TEKNIK
Fisioterapi
pada Tennis Elbow tipe II
Suharto, RPT
Akademi Fisioterapi Departemen Kesehatan, Makassar, Indonesia
PENDAHULUAN
Lengan merupakan anggota tubuh yang sangat penting
dalam kehidupan sehari-hari manusia karena fungsinya sangat
kompleks. Manusia banyak menggantungkan produktifitasnya
pada kemampuan lengan/tangan sehingga tidak sedikit yang
mengalami kelainan pada lengan/tangannya akibat penggunaan
yang berlebihan. Salah satu penyakit yang dapat terjadi adalah
Tennis Elbow Tipe II. Kondisi ini banyak didapatkan di daerah
elbow dibandingkan dengan kelainan lainnya.
Umumnya penderita usia 35-55 tahun dengan gejala-gejala
nyeri pada sisi luar sendi siku terutama saat jari-jari tangan
memegang atau meremas kuat-kuat disebabkan oleh gangguan
atau cedera otot-otot ekstensor carpi radialis longus dan brevis.
ANATOMI DAN FISIOLOGI TERAPAN
Sendi siku dibentuk oleh tiga potong tulang yaitu tulang
humerus, ulna dan radius yang saling berhubungan dalam satu
rongga sendi yang bersama-sama.
Pada dasarnya di dalam sendi siku terdapat dua gerakan
yakni fleksi/ekstensi dan rotasi berupa pronasi dan supinasi.
Gerakan fleksi dan ekstensi terjadi antara tulang humerus dan
lengan bawah (radius dan ulna), pronasi dan supinasi terjadi
karena radius berputar pada tulang ulna, sementara itu radius
juga berputar pada boros bujurnya sendiri. Sendi radioulnar
proksimal dibentuk oleh kepala radius dan incisura radialis ulna
dan merupakan bagian dari sendi siku. Sendi radioulnar distal
terletak dekat pergelangan tangan.
Sendi siku sangat stabil yang diperkuat oleh simpai sendi
yaitu ligamentcollateral medial dan lateral. Ligamentum
annulare radii menstabilkan terutama kepala radius.
Otot-otot yang berfungsi pada gerakan sendi siku ialah
brachioradialis, biceps brachii, otot triceps brachii, pronator
teres dan supinator. Selain otot di atas, dari siku juga berasal
sejumlah otot yang berfungsi untuk pergelangan tangan seperti
otot ekstensor carpi radialis longus yang berfungsi sebagai
penggerak utama ekstensi sendi pergelangan tangan dipersarafi
oleh saraf radialis akar saraf servikal 6 - 7, otot ekstensor carpi
radialis brevis, berfungsi sebagai penggerak utama ekstensi dan
abduksi sendi pergelangan tangan dipersarafi oleh saraf radialis
akar saraf servikal 6 - servikal 7.
TENNIS ELBOW TIPE II
Tennis elbow tipe II disebabkan oleh pembebanan yang
berlebihan pada otot-otot ekstensor serta suatu trauma lang-
sung. Penyakit ini ditandai adanya keluhan rasa sakit di siku
bagian lateral yang kadang-kadang menjalar ke lengan bawah
dan punggung tangan.
Pada penyakit ini terjadi robekan inkomplit pada origo
teno periosteal otot ekstensor carpi radialis brevis di epicondy-
lus lateralis humeri. Nyeri tersebut akan bertambah setelah ber-
aktifitas, terutama pada gerakan dorso fleksi sendi pergelangan
tangan, dan terasa kaku dan nyeri jika sendi siku diluruskan di
pagi hari.
PEMERIKSAAN FISIOTERAPI
Pemeriksaan fisioterapi pada kondisi ini ditujukan pada
kapasitas fisik dan kemampuan fungsional penderita melaku-
kan aktifitas; adalah sebagai berikut :
1 ) Anamnesis Umum : Identitas penderita.
2) Anamnesis Khusus, meliputi lokasi keluhan utama, sifat,
lamanya, apakah timbul atau bertambah nyeri setelah aktifitas.
3) Pemeriksaan inspeksi, dalam posisi penderita statis dan
dinamis.
4) Pemeriksaan fungsi dasar, meliputi pemeriksaan gerakan
pasif, aktif dan tes isometrik melawan tahanan pada sendi siku
dan pergelangan tangan.
5) Pemeriksaan spesifik, terdiri dari palpasi, tes tennis elbow
tes penguluran, dan tes luas gerakan sendi.
PENGOBATAN FISIOTERAPI
Pengobatan fisioterapi pada kondisi tennis elbow tipe II ini
bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampu-
an fungsional penderita dengan cara mengurangi/menghilang-
kan rasa nyeri, menghilangkan keterbatasan luas gerak sendi
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
34
4) Activity of Daily Living (ADL)
dan memperbaiki kelainan fungsi yang ada.
Aktifitas sehari-hari adalah kewajiban individu yang harus
dilakukan untuk mencapai kemandirian terhadap lingkungan-
nya.
Untuk menangani masalah tersebut, modalitas fisioterapi
yang digunakan adalah :
1) Continuous Electro Magnetic 27 MHz
Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan kemudah-
an melaksanakan aktifitas sehari-hari harus disesuaikan
keadaan individu dengan cara instruksi verbal maupun demons-
trasi agar penderita lebih mudah memahami dan melaksanakan-
nya. Aktifitas sehari-hari yang diberikan pada penderita ini
adalah menyisir rambut, mengepel, menimba air dengan me-
makai katrol, menyapu, memeras cucian, dan lain-lain dengan
tujuan agar anggota gerak yang sakit dapat beraktifitas secara
maksimal kembali seperti semula.
Termasuk kelompok arus frekuensi tinggi dengan arus AC
27 MHz, memproduksi energi elektromagnetik dengan panjang
gelombang 11,6 meter yang digunakan dengan tujuan me-
nimbulkan berbagai efek terapeutik melalui suatu proses
tertentu dalam jaringan tubuh. Biofisika arus ini adalah energi
elektromagnetik yang bersifat eksternal, energi kinetik ekster-
nal yang menimbulkan energi kinetik internal di dalam jaringan
tubuh sehingga terjadi panas.
Tujuan terapi arus 27 MHz ini adalah menurunkan aktifitas
noxe sehingga nyeri berkurang, meningkatkan elastisitas jaring-
an dan sebagai preliminary exercises.
2) Friction
KEPUSTAKAAN
Merupakan bentuk manipulasi atau massage ringan pada
suatu titik tertentu pada jaringan dengan gerakan transversal
atau melitang. Friction ini umumnya ditujukan pada kapsul
sendi, antara caput dan capitas, otot dan ligament, serta otot
dengan otot.
1.
De Wolf AN, Mens JMA. Pemeriksaan Alat Penggerak II. Bohn Stafleu
Van Loghum, Houten/Zaventem, 1994.
2.
Magee DJ. Orthopaedic Physical Assesment. Philadelphia: Saunders Co,
1987.
3.
Djohan Aras. Pelatihan Elektroterapi, Akfis Ujungpandang, 1993.
4.
Henry Kendall Otis. Muscle Testing dan Function, Ed. II, William dan
Wilkins Baltimore, London : 1971.
Tujuan terapi ini adalah untuk mengurangi rasa nyeri.
5. Kessler RM at al. Management of Common Musculoskeletal Disoders.
Philadelphia : 1987.
3) Exercise Therapy
6.
Kisner C, Colby LA. Therapeutic Exercises Foundation and Techniques,
Second ed, FA. Davis Co, Philadelphia: 1990.
Exercise yang diberikan berupa Hold Relax yang berarti
suatu teknik relaksasi dan penguluran otot antagonis pada pola
gerakan terbatasnya luas gerakan sendi.
7.
Radioputro. Anatomi Klinik, Cet.I, Erlangga, Jakarta, 1981.
8.
Cailliet R. Soft Tissue Pain and Disability, Philadelphia : 1977.
Tujuan teknik ini adalah menambah luas gerakan sendi dan
memperoleh relaksasi otot antagonis.
9.
Sidharta P. Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek Umum, PT Dian
Rakyat, Jakarta : 1983.
Man is the merriest species of the creation
(Addison)
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 35