HASIL PENELITIAN
Frekuensi M. Atipik, M. Tuberkulosis
dan M.. Bovis pada Limfadenitis TBC
Positif PA Positif Biakan
Misnadiarly
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian mikobakterium atipik dilakukan padapenderita TB-extraparu limfadenitis
tbc dengan cara pemeriksaan spesimen hasil biopsi kelenjar dan biopsi aspirasi 46 orang
pasien dan RS Hasan Sadikin Bandung dan beberapa RS di Jakarta (1 orang). Spesimen
dibiak pada 3 jenis media L-J (Lowenstein-Jensen), Kudoh dan Ogawa 3% pada suhu
28°C dan 37°C. Identifikasi spesies mikobakteria dan biakan kuman yang tumbuh secara
biokimia dilakukan di laboratorium Puslit Penyakit Menular Badan Litbang Kesehatan.
Data klinis, hasil PA, serta data kuesioner didapatkan dari RS yang dilibatkan pada pe
nelitian ini.
Ditemukan 54% (25 orang) dari kasus limfadenitis tbc, biakannya positif dengan
frekuensi mikobakteria atipik yang paling tinggi (64%) dibandingkan M. tuberkulosis
(20%) dan M. bovis (8%).
PENDAHULUAN
Limfadenitis tbc atau tbc kelenjar getah bening termasuk
salah satu penyakit tbc di luar paru (Tb-extraparu)
(1)
. Penyakit ini
disebabkan oleh M. tuberkulosis, kemudian dilaporkan ditemu-
kan berbagai spesies M. Atipik. Diagnosis penyakit ini paling
sering dengan pemeriksaan Patologi Anatomi (PA), dengan di-
temukannya tuberkel yang terdiri dari beberapa unsur yakni sel
epiteloid yang berinti lonjong dengan batas sel yang tidak jelas.
Unsur kedua ialah sel datia Langhans/giant cell, sebuah sel yang
besar berinti banyak
(3)
. Basil tbc dapat ditemukan di antara sel
epiteloid, kadang-kadang dalam sel datia, dan pada awal infeksi,
basil tbc berlokasi dalam macrophag, tampak pada pewarnaan
khusus
(4)
; mereka jarang tumbuh di bagian tengah jaringan
nekrotik, karena daerah ini kekurangan O
2
dan makanan yang di-
perlukan untuk pertumbuhannya, jadi mikroorganisme ini pada
jaringan nekrotik terutama tumbuh pada bagian tepi
(5)
. Pada pe-
meriksaan PA (Patologi Anatomi) tidak dapat dibedakan dengan
pasti apakah mikroorganisme itu M. tbc atau mikobakterium
atipik, sehingga pengobatan tidak selalu tepat, sebab semua
dianggap M. tbc.
BAHAN DAN CARA
Sejumlah 54 orang penderita limfadenitis tbc, 47 dari RS di
Bandung dan 7 orang dari beberapa RS di Jakarta, menjalani
biopsijaringan kelenjar getah bening (kgb) dan sebagian lainnya
biopsi aspirasi untuk keperluan pemeriksaan PA, spesimen ter-
sebut sebagian dimasukkan ke dalam larutan NaCI 0,85% (sterit)
sebagai media transpor latu dikirimkan melalui LTH dari Ban-
dung, dan dijemput/antar dari RS di Jakarta ke laboratorium
Puslit (Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Litbang Ke-
sehatan di Jakarta tempat dilakukan identifikasi mikobacteria.
Spesimen diolah dengan 2 cara yaitu memakai NaOH 4%
dan TSP (Trisodium Fosfat 10%), dan dibiak pada 3jenis media;
yaitu: Lowenstein-Jensen, Kudoh dan Ogawa 3% pada suhu
30°C dan 37°C, sehingga dari spesimen diperoleh 8 biakan.
Untuk setiap biakan yang tumbuh dilakukan pemeriksaan BTA,
pengamatan struktur dan warna koloni serta beberapa tes Bio
kimia; Katalase, Katalase 68°C, Peroksidase, Reduksi Nitrat,
Merah Netrat, Hidrolisa Tween, Urease, Toleransi terhadap
media mengandung NaCI 5%, dan Niasin.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
38
HASIL
Dari berbagai data, penderita TB-Extraparu-Limfadenitis
tbc pada umumnya punya beberapa keluhan: demam lama, berat
badan turun, batuk-batuk lama, keringat malam, nafsu makan
menurun. Gejala ini dapat seluruhnya ditemukan, dan yang
tersering adalah : demam lama dan berat badan menurun; yang
paling penting adalah adanya benjolan di leher yang merupakan
pembesaran kelenjar getah bening leher.
Pada pemeriksaan PA, ditemukan tuberkel, sel Datia
Langhans/sel giant, kadang-kadang didapatkan daerah perkijuan
pada stadium limfadenitis caseosa.
Dari 46 limfadenitis tbc yang (+) menurut hasil PA, yang
positif biakan ada 25 (54%). Prosentase pertumbuhan biakan
antara spesimen dan biopsi jaringan hanya sedikit Iebih besar
dari spesimen dan biopsi aspirasi (Tabel 1).
Tabel 1. Perbandingan hasil pemeriksaan jaringan kgb menurut jenis
spesimen yang diperiksa
Biakan
No. Jenis
Spesimen Jumlah
(+) %
(-) %
I Biopsi
Jaringan
kgb 27
15 555 12 44,5
2 Biopsi
Aspirasi
19
10 52,6
9 47,4
Dari penelitian ini ditemukan pula beberapa kasus tersangka
limfadenitis tbc yang hasil PA nya tidak menunjukkan positif
untuk tbc tetapi karsinoma metastase, dan kasus limfadenitis tak
spesifik menurut hasil PA, akan tetapi biakan positif.
Dari beberapa limfadenitis tbc yang biakannya positif, se-
telah diidentifikasi memberikan hasil sebagai berikut : M. simiae
(2); M. marinum (2); M. phlei (2); M. tbc INH sensitif (4); M.
triviale (1); M. gastrii (1); M. haemophilum (2); M. ulcerans (1);
M. gordonae (1); M. szulgai (2); M. kansasii (2); M. malmoense
(I); M. tbc INH-resisten (1); M. bovis (2); M. smegmatis (1) dan
M. scrofulaceum (1).
PEMBICARAAN
Penelitian ini memberikan hasil biakan positifsámpai 55,5%
untuk spesimen biopsi jaringan kelenjar, dan 52,6% untuk spe
simen biopsi aspirasi, jadi biopsi aspirasipun dapat digunakan
karena lebih murah. Akan tetapi di pihak lain beberapa kasus
tertentu seperti limfadenitis kronik tidak spesifik dan kasus
radang kronis spesifik yang dianggap limfadenitis/tersangka,
ternyata hasil PA tidak menunjukkan positiftbc, akan tetapi hasil
biakan positif M. tbc INH Resisten dari kasus yang satunya lagi
M. avium complex. Perbedaan hasil PA dan biakan ini dapat
disebabkan karena yang dibiopsi hanya bagian nekrosisnya,
sedangkan menurut kepustakaan kuman BTA (tbc atau atipik)
hanya terdapat di bagian tepi jaringan nekrotik karena pada
daerah ini masih ada O
2
yang diperlukan untuk kehidupannya.
Masalah lainnya, diagnosis PA hanya berdasarkan penampakan
kelainan dan ciri khasjaringan tertentu; BTA amat sulit ditemu-
kan meskipun dengan pewarnaan khusus, dan tak dapat mem-
bedakan antara M. tbc, dan M. atipik serta M. bovis. Perbedaan
gambaran histopatologi M. tbc dan yang disebabkan
mikobakteria atipik (mikobakteriosis)
(6)
.
1) Lesi yang mengalami perkijuan lebih jarang terlihat pada
jaringan yang terinfeksi atipik, tampak adanya kecenderungan
pencairan jaringan nekrotik dan lesinya lebih akut.
2) Sel datia/giant cell jarang ditemukan pada kasus atipik, dan
kalaupun ada biasanya lebih besar dari sel datia pada jaringan
infeksi M. tbc.
3) Lesi granuloma yang mengalami perkijuan tampak baik
pada infeksi atipik maupun tuberkulosis.
Pada penelitian ini unsur seperti sel datia tidak selalu ada,
demikian juga dengan unsur perkijuan, namun biakan positif.
Selain hal di atas ditemukan pula kasus tersangka limfadenitis
tbc ternyata diagnosa PA nya karsinoma metastasis dan kasus
yang tidak menunjukkan tandajaringan terinfeksi tbc, tetapi hasil
biakan malah positif (M. scrofulaceum).
Tabel 2. Beberapa kasus tersangka Limfadenitis tbc, basil PA () untuk
tb,
tapi
biakan
(+)
No.
Kasus tersangka
Hasil PA
Biakan
I
Limfadenitis tbc Metastasis
(+)
M. scrofulaceum
2 Limfadenitis
tbc
Karsinoma
Limfadenitis kronik
(+)
M. avium komplex
tak
spesifik
tbc
Tabel 3. Mikobakterlum spesies yang berhasil ditemukan pada kasus
Limfadenitis
tbc
di
Jawa Barat periode Nopember.Maret 1993
Penggolongan Nama
Spesies Jumlah
Typical
1. M. tuberculosisINH Resisten
1
Mycobacteria
2. M. tuberculosisINH Sensitif
3. M. bovis
4
Atypical
Mycobacterium
Group Runyon
I
1. M. kansasii,
2
(Photo chromogen) 2. M. marinum
2
3. M. simiae
4. M. asiaticum
II
1. M. scrofulaceum
1
(Scoto chromogen) 2. M. szulgai
3. M. gordonae
2
III
1. M. avium complex
(Nonphoto
chromogen)
2. M. intracellulare
3. M. ulcerans
4. M. triviale
1
5.
M.
malmoense
6. M. haemophilum
2
1
IV
1. M. fortuitum
(Rapid grower)
2. M. chelonei
3. M. smegmatis
1
4. M. phlei
2
Tabel 4. Jenis mikobakteriuin llmfadenitis tbc biakan positif (n.-25)
Jumlah positif
n %
M. tuberculosis
5
20
M. atipik
16
64
M. bovis
2
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 39
Ada dua kasus limfadenitis thc yang hasil identifikasinya
M. bovis, satu di antaranya mempunyai kebiasaan minum susu
segar tanpa dimasak dulu. Dari hal yang perlu diperhatikan ialah
pemeriksaan PA perlu didampingi pemeriksaan biakan/mikro-
biologis terutama pada kasus meragukan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada: dr Eddie S. Soemantri, dr Paula,
dr Burhanudin Sabirin dli dr di RSHS dan RS lainnya di Bandung yang turut
membantu penelitian ini.
Jenis mikobakterium atipik yang ditemukan pada penelitian
ini sebagian besar sama dengan yang ditemukan peneliti lain
(7)
,
yaitu M. avium dan M. scrofulaceum pada limfadenitis (Maria
dkk dan Alfred dkk), dan M. kansasii, M. avium, M. szulgai, M.
scrofulaceum, M. chelonei dan M..fortuitum (Emanuel, Australia).
KEPUSTAKAAN
1. Bell MDET. A textbook of Pathology. 8 ed. Philadelphia: University of
Minnesota, 1956.
2. Misnadiarly. Bakteri tahan asam pada lymphadenitis tuberkulosa Skripsi
Institut Teknologi Bandung, Departemen Biologi. Laporan kerja praktek di
Bagian Patologi Anatomi RS Hasan Sadikin, FK UNPAD, Bandung, 1979.
Spesies mikobakteria atipik yang resisten terhadap INH
adalah: M. marinum, M. scrofulaceum, M. avium, lvi. terrae, M.
culcerans dan M. fortuitum, hal yang sama juga terhadap PAS,
sedangkan terhadap streptomisin yang resisten ialah M. avium,
terhadap etambutol yang resisten ialah M. scrofulaceum dan M.
ulcerans, M. scrofulaceum, M. chelonei dan M. fortuitum juga
resistensi rifampisin, M.fortuitum dan M. chelonei juga resistensi
streptomisin.
3. Simposium Penyakit Tuberkulosa di dalam Masyarakat. Edisi khusus
Majalah Kedokteran Bandung. Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran, Bandung, 22-24 Februari 1968.
4. Robertson ND. Pathological Histology. 4 ed. Edinburg: University of
Edinburg, 1951.
5.
Davis BD. Microbiology. International ed. Boston. Massachusetts:
Harvard Medical School. 1969.
6. R. Amirulah. Mikobakteriosis Paru, Cermin Dunia Kedokt 1981; 24.
7. Misnadiarly. Lymphadenitis Tuberculosis dan Lymphadenitis Myco-
bacterial. Medika 1988; 4.
Tampaknya limfadenitis tbc, lebih banyak disebabkan oleh
infeksi atipik daripada oleh M. tuberkulosis; hal ini mungkin
disebabkan kebiasaan makan sayuran mentah. karena pe-
nyebaran/distribusinya dapat pada tanah, air, tumbuhan dan juga
pada telur (cangkangnya), jadi makan sayuran mentah tanpa
dicuci dapat menyebabkan infeksi atipik, meskipun dicuci dulu;
jadi dalam pencucian sayurperlu dengan air hangat di atas 42°C,
karena pada suhu ini M. atipik masih dapat hidup.
8. Maegileth. Andrew M, Edwin L, Kendig JR. Infections with Non
tuberculous (Atypical) Mycobacteria. Disorders of the Respiratory Tract in
Children, 1983.
9. Taha AM, Davidson PT, Bailey W. Surgical treatment of atypical myco
bacterial lymphadenitis in children. Pediatric Infectious Disease 1985;
4(6).
10. Krisnomurti S dkk. Isolasi kuman tuberkulosis pada kasus-kasus radang
kelenjar. Simposium tuberkulosa masa kini, 23 Sept 1978.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
40