedhia HV, Abrons HL, Jain PR, Lapp NL, Teba L. Long-
term survival after endobronchial fire during treatment of severe malignant
airway obstruction with the Nd:YAG laser. Chest 1988; 94: 1086-8.
20. Brutinel WM, Cortese DA, Edell ES, McDougall JC, Prakash UBS,
Rochester MN. Complication of Nd:YAG laser therapy. Chest 1988; 94:
902-3.
21. Dedhia HV, Lapp LR, Jain AC, Withers A. Complication due to Nd:YAG
laser therapu. Chest 1984; 85: 837.
22. Hetzel MR, Smith SGT. Endoscopic palliation of tracheobronchial
malignancies. Thorax 1991; 46: 325-33.
23. Schiffman PL, Wilhelm J, Parisi RA. Arterial oxygen saturation during
Nd:YAG laser photoresection of endobronchial tumors under local
anesthesia. Use of intermittent supplemental oxygen with pulse oxymetry
guidance. Chest 1988; 94: 1300-1.
24. Gelb AF, Epstein JD. Laser in treatment of lung cancer. Chest 1984; 86:
662-6.
25. George PJM, Pearson MC, Edwards D, Rudd RM, Hetzel MR. Broncho-
graphy in the assessment of patients with lung collaps for endoscopic laser
therapy. Thorax 1990; 45: 503-8.
26. George PJM, Clarke G, Tolfree S, Garrett CPO, Hetzel MR. Changes in
regional ventilation and perfusion of the lung after endoscopic laser
treatment. Thorax 1990; 45: 248-53.
27.
Gelb AF, Epstein JD. Nd-YAG laser in lung cancer. Ann Thorax Surg
1987; 43: 164-7.