background image
HASIL PENELITIAN
Inokulasi Plasmodium berghei
pada Beberapa Strain Mencit
Siti Sundari, Edhie Sulaksono, Rabea Pangerti Yekti, Subahagio
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit malaria masih merupakan masalah di Indonesia
karena sering terjadi wabah yang tidak diduga dan juga ditemukan
resistensi terhadap obat yang sering digunakan. Untuk itu sering
diadakan penelitian mengenai penyakit parasit dan pengembang-
an vaksin menggunakan hewan rodent sebagai model, karena
rodent merupakan binatang percobaan yang mudah ditangani,
mudah dipelihara dan banyak keturunannya.
Plasmodium berghei ANKA adalah suatu haemoprotozoa
yang menyebabkan penyakit malaria pada rodent.
Maksud dan tujuan penelitian ini untuk mencari strain men-
cit yang dapat dipakai sebagai model untuk penelitian malaria.
METODOLOGI
Hewan percobaan
Diperlukan 18 ekor mencit Swiss derived, 18 ekor Balb/c
dan 18 ekor C3H masing-masing berumur 3 minggu, berat 20
gram. Semua mencit diadaptasikan lebih dahulu terhadap kon-
disi laboratorium selama 2 minggu dan diberi makanan adli-
bitum; makanan berbentuk pelet.
Parasit
Plasmodium berghei ANKA diperoleh dan Walter Reed
Institute Amerika Serikat dalam bentuk Sporozoite Pass yang
dipelihara di dalam laboratorium.
Cara pertama dengan memelihara parasit ini dalam makhluk
hidup yaitu mencit; untuk itu setiap minggu beberapa ekor
mencit sehat dinokulasi dengan darah yang mengandung 2%
sporozoit. Pemindahan ini perlu karena mencit yang telah ter-
infeksi akan mati bila tak diobati.
Cara kedua : darah yang telah terinfeksi dimasukkan ke
dalam larutan gliserin kemudian disimpan dalam temperatur
­70°C atau disimpan dalam tabung nitrogen cair.
Cara kerja
Strain mencit yang digunakan untuk penelitian yaitu strain
Swiss derived, Balb/c dan C3H:
Setiap strain mencit sebanyak 18 ekor dibagi menjadi 3
kelompok, masing-masing kelompok 6 ekor, kelompok pertama
disuntik secara intraperitoneal dengan 0,25 ml darah yang
mengandung 2% sporozoit Plasmodium berghei. Pengamatan
(preparat darah tepi diambil dari mata, temperatur) dilakukan
ABSTRAK
Dilakukan penelitian mencari hewan model yang tepat, yang dapat digunakan untuk
penyakit malaria, dengan melakukan inokulasi Plasmodium berghei pada strain Swiss
derived, Balb/c dan C3H masing-masing 18 ekor.
Mencit diinfeksi dengan 0,25 ml darah mengandung 2% parasit yang berasal dari
mencit yang telah terinfeksi dengan sporozoit Plasmodium berghei secara intraperitoneal.
Pengamatan dilakukan setiap hari.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mencit Swiss derived dapat dipakai sebagai
model untuk penelitian penyakit malaria karena hidup lebih lama dibandingkan dengan
strain lainnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 35
background image
setiap hari pada mencit tadi. Selama percobaan berlangsung
semua mencit dipelihara di tempat yang berkondisi sama, ruang
yang suhunya 27°C kelembaban relatif 90%, dilengkapi dengan
AC.
Kelompok berikutnya sama disuntik dengan Plasmodium
berghei dan darah mencit kelompok pertama sebanyak 0,25 ml
darah secara intraperitoneal. Pada kelompok ketiga dilakukan
hal yang sama dengan darah yang diambil dan kelompok kedua.
HASIL DAN DISKUSI
Pada Grafik 1 dan mencit strain Swiss derived yang di-
Grafik 1. Suhu Tubuh Mencit Strain Swiss derived yang diinfeksi dengan
Plasmodium berghei ANKA
infeksi dengan Plasmodium berghei terlihat bahwa pada ke-
lompok 1 temperatur rata-rata 39,2°C pada saat diinfeksi ke-
mudian naik sampai 39,4°C, lalu pada hari ke 4 turun drastis
sampai hari ke 7. Pada kelompok ke 2 (BPI) dan hari pertama
temperatur 39,0°C terus turun sampai hari ke 13 tidak begitu
drastis. Pada kelompok ke 3 (BP2) temperatur turun tetapi tidak
drastis sampai hari ke 14, temperatur 39,0°C sampai 35,0°C.
Grafik 2. Suhu Tubuh Mencit Strain Balb/c yang diinfeksi dengan plasmo-
dium berghei ANKA
Pada Grafik 2 terlihat bahwa pada mencit Balb/c yang
diinfeksi dengan Plasmodium berghei terlihat kelompok 1 pada
hari ke 4 temperatur turun drastis dan 39,2°C hari ke 7 turun
32,3°C. Pada kelompok ke 2 (BPI) temperatur hari 1 39,6°C
kemudian turun sampai hari ke 7 sebesar 35,2°C. Pada kelompok
ketiga (BP2) terlihat bahwa pada hari I temperatur 38,5°C
kemudian hari ke 2 naik menjadi 39,5°C kemudian turun tetapi
tidak drastis sampai hari ke 8 sebesar 32,6°C.
Grafik 3. Suhu Tubuh Mencit Strain C3H yang diinfeksi dengan Plasmo-
dium berghei ANKA
Pada Grafik 3 dan mencit C3H diinfeksi dengan Plasmo-
dium berghei.
Pada kelompok ke 1 terlihat bahwa temperatur 39,3°C terus
turun sampai pada hari ke 9 temperatur 32,5°C. Pada kelompok
2 tenlihat bahwa temperatur mulai turun hari pertama secara
drastis, pada hari ke tujuh dengan temperatur 32,6°C. Pada
kelompok 3 terlihat bahwa temperatur 39,3°C lalu turun terus
sampai hari ke 10 dengan temperatur 32,2
o
C.
Grafik 3. Suhu Tubuh Mencit yang diinfeksi dengan Plasmo dium berghei
ANKA
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
36
background image
Pada Grafik 4 terlihat bahwa temperatur mencit Swiss
derived yang terinfeksi dengan Plasmodium berghei mulai turun
tidak begitu drastis pada hari pertama sampai hari ke 14.
Pada Grafik 6 terlihat parasitemia pada C3H kelompok
pertama naik kemudian turun tetapi kemudian naik lagi terlalu
drastis; begitu juga dengan kelompok ke dua dan ke tiga tidak
begitu stabil.
Mencit Swiss derived yang diinfeksi dapat hidup lebih dari
hari ke 14; mencit ini mudah diternakkan. Mencit balb/c hanya
dapat hidup sampai hari ke 9 bila tidak diobati; sulit diter-
nakkan. Mencit C3H hanya dapat hidup sampai hari ke 10.
Grafik 7. Pertumbuhan Parasit Plasmodium berghai ANKA pada Mencit
Balb/c
sampai
dengan
pasase
ke-3
Grafik 5. Pertumbuhan Parasit Plasmodiun berghei ANKA pada Mencit
Swiss derived sampai dengan pasase ke-3
Sumber : Puslit Penyakit Menular
Pada Grafik 7 terlihat bahwa parasitemia pada mencit
balb/c tidak stabil, naik turun.
Pada Grafik 5 terlihat parasitemia pada mencit strain Swiss
derived kelompok pertama naik turun, pada kelompok kedua
(BP1)juga naik turun tetapi lebih tinggi dari kelompok pertama.
Pada kelompok ke 3 (BP2) terlihat juga parasitemianya naik
turun dan lebih tinggi dari yang pertama maupun yang ke dua.
Hal ini menandakan bahwa pasage meningkatkan parasitemia-
nya.
KESIMPULAN
Mencit Swiss derived, mencit Balb/c dan C3H dapat dipakai
untuk penelitian malaria, tetapi Swiss derived lebih baik karena
lebih lama tahan terhadap Plasmodium berghei dan mudah
diternakkan.
Grafik 6. Pertumbuhan Parasit Plasmodium berghei ANKA pada Mencit
C3H sampai dengan pasase ke-3
KEPUSTAKAAN
1. Li Cong-jun, Qian Yong-le, Chen Lin. Response of Plasmodium berghei
ANKA strain to some anti malanals. Acta PharmacologicaSinica, l98 6(2):
129°31.
2. Omar SH, El Matarawy CM, El Naggar SM, Abdel-Salam NMN. El-
Rehemi HH. The course of Plasinodium berghei infection in mice
subjected to variable dosages of parasite and the peak parasitaemia
obtained accordingly. J Egypt Soc Parasitol. 16(2): 757­760.
3. Sadikin M. Peningkatan daya tahan tubuh oleh kenaikan suhu tubuh pada
mencit terinfeksi dengan Plasmodium bergheiANKA . Cermin Dunia Kedokt
1989; 55: 32­7.
4. Dewi RM, Sulaksono EM. Pengaruh pasase Plasmodium berghei pada
mencit strain Swiss. Cermin Dunia Kedokt 1994; 94: 6 1­3.
5. Suwarni, Tuti 5, Dewi RM, Marwoto HA. Pengaruh klorokuin terhadap
jumlah parasit pada mencit yang infeksi dengan Plasmodium berghei.
Cermin Dunia Kedokt. 1994; 94:58­60.
Sumber : Puslit Penyakit Menular
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 37
background image
HASIL PENELITIAN
Tingkat Keracunan Pestisida pada
Penyemprot Pertanian/Perkebunan
Di Jawa Timur
Sri Sugihati Slamet
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan, RI Jakarta
PENDAHULUAN
Di beberapa negara, produksi pertanian yang cukup dan
melimpah telah dapat dicapai antara lain dengan penggunaan
pestisida dengan cara yang tepat dan aman.
Namun demikian pestisida adalah bahan yang beracun dan
berbahaya, yang apabila tidak dikelofa dengan benar dapat me-
nimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang mungkin bisa
muncul adalah terjadinya keracunan pada tenaga penyemprotnya
apabila tidak memakai peralatan yang memadai.
Walaupun sejak Repelita Ketiga telah ditetapkan program
penyehatan lingkungan pemukiman, dengan upaya pengamanan
pestisida merupakan salah satu pokok kegiatan, namun di la-
pangan masih ditemukan tenaga penyemprot yang belum meng-
gunakan alat proteksi pengaman dan terbukti masih adanya
tenaga penyemprot yang keracunan.
uk mengetahui tingkat keracunan tenaga penyemprot di
pertanian dan perkebunan dilakukan kegiatan pemantauan pe-
maparan pestisida pada tenaga penyemprot di pertanian/perke-
bunan.
Dari hasil pemantauan ini dapat diketahui berapa besar
tenaga penyemprot di pertanian/perkebunan mengalami ke-
racunan.
KEGIATAN
Lokasi
Kegiatan pemantauan dilaksanakan pada 4 (empat) Daerah
Tingkat II, masing-masing Daerah Tingkat II memilih kecamat-
an yang mempunyai kegiatan penyemprotan paling tinggi, dan
diarahkan pada daerah pertanian dan perkebunan (pemakai pes-
tisida paling banyak). tJntuk penentuan daerah pemantauan di-
koordinasikan dengan Dinas Pertanian dan Penyuluh Pertanian
Lapangan setempat.
Peralatan
Alat yang dipergunakan adalah Tinto Meter dan reagensia
yang diperlukan adalah BTB dan Acetyicholin perchiorat.
Ketenagaan
Tenaga pelaksana adalah gabungan dan Dir. Jen. PPM &
PLP, Puslitbang Farmasi, Dinas Kesehatan Tingkat I, Dinas
Kesehatan Tingkat II dan Tenaga Puskesmas.
Waktu Pelaksanaan
Penentuan waktu pemeriksaan disesuaikan dengan saat
tenaga penyemprot di pertanian/perkebunan paling sering me-
lakukan penyemprotan (data bulan penyemprotan dalam tahun
yang bersangkutan ada di penyuluh pertanian lapangan daerah
ABSTRAK
Pemakaian pestisida di pertanian dan perkebunan semakin meningkat; meningkatnya
pemakai pestisida ini ternyata diiringi pula dengan tingginya tingkat keracunan tenaga
penyemprot di pertanian/perkebunan. Dengan melihat aktivitas cholinesterase darah
tenaga penyemprot pada 4 (empat) kabupaten di Jawa Timur tahun 1993­1995 ternyata
tingkat keracunan mencapai 50%.
Untuk menurunkan jumlah tenaga yang keracunan, diperlukan penyuluhan dan
pemeriksaan berkala. Pemakaian alat pelindung yang beuar dan teknik penyemprotan
yang benar akan menurunkan jumlah tenaga yang keracunan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
38
background image
masing-masing.
n 1993 s/d 1995.
esarnya Sampel
Juml
masing-m
nyataan
HASIL
Jumlah tenaga yang bisa diperiksa san
kabupaten dengan kabupeten yang Iainny
abel 1. Tenaga Penyemprot yang Diperiksa Tingkat Keracunannya
Tahun
1993­1995.
Dilakukan sejak tahu
B
ah tenaga penyemprot yang diperiksa diharapkan dari
asing kecamatan 100 (seratus) orang, walaupun ke-
di lapangan sangat bervariasi.
gat bervariasi dari satu
a (Tabel 1).
T
Tahun
No.
Kabupaten
1993/1994 1994/1995
Jumlah
1
2
3
4
Jember
Lumajang
Malang
Banyuwangi
154
109
114
132
98
29
28
77
138
142
209
252
Jumlah
509
232
741
Jumlah tenaga yang bisa diperiksa pada tahun 1994­1995
angat turun bila dibandingkan dengan tahun 1993­1994.
Tabel 2.
Hasil Pemeriksaa
Penyemprot
di
4
k
s
n Aktivitas Cholinesterase Darah Tenaga
abupaten,
tahun
1993­1995.
Tahun
1993-1994 1994-1995
Kera-
cunan
Normal
Kera-
cunan
Normal
-
No. Kabupaten
Jum-
Lah
% %
Jum-
lah
% %
rangan
Kete
1
2
Jember
Lumajang
154
109 58
76
71
54
67
54
51
38
61
46
13
46
29
28
77
8
13
51
28
47
66
21
15
26
72
53
34
3
4
Malang
Banyuwangi
114
132
52 34 102 66 98 88 90 10 10
Jumlah/
Rata-arata
509 257 52 252 48 232 160 58 72 42
Keterangan : Keracunan : (0 ­ 75%)
Normal : (>
75
­
100%)
Tingkat keracunan pada tenaga penyemprot masih tinggi (di
atas 50%).
Pada tahun 1993­1994, hasil pemeriksaan menunjukkan
Tabel 3.
Hasil Pemeriksaan Aktivitas Cholinesterasa Darah Tenaga
Penyemprot
di
pertanian dan perkebunan, tahun 1993­1994.
Aktivitas Cholinesterase
tingkat keracunan paling besar berada pada tingkat ringan.
Pada tahun 1994­1995, hasil pemeriksaan menunjukkan
tingkat keracunan paling besar berada pada tingkat ringan.
Tingkat Keracunan
Berat Sedang Ringan Normal
No. Kabupaten
% % % %
Jumlah
1
2
3
4
Jember
Lumajang
Malang
Banyuwangi
1
2
4
­
0,5
2
3,5
21
18
13,5
165
30
38
19,5
40
102
51
66
46,5
­
20
9
175
7
52
62
45,5
47
38
61
33
46
154
109
114
132
Keterangan:
erat : (0­
25%) Ringan : (
>50­
75%)
Sedang : (>25
­
50%)
Normal : (>75
­
100%)
meriksaan Aktivitas Cholinesterasa Darah Tenaga
di
pertanian dan perkebunan, tahun 1994­1995.
Aktivitas Cholinesterase
Keracunan
B
Tabel 4.
Hasil Pe
Penyemprot
Tingkat Keracunan
Berat Sedang Ringan Normal
No.
Kabupaten
% % % %
Jumlah
1
2
3
4
Jember
Lumajang
Malang
Banyuwangi
1
­
­
­
1
­
­
­
29
2
2
6
29
7
7
8
58
6
11
45
58
6
11
45
10
21
15
26
10
72
54
34
98
29
28
77
Keterangan:
Keracunan
Berat : (0­
25%) Ringan
Sedang : (>25
­
50%)
Normal :
: (
>50­
75%)
(>75
­
100%)
N DAN SARAN
l pemeriksaan menunjukkan bahwa keracunan pesti-
yuluhan yang berkala untuk mengingatkan
alat pelindung yang benar dan teknik penyemprotan
KESIMPULA
Hasi
i
s da pada tenaga penyemprot masih tinggi (>50%), walaupun
tingkat keracunannya pada tingkat ringan.
Hasil pemeriksaan menggambarkan bahwa tenaga penyem-
prot masih perlu diingatkan betapa pentingnya pernakaian alat
pelindung pada saat melakukan penyemprotan.
Perlu pemeriksaan darah secara berkala untuk mengetahui
perkembangan tingkat keracunan yang ada.
Perlu adanya pen
penggunaan
yang memenuhi persyaratan.
All great discoveries are made by men wh
ose feelings run ahead af their thinking
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 39