TUMBUH-TUMBUHAN
YANG MENIMBULKAN DERMATITIS
Dr Marwali Harahap
Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin,
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
Medan
SUMMARY
Some plants as possible etiologic factors of dermatitis are
hereby presented. Recognition of these plants is important,
especially those which often cause contact dermatitis in daily
life, so that recurrence can be prevented and the proper
therapy administered.
PENDAHULUAN
Tumbuh-tumbuhan yang banyak manfaatnya bagi kehidup-
an manusia dapat pula menimbulkan penyakit kulit pada ma-
nusia, berupa dermatitis.
Banyak orang menderita dermatitis oleh tumbuh-tumbuh-
an. Ada kalanya penderita tahu dan adakalanya tidak tahu,
bahwa tumbuh-tumbuhanlah yang menjadi penyebab. Bila
penyebabnya tidak diketahui, maka dermatitis tersebut men-
jadi khronis dan lama. Hal ini terutama terjadi pada orang-
orang yang karena pekerjaannnya ataupun kegemarannya ba-
nyak berkontak dengan tumbuh-tumbuhan, seperti pemburu,
penebang kayu, tukang kebun, petani dan tentara yang berla-
tih atau bertugas dihutan-hutan.
Tumbuh-tumbuhan yang mana yang menjadi penyebab
dermatitis perlulah diketahui. Terutama sekali perlu dikenal
tumbuh-tumbuhan yang dalam kehidupan sehari-hari sering
menyebabkan dermatitis kontak.
Kerentanan (sensitivity) seseorang terhadap tumbuh-tum-
buhan berbeda-beda. Ada yang mempunyai kerentanan tinggi,
yang berarti dengan mudah mendapat dermatitis bila berkon-
tak dengan tumbuh-tumbuhan tersebut. Ada pula yang sedikit
banyak immune terhadap allergen dari tumbuh-tumbuhan ter-
sebut. Tumbuh-tumbuhan tersebut mempunyai derajat tok-
sisitas yang berbeda-beda pula, menurut musim, stadium per-
tumbuhan dan iklim. Ada tumbuh-tumbuhan yang menimbul-
kan allergi bila bersentuhan dengan akar, biji, getah, daun dan
batang. Ada pula yang menimbulkan allergi pada semua bagian
tumbuh-tumbuhan tersebut.
Gejala-gejala
Kelainan kulit biasanya mulai terjadi pada bagian yang
bersentuhan
dengan tumbuh-tumbuhan tersebut. Biasanya
pada bagian badan yang terbuka, tidak tertutup pakaian.
Pada kulit timbul erythema pada mulanya disertai rasa ga-
tal. Kemudian dapat terjadi papels, vesikel, bahkan bulla.
Untuk diagnostik, dapat dilakukan percobaan tempel (patch
test) dengan jalan menggerus daun tumbuh-tumbuhan tersebut
seluas satu sentimeter persegi dan menempelkan pada pung-
gung penderita dan membukanya setelah 48 jam.
Tumbuh-tumbuhan yang menjadi penyebab
Sesungguhnya ada ratusan tumbuh-tumbuhan yang dapat
menyebabkan dermatitis kontak. Namun hanya disebutkan
disini sejumlah tumbuh-tumbuhan yang sering ditemukan
menjadi penyebab.
Anacardiaceae. Dari golongan ini dikenal Anacardia occi-
dentalis (jambu monyet). Getah daun, kulit batang dan buah
tumbuh-tumbuhan ini mengandung anacardol yang dapat
menyebabkan dermatitis.
Selain itu ada pula yang termasuk Anacardiaceae, yang bijinya
digunakan sebagai tinta : Semecarpus anacardium, dapat pula
menyebabkan dermatitis kontak.
Magnifera indica (mangga). Cairan dari buah mangga ini
mengandung cabol, yang dapat menyebabkan dermatitis
disekitar mulut, bibir dan tangan.
Papaya. Getah buah papaya dapat menimbulkan dermatitis
kontak, sekitar mulut, bila buah papaya yang dimakan masih
belum matang.
Citrus. Ini adalah sebangsa jeruk. Kulit buahnya mengan-
dung citral, graniol, linalool, dan sebagainya, yang dapat
menyebabkan dermatitis dan photo-dermatitis pada kulit.
Pada sekitar mulut dapat terjadi pigmentasi setelah mengupas
kulit buah dengan gigi. Juga buah langsat dapat menimbulkan
dermatitis kontak sekitar mulut.
Ficus carica.
Tumbuhan ini dapat menyebabkan derma-
titis dan bulla, bahkan photo-sensitisasi oleh cairan buah,
getah daun dan batang.
Pohon jati (Tecona grandis). Juga sering menyebabkan
dermatitis, terutama getahnya. Bila telah berupa perabotan,
kemungkinan vernis perabotan tersebut juga menjadi penye-
bab.
Kayu putih. Ini berasal dari pohon Eucalyptus. Digunakan
untuk massage, sehingga sering menyebabkan dermatitis dan
atau folliculitis. Juga obat cap macan dapat menyebabkan
dermatitis, karena mengandung minyak kayu putih, camphor
dan minyak salicylas methylicus.
Kacang atau daun gatal (Mucuna pruriens). Tumbuhan
ini mempunyai rambut-rambut halus yang dapat menimbul-
kan dermatitis karena irritasi mechanis. Juga mengandung
enzim mucuni yang menyebabkan irritasi kulit.
Mahoni. Kayu ini mengandung chloroxytonin yang dapat
34
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
menimbulkan dermatitis. Kayu yang segar dapat menimbulkan
kulit berwarna coklat.
Rengas (Cluta renghas). Tumbuhan ini termasuk golongan
Anacardiaceae. Dermatitis yang disebabkan oleh getah rengas
dapat menimbulkan bulla-bulla besar, sehingga menyerupai
pemphigus.
Sisal. Tumbuhan ini mengandung asam laktat dan bahan-
bahan sensitisasi lain yang dapat menimbulkan dermatitis.
Rumput-rumput dan bambu. Tumbuhan ini dapat juga
mengiritasikan kulit dan menyebabkan gatal dan dermatitis.
Biasanya disebabkan bulu-bulu halus yang menusuk pada rum-
put-rumput atau daun dalam batang bambu tersebut. Seperti
halnya pada rumput : Melinis minutiflora dan Andropogon-
rufus (daun sere). Juga rumput lalang : Imperata dapat menye-
babkan dermatitis.
Daun-daun obat. Di Indonesia sering digunakan daun en-
cok : Plumbagozeilanica untuk obat encok dengan cara me-
nempelkan pada kulit. Ini sering menimbulkan dermatitis. Ju-
ga daun jarak dapat menimbulkan dermatitis, karena biasa
digunakan sebagai obat sakit perut dengan menempelkan daun
jarak dikulit perut. Adakalanya digunakan daun jinten : Coleus
emboinicus sebagai obat kulit, sehingga menyebabkan der-
matitis.
TERAPI
Bila segera diketahui bahwa penderita telah berkontak
dengan tumbuh-tumbuhan yang dapat menimbulkan derma-
titis, maka bagian-bagian kulit yang bersentuh dengan tumbuh-
tumbuhan tersebut sebaiknya dicuci dengan air dan sabun.
Kemudian digosok dengan alkohol. Setelah itu dioleskan
Hydrocortison cream 1 -- 2% yang daya kerjanya anti-pruritik
dan anti-imflamasi.
Bila telah timbul dermatitis berupa erythema dan papel
penderita diberi antihistaminica dan Hydrocortison 1 -- 2%
lokal.
Bila gejalanya akut dengan terjadinya vesikel dan bulla,
maka bulla dapat dipecahkan. Kemudian dapat diberi suntik-
an ACTH ataupun cortison. Serta oral diberi steroid dan an-
tihistaminica.
PENCEGAHAN
Pekerja lapangan ataupun mereka yang akan bekerja ditem-
pat yang ada tumbuh-tumbuhan tersebut diatas yang mudah
menimbulkan dermatitis, sebaiknya menggunakan celana
panjang, kemeja lengan panjang dan sarung tangan.
Setelah kembali dari lapangan, semua pakaian sebaiknya
direndam dalam larutan calcium hipochlorit selama 45 menit.
Kemudian dicuci. Tubuh dicuci dengan sabun dan air. Juga
alat-alat yang dibawa kelapangan perlu di-dekontaminasi.
KEPUSTAKAAN
1. ROOK A, WILKINSON D S, EBLING F G :
Textbook
of
Der-
matology.
Volume I
II. Blackwell Scientific Publication. London,
1972.
2. SIMON
R D G P H:
Handbook
of
Tropical Dermatology and
Medical Mycology.
Vol 1. Elsevier Publishing Company. New York,
1952.
Kiriman dari puskesmas pedesaan
SUATU CARA PEMAKAIAN OBAT YANG SERING
DILUPAKAN.
dr. E. NUGROHO
Puskesmas Sepang Simin
Kalimantan Tengah
SUMMARY
In rural health centers shortage of certain injectable drugs
is not uncommon. In those situations, the same drug in tablet
form, dissolved in water and administered by rectal route,
might achieve the same desired result. Drug absorption by the
rectum depends on many factors. However, in emergency
cases, when oral administration is not possible, the rectal route
should be tried.
Doctors, who are going to work in rural areas, should accus-
tommed themselves with the rectal administration of drugs.
Kata Pengantar
Dalam keadaan yang serba kekurangan dan terpaksa ka-
dang-kadang kita dituntut untuk menggunakan segala apa
yang ada untuk dapat mengatasi masalah yang sedang kita
hadapi. Demikian juga dengan sejawat-sejawat yang bekerja di
Puskesmas di daerah-daerah terpencil dimana sarana perhu-
bungan sangat minim sekali.
Dalam tulisan ini sejawat yang bekerja di Puskesmas Kali-
mantan Tengah yang cukup terpencil mengetengahkan sedi-
kit pengalaman dalam menghadapi problem yang dihadapinya
Redaksi.
Kasus.
Beberapa bulan yang lalu terjadi epidemi
"influenza"
di daerah Sepang. Pada beberapa bayi, infeksi virus pada traktus res-
piratorius bagian atas itu -- yang kami perkirakan disebabkan oleh
RSV (Respiratory Syncitial Virus) -- diikuti oleh komplikasi berupa
bronchiolitis. Gejala-gejalanya antara lain sianosis dan dyspnoe hebat
yang cukup gawat. Suhu badan normal atau subfebril.
Kasus-kasus pertama dicoba diobati dengan berbagai macam obat :
antibiotika, bronkhodilator, kortikosteroid dan lain-lain. Berdasarkan
pengamatan beberapa kasus itu kami ambil kesimpulan bahwa obat-
obat tidak berguna, kecuali kortikosteroid. Maka kasus-kasus berikut-
nya hanya diberi kortikosteroid saja dan ternyata semua tertolong.
Semuanya kami beri Kalmethazone (dexamethazone) per injeksi IM,
karena dyspnoe tak memungkinkan pemberian obat per oral.
Suatu saat persediaan obat itu habis, padahal masih ada kasus-kasus
serupa. Dalam keadaan itu timbul ingatan akan suatu cara pemberian
obat yang sering diabaikan :
pemberian obat per rectal.
Maka selan-
jutnya pasien-pasien itu diberi tablet Kalmethazone yang dihancurkan
dengan air dan dimasukkan ke dalam rectum. Semua kasus tertolong
dengan obat yang diberikan dengan cara tersebut.
PEMBICARAAN
Pengobatan dengan suppositoria telah dikenal sejak jaman
dulu, sejak 1500 tahun sebelum Masehi. Hippocrates pun te-
lah mengetahui bahwa penyakit asthma dapat diobati dengan
pemberian obat secara rectal. Pada jaman modern ini pembe-
rian obat per rectal untuk pengobatan sistemik banyak dipe-
lajari di Eropa, terutama di Jerman.
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
3 7
Obat yang diberikan per rectal dapat berbentuk padat
(suppositoria) maupun berbentuk cairan (rectal retention
f
luids). Baik bentuk padat maupun bentuk cair, keduanya
dapat menimbulkan efek lokal, efek sistemik, atau kedua-
duanya. Jadi, pemberian obat yang dimaksudkan untuk
pengobatan penyakit sistemik juga dapat mengakibatkan efek
lokal, dan sebaliknya.
Pemberian obat untuk pengobatan penyakit/kelainan lokal
tidak akan dibicarakan dalam tulisan ini. Untuk pengobatan
penyakit sistemik, pemberian per rectal mempunyai beberapa
kelebihan dibandingkan dengan pemberian per oral, yaitu :
(a) obat-obat yang dihancurkan oleh aktivitas enzim lambung
atau usus halus dapat dihindarkan dari proses penghancuran
tersebut ; (b) obat yang mengiritasi lambung mungkin kurang
mengiritasi rectum; (c) pemberian per rectal sangat mengun-
tungkan pada kasus-kasus yang tidak bisa, atau tidak mau
memakan obat, seperti pada pasien pediatrik, pada kelainan
psikiatrik, pada keadaan koma, pada penderita yang muntah-
muntah dan lain-lain; (d) pada keadaan-keadaan di atas,
biasanya dipergunakan obat suntik yang harganya jauh lebih
mahal daripada tablet yang diberikan per rectal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dari rectum
Secara teoritis semua obat yang dapat diberikan per oral
dapat juga diberikan per rectal. Tetapi jumlah obat yang dapat
diabsorpsi tergantung dari jenis obat, dosisnya, dan faktor-
faktor lain.
Beberapa macam obat diserap dengan cepat sekali dari
rectum sehingga hampir menyerupai pemberian intravena,
contohnya aminophylline. Tetapi ada juga obat yang penye-
rapannya lebih jelek dibandingkan dengan penyerapan obat
per oral. Tentang dosis, masih belum ada kesatuan pendapat
mengenai perbandingan dosis per rectal dan per oral untuk
mencapai efek terapeutik yang sama. Dalam praktek, dosis
rectal biasanya
sampai dua kali lipat dosis oral. Faktor lain
yang mempengaruhi absorpsi adalah isi rectum. Bila rectum
terisi penuh oleh feces, jelas absorpsi akan kurang sempurna
karena sebagian obat akan masuk ke dalam massa feces. Jadi,
bila diinginkan absorpsi yang cepat, dapat dilakukan enema
dulu untuk membuang feces, baru kemudian di masukkan
obat.
Obat-obat yang telah dibuktikan dapat diabsorpsi dengan baik
Aminophylline
Aspirin, paracetamol, phenylbutazone
Morphine dengan analognya
Barbiturat
Golongan phenothiazine : chlorpromazine, prochlor-
perazine dan lain-lain
(6). Antihistamin seperti dimenhydrinate
(7). Vasokonstriktor : ergotamine tartrate
(8). Antibiotika :
· Potasium penicillin V, sodium penicillin G
· Erythromycin
· Chloramphenicol (harus dilarutkan dalam pelarut
organik dulu).
Dari golongan antibiotika, yang jelas
tidak bisa
diberikan per
rectal adalah tetracycline, karena obat ini sangat mengiritasi
rectum. Obat yang pemah dicoba diberikan per rectal dan
dinyatakan diabsorpsi dengan cukup baik ialah digitalis. Pe-
nulis tidak berhasil mengumpulkan obat-obat lain yang dapat
diabsorpsi dengan baik pada pemberian per rectal.
Dalam kasus bronchiolitis yang dibicarakan di atas, tidak
dapat dibuktikan dengan pasti bahwa Kalmethazone yang di
-
berikan per rectal itu benar-benar diabsorpsi ke dalam aliran
sistemik. Saya tidak berhasil mencari kepustakaan untuk
mendukungnya. Tetapi melihat hasil terapi dan membanding-
kannya dengan kasus-kasus sebelumnya, dapat diambil kesim-
pulan bahwa kortikosteroid itu benar-benar telah diabsorpsi
dan menghasilkan efek terapeutik. Apalagi kalau diingat
bahwa pemakaian kortikosteroid per cutan pun dapat menga-
kibatkan efek sistemik.
Kesimpulan
Puskesmas di daerah pedesaan, apalagi di tempat yang ter-
pencil, sering mengalami kekurangan obat suntik untuk kasus-
kasus yang gawat. Dalam keadaan itu pemberian obat berupa
tablet yang dilarutkan dalam air dan diberikan per rectal
dapat menolong. Absorpsi obat dari rectum tergantung dari
berbagai faktor dan tidak selalu baik; tetapi dalam keadaan
gawat, di mana pemberian per oral tak mungkin, pemberian
per rectal harus dicoba.
Bila di kemudian hari semua dokter-baru harus bekerja
di puskesmas pedesaan dulu, pemakaian obat per rectal ini
mungkin perlu lebih diperhatikan dalam pendidikan mereka.
KEPUSTAKAAN
1. BEAN H S : Advances in pharmaceutical sciences. No. 4. Academic
Press. London, 1974, pp 364-433.
2. SPROWLS J B : American Phazmacy. Lippincott Co. Philadel-
phia, 1960, pp 347 -- 351.
3. ANSEL H C : Introduction to pharmaceutical dosage forms. Lea
Febiger. Philadelphia, 1969.
p
342 -- 352.
q
Pemberitahuan.
Berhubung sesuatu hal yang bukan bersifat kesalahan Cermin
Dunia Kedokteran, maka atas permintaan dr Soeprapto As DPH
sebagai penulis dan pengirim naskah "Masalah kesehatan dalam
pengembangan waduk buatan yang berkaitan dengan ekologi"
yang telah dimuat dalam majalah Cermin Dunia Kedokteran
No. 11, untuk ditarik kembali.
Dengan ini naskah tersebut dianggap belum pernah dimuat.
Redaksi
q
38
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979