Pemberian Dini Makanan lewat Pipa
pada Pasien Postoperasi
Bedah Digestif
Misbah Djalinz
Laboratorium Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang
PENDAHULUAN
Kekurangan gizi pada pasien rawat nginap merupakan
masalah yang sulit ditanggulangi. Masalah ini ditemui baik di
rumah sakit besar ataupun kecil, baik di negara maju maupun
negara sedang berkembang.
Perbaikan status gizi pada pasien yang memerlukan tindak-
an bedah, sangat penting untuk mempercepat penyembuhan luka
operasi dan penyakit dasarnya sendiri
(1)
.
Bristian dick. melaporkan bahwa 50% pasien bedah yang
dirawat di suatu rumah sakit di Boston, Amerika Serikat, men-
derita kurang gizi sedang sampai berat, sedangkan di bagian
penyakit dalamnya 44% kurang gizi. Peneliti ini berkesimpulan
bahwa pelayanan gizi di rumah sakit besar ini masih belum
memadai
(2.3)
.
Hill dick, (1977), melaporkan lebih dari 50% pasien yang
dirawat lebih dari seminggu di laboratorium Bedah, di sebuah
rumah sakit besar, Leeds, England, menderita anemia, malnu-
trisi ataupun defisiensi vitamin
@
>.
Tanphaichitr dkk, (1985), dari rumah sakit Rammathibodi
di Bangkok, melaporkan angka yang lebih tinggi. Di bagian
penyakit dalamnya 73% dan di bagian bedahnya 79% menderita
kekurangan gizi sedang sampai berat berdasarkan standar berat
badan dan tinggi badan
(5)
. Pasien rawat dengan kurang gizi berat
sampai sedang di rumah-rumah sakit besar di Indonesia di-
perkirakan tak banyak berbeda dengan yang di Bangkok, Thai-
land.
Hill dkk, (1977), menyimpulkan bahwa tingginya angka
kurang gizi pada pasien yang dirawat di bagian bedah adalah
karma kurangnya perhatian terhadap status gizi pasien yang
memerlukan tindakan bedah; mereka mendapatkan sepsis sering
terjadi setelah seminggu perawatan, dan sangat susah ditang-
gulangi, sebagian besar berakhir dengan kematian. Mereka
menyarankan supaya lebih memperhatikan status gizi pada
pasien gawat dan sangat gawat yang akan atau sudah melaku-
kan tindakan bedah; di samping itu mereka menyarankan juga
penekanan peranan ilmu gizi klinik dan metabolisme pada
kurikulum Fakultas Kedokteran.
Untuk meningkatkan status gizi pasien yang memerlukan
tindakan bedah digestif, dilakukan penelitian pemberian ma-
kanan dini lewat pipa, atau dengan mulut sesuai dengan ke-
mampuan penerimaan pasien paska bedah digestif.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian prospektif untuk mem-
bandingkan keefektifan pemberian makanan lewat pipa yang
diberikan secara dini, setelah peristaltik usus terdengar dengan
baik dan jelas pada pasien pasca bedah digestif, ini disebut
sebagai grup Sampel. Sebagai pembanding, pada grup yang lain
pemberian makanan disesuaikan dengan prosedur standar pe-
rawatan gizi pasca bedah di Lab. Bedah RSUP DR. M. Djamil
Padang, yang pada azasnya pemberian makanan per oral ber-
pedoman pada terdengarnya atau adanya flatus atau sudah ada
buang air besar setelah operasi bedah digestif; ini disebut grup
Kontrol. Tiga puluh orang pasien yang memerlukan tindakan
digestif dibagi dalam 2 grup berdasarkan waktu masuknya ke
rumah sakit, yang dipilih secara bergantian untuk Sampel pe-
nelitian (Sampel) atau untuk pembanding (Kontrol).
Perawatan postoperatifpasca bedah, baik pada grup Sampel
maupun pada grup Kontrol, seluruhnya mengikuti prosedur
standar yang berlaku di Lab. Bedah RSUP DR. M. Djamil
Padang, kecuali pada pasien Sampel diberikan makanan tam-
bahan sedini mungkin segera setelah peristaltik usus terdengar
dengan baik, melalui pipa lambung yang telah terpasang segera
setelah pembedahan dilakukan.
Pasien yang dipakai adalah pasien yang telah berumur 20
tahun atau lebih, laki-laki atau perempuan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
36
Penelitian dimulai sesuai dengan kapan operasi bedah
digestif dilakukan, dan pada hari itu disebut sebagai hari per-
tama operasi.
Setiap hari setelah operasi, jumlah makanan, minuman,
cairan lewat parenteral dicatat dan urine 24 jam ditampung
sampai pasien pulang.
Pemeriksaan berat badan, tinggi badan dilakukan sebelum
operasi, dan berat badan diukur sekali 5 hari paska bedah. Pe-
meriksaan Hb, albumin, total protein, glukosa darah dan tes
reduksi urine dilakukan sebelum operasi dan selanjutnya sekali
5 hari paska bedah sampai pasien pulang. Pemeriksaan kadar
urea dalam urine, urinary urea nitrogen (UUN) dalam urine
dilakukan tiap hari sejak hari pertama operasi sampai pasien
pulang.
Makanan per oral atau lewat pipa yang diberikan secara dini
adalah makanan cairan dengan protein tinggi dengan nama
dagang Peptisol® dengan cara pemberian sebagai berikut :
Peptisol® dilarutkan dengan air minum menjadi 300 ml; setelah
peristaltik terdengar dengan baik, cairan Peptisol® diberikan
sebagai berikut :
Pemberian
Makanan atau Peptisol®
atau minuman
(oral atau lewat pipa)
Jumlah cairan
pencuci pipa
lambung
0 - 12 jam pertama
12 jam kedua
12 jam ketiga
12 jam keempat
12 jam kelima
12 jam keenam
25 ml Peptisol®/jam
50 ml Peptisol®/jam
75 ml Peptisol®/jam
100 ml Peptisol®/jam
selingan ML
150 ml Peptisol®/jam
selingan ML + buah
200 ml Peptisol®/jam
selingan ML + buah
10 ml
10 ml
10 ml
10 ml
20 ml
20 ml
Bila toleransi pasien baik dosis ini dilanjutkan sampai
hari ke 5, selanjutnya diberikan makanan standar TKTP
(tinggi kalori tinggi protein) sampai pasien pulang.
Keseimbangan nitrogen diukur dengan rumus :
= (Protein intake/6,25)- (UUN + 20% x UUN + 2 g)
HASIL
Laporan ini merupakan laporan pcndahuluan (preliminary
report); penclitian ini sampai saat ini masih berjalan untuk
mendapatkan lebih banyak data. Karena kemungkinan bias pada
prosedur pengumpulan data, baik dalam pemilihan pasien dan
perbedaan pcnyebaran pcnyakit pada Sampel dan Kontrol yang
tidak mudah dihindari, maka diperlukan lebih banyak data untuk
menghasilkan kesimpulan yang agak lebih baik.
Pada laporan pendahuluan ini tidak dilakukan uji statistik
karma alasan tersebut di atas, dan hanya dilaporkan dalam
bcntuk deskriptif. Belum semua variabel yang diteliti dilaporkan
pada laporan pcndahuluan ini.
a.
Perubahan ukuran antropometrik
Beberapa variabel ukuran antropometrik waktu masuk dan
setelah 6 hari perawatan, status gizi dan kehilangan berat badan
selama 6 hari perawatan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rincian antropometrik dari Sampel dan Kontrol (Mean ± SEM)
Sampel
Kontrol
AGE
Berat badan awal (kg)
Berat badan hari ke 6 (kg)
Berat badan kurang dalam 6 hari
perawatan (kg)
Tinggi badan (cm)
BMI awal (kg/m')
BMI hari ke 6 (kg/m')
Malnutrisi sedang (%)
(BMI 18 - 20 kg/m
2
)
Malnutrisi berat (%)
(BMI kurang dari 18 kg/m')
44.1
48.4
47.6
0.12
152.1
20.9
20.6
7.1
35.7
± 3.7
± 3.2
± 2.9
± 0.08
± 1.6
± 1.4
± 1.2
33.1
50.1
48.3
3.35
162.3
19.0
18.1
18.7
43.7
± 4.1
± 2.2
± 2.3
± 0.6
± 1.9
± 0.7
± 0.6
Walaupun berat badan permulaan tak banyak berbeda
antara Sampel dan Kontrol, tetapi kehilangan berat badan se-
cara nyata sangat tinggi pada Kontrol, rata-rata lebih dari 3 kg
dalam 6 hari pertama paska bedah sedangkan pada Sampel lebih
kurang hanya 0.1 kg. Kehilangan berat badan tersebut mungkin
karena katabolisme yang sangat meningkat pada pasien Kontrol,
yang terlihat dengan tingginya ekskresi urea nitrogen dalam
urine sampai dengan hari ke 6 (Tabel 4, Gambar 1 B).
Tabel 1 memperlihatkan bahwa pasien yang dapat dikata-
gorikan kurang gizi sedang (BMI 18-20) dan kurang gizi berat
(BMI kecil dari 18) waktu masuk 42,8% pada pasien Sampel
dan 62,4% pada pasien Kontrol. Tidak banyak perbedaan antara
rata-rata BMI waktu masuk pada Sampel dan Kontrol, tetapi
setelah 6 hari perawatan terlihat kecenderungan penurunan yang
nyata pada Kontrol dari rata-rata 19,0 menjadi 18,1.
b.
Penyakit yang diderita
Diagnosis penyakit dilaporkan setelah operasi dan sebagian
diberikan setelah pemeriksaan patologi anatomik. Terdapat per-
bedaan yang sangat besar pada penyebaran penyakit (Tabel 2)
pada Sampel dan Kontrol yang tak mudah dihindari kecuali
dengan penambahan pasien; perbedaan ini sangat mungkin
mempengaruhi perbedaan yang sangat menyolok pada perjalan-
an penyakit termasuk kelainan morbiditas dan mortalitas pada
kedua grup.
Dari seluruh bedah digestif pada kedua grup, ileus obstruktif
dengan band, merupakan kasus terbanyak, 5 orang (38%) pada
Sampcl dan 6 orang (37%) dengan 1 orang meninggal pada
kontrol. Dari grup Kontrol, 3 orang (19% dari scluruh kasus)
meninggal dunia, 1 orang dengan ileus obstruktif tinggi cc. band,
1 orang dengan
'
ileus obstruktif rendah ec. the usus dan l orang
lagi trauma tumpul dengan ruptur di daerah ileum; tak ada
kematian pada grup Sampel. Seluruh kematian terjadi setelah 4
hari paska bedah. Kcmungkinan kematian disebabkan banyak
faktor, salah satunya yang terlihat, yang mungkin berpengaruh
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 37
Tabel 2. Diagnosis Pasien yang Diteliti
Diagnosis
Sampel
(n = 14)
Kontrol
(n = 16)
Cholelithiasis
Icterus Obstruktif extra hepatis
Deus Obstruktif tinggi ec. band
Deus Obstruktif rendah ec. the usus
Ca recti rendah
Peritonitis difus ec. appendisitis perforasi
Peritonitis difus ec. typhoid perforasi
Trauma tumpul, ruptur ileum
Luka tusuk, ruptur gaster
Myosarcoma, intraabdominal
3
1
5
2
2
1
5 + 1 (+)
1 (+)
1
4
1
1 (+)
2
Keterangan : (+) meninggal dalam perawatan post operatif.
adalah terlambatnya pemberian protein, dan asupan energi yang
tidak optimal sehingga terjadi kehancuran organ yang terlihat
dengan tingginya ekskresi urea dan rendahnya asupan protein.
Seluruh pasien yang meninggal sampai hari ke 4 perawatan
belum diberi protein baik lewat oral maupun parenteral.
c.
Pemberian Peptisol®
Pada seluruh pasien Sampel, pipa lambung telah terpasang
pasca bedah untuk persiapan pemberian Peptisol® secara dini,
dan juga berguna sebagai maag slang. Setelah peristaltik mem-
baik, yang berarti secara fisiologis usus telah dapat menerima
makanan, cairan Peptisol® diberikan sesuai dengan prosedur.
Rata-rata pasien sangat menyukainya, dan tidak ditemukan
komplikasi seperti kembung, mual dan muntah, diare pada dosis
di atas sampai hari ke 5 pemberian.
Rata-rata peristaltik usus mulai terdengar baik pada sampel
setelah 18,0 ± 3,7 jam (range 8 44 jam) pasca bedah, sedangkan
pada kontrol rata-rata 27,7 ± 6,8 jam (range 8 96 jam). Terdapat
perbedaan yang nyata dalam hal saat pemberian makanan per
oral atau lewat pipa lambung; pada grup Sampel, makanan
pertama rata-rata dimulai 29,7 ± 3,4 jam (range 10 51 jam)
pasca bedah, sedangkan pada Kontrol 52,7 ± 6,9 jam (range
18 96 jam) pasca bedah. Kalau dilihat perbedaan waktu antara
terdengarnya peristaltik dan permulaan pemberian makanan per
oral, pada Sampel rata-rata 12 ± 3,8 jam (range 1 38 jam),
sedangkan pada Kontrol 25,3 ± 6,6 jam (range 1 74 jam).
d.
Intake protein, kalori dan urea nitrogen urine
Rata-rata asupan protein, setelah discore (0 150 g/hari)
dilaporkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata Asupan Protein per hart
Hari 1
Hari 2
Hari 3
Hari 4
Hari 5
Protein Asupan
Score 0150 (g)
n % n % n % n % n %
0 0
1 50
51 100
101 150
Sampel
Kontrol
Sampel
Kontrol
Sampel
Kontrol
Sampel
Kontrol
11
15
3
1
79
94
21
6
3
9
10
7
1
21
56
71
44
8
5
5
7
8
4
1
31
36
44
57
25
7
3
4
9
8
4
2
19
29
56
57
25
14
3
7
11
5
3
1
19
44
79
31
21
6
Asupan 0 g per hari berarti tidak diberikan protein sama
sekali; pada grup Sampel sampai hari ke 2 hanya 3 orang (21%)
belum diberi protein, sedangkan pada grup Kontrol sampai
dengan hari ke 5, 3 orang (19%), masih belum menerima protein
per oral ataupun parenteral termasuk yang meninggal pada grup
Kontrol.
Pada asupan 51100 g/hari yang diharpkan tercapai sedini
mungkin, pada grup Sampel pada hari ke 5, sebanyak 11 orang
(79%), telah mencapai asupan tersebut, sedangkan grup Kontrol
hanya 5 orang (31%), yang mencapai asupan tersebut pada hari
ke 5.
Dengan prosedur standar perawatan gizi pasca bedah di
Lab. Bedah RSUP DR. M. Djamil Padang saat ini, terlihat ke-
terlambatan pemberian protein baik secara oral maupun paren-
teral; dan selain terlambat juga protein yang diberikan sangat
lambat ditingkatkan. Mungkin sekali ini merupakan faktor
utama tingginya angka kematian pada grup Kontrol dan ter-
lambat dicapainya keseimbangan nitrogen positif pada grup
Kontrol (Tabel 4).
Rata-rata asupan protein, asupan nitrogen dan ekskresi urea
nitrogen dalam urine diperlihatkan dalam Gambar 1. Gambar
1 A memperlihatkan tidak banyak perbedaan asupan energi
antara grup Sampel dan grup Kontrol pada hari 1, karena ke dua
grup sebagian besar menerima energi secara parenteral. Pada hari
ke 2 dan ke 3 terlihat perbedaan; grup Sampel menerima lebih
banyak energi karena diberi suplementasi lewat pipa lambung;
sedangkan hari ke 4 dan ke 5 dari segi asupan energi tidak banyak
perbedaan antara ke dua grup.
Berbeda halnya dengan asupan protein (Gambar 1 B);
terlihat perbedaan yang nyata antara grup Sampel dan grup
Kontrol, grup Sampel yang telah diberi suplementasi makanan
cair tinggi protein sedini mungkin, asupan proteinnya lebih
tinggi sejak hari ke 2 sampai hari ke 6 pasca bedah. Gambar 1 C,
memperlihatkan perbedaan ekskresi urea nitrogen; sejak hari ke
dua, ekskresi nitrogen pada grup Sampel, hampir merata sampai
hari ke 6, sedangkan pada grup Kontrol masih terlihat kecen-
derungan tinggi sampai dengan hari ke 6 pasca bedah; ini me-
nunjukkan tingginya katabolisme protein tubuh.
e.
Hubungan Keseimbangan Nitrogen dan Ekskresi Urea
dalam
Urine
Tabel 4 memperlihatkan perbedaan kecenderungan yang
tinggi antara keseimbangan nitrogen dan ekskresi urea pada grup
Sampel dan grup Kontrol.
Tabel 4. Rata-rata UUN/hari dan nitrogen balance (Mean ± SEM)
Sampel n = 14
Kontrol n = 16
UUN
(g/dl)
Nitrogen
Balance
UUN
(g/dl)
Nitrogen
Balance
Hari 1
Hari 2
Hari 3
Hari 4
Hari 5
Hari 6
12.7± 1.8
17.9± 1.9
18.2±2.6
20.4±2.1
17.0±2.7
16.4±2.8
8.2±0.9
9.2± 1.3
3.8±1.2
1.3±0.7
1.3±0.6
1.4±0.5
19.9±2.3
19.8±2.4
27.0±3.3
30.6±4.3
24.6±3.1
27.5±5.3
12.5± 1.3
13.5± 1.5
15.6±2.9
12.5±2.4
8.0±2.3
9.2±3.7
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
38
Gambar 1. Kalori 24 Jam (A), Asupan Protein (B) dan Urea Urinary
Nitrogen UUN (C) pada pasien-pasien Sampel dan Kontrol
sesudah
operasI
besar
bedah
digestif
Rata-rata grup Sampel telah mencapai keseimbangan nitro-
gen positif pada hari ke 5 dan ke 6, sedangkan keseimbangan
nitrogen positif pada grup Kontrol belum dicapai sampai hari ke
6 pasca bedah. Ini berarti sampai hari ke 6, secara rata-rata protein
yang masuk dan yang diekskresikan dalam bentuk nitrogen
belum seimbang atau belum berlebih, akibatnya sampai hari ke
6 masih terjadi katabolisme protein tubuh dengan penurunan
berat badan yang tinggi pada grup Kontrol (tabel 1), dan tinggi-
nya ekskresi urea dalam urine (tabel 4, gambar 1).
DISKUSI
Untuk peningkatan status gizi pasien rawat nginap, pem-
berian makanan lewat mulut ataupun penggunaan lewat pipa,
sejauh memungkinkan dan tidak ada kontraindikasi akan lebih
baik dari pemberian lewat vena perifer ataupun lewat vena
sentral karena relatif mudah, murah dan komplikasinya mudah
diketahui dan ditanggulangi dengan cara yang relatif sederhana.
Pemakaian teknik makanan lewat pipa (MLP) makin di-
kembangkan bersamaan dengan berkembangnya teknologi ma-
kanan lewat pipa dan tersedianya berbagai ukuran pipa dan
pompa khusus
(6)
. Telah dilaporkan bahwa pemberian makanan
lewat pipa pada pasien gawat dan sangat gawat ditinjau dari
segi teknis, biaya dan keberhasilannya untuk berbagai keadaan
lebih baik dari cara paranteral terutama untuk berbagai keadaan
termasuk kelainan neurologis pada usia lanjut
(7)
, tumor daerah
leher, kepala dan saluran pencernaan bagian atas
(8)
, tumor lam-
bung
(9)
, gagal jantung khronik
(10)
; pada operasi bedah digestif
yang memanipulasi saluran cerna, pemberian makanan lewat
mulut atau menggunakan pipa lambung jauh lebih penting ka-
rena perbaikan sel mukosa usus yang rusak akibat penyakitnya
sendiri ataupun karena luka operasi hanya akan berkembang
baik bila tersedia zat gizi yang cukup. Dan rangsangan untuk
peristaltik usus, enzim-enzim dan hormon pencernaan makanan,
sangat tergantung dari tersedianya makanan dalam saluran cerna
sendiri
(12)
. Pemberian makanan sedini mungkin lewat saluran
pencernaan sangat penting, terutama pada kasus-kasus bedah
digestif, guna perbaikan sel-sel mukosa usus yang rusak akibat
operasi, sehingga fungsi saluran pencernaan dapat pulih dengan
baik.
Operasi bedah digestif menimbulkan berbagai tingkat stres
yang tergantung dari berbagai faktor, termasuk jenis penyakit
yang diderita, lamanya, status gizi sebelum operasi dan penyakit-
penyakit penyertanya; stres akan meningkatkan katabolisme
tubuh dengan cara glikogenolisis dan glukoneogenesis, sedang-
kan lipolisis ditekan, sehingga sebagian besan menggunakan
sumber protein tubuh untuk energi. Pemberian protein secara
dini pada tindakan bedah akan mengurangi katabolisme protein
tubuh yang dapat dipantau secara sederhana melalui berku-
rangnya penurunan berat badan, berkurangnya ekskresi urea
dalam urin, dan cepat tercapainya keseimbangan nitrogen po-
sitif. Pada sires hebat seperti pada luka bakar telah dilaporkan
keberhasilan pemberian dini makanan yang mengandung tinggi
protein, sehingga mengurangi morbiditas dan mortalitas:
Pemberian dini zat gizi yang cukup kalori dan tinggi protein
sesuai dengan toleransi penerimaan pasien akan mencegah
penghancuran protein tubuh yang berlebihan akibat stres luka
bakar sendiri, mengurangi penurunan berat badan yang berle-
bihan dan merupakan manajemen yang rasional sebelum pasien
jatuh dalam sepsis, yang sampai saat ini tingkat kematiannya
sangat tinggi(
13
). Chiarelli dkk melaporkan bahwa pemberian
sangat dini makanan lewat pipa, rata-rata 4 jam setelah pasien
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 39
terkena luka bakar sedang sampai berat, cukup aman, toleransi
pasien cukup baik, dapat menghindari kehancuran tubuh yang
berlebihan melalui tercapainya keseimbangan nitrogen positif
dengan cepat, dan penurunan berat badan lebih rendah dari
kontrol
(14)
.
Pada laporan pendahuluan ini terlihat perbaikan beberapa
variabel status gizi pada pemberian dini makanan lewat pipa
ataupun mulut. Pada pasien sampel, yang diberi tambahan ma-
kanan cair tinggi protein (Peptisol®) lewat pipa sedini mungkin,
di samping pemberian cairan, elektrolit dan kalori secara pa-
renteral sesuai dengan prosedur standar perawatan pasca bedah
digestif, terlihat dalam 6 hari pasca bedah kehilangan berat
badan rata-rata hanya 0,12 kg, dibandingkan dengan 3,35 kg
pada pasien tanpa makanan tambahan dini (Tabel 1). Penurunan
rata-rata BMI, yang secara kasar memperlihatkan keadaan
protein tubuh, pada sampel hanya dari 20,9 menjadi 20,6 kg/m
2
,
dibandingkan dengan kontrol yang rata-rata turun dari 19,0
menjadi 18,1 kg/m
2
.
Keseimbangan nitrogen juga cepat menjadi positif pada
grup sampel, dimana pada hari ke 5 pasca bedah rata-rata telah
mencapai keseimbangan nitrogen positif + 1,3 dibandingkan
dengan kontrol yang sampai hari ke 6 masih dalam keadaan
keseimbangan nitrogen negatif 9,2 (Tabel 4). Ekskresi urea
nitrogen yang menggambarkan tinggi rendahnya katabolisme
protein tubuh, pada sampel, pada hari ke 6 sudah mulai me-
nurun, sedangkan pada kontrol walaupun telah menurun tetapi
ekskresi rata-ratanya masih tinggi.
Dari hasil penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan
bahwa pemberian makanan cair tinggi protein lewat pipa lam-
bung sedini mungkin pasca bedah digestif memberikan pen-
cegahan/perlindungan, walaupun tidak secara keseluruhan, ter-
hadap katabolisme protein tubuh yang berlebihan akibat respon
stres oleh penyakitnya sendiri dan tindakan bedah yang di-
lakukan.
KEPUSTAKAAN
1.
Mullen JM, GertnerMH, Busby GP, Goodhart GL, Rasato EF. Implication
of malnutrition in the surgical patient. Arch Surg. 1979; 114: 121-5.
2.
Bristian BR, Blackburn GL, Hallowell E, Reddle R. Protein status of
general surgical patients. JAMA 1974;' 230: 858-60.
3.
Bristian BR, Blackburn GL, Vitale J, Cocharan D, Naylor J. Prevalence of
malnutrition in general medical patients. JAMA 1976; 235: 167-70.
4.
Hill GL et al. Malnutrition in surgical patients: an unrecognised problem.
Lancet 1977; 1: 689-92.
5.
Tanphaichitr V, Leelahagul P, Puchaiwatananom 0, Kulapongse S. Nutri-
tion support in a Thai hospital setting. In: Recent Advances in Clinical
Nutrition. Wahlqvist ML, Truswell AS. (Eds.). London: John Libbey 1986.
6.
Bristian BR, Jaksic T. Advances in hospital nutrition, J. Am. Coll. Nutr.
1989; 8 (S): 3S-11S.
7.
Abernathy GR, Heizer WD, Holcombe BJ, Raasch RH, Schlegel KE, Hak
LJ. Efficacy of tube feeding supplying energy requirements of hospitalized
patients. JPEN 1989; 13 (4): 387-91.
8.
Gardine RL, Kokal WA, Beatty JD, Riihimaki DU, Wagman LD, Terz JJ.
Predicting the need for prolonged enteral supplementation in the patient
with head and neck cancer. Am. J. Surg. 1988; 156 (1): 63-5.
9.
Keymling M, Lubke Womer W. Chemotherapy and enteral nutrition in
stomach. Infusions therapie. 1988; 15 (2): 84-8.
10.
Heymsfield SB, Casper K. Congestive heart failure : Clinical management
by use of continuous nasoenteric feeding. Am. J. Clin. Nutr. 1989; 50:
539-44.
11.
Sysoev IA, Vorobeva VM, Sidorenko VI. Enteral feeding of patients with
surgical diseases of the digestive tract using the soviet balanced food
mixture Inpitan. Vopr-Pitan (Russian; Non-English). 1987; 3: 19-24.
12.
Levine GM. SHort gut syndrome and intestinal adaptation. In: Nutrition in
Gastrointestinal disease. (RC Kurtz Ed.). New York: Churchill Living-
stone. 1981; pp 101-13.
13.
Dudrick SJ. Nutrition therapy in burn patients. J Trauma 1979; 19 (11):
908-9.
14.
Chiarelli A, Enzi G, Casadei A, Baggio B, Valerio A, Mazzoleni F. Very
early nutrition supplementation in bum patients. Am. J. Clin. Nutr. 1990;
51: 1035-9.
15.
McCarthy MC. Nutritional support in the critical ill surgical patient, Surg
Clin N Am. 1991; 71 (4): 831-41.
It is good' to be wise, and wise to be good