TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Endotelin dan Penyakit
Kardiovaskuler
Muhammad Natsir Akil
Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I, Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang
PENDAHULUAN
Endotelin merupakan peptida vasokonstriktor sangat kuat
yang dihasilkan oleh endotelium vaskuler. Endotelin diisolasi
pertama kali oleh Yanagisawa dkk pada tahun 1988
(1)
.
Biosintesis endotelin dimulai dengan pemecahan molekul
besar preroendothelin, peptida dengan 203 asam amino menjadi
big endothelin I proendothelin yang mengandung 39 asam
amino. Big endothelin beredar di dalam pembuluh darah dalam
bentuk inaktif; selanjutnya endothelin-converting enzyme akan
mengubah big endothelin menjadi peptida residu-21 aktif
(2)
.
Sedikitnya ada 3 isoform endotelin, tetapi termasuk dalam
satu famili peptida. Semua isoform endotelin mengandung 21
asam amino, perbedaannya hanya terletak pada beberapa asam
amino. Endotelin-1 (ET-1) merupakan bentuk yang disintesis
dan dilepaskan oleh sel-sel endotel dan banyak dihubungkan
dengan penyakit kardiovaskuler. Endotelin-3 mungkin merupa-
kan neuropeptida sedangkan peranan endotelin-2 masih belum
jelas
(2)
.
Stimulus penting terhadap pelepasan endotelin adalah
hipoksi, iskemi, dan shear stress, yang menginduksi transkripsi
messenger RNA ET-1
(3)
. Selain rangsangan fisik produksi
endotelin juga dipengaruhi oleh hormon vasopressor seperti
epinefrin, angiotensin II, dan arginin vasopressin; transforming
growth factor
(TGF
; trombin; interleukin-1. Sedangkan pros-
tasiklin, nitric oxide, dan atrial natriuretic hormone meng-
hambat sekresi endotelin
(4)
. Sebanyak 75% sekresi ET-1 ke
arah otot polos vaskuler (albumin) akan terikat pada otot polos
dan menyebabkan vasokonstriksi
(3)
.
ET-1 dilaporkan dapat menyebabkan vasodilatasi pada
dosis rendah dan vasokonstriksi pada dosis tinggi. Respon
vasodilatasi ET-1 mungkin disebabkan oleh efek endotelin pada
produksi dan sekresi prostasiklin dan nitric oxide
(3,4)
.
ENDOTELIN DAN PENYAKIT KARDIOVASKULER
Data eksperimen memperlihatkan bahwa sistim endotelin
diaktifasi pada berbagai kelainan kardiovaskuler. Peninggian
kadar endotelin ditemukan pada infark miokard, gagal jantung,
dan hipertensi pulmonal
(1)
.
Peninggian kadar plasma endotelin pada face awal infark
miokard akut (IMA) dilaporkan pada tahun 1991. Pada pen-
derita IMA tanpa komplikasi kadarnya cepat turun, sebaliknya
pada penderita IMA dengan komplikasi gagal jantung maka
peninggian kadar endotelin tetap bertahan selama 72 jam
(1)
.
Peningkatan plasma endotelin 72 jam sesudah infark miokard
mempunyai nilai prognostik terhadap mortalitas tahun pertama.
Selain pada gagal jantung kronik peningkatan kadar endotelin
juga dilaporkan pada gagal jantung kronik kausa non iskemik
atau pada idiopathic dilated cardiomyopathies. Penelitian
lainnya mendapatkan peningkatan kadar endotelin secara prog-
resif dengan makin beratnya gejala gagal jantung, dan sejumlah
laporan memperlihatkan hubungan antara derajat peninggian
kadar endotelin dan derajat gangguan fungsi ventrikel
(1)
.
Terdapat hubungan antara kadar plasma endotelin dan
beratnya hipertensi pulmonal pada penderita gagal jantung.
Penelitian lain yang menilai ekspresi endotelin-1 pada paru-
paru penderita hipertensi pulmonal mendapatkan peningkatan
imunoreaktifitas endotelin pada pembuluh darah paru-paru
dengan kadar yang berbeda pada berbagai tempat. Sangat
sedikit endotelin ditemukan pada subjek kontrol dengan paru-
paru normal atau penderita dengan penyakit paru-paru yang
tidak mengalami hipertensi pulmonal
(1)
.
Endotelin juga berpengaruh pada ruptur plak. Dengan
adanya lesi aterosklerotik, maka pelepasan lokal endotelin akan
memacu terjadinya ruptur plak
(5)
.
ENDOTELIN PADA BERBAGAI SISTIM ORGAN
Efek endotelin pada berbagai sistim diperlihatkan pada
gambar 1. Endotelin merupakan mediator penting pada pato-
fisiologi gagal jantung. Kerja endotelin sebagai vasokonstriktor
sangat kuat menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler
sistemik dan peningkatan after load; kedua hal tersebut me-
rupakan aspek penting pada gagal jantung
(2)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
34
Gambar 1. Role of endothelin in the pathophysiological manifestations of
heart failure.
Dikutif dari : Levin ER : Endothelins. N. Engl J Med 1995; 333 : 360
Endotelin 100 kali lebih kuat efek vasokonstriktornya dari
angiotensin II yang sudah lebih dulu dikenal sebagai peptida
vasokonstriktor kuat
(3)
.
Endotelin juga berefek pada pertumbuhan dan proliferasi
sel-sel otot polos dan menstimulasi produksi matriks. Dalam
jangka waktu yang lama endotelin akan mengakibatkan se-
makin mengecilnya diameter pembuluh darah oleh remodelling
ketebalan dinding pembuluh darah. Endotelin berefek langsung
pada jantung; dengan efek inotropik positifnya meningkatkan
kontraktilitas jantung. Remodelling jantung disebabkan oleh
pengaruh endotelin pada hipertrofi otot jantung dan produksi
matriks
(1)
.
Pada ginjal endotelin memiliki fungsi penting dan kom-
pleks. Pengaruhnya pada ginjal adalah penurunan sekresi
natrium dan peningkatan retensi cairan, yang juga merupakan
mekanisme penting pada gagal jantung
(1)
.
Endotelin berinteraksi dengan berbagai sistim neuro-
humoral. Endotelin meningkatkan sekresi aldosteron maupun
sekresi renin, selanjutnya menyebabkan peningkatan aktifitas
sistim renin-angiotensin. Selain itu juga dapat menstimulasi
sistim saraf simpatis dan memfasilitasi neurotransmisi adre-
nergik
(1)
.
Endotelin menginduksi tetjadinya bronkokonstriksi melalui
stimulasi produksi tromboxane, yang selanjutnya akan meng-
aktifkan reseptor tromboxane pada otot polos bronkus
(2)
.
RESEPTOR ENDOTELIN
Reseptor endotelin ada dua yaitu reseptor endotelin A
(ET
A
) dan reseptor endotelin B (ET
B
) seperti terlihat pada
gambar 2. Reseptor endotelin A terutama terdapat pada organ
target seperti sel-sel otot polos atau miosit jantung dan bersifat
selektif untuk ET-1. Sedangkan ET
B
, merupakan reseptor non
selektif dan berinteraksi baik dengan endotelin-1 maupun
dengan endotelin-3 dengan afinitas yang sama
(1)
.
Gambar 2. Vaskular endothelin receptors.
Dikutip dari : Stewart D : Update on endothelin. Can J Cardiol 1998; 14
(Suppl D) : 12D
Pada awalnya ET
B
diduga hanya terdapat pada sel-sel
endotel, tetapi ternyata juga ditemukan pada organ-organ target
dengan kerja menyerupai ET
A
. Pada sel-sel endotel ET
B
dapat
mengaktifkan nitric oxide synthase dan merangsang produksi
prostasiklin. Efek vasodilatasi ini merupakan counteract dari
efek langsung endotelin pada sel-sel otot polos seperti kon-
traksi, proliferasi, dan produksi matriks. Pada organ target ET
B
menyerupai kerja ET
A
yaitu merangsang kontraksi, proliferasi,
dan produksi matriks
(2)
.
ANTAGONIS RESEPTOR ENDOTELIN
Antagonis spesifik reseptor endotelin telah dikembangkan
dan sedang dilakukan pengujian pada binatang percobaan dan
penderita gagal jantung. Bosentan merupakan inhibitor ET non
selektif pertama yang dipublikasikan untuk penderita gagal
jantung berat
(1)
.
Kiowski dkk
(6)
meneliti efek hemodinamik akut dari
bosentan dan mendapatkan penurunan tekanan arterial rata-rata,
tekanan arteri pulmonalis, tekanan atrium kanan, dan pulmo-
nary artery wedge pressure. Peningkatan yang nyata juga
didapatkan dari cardiac output dan penurunan resistensi
vaskuler sistemik dan resistensi vaskuler pulmonal. Antagonis
receptor ET mempunyai manfaat jangka pendek terhadap
hemodinamik penderita gagal jantung berat. Kiowski dkk
(6)
menemukan bahwa pemberian secara oral bosentan selama 2
minggu memperlihatkan efek yang lebih nyata dan diper-
tahankan sampai dengan 2 minggu. Belum ada data mengenai
efek antagonis ET terhadap mortalitas dan morbiditas penderita
gagal jantung
(6)
.
KESIMPULAN
Endotelin merupakan peptida vasokonstriktor sangat kuat
yang dihasilkan oleh endotelium vaskuler. Beberapa penelitian
mendapatkan bahwa sistim endotelin diaktifasi pada berbagai
kelainan kardiovaskuler termasuk infark miokard, gagal
jantung, dan hipertensi pulmonal. Pengetahuan mengenai kerja
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 35
dari isoform endotelin-1 menunjukkan bahwa endotelin-1
adalah mediator penting pada patofisiologi terjadinya gagal
jantung. Bosentan suatu antagonis reseptor endotelin ber-
manfaat pada penderita gagal jantung maupun penderita hiper-
tensi pulmonal.
2.
Levin ER. Endothelins. N Engl J Med 1995; 333 : 356-63.
3. De Meyer GRY, Herman AG. Vascular endotheliial dysfunction. Prog
Cardiovasc Dis 1997; 39 : 325-42.
4. Luscher TF, Boulanger CM, Dohi Y, Yang Z. Endothelium-derived
contracting factors. Hypertension 1992; 19 : 117-30.
5.
Loan EM, Yusuf S, An P et al. Emerging role of angiotensin-converting
enzyme inhibitors in cardiac and vascular protection. Circulation 1994; 90
: 2056-65.
KEPUSTAKAAN
6. Kiowski W, Sutsch G, Hunziker P et al. Evidence for endothelia-l
mediated vasoconstriction in severe chronic heart failure. Lancet 1995;
346: 732-6.
1. Stewart D. Update on endothelia. Can J Cardiol 1998; 14 (Suppl D)
11D-13D.
Ucapan Terima Kasih
Redaksi telah menerima dua buah buku :
Bunga Rampai Karya Ilmiah Prof. Dr. R. Budhi Darmojo
(Jilid I dan jilid II).
Untuk itu Redaksi mengucapkan terima kasih.
Redaksi
Cermin Dunia Kedokteran
A man who is always well satisfied with himself seldom is so by
others, and others rarely are with him
(La Rochefoucauld)
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
36