Pembuatan dan Evaluasi Antisera
Penentuan Golongan Darah ABO
Dra. Yovita Lisawati
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang
ENDAHULUAN
an medium transportasi di dalam tubuh
terdi
g normal memiliki jumlah darah lebih
kura
ngan darah meru-
paka
an darah, namun yang
terp
penetapan golongan darah tersebut digunakan reagen yang di-
Antisera untuk reagen penentuan golongan darah umumnya
dibuat dari serum darah manusia yang memiliki titer tinggi,
walaupun dewasa ini telah diketahui bahwa antisera tersebut juga
dapat diisolasi dari jenis tumbuh-tumbuhan tertentu, seperti
dari biji Dolichos biflorus dan dari hewan yang diimunisasi
(4,5)
.
Mengingat arti penting reagen antisera dalam penggolong-
an darah dan dalam usaha untuk mendapatkan alternatif lain
sebagai sumber antisera yang lebih efektif dan berkualitas di
samping sumber konvensional yang selama ini digunakan,
maka dicoba untuk membuat reagen antisera dari kelinci yang
diimunisasi dengan antigen sel darah merah manusia. Dalam
penelitian ini juga diadakan evaluasi terhadap antisera yang
diperoleh untuk mengetahui apakah antisera tersebut memenuhi
persyaratan WHO, serta tingkat kualitasnya dibandingkan
dengan antisera yang beredar di pasaran.
RANCANGAN PENELITIAN
1.
Penyiapan kelinci penelitian.
2.
Pemeriksaan pendahuluan reaksi antigen-antibodi serum
kelinci terhadap sel darah golongan A, B, 0 dan AB.
ABSTRAK
Telah dilaksanakan penelitian pembuatan dan evaluasi antisera penentuan golongan
darah sistim ABO dari darah kelinci terimunisasi. Dari darah kelinci yang diimunisasi
dengan sel-A darah manusia diperoleh antisera-A yang memberikan reaksi spesifik
dengan sel-A darah manusia dan memenuhi persyaratan minimum yang ditetapkan oleh
WHO, dengan aktifitas rata-rata 3,440 detik dan tingkat titer 1/128. Dari darah kelinci
yang diimunisasi dengan sel-B dari darah manusia diperoleh antisera-B yang memberikan
reaksi spesifik dengan sel-B darah manusia namun tidak memenuhi persyaratan minimum
tingkat titer yang disyaratkan oleh WHO, tingkat titer yang diperoleh adalah 1/8.
P
Darah merupak
ri atas plasma dan sel-sel darah. Fungsi utama darah dalam
tubuh adalah untuk membawa oksigen dan bahan-bahan ma-
kanan ke jaringan serta mengekskresikan sisa-sisa metabolisme
dan CO
2
dari jaringan
(1)
.
Manusia dewasa yan
ng 12% dari berat badan, atau lebih kurang 5.000 ml untuk
laki-laki dan 4.000 ml untuk wanita. Bila volume darah dalam
tubuh berkurang akan mengakibatkan terganggunya fungsi da-
rah di dalam tubuh. Dalam keadaan tertentu kekurangan darah
dalam tubuh dapat berakibat fatal bila tidak segera diatasi, di
antaranya melalui usaha transfusi darah
(2,3)
.
Dalam transfusi darah, penetapan golo
n persyaratan yang mutlak di samping persyaratan lainnya.
Ketidaksesuaian golongan darah donor dengan golongan darah
resipien akan mengakibatkan reaksi-reaksi alergi dan yang pa-
ling fatal adalah syok anafilaktik
(3,4,5)
.
Ada beberapa sistim penggolong
enting untuk tujuanklinis adalah sistim penggolongan darah
ABO dan Rhesus. Menurut sistim penggolongan darah ABO,
darah dibagi 4 golongan, yakni golongan A, B, AB dan O; untuk
sebut antisera
(1,4)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
36
3.
Pembuatan suspensi sel darah 50% golongan A dan B.
4.
Imunisasi kelinci.
5.
e
Di-
i
e
huluan reaksi antigen-antibodi se-
sel darah golongan A, B, 0, dan AB
bil sampel
arah dari masing-masing kelinci, kemudian pisahkan sel da-
selama 15 menit pada ke-
a
yang diperoleh kemudian
n A 5% dalam NaCl fisio-
i
tabu
p
k dengan volume sel
lut tabung dengan plester, tabung dibalik-balik
l
menit.
ingga rata.
is.
ocok hingga homogen.
dan injeksikan ke dalam tu-
kelinci IA, IIA, dan IIIA.
mas
avena
g
gai berikut :
20 menit
pada kecepatan 2000 rpm.
Ambil lapisan plasma dengan menggunakan pipet.
Masukkan ke dalam tabung reaksi lain yang bersih dan
kering.
Inkubasikan cairan plasma dalam tabung reaksi tersebut
selama 1 jam pada suhu 56°C.
Buat suspensi 5% sel darah golongan A dalam larutan
fisiologis.
Para rak letakkan 10 buah tabung reaksi pada baris
pertama dan satu tabung reaksi masing-masing pada baris ke
dua dan ke tiga untuk kontrol.
Tabung reaksi pertama dari masing-masing baris ditandai
dengan golongan A, B, dan O.
Pada tabung reaksi ke dua, ke tiga dan seterusnya dari
baris pertama tambahkan 0,2 ml larutan NaCl fisiologis.
Pengerjaan dilakukan dari kiri ke kanan, masukkan 0,2 ml
plasma hasil inkubasi ke dalam dua tabung reaksi pertama pada
baris pertama dan ke dalam tabung reaksi kontrol.
Campur plasma dengan larutan NaCl fisiologis pada tabung
reaksi ke dua, pipet 0,2 ml dari campuran ini dan masukkan pada
tabung reaksi ke tiga, kocok homogen campuran yang ada pada
tabung reaksi ke tiga tersebut dan masukkan pada tabung reaksi
ke empat. Lakukan pengenceran tersebut sampai pada tabung
reaksi ke 10, sehingga pada tabung 1 sampai 10 pada baris
pertama berisi 0,2 ml hasil pengenceran dari 1/1 sampai 1/512.
Pipet 0,2 ml suspensi 5% dari sel darah merah A, masukkan
pada masing-masing tabung pada baris pertama. Kemudian pipet
0,2 ml suspensi 5% dari set darah merah golongan B, 0 dan ma-
sukkan pada tabung-tabung kontrol di baris ke dua dan ke tiga.
Masukkan tabung reaksi ke dalam alat sentrifus dan putar
selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm, amati gumpalan
yang terjadi.
Pemantauan kenaikan titer antibodi dalam serum kelinci
yang telah diimunisasi.
6.
Defibrinasi plasma.
7.
Pemberian pengawet.
8.
Evaluasi spesifikasi, aviditas dan titer antisera.
PELAKSANAAN PENELITIAN
1)
Penyiapan Kelinci Penelitian
ggu
4) Imunisasi Kelinci
Proses imunisasi kelinci dilakukan sebagai berikut :
Ambil 1 ml Adjuvan Freund masukkan ke dalam tabung
reaksi.
Tambahkan ke dalam tabung reaksi tersebut 9 ml suspensi
darah A 50% dalam larutan NaCl fisiolog
Disediakan enam ekor kelinci di dalam kandang semin
enelitian untuk adaptasi lingkungan.
seb lum pelaksanaan p
ber kan makanan sayuran yang cukup. Masing-masing kelinci
dib ri inisial dengan angka romawi.
2)
Pemeriksaan penda
rum kelinci terhadap
Dengan menggunakan jarum suntik 10 ml diam
d
rahnya dengan jalan mengsentrifus
cep tan 2000 rpm. Plasma darah
diinkubasikan selama 1 jam pada suhu 56°C. Kemudian pada
masing-masing plasma darah kelinci dilakukan sebagai berikut :
Masukkan 0,2 ml plasma darah kelinci yang dimaksudkan
di atas ke dalam tabung reaksi 5 ml.
Buat suspensi sel darah golonga
log s.
Tambahkan 0,2 ml suspensi darah tersebut ke dalam
ng reaksi yang telah berisi 0,2 ml plasma darah kelinci.
Sentrifus campuran tersebut selama 15 menit pada ke-
cepatan 2000 rpm.
Amati di bawah cahaya lampu, amati apakah terjadi proses
aglutinasi.
Lakukan seperti prosedur di atas dengan menggunakan
sus ensi golongan darah B, AB, dan O.
3) Pembuatan suspensi darah 50% golongan darah A
dan B
Ambil 20 ml darah segar golongan A dan B.
Masukkan masing-masing golongan darah dalam tabung
reaksi 50 ml.
Sentrifus selama 20 menit pada kecepatan 2000 rpm.
Pisahkan plasma darah yang berada di lapisan atas pada
tabung reaksi dengan menggunakan pipet.
Tambahkan sejumlah NaCl fisiologis ke dalam sel darah
merah yang tersisa dalam tabung. Jumlah NaCl fisiologis yang
tambahkan lebih kurang sama banya
di
darah merah yang tersisa.
Tutup mu
per ahan-lahan beberapa kali.
Sentrifus kembali tabung tersebut pada kecepatan 2000
rpm selama 10
Ulangi prosedur di atas sebanyak dua kali.
Ambil 5 ml set darah hasil sentrifus terakhir, tambahkan 5
ml NaCl fisiologis, kocok pertahan-lahan h
K
Ambil 1 ml campuran tersebut
buh kelinci secara peritoneal pada
Pada hari ke tiga dan ke lima setelah penginjeksian, pada
ing-masing kelinci dilakukan lagi injeksi secara intr
den an menggunakan suspensi darah 50%.
Ulangi prosedur tersebut di atas dengan menggunakan sus-
pensi darah B terhadap kelinci IB, IIB, dan IIIB.
5) Pemantauan Kenaikan Titer Antibodi dalam Serum Ke-
linci yang Diimunisasi
A. Anti-A
Pada hari ke 10, 17, 24 dan 31 terhadap masing-masing
lin
ke ci IA, IIA dan IIIA dilakukan prosedur seba
Ambi15 ml darah dari kelinci dengan menggunakan jarum
suntik 5 ml.
Masukkan ke dalam tabung dan sentrifus selama
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 37
B. Anti-B
Pada hari ke 10, 17, 24 dan 31 terhadap masing-masing
kelinci IB, IIB dan IIIB dilakukan prosedur sebagai berikut :
ngan menggunakan pipet.
n magnet pemutar ke dalam beker gelas.
Tambahkan 1 volume dari kosentrasi 400 g/liter larutan
CaCl
2
ke dalam 100 volume plasma.
Campuran tersebut diputar selama 2 jam, kemudian
biarkan selama semalam. Dan saring dengan menggunakan
kertas saring.
7)
Penambahan Pengawet
Ke dalam serum yang diperoleh, tambahkan Natrium azida
sebanyak 0,1% b/v.
8)
Evaluasi
1. Spesifikasi
Dilakukan dengan mereaksikan antisera (serum) dengan sel
darah merah. Dalam percobaan ini evaluasi spesifikasi dilakukan
terhadap 30 sampel darah yang diperoleh dari PMI cabang Pa-
dang; terdiri dari 10 sampel darah golongan A, 10 sampel darah
golongan B, dan 10 sampel darah golongan O.
Evaluasi dilakukan sebagai berikut :
a) Terhadap sampel darah golongan A
Teteskan di sebelah kiri, kanan dan tengah dari objek gelas
1 tetes darah sampel golongan A.
1 = Anti-A B
2 = Anti-B B
3 = Anti-A Hasil
Percobaan
Teteskan di atas tetesan darah tersebut secara berurutan
dari kiri ke kanan dengan anti-A B, anti-B B dan serum anti-A
hasil percobaan.
Aduk dengan ujung lidi secara melingkar perlahan-lahan,
lalu kaca digoyang-goyangkan.
Amati terjadinya aglutinasi di bawah mikroskop.
b) Terhadap sampel darah golongan B
Teteskan di sebelah tengah dan kanan dari objek gelas 1
tetes darah sampel golongan B.
1 = Anti-B B
2 = Anti-A B
3 = Anti-A Hasil
Percobaan
Teteskan di atas tetesan darah tersebut secara berurutan
dari kiri ke kanan dengan anti-B B, anti-A B dan anti-A hasil
percobaan.
Aduk dengan ujung lidi secara melingkar perlahan-lahan
lalu kaca digoyang-goyangkan.
Amati terjadinya aglutinasi di bawah mikroskop.
c) Terhadap sampel darah golongan O
Teteskan di sebelah kanan dan tengah dari objek gelas 1
tetes darah sampel golongan O.
1 = Anti-A B
2 = Anti-B B
3 = Anti-A Hasil
Percobaan
Ambi15 ml darah kelinci dengan menggunakan jarum
suntik 5m1.
Masukkan ke dalam tabung dan sentrifus selama 20 menit
pada kecepatan 2000 rpm.
apisan plasma de
Ambil l
Masukkan ke dalam tabung reaksi lain yang bersih dan
kering.
Inkubasi cairan plasma dalam tabung reaksi tersebut
selama 1 jam pada suhu 56°C.
Pada rak letakkan 10 buah tabung reaksi pada bans
pertama dan satu tabung reaksi masing-masing pada bans ke
a
du dan ke tiga untuk kontrol.
Tabung reaksi pertama dari masing-masing bans ditandai
dengan golongan B, A dan O.
Pada tabung reaksi ke dua, ke tiga dan seterusnya dan bads
pertama tambahkan 0,2 ml larutan NaCl fisiologis.
Pengerjaan dilakukan dari kiri ke kanan, masukkan 0,2 ml
plasma hasil inkubasi ke dalam kedua tabung reaksi pertama
da
pa bans pertama dan ke dalam tabung reaksi kontrol.
Campur plasma dengan larutan NaCl fisiologis pada tabung
reaksi ke dua dan pipet 0,2 ml dan campuran ini dan masukkan
pada tabung reaksi ke tiga. Kocok homogen campuran yang
ada pada tabung reaksi ke tiga tersebut, dan masukkan pada
tabung reaksi ke empat. Lakukan pengenceran tersebut sampai
pada tabung reaksi ke 10, sehingga pada tabung 1 sampai 10
da
pa baris pertama berisi 0,2 ml hasil pengenceran dan serum,
yaitu pengenceran dari 1/1 sampai 1/512.
Pipet 0,2 ml dari suspensi 5% dari sel darah merah B,
asu
m
kkan pada masing-masing tabung pada bads pertama. Ke-
mudian pipet 0,2 ml suspensi 5% dari sel darah merah
golongan A dan 0 dan masukkan ke dalam tabung-tabung
kontrol di bans ke dua dan ke tiga.
Masukkan masing-masing tabung ke dalam alat sentrifus
dan putar selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm. Amati
gumpalan yang terjadi.
6) Defibrinasi Plasma
Plasma yang digunakan sebagai reagen agar tidak terjadi
bintik-bintik dalam penyimpanannya perlu didefibrinasi.
Plasma didefibrinasi dengan menggunakan CaC1
2
berlebih.
Dalam penelitian ini defibrinasi dilakukan sebagai berikut :
Plasma di dalam beker gelas diletakkan di atas water bath
pada suhu 37°C.
Masukka
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
38
Teteskan di atas tetesan darah tersebut secara berurutan
dari kiri ke kanan dengan anti-A B, anti-B B dan serum anti-A
hasil percobaan.
Aduk dengan ujung lidi secara melingkar perlahan-lahan
lalu kaca digoyang-goyangkan.
Amati terjadinya aglutinasi di bawah mikroskop.
2. Aviditas
Evaluasi aviditas antisera dilakukan dengan menghitung
aktu yang diperlukan antisera untuk beraglutinasi dengan go-
ang sesuai. Evaluasi ini dilakukan terhadap 30
sam
:
ke kanan 1 tetes antisera anti-A B,
i
w
longan darah y
pel darah golongan A, menggunakan pembanding antisera
P dan antisera B.
Dalam penelitian tersebut evaluasi aviditas dilakukan se-
bagai berikut
Teteskan di sebelah kiri, tengah dan kanan dari objek gelas
secara berurutan dari kiri
ant -A P dan anti-A hasil penelitian.
Keterangan : 1. Anti-A B
2. Anti-A hasil produksi P
3. Anti-A hasil penelitian
Teteskan 1 tetes suspensi 50% sel darah A di atas tetesan
antisera tersebut.
Aduk dengan ujung lidi secara melingkar, amati di bawah
cahaya lampu, catat waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya
aglutinasi dengan menggunakan stop watch.
Ulangi perlakuan tersebut di atas sampai tiga kali untuk se-
tiap sampel darah.
3. Titer Antisera
Evaluasi ini dilakukan terhadap 10 sampel darah golongan
A. Dengan menggunakan pembanding anti-A B dan anti-A
produksi P.
Pelaksanaan evaluasi adalah sebagai berikut :
Di atas rak tabung reaksi letakkan 10 tabung reaksi pada
bans pertama dan satu tabung reaksi lagi masing-masing pada
bans ke dua dan ke tiga.
Tabung reaksi pertama dari masing-masing baris ditandai
dengan golongan A, B, dan O.
Pada tabung reaksi ke dua, ke tiga dan seterusnya dari bans
pertama tambahkan 0,2 ml larutan NaCl fisiologis.
Tambahkan 0,2 ml an
tabung reaksi pertama dar
tisera hasil penelitian ke dalam dua
lagi 0,2
c
e empat,
a, sehingga pada tabung
1
5% dari sel darah merah A,
a tabung kontrol di baris ke dua dan ke tiga.
tabung ke dalam alat sentrifus, putar selama 10
epatan 2000 rpm.
dan evaluasi antisera penen-
tuan golongan darah ABO yang disintesis
linci
terimunisasi, diperoleh hasil sebagai berikut
A.
Kelinci yang diimunisasi dengan sel-A d
Diperoleh antisera anti-A yang member
dengan sel-A darah manusia. Perbandingan
an titer
iran III.
perlakuan dengan antigen sel
darah merah manusia, sebelumnya diad
saan
pendahuluan untuk mengetahui bahwa di d
arah
kelinci tersebut tidak terdapat antig
apat
mengaglutinasi sel darah merah manu
mereaksikan serum darah kelinci percobaan
h
ak tiga
sel darah
merah manusia pada hari ke 5
adalah untuk menjamin bahwa respon sek
buh
kelinci percobaan tersebut benar-benar telah
akan
Adjuvan Freund bersama-sama dengan antig
erah
manusia untuk membentuk rangsangan prim
linci, karena Adjuvan Freund dapat mengakt
di
i sebelah kiri pada bans pertama dan
pada tabung reaksi kontrol.
Campur ratakan antisera dengan larutan NaCl fisiologis
yang ada pada tabung reaksi ke dua. Kemudian pipet 0,2 ml
campuran tersebut dan campurkan ke dalam tabung reaksi
dari
ke tiga yang ada di sebelah kanannya.
Dari tabung reaksi ke tiga tersebut kemudian pipet
ml ampuran dan campurkan ke dalam tabung reaksi k
lakukan prosedur tersebut pada tabung berikutnya sampai pada
tabung reaksi ke-10 pada baris pertam
ke- sampai pada tabung ke-10 pada baris pertama berisi 0,2
ml hasil pengenceran dari antisera, yakni pengenceran dari 1/1
sampai 1/512.
Pipet 0,2 ml suspensi
masukkan pada masing-masing tabung reaksi di baris pertama.
Pipet 0,2 ml suspensi 5% dari sel darah merah golongan B
asukkan pad
dan 0, m
Masukkan
menit dengan kec
Amati gumpalan yang terjadi.
Catat pada tabung pengenceran ke berapa tidak lagi terben-
tuk penggumpalan.
Lakukan juga prosedur tersebut pada pembanding (anti-A)
produksi B dan anti-A produksi P.
HASIL DAN DISKUSI
Hasil
Setelah dilakukan pembuatan
dari darah ke
:
arah manusia
ikan reaksi spesifik
kenaikan titer anti-
sera anti-A terhadap waktu imunisasi dapat dilihat pada lam-
piran II. Tingkat spesifik dan aviditas antisera anti-A yang
diperoleh dapat dilihat pada lampiran V dan VII.
B. Kelinci yang diimunisasi dengan sel-B darah manusia
Diperoleh antisera anti-B yang memberikan spesifik
ng
de an sel-B darah manusia. Perbandingan kenaik
hat pada lamp
antisera anti-B terhadap waktu dapat dili
Diskusi
Kelinci yang akan diberi
akan pemerik
alam serum d
en yang d
sia, dengan cara
dengan sel dara
A, B dan 0 dari darah merah manusia. Dari hasil pemeriksaan
tersebut terbukti tidak ada satupun serum darah dari kelinci
tersebut memberikan reaksi aglutinasi.
Dalam penelitian ini proses imunisasi terhadap masing-
masing kelinci dilakukan dengan memberikan antigen sel darah
era
m
h manusia ke dalam tubuh kelinci tersebut sebany
erian antigen
kali, yakni pada hari ke 1, 3, dan 5. Pemb
era
m
h manusia pada hari ke 1 dan 3 masing-masing berfungsi
untuk membentuk respon primer dan respon sekunder. Sedang-
pemberian antigen sel darah
kan
under pada tu
terjadi. Digun
en sel darah m
er pada tubuh ke-
ifkan makrofaga
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 39
dal m sistim imunisasi tubuh kelinci, sehingga respon yang
ditimbulkan oleh kelinci tersebut lebih maksimal. Pada hari ke
5 setelah pember
a
ian antigen (imunisasi), diadakan pemantauan
t
a pemantauan tersebut tidak
e
ungkin
h kadar antibodi yang terbentuk di dalam tubuh
keli
an tingkat titer antisera anti-A produksi B
mau
menggunakan metoda pengenceran. Pada ting-
sebesar 3,44, sedangkan
tingkat aviditas anti-A produksi P dan produksi B masing-
masing adalah 3,48 dan 3,50. Dari uji statistik didapatkan
bahwa perbedaan tingkat aviditas rata-rata ketiga antisera
tersebut tidak signifikan.
MPULAN
ntisera untuk penentuan golongan
sasi oleh antigen
)
Antisera anti-A yang diperoleh dari hasil penelitian me-
n
adan WHO. Antisera anti-A yang diperoleh
m
tas minimum yang
e
r maksimal 1/8.
er lama, antisera anti-A yang diperoleh dari
hasi
an produksi P. Pada tingkat titer 1/64,
avid
ri penelitian
annawan, Andreas Sanusi Kurniawan. Bio-
k
Or
per ama terhadap kelnungkinan terbentuknya antibodi di dalam
tubuh kelinci percobaan. Pad
dit mukan adanya antibodi yang diharapkan, hal ini m
disebabkan ole
nci percobaan tersebut masih sangat rendah sehingga tidak
terdeteksi dengan metoda aglutinasi yang digunakan. Dan hasil
evaluasi terhadap tingkat titer anti-A hasil penelitian diperoleh
tingkat titer sebesar 1/128. Tingkat titer ini lebih baik jika di-
bandingkan deng
pun P yang besarnya 1/64. Penentuan tingkat titer ini di-
lakukan dengan
kat titer 1/64, yakni tingkat titer minimal yang disyaratkan oleh
badan WHO untuk suatu reagen antisera anti-A hasil penelitian
memiliki tingkat aviditas rata-rata
ESI
K
1)
Dapat diperoleh suatu a
darah sistim ABO dari kelinci yang terimuni
sel darah merah manusia.
2
me uhi persyaratan tingkat titer dan aviditas minimum yang
ditetapkan oleh b
me iliki tingkat titer 1/128 dan aviditas rata-rata 3,440 detik.
3)
Antisera anti-B yang diperoleh dari hasil penelitian tidal(
memenuhi persyaratan tingkat titer dan avidi
dit tapkan oleh badan WHO. Antisera anti-B yang diperoleh
memiliki tingkat tite
4)
Pada tingkat tit
l penelitian mempunyai aviditas rata-rata yang tidak
berbeda secara signifikan dengan aviditas rata-rata antisera
anti-A produksi B d
itas rata-rata antisera anti-A yang diperoleh da
adalah 3,44 detik sedangkan aviditas rata-rata antisera anti-A B
adalah 3,48 detik dan aviditas rata-rata antisera anti-A produksi
P adalah 3,50 detik.
KEPUSTAKAAN
G
1.
anong WF. Review of Medical Physiology. 7th ed. San Francisco,
California: Lange Medical Publ Manizen C, Ltd. 1975. Hal. 37880.
2.
Martin, Mayer PA, Rod weel VW. Harpers Review of Biochemistry, 20th
ed. Diterjemahkan oleh Adji Dh
imia. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran, 1985. Hal. 70711.
3.
Mollison PL. Blood Transfusion in Clinical Medicine, 6th ed. Oxford,
London, Edinburgh: Blackwell Scient Publ 1979. Hal. 21163.
4.
Masri R. Almanak PMI. Jakarta: Palang Merah Indonesia, 1979. Hal.2125.
32.
5.
tho Diagnostic Inc. Blood Group Antigens and Antibody as Applied to
The ABC) and Rh System. New Jersey: Raritan 1969. Hal. 13,2122,2426,
2931.
6.
Sukantini S. Sistim Golongan Darah ABO, Bul Transfusi Darah (Mar)
1982; X (103): 912.
7.
Martin EW, Fullerton C. Remington's Practice of Pharmacy, 12th ed. Penn-
sylvania: Mack Publ Co. 1961, hal. 760.
Lampiran I. Pemeriksaan Pendahuluan
Tabel 1
Pemeriksaan Pendahuluan Reaksi Antigen Antibodi Serum Kelinci
terhadap Sel Darah Golongan A, B dan 0
Kelinci ATA ATB ATO
IA
IIA
IIIA
IB
IIB
IIIB
Keterangan : ATA = Aglutinasi Terhadap Sel Darah A
ATB
=
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
B
ATO =
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
O
=
Tidak
Terjadinya
Aglutinasi
Lampiran II. Kenaikan Titer Antisera-A
Tabel 2
Hasil Pemantauan Kenaikan Titer Antisera-A dalam Serum Kelinci
terhadap Waktu Setelah Imunisasl dengan Sel Darah A Manusia
I A
II A
III A
Hari ke
ATA ATB ATO ATA ATB ATO ATA ATB ATO
1
5
10 1/16
1/16 1/16
17 1/16
1/32 1/16
24 1132
1/32 1/64
31 1/128 1/128 1/128
38 1/128 1/128 1/64
45 1/64
1/64 1/32
Keterangan : ATA = Aglutinasi Terhadap Sel Darah A
ATB
=
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
B
ATO =
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
O
Lampiran HI. Kenaikan Titer Antisera-B
Tabel 3
Hasil Pemantauan Kenaikan Titer Antisera B dalam Serum Kelinci
Penelitian terhadap Waktu setelah Imunisasi dengan Sel Darah B Manusia
I B
II B
III B
Hari ke
ATA ATB ATO ATA ATB ATO ATA ATB ATO
1
5
10 1/4 1/4
17 1/4 1/4 1/4
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
40
24 1/8 1/8 1/4
31 1/4 1/8 1/8
38 1/4 1/4 1/4
45
1164
1/64
1/32
Keterangan : ATA = Aglutinasi Terhadap Sel Darah A
ATB
=
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
B
ATO =
Aglutinasi
Terhadap
Sel
Darah
0
Lampiran IV.
Diagram Kenaikan Titer Antisera versus Waktu Setelah Imunisasi
Lampiran V. Evaluasi Spesititas Antisera
Tabel 4
Hasil Evaluasi SpesiPisitas Antisera yang Didapatkan terhadap
Pemeriksaan Golongan Darah A B 0 dengan Menggunakan Pembanding
Antisera Produksi B
Antisera B
Nomor Sampel
Darah
Anti A
Anti B
AntiA
Hasil Penelitian
Golongan
Darah
1 +
+ A
2 +
+ A
3 +
+ A
4 +
+ A
5 +
+ A
6 +
+ A
7 +
+ A
8 +
+ A
9
+ B
10
+ B
11
+ B
12
+ B
13
+ B
14
B
+
15
B
+
16
B
+
17 +
+ +
AB
18 +
+ + AB
19 +
+ + AB
20 +
+ + AB
21 +
+ + AB
22 +
+ + AB
23
0
24
0
25
~ 0
26
0
27
0
28
0
29
0
30 0
Keterangan
=
ida
erja
glutinasi
piran VI.
lua
ing
tisera-A
5
H
va
in
t Ti
A
-A
sil
el
ib
ing
d
an
isera-A Produksi
an
er
T
:
+
=
Terjadi
T
Aghainasi
k
T
di
A
Lam
Eva
si T
kat Titer An
Tabel
ntisera
asil E luasi T gka
ter
Ha
Pen itian D and
kan
eng
Ant
B d P
Antis a-A
iter
Hasil Pen tian
1
eli
/128
Produksi B
1/64
Produksi P
1/64
Lampiran VII. Evaluasi Aviditas Antisera-A
andingkan
hadap
D
Tabel 6
Hasii Evaluasi Aviditas Antisera-A Hasil Penelitian Dib
dengan Antisera-A Produksi B dan Produksi P ter
arah Golongan A pada Tingkat Titer 1/64
No.
(detik)
(detik)
(detik)
Aviditas H.P
Aviditas P.B
Aviditas P.P
1 3,
1
0 3,
3,9
2 3,
0
1 3,
3,5
3 3,8 4,0 4,0
4 3,
8
0 2,
3,0
5 3,
8
7 2,
2,8
6 3,
5
2 3,
4,2
7 3,
1
9 4,
3,5
8 4,
3
2 4,
3,8
9 3,
2
8 3,
2,9
10 3,0 3,7 4,1
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 41
11 3,1 3,5 2,9
12 3
0
,4 3, 3,5
13 3
9
,2 2, 2,9
14 2
9
,8 2, 3,0
15 3
0
,2 4, 3,0
16 3,
0
9 4,
3,9
17 3
9
,9 2, 4,3
18 3,3 3,0 2,8
19 3,3 3,2 2,9
20 3,1 3,1 4,0
21 3,4 3,1 3,0
22 3,4 3,3 4,0
23 3,1 3,9 3,1
24 3,4 4,0 3,3
25 3,5 4,3 3,7
26 3,5 3,5 3,5
27 2,9 3,1 3,5
28 3,9 3,7 3,8
29 4,1 4,2 4,0
30 4,1 4,2 4,1
Jumlah 103,2 104,3 104,9
Rata-rata 3,44 3,48 3,50
Keterangan : H.P = Hash Penelilian
P.B
=
ProduksiB
P.P
=
Produksi
P
No. = Nomor Sample
Lampiran VIII. Perhitungan Statis
Hasil Evaluasl Aviditas Ant
-A
Tabel 7
Perhitungan Statistik
il Evalua
viditas Anti
-A Hasil Pen
an
Dibandingkan dengan Antisera-A
oduksi B dan
oduksi P ter
ap
Darah Golongan A pada Tingkat T
1/64
No.
X
X
tik
isera
Has
si A
sera
eliti
Pr
Pr
iter
had
X X X
X
1 3,0 00
9,61 3,9 1
9,
3,1
5,21
2 3,1 61
9,00 3,5 1
9,
3,0
2,25
3 3,8 ,44
16,00 4,0 1
14
4,0
6,00
4 3,0 00
7,84 3,0
9,
2,8
9,00
5 3,7 69
84 2,8
13,
2,8 7,
7,84
6 3,2 ,24
12,25 4,2
10
3,5
17,64
7 3,9 ,21
16,81 3,5
15
4,1
12,25
8 4,2 ,64
18,49 3,8
17
4,3
14,44
9 3,8 ,44
10,24 2,9
14
3,2
8,41
10 3,0 00
13,69
4,1
9,
3,7
16,81
11 3,1 61
12,25
2,9
9,
3,5
8,41
12 3,4 ,56 9,00 3,5
11
3,0
12,25
13 3,2 24
' 8,41 2,9
10,
2,9
8,41
14 2,8 84
8,41 3,0
7,
2,9
9,00
15 3,2
24 4,
00 3,0 9,
10,
0 16,
00
16 3,9 ,21
16,00 3,9 1
1
15
4,0
5,2
17 3,9 ,21 8,41 4,3 1
9
15
2,9
8,4
18 3,3 ,89 9,00 2,8
10
3,0
7,84
19 3,3 ,89
10,24 2,9
10
3,2
8,41
20 3,1 61
9,61 4,0 1
0
9,
3,1
6,0
21 3,4 ,56 9,61 3,0
11
3,1
9,00
22 3,4
56 3,
89 4,0 16,
11,
3 10,
00
23 3,1 61
15,21
3,1
9,
3,9
9,61
24 3,4 ,56
16,00 3,3 1
9
11
4,0
0,8
25 3,5
25 4,
49 3,7 13,
12,
3 18,
69
26 3,5 ,25
12,25 3,5 1
5
12
3,5
2,2
27 2,9 8,41 3,1 9,61 3,5 12,25
28 3,9 15,21 3,7 13,69 3,8 14,44
29 4,1 16,81 4,2 17,64 4,0 16,00
30 4,1 16,81 4,2 17,64 4,1 16,81
Jumlah
373,81
103,2 359,60 104,3 370,13 104,9
Life is what actually happens, not what we plan
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
42