PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Pankreatitis Akut
Laksma Dr. A. Nurman, Ph.D., DSPD-KGEH
Rumah Sakit TNI Angkatan Laut, Mintohardjo, Jakarta
PENDAHULUAN
Pankreatitis akut (PA) adalah keadaaan dari pankreas
dengan gejalanya yang khas yakni nyeri perut hebat yang
timbul tiba-tiba, dan peningkatan enzim amilase atau lipase.
Perjalanan penyakitnya sangat bervariasi dari yang ringan yang
self limited sampai yang sangat berat disertai renjatan dengan
gangguan ginjal dan paru-paru yang berakibat fatal
(1,2,3)
.
Pankreatitis yang berat, enzim-enzim pankreas, bahan-bahan
vasoaktif dan bahan-bahan toksik lainnya keluar dari saluran-
saluran pankreas dan masuk ke dalam ruang pararenal anterior
dan ruang-ruang lain seperti ruang-ruang pararenal posterior,
lesser sac dan rongga peritoneum. Bahan ini mengakibatkan
iritasi kimiawi yang luas. Bahan-bahan tersebut memasuki
sirkulasi umum melalui saluran getah bening retroperitoneal
dan jalur vena dan mengakibatkan berbagai penyulit sistemik
seperti gagal pernapasan, gagal ginjal dan kolaps kardio-
vaskuler.
Pankreatitis akut saat ini tidak jarang didapatkan di bagian
Ilmu Penyakit Dalam, sekali-kali ditemui di bagian bedah
sewaktu laparatomi pasien dengan nyeri perut hebat tanpa
dugaan adanya pankreatitis akut sebelumnya. Pada saat lapara-
tomi baru disadari bahwa sedang dihadapi pasien pankreatitis
akut karena didapatkan cairan intraabdominal berwarna merah
anggur atau didapatkan pankreas yang meradang. Hal ini
disebabkan anggapan masa lalu bahwa pankreatitis akut sangat
sering ditemukan di Negara Barat karena mereka adalah
pengkonsumsi alkohol yang banyak dibandingkan di Indonesia
yang sebagian besar penduduknya beragama Islam sehingga
konsumsi alkohol nihil atau sangat rendah. Selain itu juga pada
masa itu sebelum era USG, batu saluran empedu relatif jarang
ditemukan di Indonesia sedangkan di Negara Barat frekuensi-
nya sangat sering. Pengalaman penulis menunjukkan bahwa
tidak jarang terapi pankreatitis akut yang diberikan oleh sejawat
Ahli Penyakit Dalam kurang tepat, memberi kesan berlebihan
sehingga mengakibatkan biaya yang sangat besar. Pada kasus-
kasus tertentu terapinya malah sangat sederhana saja seperti
yang tertulis ilustrasi kasus pada makalah ini.
KLASIFIKASI
Pankreatitis akut dibagi atas (The Second International
Symposium on The Classification of Pancreatitis, Marseille,
1980) :
1) Pankreatitis akut; fungsi pankreas normal kembali.
2) Pankreatitis kronik; terdapat sisa-sisa kerusakan yang
permanen.
Penyempurnaan klasifikasi dilakukan tahun 1992 dengan
sistem klasifikasi yang lebih berorientasi klinis; antara lain
diputuskan bahwa indikator beratnya pankreatitis akut yang
terpenting
(11)
adalah adanya gagal organ yakni adanya renjatan,
insufisiensi paru (PaO
2
60 mmHg), gangguan ginjal
(kreatinin > 2 mg/dl) dan perdarahan saluran makan bagian atas
(> 500 ml/24 jam). Adanya penyulit lokal seperti nekrosis,
pseudokista atau abses harus dimasukkan sebagai komponen
sekunder dalam penentuan beratnya pankreatitis.
Sebelum tumbulnya gagal organ atau nekrosis pankreas,
terdapat 2 kriteria dini yang harus diukur yakni kriteria Ransom
dan APACHE II.
Pankreatitis interstitial dapat dibedakan dari pankreatitis
nekrosis dengan memakai incremental dynamic bolus computed
tomography. Secara klinis perbedaan ini penting karena pada
umumnya pankreatitis nekrosis lebih berat daripada pankreatitis
interstitial dengan mortalitas yang lebih tinggi.
KAUSA DAN INSIDEN PANKREATITIS AKUT
Bila di Negara Barat pankreatitis akut terbanyak didapat-
kan pada peminum alkohol dan batu empedu yakni lebih dari
80%
(3,5)
maka pengalaman penullis sebagai kausa dari pankrea-
titis akut adalah sebagai berikut
(6)
: dari episode pankreatitis
akut, batu bilier hanya 14,6%, penyakit infeksi (seperti tifus
abdominalis, demam berdarah, leptospirosis) 12,6% askaris
10,4%, hepatitis fulminan 2,1% dan sebagian besar yakni
58,3% idiopatik yakni penyebabnya tidak diketahui.
Di Negara Barat etiologi pankreatitis akut terutama adalah
alkohol (80-90%) pada pria dan batu empedu (± 75%) pada
wanita
(3,7)
, disusul penyebab yang tidak diketahui
±25%
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 37
(idiopatik, mikrolitiasis?). Ketiga penyebab ini merupakan
90% penyebab pankreatitis akut; sisanya 10% adalah trauma
pankreas (tumpul atau tajam atau pasca bedah), tukak peptik
yang menembus pankreas, obstruksi saluran pankreas oleh
fibrosis atau konkremen, penyakit-penyakit metabolik antara
lain : hipertrigliseridemi, hiperkalsemia (sarkoidosis, metas-
tasis tulang, hiperparatiroidisme), diabetes, gagal ginjal,
hemokromatosis, pankreatitis herediter, steroid, dll), infeksi
virus, penyakit vaskuler primer (misalnya SLE, periarteritis
nodosa), akibat ERCR Di negara Barat pankreatitis jarang
terjadi pada anak-anak dan dewasa muda dan kebanyakan
disebabkan oleh infeksi (parotitis, infeksi parasit misalnya
askaris, giardia, klonorkis), trauma tumpul abdomen, kelainan
bilier bawaan atau obat-obatan.
(8)
Jadi jelas bahwa pola penyebab sangat berbeda di Barat
yang didominasi oleh peminum alkohol dan batu empedu
sehingga pola penatalaksanaannya juga bisa berbeda.
PATOFISIOLOGI
Pankreatitis akut dimulai sebagai suatu proses autodigesti
di dalam kelenjar akibat aktivasi prematur zimogen (prekursor
dari enzim digestif) dalam sel-sel sekretor pankreas (asinar),
sistem saluran atau ruang interstisial.
(8,9)
Patogenesis yang
pasti tidak diketahui, tetapi dapat meliputi udem atau
obstruksi dari ampula Vateri yang mengakibatkan refluks isi
duodenum atau cairan empedu ke dalam saluran pankreas atau
trauma langsung pada sel-sel asinar. Keadaan ini akan
menyebabkan kerusakan sel-sel asinar dan nekrosis, udem dan
inflamasi. Selain aktivasi enzim digestif tersebut, stres oksida-
tif dan gangguan mikrosirkulasi juga merupakan kontributor
yang penting pada kerusakan pankreas. Perluasan dari proses
inflamasi keluar pankreas akan menimbulkan komplikasi-
komplikasi setempat dan dapat mengakibatkan berbagai
penyulit sistemik seperti komplikasi kardiovaskuler (hipo-
volemia, syok), ginjal (gagal ginjal), hematologi (DIC, trom-
bosis), paru (ARDS, gagal paru), metabolik (hipokalsemia,
hiperglikemia, hipertrigliseridemi, asidosis metabolik), per-
darahan gastrointestinal.
Pada 75% pasien, proses inflamasi terbatas pada pankreas
dan jaringan peripankreatik dan sembuh spontan dalam be-
berapa hari sampai 1 minggu. Pada 25% kasus perjalanan
penyakitnya berat dengan komplikasi lokal dan sistemik serta
risiko kematian. Angka mortalitas secara keseluruhan 5-10%.
PATOLOGI
Terdapat dua bentuk anatomi utama yakni pankreatitis
akut interstitial dan pankreatitis akut tipe nekrosis hemoragik.
Manifestasi klinisnya dapat sama, pada bentuk kedua lebih
sering fatal.
1) Pankreatitis interstitial
Secara makroskopik pankreas membengkak secara difus
dan tampak pucat. Tidak didapatkan perdarahan atau nekrosis,
atau bila ada minim sekali.
2) Pankreatitis tipe nekrosis hemoragik
Tampak nekrosis jaringan pankreas disertai dengan per-
darahan dan inflamasi.
GEJALA KLINIS
(6)
Keluhan yang sangat menyolok adalah rasa nyeri yang
timbul tiba-tiba, intens, terus menerus dan makin lama makin
bertambah; lokasinya kebanyakan di epigastrium, dapat men-
jalar ke punggung, kadang-kadang ke perut bagian bawah,
nyeri berlanngsung beberapa hari. Gejala lain yakni mual,
muntah-muntah dan demam.
Pada pemeriksaan jasmani didapatkan nyeri tekan di perut
bagian atas, tanda-tanda peritonitis lokal, kadang-kadang bah-
kan peritonitis umum.
Kelainan laboratorium yang penting untuk diagnosis pan-
kreatitis akut adalah kenaikan enzim amilase dan atau lipase
setidaknya 3 x nilai normal tertinggi. Selain itu didapatkan
lekositosis, fungsi hati dapat terganggu serta ditemukan hiper-
glikemia, hipokalsemia dan penurunan kolesterol.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis, di-
dapat kesan bahwa pankreatitis akut yang ditemukan yang
didapatkan di Indonesia jauh lebih ringan daripada di Barat.
Tidak jarang dalam beberapa hari gejala-gejala mereda walau
terapi tidak memadai karena didiagnosis sebagai gastritis.
DIAGNOSIS
Pada setiap pasien dengan nyeri perut bagian atas yang
hebat timbul tiba-tiba, perlu dipikirkan kemungkinan pan-
kreatitis akut.
Kriteria adanya pankreatitis akut adalah sebagai berikut
(12)
1) Kenaikan kadar amilase serum atau urin atau kadar lipase
dalam serum sedikitnya tiga kali harga normal tertinggi.
2) Atau penemuan ultrasonografi yang sesuai dengan pan-
kreatitis akut.
3) Atau penemuan operasi/autopsi yang sesuai dengan pan-
kreatitis akut.
Peningkatan amilase atau lipase serum merupakan kunci
untuk diagnosis. Peningkatan amilase mencapai maksimum
dalam 24-36 jam, kemudian menurun dalam 48-72 jam. pe-
ningkatan lipase berlangsung lebih lama yakni 5-10 hari.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menunjukkan pem-
bengkakan pankreas setempat atau difus dengan ekhoparenkim
yang berkurang, pseudokista di dalam atau di luar pankreas.
Ultrasonografi juga sangat berguna untuk menilai saluran
empedu. Adanya batu di kandung empedu dan duktus
koledokus yang melebar mencurigakan adanya pankreatitis
bilier dna merupakan indikasi untuk melakukan ERCP dini
dan, sfingterotomi. Namun ultrasonografi memiliki keter-
batasan-keterbatasan yakni pankreas sukar dilihat dengan baik
karena adanya gas dalam usus (meteorisme) ileus paralitik,
atau adanya obsesitas, dan pada sebagian pasien (33%)
pankreas masih normal.
(6)
DIAGNOSIS BANDING
(2)
Penyakit lain yang memberikan gejala nyeri perut bagian
atas yang hebat yang perlu dipikirkan adalah kolik batu
empedu, kolesisitas akut, kolangitis, gastritis akut, tukak
peptik dengan atau tanpa perforasi, infark mesenterial,
aneurisma aorta yang pecah, pneumoni bagian basal, obstruksi
usus yang akut dengan strangulasi, infark miokard dinding
inferior.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
38
Dengan sarana penunjang seperti ultrasonografi abdomen,
endoskopi saluran cerna, CT Scan abdomen, foto toraks, EKG,
dan laboratorium terutama tes fungsi hati seperti bilirubin,
Gama GT, SGOT/SGPT tidaklah terlalu sulit untuk me-
nyingkirkan penyakit-penyakit tersebut di atas.
PENYULIT
(2)
Penyulit terutama terjadi pada pankreatitis akut tipe
hemoragik nekrosis. Penyulit lokal dapat sebagai pembentukan
pseudokista, abses, penjalaran peradangan yang bersifat hemo-
ragik, nekrosis organ-organ disekitar, pembentukan fistel,
asites dengan kadar amilase yang tinggi, ulkus duodenum dan
ikterus obstruksi.
Penyulit berjarak jauh dapat timbul seperti sepsis, penyulit
paru berupa eksudat pleura, atelektasis, pneumoni, gangguan
pernapasan, kardiovaskuler seperti eksudat perikard, DIC,
tromboflebitis, perubahan gastrointestinal berupa nekrosis
dinding duodenum/kolon, perdarahan pankreas, trombosis
vena porta dengan perdarahan varises, komplikasi ginjal
seperti gagal ginjal akut, komplikasi metabolik antara lain
hiperglikemia, ketoasidosis, hipokalsemia, hiperlipidemia.
PROGNOSTIKASI PANKREATITIS AKUT
(10)
Di negara Barat spektrum klinis pankreatitis akut
terentang dari yang ringan/self limiting sampai ke penyakit
yang fulminan, cepat membawa kematian yang refrakter
terhadap setiap pengobatan. Keadaan ini menuntut identifikasi
dini pasien yang memiliki resiko tinggi untuk timbulnya
komplikasi-komplikasi yang mengancam jiwa, sehingga dapat
diambil tindakan yang tepat. Kriteria Ranson pada umumnya
dipakai untuk menilai beratnya pankreatitis akut. Bila tiga atau
lebih paremeter ditemukan pada saat pasien masuk ke rumah
sakit, suatu pankreatitis akut berat yang disertai komplikasi
nekrosis pankreas dapat diprediksi akan muncul :
1) Usia > 55 tahun.
2) Lekosit > 16.000/ml.
3) Gula darah > 200 mg%.
4) Defisit basa > 4 mEq/1.
5) LDH serum > 350 UI/I
6) AST > 250 UI/I.
Timbulnya keadaan-keadaan dibawah ini dalam 48 jam
pertama menunjukkan prognosis yang memburuk.
1) Hematokrit menurun > 10%.
2) BUN meningkat > 5 mg%.
3) PO
2
< 60 mmHg.
4) Kalsium serum < 8 mg%.
5) Sekuestrasi cairan > 61.
Adapun penggunaan kriteria ini di Indonesia masih perlu
diuji mengingat kausa dan gambaran klinik pankreatitis akut
disini berbeda sekali dengan di negara Barat.
PENATALAKSANAAN
(1,4,5)
Tujuan pengobatan adalah menghentikan proses peradang-
an dan antodigesti atau menstabilkan sedikitnya keadaan klinis
sehingga memberi kesempatan resolusi penyakit tersebut. Pada
bagian besar kasus
± 90% cara konservatif ini berhasil baik
dan pada sebagian kecil (
± 10%) masih terjadi kematian. Pada
pankreatitis bilier bila ada batu saluran empedu atau askaris di
dalam duktus koledokus atau duktus pankreatikus, harus sege-
ra dikeluarkan. Tindakan konservatif yang merupakan terapi
standar pankreatitis akut pada stadia apa saja terdiri atas
(2)
:
1) Pemberian analgesik yang kuat seperti petidin beberapa
kali sehari, morfin tidak dianjurkan. Dapat juga diberikan
pentazosin.
2) Puasa total dan pemberian nutrisi parenteral untuk meng-
istirahatkan pankreas.
3) Pada pasien yang berat dilakukan penghisapan cairan
lambung untuk mengurangi penglepasan gastrin dan me-
ngurangi rangsangan pada pankreas; serta berguna untuk
dekompresi bila terdapat ileus paralitik.
Pemakaian anfkolinergik, antasid, penghambat reseptor
H
2
, penghambat pompa proton diragukan khasiatnya; obat-
obat tersebut seringkali dipakai secara berlebihan; anti-
kolinergik dapat menambah ileus yang ada, penghambat
reseptor H
2
dan penghambat pompa proton harganya cukup
mahal, terutama yang parenteral. Demikian pula Aprotinin
(Trasylol) untuk menghambat trypsin tidak berguna di
samping harganya sangat mahal.
Sebagai pegangan menurut pengalaman penulis, pedoman
tersebut di atas no. 1, 2 dan 3 cukup adekuat pada sebagian
besar kasus. Pemberian antasida atau penghambat reseptor H
2
dapat dapat dipertimbangkan bila pada anamnesis didapatkan
riwayat dispepsi sehingga dikhawatirkan puasa total dapat
memicu dispepsinya. Demikian pula dengan pemberian anti-
biotika, tidak rutin walau pada pasien pankreatitis akut
sebagian besar terdapat demam
(6)
yakni hanya bila terdapat
demam tinggi lebih dari 3 hari atau bila pankreatitis akutnya
disebabkan oleh batu empedu atau bila terdapat pankreatitis
akut yang berat
(2)
.
Pedoman ini
(2)
cukup baik dan berdasarkan pengalaman
penulis sesuai untuk Indonesia, apalagi dengan kenyataan
bahwa pankreatitis akut di sini lebih ringan daripada di Barat.
Pada pankreatitis akut yang berat selain pedoman tersebut
ditambahkan tindakan sebagai berikut :
1) Pindahkan ke Unit Perawatan Intensif (ICU)
2) Perawatan pernapasan
3) Terapi infeksi
4) Atasi gangguan metabolik
5) Dukungan gizi parenteral total yang memadai
Pasien dapat mulai diberi nutrisi oral; pada prinsipnya bila
pankreas sudah tenang. Realimentasi oral dapat pelahan-lahan
dimulai dengan minum air putih, sedikit makanan cair,
kemudian makan makin ditingkatkan. Yang penting adalah
bahwa makanan ini tanpa lemak untuk menghindari rang-
sangan pada pankreas. Sebagai pegangan bahwa pankreas telah
tenang yakni :
1) Amilase-lipase telah kembali normal, enzim diperiksa tiap
3 hari.
2) Nyeri hilang.
3) Panas sudah turun.
Bila nyeri timbul lagi atau demam meningkat lagi atau
enzim tersebut meningkat, dimulai lagi puasa total, demikian
dan seterusnya kembali ke terapi dasar di atas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 39
TINDAKAN BEDAH
Penatalaksanaan standar adalah analgesik kuat, puasa total
dan nutrisi parenteral. Bila tidak mereda dalam beberapa hari
dapat dilanjutkan dengan tahap kedua yakni pemberian
antibiotika dan seterusnya. Bila nyeri menghilang atau
amilase/lipase darah dan/atau demam menurun, dapat pelahan-
lahan dimulai realimentasi oral.
Pada umumnya tidak dilakukan eksplorasi bedah kecuali
pada kasus-kasus berat dimana didapatkan :
1) Perburukan sirkulasi dan fungsi paru sesudah beberapa
hari terapi intensif.
2) Pasien pankreatitis akut hemoragik nekrosis yang disertai
renjatan yang sukar diatasi.
3) Timbulnya sepsis.
4) Gangguan fungsi ginjal.
5) Perdarahan intestinal yang berat.
6) Pembentukan abses, pseudokista, fistel.
KEPUSTAKAAN
ILUSTRASI KASUS
Seorang pria usia 18 tahun dirawat karena nyeri hebat di
epigastrium yang timbul tiba-tiba, mual dan muntah-muntah
disertai demam tinggi sejak sehari sebelum masuk rumah sakit
menjelang bulan puasa. Rasa nyeri seperti di tusuk-tusuk,
diikuti oleh nyeri tekan di hampir seluruh perut menjalar ke
belakang.
1.
Calleja G.A., J.S. Acute Pancreatitis, Med Clin N Am (September) 1993;
77-5 : 1037-56.
2. Tytgat GNJ. Pankreas dari Leerbock, Maag, Darmen Lever Ziekte,
Tytgat GNJ., dkk. (eds) Bohn, Scheltema & Holkema, 1985; hal
373-427.
3.
Grendell JH. Acute Pancreatitis. Dad Current Diagnosis and Treatment
in Gastroenterology, Grendell JH, Mcquaid KR, Friedman SL, eds. Edisi
I, Lange Medical Book, 1966; hal 435-52.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan amilase dan
lipase darah masing-masing 2.280 dan 3.280 U/I, lekosit
15.000. USG tidak dapat menampakkan jaringan pankreas.
4. Nurman A. Is Acute Pancreatitis Rare in Indonesia ? 8
th
APCGE,. 5
th
APCDE, Seoul, October, 1988.
5. Kadakia S.C. Biliary Tract Emergencies -Acute Cholecystitis, Acute
Cholangitis and Acute Pancreatitis. Med Clin N Am (September) 1993;
Gastrointestinal Emergencies. 77-5 : 1015-36.
Ditegakkan diagnosis pankreatitis akut.
Pasien dipuasakan total, diberikan infus RL - Dektrosa 1 :
3 28 tetes per menit, dan pemberian petidin untuk nyeri
hebatnya, dan diulangi bila perlu. Dalam beberapa hari nyeri
hilang, demam menurun dan amilase - lipase menurun drastis.
Dimulai realimentasi perlahan-lahan. Pasien dipulangkan pada
hari ke-6.
6.
Nurman A. Pankreatitis Akut dari buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid
I, Edisi ke-3 Editor Kepala Prof. Dr. H.M. Sjaifullah Noer, Balai
Penerbit FKUI, Jakarta, 1996; hal 385-97.
7. Cavallini G, Riela A., Brocco G, dkk. Epidemiology of Acute
Pancreatitis, Beger HG, Buchler R, eds. Springer Verlag Berlin,
Heidelberg, 1987; hal. 25-31.
8. Lankisch PG. Etiology of Pancreatitis. Dari : Acute Pancreatitis
Exprerimental and Clinical Aspects of Pathogenesis and Management,
Blazer G, Ranson JHG, Tindall B. (eds.) WB Saunders, 1988; hal
167-81.
Jelas bahwa dengan terapi standar yang mudah seperti di
atas, kesembuhan segera didapat dengan biaya relatif murah.
Tidak diberikan antibiotika, antasida, penghambat reseptor H
2
atau penghambat pompa proton, maupun antikolinergik pada
pasien ini.
9. Friedmann LS. Liver, Biliary Tract and Pancreas. Acute Pancreatitis.
Dari : Current Medical Diagnosis and Treatment. Edisi 35, Tierney LM,
McPhee SJ, Papadakis MA. (eds.), Appleton & Lange, 1996; hal.
638-41.
10. Ranson JHC. Prognostication in Acute Pancreatitis. Dari Acute
Pancreatitis Experimental and Clinical Aspects of Pathogenesis and
Management. Glaser G, Ranson JHC. (eds.), Edisi I, Balliere Tindall,
1988; hal. 303-30.
KESIMPULAN
Diagnosis pankreatitis akut mudah bila diingat bahwa
pada setiap pasien dengan nyeri perut hebat di perut bagian
atas yang timbul tiba-tiba perlu dipikirkan kemungkinan suatu
pankreatitis akut. Meningkatnya amilase dan atau lipase
menyokong kecurigaan tersebut.
11. Banks PA. Acute Pancreatitis : Medical and Surgical Management. 1994;
89-8 : S78-S85.
12. Schuppisser JP. Method. Dari Acute Pancreatitis. Verlag Hans Huber,
Bern Stuttgart Toronto, 1986; hal. 15-7.
40
Disobedience is the beginning of evil and the broad way to ruin
(D. Davies)
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000