TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Chlorhexidine terhadap
Kelainan Gigi dan Rongga Mulut
Prijantojo
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Chlorhexidine telah dipakai secara luas di kalangan ke-
dokteran, baik oleh para dokter umum, spesialis maupun dokter
gigi, sebagai antibakteri, selama lebih dari 25 tahun. Akhir-akhir
ini chlorhexidine dipakai secara luas di kalangan kedokteran
gigi sebagai obat untuk menyembuhkan serta mencegah kelain-
an rongga mulut. Lebih dari 500 artikel tentang chlorhexidine
yang merupakan hasil penelitian dan pakar-pakar di bidang ke-
dokteran seluruh dunia telah dipublikasikan. Tujuan penelitian
kebanyakan untuk menguji efektivitas dan chlorhexidine, baik
sebagai obat kumur maupun dalam bentuk pasta gigi serta mem-
bandingkan dengan antiseptik yang lain. Makalah ini merupakan
ringkasan dan berbagai penelitian serta uji coba secara klinis
untuk membuktikan peranan chlorhexidine guna mencegah serta
terapi dan kelainan rongga mulut dan karies.
CHLORIIEXIDINE
Chlorhexidine mulai dikenal sejak 1950 sebagai antimikroba
dengan rumus kimia:
Sejak diperkenalkan, chlorhexidine digunakan di rumah
sakit berbagai negara sebagai antiseptik. Sangat efektif sebagai
disinfektan pada kulit sebelum operasi, cuci tangan sebelum
operasi serta sebagai disinfektan dan alat-alat kedokteran, ter-
utama alat-alat operasi. Chlorhexidine merupakan antibakteri
dengan spektrum yang luas dan sangat efektif untuk bakteri
Gram (+), Gram (), bakteri ragi, jamur serta protozoa; algae
dan virus dapat juga dihambat oleh chlorhexidine.
Cara kerja
Telah dibuktikan bahwa chlorhexidine dapat mengikat
bakteri, mungkin disebabkan adanya interaksi antara muatan
positif dan molekul-molekul chlorhexidine dengan dinding sel
yang bermuatan negatif
(1)
. Interaksi ini akan meningkatkan
permeabilitas dinding sel bakteri yang menyebabkan terjadinya
penetrasi ke dalam sitoplasma yang menyebabkan kematian
mikroorganisme. Streptokokus tertentu dapat terikat oleh
chlorhexidine pada media polisakarida di luar se1
(2,3)
, sehingga
dapat meningkatkan sensitivitas streptokokus dalam rongga
mulut terhadap chlorhexidine
(4,5)
.
Penyelidikan secara in vitro menunjukkan bahwa
chlorhexidine diserap oleh hydroxiapatit permukaan gigi dan
mucin dari saliva, kemudian dilepas perlahan-lahan dalam
bentuk yang aktif. Keadaan ini merupakan dasar aktivitas
chlorhexidine untuk menghambat pembentukan plak (anti-plak)
(6)
.
Kumur-kumur dua kali sehari dengan menggunakan 0,2% la-
rutan chlorhexidine akan mengurangi jumlah mikroorganisme
dalam saliva sebanyak 80% dan apabila pemakaian obat kumur
dihentikan bakteri akan kembali seperti semula dalam waktu 24
jam
(7,8)
.
PLAK GIGI (DENTAL PLAQUE)
Merupakan kumpulan berbagai macam bakteri di atas pe-
likel permukaan gigi. Banyaknya plak sangat tergantung dari
macam makanan dan kebersihan mulut seseorang. Pembentukan
plak didahului oleh pe1ikel yang terdiri dari glikoprotein dari
saliva.Di atas pelikel ini akan menempel berbagai macam bakteri
yang membentuk koloni. Plak ini tidak bisa dihilangkan dengan
kumur-kumur air
(9)
. Pada permulaannya sebagian besar bakteri
dalam plak adalah bakteri streptokokus Gram (), cocci dan
bakteri basil (bacilli). Filamen mulai ditemukan setelah beberapa
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 33
hari. Spiral dan spirocheta mulai terlihat setelah 12 minggu.
Komposisi dari plak yang telah matang terdiri dari
(10)
:
Gram (+) cocci dan basil 50%
Gram () cocci dan basil 30%
Fusobakteri 8%
Filamen-8%
Vibrio 2%
Spirocheta 2%
Sampai saat ini plak masih dianggap penyebab utama kelainan
periodontal, di samping itu plak juga dapat memudahkan ter-
jadinya karies dari gigi
(11,22)
.
PEMAKAIAN CHLORHEXIDINE DI BIDANG KEDOK-
TERAN GIGI SECARA KLINIS
Kelainan periodontal kronis bila tidak diobati akan berkem-
bang progresif dan akan merusak jaringan periodonsium. Biasa-
nya kelainan periodontal dimulai dengan keradangan gingiva
(gingivitis), pada suatu saat akan terjadi kerusakan tulang alveo-
lar dan jaringan kolagen (periodontal membrane) dan terjadilah
penodontitis.
Gingivitis tidak selalu menjadi periodontitis
(13)
. walaupun
begitu bukan tidak mungkin akan berlanjut menjadi periodon-
titis. Kelainan periodontal ini merupakan penyebab utama
tanggalnya gigi pada usia muda.
Chlorhexidine telah dibuktikan sebagai antiplak yang sa-
ngat efektif sehingga mempunyai peranan penting pada terapi
gingivitis dan pencegahan kelainan periodontal. Pemakaian obat
kumur dengan larutan 0,2% chlorhexidine glukonat untuk
membantu pembersihan gigi secara konvensional akan me-
ningkatkan kesehatan gingiva secara bermakna terutama di
daerah interdental
(14)
.
Uji coba klinis
Hambatan pembentukan plak dan berkurangnya radang
gingiva setelah pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sebagai
obat kumur 2 kali sehani pertama-tama dibuktikan oleh Loe
dan Schiott (1970)
(15)
. Uji coba klinis dengan larutan 0,2%
chlorhexidine glukonat sebagai obat kumur selama satu minggu
menghasilkan penurunan pembentukan plak sebanyak 72% pada
hari ke 3 dan sebanyak 85% pada hari ke 7 (Gambar 1).
Keterangan:
: Tidak menyikat gigi ------------- : Kumur Chlorhexidine
Grafik 1. Indeks plak rata-rata setelah kumur-kumur 0,2% chlorhexidine
2 X 1 hari
Skeling ternyata dapat meningkatkan pengaruh chlor
hexidine. Uji coba klinis selama 4 bulan yang melibatkan 50
orang anggota militer menunjukkan bahwa larutan 0,2% chlor-
hexidine sebagai obat kumur dapet menurunkan terjadinya
akumulasi plak sebanyak 66% bila sebelumnya tidak dilakukan
terapi, sedang setelah dilakukan skeling baik supra maupun
subgingiva akan terjadi penurunan indeks plak sebanyak 85%
(17)
.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa chlorhexidine efektif
sebagai antiplak, tetapi hasilnya akan lebih baik setelah dilaku-
kan skeling baik supra maupun subgingiva
(14)
. Banyak penelitian
yang hasilnya mendukung penelitian terdahulu yaitu bahwa
chlorhexidine efektif untuk menurunkan/mencegah pembentuk-
an plak dan meningkatkan derajat kesehatan gingiva
(16,20)
.
Chlorhexidine sangat efektif untuk plak kontrol secara khemis
sehingga dapat mencegah terjadinya gingivitis dari kerusakan
jaringan periodonsium
(19)
. Bila dibandingkan dengan obat kumur
lain, chlorhexidine ternyata lebih efektif untuk menurunkan ter-
jadinya akumulasi plak
(21)
.
Indeks plak rata-rata pada 60 penderita setelah pemakaian berbagai
macam obat kumur selama 4 hari
Obat kumur
Indeks plak rata-rata
Kontrol : obat kumur sukrosa
1. Chlorhexidine gluconat 0,2%
2. Chlorhexidine asetat 0,2%
3. Cetylpyridinium chlorida 0,1 %
4. Dequalinim chlorida 0,1 %
5. Benzalkonium chlorida 0,1 %
6. Aminocridine hydrochiorid 0,2%
7. Mepacrine hydrochlorida 0,2%
8. Proguanil hydrochlorida 0,2%
9. Dibromopropamidine diisothionate 0,2%
10. Hidrogen peroxida 3%
11. Ethanol 50% u/w
1,75
0,23
0,19
1,93
1,88
0,47
1,43
1,65
1,50
1,36
1,15
1,92
Penelitian lain yang membandingkan efek obat kumur
chlorhexidine dengan hexetidine terhadap kebersihan mulut
menunjukkan bahwa chlorhexidine lebih efektif dibandingkan
dengan hexetidine untuk menurunkan derajat akumulasi plak dan
derajat keradangan gingiva
(22)
. Hasil penelitian ini didukung oleh
Prijantojo pada penelitiannya terhadap siswa sekolah dasar yang
berumur antana 1015 tahun untuk membandingkan pengaruh
larutan 0,2% chlorhexidine sebagai obat kumur (Minosep®)
dengan hexetidine 0,1% (Bactidol®). Hasil dan penelilian ini
menunjukkan perbedaan yang bermakna, dengan chlorhexidine
memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan
hexetidine
(23)
.
Penelitian Bosman & Powell membandingkan efek ini chlor-
hexidine dengan pembersihan rongga mulut secara konvensional
memakai sikat gigi pada penderita gingivitis. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dengan menyikat gigi sekali sehani kese-
hatan gingiva akan menjadi normal setelah 10 hari, sedangkan
dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0,2% sekali sehari
gingiva akan menjadi normal dalam waktu 4 hari
(24)
.
Pemakaian pasca bedah
Penutup luka setelah operasi periodontal telah lama diguna-
kan dengan tujuan untuk melindungi terhadap trauma dan luar
serta mencegah terbentuknya jaringan granulasi yang berlebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
34
an. Namun kekurangannya yaitu kadang-kadang terjadi pe-
numpukan sisa makanan/plak pada luka operasi, sehingga
penyembuhan menjadi lama. Larutan chlorhexidine dapat
membantu kebersihan rongga mulut, hingga kesembuhan akan
lebih cepat
(25,26,27)
. Larutan 0,2% chlorhexidine sebagai obat
kumur 3 kali sehari memberikan hasil yang lebih efektif di-
bandingkan dengan penutup luka setelah operasi
(28,29)
.
Ulkus mukosa (Aphthous Ulcers)
Penyebab ulkus mukosa ini belum jelas dan perawatannya
pada umumnya dilakukan secara simptomatis dengan tujuan
menghilangkan faktor predisposisi. Pengalaman klinis menun-
jukkan bahwa pada penderita ini sering mengabaikan kebersihan
mulut karena sakit pada waktu menyikat gigi. Keadaan ini akan
meningkatkan akumulasi plak yang tentunya akan menambah
keparahan ulkus.
Chlorhexidine dapat membantu penyembuhan ulkus (sa-
riawan), mungkin disebabkan karena berkurangnya kolonisasi
bakteri yang berkontaminasi dengan luka dan mengurangi ter-
jadinya infeksi sekunder
(30)
. Hal ini telah dibuktikan pada pe-
nelitian terhadap penderita ulkus mukosa (sariawan). Orang per-
cobaan dibagi tiga kelompok: Kelompok I menggunakan
chlorhexidine glukonat 0,2% sebagai obat kumur, kelompok II
menggunakan astringen sebagai obat kumur, sedangkan ke-
lompok ke III menggunakan plasebo sebagai obat kumur; ter-
nyata chlorhexidine 0,2% memberikan hasil yang lebih baik dari
kelompok-kelompok 1ainnya
(30,31)
(Grafik 2).
Keterangan:
A = Astringen; C = Placebo; H = Chlorhexidine
Grafik 2. Hasil penyembuhan ulkus pada pemakaian chlorhexidine,
astringen,
plasebo
Pemakaian pada penderita yang tidak dapat melakukan ke-
bersihan mulut dengan baik
Kelompok ini termasuk penderita yang terbelakang (men-
tally retarded) atau penderita dengan kelainan umum yang
serius, serta penderita setelah operasi rongga mulut. Pada ke-
lompok ini chlorhexidine 0,2% sangat efektif untuk membantu
kebersihan mulut
(32,33,34)
. Banyak masalah yang sering timbul
pada penderita yang dirawat secara intensif karena penyakit
umum yang serius; misalnya pada penderita haemophili, Leukemia
Myeloid Akut (LMA) sering terjadi perdarahan gingiva. Keadaan
ini menyulitkan dokter atau perawat yang menangani penderita
ini. Terjadinya perdarahan ini diperberat dengan meningkat-
nya akumulasi plak, yang tentunya akan meningkatkan radang
gingiva. Perdarahan ini akan menyebabkan terjadinya invasi
kuman dan akan menghambat atau mempengaruhi pengobatan.
Uji coba klinis menggunakan larutan 0,2% chlorhexidine dapat
mencegah terjadinya invasi kuman-kuman, sehingga pengobatan
antileukemia dapat lebih efektif.
Gigi tiruan sebagian merupakan predisposisi untuk terjadi-
nya akumulasi plak yang memungkinkan kelainan periodontal
yang lebih lanjut. Walaupun desain gigi tiruan bagus, rasa sakit
dan kurangnya kebersihan mulut akan memberikan efek yang
kurang baik. Kebérsihan mulut perlu ditekankan untuk me-
ningkatkan kesehatan gingiva dan memperpanjang pemakaian
gigi tiruan
(38)
. Pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sangat
membantu meningkatkan kebersihan mulut pada penderita
dengan gigi tiruan sebagian
(39)
. Hal ini telah dibuktikan pada
153 penderita dengan pemakaian gigi tiruan sebagian.
Gigi tiruan penuh sering menyebabkan terjadinya perubah-
an pada mukosa muiut (denture stomatitis); biasanya disebabkan
karena jamur Candida terutama Candida albicans. Stomatitis
terjadi oleh karena tekanan gigi tiruan pada permukaan mukosa
sehingga terjadi perubahan lingkungan mikroorganisme rongga
mulut dan menyebabkan infeksi pada mukosa. Kira-kira 65%
penderita dengan gigi tiruan penuh (GTP) mengalami stomatitis
yang dimulai dengan infeksi ringan di permukaan mukosa tertentu
dan lama kelamaan melebar ke daerah sekitarnya. Larutan 0,2%
- chlorhexidine efektif untuk membantu kesembuhan dari infeksi
ini
(40)
. Pernyataan ini telah dibuktikan pada 137 pasien dengan
pemakaian gigi tiruan penuh. Hasil dari penelitian ini ternyata
sangat memuaskan.
Candidiasis rongga mulut (Oral Candidiasis)
Mikroorganisme Candida terdapat ± 50%, orang dewasa
tanpa menunjukkan gejala infeksi. Candida dapat berubah men-
jadi patogen menyebabkan terjadinya infeksi dan rongga mulut;
perubahan ini disebabkan karena adanya perubahan situasi
rongga mulut misalnya karena adanya gigi tiruan, selama peng-
obatan dengan antibiotik atau terapi dengan radiasi. Candidiasis
rongga mulut sering sulit dikontrol dengan metoda konven-
sional. Chlorhexidine yang merupakan antibakteri efektif meng-
obati/mencegah terjadinya infeksi Candida
(41)
. Uji coba klinis
terhadap 8 penderita Candidiasis yang akut. serta 5 penderita
leukemia akut dengan kumur larutan 0,2% chlorhexidine infeksi
akan sembuh dalam waktu 2-4 hari.
Uji coba klinis juga dilakukan terhadap penderita dengan
fiksasi rahang karenã fraktur
(42)
untuk memperbaiki hubungan
oklusi antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah; penderita
ini tidak mungkin melakukan pembersihan rongga mulut secara
sempurna. Untuk membantu kebersihan mulut digunakan larut -
an 0,2% chlorhexidine sebagai obat kumur dengan tujuan men-
cegah atau mengurangi terjadinnya akumulasi plak dan memper-
cepat kesembuhan luka. Kumur-kumur dilakukan 38 kali se-
hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi plak
berkurang, sedangkan kesembuhan luka menjadi lebih cepat bila
dibandingkan dengan menggunakan larutan salin (Gambar 3).
Karies gigi
Karies gigi terjadi karena demineralisasi jaringan gigi yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 35
Gambar 3. Indeks plak rata-rata pada penderita dengan fiksasi inter
maxilary
setelah
pemakaian
saline
dan
chlorhexidine
3X
sehari.
secara klinis akan tampak adanya lubang pada gigi.
Karies dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan plak gigi
dan dapat diperberat oleh makanan mengandung karbohidrat;
namun tidak ada hubungan langsung antara terjadinya karies dan
konsumsi gula. Bakteri plak akan meragikan gula dan meng-
hasilkan asam organik dengan pH rendah; suasana asam akan
menyebabkan terjadinya kerusakan enamel yang 95% di an-
taranya adalah hydroksiapatit dan menyebabkan terjadinya
demineralisasi dan karies. Chlorhexidine efektif sebagai anti-
plak sehingga dapat mencegah terjadinya karies.
Percobaan dilakukan pada mahasiswa dengan kumur-
kumur sebanyak 9 kali sehari dengan 50% larutan sukrosa;
ternyata akumulasi plak meningkat dengan hebat sedangkan
indeks karies meningkat sampai 86%. Bila perlakuan dengan
sukrosa dikombinasikan dengañ kumur-kumur larutan 0,2%
chlorhexidine sebanyak 2 kali sehari akumulasi plak akan di-
hambat dan hanya sedikit terjadi peningkatan karies; dapat
disimpulkan bahwa chlorhexidine menghambat pembentukan
asam akibat fermentasi sukrosa oleh bakteri. Penelitian yang di-
lakukan terhadap 73 mahasiswa dengan menggunakan larutan
0,1% dan 0,4% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 2 tahun
dan 0,5% pasta gigi yang mengandung chlorhexidine ternyata
dapat menghambat terbentuknya karies
(44,45)
.
Aplikasi topikal menggunakan pasta 1% chlorhexidine ter-
hadap 5 penderita wanita dengan infdeks karies tinggi untuk
menurunkan jumlah bakteri Streptococcus mutan yang diduga
merupakan penyebab utama dan karies
(46)
. Sebelum percobaan
jumlah Streptococcus mutan 10
5
unit/koloni dalam 1 ml air
ludah. Pasta gigi dioleskan dan ditunggu sampai 5 menit, ke-
mudian cairan ludah diambil dan diperiksa. Percobaan dilaku-
kan selama 2 minggu. Hasil pemeriksaan setelah 2 minggu
terlihat bahwa Streptococcus mutan menurun sampai 700 koloni.
Penelitian selama 2 tahun terhadap siswa suatu sekolah
dengan menggunakan kombinasi chlorhexidine dan fluor se-
bagai obat kumur menunjukkan terjadinya penurunan karies
bila dibandingkan dengan menggunakan larutan fluor sebagai
obat kumur
(11)
.
KESIMPULAN
Penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh para ahli
Menunjukkan bahwa chlorhexidine memegang peranan penting
untuk pengobatan serta pencegahan kelainan rongga mulut dan
kelainan gigi (karies).
KEPUSTAKAAN
1. Hugo WB, Longworth AR. Cytological aspects of the mode of action of
chlorhexidine. J. Pharm. Pharmacol 1965; 17: 28.
2. Hjeljord LG, Rolla G. 14-C-chlorhexidine interactions with in vitro plaque
components. J. Dent. Res. 1973; 52: (Supp 1).
3. Bonesvoll P. Hjeljord LO. Gjermo P. Rolla 0. Olsen 1. 14-C-chlorhexidine
to plaque and teeth in vitro and in vivo. J. Dent. Res. 1974; IADR Abstract
No. 360.
4. Hennessey TD. Some antibacterial properties of chlorhexidine. J. Pe-
riodont. Res 1973; (Supp 12), 61.
5. Schiott CR. Effect of chlorhexidine on the microflora of the oral cavity. J.
Periodont. Res 1973; (Supp 12), 7.
6. Loesche Wi. Antimicrobial agents for the treatment of dental caries. J. Am.
Say. Prey. Dent 1975; 5: 1724.
7. Schiott CR, Loe H, Jensen SB, Kilian M, Davies R.M, Glavind K. The
effect of chlorhexidine mouthrinses on the human oral flora. J. Periodont.
Res 1970; 5: 8489.
8. Loe H, Schiott CR. The effect of mouthrinses and topical application of
chlorhexidine on the development of dental plaque and gingivitis in man.
J. Periodont. Res 1970; 5: 79.
9. Mandel ID. New approachestoplaqueprevention. Dent. Clin. N. Am 1972;
16: 66171.
10. Theilade E, Wright WH, Jensen SB. Experimental gingivitis in man. A
longitudinal clinical and bacteriological investigation. J. Periodont. Res
1977; 1.
11. Dolles OK, Gjermo P. Scand J. Dent. Res 1980; 88: 227.
12. Gjermo P. Chlorhexidine in dental practice. 1. Clin. Periodontol 1974; 1:
14352.
13. Prayitno SW. Konsultasi pribadi, 1993.
14. Nagle PJ, Turnbull. Chlorhexidine : An ideal plaque inhibiting agent?.
Literature review. J. Canad. Dent. Assn 1978; 2: 7375.
15. Schiott CR, L.oe H, Jensen S et al. The effect of chlorhexidine mouthrinses
on the human oral flora. J. Periodont. Res 1970; 5: 84.
16. Prijantojo. Hambatan pembentukan plak oleh larutan 0,2% chlorhexidine
sebagai obat kumur. KPPIKG Ul 1991; 35559.
17. Flotra L, Gjermo P. A 4 month study on the effect of chlorhexidine
rnouthwashes on 50 soldiers. Scand. J. Dent. Res 1972; 80: 10.
18. Cohen PN, Frank RM, Klewansky P. Effects of chlorhexidine mouth-
washes on man. J. Dent. Res 1973; 52: 607 (Abstr).
19. Daniesmand H. Act. Ned. Tran 1978; 21: 816.
20. Comming BR, Loe H. Optimal dosage and method of delivering
chlorhexidine solutions forthe inhibiting of dental plaque. J. Periodont. Res
1973; 8: 57, 62.
21. Gjermo P, Baastad KL, Rolla 0. The plaque-inhibiuting capacity of 11
antibacterial compounds. J. Periodont. Res 1970; 5: 10209.
22. Bergenholtz A, Hanstrom L. The plaque inhibiting effect of chlorhexidine
(Oraldere (R)-mouthwash compared to that ofchlorhexidine. Comm. Dent.
Oral Epidemiol. 1974; 2: 70-4.
23. Prijantojo. Pethandingan pengaruh chlorhexidine dan hexetidine terhadap
radang gingiva secara klinis. KPPIKG IX 1991; 24047.
24. BosmanCW, Powell RH. The reversal of localized experimental gingivitis.
A comparison between mechanical toothbrushing procedures and a 0,2%
chlorhexiditie mouthrinse. J. Clin. Periodont 1977; 4: 16172.
25. Davies A. The mode of action of chlorhexidine. J. Periodont. Res 1973; 8:
(Supp 12), 68.
26. Langebaek 1, Bay L. Anvendelse afklotheksidin I. Periodontal kirurgien.
Tandlaegebladet 1976; 80: 36163.
27. Gouk DN. The effect of chemical control plaque on the healing of
periodon tal surgical wound. B.D.A. Library. A copy of Thesis, 1973.
28. Addy M, Dolby AE. The use of chiothexidine-containing meshacrylic gel
as a periodontal dressing, I. Periodontol. 1975; 46: 465-468.
29. Newman DS, Addy M. A comparison of a periodontal dressing and
chlorhexidine gluconate mouthwash after the internal bevelled flap proce
dure. I. Periodontol. 1978; 49; I 57679.
30. Addy M, Tapper-Jones L, Seal M. Thai of astrigont and antibacterial
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
36
mouthwashes in the management of recurrent aphthous ulceration. Br.
Dent. J. 1974; 136: 45255.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 37
31. Addy M, Carpenter R, Roberts WR. Management of recurrent aphthous
ulcerations. A trial of chlorhexidine gluconate gel. Br. Dent. J. 1976; 141:
11820.
32. Usher PJ. Oral hygiene in mentally handicapped children. A pilot study of
the use of chlorhexidine gel. Br. Dent. J. 1975; 138: 21721.
33. Flotra L. Different modes of chlorhexidine application and related local
side effects. J. Penodont. Res 1973; supp 12: 414.
34. Bay L, Russel B. The effect of oral rinsing with chlorhexidine on the
development of plaque and gingivitis in mentally retarded children. J.
Dent. Res. 1973; 52: 991 (Supp 5).
35. Gaya H, Jameson B, Stomng RA. Chemotherapy 1, 1976; 9398.
36. Stomng RA, Jameson B, McElwain TJ, Wilshaw E, Spiers ASD, Gaya H.
Lancet (Oct) 1977; 837840.
37. LindheJ. Microbiology of plaque associated periodontal disease. Textbook
of Clinical Periodontology.Munksgaard Philadelphia 1983; 12549.
38. Addy M, Bates JF. The effect of partial dentures and chlorhexidine
gluconate gel on plaque accumulation in the absence of oral hygiene. J. Clin.
Periodontol. 1977; 4: 417.
39. Budtz J, Loe H. Chlorhexidine as a denture disinfectant in the treatment of
denture stomatitis. Scand. J. Dent. Res 1975 (I.A.D.R. Abstract No. L. 526).
40. Olsen 1. Denture stomatitis. The clinical effect of chlorhexidine and
amphotericin B. Acta Odont Scand 1975; 33: 4752.
41. Langslet A, Olsen I, Lie SO, Lokken P. Chlorhexidine treatment of oral
candidiasis in seriously diseased children. Acta Paediatr. Scand. 1974; 63:
809-11.
42. Nash E, Addy M. The use of chlorhexidine gluconate mouthrinses in
patients with intermaxillary fixation. Br. J. Oral Surg 1979; 17: 25155.
43. Loe H, vander Fehr FR, Schiott RC. The effect of chlorhexidine rinses on
experiment caries in man. J. Dent. Res 1971; 50: 706.
44. Johansen JR, Gjermo P, Eriksen HM. Effect of 2-years use of chlorhexidine
containing dentrifrices on plaque, gingivitis and caries. Scand. Dent. Res
1975; 83: 288292.
45. Emilson CG, Fornall J. Studies on salivary microorganisms by use of a
chlorhexidine containing toothpaste. J. Dent. Res 1976; 84: 30819.
46. Emilson CO. Susceptibility of various microorganisms to chlorhexidine.
Scand. J. Dent. Res 1979; 85: 25565.