background image
PENGALAMAN
PRAKTEK
Dalam pekerjaan praktek sehari-hari, seorang dokter tentu
pernah mengalami detik-detik/menit-menit yang mendebarkan
jantung, dimana ketepatan dan kecepatan bertindak menentu-
kan hasil pengobatan. Dibawah ini kami sajikan sebuah pe-
ngalaman salah seorang teman sejawat dari Yogyakarta.
RIBUT-RIBUT DITEMPAT PRAKTEK
Hari telah malam dan tempat praktek hendak saya tutup.
Tiba-tiba terdengar suara ribut diluar dan tak lama
kemudian
masuklah tiga orang pemuda dan seorang pemudi memapah
seorang tua dalam keadaan tak sadar. Mereka tampak gelisah
sekali sewaktu merebahkan penderita tadi ditempat periksa.
"
Tolong dokter, aduuh, cepat suntik dokter!"
.
Segera saya periksa sambil membuat anamnesa tentang pingsan-
nya: apakah penderita pernah menderita diabetes mellitus
atau hipertensi.
"
Tolonglah dokter, aduh gusti! Bagaimana ini??" gadis tersebut
meratap.
Saya katakan bahwa jantungnya masih bekerja cukup baik
dan akan saya beri suntikan sebelum diangkut kerumah sakit.
Oleh karena tensi
100/70,
maka saya putuskan untuk
menaikkannya dengan suntikan adrenalin 1 ampul, 1/1000.
Setelah penyuntikan, saya menyiapkan surat pengantar ke-
rumah sakit. Tiba-tiba seorang pemuda pengantar berteriak:
'
Dokter, dokter, ia sudah mati, ia sudah meninggal!
".
Serentak pengantar-pengantar yang lain ikut berteriak-teriak
dan menangis sambil menciumi penderita. Para tetangga ber-
datangan atas kegaduhan ini. Saya merasa heran akan hal ini
dan memeriksa penderita lagi. Pada auskultasi masih terdengar
denyut jantung walaupun agak lemah dan suara pernafasannya
memang lemah sekali. Kukatakan bahwa penderita masih
hidup dan sebaiknya secepat mungkin diangkut kerumah
sakit. Dengan mobil saya antar penderita beserta keluarganya
kerumah sakit. Dirumah sakit saya beri I ampul Pentazol
untuk memacu pernafasannya disusul dengan glukosa 40%
sebanyak 20 cc I.V. dengan maksud memperbaiki sirkulasi
darah.
Empat jam kemudian (lebih kurang jam 24.00) saya datang
lagi kerumah sakit. Dari piket perawatan saya mendapat ke-
terangan bahwa 2 jam yang lalu penderita telah sadar kembali
dan menyatakan ingin pulang.
Keesokan harinya penderita memaksa untuk pulang. Se-
benarnya saya masih ingin mengukur kadar glukosa darah
dan melakukan ECG, akan tetapi ini tak sempat dilaksanakan.
Saya berpendapat ini adalah suatu kasus
histeri senilis.
dr. Andu Sufjan
Yogyakarta.
RUANG PETUNJUK-PETUNJUK PRAKTIS UNTUK PRAKTEK
Stomatitis aphtosa adalah gangguan selaput lendir mulut yang cukup menggelisah-
kan penderitanya. Memang, kelainan ini tak membahayakan, akan tetapi usaha-usaha
untuk mengurangi penderitaan sisakit biasanya tak secepat dan seefektip seperti yang
diharapkan.
Dr.
ORVILLE J. STONE
dari University of Texas, Galveston, A.S., menganjurkan
cara pengobatan yang dianggapnya cukup memuaskan.
Celupkan kapas dalam larutan tetracyclin (untuk maksud ini dapat dipergunakan
sirup tetracyclin pediatrik).
Letakkan kapas tadi diatas lesi selama.15 -- 20 menit. Lakukan ini 4 -- 6 kali/hari.
Silahkan coba
OLH.
*
Dikutip dari :
Consultant,
April 1974, hal. 114.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
3 1