background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Tanaman Obat Bersifat Antibakteri
di Indonesia
B. Dzulkarnain, Dian Sundari, Au Chozin
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi mungkin merupakan penyakit yang banyak
diderita masyarakat Indonesia sejak dulu. Pada waktu sekarang
penyakit infeksi dapat ditanggulangi menggunakan obat modern
di antaranya antibiotika. Zaman dahuh bahan modern ini tidak
dikenal dan masyarakat pada waktu itu tergantung pada berbagai
bahan yang diperoleh di sekitar rumah termasuk pekarangan
atau hutan sekitarnya.
Dari berbagai catatan diketahui berbagai tanaman yang di-
gunakan untuk mengatasi keluhan yang mungkin sekali di-
sebabkan kuman (infeksi). Dari berbagai survey, di antaranya
Survey Kesehatan Rumah Tangga
(1,2)
. Survey Penggunaan Obat
Tradisional di masyarakat di Sulawesi dan Kalimantan Timur
(3)
,
di Aceh dan Madura
(4)
. Survey Etnobotani di daerah oleh Pus-
litbang Biologi LIPI
(5)
, dapat disimpulkan bahwa, masyarakat
masih mengandalkan alam sekitarnya untuk menanggulangi
penyakit yang mungkin sekali disebabkan kuman
(3,5-8)
. Terlihat
cara ini kuno, tetapi selain obat modern belum dapat mencapai
daerah jauh, apalagi penggunaan antibiotika yang harus dengan
resep dan mahal, tidak bisa tidak masyarakat harus puas dengan
keadaan demikian.
Di balik itu, bila diingat bahwa bentuk zat aktif berbagai
obat modern berasal dari alam, contoh atropin, digitalis, anti-
biotik penisilin juga merupakan hasil alam, maka dapat dire-
nungkan bahwa obat dari alam yang digunakan secara tradisional
mungkin saja mempunyai dasar kebenaran yang belum banyak
dibeberkan. Andaikata bahan-bahan di atas tidak menolong,
mungkin sudah lamaditinggalkan. Untuk inilah dicoba merekam
pembuktian khasiat eksperimental, khususnya pembuktian daya
antibakteri, daya antimikroba, daya menghambat pertumbuhan
kuman atau pembuktian dengan nama lain yang menjurus kepada
khasiat antibakteri. Akan diusahakan untuk menemukan tulisan
tentang zat yang bertanggung jawab atau yang mungkin ber-
tanggungjawab atas khasiat ini.
Penyakit infeksi yang banyak diderita masyarakat di an-
taranya
(10,11,18)
. infeksi usus, antara lain karena Staph. aureus, E.
coli, Salmonella typhi, Vibrio cholerae, infeksi lambung seperti
Staph. aureus, infeksi kulit karena Staph. aureus, Pseudomonas
aeruginosa dan sebagainya.
Penentuan daya antibakteri
(9)
dapat dilakukan dengan me-
nentukan adanya daya hambat pertumbuhan bakteri atau di-
lanjutkan dengan menentukan potensi daya hambat dengan
membandingkan dengan antibiotika atau dengan menentukan
koefisien fenol. Untuk ini dilakukan percobaan menggunakan
plat agar dengan cara sumur atau menggunakan cakram me-
ngandung sejumlah antibiotik, atau dengan menentukan peng-
hambatan pertumbuhan dengan menentukan kekeruhan atau
dengan turbidimetri, atau dengan menentukan konsentrasi
terendah yang menghambat pertumbuhan (MIC = minimal
inhibition concentration) atau konsentrasi terendah yang me-
matikan kuman (MLC = minimal lethal concentration).
Bentuk bahan yang diuji dapat berupa bentuk sediaan yang
digunakan secara empirik, seperti tumbukan, perasan, seduhan,
rebusan dan sebagainya. Percobaan pendahuluan ini dilanjutkan
dengan bentuk sediaan yang diperoleh dengan penyarian meng-
gunakan berbagai penyari seperti etanol, metanol, etil-asetat,
eter minyak tanah, kioroform, dikiorometana atau campuran
bahan ini dengan berbagai perbandingan. Langkah lebih maju
adalah dengan mencoba zat-zat murni dari tanaman.
PENELUSURAN PUSTAKA
Menggunakan dasar pemikiran di atas, maka ditelusuri
berbagai informasi
(1,5,6,7)
, dari berbagai instansi, swasta ataupun
pemerintah yang melakukan eksperimen antibakteri. Direkam
simplisianya, bentuk sediaan percobaannya, dan hasilnya. Di-
usahakan untuk merekam juga kandungan dari tanaman dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 35
background image
dipadankan dengan zat yang terbukti mempunyai daya anti
bakteri. Informasi yang diperoleh mungkin sudah sampai mene-
mukan zat yang aktif antibakteri, tetapi mungkin hanya sampai
suatu taraf yang hanya memberi kesan adanya daya antibakteri.
Dengan merekam kandungan kimia dan memadankan dengan zat
berkhasiat antibakteri modern diramalkan zat yang mungkin
bertanggung jawab atas khasiat antibakteri.
Dengan pemilahan dapat diketahui bentuk sediaan empirik
yang terbukti berdaya antibakteri, bentuk sediaan hasil penyari-
an di antaranya sampai bentuk zat yang berdaya antibakteri, zat
yang diketahui berdaya antibakteri atau bahan yang diduga ber-
sifat antibakteri. Informasi tambahan adalah tentang pengguna-
an empiriknya.
Penelusuran ini jauh dari sempurna. Namun dengan hasil
penelusuran ini dapat diperoleh gambaran tentang status ta-
naman obat antibakteri (dilihat dari segi pembuktian khasiat
secara ilmiah), oleh karena itu angka-angka di bawah ini bukan
merupakan angka mutlak tetapi dapat memberikan gambaran
tentang hasil-hasil penelitian.
HASIL PENELUSURAN
Dari penelusuran dapat dijaring 106 simplisia (Daftar 1)
yang diuji daya antibakterinya; di antaranya : 42 simplisia di-
ketahui digunakan secara empinik untuk infeksi saluran pencer-
naan, 33 simplisia tercatat digunakan secara empinik sebagai obat
penyakit kulit, Enam simplisia digunakan secara empirik untuk
infeksi kandung kemih, Satu simplisia digunakan secara empirik
sebagai obat infeksi tenggorokan. Beberapa simplisia lain tidak
jelas penggunaan empiriknya tetapi diteliti daya antibakterinya.
Di antaranya 9 simplisia hanya diuji bentuk empiriknya
(irifus, rebusan atau perasan), 82 simplisia diuji dalam bentuk
isolatnya (disari menggunakan berbagai jenis pelarut), 15 sim-
plisia diuji dalam bentuk kedua jenis sediaan ialah bentuk em-
pirik dari isolatnya.
Jumlah sediaan yang mempunyai daya antibakteri positif(+)
sebvanyak 85 simplisia, baik dalam bentuk empinik, isolat atau
dalam kedua bentuk, dari beberapa simplisia belum diperoleh
informasinya; 16 simplisia belum jelas dibuktikan berdaya anti-
bakteri menggunakan cara, dosis atau konsentrasi, dan kuman
yang digunakan. Lima simplisia dengan cara yang telah diguna-
kan tidak terbukti mempunyai daya antibakteri.
Kayu Arcangelisiaflava Merr.
(40)
, kulit kayu Cinnamomum
burmanii Ness.
(30)
, daun Colleus amboinicus Lour.
(35)
, rimpang
Kaempferia galanga L.
(36,37)
, daun Lawsonia inermis L.
(38)
, kem-
bang Michelia champaka L.
(146)
, dan daun Plantago mayor L.
(170)
,
selain dibuktikan daya antibakterinya secara kualitatif, juga
ditentukan potensinya dengan cara membandingkan dengan
potensi antibiotik, dengan cara penentuan MIC (minimal inhi-
bition concentration), atau dengan cara menentukan koefisien
feno
Berberin dan kayu Arcangelisia flava Merr.
(36)
, herba
Caseinum fenestratum Colebr.
(53)
, berasal dari bumi Indonesia
dibuktikan berdaya anti bakteri. Flavonoid dan daun Elephanto-
pus scaber L.
(105)
, Phaseolus radiatus L.
(162)
, daun Ricinus
communis L.
(187)
,serta pektin dari buah Carica papaya L.
(52)
, kulit
buah Citrus macimus Merr.
(76)
, Citrus sinensis Osbeck.
(76)
, buah
Pyrus mallus L.
(184,185)
terbukti berdaya antibakteri. Minyak atsiri
dan 24 simplisia dari Indonesia terbukti berdaya antibakteri.
Berbagai ekstrak dari beberapa simplisia bersifat antibakteri.
Sejumlah 11 simplisia mengandung flavonoid yang tidak diba-
rengi dengan pembuktian daya antibakteni, demikian pula 9
simplisia yang mengandung minyak atsiri dan 16 simplisia yang
mengandung tanin.
Simplisia yang terbanyak diteliti adalah daun Casia alata L.
(tercatat 13 naskah).
Ada 42 simplisia digunakan secara empirik untuk infeksi
saluran pencernaan dan 39 di antaranya terbukti bersifat anti
bakteri. Di antara simplisia ini 9 simplisia terbukti bersifat
antibakteni dalam bentuk empiriknya. Selain itu 2 simplisia
mengandung pektin, 1 (satu) mengandung flavonoid; dan 12
mengandung minyak atsini yang semuanya bersifat antibakteri.
Berbagai jenis ekstrak dari 19 jenis simplisia bersifat antibakteri.
Sebanyak 33 simplisia tercatat digunakan secara empirik
sebagai obat penyakit kulit. Duapuluh empat di antaranya ter-
bukti bersifat antibakteri. Lima simplisia bentuk preparat siap
pakainya (bukan ekstrak atau sediaan empirik) bersifat anti-
bakteri. Satu simplisia rnengandung pektin, satu mengandung
suatu flavonoid, 2 mengandung minyak atsiri yang terbukti
bersifat antibakteri.
Beberapa tanaman lain tidak jelas penggunaan empiriknya
tetapi bersifat antibakteri.
Coleus amboinicus Lour., Hemigraphis colorata Hall., Piper
cubeba L. yang digunakan sebagai obat infeksi saluran kemih
secara empirik, ekstraknya (berbagai jenis ekstrak) bersifat anti-
bakteri. Michelia champaca L., Ocimum gratisimum L. dan
Orthosiphon stamineus Benth., yang secara empinik digunakan
sebagai obat saluran kemih belum terbukti bersifat antibakteri.
Morinda citrifolia L., dan Syzygium cumini Skeels. yang diguna-
kan secara empinik sebagai obat tenggorokan, ekstraknya ber-
sifat antibakteri.
PEMBAHASAN
Penelitian daya antibakteri tanaman obat merupakan jenis
penelitian terbanyak dilakukan di Indonesia
(21b)
. Yang terjaring
seperti dilihat di atas sebanyak 106 simplisia, tetapi diyakini
bahwa masih banyak yang belum dijamah. OIeh karena itu
angka-angka jumlah simplisia bukanlah angka mutlak, tetapi
hanya memberikan bayangan tentang kegiatan penelitian ta-
naman obatkhususnya yang bersifat antibakteri. Penelitian yang
terjaning merupakan naskah yang dikeluarkan sekitar tahun 1977
sampai 1995. Melihat instansi penghasit penelitian di atas sangat
bervariasi, mulai dari perguruan tinggi negeri maupun swasta
dan instansi non pendidikan seperti Puslitbang Biologi LIPI.
Memang penghasit naskah terbanyak adalah fakultas atau ju-
rusan Farmasi dari berbagai perguruan tinggi.
Seperti dikatakan di atas dari 42 simplisia yang diketahui
digunakan sebagai obat infeksi usus 39 simplisia bersifat anti-
bakteri dan dari 33 simplisia yang digunakan sebagai obat infeksi
kulit 24 simplisia terbukti bersifat antibakteri dalam berbagai
bentuk sediaan, di antaranya dalam bentuk empinik, dalam ben-
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
36
background image
tuk flavonoid, minyak atsiri atau dalam bentuk zat aktifnya
seperti berberin dan pektin. Di sini belum dibuktikan jenis
minyak atsiri yang bersifat antibakteri, tetapi diketahui sesqui-
terpen, fenol, eugenol merupakan jenis minyak atsiri bersifat
antibakteri
(29)
.
Ekstrak beberapa simplisia bersifat antibakteri dan masih
perlu diteliti zat aktif yang bertanggung jawab atas daya ini.
Sebaliknya ada simplisia yang mengandung minyak atsiri, fla-
vonoid, pektin atau alkaloid (contoh berberine) yang berindikasi
adanya daya antibakteri. Sehingga bentuk ekstrak (dengan ber-
bagai pelarut seperti etanol, eter minyak tanah, kioroform) yang
bersifat antibakteri, masih perlu dilanjutkan penelitian.
Khasiat suatu simplisia tergantung kandungannya,jenis dan
jumlahnya. Jumlah zat aktif saja sudah memberikan kesulitan
dalam evaluasi. Karena bila jumlahnya dalam konsentrasi ren-
dah khasiat tidak akan terlihat, dengan demikian yang belum
terbukti berdaya antibakteri belum tentu tidak mempunyai daya
antibakteri. Di sinilah pentingnya bahan baku yang standar.
Standardisasi bahan baku perlu diadakan, dan untuk ini tidak
diperlukan bahan baku dengan daya yang tinggi. Sebagai per-
mulaan diperlukan suatu kesepakatan terlebih dahulu. Ialah me-
nentukan asal bahan baku, bila dipanen (tgl bulan, keadaan
cuaca), cara penanaman (mungkin sudah dibudidayakan hingga
diperlukan informasi pembudidayaan), cara pengolahan bahan
setelah dipanen.
Semua bahan baku lainnya kemudian menggunakan bahan
baku ini sebagai pembanding (reference), sehingga mungkin saja
bahan baku dari daerah lain atau dipanen pada waktu lain dapat
berpotensi lebih atau kurang. Tidak berarti penelitian daya anti-
bakteri yang sudah dilakukan sampai dengan membandingkan
dengan antibiotika tidak ada gunanya tetapi bagi peneliti kemu-
dian perlu diperhatikan bahwa pernah dilakukan penelitian ini
hingga perlu ditelusuri segala informasinya termasuk sumber
dari bahan baku.
Dalam ulasan di sini belum diangkatjenis bakteri uji. Hal ini
sangat penting karena tidak semua bakteri uji sama pekanya ter-
hadap suatu zat. Jadi perlu dieval uasi jenis bahan uji di antaranya
sensitivitas, Gram positif atau Gram negatif, atau dilihat dari
jenis bakteri uji berkaitan denganjenis penyakit yang ditimbul-
kan.
Demikian belum diperhatikan kaitan suku tanaman dan daya
antibakteri berbagai simplisia. Karena diketahui kandungan
kimia sangat erat hubungan suku dan kandungan sehingga ter-
lahir ilmu yang dinamakan chemo-taxonomi.
Masalah falsafah tujuan penelitian mungkin meminta per-
hatian (untuk semua penelitian obat tradisional/tanaman obat).
Satu segi pengembangan dapat dilakukan untuk secepat
mungkin dapat dimanfaatkan, artinya digunakan oleh penderita.
ini berarti dimanfaatkan dalam bentuk sederhana dan bila sudah
dapat dimanfaatkan, dapat dimasyarakatkan umpamanya se-
bagai informasi di Posyandu. Langkah pengembangan kemudi-
an adalah untuk dikembangkan menjadi obat berbentuk lebih
modern, tanpa mencari zat aktifnya yang perlu memenuhi semua
persyaratan sebagai obat modern.
Segi lain adalah bahwa tiap penelitian dapat diarahkan ke-
pada mencari mddel zat yang baru yang mempunyai daya anti-
bakteri. Mungkin di sini tidak difikirkan tentang kemungkinan
simplisia menjadi komoditi penghasil obat, seperti kina dahulu.
Karena seperti kina akhirnya pengganti kina secara sintetik
banyak ditemukan dari perkebunan kina terlantar. Hal yang sama
terjadi baru-baru ini dengan Artemisia anua. Tanaman ini harus
diteliti selama sekitar 20­30 tahun untuk menemukan zat aktif-
nya (bahan ini antimalaria bukan alkaloid, jadi merupakan model
zat yang baru). Sekitar 2 tahun setelah ditemukan zat aktifnya
bahan ini dibuat secara sintetik di Boston University dari 2 tahun
kemudian sudah mendapatkan izin untuk diedarkan. Dimanakah
harapan orang yang ingin menjadikan Artemisia anua sebagai
obat antimalaria baru?
Jadi untuk segi kedua ini perlu diwaspadai. Kita tidak perlu
berbangga mempunyai sumber alam yang kaya. Tetapi mungkin
setelah suatu bentuk (bila perlu yang sederhanapun) dimintakan
paten hingga penghasil simplisia tidak dirugikan dan masyarakat
di daerah tetap masih dapat menggunakan tanaman obat yang
diperoleh dari alam bebas, sebagai obat.
Dengan lain perkataan, karena sudah banyak simplisia ter-
bukti berdaya antibakteri, segera diteliti potensinya dengan tidak
melupakan standardisasi, da dimasyarakatkan meskipun hasi-
lnya masih dalam bentuk empirik (infus, rebusan atau lainnya).
Tidak perlu menunggu menemukan zat aktifnya lengkap dengan
informasi farmakodinamika dari farmakokinetika.
Perlu juga difikirkan batasan-batasan yang menjadi per-
syaratan untuk sesuatu simplisia layak diteliti lebih lanjut. Con-
toh bagi satu persyaratan adalah toksisitas. Di antaranya LD
50
(dapat diambil kreterion yang lain). Berapa LD
50
bahan diteliti
untuk manjadi batas bagi lanjutan penelitian. Dapatkah batasan
Gleason digunakan ialah bila besar LD
50
lebih dari 15.000 mg/Kg
berat badan tikus dalam bentuk sediaan apa saja? Bila ini dapat
diterima, maka salah satu syarat sudah dipenuhi. Perlu diperhati-
kan bahwa batasan Gleason (1969) diperuntukkan zat industri.
Bila diasumsikan bahwa hasil toksisitas merupakan hasil secara
total dari bahan maka, batasan Gleason sekiranya dapat diguna-
kan.
Contoh lain adalah tentang potensi daya antibakteri bagi
bahan (yang sementara ini telah ditentukan pada sejumlah sim-
plisia). Berapa sebaiknya MIC-nya untuk diputuskan bahan
tersebut akan diteruskan penelitiannya. Untuk ini perlu diper-
bandingkan dengan MIC dan bahan antibakteri lain yang dikenal
seperti suatu antibiotika. Contoh umpamanya : dalam suatu
bentuk jumlah bahan uji sama dengan pembanding, potensinya
minimal harus sepertiga dari potensi pembanding. Atau untuk
bahan lain dapat ditentukan koefisien fenolnya. Berapakah se-
baiknya koefisien fenol bahan uji ini supaya layak diteliti lebih
lanjut? Dengan demikian masih beberapa masalah masih perlu
dijawab sebelum penelitian lanjutan dapat dilaksanakan, meski-
pun sudah banyak dilakukan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Sudah cukup banyak simplisia yang terbukti berdaya anti-
bakteri dalam berbagai bentuk sediaan.
Beberapa bahan yang berhasil disari, beberapa zat telah di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 37
background image
isolasi dari simplisia yang diperoleh di Indonesia terbukti ber-
daya antibakteri.
Berbagai simplisia telah disari dan memperoleh bahan dan
tdah diisolasi beberapa zat yang baru diperkirakan berdaya
antibakteri, tetapi belum dibuktikan daya antibakterinya.
Penlu dikembangkan penelitian untuk dapat dimanfaatkan
hasil secepatnya meskipun penelitian dilakukan dari bentuk
sederhana, dan tanpa menunggu hasil penelitian zat aktif yang
lebih banyak meminta waktu, dana, dan usaha.
Dalam penelitian selanjutnya perlu dikembangkan berbagai
persyaratan yang menjadi dasar keputusan kelayakan pene1itian
selanjutnya.
Khusus bagi penelitian lanjutan simplisia perlu diperhatikan
di antaranya bahan baku, supaya bahan berkualitas ajek (konsis-
ten).
KEPUSTAKAAN
1. Departemen Kesehatan RI, Badan Litbang Kes. Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1980.
2. Departemen Kesehatan RI. Badan Litbang Kes. Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1985.
3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Litbang Kes. Dep Kes
RI. Penelitian Penggunaan Obat-obatan Tradisional di Kalirnantan Timur
dan Sulawesi Selatan, 1989.
4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Litbang Kes. Dep
Kes. RI. Penelitian Obat-obatan tradisional pada masyarakat di Acdeh dan
Madura.
5. Ervizal AM. Zuhud (editor). Pelestarian dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat
dari Hutan Tropis Indonesia (Prosiding) Bogor 1991.
6. Sudarman Mardisiswojo, Harsono Rajakmangunsudarsi. Cabe Puyang
Warisan Nenek Moyang. Balai Pustaka, 1987.
7. Sumali Wiryowidagdo dkk. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat
VII. Ujung Pandang, 4­5 Nopember 1993.
8. Chairul Saleh. Inventarisasi Obat Tradisional yang digunakan di Daerah
Kab. Tapanuli Selatan untuk pengobatan `mencret-mencret' serta peme-
riksaan mikroskopik serbuknya. Skripsi JF M1PA USU.
9. Youmans PG, Paterson PY, Smmmers HM. The Biologic and Clinical
Basis of Infectious Diseases. 2nd ed. WB. Saunders Company, Phila-
delphia, London, Toronto, 1980.
10. Junaidi P. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II, Media Aesculapis Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 1982
11. Dwidjoseputro D. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan. Jakarta. 1985.
12. Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA. Mikrobiologi Untuk Profesi Kese-
hatan. Edisi 14. terjemahan Bonang G. UKI Atmajaya, Jakarta 1982.
13. Pelczar MJ. Dasar-dasar Mikrobiologi, tenjemahan Hadi Oetomo R.S. UI
Jakarta 1988.
14. Gillies RR, Doods IC. Bacteriology Illustrated, 3rd ed. Churchil Living-
stone, London, 1973.
16. Bailey W, Robert, Scott, Evelyn G. Diagnostic Microbiology, a Textbook
for lsolaiion and Identification of Pathogenic Microorganism, 4th ed. The
CV. Mosby Company. Saint Louis 1974: 400­401.
17. Roche Diagnostica. Urotube (Roche), F. Hoffmann - La Roche & Co.
Limited Company, Basle, Switzerland, 1984: 1­15.
18. Hadi S. Gastroenterologi, edisi V. Bandung, Penerbit Alumni 1991: 36­45.
19. Cutting C. Cuttings Handbook of Pharmacology. The activities and uses of
drugs. 5th ed. Appleton-Century-CroftslNew York. 1972.
20. Yadava RN. In vitro antimicrobial studies on the saponin obtained from
Caesal pininea sappan L. Asian J Org Chemistry. 1989; V.1(t).
21. Harborne JB, Mobry LT. The flavonoid, Advances in research. Chapman
& Hall. London New York. 1982; 620.
21a. Puslitbang Farmasi, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI., Hasil Peneliti-
an Tanaman Obat di berbagai instansi di lokasi I s/d VIII.
21b. Dzulkarnain B, Nurendah PS. Praswanto, Lucie Widowati. Penelitian
Tanaman Obat di Indonesia 1965­1995. Cermin Dunia Kedokt in press,
1996
22. Tri Murti Andayani. tiji antibakteri dan identifika.si flavonoid daun tapak
liman (Elephanropus scaber L.) Fakultas Farmasi UGM. Penelitian Pen-
dahuluan. 1992.
23. Amalia Nur Utami. Isolasi dan daya antibakteri flavonoid daun kacang
hijau (Phaseolus radiatus L.) terhadap Staph aureus. FF, UGM 1986.
24. Erna Prawita Setyowati. Uji antibakteri dan identifikasi flavonoid dari
daun jarak kepyar (Ricinus communis L.) FF, UGM. Penelitian Pen-
dahuluan. 1992.
25. Anita Silvia Handayani. Isolasi glikosida flavonoida dan daun dari kulit
kayu Anacardium occicentale L. FF, Universitas Katolik Widya Mandala
(WIDMAN). Penejitian Pendahuluan. 1986.
26. Nancy Cherley Pelealu. Pemeriksaan kandungan kimia belimbing wuluh
(Averriwa bilimbi L.) asal Ujung Pandang. JF. FMIPA UNHAS. Penelitian
Pendahuluan. 1984.
27. Siti Aisjah, Wahjo Djatmika, IGP Santa. Penelitian golongan kandungan
kimia Hibiscus murabilis L. Risalah Seminar Lokakanya Pembudidayaan
Tanaman Obat dan Pameran Obat Tradisional, Universitas Jendral Soedir-
man Purwokerto, 1985: 100­
28. Aisyahfatmawati S. Identifikasi komponen utama flavonoid dari Alpinia
galanga L. secara kromatografi lapis tipis asal desa Paria Kab. Wajo. JF,
FM UNHAS. 1981.
29. Tyler yE, Brady LR, Robbins JE. Pharmacognosy. 8th ed. Lea & Febiger.
Philadelphia USA. 1977; hal 107.
30. Harry Ongiriwan. Penentuan koefisien fenol minyak atsiri dari klika
tanaman Cinnamomum burmani BL. terhadap bakteri Staph. aureus dan
Salmonella typhosa. JB, FMIPA UNAND Penelitian Pendahuluan, 1980.
31. Trease GE, Evans WC. Pharmacognosy. 12th ed. Bailiere Tindall, London.
1983. Eucalyptus oil, Eugenol, Thymol adalah anti septic. di dalamnyajuga
Sesquiterpen (salah satu jenis minyak atsiri) bersifat antimikrobial, ha-
laman 1452.
32. Perry LM, Metzger J. Medical Plant of Asia and South-East Asia. MIT
University Press Massachusetts. 1987.
33. Hamon NW. Garlic and the genus allium. Reveu Pharmaceutique
Candiene Aout 1987: 493­498.
34. Lucky Hayati. Pemeriksaan pendahuluan terhadap daya antibakteni bebe-
rapa (13) minyak atsiri. Jurusan Kimia, FMIPA UI. Penelitian Pendahulu-
an. 1990.
35. Ifiwati Wibowo. Uji daya antibakteri ekstrak daun jinten terhadap dua
macam kuman gram negatif hasil isolasi urine penderita infeksi saluran
kemih dibandingkan amoksilin tnhidrat. FF. WIDMAN. Penelitian Pen-
dahuluan 1992.
36. Udju Sughondho es. Takaran terrendah (MIC) sebagai antibiotik dan
infusa Kaemferia galanga dibandingkan dengan ampicillin. FK. UNPAD.
1990.
37. Herri S. Sastroamihardja. Minimal inhibition concentration (MIC) dan
infusum Kaemferia galanga L. Bagian Farmakologi FK, UNPAD.
38. Eti Kusraeti. Pd daya antibakteri ekstrak etanol daun paean kuku
(Lawsonia inermis L.) kesetaraannya dengan tetrasiklin .Serta usaha meng-
isolasi zat aktifnya. JF, FMIPA UNPAD. 1985.
39. Wiljanto Tjahjana. Daya antibakteri alkaloid berberin hasil isolasi dari
tanaman Caseinum fenestratum Colebr. terhadap Staph. aureus dan E. coli.
Fakultas Farmasi Unika Widya Mandala. Penelitian Pendahuluan. 1983.
40. Susana Endahwati Chandra. Perbandingan daya antibakteri berberin siolat
Arcangelisia flava Merr. dengan penisilina G terhadap Staph. aureus.
Fakultas Farmasi, Unika Widya Mandala. 1986.
41. Departemen Kesehatan RI. Tanaman Obat Indonesia. Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, 1985.
42. Meyliana. Pengaruh pektin hasil isolasi dari kulit buah Citrus sinensis
Osbeck., varietas pacitan, Citrus maxima Merr. varietas Nambangan dan
Citrus maxima Merr. varietas Bali, terhadap Salmonella typhosa NCTC
786. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya. Penelitian Pendahuluan.
1992.
43. Aris Hidayat. Isolasi dan analisis pektin dari buah Carica papaja L. mentah
serta daya antibakterinya terhadap Salmonella typhi dan E. coli. Fakultas
Farmasi UGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
44. Etty Sri Rejeki W cs. Isolasi pektin dan buah Pyrus mallus L. dan pe-
ngaruhnya sebagai antibakteri terhadap Salmonella typhi dan Salmonella
enteritidis secara in vitro. Risalah simposium penelitian tumbuhan obat III,
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
38
background image
­ ll berisi angka no literatur camber informasi dan terdaftar pada DAFTAR
Yogyakarta 1983 79­90.
45. Dwi Kori Andayani. Pemeriksaan pengaruh pektin dari buah apel (Pyrus
mallus L.) terhadap pertumbuhan bakteri penyebab diare secara in Vitro.
Jurusan farmasi FMIPA USU. Penelitian Pendahuluan. 1991.
RUJUKAN
@ Kolom 5: berisi kependekan informasi ilmiah eksperimen khasiat dari isolat,
- (bb/ee/hh/ll);
­ bb = berisi kependekatn bagian digunakan seperti pada kolom 4 ditambah
dengan Bi + biji, A = akar, C cabang, Km = kembang, KuA = kulit akar,
Daftar 1. Informasi tentang daya antibakteri berbagai simplisia
Ra = ranting, ? = bila tidak jelas informasinya
Keterangan:
­ ee = berisi kependekan bentuk sediaan digunakan, EM = ekstrak metanol, E =
ekstrak, EAI = ekstrak etanol, MA = minyak atsiri, residu = residu, Sa = sari,
berberin = berberine, EKI = ekstrak kloroform, pektin = pektin, EDM = ekstrak
diklorometan, sediaan = sediaan, EMT = ekstrak minyak tanah, flavonoid =
flavonoid, EEA = ekstrak etil aserat, suspensi serbuk = suspensi serbuk, EA =
ekstrak air, minyak picung = minyak picung, PotPemb = potensi pembanding,
@ Koloni 3 : berisi informasi penggunaan secara empirik u = penyakit saluran
pencernaan, k = penyakit kulit
@ Kolom 4: berisi informasi ilmiah eksperimen khasiat antibakteri dan sediaan
bentuk empirik; ­ (bb/ee/hh/ll);
­ bb berisi kependekan bagian digunakan, D = daun, Ul = umbi lapis, Ku = kulit,
B = batang, KuB = kulit batang, Ka = kayu, KaB = kayu batang, R = rimpang,
?= bila tidak jelas informasinya
H = herba, Bu -buah, KuBu = kulit buah, ? = bila tidak jelas informasinya
­ hh = lihat keterangan kolom 4
­ ee berisi kependekan bentuk sediaan digunakan, I = infus, P = perasan, ge-
tah = getah, rendaman = rendaman, De = dekok, Re = rebusan, Sa = sari, EA
= ekstrak air, ? = bila tidak jelas informasinya
­ ll = lihat keterangan kolom 4
@ Kolom 6 : berisi informasi tentang zat kimia yang dikandung; - (bb/zz/ll);
­ bb = lihat keterangan kolom 4
­ hh berisi kependekan hasi/percobaan, + = ada aktivitas antibakteri, 0 = tidak
ada aktivitas antibakteri, ? = bila tidak jelas informasinya
­ zz = zat yang dikandung sesuai yang tercantum
­ ll = No rujukan yang memberikan informasi kandungan
Daftar 1. Informasi tentang daya antibakteri berbagai simplisia
No.
Nama Latin
(nama daerah)
Penggunaan
empirik k/u
Eksp. sediaan
empirik
Eksp. sediaan
isolat
Kandungan
kimia
1 2
3 4 5 6
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Abrus precatorius L. (saga)
Achrasia elliptica L.
Acorus calamus L. (dringo)
Aglia odorata Lour. (nilam)
Allium cepa L. (bawang
merah)
Allium
.
flstulosum L.
(bawang daun)
Alliumsativum L. (bawang
putih)
Aloe vera L. (lidah buaya)
Alyzia stellata R.Br
(pulosari)
Anacardiam occidentale L.
(jambu mete)
Andrographis paniculata
Nees. (sambiloto)
Andropogon muricata Rtz.
(akar wangi)
A rcangelisia flava Merr.
(kayu kuning)
ArdisiafnnsteniScheffer.
(lingapus)
Areca catechu L. (pinang)
Averrhoa bilimbi L.
(belimbing wuluh)
Averrhoa carambola L.
(belimbing manis)
u (1)
u (1)
k (18)
k+u (1, 8, 28)
u (1)
u (1, 30)
k (1)
u & k (1)
k+u (1, 2, 8)
u(39)
­(D/I+/13)
­(D/I/?/16)
­(I/I/?/?/21)
­(I/I/P/+23)
­(I/I/P/+/25)
­(KuB/1/0/30)
­ (D/E/+/9, 10)
­(D/EM/+/1l)
­Bi/EM/+/11)
­(D/E/0/12)
­(D/EAI/+/13)
­(R/MA/+/17)
­(D/Sa/+/18)
­(I/L/E/0/19)
­(D/MA/+/20)
­I/L/?/?/21)
­(I/I/E/?/22)
­(I/I/EI+/24)
­(I/I/E/+/26)
­I/I/E/+27)
­(D/residu/+/
29)
­(KuB/E/0/30)
­(D/E/?/31)
­(D/Sa/+/18)
­(D/E/+/33)
­(A/MA/+/35)
­(KaB/berberin
+/36) PotPemb
­(C/EM/+/38)
­(Bi/El0/19)
­(D/E/+/39)
­(D/E/+/19)
­(D/E/?/4I )
­(glyzerizin/
211)
­
(D/flavonoid/
14)
­(atsiri/211)
­(alicin =
baktstati k/2 10)
­I/I/MA/27)
­I//alisin/28)
­(aloe emodin/
211)
­(tanin/211 )
­(tanin/211 )
­(D/flavonoid/
32)
­(KuB/
flavonoid/32)
­(KaB/
alkaloid/37)
­(alkaloid/21 I)
­(alkaloid/210)
­(tanin
antibakt/212)
­(Bu/flavonoid/
40)
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 39
background image
18
19
20
21
22
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Boesenbergia panduratu
(kunci)
Cuesalpinia sappan L.
(kayu secang)
Cananglum odorata Hook.
(kenanga)
Capsicum.jrutescens L.
(cabe rawit)
Carica papaya L. (papaya)
Carica papaya L. (papaya)
Caseinum fenestratum
Colebr. (herba)
Cassia alata L.
(ketepeng kebo)
Cassia fistula (trengguli)
Cassia siamea Lamk.
(johar)
Centella asiatica I/rban.
(daun kaki kuda)
Cinnamomum burmanii
Nees. (kayu manis)
Citrus aurantifolia
Swingle. (jeruk tipis)
Citrus maxima Merr.
(jeruk bali)
Citrus sinensis Osbect.
Clausena harmandiana
Pierre.
Clerodendron siphoxanthes
R.Br. (pituju)
Clidemia hirta
Coffea robusta Lind.
(kopi)
Colleus amboinicus Lour.
(daun jinten
Coleus scutellarioides
Benth.
Cosmos caudatus
HBK. (kenikir)
Curcuma aeruginosa Roxb.
(temu hitam)
Curcuma domestica Val.
(kunyit)
u (42)
u (1, 44, 46)
k (1)
k (1, 50)
u (1, 51)
u(52)
k (54, 55)
k(69)
k+u (1, 69,
70,71)
u (6, 73)
u (1, 6)
k (1)
saluran
kemih (82)
k (1)
k (86)
u(1,6);k(1)
­(KaB/I/?/34)
­(KaB/I/?/36)
­(KaB/I/0/45)
(D/I/?/54)
­(D/I/?67)
­(D/I/+/68)
­(D/P/+/71)
­(D/I/?/83)
­(R/I/?/87)
­(R/I/?/90)
­(R/EK1 /+/42)
­(R/EJ+/19)
­(KaB/?/?/42)
­(KaB/FJ?/46)
­(KaB/E/+/47)
­(KaB/Sa/+/48)
­(?/saponinl+l
45a)
­(Km/MA/+/35)
­(Km/MA/+/17)
­(Bu/E/?/50)
­(Bi/EA1/+/51)
­(Bu/pektin/+/
52)
­(H/berberin/+/
53)
­(D/EA1/+/55)
­(D/Sa/?/56)
­(D/Sa/+157)
­(D/EDM/+159)
­(D/EDM/+/60)
­(D/EDM/+/61)
­(D/EA 1/+/62)
­(D/EA II+/63)
­
­(D/EAI/+/64)
­(D/EAI/+/65)
­(D/EAI/+/66
­(D/E/+/69)
­(D/sediaan/+/
70)
­(KuB/MA/+/
35)
­(KuB/MA/+/
73) Koeffen
­(KuB/Sa/+/74)
­ (DIMAI+/75)
­(KuBu/pektin/
76)
­(KuBu/pektin/
76)
­(D/EA 1/+/78)
­(DIEA 1/+/79)
­(I/L/E(0/19)
­(Bu/EM/+/80)
­(Bu/EEA/+81)
­(D/E/+/82)
PotPemb
­(D/EJ+/19)
­(D/MA/+/85)
­(R/E/+/86)
­(R/MA/?/88)
­(R/E/+/98)
­(galat, asam
tanat, atsiri/21 1)
­(KaB/tanin/48)
­(KaB/tanin/49)
­(atsiri/21 1)
­(alkaloid/211)
­(carpain =
amebicide/210)
­(aloe emodin/
211)
­(H/triterpen/
72)
­(atsiri/211)
­(art tileprosyl
211)
­(KuB/minyak
­(atsiri/73)
­(tanin/21 1)
­(tanin/210)
­ (atsiri/21 1)
­(atsiri dan
flavonoid/212)
­(KuBu/pektin/
77)
­(KuBu/pektin/
77)
­(tanin/21 1)
­(atsiri/211)
­(D­flavonoid/
84)
­(atsiri, ses­
quiterp/211)
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
40
background image
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
Curcuma heyneana Val.
V. Zijp (temu giring)
Curcuma mangga Val. ?
Curcumaxanthorrhiza
Roxb. (temulawak)
Cymbopogon nardus L.
(serai wangi)
Drymoglossum hetero­
phyllum C.Chr. (sisik naga)
Dysoxylum anwrroides
Miq. (kedoya)
Elephantopus scaber L.
(daun urat)
Eleusine indica Hearth.
(rumput belulang)
Erythrina orientalis L.
(dadap ayam)
Eugenia caryophylata
Sprengel. (cengkeh)
Eugenia polyantha Wight.
(daun salam)
Euphorbia antiquorum L.
(getah)
Euphorbia hirta (patikan
kebo)
Garcinia mangostana L.
manggis
Gardenia augusta Merr.
(kacapiring)
Hemigraphis colorata Hall.
(kecibeling)
Hibiscus mutabilis L.
(daun) ?
Hibiscus similis (waru) ?
Ipomoea batata Poir.
(ubijalar)
Kaempferia galanga L.
(kencur)
Lagestromia regina Roxb.
(bungur)
Languas galanga Stunz.
laos)
Lantana camara L.
(temblekan)
Lawsonia inermis L.
(pacar kuku)
k (1)
k (1)
u(1)
u (107)
u (1)
k (112)
u (113)
u (1, 115)
saluran kemih
(1)
u (121)
TBC (123)
k (1, 2, 124)
u (6)
k (1) u (132)
I/ (134, 136)
k (134)
k (3, 139)
k (142)
­(D/getah/?/
112)
­(H/l/+/113)
­(KuBu/I/?/
115)
­(D/rendaman/
+/123)
­(R/I/?/126)
PotPemb
­(R/I/?/127)
MIC
­ (R/?/?/ 129)
­(R/?/?/133)
­(R/?/?/I34)
­(R/perasan/+/
136)
­(R/EMT/?/91)
­(R/EK1/?/9 1 )
­(R/EM/?/91)
° (R/MA/+/94)
­(R/MA/+/96)
­(R/EMT/+/96)
­(R/E/+/89)
­(R/E/+/97)
(R/Sa/+/18)
­(R/MA/?/98)
­(D/MA/+/35)
­(D/E/?/103)
­(D/E/?/104)
­(D/flavonoid/
+/105)
­(A/EAI/+/106)
­(D/E/?/107)
­(Km/MA/+/35)
­(D/E/?/110)
­(D/MA/+/111)
­(KuBu/E/?/
115)
­(KuBu/E/0/19)
­(D/EEA/+/1 17
­(D/EEA/+/118)
­(D/E/+/I21)
­(D/E/+/124)
­(R/MA/+/125)
PotPemb
­R/E/+/128)
­(KuB/E/_+/132
­(R/E/+/135)
­(R/MA/?/138)
­(A/EAI/+/139)
­(D/E/?/l41)
PotPemb
­ (atsiri
di antaranya
sequiterpen
dan curcumin
­(Antibakt
212)
­(R/MA/92)
­(R/curcumin/
93)
­(R/curcumin/
95)
­(R/curcumin/
95)
­(R/MA/99)
­(R/curcumin
95)
­ (R/sesquiter­
pen/100)
­(D/MA/101)
­D/MA/102)
­ (flavonoid/2 1 1)
­(Km/MA/108)
­(Km+D/
eugenol/109)
­(H/flavonoid/
114)
­(tanin/2l 1)
­(atsiri/211)
­(D/flavonoid/
119)
­(D/flavonoid/
120
­(D/flavonoid,
tanin,
polifenol/122)
­(pektin/211)
­(atsiri/211)
­R/etil
p­metoksi
sinamat/130)
­(R/flavonoid/
137)
­(D/triterpen/
140)
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 41
background image
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
Leucas lavandulifolia
J. Smith. (lenglengan)
Litsia cubeba L.
(krangean)
Melaleuca leucadendra L.
(merica bolong)
Melia azadarach L.
(mindi)
Melia azadirachta L.
(mimba)
Michelia champaca L.
(cempaka)
Morinda citrifolia L.
(mengkudu)
Moringa oleifera Lamk.
(kelor)
Musa brachicarpa ?
Myristicafragrans Hout.
(pala, biji, fuli)
Ocimum gratisimum L.
(selasih)
Orthosiphon stamineus
Berith. (kumis kucing)
Paederia foetida L. (daun
sembukan)
Pangium edule Reinw.
(klewek)
Parkia biglobosa Benth.
(kedawung)
Phaseolus radiatus L.
(kacang hijau)
Phyllanthus niruri L.
(meniran)
Piper betle L. (sirih)
Piper cubeba L. (kemukus)
Piper nigrum L. (lada)
Plantago mayor L. (daun
sendok)
Pleomaleangustifolia
M.E.Broun. (daun suji)
Pluchea indica Less.
(beluntas)
Pogostemcm cablin Benth.
(nilam)
Psidium guajava L.
(jambu biji)
Punica granatum L.
(delima)
k (212) erysi­
pelas, k (t)
k (1)
saluran kemih
(1)
u (l)
tenggorokan
(149)
saluran kemih
(1)
u (6)
saluran kemih
(1)
urin (156)
u (1)
u (160)
u (6, 164)
u (6)
kumur(168)
saluran kemih
(6)
u (6)
k (1)
kumur (171)
u (1)
u (1, 2, 3, 5,
6, 36, 167)
u (6, 44, 45,
30)
k (183)
­(D/I/?/156)
­(H/I/+/164)
­(H/De/+/163)
­(D/I/+/168)
­(Bu/I/+/169)
­(D/I/?/44)
­(D/I/+/174)
­(D/I/+/45)
­ (D/De/+/177)
­(D/I/+/170)
­(Bu/1/?/44)
­(KuBu/I/?/44)
­(Bu/I/0/45)
­(D/EM/+1142)
­(D/E/+/143)
­(Bu/MA/+/35)
­(Bu/MA/+/35)
­(Bu/MA/+/
145)
­(D/I/?/16)
­(D/I/?/16)
­(?/E/?/146) Pot
­(?/EK 1?/147)
­ (By/EEA/+/
148)
­(Bu/EA/+/148)
­(Bii/EA I/+/
149)
­(Bu/EEA/+/
150)
­(KuA/EMT/+/
152)
(Bi/suspensi
serbuk/+/153)
­(Bu/E/+/19)
­(Bu/E/+/19)
­(Bi/MA/+/35)
­(D/MA/?/155)
­(D/EEA/+/157)
­(D/EA/+/157)
­(Bi/minyak
picung/+/158)
(Bi/minyak
picung/+/159)
­(Bi/EAI/+/
160)
­(D/flavonoid/
+/162)
­(D/MA/+/166)
­(D/minyak/?/
167)
­(D/Sa/+/168)
­(Bu/MA/+/35)
­(Bu/MA/+/17)
­(Bu/MA/+/35)
­(D/EA1/+/170)
Pot Pemb.
­(D/Sa/?/171)
­(D/Sa/+_/18)
­(D/MA/+/173)
­(D/MA/+/35)
­(D/E/?/176)
­(D/E/?/175)
­(D/Sa/+/18)
­(D/El?/19)
­(KuBu/E/?/
181)
­(KuBu/EM/+/
­(B/sesquiter­
pen/144)
­(atsiri/21 I)
­(tanin/212
antibakteri)
­antrakinon/2I1
­(Bu/fenolik/
151)
­(A/fenolik/
151)
­(fuli/MA/154)
­(D/flavonoid
0/157)
­(tanin/211)
­(Bi/tanin/ 161)
­(atsiri, tanin/
211)
­(atsiri/211)
­ (atsiri/21 1)
­(D/MA/173)
­(D/kamfer,
pinene/172)
­(D/flavonoid +
+ tan in + saponi
n/179)
­(D/tanin/I80)
­(tanin/211)
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
42
background image
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
Pyrus mallus L. (apel)
Rhinicantrhus nosutus
Kurz. (tereba
Ricinus communis L.
(jarak kepyar)
Santalum album L.
(cendana)
Sesbania grandiflora Pers.
(turi)
Sida rhombifolia L.
(sida guri)
Spilanthes acmella L. ?
Symphytum gfficinale L.
(komfrei)
Syzygium cumini Skeels.
(jamblang)
Terminalia bellerina Roxb.
(jalawe)
Tinospora crispa Miers.
(brotowali)
Tithonia diversifolium
A. Gray. ?
Unicaria gambir Roxb.
(gambir)
Usnea Sp.(kayu angin)
Woodfordia,floribunda
Lamk.(sidawajah)
ZingibergfficinaleRoxbr
(jahe)
u (35, 32, 184,
185)
k (186)
k (1)
k (1)
u (1, 190)
k (1, 191)
u(192)
amandel (1)
k+u (1, 196,
197, 198)
k (200, 201)
u (6, 202, 203)
u (1)
k (1)
u (1) kolera
­(KuBu/I/0/45
­(KuBu/R/?/
182)
­(B/I/+/199)
183)
­(KuBu/E/+/19)
­(KuBu/E/+/30)
­(Bu/pektin/+/
184)
­(Bu/pektin/+/
185)
­(D/E/+/186)
­(D/flavonoid/
+/187)
­(KaB/MA/+/
35)
­(KuB/E/+/190)
­(D/EAI/+/191)
­(Km/MA/+/
192)
­(D/E/+/193)
­(D/E/+/194)
­(KuBu/FJ+/
195)
­(B/E/?/196)
­(B/E/+/197)
­(B/E/+/198)
­(B/E/?/200)
­(D/E/+/201)
­(D/E/+/202)
­Ra/E/+/202)
­ (D/E/+/203)
­(Ra/E/+/203)
­(H/E
cream/+/205)
­(D/E/+/10)
­(Km/E/?/206)
­(R/MA/+/35)
­(R/MA/+/207)
­(Bu/pektin/
(184)
­(D/flavonoid/
187)
­(KaB/MA/188)
­ (atsiri, tanin/
211)
­(atsiri, tanin/
211)
­(berberin/211)
­ (tanin/21 1)
­(D/tanin/204)
­(tanin/211)
­ (atsiri/21 1)
­(R/MA/208)
RUJUKAN UNTUK DAFTAR 1
1. Sudarman Mardisiswojo, Harsono Rajakmangunsudarso. Cabe Puyang
Warisan Nenek Moyang. Balai Pustaka. 1987.
2. Ervizal AM. Zuhud (ed). Pelestarian dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat
dari Hutan Tropis Indonesia (Prosiding) Bogor 1991.
3. Sumali Wiryowidagdo cs. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat
VII. Ujung Pandang, 4­5 Nopember 1993.
4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi. Badan Litbang Kes. Dep
Kes. RI. Penelitian penggunaan Obat-obatan Tradisional di Kalimantan
Timur dan Sulawesi Selatan. 1989.
5. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Litbang Kes. Dep
Kes. RI. Penelitian Obat-obatan tradisional pada masyarakat di Aceh dan
Madura.
6. Departemen Kesehatan RI. Badan Litbang Kes. Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1980.
7. Departemen Kesehatan RI, Badan Litbang Kes. Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1985.
8. Chairul Saleh. Inventanisasi Obat Tradisional yang digunakan di Daerah
Kab. Tapanuli Selatan untuk pengobatan `mencret-mencret' serta pe
meriksaan Mikroskopik serbuknya. Skripsi JF MIPA USU. Penelitian
Pendahuluan. 1982.
9. Muchsin Danise, M. Matsudjide, Suleman. Ekstraksi daun saga (Abri
folium) dengan beberapa metoda serta uji daya hainbat bakteri uji. Jurusan
Farmasi (JF), FMIPA Universitas Hasanudin (UNHAS). Ujung Pandang.
Seminar POKJANAS TOI IV Bogor, 13­14 Januari 1993.
10. Masniani Poelungan, Rita Dewi Rahayu, Windarti Haryono, Chaerul. Lebar
daerah hambatan yang dibentuk ekstrak daun saga (Abrus precatorius L.)
Kayu angin (Usnea Spp) pada bakteri E. coli dan Maraxella Sp. Puslitbang
Biologi, LIPI. Seminar POKJANAS TOI IV Bogor 13­14 Januari 1993.
11. Rita Dwi Rahayu, Mindiarti Harapini, Chaerul, Masniani Poelungan. Pe
ngaruh penambahan ekstrak metanol daun dan biji saga manis terhadap
beberapa jenis bakteri. Puslitbang Biologi LIPI. POKJANAS IV Bogor
13­l4Januari 1993.
12. Bambang Prayogo, Wahjo Djatmika. IGP Santa, Sutarjadi. Aktivitas anti-
mikrobadaun Abrus precatorius. Puslitbang 01. Universitas Airlangga
(UNAIR). 1993.
13. Riana Savitri. Uji daya antibakteri ekstrak etanol dan infus daun saga
Abrus precatorius L.) terhadap kuman Staph. aureus ATCC25933, Strep.
beta hemolisycus standard strain WHO dan Strept. pneumonia standard.
JF., FMIPA Universitas Indonesia (UI). Penelitian pendahuluan. 1994.
14. Tri Windono. Identifikasi senyawa flavonoid daun saga (Abrus precatorius
L.) Lab. Fitokimia Fakultas Farmasi (FF), FMIPA Universita.s Surabaya
(UBAYA). Seminar POKJANAS TOI IV Bogor, 13­I4ianuari 1993.
15. Chaerul, Mindarti Harapini. Kandungan komponen kimia pada Saga (Abrus
precatorius L.) Lab. Treub. LIPI Bogor. Seminar POKJANAS TOI IV
Bogor, 13­14ianuari 1993.
16. Agus Djamludin A. Percobaan daya antibakteri dari infus daun Melia
azadarachta L., Melia azadarach L.. Achrasia ellipticaL.. terhadap kuman
Staph. aureus ATCC25933 dan E. coli 25922. JF. FMIPA UI. Penelitian
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 43
background image
Pendahuluan. 1986.
17. M. Noerdin Arzani. Aktivitas antimikroba minyak atsiri dan rimpang
dringo (Acorus calamus L.). kembang kenanga (Canangium odarayta L.),
dan buah kemukus (Piper cubeba L.) secara in vitro. Jurusan Kimia
Farmasi, FF UGM, Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi llmiah,
Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1986­1990.
18.
Aneng Widjastuti. Penelitian mikrobiologi terhadap kandungan anti
mikroba dan limajenis tumbuhan. FF, Universitas Pancasila (UPANCA).
Penelitian Pendahuluan. 1990.
19. Atiek Soemiati. Pemeriksaan pendahuluan daya antibakteri ekstrak be-
berapa tanaman. SPTO VII, Ujung Pandang 1993 : 99­103.
20. lndah Setyaningsih. Efek minyak atsiri bawang daun (Allium fistulosum L.)
terhadap bakteri Staph. aureus dan E. coli serta profit kromatografinya. FF.
UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
21. Adiana Ayudi. Penelitian pendahuluan daya antibakteri Allium sativum L.
terhadap kuman Staph. aureus strain Oxford. JF FM1PA UI. Penelitian
Pendahuluan. 1985.
22. Eka Irindadevi. Aktivitas antibakteri secara invitro ekstrak bawang putih.
Jurusan Farmasi, FMIPA Universitas Indonesia. Penelitian Pendahuluan.
1986.
23. Nelly D. Leswara, Atiek Sumiati, Sardjito, Rahim. Pemeriksaan daya anti
bakteri perasan bawang putih terhadap Staph. aureus. Simposium Peneli-
tian Tumbuhan Obat VI, Mnktamar IV PERHIPBA, Expo 111 Obat Tra-
disional, Lokakarya dan Penyuluhan Bahan Obat Alam. Depok 15­19
Nopember 1988. hal 214.
24. Safriansyah. Analisis bioautografi langsung pada lempeng KLT senyawa
antibakteri dari Allium sativum L. FFUGM . Penelitian Pendahu1uan
1988.
25. Anastasia Adriani. Daya antibakteri Allium sativum L. dari pasar Bering-
harjo Yogyakarta terhadap Staph. aureus dan E. coli koleksi laboratorium
mikrobiologi Fakultas Kedokteran. Fakultas Kedokteran (FK), UGM.
1992.
26. Slamet P, Slamet Santoso, Yusron Suwarso. Penggunaan ekstrak bawang
putih (Allium sativum L.) sebagai bahan antibakteni. Fakultas Biologi (FB),
Universitas Jendral Soedirman (UNSOED). 1992.
27. Christiana Lethe. Isolasi dan identifikasi minyak atsiri dari umbi tapis
bawang putih (Allium sativum L.) JF. FMIPA UNHAS. Penelitian Pen-
dahuluan. 1980.
28. lta Ruchaniyati. Analisis kandungan kimiautamaberbagai sediaan bawang
putih di pasaran. FF. UGM. 1989.
29. Yoe Hok. Pengaruh residu daun lidah buaya (Aloe Vera L.) terhadap
biakan bakteri Staph. aureus secatra invitro. JB, FMIPA, UNAIR.
Penelitian Pendahuluan. 1988.
30. Dian Sundani. Pengaruh infusdan ekstnakpulosani (AlyxiastehlataR.B.) dan
delima (Punica grariatum L.) terhadap bakteri penyebab diare. Laporan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi. Badan Litbang Kes. 1995.
31. Wayan Supradiyani. Daya antibakteri daun dari ekstrak kulit buah
Anacardium occidentale L. JF, FMIPA UI. Penelitian Pendahuluan, 1986.
32. Anita Silvia Handayani. Isolasi glikosida flavonoida dan daun dari kulit
kayu Anacardium occicentale L. FF, Universitas Katolik Widya Mandala
(WIDMAN). Penelitian Pendahuluan. 1986.
33. Chairul, Masniari Poelungan, Wika Rachmawati. Uji efek antibakteri
ekstrak sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) terhadap beberapa
jenis bakteri. Seminar Nasional POKJANAS TOL VI Bandung 2­3 Fe-
bruari 1994.
34. Rita Dwi Rahayu, Mindarti Harapini, Chairul. Pengaruh penambahan
ekstrak sambiloto (Andrographispaniculata Nees.) dengan beberapa
pelarut dan dosis terhadap beberapa bakteri. Puslitbang Biologi. Seminar
Nasional POKJANAS TOI VI, Bandung 2­3 Februan 1994.
35. Lucky Hayati. Pemeriksaan pendahuluan terhadap daya antibakteri bebe-
rapa (tiga belas) minyak atsini. Jurusan Kimia (JK), FMIPA UI. Penelitian
Pendahuluan. 1990.
36. Suasana Endahwati Chandra. Perbandingan daya antibakteri berberin isolat
Arcangelisiaflava Merr. dengan penisilina G terhadap Staph. aureus. FF,
WIDMAN. Penelitian Pendahutuan. 1986.
37. Fatmawati AM. Isolasi dan identifikasi kandungan alkaloid kayu kuning
(Arcangehisiaflava Merr.) asal kabupaten Sorong Propinsi Irian Jaya. JF,
FMIPA UNHAS. Penelitian Pendahuluan. 1989.
38.
Mob. Au Yusran, Uji daya hambat ekstrak cabang lingapus (Ardisia
forstenii Sceffer.) terhadap bakteri uji yang digunakan. JF, FMIPA UN-
HAS. Pene1itit Pendahuluan. 1991.
39. Linda. Uji efek antimiknoba ekstrak daun belimbing (Averrhoa bilimbi L.)
terhadap beberapa bakteri penyebab tukak secara invitro. JF, FMIPA
Universitas Andalas (UNAND). Penelitian Pendahuluan. 1993.
40. Nancy Cherley Pelealu. Pemeriksaan kandungan kimia belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi L.) asal Ujung Pandang. JF, FMIPA UNHAS. Penelitian
Pendahuluan. 1984.
41. Suwarti Sjamsuddin. Uji antimikroba dari ekstrak daun segar Averrhoa
carambola L. JF, FMIPA UI. Penelitian Pendahuluan. 1982.
42. Yulvia. Uji efek antimiknoba ekstrak rimpang temu kunci (Boesenbergia
pandurataRoxb.) terhadap beberapa bakteri penyebab tukak secara in vitro.
JF, FMIPA UNAND. Penelitian Fendahuluan. 1990.
43. Elm Yulina S. et aS. Isolasi komponen aktif dari Caesalpinia sappan L.
(kayo secang) dari pengujian efek antibakteri serta uji toksisitasnya pada
hewan percobaan. JF, FMIPA Institut Teknologi Bandung 1982.
44. Benny Hartanto. Uji efek Infus daun Psidium guajava K. (Myrtaceae), kayu
Caesalpinia sappan L. (Caesalpiniaceae), buah dan kulit buah Punica
granatum L (Punicaceae) sebagai antidiare pada mencit putih Swiss Web.
dan sebagai antibakteri. JF, FM1PA ITB. 1983.
45. Wattimena JR, Elm Yulinah, Benny Hartanto. Uji infus daun Psidium
guajava (Myrtaceae), kayu Caesalpinia sappan (Caesaipiniaceae), buah
dari kulit buah Punica granatum sebagai antidiare pada mencit putih Swiss
Webster dan sebagai antibakteri. JF. FMIPA ITB. Maj. Farmakol. Terapi
Indon. 1985; 11(4): 29­31.
45a. Yavada RN. In vitro antimicrobial studies on the saponin obtained from
Caesalpiniea sappan L. Asian J Org Chemistry 1989; V.1(1).
46. Moh. Anis. Uji rnikrobiologi ekstrak kayu secang (sappan L.) terhadap
beberapa bakteri penyebab tukak secara invitro. JF. FMIPA UNAND.
Penelitian Pendahuluan. 1990.
47. Nurhayati, Imam Hidayatullah, Siti Nurjanah, Radiah Wahyuningsih. Efek
anti mikroba ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap bebe-
rapa macam mikroba. Divisi Ristek, PT (Pesero) Kimia Fanma. Seminar
Nasional Ke-IX POKJANAS TOI Yogyakarta 21­22 September 1995.
48. Liliek S. Hermanu. Penentuan kadartanin dalam serbuk kayu secang. Puslit
OT WIDMAN. Surabaya. Seminar Nasional Ke-IX POKJANAS TOI
Yogyakarta 2 1­22 September 1995.
49. Risfaheni, Sri Yuliani, Tjitjah Fatimah. Isolasi tanin dan kayo secang.
Balni Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Seminar Nasional Ke-IX
POKJANAS TOI Yogyakarta 21­22 September 1995.
50. Tyas Ekowati Prasetyoningsih. Daya hambat ekstrak buah Capsicum
frutescens L. terhadap pertumbuhan Candida albicans. FF. UNAIR. Pene-
litian Pendahuluan. 1987.
51. Nuraini Gani. Daya antiseptik biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap
bakteri penyebab diare invitro. JF, FMIPA UNHAS. Penelitian Penda-
huluan. 1988.
52. Anis Hidayat. Isolasi dan analisis pektin dari buah Caricu papaya L.
mentab serta daya antibakteninya terhadap Salmonella typhi dan E. coli.
FF, VGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
53. Wiljanto Tjahjana. Daya antibakteri alkaloida berberin hasil isolasi dari
tanaman Caseinumfenestratum Cobebr. terhadap Staph. aureus dan E. coli.
FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1983.
54. Yayat Heryati. Penelitian laboratorium mengenai efek antibakteri dan
antijamur dari daun Cassia alata L. (ketepeng) dalam bentuk infusa ter-
hadap beberapa jasad nenik patogen. JF. FMIPA UI. 1980.
55. Tahir Ahmad. Pengaruh ekstrak daun ketepeng (Cassia alata L.) terhadap
bakteri penyebab penyakit kutit. JF, FMIPA UNHAS. Penelitian Pen-
dahuluan. 1985.
56. Mindarwati. Uji daya antimikroba sediaan kriin mengandung sari daun
ketepang (Cassia alata L.) JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pendahuluan.
1986.
57. Sri Harjati Setiodihardjo. Uji daya antimikroba sediaan salep yang me
ngandung sari daun ketepeng (Cassia alata L.). JF, FMIPA UNPAD. Pe-
nelitian Pendahuluan. 1986.
58. Titik Wirahardja, Sri Soeryati HI, R. Usman. Uji daya antimikroba sediaan
salep yang mengandung sari daun ketepeng (Cassia alata L.). Simposium
Penelitian Tumbuhan Obat VI, Muktamar IV PERHIPBA, Expo III Obat
Tradisional, Lokakarya dan Penyuluhan Bahan Obat Alam. Depok 15­19
Nopember 1988. hal 214.
59. Sri Mulyani. Daya antimikroba sari dikiormetana hasil sokhletasi daun
Cassia alata L. yang dikeringkan. jurusan Biologi Farma.si, FF UGM
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
44
background image
Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi, Uni-
versitas Gajah Mada, 1986­1990. hal 166.
60. Taroeno. Daya antimikroba sari diklorometana hasil penyarian cair-air
ekstrak daun Cassia alata L. yang dikeringkan dengan oven. Jurusan
Biologi Farmasi (JBF). FF UGM Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi
llmiah Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada, 1986­1990. hal 166.
61. Soedarsono. Daya antimikroba sari diklormetana hasil penyarian cair-air
ekstrak daun Cassia alata L. yang dikeringkan dengan matahari. JBF, FF
UGM Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi llmiah Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1986­1990. hal 167.
62. B. Sudarto. Daya antimikroba sari etanol hasil sokhletasi daun Cassia alata
L. yang dikeringkan dengan oven. JBF, FF UGM Yogyakarta. Abstrak
Penelitian/Publikasi llmiah Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada,
1986­1990. hal 168.
63. Wahyono. Daya antimikroba sari hasil sokhletasi daun Cassia alata L.
yang dikeringkan dengan matahari. .IBF, FF UGM Yogyakarta. Abstrak
Penelitian/Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
1986­1990. hal 168.
64. Koensoemardiyah. Daya antimikroba sari etanol hasil penyarian Cair-Cair
daun Cassia alata L. yang dikeringkan dengan oven. JBF, FF UGM
Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi llmiah Fakultas Farmasi Uni-
versitas Gajah Mada, 1986­1990, hal 169.
65. Suwijo Pramono. Daya antimikroha sari etanol hasil penyarian Cair-Cair
daun Cassia alata L. yang dikeringkan dengan matahari. JBF, FF UGM
Yogyakarta. Abstrak Penelitian/Publikasi llmiah Fakultas Farmasi Univer-
sitas Gajah Mada, 1986­1990. hal 169.
66. Kinteki Rarastri. Daya antibakteri sari diklormetana bebas klorofil daun
Cassia alata L. (ketepeng kebo) terhadap Staph. aureus. FF, UGM. Pene-
litian Pendahuluan. 1992.
67. Yardo Hartanto. Pereobaaa pendahuluan efek antibakteri infus Cassia
fistula L. terhadap Staph. aureus strain Oxford. JF, FMIPA UI. Penelitian
Pendahuluan. 1985.
68. Aan Risna Uli. Uji pendahuluan efek antimikroba dari infus daun johar
terhadap beberapa bakteri dan jamur penyebab penyakit kulit. JF, FMIPA
UI. Penelitian Pendahuluan. 1994.
69. Endang Adriyani. Uji khasiat daun pegagan (Centella asiatica Urban.)
terhadap Staph. aureus, E. coli dan Candida albicans invitro. FF, UGM.
Penelitian Pendahuluan. 1987.
70. Ibid..
71. Syahnida. Daya hambat perasan daun Centella asiatica Urban. terhadap
beberapa kuman enterik. JB, FMIPA UNAN. Penelitian Pendahuluan.
72. Maria Theresia Susilowati. Isolasi triterpen dari Centella asiatica Urban.
FF. WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1991.
73. Harry Ongiriwan. Penentuan koefisien fenol minyak atsiri dari klika
tanaman Cinnamomum burmani BL. terhadap bakteri Staph. aureus dan
Salmonella typhosa. JB, FMIPA UNAND. Penelitian Pendahuluan. 1980.
74. Ria Amelya. Pengaruh daya hambat kayu manis (Cinnamomum burmani
BI.) terhadap Staph. aureus Rosenbach. JB. FMIPA UNAND. Penelitian
Pendahuluan. 1992.
75. Ratih Dyah Pertiwi. Uji dayaantibakteri dan identifikasi minyak atsiri dari
daun jeruk nipis (Citrus aura ntithlia Swingle). FF. UGM. Penelitian Pen-
dahuluan. 1992.
76. Meyliana. Pengaruh pektin hasil isolasi dari kulit buah Citrus sinensis
Osbeck. varietas Pacitan, Citrus maxima Merr. varietas Nambangan dan
Citrus maxima Merr. varietas Bali terhadap Salmonella typhosa NCTC
78. PP, UBAYA. Penelitian Pendahuluan. 1992.
77. Indrawati Tapuwidjaja. Isolasi dan uji kualitas pektin secara kimiawi dari
kulit buah Citrus sinensis Osbeck. var Pacitan, Citrus maxima Merr. var
Nambangan dan Citrus maxima Merr. var Bali. FF, UBAYA. Penelitian
Pendahuluan. 1992.
78. Uniati Triwahyuningsih. Pemeriksaan kandungan kimia dan aktivitas anti
mikroba dan daun Clausena harmandiana Pierre ex Guill. FF, UGM.
Penelitiaa Pendahuluan. 1989.
79. Khairul. Uji mikrobiologi ekstrak daun pituju (Clerodendron siphoxanthes
R.Br.). JF, FMIPA UNAND. Penelitian Pendahuluan. 1991.
80. Ester Rositawati. Penelusuran komponen aktif antibakteri buah kopi hijau
(Coffea robusta L.) FF, UGM. Penelitiaa Pendahuluan. 1992.
81. Ulfah Hanum. Uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat buah kopi hijau
(Coffea robusta L.) FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
82. Ifiwati Wibowo. Uji daya antibakteri ekstrak daun jinten terhadap dua
macam kuman gram negatif hasil isolasi urine penderita infeksi saluran
kemih dibandingkan amoksilin trihidrat. FF, WIDMAN. Penelitian Pen-
dahuluan. 1992.
83..
Liem So Tjien. Pemeriksaan beberapa isi kandungan daun Coleus
scutellariodes dan daya antibakteri infusnya terhadap Pseudomonas
aeruginosa. FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1981.
84. Tjendawati. Isolasi glikosida flavonoid dari daun Coleus scullarioides
BTH. FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1990.
85.. Fed Sovia Ersani. Isolasi dan uji daya antibakteri minyak atsiri daun
Cosmos caudatus H.B.K. (kenikir). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan.
1992.
86.. Conny Pattipelohy. Pengaruh ekstrak temu hitam (Curcuma aeruginosa
Roxb.) terhadap jamur Epidermophyton floccosum penyebab penyakit
kurap. JF, FMIPA UNHAS. Penelitian Pendahuluan. 1986.
87. Nana Suriana. Pemeriksaan beberapa sat kandungan serta daya antibakteri
terhadap Pseudomonas aeruginosa dan infus rimpang Curcuma domestica
Val. FF, WIDMAN. 1981.
88. Muriyah. Hubungan antana kadar minytak atsiri rimpang kunyit dan efek
antibakterinya terhadap Staph. aureus in vitro. FF, UGM. Penelitian Pen-
dahuluan. 1985.
89. E. Ratnasani, MS. Hastuti, Rozali Usman, Sidik. Daya antibakteri temu
lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb. dan kunyit (Curcuma domestica Val.)
dalam ekstrak hasil fraksinasi dengan pelarut berpolaritas meningkat.
Seminar, Lokakarya pembudidayaan tanaman obat dan Pameran Obat
Tradisional. Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. 1985 210-
90. Susilowati. Penganuh daya antimiknoba dari rhizom Curcuma domestica
Val. terhadap bakteri E. coli. FF, UNAIR. Penelitian Pendahuluan. 1985.
91. Lois Ratnasani. Uji daya antibakteri ekstnak kunyit hasil ekstraksi dengan
pelarut eter minyak tanah, khloroform dan metanol, terhadap beberapa
jenis bakteri gram + dan bakteri gram­. JF, FMIPA UNPAD. Penelitian
Pendahuluan. 1986.
92. Fitri Yunita. Penentuan komponen utama minyak atsiri kunyit (Curcuma
domestica Val.) dengan GS-MS. 1K, FMIPA ITB. Penelitian Pendahuluan.
1986.
93. Eddy Yusuf. Penentuan kadan curcumin pada kunyit (Curcuma domestica
Val.) secara kromatografi dan spektrofotometri. JK, FMIPA UI. 1989.
94. Sri Multani. Analisis GC-MS dan daya antimikroba minyak atsiri temu
giring (Curcuma heyneana Val. V. Zijp. JBF, FF UGM. Abstrak
Penelitian/Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
1986­1990. hal 171.
95. Eddy Yusuf Analisis kandungan kurkumin pada rimpang beberapa (empat
belas)jenis kurkuma dan Jawa (7. Curcuma heyneana Val.). FB UNHAS.
1980.
96. Ita Yukimantati. Penbedaan aktivitas antimiknoba minyak atsiri dengan
ekstrak eter minyak bumi nimpang temu mangga (Curcuma mangga Val &
V. Zijp.). JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pendahuluan. 1991.
97. M Siti Hastuti. Uji daya antibakteni ekstrak temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) hasil fraksinasi dengan eter minyak tanah, kloroform
dan metanol terhadap Staph. aureus, E. coli, Salmonella typhy dan Bacillus
subtilis. JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pendahuluan. 1986.
98. Ardiah Astusi S.S. Ilyas. Isolasi minyak atsiri rhizoma temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) dan perannya sebagai antibakteri terhadap suatu jenis
Staph. aureus dan E. coli. FB, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1993.
99,. Taufik Rachman. Penetapan kadan minyak atsiri rimpang temulawak
(Curcumaxanthorrhiza Roxb.) dad beberapa daerah. JF. FMIPA UNPAD.
Penelitian Pendahuluan. Minyak atsiri tergantung daerah tumbuh. 1987.
100. Semangat Katanen. Penentuan komponen utama minytak atsiri temulawak
Curcuma xanthorrhiza Roxb. JK, FMIPA ITB. 1988.
101.Elisviati. Analisis komponen-komponen utama minyak sereh dan daun
sereb wangi dan sereh sayur secara spektrofotometri infra merah dan
kromatografi cairan gas. JF, FMIPA USU. 1988.
102.Guspanyanti. Penganuh pnoses pelayuan daun sereh dapur Cympoogon
nardus Rendle terhadap kuantitas dan kualitas minyak atsirinya.
FFUBAYA. 1992.
103. L. Nuraini Susilowati. Daya antibakteri daun Drymoglossum heterophyllum
C. Chr. (pakis duwitan) terhadap E. coli dan Staph. aureus serta sknining
fitokimianya. 1988.
104. E Surtina. Penelitian daya antibakteni ekstrak daun kedoya (Dysoxylum
amorroides Miq. dengan menggunakan pelarut heksana, kloroform dan
etanol. JF, FM UNPAD. 1985.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 45
background image
105. Tri Murti Andayani. U antibakteri dan identifikasi flavonoid dari daun
tapak linian (Elephantopus scaberL.). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan.
1992.
106. Aty Widya Warayanti. Uji antibakteri ekstrak akar rumput belulang
(Eleusine indicu Gearttt), JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pendahuluan.
1987.
107. DerizarDeniska. Uji efek antimikrobaekstrak daun dadap ayam (Erythrinu
orientalis L.) terhadap beberapa bakteri penyebab tukak secara in vitro. JF,
FMIPA UNAND. Penelitian Pendahuluan. 1993.
108. M. Muchalal. Komposisi minyak esensial minyak cengkeh. Risalah Semi-
nar Lokakarya Pembudidayaan Tanaman Obat dan Pameran Obat Tra-
disonal, Universitas Jendral Soedirman Purwokerto, 1985: 158 -
109. Idha Wahyu Windarti. Isolasi eugenol dan kuncup bunga, tangkai hunga,
dan daun cengkeh (Eugenia caryophyllata Thunb.) tipe Zanzibar. FF,
UGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
110. Beni Warman. Uji mikrobiologi ekstrak Eugenia polyantha Wight. folium
terhadap bakteri penyebab diare secara in vitro. JF, FMIPA UNAND. Pe-
nelitian Pend 1990.
111. Retno Sudewi. Isolasi dan uji daya antibakteri minyak atsiri daun salam
(Eugenia polyantha Wight.). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
112. Agusdini Banun Saptaningsih. Pemeriksaan pendahuluan daya antibakteri
dan antijamur getah Euphorbia anti quorum L. terhadap kuman Pseudo
monas aeruginosa dan Staph. aureus serta Candida albicans. JF, FMIPA
UI. Penelitian Pendahuluan. 1991.
113 Hana Tuti. Daya antibakteri infus herba Euphorbia hirtaL. terhadap Staph.
aureus dengan Shigella sonnel. FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan.
1993.
114. Wellim Hartono. Skriningdan isolasi flavonoid dan Euphorbia hirta L. FF,
WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1991.
115.Novi EkoRini. Pengaruh infus dan ekstrak kulit buah Garciniamangostana
L. pada bakteri E. coli dan Shigella flexneri. FF, UNAIR. Penelitian
Pendahuluan. 1990.
116. Hermansjah Amirt. Isolasi xanthone dan kulit buah Garcinia mangostana
L. JK, FMIPA ITB. Penelitian Pendahuluan. 1990.
117. Siti Badriyah. Uji daya antibakteri fraksi etil asetat dan fraksi air daun
Gardenia augusta Merr. Fakultas Farmasi, UGM. Penelitian Pendahuluan.
1991.
118.Serly Sapulete. Uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat daun Hemigraphis
colorata Hall. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
119. Art Kristijono. Isolasi dan identifikasi flavonoid dan daun Hemigraphic
colorata Hall. FF, UGM. Sknipsi. 1987.
120. Sarwoko. Isolasi flavonoid dan daun kejibeling (Hemigraphis colorata
Hall.) secara kromatografi lapis tipis. FF, UOM. Penelitian Pendahuluan..
1989.
121. Masmariani. Daya antibakteni ekstrak daun Hibiscus mutabilis L. terhadap
Staph. ureus, Bacillus subtilis, E. coli dan Shigella sonnei. FF, WIDMAN.
Penelitian Pendahuluan. 1992.
122. Siti Aisjah, Wahjo Djatmika, lOP Santa. Penelitian golongan kandungan
kimia Hibiscus mutabilis L. Risalah Seminar Lokakasya Pembudidayaan
Tanaman Obat dan Pameran Obat Tradisional, Universitas Jendral Soedir-
man Purwokerto, 1985: 100-
123. Misnadiarly, Nunik Siti Aminah. Studi pendahuluan pengaruh ekstrak daun
Hibiscus similis (waru) terhadap kuman Mycobacterium tuberculosis 1-
136 Rv di Laboratorium. Cermin Dunia Kedokt 1993; 84: 39-40.
124. Meriyatmi. Uji mikrobiologi ekstrak daun ubi jalar (lpomoeabatatas Pair.)
terhadap bakteri penyebab infeksi kulit secara in vitro. JF, FMIPA Univer-
sitas Andalas. Penelitian Pendahuluan. 1990.
125. Imarn Handoyo. Daya antibakten minyak atsiri dari kencur terhadap
Staph. aureus dibandingkan dengan Erythromisin stearat. FF, WIDMAN.
Penelitian Pendahuluan. 1989.
126. Udju Sughondho cs Takaran terrendah (MIC) sebagai antibiotik dan
infusa Kampferia galanga L. dibandingkan dengan ampicillin. FK,
UNPAD, 1990.
127. Herri S. Sastroamihardja. Minimal inhibition concentration (MIC) dan
infusum Kampferia galanga L. Bagian Fanmakologi FK, UNPAD. 19
128. Masniari Poelungan, Rita Dwi Rahayu, Mindiarti Harapini, Chairul.
Diameter daerah hambat yang dibentuk ekstrak kencur (Kaempferiagalanga
L.) terhadap Pasteurella Multivida. Seminar nasional POKJANAS TOI VI
Bandung 2­3 Februari 1994.
129. Dien Amiani L, Haria T. Gunawan, Meylida. Skmining daya antimikroba
rimpang Kaempferia galanga L. Seminar nasional POKJANAS TOL VI
Bandung 2­3 Februan 1994.
130. Ratnasari. Studi penentuan struktum komponen kimia rimpang kencum
(Kaempfèria galanga L.) asal Ujung Pandang. JF, FMIPA UNHAS. Pene-
lilian Pendahulunn 1991.
131. Mindarti Harapini, Rita Dwi Rahayu, Chairul. Pemeriksaan Komponen
minyak atsiri rimpang kencur (Kaempteria galanga L.) Lab. Treub. Pus
litbang Biologi LIPI Bandung. Seminar POKJANASA TOI VI Bandung,
2­3 Februari 1994.
132. Heriyanto. Uji daya antibakteri ekstrak kulit batang bungur terhadap E.
coli dan Shigella sonnei dibandingkan dengan kloramfenikol base. FF,
WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1992.
133. Wahyu Noer. Penejitian bakteriologik-mikologik laos (Alpinia hgalanga
L.) merajh dan putih segar terhadap bakteri Staph. aureus Str Oxford,
Salmonella typhosa dan jamur microsporum. JF, FMIPA UNPAD. 1977.
134.. Tjarkiah Apandi, Penelitian daya kenja laos (Alpinia galanga Swan.)
yang dikerjakan terhadap bakteri Staph. aureus strain Oxford, Salmonella
typhosa dan jamur Microsporum gypseum. JF, FMJPA UNPAD. 1977.
135. Sri Ardani Soelarto. Formulasi salep dengan ekstrak langkuas dan penen-
tuna daya hambatnya terhadap bakteri dan jamur. Penelitian Pendahuluan.
JF, FMIPA UNPAD. 1979:
136. Mohasnad Eksan Sjatiudin. Penelitian efek bakterologik dan mikologik
dari laos merah dan putih yang segar dan yang dikeringkan terhadap Staph.
aureus, Salmonella ryphosa dan jamur Microsporum gypseum. Penelitian
Pendahuluan. JF, FMIPA UNPAD. 1981.
137. Ny. Aisyahfatmawati S. Identifikasi komponen utama flavonoid dan Alpi
sin galanga L. secara kromatografi lapis tipis asal desa Pania Kab. Wajo.
JF, FMIPA UNHAS.
138. Paramita A. Hubungan antana kadardengan efek minyak atsiri hasil isolasi
dari laos (galanga rhizome) `terhadasp Staph. aureus in vitro.
139. Purwani Sulistyowati. Efek antimiknoba akar temblekan (Lantana camara
L) terhadap Candida albicans, E. coli dan Staph. aureus serta skrining
fitokimianya. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1988.
140. Aida. Usaha isolasi dan identifikasi komponen kima daun temblekan
(Lantana camara L.) asal Tamalamea Ujung Pandang. JFi, FMIPA UN-
HAS. Penelitian Pendahuluan. 1990.
141. Eti Kusraeti. Penelitian daya antibakteri ekstnak etanol daun paean kuku
(Lawsonia inermis L.) kesetaraannyadengan tetrasiklin serta usaha
mengiso lasi zat aktifnya. JF, FMIPA UNPAD. 1985.
142. Wiralaga. Uji daya hambat ekstrak daun paean kuku (Lawsonia mermis
L.) terhadapbakteri penyebab infeksi kuku secarainvitro. JF, FMIPA
UNAND. Penelitian Pendahuluan. 1990.
143. Ni Nyoman Tamri. Pemeriksaan kandungan kimiadan aktivitas antibakteri
dari Leucas lavanduli folia J.E,Smith. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan.
1986.
144. Asep Saiful Azhan. lsolasi minyak atsiri dari Litsea cubeba Pers. JK,
FMIPA ITB. 1993.
145. AnikDwiyanti. Isolasi dan ujidayaantibakteni minyakatsiri buah
Melaleuca leucadendra L. (merica bolong) serta pemeriksaan kandungan
kimianya. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1990.
146. Titi Miranti. Pengukuran potensi ekstrak kasar Michelin champaca L. se-
bagai antibakteri dengan metoda paper disc. JF FMIPA UNPAD. 1979.
147. Richard S. Pengujian aktivitas antibakten senyawa alkaloida lanut kloro-
form dari Michelia champaca, famili Magnoliaceae. JF FMIPA UNPAD.
1981.
148. Endang Pmasetyaningsih. Uji aktivitas antibakteri fraksietil asetatdan
fraksi air buah pace (Morinda citrifolia L.). FF, UGM. Penelitian
Pendahuluan. 1990.
149. Zulkifli. Uji mikrobiologi ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.)
terhadap beberapa bakteri penyebab infeksi tenggorokan secara in vitro.
JF, FMIPA UNAND. Penelitian Pendahuluan. 1991.
150. Ester. Efek fraksi etil asetat buah pace (Morinda citrifolia L.) terhadap
pertumbuhan Staph. aureus in vitro. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan.
1992.
151. Supriyanto. Penelitian fitokimia terhadap buah dan akar tumbuhan pace
(Morinda citri L.). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1989.
152. Sudarsini. Uji antibakteri zat larut dalam fmaksi eter minyak tanah kuliat
akar kelor (Moringa oleifera Lamk.). JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pen-
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
46
background image
dahuluan. 984.
153. Sumarno. Menguji sifat antiseptika larutan serbuk biji kelor yang diguna-
kan untuk menjernihkan air keruh. JKF, FF, UOM, Yogyakarta. Abstrak
Penelitian/Publikasi llmiah Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada,
1986­1990 hal 170.
154. Aryetti. Analisis komponen kimia minyak atsiri fuli pala (Myristica fra-
grans Haul.) dengan GS-MS. PPPS ITB. 1989.
155. Siti Nur Rokhmah. Penelitian sifat fisikadan kimia sertakhasiat antibakteri
atsiri daun selasih mekah (Ocimum gratissimum L.). FF, UGM. Penelitian
Pendahuluan. 1987.
156. Zahidah Rasjid. Efek antibiotika daun kumis kucing (folia Orthosiphon)
dalam bentuk yang sudah disterilkan terhadap kuman-kuman yang mung-
kin ditemukan di saluran kemih. JF, FMIPA UI. Penelitian Pendahuluan.
1978.
157. Kestri Harjanti. Uji daya antibakteri fraksi air dan fraksi etil asetat daun
sembukan (Paederia foetida L.). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
158. Ni Wayan Asri Indraningsih. Pemeriksaan antibakteri secara in vitro
minyak picung (Pangium edule Reinw.) terhadap bakteri Staph. aureus dan
Staph, epidermidis, Pseudomonas aeruginosa dan E. coli. JF, FMIPA UI.
Penelitian Pendahuluan. 1994.
159. Effionara Anwar, Atiek Soemiati, R. Sarjito, NWA. Indraningsih. Peme-
riksaan daya antibakteri secara in vitro minyak picung (Pangium edule
Reinw.) terhadap bakteri Staph. aureus, Staph. epidermidis, Pseudomonas
aeruginosa dan Escherichia coli. JF, FMIPA-UI, Bagian Mikrobiologi
FKUI. Simposium Penelitian Bahan Obat Alam VIII dan Muktamar
PERHIPBA VI. Bogor, 24­25 Nopember 1994.
160. Hanny Prasetyawati. Daya antibakteri ekstrak etanol dan infus biji kedaung
terhadap kuman Vibrio cholerae Balivet, E. co1i 25922, Salmonella typhosa
9012 dan Shigella dysentriae. JF, FMIPA UNPAD. 1994.
161. S. Yuliani, Ma'mun, Trianingsih. Analisis kandungan tanin biji kedaung
(Parkiajavanica) dan berbagai daerah secara fotometri. Balai Penelitian
tanaman rempah dan obat Bogor. POKJANAS TOI V, Surabaya, 13­14
Agustus 1993.
162. Amalia Nur Utami. Isolasi dan daya antibakteri flavonoid daun kacang
hijau (Phaseolus radiatus L.) terhadap Staph. aureus. FF, UGM. 1986.
163. Elva Annisa. Efek antibakteri dekok herba meniran (Phyllanthus niruri L.)
terhadap Staph. aureus dan E. coli (Koleksi Lab Mikrobiologi FK UGM)
serta skrining fitokimia. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
164. Nanik Isnaini. Skrining daya hambat dan infusa meniran (Phyllanthus
niruri L.) terhadap pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 15221, Shigella
dysenteriae dan Staph. aureus. FF, UBAYA. Penelitian Pendahuluan.
1991.
165. Anas Subamas, Sidik. Phyllanthus niruri L, Kimia, Farmakologi, peng-
gunaannya dalam obat tradisional. JF, FMIPA UNPAD. Seminar
POKJANAS TOI V, Surabaya 13­14 Agustus 1993.
166. Henny Kurniawati. Membandingkan daya antibakteri infus sirih dengan
minyak sirih secara in vitro. FF. UGM. Penelitian Pendahuluan. 1983.
167. Dhiah Santi Nuringsih. Daya antibakteri minyak sirih (Piper belle L.) ter-
hadap Staph. aureus dan E. coli serta identifikasi secara kromatografi lapis
tipis dan kromatografi gas. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
168. Suprihati dkk. Pengaruh penyimpanan daun sirih sebagai obat kumur ter-
hadap akumulasi plak gigi dan pertumbuhan bakteri Streptococcus
sanguis. FKG. UGM. 1990.
169. Susilowati. Membandingkan daya antibakteri infus kemukus secara in
vitro. FF, UNAIR. 1983.
170. MarianaSugiarto. Uji daya antibakteri ekstrak daun sendok terhadap
Staph. aureus dan Shigella sonnei dibandingkan dengan kloramfenikol.
FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1992.
171. Neneng Mupidah. Pembuatan sari daun suji (Pleomele angustiftulia ME.
Broun.) dan penggunaannya dalam obat kumur. JF. FMIPA UNPAD.
172. Sri Dewi Astuti. Isolasi minyak atsiri dan daun beluntas. FF, UGM. 1985.
173. Atik Erawati. Uji aktivitas antibakteri dan identifikasi minyak atsiri daun
Pluchea indica Less. FF, UGM. 1992.
174. Murni Siregar. Pengaruh infus daun Psidium guajava L. terhadap bakteri
E. coli secana in vitro. JF, FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU).
Pane litian Pendahuluan. 1984.
175. Enni Mulyawati. Pemeriksaan stabilitas mikrobiologi ekstrak daun jambu
biji dan daya antibakteri terhadap kuman Salmonella typhosa, Staph.
aureus, Vibrio cholerae dan E. coli. JF, FMIPA UI. Penelitian Penda-
huluan. 1986.
176. Fathiyah. Uji daya antibakteri ekstrak kental dan ekstrak kering daun
jambu biji. JF, FMIPA UI. Penelitian Pendahuluan. 1987.
177. Prima Yuniarti. Pengaruh anti bakteri dekok daun jambu biji (Psidium
guajava L.) terhadap Staph. aureus dan E. coli (koleksi laboratorium
Mikrobiologi FK UGM). FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1991.
178. Maria Lucia Susi Haryati. Daya antibakteri daun jambu biji (Psidium
guajava L.) dan Selarong terhadap Staph. aureus danE. coli (Koleksi Lab
mikrobiologi FK UGM) secarainvitro. FF. UGM. Penelitian Pendahuluan.
1992.
179.. Soetarto M, Asep Gun Suganda, Desmida. Pemeriksaan kandungan kimia
dan Psidiam guajava L. Risalah Seminar Lokakarya Pembudidayaan Ta-
naman Obat dan Pameran Obat Tradisional, Universitas Jendral Soedirman
Purwokerto; 1985 : 118-
180.. Meliati Soetanto. Pemeriksaan kadar tanin dan ciri-ciri morfologi daun
berbagai kultivarjambu biji (Psidium guajava L.). FF, WIDMAN.
Penelitian Pendahuluan. 1992.
181.. F. Rias Prasetya. Uji daya antibakteri invitro ekstrak kulit buah Punica
granatum L. terhadap pelbagai kuman standar dari kuman liar yang di
asingkan dari penderita. JF, FMIPA UI. Penelitian Pendahuluan. 1987.
182.. Rachmat Hatunggal Siregar. Pengaruh rebusan kulit buah
Punicagranatum L. terhadap beberapa bakteri penyebab diare secara in
vitro. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1987.
183.. Sri Indrarini. Gambaran antimikroba dan kulit buah delima putih (Punica
granatumL. varalba L.) terhadap Gandida albicans, E. coli, Staph. aureus.
Bacillus cereus dan usaha pembuatan sediaannya. JF, FMIPA UNPAD.
Penelitian Pendahuluan. 1991.
184. Etty Sri Rejeki W dkk. Isolasi pektin dan buah Pyrus mallus L. dan penga-
ruhnya sebagai anti bakteri terhadap Salmonella typhi dan Salmonella
entritidis secara in vitro. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III
Yogyakarta 1983. 79­90.
185. Dwi Kori Andayani. Pemeriksaan pengaruh pektin dan buah apel (Pyrus
mallus L.) terhadap pertumbuhan beberapa bakteri penyebab diare secara
invitro. JF, FMIPA USU. Penelitian Pendahuluan. 1991.
186. Debora Bumbungan. Penelitian daya hambat ekstrak daun tereba (Rhini
canthus nasutus Kurz.) terhadap kapang penyebab kurap. JF, FMIPA
UNHAS. Penelitian Pendahuluan. 1988.
187., EmaPrawita Setyowati. Uji antibakteri dan identifikasi flavonoid dari
daun jarak kepyan (Ricinus communis L.). FF, UGM. Penelitian
Pendahuluan. 1992.
188.. Meike Wantah. Identifikasi minyak atsini dan kayu cendana (Santalum
album L.) secara kromatografi lapis tipis dan kromatografi gas. FF, UN
PANCA. Penelitian Pendahuluan. 1990.
189. AS. Winoto. Pengambilan minyak pada kayu cendana dengan metoda
ekstrak.si pelarut. LP UNDIP. 1991.
190. Connie Hanytono. Perbandingan daya antibakten ekstrak kulit batang turi
putih terhadap E. coli, Shigella sonnei, Staph. aureus dan Bacillus subtilis.
FF, WIDMAN. Penelitian Pendahuluan. 1992.
191. Herni Hartati. Efek antimiknobaekstrak daun sidaguri (Sida rhombifolia
L.) terhadap Staph. aureus dan Candida albicans serta skrining
fitokimianya. FF, UGM. Penelitian Pendahuluan. 1992.
192. Edwin. Efektifitas minyak atsiri bunga Spilanthes acmella L. terhadap
bakteri penyebab infeksi gigi. JF, FMIPA UNAND. Penelitian Pendahu-
luan. 1992.
193. M. Eksan, Rosali, Usman, Emma Nurdiamah. Penelitian sediaan dan
ekstrak dan daun comfrey dalam kaitannya dengan daya antimikroba nya.
Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. Yogyakarta 1983:
78­91.
194. Anindito Widyantoro. Efek daun jamblang (Syzygium cumini Skeéls.)
terhadap Staph. aureus dan E. coli serta skrining fitokimia. FF, UGM.
Penelitian Pendahuluan. 1989.
195. Sumarti. Sebaran senyawa bioaktif antibakteni kulit buah lalawe (Term-i
nalia bellerinaRoxb.). JF, FMIPA UNPAD. Penelitian Pendahuluan. 1993.
196. Muhamad Iskandar. Uji mikrobiologis fnaksi ekstrak batang brotowali
Tinospora crispa Miers ex Hook F. & Thems terhadap beberapa bakteri
penyebab diare secara in vitro, JF, FMIPA UNAND. Penelitian Penda-
huluan. 1990.
197. Yunita Halim. Daya antimikroba ekstrak brotowali terhadap Staph.
aureus, E. coli, Candida albicans dan Trichophyton ejelloi. FF,
WIDMAN. Pene litian Pendahuluan. 1991.
198. Dien Ariani Limyati, IGK Artawan, Yunita Halim. Daya antimikroba
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 47