pada masa puncak paceklik tersebut (Mei), jumlah anak yang
berat badannya turun bertambah dengan pesat, sedangkan
incidence malarianyapun agak tinggi, dimana saat itu seharus-
nya tidak tinggi.
3. Cara mengatasi keadaan tersebut.
Selama masa akut dari penyakit malaria seyogyanya pen-
derita minum cukup cairan, misalnya air buah. Dan segera
setelah panas turun, dia harus makan makanan yang cukup
bergizi
untuk mengganti kerusakan-kerusakan
tubuhnya
selama demam (6).
Insidensi malaria pada umumnya terbanyak pada golongan
umur 6 bulan - 3 tahun walaupun golongan umur lainnya
cukup banyak juga.
Qbat-obatan untuk pengobatan radical terhadap malaria yang
tersedia adalah camoquin, atau chloroquin, dan primaquin.
Obat-obatan tersebut pahit dan harus diminum dalam jumlah
banyak selama beberapa hari ( 3 atau 5 hari ).
Orang-orang dewasa agak sulit memakannya, apalagi anak-anak
umur 6 bulan - 3 tahun. Pengobatan pencegahan dengan obat
khemoprofilaksis lebih mudah diterima , karena jumlah butir
obat yang harus ditelan lebih sedikit. Bila diminum dalam
waktu-waktu transmisi penyakit sedang banyak sekali, dapat
mengurangi penularan penyakit.
Tabel 5 menunjukkan efek mass drug prophylaxis dalam pe-
nurunan insidensi mala
r
ia pada anak balita pada masa peak
malaria.
Tabel 5 : Jumlah anak balita yang berat badannya turun, di desa
dengan drug prophylaxis dan di desa tanpa drug prophy-
laxis.
TINDAKAN
jumlah balita
pd bulan VII
yang berat ba-
dannya turun
jumlah balita
pada bulan IX
yang berat badan
nya turun
Prosentasi
penurunan
tanpa drug
prophylaxis
13,5%
21,2%
-57%
dengan
drug
prophylaxis
28%
11,5%
59,9%
KESIMPULAN
Dari pembicaraan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Penyakit malaria mempengaruhi keadaan gizi anak balita.
2. Penyakit kekurangan gizi mempengaruhi keadaan malaria
pada anak balita.
3. drug prophylaxis terhadap malaria untuk anak balita
di daerah endemis malaria perlu.
SARAN SARAN
Untuk mengatasi masalah malaria dalam hubungannya
dengan gizi balita maka perlu bukan saja untuk mengobati
penderita tapi mencegah jangan sampai terkena malaria mau-
pun jangan sampai keadaan gizi anak-anak menjadi kurang,
karena kedua keadaan tersebut berhubungan erat.
Malaria dan kekurangan gizi dapat dicegah dengan jalan :
1. Tindakan yang bersifat lokal :
(a) Mengintensifkan Program Penyuluhan Kesehatan Ma-
syarakat dan Program gizi.
(b) Mengintensifkan program pemberian preventive drugs
terhadap
malaria
pada golongan-golongan rawan,
yaitu anak umur 6 bulan - 3 tahun, yang bergizi ku-
rang, dan berstatus sosial ekonomi rendah. Pemberian
dilakukan pada 1 bulan sebelum peak dari malaria.
2. Tindakan yang bersifat nasional :
(a) Memperbaiki dan
mempertinggi usaha-usaha pem-
berantasan penyakit malaria, dengan :
· Penyemprotan dengan insektisida yang lebih poten
dan efeknya lebih lama daripada yang sudah-sudah.
· Penyediaan obat yang tidak pahit, agar anak-anak
golongan rawan (6bulan - 3 tahun dapat menelannya
dengan tenang, dan dalam dosis yang tepat ).
(b) Menambah dan meningkatkan status sosial ekonomi
penduduk, sehingga mereka memiliki cukup uang
untuk membeli makanan yang berkualitas dan ber-
kuantitas cukup (7).
(c)
Menambah dan meningkatkan status pendidikan umum
dari masyarakat, sehingga mudah mengerti dan melaku-
kan hal-hal yang telah diajarkan kepada mereka (7).
(d) Menambah dan memperbaiki penyediaan makanan,
yang berhubungan erat dengan sektor pertanian (7).
KEPUSTAKAAN
1. Wongsokoesoemo B.Malaria control in Indonesia. MKI 1976; 11 - 12
2. Marbaniati. Primary health care in Banjarnegara, Java by village
health worker with special reference to malaria. Dissertation sub-
mitted for Diploma in Community Health of The Tropics, London
School of Hygiene and Tropical Medicine, University of London.
1979.
3. Cameron M, Hofrander Y. Manual on feeding infants and young
children, New York : United Nations, 1976.
4. Harinasuta T et al. Malaria in South East Asia. SEAMEOTROP-
MED scientific group meeting, Bangkok, 1976.
5. Schuffner W. Two subjects from the epidemiology of malaria.
Mededeelingen v.d. Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Neder-
landsch-Indie 1919, DI.IX, pg 1 - 52.
6. Cooper et al. Nutrition in health and disease. Philadelphia Mon-
treal : IB Lippinestt Co, 1963.
7. Burgess HJL (1969). Protein calarie Malnutrition in children.
In : The Ross lnstitute Information and advisory service, Bulletin
no 12. London: Juni 1974.
Survei Malariometrik di Daerah Endemik
Soesanto Tj., Supargiyono, Noerhayati S. dan Siti Moesfiroh
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Masalah penyakit malaria merupakan masalah yang men-
cakup berbagai faktor yang saling berkaitan. Misalnya masalah
Simposium Masalah Penyakit Parasit
30
transmigrasi yang merupakan program pemerintah sekarang
akan merupakan salah satu faktor epidemiologis yang mem-
pengaruhi perkembangan penyakit malaria di tempat tinggal
yang baru. Terjadinya kematian para transmigran yang baru
tiba diproyek transmigrasi yang disebabkan oleh penyakit
malaria juga merupakan salah satu contoh yang memacu pe-
ningkatan kerja antar sektoral dalam usaha memberikan pe-
layanan kesehatan yang baik. Jumlah kerugian akibat adanya
penyakit malaria sangat besar sekali baik bagi yang menderita
sendiri maupun bagi negara yang bersangkutan. Kerugian ini
adalah sebagai akibat dari hilangnya jam kerja, kurangnya pro-
duksi, biaya pengobatan, biaya perawatan dirumah sakit dan
lain-lain.
Kabupaten Banjarnegara telah dikatakan sebagai daerah
malaria yang stabil walaupun berbagai cara telah dilakukan
untuk memberantasnya. Malaria telah mulai diberantas sejak
tahun
1961
atas bantuan USAID dan WHO dengan hasil kira-
kira setengah juta orang tercegah dari penyakit malaria.
Penggunaan DDT telah dilaksanakan sejak tahun
I961
tetapi
pada tahun 1965 terhambat karena kesulitan finansial, akan
tetapi pada tahun
1962
telah diketemukan adanya resistensi
vektor (An anopheles) terhadap DDT. Salah satu faktor ter-
jadinya resistensi tersebut adalah pemakaian pestisida di
kalangan pertanian yang secara tidak langsung akan menyebab-
kan resistensi nyamuk terutama di daerah Banjarnegara di
mana An. aconitus sebagai vektor malaria.
METODOLOGI
Penelitian ini bersifat cross sectional dan bersifat sangat
permulaan. Penelitian ini dilaksanakan pada anak-anak sekolah
dasar di desa Medayu, kecamatan Wonodadi kabupaten Banjar-
negara Jawa Tengah, dari kelas I s/d III untuk mendapatkan
golongan sampel berumur 5 - 9 tahun. Sedangkan untuk
golongan umur di bawah lima tahun diambilkan dari anak-
anak dari masyarakat setempat secara random. Dua golongan
sampel tersebut menggambarkan golongan umur 2 - 9 tahun
yang dapat diambil sebagai sampel untuk survei malariometrik.
Kriteria pembesaran limpa dipakai kriteria menurut Hackett II
(Boyd,
1940).
Untuk pemeriksaan darah diambil darah perifer
dari ujung jari dan setelah dicat dengan Giemsa dilakukan
pemeriksaan adanya parasit malaria di bawah mikroskop
dengan memakai minyak emersi.
HASIL
Dari sampel yang diambil secara random, sebanyak 39
anak berumur kurang dari
4
tahun diambil dari rumah-rumah
penduduk; sedangkan sejumlah
149
anak dari umur 5 - 9
tahun diambil dari Sekolah Dasar kelas I s/d III (lihat tabel I).
TABEL 1. Distribusi sampel menurut umur, 1979.
Umur
laki
Perempuan
Jumlah
<
11 bulan
9
6
15
12 23 bulan
7
2
9
2
4 tahun
6
9
I5
5
9 tahun
93
56
149
115
73
188
31
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
TABEL 2. Frekuensi distribusi pembesaran limpa.
LIMPA
Darah tepi
TOTAL
pos.
neg.
Membesar
Tidak
3
4
34
147
37
151
T o t a l
7
181
188
Spleen rate = 37/188 x 100% = 19.7%
TABEL 3. Distribusi pembesaran limpa standard Hackett menurut u-
mur.
limpa
Tingkatan
pembesaran
UMUR
Total
Weighting
llbl. 12 - 23 bl. 2th - 4th 5 - 9th.
0
0
0
0
0
0
0
1
0
2
7
18
27
27
2
0
0
2
10
12
24
3
0
0
0
12
12
36
4
0
0
0
0
0
0
5
0
0
0
0
0
0
0
2
9
40
51
87
AES = 87/188 = 0,5
TABEL 4. Distribusi infeksi malaria falciparum menurut umur dan je-
nis kelamin.
Jenis
kelam
in
UMUR
stadium P. falciparum
JUMLAH
laki
permp.
trof/schi.
gametocyt
llbl
1
0
0
1
1
12 23b1
0
1
0
1
1
2th4th
1
1
0
2
2
5th9th
1
2
1
2
3
6
7
IPR = 1/15 x 100% = 6.7%
Parasite rate = 7/188 x 100% = 3.7%
Gametocyte rate = 6/7 x 100% = 85.7%.
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah positif palsu (false
positive) sebanyak
34
anak dan negatif palsu (false negative)
sebanyak 4 anak. Spleen Rate didapatkan 19.7% menunjukkan
bahwa daerah tempat tinggal sampel termasuk daerah mesoen-
demis malaria (1).
Tabel 3 menunjukkan bahwa Average Enlarged Spleen
(AES) sebesar 0,5; ini menunjukkan bahwa derajad imunitas
terhadap malaria di daerah tersebut tidak tinggi. Telah di-
ketahui bahwa di suatu daerah malaria ada hubungan antara
derajad imunitas dengan tingkat berat ringannya infeksi, di
daerah tersebut dan Spleen Rate yang terdapat tidak akan
berkurang/menghilang selama infeksi malaria masih terus ber-
langsung.
Tabel 4 menunjukkan angka :
Infant Parasite Rate (IPR) sebesar 6.7% yang berarti adanya
transmisi malaria di daerah penelitian pada saat itu. Gametocy-
te Rate sebesar 85.7% menunjukkan pada waktu survei ter-
dapat derajad transmisi yang tinggi.
Parasite Rate sebesar 3.7% menandakan bahwa saat tersebut
tidak banyak anak-anak yang menderita malaria.
Pada pemeriksaan tersebut ternyata tidak didapatkan adanya
P. vivax
dan P.
malariae.
Hasil penelitian juga menunjukkan tidak adanya perbedaan
antara infeksi malaria falciparum pada laki-laki dan perempuan.
Seperti juga
penelitian malariometri yang terdahulu (2,3)
mengatakan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara pre-
valensi malaria pada laki-laki dan perempuan.
DISKUSI
Dari penelitian terdahulu di Kecamatan Wonodadi Kabupaten
Banjarnegara pada tahun 1977 didapatkan angka prevalensi
untuk P.
falciparum
pada golongan umur 0 - 11 bulan, 1 - 4
tahun dan 5 - 9 tahun masing-masing sebesar 6.8, 16.5 dan
13.4 (4). Dibandingkan pada survei ini dengan
prevalensi
sebesar 0.5, 1.6 dan 1.6 untuk masing-masing golongan ter-
sebut di atas maka kelihatannya bahwa angka ini menurun.
Tetapi apakah ini menggambarkan bahwa prevalensi malaria
didaerah tersebut menurun ? Hal ini harus dilihat dari banyak
segi karena banyak faktor mempengaruhinya.
Di Medayu menurut Marbaniati (1977) dikatakan bahwa
infeksi P.
falciparum
mempunyai prevalensi tinggi pada semua
golongan umur dengan prevalensi yang terendah pada anak
berumur kurang dari 11 bulan. Kemungkinan ini karena anak-
anak tersebut tidak mempunyai banyak peluang untuk digigit
nyamuk
Malaria di daerah Medayu tersebut mempunyai fluktuasi yang
kecil dari tahun ketahun sehingga diklasifikasil:an sebagai
daerah malaria yang stabil. Juga karena terjadinya superinfeksi
yang berulang-ulang dan infeksi tersebar di seluruh penduduk.
Hal ini sangat memacu peningkatan program surveillance.
Hasil pemeriksaan limpa menunjukkan bahwa anak-anak
dengan pembesaran limpa tidak menunjukkan adanya kelebih-
an imunitas terhadap malaria dibandingkan dengan anak-anak
dengan limpa normal. Sebetulnya respons penderita dengan
adanya manifestasi pembesaran lien tergantung kepada (i)
species dari plasmodium dan (ii) status imunitas penderita
sebelumnya.
Pada segolongan penduduk di daerah Medayu terdapat imu-
nitas yang tinggi yang disebut imunitas alami (natural immu-
nity). Hal ini akan lebih pasti apabila pada penelitian lebih
lanjut didapatkan tidak adanya deficient sporozoits pada
nyamuk-nyamuk dan tidak adanya"technical difficulties", se-
hingga akan memperkuat adanya imunitas alami.
Faktor yang mempengaruhi endemisitas di daerah tersebut
antara lain : vektor malaria didaerah Medayu adalahAn.aconi-
tus
yang terkenal bersifat zoophilic dan exophilic dan menye-
Kamillosan
®
baik untuk ibu, aman bagi bayi
Mencegah fisure dan rhagaden dari niple, sehingga ibu- ibu
terhindar dari Mastitis pada masa laktasi.
Komposisi : Setiap 100 g salep mengandung :
Camomile dry extract
400
mg
Essential oil
20
mg
Chamazulene
0,4 mg
Bisabolol
7
mg
lndikasi
: Keadaan iritasi kulit seperti pada : luka-luka
parut, luka lecet, luka sayat, luka bakar, ter-
kena sinar matahari yang terlalu terik, iradiasi
sinar X, ultra violet, eksema, dermatitis, pruri-
tus (terutama pada kulit yang kering), abses,
bisul, rhinitis, herpes labialis, perawatan dan
perlindungan kulit bayi, perawatan puting
buah dada semasa kehamilan dan laktasi.
Kemasan : Tube 10 g, botol 10 cc dan 30 cc
Manufactured by KALBE FARMA, Jakarta-lndonesia
under licence of
CHEMIEWERK HOMBURG
Frankfurt/Main Germany
Simposium Masalah Penyakit Parasit
32
barkan malaria disesuaikan dengan meningkatnya breeding
places pada puncak dari panenan (
5). An. aconitus
memang
menurut penyelidikan mempunyai outdoor manhour density
yang jauh lebih besar dari pada indoor manhour density.
Pemakaian insektisida pada pertanian telah membudaya
pada masyarakat untuk mencegah musnahnya padi dan secara
tidak langsung akan mempengaruhi timbulnya resistensi ter-
hadap pemakaian DDT untuk residual spraying, sehingga
telah dipakai metode fogging dengan fenetrothion saja atau
kombinasi antara residual spraying dengan fogging dengan
menggunakan fenetrothion.
Usaha pemberian pengobatan pencegahan (drug prophy-
laxis)juga mengalami hambatan yang disebabkan oleh karena
rasa pahit yang tidak disukai (walaupun dipakai camoquin)
atau karena panjangnya interval peminuman obat yang dapat
menimbulkan kealpaan pada sipemberi obat maupun sipe-
minum obat dengan akibat cara peminuman yang tidak teratur.
Juga pada pengobatan radikal dipakai obat-obat yang me-
makan waktu 3 - 5 hari, sehingga sering terjadi obat tertinggal
untuk tidak termakan.
Juru malaria desa (JMD) memegang peranan penting oleh
karena dia harus sadar akan tugasnya dan disiplin dan mau
bekerja dengan tanpa imbalan.
JMD penting untuk memperoleh coverage yang luas sehingga
surveillance dapat dimonitor; juga dapat mengerjakan peng-
obatan masal; dan mampu memperlancar proses pengiriman
slide darah untuk pemeriksaan. Persoalannya sistem kontroI
yang manakah yang dapat dipakai untuk mengontrol pekerja-
an si JMD.
Penggunaan cara pengeringan secara berkala pada sawah-
sawah telah didapatkan bukti sementara tentang penurunan
kepadatan nyamuk. Tetapi persoalannya sekarang adalah
perubahan kebiasaan (culture) untuk mengeringkan sawahnya
secara berkala walaupun dikatakan bahwa tidak akan meng-
ganggu hasil padinya. Semua perubahan yang berdasarkan
perubahan kebiasaan selalu memerlukan waktu yang panjang.
Sanitasi selalu dihubungkan dengan tujuan untuk mengu-
rangi mortalitas baik dengan menghilangkan nyamuk ataupun
menjaga manusia dengan memakai kelambu, menjauhi dan
menghilangkan breeding places. Tetapi hal ini sulit dilaksana-
kan. Sangat dianjurkan bahwa setiap pengukuran malariometri
dihubungkan dengan hal-hal sanitasi.
Alokasi budget untuk pemberantasan malazia harus diper-
timbangkan mengingat peristiwa pada tahun I965 dimana pro-
gram pemberantasan malaria terhambat karena kekurangan
biaya. Hal ini telah dilaksanakan pemerintah seperti terlihat
pada perbedaan alokasi budget pada Repelita I dan II dimana
15.2% dari alokasi kesehatan dipergunakan untuk pemberan-
tasan malaria. Periode 1975/1976 kira-kira I.7% dari budget
pemerintah telah dipergunakan untuk kesehatan (Bahrawi,
1976).
Taraf kontrol malaria yang diharapkan dapat kiranya di-
capai dengan mencapai parameter epidemiologik dan sosioe-
konomik sehubungan dengan malaria dan mencari interaksinya.
Hal ini dapat dilaksanakan dengan :
1. mempelajari lebih dalam pengetahuan tentang biologi,
ekologi dan kebiasaan vektor. Hal ini dimaksudkan agar
mengetrapkan metode kontrol lingkungan, biologis dan
usaha mencari insektisida yang sesuai, kontrol genetika.
2. mencapai pengetahuan mengenai distribusi parasit dan
biologi.
3. mempelajari imunitas pada malaria.
Ketiga hal tersebut diatas dapat berguna untuk usaha dari
vektor secara biologis dan usaha mendapatkan vaksinasi
terhadap malaria.
4. mempelajari lebih dalam adat kebiasaan manusia dan sikap-
nya terhadap malaria. Hal ini berguna untuk usaha pen-
dekatan terhadap masyarakat dan usaha mencari metode
untuk proteksi terhadap vektor..
5. mempelajari pengetahuan mengenai struktur dan fungsi
kesehatan, pengembangan tenaga dan usaha pelayanan
terhadap malaria.
Dari hal-hal tersebut diatas dapat diharapkan hasil yang
berupa :
1. dapat memperhitungkan cost-efectiveness dari beberapa
metode.
2. menyesuaikan metode surveillance pada daerah yang ber-
beda-beda.
3. mengembangkan metode perencanaan.
Sehingga hasil akhir dari semua hal tersebut diatas dapat
berupa (a) mampu menalar dari perencanaan, organisasi dan
managemen dari malaria kontrol, (b) dapat mengembangkan
latihan-latihan mengenai malaria. sehingga sebagai hasil akhir
akan dicapai kontrol malaria yang memuaskan.
KESIMPULAN
Malariometri merupakan pengukur untuk menentukan derajad
endemisitas malaria. Desa Medayu merupakan daerah malaria
stabil dengan endemisitas yang pada saat penelitian bersifat
mesoendemis.
Walaupun pemberantasan penyakit malaria dilaksanakan
terus menerus tetapi insidensi penyakit malaria tetap tinggi.
Hal ini disebabkan oleh faktor yang bermacam-macam seperti
resistensi
An. aconitus
terhadap DDT; breeding-places yang
sulit dicapai sepanjang sungai Serayu dan di sawah-sawah
yang ditanami padi setahun 2 - 3 kali.
Perlu ditingkatkan penelitian mengenai cara yang paling
acceptable dan feasible oleh masyarakat untuk pemberian
obat malaria di samping penyediaan budget yang paling tidak
dapat mempertahankan kesinambungan program pemberantas-
an malaria.
KEPUSTAKAAN
1. Davey, Lightbody. Control of Diseases in the tropics, 4 th. ed.
London:H.K. Lewis Co Ltd., 1971
2.Williamson WA, Gilles HM. Malumfashi Endemic Diseases Project,
Malaziometri in Malumfashi, Northern Nigeria. Ann Trop Med
Parasitol
1978; 4(72) : 1- 63.
3.Gundelfiger BF et al. Observation on malaria in Indonesia Timor.
Amer J Trop Med Hyg 1975; 3 (24) : 393 - 6.
4. Mazbaniati. Primary Health Care in Banjarnegaza Jawa by village
health workers with special references to malaria. A thesis, 1979.
5.Verdrager J, Arwati. Impact of DDT spraying on malaria transmis-
sion in different areas of Java where the vector An. aconitus is
resistant to DDT.
Bulletin Kesehatan Health Studies in Indoneisa, 1975; 2 (3)
29-39.
33
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980