background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Radiasi Sinar X terhadap
Testis Mencit
Suharjo
Laboratorium Radiologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung
PENDAHULUAN
Sinar-X mempakan gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang yang sangat pendek. Sinar-X mengakibat-
kan ionisasi pada sistem biologis yang dilalunya. Efek biologis
sinar-X adalah akibat dari besarnya ionisasi yang ditimbulkan-
nya, yaitu terjadi akibat rekombinasi ion hidrogen dengan ion-
ion oksigen di dalam sel atau suatu jaringan tubuh. Keadaan ini
akan menyebabkan perubahan histologis di dalam sel maupun
jaringan, yang kemudian akan terlihat sebagai kelainan setem-
pat
(1-5)
.
Sinar-X mempunyai bermacam-macam energi yang ter-
gantung pada energi kinetik elektron-elektron yang mengenai
target dan juga energi sinar-X tergantung pada bahan target
yang digunakan. Sinar-X tidak monokromatik akan tetapi ter-
diri dari radial dengan berbagai panjang gelombang yang
berlainan. Kualitas sinar-X tergantung pada perbedaan tekanan
antara anode dengan katode di dalam tabung sinar-X dan jumlah
satingan logamnya. Tebalnya HVT menunjukkan energi atau
daya tembus sesuatu radiasi. Makin tebal HVT suatu radiasi ber-
arti makin beam pula daya tembusnya.
Pada penyinaran terjadi pemindahan atau penyerapan
energi radiasi ke dalam jaringan tubuh yang terkena radiasi. Ter-
dapat tiga proses yang berlainan mengenai energi absorbsi
yaitu absorbsi foto elektrik, efek kompton dan pembentukan
sepasang elektron
(3,8,11)
.
Sebagian besar sistem biologis terdiri dari 80% air, karena
itu sebagian besar ionisasi pada sistem biologis terutama terjadi
pada molekul air. Efek ini ditemukan pertama kali oleh Curie
dan Dibierne (1901). Pada saat radiasi pengion mengenai suatu
sistem biologis, maka ionisasi paling banyak terjadi pada mo-
lekul air sehingga radikal H
0
, O
0
yang dihasilkan dapat me-
nimbulkan efek yang bermacam-macam pada sistem biologis
tersebut dan akan menyebabkan perubahan yang sangat penting
bagi struktur dan fungsi kehidupan sel
(3,6,9)
.
Di dalam testis, sel Leydig, sel Sertoli dan jaringan ikat inter-
stitiel serta unsur-unsur darabjuga relatif radioresisten. Banyak
ABSTRAK
Masalah penelitian ini adalah pengaruh radiasi sinar-X terhadap kerusakan sel pada
testis mencit.
Objek penelitian adalah testis mencit Mus muskulus, Strain Quacker - Bush (CSL),
berumur 2,5 bulan dengan berat badan 30 gram.
Metode penelitian dengan menggunakan rancangan eksperimental sesungguhnya
(True Experimental) dengan faktorial 3 x 3, prosedur pengumpulan data dengan meng-
hitung sel yang terdapat pada setiap tubulus yang berdiameter potongan bulat dan diambil
rata-ratanya.
Hasil penelitian pada 1% dan 5% menunjukkan bahwa lamanya pengamatan
(waktu satu hari, 10 hari, dan 20 hari), kekuatan penyinaran (1 x 200 Rad, 2 x 200 Rad,
dan 3 x 200 Rad) serta interaksi antara waktu dan kekuatan penyinaran, menyebabkan
kerusakan sel yang berbeda.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 29
background image
sel spermatogenik mengalami perubahan-perubahan nekrotik,
kelainan khromosom, penghambat pembelahan setelah penyi-
naran dengan dosis radiasi yang cukup. Di antaranya bagian-
bagian testis, spermatogonia tipe A memperlihatkan pengham-
batan mitosis setelah penyinaran dengan dosis 50 Rad sperma-
togonia B yang lebih sedikit berdiferensiasi dapat dimatikan
oleh penyinaran dengan dosis beberapa ratus Rad. Beberapa
spermatogenik tipe A dapat bertahan hidup pada penyinaran
yang besar
(2,3)
.
Untuk merusak spermatosit yang lebih matang diperlukan
penyinaran dengan dosis radiasi yang cukup. Penyinaran
dengan dosis besar akan mengubah morfologi spermatid dan
sperma. Pemeriksaan histologis memperlihatkan pola khas
yang disebut "maturation depletion". Satu hari setelah
radiasi tampak penekanan aktifitas mitosis spermatogonia,
satu minggu setelah radiasi hampir tidak ada spermatogonia
kecuali beberapa spermatosit muda. Sel-sel lain yang blab
lewat tahap spermatogonia pada waktu penyinaran akan terus
menjadi masak. Tiga minggu setelah radiasi sperma, spermatid
dan sebagian kecil spermatogonia tipe A akan tampak. Empat
minggu setelah ra- diasi hanya sperms dan spermatogonia tipe
A yang dapat ter-lihat dan testis kehabisan sel spemlatogenik
yang secara nor-mal akan mengalami pematangan.
Kesembuhan terjadi dengan pembelahan spermatogonia tipe A
yang masih hidup dan dimulai sebelum proses pematangan sel
habis seluruhnya
(3,7)
.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Pala penelitian ini hewan percobaan yang digunakan
adalah mencitMus muskulusdewasajantanStrain Quacker-
Bush(CSL), yang diperolehdari laboratorium pemeliharaan
Bio-Farma, umur 2,5 bulan dengan berat badan 30 gram.
Pemberian makanan secara ad libitum dengan pelel untuk
anak babi 551, diproduksi oleh PT. Charoen Pokphan
Indonesia, Animal Feed Mill Co Ltd. Air minum yang diguna-
kan adalah air biasa, bemsal dari PDAM.
Hewan percobaan ditempatkan dalam suatu kandang
terbuat dari plastik berbentuk bak, berukuran 35 x 30 cm yang
terbagi dalam lima ruangan dan setiap ruangan diperuntukkan
bagi seekor mencit, kandang mencit ditutup dengan kawat kasa
yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan un-
tuk menyimpan makanan dan botol air.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 90
ekor mencit jantan dengan ketentuan sebagai berikut:
10 ekor diiradiasi dengan dosis 1 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 2 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 3 x 200 Rad.
untuk melihat pengaruhnya satu hari pasca iradiasi.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 1 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan doses 2 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 3 x 200 Rad.
untuk melihat pengaruh sepulub hari pasca iradiasi.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 1 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 2 x 200 Rad.
10 ekor diiradiasi dengan dosis 3 x 200 Rad.
untuk melihat pengaruh dua puluh hari pasca iradiasi.
Metode pengumpulan data dengan cara menghitung
jumlah sel yang terdapat dalam potongan melintang tubulus
seminiferous yang diambil secara random dan dipilih yang
diameter potongannya bulat sel-sel tersebut antara lain sel
Sertoli, sperma- togonium, spermatosit, spermatid dan
spermatozoa. Dari setiap potongan testis diambil sebanyak 10
buah potongan tubulus yang mempunyai diameter bulat.
Pesawat sinar-X yang digunakan adalah pesawatjenis DT
merekStabilipan, buatan Siemens.
HASIL
Satu hari setelah penyinaran dengan dosis radiasi 1 x 200
Rad jumlah sel rata-rata sebanyak 153,6 buah, dengan dosis
radiasi 2 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 147,0 buah, dengan
dosis 3 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 149,8 buah, sehingga rata-
rata jumlah sel seluruhnya 150,13 buah.
Sepuluh hari setelah penyinaran dengan dosis radiasi 1 x
200 Rad jumlah sel rata-rata 113,5 buah, dengan dosis radiasi
2 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 113,5 buah, dengan dosis radiasi
3 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 74,2 buah, sehingga rata-rata
jumlah sel seluruhnya 98,2 buah.
Dua puluh hari setelah penyinaran dengan dosis radiasi 1 x
200 Rad jumlah sel rata-rata 120,4 Moab, dengan dosis radiasi
2 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 95,9 buah, dengan dosis
radiasi 3 x 200 Rad jumlah sel rata-rata 43,2 buah, sehingga
rata-rata jumlah sel seluruhnya 86,5 buah.
Tabel : Pengaruh Radiasi Sinar-X terhadap kerusakan sel pada testis
mencit
Kekuatan
Radiasi
Lama
Pengaruh
1 x 200 Rad
2 x 200 Rad
3 x 200 Rad
1 hari
10 hari
20 hari
175
158
153
184
109
196
173
136
134
120
X =
10
1536
= 153,6
101
136
111
74
92
126
120
124
155
96
X =
10
1135
= 113,5
67
106
148
123
140
125
149
105
144
97
X =
10
1204
=120,4
135
148
137
154
132
147
181
143
109
184
X =
10
1470
=147,0
123
154
102
91
81
133
75 89
145
77
X =
10
1070
=107,0
97
120
75
105
141
84
86 80
90 81
X =
10
959
= 95,4
183
142
165
133
153
170
135
125
133
159
X =
10
1498
=149,8
61 61
137
51
85 63
106
52
82 44
X =
10
742
= 74,2
18 43
17 80
66 39
38 32
16 83
X =
10
432
= 43.2
Perhitungan:
y
2
= 175
2
+ .... + .... + .... + 83
2
= 1281786
Ry =
10
x
3
(10046)
2
= 1121356,844
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
30
background image
Ay =
10
x
3
2595
2947
4504
2
2
+
+
­ 1121356,844 = 68804,8226
By =
10
x
3
2672
3499
3875
2
2
2
+
+
­ 1121356,844 = 25250,156
JAB =
10
1
(1536
2
+ 1470
2
+ 1498
2
+ 1135
2
+ 1070
2
+ 742
2
+ 1204
2
+
959
2
+ 432
2
) 1121356,844 = 109024,156
ABy = 109024,156 ­ 68804.8226 ­ 25250,156 = 14969,1774
Ey = 1281786 ­ 1121356,844 ­ 688804,8226 ­ 25250,156 ­ 14969,1774
=
51405
Dari harga-harga yang telah dihitung di atas akan
diperoleh tabel ANOVA berikut ini :
Tabel : Analisis variansi untuk eksperimen faktorial 3 x 3 dengan 10
pengamatan
tiap
sel
Sumber variasi
dk
jk
RJK
F
Rata-rata
Perlakuan:
Waktu (A)
Radiasi (B)
Interaksi (AB)
Kekeliruan
1
2
2
4
81
1121356,844
68804,8226
25250,156
14969,1774
51405,0
­
34402,41
12625,018
3742,29
634,6296
­
54,21 *)
19,89 *)
5,90 *)
­
Jumlah 90
1281786 ­ ­
DISKUSI
Dari tabel ANOVA di atas dapat terlihat bahwa harga
Fhitung dibandingkan dengan Mabel = 0,01 dan = 0,05
untuk dk (2,81) yang harganya sebesar 3,11 dan 4,88 menunjuk-
kan hasil uji yang sangat nyata (*) baik karena waktu, kuatnya
radiasi sinar-X maupun interaksi karena waktu dan radiasi.
Dengan demikian dalam penelitian bila dilihat dari lamanya
pengamatan (waktu I hari, 10 hari, dan 20 hari). kuatnya pe-
nyinaran (1 x 200 Rad, 2 x 200 Rad, dan 3 x 200 Rad) serta
interaksi antara waktu dan kekuatan penyinaran menyebabkan
terjadinya kerusakan sel yang berbeda dilihat dari rata-ratanya
pada testis.
Dengan menggunakan uji Rentang Newman-Keuls kita
dapat melihat perbedaan banyaknya sel pada testis tersebut
karena pengaruh waktu pengamatan.
a.
Ranking Rata-ratanya adalah = 86,5; 98,2; 150,13
Lama waktunya = 20 hari, 10 hari dan I hari
b.
Dari Tabel tersebut diperoleh Rjk kekeliruan sebesar
634,6296 dengan dk = 81
c.
Kekeliruan rata-rata untuk setiap pengamatan :
Syi =
10
6296
,
634
= 7,96
d.
Dari daftar uji Rentang Student untuk = 0,05 dan dk = 81
diperoleh nilai-nilai sebagai berikut:
P = 2 3
Rentang = 2,81 3,39
Rst = (2.81)
(7,96) (3,39) (7,96)
= 22,37 26,98
e.
Perbandingan antar perlakuan
1 lawan 3 : 150,13 ­ 86,5 = 63,63 > 26.98
1 lawan 2 : 150,13 ­ 98,2 = 51,93 > 22,37
2 lawan 3 : 98,2 ­ 86,5 = 11,7 < 22,37
Banyaknya kerusakan sel pada testis setelah satu hari ber-
beda dengan kerusakan sel pada testis setelah 10 hari demikian
juga dengan waktu setelah 20 hari dilihat dari rata-ratanya.
Sedangkan antara 10 hari dan waktu 20 hari lidak memberikan
perbedaan yang nyata.
Pada pemeriksaan secara histologis,jumlah sel sertoli tetap
setelah penyinaran 1 x 200 Rad, 2 x 200 Rad dan 3 x 200 Rad
dan dilihat setelah satu hari, 10 hari, dan 20 hari. Hal ini sesuai
dengan teori yang mengatakan bahwa sel sertoli tidak terpenga-
ruh oleh Sinar ­X
(5)
.
Pada sel spermatogenik terlihat bahwa baik pada dosis pe-
nyinaran I x 200 Rad, 2 x 200 Rad, 3 x 200 Rad pada satu hari
setelah penyinaran belum tampak proses penghambatan. Pada
hari kesepuluh setelah penyinaran tampak penurunan yang
sangat menyolok dari jumlah sel spermatogonium. Pada dosis
yang lebih tinggi lagi semakin terlihat penurunannya. Hal ini
sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa sel spermatogo-
nium paling radiosensitif bila dibandingkan dengan sel sperma-
togenik lainnya dan satu minggu setelah radiasi hampir tidak
terjadi penghambatan mitosis
(3,5,10-12)
.
Pada hari ke-20 setelah radiasi terjadi kenaikan jumlah sel
spermatogonium, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan
adanya "penyembuhan
"
dari spemlatogonia.
Sel spermatosit dengan dosis 1 x 200 Rad dan 2 x 200 Rad
setelah hari ke 10 dan hari ke 20 setelah penyinaran relatif
tidak banyak tepengaruh jumlahnya. Baru dengan dosis 3 x 200
Rad dan setelah 20 hari penyinaran terlihat pengurangan
jumlah Playa, hal ini sesuai dengan teori bahwa spermatosit
lebih radioresisten dari pada spennatogonia. Demikian pula
spermatif baru akan terlihat pengurangan jumlahnya pada dosis
penyinaran 2 x 200 Rad, 3 x 200 Rad setelah 20 hari. Secara
keseluruhan dilihat dari lamanya pengamatan (1 x 200 Rad, 2 x
200 Rad, 3 x 200 Rad) serta interaksi antara waktu dan
kekuatan penyinaran menyebabkan terjadinya kerusakan sel
yang berbeda dilihat dari rata-ratanya pada testis.
KESIMPULAN
-
Sinar-X berpengaruh terhadap testis mencit jantan, baik
karena waktu, kuatnya radiasi sinar-X, maupun interaksi antar
waktu dan radiasi.
-
Banyaknya kerusakan sel pada testis setelah satu hari
berbeda dengan kerusakan sel pada testis setelah 10 hari,
demikian juga dengan waktu 20 hari.
KEPUSTAKAAN
1. Amitaba 16B The Effect of 60 Co Irradiation four Strain of Drosophila
Kikkawai Research Report. Faculty of Science, Mahidal University. Bangkok,
Thailand, 1976.
2. Bloom WQ. and Fawcett, D.W. A Textbook of Histology 8th Ed. Philadelphia
& London: WB Saunders Co, 1962.
3. Casarett AP. Radiation Biology. 1st Ed. Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs,
New-Jersey, 1968.
4. Ennis LRM, Berry H. Phillips. Dental Roentgenologys 6th. Ed. Philadelphia:
Lea & Febiger, 1966.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 31
background image
5. Hafer ESE. Physioanatomy of Testis Technique of Human Andrology. 1997
6. Jatim W. Genetik Edisi ke-3, Penerbit Tarsito, Bandung, 19E3.
7. Marlinata A. Pengaruh Fisik terhadap Spermatogenesis. Proceeding Seminar
Spermatogenesis. Surabaya. 1980.
8. Murphin WT. Radiation Therapy. Philadelphia & London: W B Saunders. Co..
1959
9. Roger JC. Radiation Ionizing and Non Ionizing in Emmiranmental Health.
Purdam PW, New-York-Toronto-Sydney. San Fransisco: Akademic Press,
1950.
10. Upton AC. The Biological AC. The Biological effect of Low Level Ionizing
Radiation. J 01
11. Wuchrmann (AH). Manson LR. Hing Dental Radiology. 4th Ed. St. Louis The
CV Mosby Co.
12. Wuchrmann AH. Manson LR Hing. Dental Radiology 54th Ed. St Louis
Toronyop - London: The CV. Mosby Co, 1981,The CV
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
32