Peranan Perawat
dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial
Djoko Roeshadi
Panitia Medik Pengendalian Infeksi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat oleh karena
penderita dirawat atau pernah dirawat di rumah sakit. Oleh ka-
rena infeksi ini didapat di rumah sakit, maka kuman penyebabnya
pada umumnya adalah kuman yang resisten terhadap banyak
antibiotika, sehingga infeksi nosokomial mempunyai banyak
aspek penting yang perlu diperhatikan antara lain :
1)
Bahaya untuk diri penderita sendiri maupun lingkungan-
nya.
2)
Sosio ekonomi.
Sebagai gambaran besarnya masalah, dapatlah dilihat data
yang dikemukakan oleh SENIC seperti yang tersebut di bawah
ini :
a)
angka kejadiannya adalah 6% dari semua penderita yang
dirawat di rumah sakit di Amerika.
b)
biaya tambahan yang diperlukan adalah $ 1800 setiap hari-
nya.
c)
empat hari adalah rata-rata tambahan hari perawatan bagi
penderita yang mengalami infeksi nosokomial.
d)
angka kematian infeksi nosokomial sebagai penyebab
langsung adalah 20.000 orang pertahunnya dan 60.000 orang
meninggal, dengan infeksi nosokomial sebagai penyebab
penyerta.
Di Indonesia belum ada angka yang
.
pasti, sebab Indonesia
dengan jumlah penduduk sebanyak 175 juta orang, masih harus
menghadapi permasalahan kesehatan lain yang merupakan
prioritas utama antara lain program keluarga berencana,
program kesehatan ibu dan anak, imunisasi, perbaikan gizi dan
program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
Seperti penyakit-penyakit infeksi yang lain, infeksi noso-
komial terjadi juga melalui mekanisme interaksi antara tuan
Disajikan pada tanggal 7 Juli 1989, Bandung.
rumah, agen penyebabnya dan lingkungan. Mengingat hal ini
maka diperkirakan bahwa infeksi nosokomial di Indonesia se-
benarnya juga merupakan masalah yang tidak dapat dianggap
ringan.
Untuk mengetahui peran perawat dalam pengendalian
infeksi, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang :
1)
Organisasi pengendalian infeksi nosokomial.
2)
Hal-hal yang perlu ada dalam pelaksanaan pengendalian
infeksi nosokomial.
1. ORGANISASI
Bentuk organisasi pengendalian infeksi nosokomial di tiap
rumah sakit hendaknya secara sistematis terbagi alas 3 bagian
yaitu .
a)
Kelompok pembuat kebijakan (policy) yang umumnya di-
bed nama dan fungsi sebagai terjemahan dari Infection Control
Committee.
b)
Kelompok yang men jabarkanpolicy tersebut, sehingga
dapat dilaksanakan, sekaligus mengawasi pelaksanaan
program. Kelompok ini diberi nama sebagai terjemahan
Infection Control Team.
c)
Kelompok pelaksana lapangan.
Ketiga kelompok ini mempunyai peran yang sangat besar, dan
perawat harus ada di dalam ketiga kelompok ini.
2. HAL-HAL YANG PERLU ADA
Ada tiga hal yang perlu ada dalam program pengendalian
infeksi nosokomial yaitu :
a)
adanya system surveilan yang mantap.
b)
adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilaksa-
nakan, dengan tujuan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 31
nosokomial.
c)
adanya program pendidikan yang terus menerus bagi
semua petugas rumah sakit dengan tujuan mengembalikan
sikap mental yang benar dalam merawat penderita.
ad.a) Adanya sistem surveilan yang mantap.
Surveilan suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang
sistematik dan dilakukan terus menerus terhadap penyakit
terse-but yang terjadi pada suatu populasi tertentu dengan
tujuan untuk dapat melakukan pencegahan dan pengendalian.
Jadi tujuan dari surveilan adalah untuk menurunkan risiko
terjadinya infeksi nosokomial.
Perlu ditegaskan di sini bahwa keberhasilan pengendalian
infeksi nosokomial bukanlah ditentukan oleh canggihnya per-
alatan yang ada, tetapi ditentukan oleh kesempurnaan perilaku
petugas dalam melaksanakan perawatan penderita secara benar
(the proper nursing care).
Dalam pelaksanaan surveilan ini, perawat sebagai petugas
lapangan di garis paling depan, mempunyai peran yang sangat
menentukan,
ad.b) Adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilak-
sanakan, merupakan hal yang sangat penting adanya.
Peraturan-peraturan ini merupakan standar yang harus di-
jalankan setelah dimengerti semua petugas; standar ini meliputi
standar diagnosis (definisi kasus) ataupun standar pelaksanaan
tugas.
Dalam pelaksanaan dan pengawasan pelaksanaan peraturan
ini, peran perawat besar sekali.
ad.c) Adanya program pendidikan yang terus menerus.
Seperti disebutkan di atas, pada hakekatnya keberhasilan
program ini ditentukan oleh perilaku petugas dalam melaksana-
kan perawatan yang sempurna kepada penderita. Perubahan
perilaku inilah yang memerlukan proses belajar dan mengajar
yang terus menerus.
Program pendidikan hendaknya tidak hanya ditekankan
pada aspek perawatan yang baik saja, tetapi kiranya juga aspek
epidemiologi dari infeksi nosokomial ini.
Jadi jelaslah bahwa dalam seluruh lini program pengendali-
an infeksi nosokomial, perawat mempunyai peran yang sangat
menentukan. Sekali lagi ditekankan bahwa pengendalian
infeksi nosokomial bukanlah ditentukan oleh peralatan yang
canggih (dengan harga yang mahal) ataupun dengan pemakaian
antibiotika yang berlebihan (mahal dan bahaya resistensi),
melainkan ditentukan oleh kesempurnaan setiap petugas dalam
melaksanakan perawatan yang benar untuk penderitanya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
32