background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Hipotensi Ortostatik
Muljadi Hartono
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta
ABSTRAK
Diagnosis klinis Hipotensi Ortostatik ditegakkan bila didapatkan penurunan tekanan
darah sistolik yang menetap di bawah 80 mmHg atau penurunan tekanan sistolik lebih
dari 30 mmHg yang diikuti oleh gejala klinis.
Hipotensi Ortostatik dapat terjadi pada segala tingkatan usia, hanya saja ada ke-
pertambahan usia. Banyak kondisi atau
si ortostatik. Tidak memadainya mekanisme
okrin-metabolik, penyakit jantung, penyakit
ik.
am maka anamnesis yang terarah serta pe-
alam mendiagnosis. Adanya gejala neuropati
s.
ia
memegang peran cukup penting dan
mum tidak membuahkan hasil. Fludrokorti-
an dalam situasi patologis ini.
PENDAHULUAN
Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting bagi
sistem sirkulasi. Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan
mempengaruhi homeostasis tubuh. Jika sirkulasi darah menjadi
tidak memadai lagi, maka terjadi gangguan pada sistem transpor
O
2
, CO
2
serta hasil metabolisme lainnya
(1)
.
Tekanan darah memiliki sifat yang dinamis. Pada perubahan
posisi tubuh, dari tidur ke berdiri, tekanan darah akan mengada
kan penyesuaian untuk dapat tetap menunjang kegiatan tubuh;
adalah hal yang normal bila penurunan tekanan darah sistolik
kurang dari 30 mmHg yang disertai peningkatan frekuensi
denyut jantung 11 hingga 20 kali/menit
(1-3)
.
Diagnosis Hipotensi Ortostatik patut dipertimbangkan bila
dijumpai penurunan tekanan darah sistolik yang menetap di ba
wah 80 mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik lebih dari
Hipotensi Ortostatik dapat terjadi pada segala tingkatan
usia
(4)
. Hanya saja ada kecenderungan peningkatan jumlah kasus
seiring dengan pertambahan usia. Diduga 20% pasien yang
berobat jalan dengan usia di atas 60 tahun dan 30% dengan usia
di atas 75 tahun menderita gangguan ini
(5,6)
, morbiditas dan
mortalitas akibat jatuh dan sinkope pada usia lanjut sering
berhubungan dengan gangguan ini
(6)
.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai patotisiologi,
etiologi, gejala klinis, diagnosis serta pengelolaan hipotensi
ortostatik.
PATOFISIOLOGI
Pada perubahan posisi tubuh misalnya dari tidur ke berdiri
maka tekanan darah bagian atas tubuh akan menurun karena
30 mmHg yang diikuti oleh gejala klinis
(2,4)
.
cenderungan peningkatan prevalensi seiring
situasi yang merupakan predisposisi hipoten
homeostasis, penggunaan obat, kelainan end
saraf mampu menyebabkan hipotensi ortostat
Gejala klinis yang terjadi cukup berag
;
n obat
meriksaan klinis yang cermat dibutuhkan d
autonom membutuhkan pemeriksaan neurologi
Di samping pengelolaan umum, pember
hendaknya dilakukan setelah pengelolaan u
son merupakan preparat yang sering digunak
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 33
background image
pengaruh gravitasi. Pada orang dewasa normal, tekanan darah
arteri rata-rata pada kaki adalah 180­200 mmHg. Tekanan darah
arteri setinggi kepala adalah 60­75 mmHg dan tekanan venanya
0. Pada dasarnya, darah akan mengumpul pada pembuluh kapa-
sitans vena ekstremitas inferior: 650 hingga 750 ml darah akan
terlokalisir pada satu tempat. Pengisian atrium kanan jantung
akan berkurang, dengan sendirinya curah jantung juga berkurang
sehingga pada posisi berdiri akan terjadi penurunan sementara
tekanan darah sistolik hinga 25 mmHg, sedang tekanan diastolik
tidak berubah atau meningkat ringan hingga 10 mmHg.
Penurunan curah jantung akibat pengumpulan darah pada
anggota tubuh bagian bawah akan cenderung mengurangi darah
ke otak. Tekanan arteri kepala akan turun mencapai 20­30
mmHg. Penurunan tekanan ini akan diikuti kenaikan tekanan
parsial CO
2
(pCO
2
) dan penurunan tekanan parsial O
2
(pCO
2
)
serta pH jaringan otak. Secara reflektoris, hal ini akan
merangsang baroreseptor yang terdapat di dalam dinding dan
hampir setiap arteri besar di daerah dada dan leher; namun dalam
jumlah banyak didapatkan dalam dinding arteri karous interna,
sedikit di atas bifurcatio carotis, daerah yang dikenal sebagai
sinus karotikus dan dinding arkus aorta.
Respon yang ditimbulkan baroreseptor berupa peningkatan
tahanan pembuluh darah perifer, peningkatan tekanan jaringan
pada otot kaki dan abdomen, peningkatan frekuensi respirasi,
kenaikan frekuensi denyut jantung serta sekresi zat-zat vasoaktif.
Sekresi zat vasoaktif berupa katekolamin, pengaktifan sistem
Renin ­ Angiotensin ­ Aldosteron, pelepasan ADH dan neuro-
hipofisis.
Kegagalan fungsi refleks autonom inilah yang menjadi
penyebab timbulnya hipotensi ortostatik, selain oleh faktor
penurunan curah jantung akibat berbagai sebab dan kontraksi
volume intravaskular baik yang relatif maupun absolut.
Tingginya kasus hipotensi ortostatik pada usia lanjut berkait-
an dengan a) penurunan sensitivitas baroreseptor yang diakibat-
kan oleh proses atherosklerosis sekitar sinus karotikus dan arkus
aorta; hal ini akan menyebabkan tak berfungsinya refleks vaso-
konstriksi dan peningkatan frekuensi denyut jantung sehingga
mengakibatkan kegagalan pemeliharaan tekanan arteri sistemik
saat berdiri: dan b) menurunnya daya elastisitas serta kekuatan
otot ekstremitas inferior.
ETIOLOGI
Penurunan tekanan darah yang drastis saat perubahan posisi
dapat terjadi oleh banyak penyebab (Tabel 1). Penyakit diabetes
mellitus dan penggunaan obat yang berkepanjangan merupakan
penyebab yang paling sering ditemukan
(3,5,6)
.
GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang terjadi cukup bervariasi (Tabel 2); acap-
kali keluhan yang disodorkan penderita lebih merupakan ke-
luhan neuropati autonom
(6,7)
(Tabel 3). Keluhan yang muncul
kadang tidak berhubungan erat dengan kualitas penyakit. Ada
kecenderungan peningkatan kualitas gejala saat pagi hari ketika
bangun tidur, makin reda bila hari telah siang atau penderita
kembali berbaring
(2,3,5,6,8)
.
Tabel 1. Etiologi Hipotensi Ortostatik
(2,4-8)
Gangguan Homeostasis
Obat-obatan
Jantung
Endokrin Metabolik
Ginjal
Neurolog
Asthenia, usia lanjut, berdiri terlalu lama
Aktivitas berlebihan, dehidrasi, malnutrisi
Keganasan lanjut, demam, septikemia, anemia
Gastrektomi, kehamilan. ketidakseimbangan
elektrolit
Efek Valsalva (batuk,defekasi),varices,sinkope
vasovagal, sinkope miksi
Temperatur lingkungan yang terlalu panas
Beberapa obat antihipertensi (khususnya guanethi-
dine, bethanidine, debrisoquine)
Diuretik, alkohol,
Obat antiangina golongan nitrat
Sedatif, hipnotik, trankuilizer
Antidepresan trisiklik, antipsikotik
Levodopa dan obat anti Parkinson golongan anti-
kolinergik
Insulin, obat hipoglikemik oral
Infark miokard tanpa kongesti
Gangguan irama jantung
Stenosis katup (mitral, aorta)
Perikarditis konstriktif
Diabetes mellitus
Kelainan Addison, bipotiroid
Feokromositoma, sindrom Conn
Porfiria, amiloidosis
Kegagalan fungsi hipofisis
Hemodialisis kronis
Hipotensi Ortostatik Primer
Hipotensi Ortostatik idiopatik
Sindrom
Shy-Drager
Kelainan pada Sistema Saraf Pusat dan Sistema
Saraf Tepi
Tumor intrakranial (parasellar, fossa posterior)
Parkinson, Infark Cerebri Multipel
Encephalopathy
Wernicke, Syringomyelia
Insufisiensi
Vertebrobasilar
Tabes
dorsalis,
Mielopathy
Neuropathy perifer (oleh berbagai sebab)
Transeksi Medula Spinalis, Pandysautonomia
Simpatektomi
thorakolumbal
Sindrom
Guillain-Barrd
Sindrom
Riley-Day
Pada orang lanjut usia dengan riwayat hipertensi dan tekan-
an darah sistolik sebelumnya 160­180 mmHg, keluhan hipotensi
ortostatik akan muncul meski penurunan tekanan darah sistolik
masih dalam batas yang normal
(3,5,6)
.
DIAGNOSIS
Kewaspadaan tinggi adalah hal yang sangat utama untuk
mendiagnosis hipotensi ortostatik, mengingat begitu banyaknya
kasus yang tidak terdeteksi
(2,4,5)
. Anamnesis yang terarah dan
mendalam sangatlah diperlukan. Riwayat pemakaian obat, pe
nyakit sebelumnya tidak boleh terlupakan
(3,5,7)
.
Untuk menegakkan diagnosis, pengukuran tekanan darah
hendaknya dilakukan pada dua kondisi yang berbeda. Pada saat
berbaring dan berdiri tekanan darah dan nadi diukur dengan
interval 1­2 menit setelah masing-masing berbaring dan berdiri
selama 10 menit. Tekanan darah selama berdini diukur tiap 20
menit. Untuk mendeteksi adanya ortostatik postural yang terjadi
setelah aktivitas, maka pengukuran tekanan darah setelah pen-
derita melakukan kegiatan fisik ringan sangat diperlukan
(2,3,6)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
34
background image
Tabel 2. Gejala Klinis Hipotensi Ortostatik
(2,4,5)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kemunduran fungsi mental
Mudah lelah
Pusing, pingsan
Sering menguap, tutur kata yang kabur, penglihatan kabur
Wajah pucat. keringat dingin
Bradikardi, takikardi
Nausea, perasaan tak nyaman di perut
Sensasi tercekik
Tabel 3. Gambaran Klinis Neuropati Autonom
(6,7)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Sering merasa kelelahan
Perubahan daya indera penglihatan
pandangan tak jelas, mata silau dengan cahaya terang, sindrom Horner
Kelainan kardiovaskular
menurunnya toleransi aktivitas, berubahnya respon obat, sinkope
postural
Kelainan gastrointestinal
anoreksia, perasaan penuh pada perut. diare atau konstipasi, inkonti-
nensia
feses
Disfungsi seksual
menurunnya libido, ipotensi Kelainan ginjal
Kelainan ginjal
retensi urine. inkontinensia urine Anhidrosis
Anhidrosis
Adanya kecurigaan gangguan fungsi autonom memerlukan
pemeriksaan neurologis (Tabel 4)
(2,3,7)
.
Tabel 4. Tes Fungsi Autonom
(3)
Prosedur Respon
normal
Manuver Valsalva
Peningkatan tekanan darah
Perubahan posisi
Takhikardia
(berbaring ke tegak)
Inhalasi Amyl Nitrit
Takhikardia
Hiperventilasi Hipotensi
Tes pacu dingin
Kenaikan tekanan darah sistolik
Tes keringat
Keringat merata
Noradrenalin plasma
Normal saat istirahat, meningkat saat posisi tubuh
Tes Atropin Sulfat
berdiri
Peningkatan frekuensi denyutjantung
PENGELOLAAN UMUM
Pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan hipotensi
ortostatik hendaknya dikurangi atau dihentikan sama sekali.
Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur seperti berjalan
cukup mampu mengurangi timbulnya gejala. Tidur dengan posisi
kepala terangkat ± 30 cm dan alas tidur dapat memperbaiki
hipotensi ortostatik melalui mekanisme berkurangnya tekanan
arteri ginjal yang selanjutnya akan merangsang pelepasan renin
dan meningkatkan volume darah
(2-5)
.
Pada penderita yang tidak memiliki penyakit jantung, pe-
nambahan garam dalam menu sangat berguna; jumlah yang
diberikan terbatas 200 mmol perhari
(3,6)
. Menghindari mengejan
saat miksi atau defekasi dan perubahan mendadak dari posisi
berbaring ke berdiri akan menolong mengatasi gejala
(4)
. Pada
penderita hipotensi ortostatik setelah makan. dianjurkan mem-
persering frekuensi makan makanan ringan selain itu perlu pula
pembatasan aktivitas fisik segera setelah makan
(6,7)
.
Adanya pengumpulan volume darah secara berlebihan pada
ekstremitas inferior dapat dikurangi dengan pemakaian stocking
elastis, yang digunakan dari metatarsal hingga lipat paha; hanya
saja amat merepotkan, apalagi di daerah tropis
(2,3)
. Pada keadaan
berat, pakaian antigravitasi dapat digunakan
(3)
.
PENGELOLAAN KHUSUS
Obat turut memegang peranan cukup penting untuk meng-
atasi hipotensi ortostatik dan hendaknya diberikan setelah pe-
ngelolaan umum tidak membuahkan hasil
(2-4)
. Pada kasus-kasus
neurologis, pemberian obat hanya bersifat simptomatis
(5,8)
.
Jenis obat yang diberikan adalah:
a) Fludrokortison
Merupakan preparat pilihan dalam penanganan hipotensi
ortostatik
(2,3)
.
Efek yang ditimbulkan berupa peningkatan sensitivitas
vaskular terhadap noradrenalin endogen; pertambahan volume
cairan ekstraselular akibat retensi garam; peningkatan osmolari-
tas dan tahanan vaskular akibat perubahan konsentrasi elektrolit
pada dinding pembuluh darah
(2,4)
.
Dosis yang umum diberikan adalah 0,1­1 mg tiap hari
(3)
.
Efek samping yang dapat terjadi adalah gagal jantung kongestif,
oedem perifer serta hipokalemia
(4)
.
b) Preparat Vasokonstriktor
Preparat simpatomimetik seperti efedrin, amfetamin, hi-
droksiamfetamin, fenilefrin, tiramin, etilefrin dan inetilphenidate
dilaporkan cukup memadai untuk mengatasi hipotensi ortostatik
yang diakibatkan gangguan fungsi autonom
(3,4,6,7)
. Kombinasi
dengan preparat Monoamine Oksidase Inhibitor seperti tranul-
sipromin atau phenelzine sangat berhasil pada beberapa
kasus
(5,7)
, tetapi disertai risiko terjadinya hipertensi
(4,7)
.
c) Preparat lain
Preparat inhibitor sintesis prostaglandin seperti indomethasin
dan flurbiprofen memberikan hasil memadai. Dilaporkan indo-
methasin meningkatkan tahanan pembuluh darah perifer pada
penderita neuropati autonom, diduga akibat peningkatan sensi-
tivitas reseptor pembuluh darah terhadap noradrenalin. Kedua
preparat tersebut juga meningkatkan tonus otot halus pada kasus
neuropati autonom dengan menghambat sintesis prostaglandin
lokal
(2,3,4)
.
Dihidroergotamin yang merupakan turunan ergot dilapor-
kan cukup memadai untuk kasus yang disebabkan oleh kegagal-
an fungsi autonom. Efek pemberian preparat ini adalah konstriksi
selektif dinding vena
(2,7)
. Efektivitasnya rendah bila diberikan per
oral sehingga penggunaannya terbatas
(2,3,7)
.
Preparat beta blocker seperti pindolol dilaporkan memberi-
kan efek positif pula dalam penanganan penderita neuropati
autonom kronis yang disertai hipotensi ortostatik
(7)
.
KEPUSTAKAAN
1. Guyton CA. Textbook of Medical Physiology. 7th ed. Tokyo: lgaku Shoin
Ltd. 1986; hal 348­60.
2. Warne RW. Postural Hypotension. Mechanisms and Management. Med
Prog, 1988; 12: 11­19,
3. Schatz I. Orthostatic Hypotension: Testing and Treatment. Archives of
Internal Medicine 1984; 144: 1037. -
4. Jellet LB. Hypotension. Causes and Management. Med Prog. 1985; 3:45­52.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 35
background image
5. Palmer KT. Studies in Postural Hypotension in the Elderly Patients New
Zealand Medical Journal. 1983; 43: 96­114.
6. Schatz 1. Orthostaticl-lypotension: Functional and Ncurogenic Causes.
Arch Intern Mc 1984; 144: 773.
7. Mc Leod JG, Tuck RR. Disorders of Autononlic Nervous System. Ann
Neurol. 1987;2l:519­29.
8. Su CP, Rosen DA. Perress NS. Orthostatic Hypotension of Central Neuro-
genie Origin. New York State J Med. 1977: 10: 1960­63,
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
3
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
36