HASIL PENELITIAN
Teknologi Bioremediasi untuk
Menurunkan Kepadatan Nyamuk
di Pemukiman Perkotaan
·
I Gede Seregeg
·
Kelompok Biologi Kesehatan, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Suatu studi yang bertujuan untuk menurunkan kepadatan nyamuk di permukiman
perkotaan telah dimulai sejak bulan Juli 1994 sampai dengan Agustus 1995. Studi itu
berorientasi pada perbaikan lingkungan menggunakan metoda-metoda ekologi dalam
melakukan perubahan kualitas air habitat nyamuk dilengkapi dengan suatu gagasan
pengolahan air limbah rumah tangga (teknologi bioremediasi). Metoda studi juga
dilengkapi dengan pengamatan-pengamatan eksperimental, eksploratif dan studi
literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan menurunnya kepadatan
Aedes aegypti akibat efek bioremediasi beberapa jenis tumbuhan berintegrasi dengan
efek PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Secara hipotetik diduga kepadatan Cx.
quinquefasciatus juga akan menurun bila seluruh rumah tangga mau menerapkan unit
pengolahan limbah antara lain dengan teknologi bioremediasi. Karenanya studi ini
perlu dilanjutkan dengan penelitian-penelitian ekperimental baik skala laboratorium
maupun lapangan.
PENDAHULUAN
Dua jenis nyamuk yang umum terdapat di permukiman
perkotaan adalah Culex quinquefasciatus dan Aedes aegypti.
Relung ekologi mereka sangat berbeda. Cx. quinquefasciatus
menempati habitat perairan tercemar sedang sampai berat, se-
dangkan Ae. aegypti menempati habitat badan air tidak ter-
cemar sampai tercemar ringan. Walaupun habitatnya berbeda,
bukanlah berarti bahwa pengendaliannya selalu harus berbeda.
Dalam beberapa hal satu jenis cara pengendalian dapat efektif
baik untuk menurunkan kepadatan Cx. quinquefasciatus mau-
pun Ae. aegypti. Contoh yang umum adalah sistem aerosol,
baik dengan teknik "ultra low volume", "fogging", maupun
"mist blower", bila menggunakan racun serangga yang masih
peka, maka akan efektif membunuh nyamuk dewasa Aedes
maupun Culex secara langsung.
Namun demikian pengendalian nyamuk dewasa dengan
menggunakan racun serangga mengandung banyak kelemahan
dan risiko. Kelemahan-kelemahan itu banyak menyangkut soal
aplikasi dan implementasi; sebagai contoh saat penyemprotan
seringkali tidak dapat dilakukan pada suasana alam tenang
tidak berangin. Selain itu, penyemprotan jarang dievaluasi
secara ilmiah baik dengan bio assay maupun bio monitor, se-
hingga efektivitas dan dampak suatu jenis racun serangga tidak
diketahui denpan jelas.
Pengendalian serangga yang berorientasi pada.pelestarian
lingkungan dianjurkan dalam konsep Pengendalian Hama Ter-
padu (PHT). Cara ini tidak hanya menitik beratkan pengguna-
an bahan kimia, melainkan juga penggunaan cara-cara non
kimia, baik secara fisik-mekanik maupun biologi, atau cara-
cara tersebut dipadukan sedemikian rupa sehingga nilai eko-
nomi didapatkan oleh si pemakai, narnun tidak kehilangan
nilai ekologi yang menjadi pemilikan (property) suatu eko-
sistem.
Suatu cara yang berpijak pada konsep PHT untuk me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
23
nurunkan kepadatan nyamuk Ae. aegypti dan Cx. quinguefas-
ciatus di permukiman perkotaan dapat dikembangkan dari
teknologi bioremediasi. Tekonologi ini pada umumnya diguna-
kan untuk meningkatkan kualitas air identik dengan merubah
kualitas air itu sehingga bila profit kualitas air untuk Ae.
aegypti dan Cx. quinquefasciatus diubah, daur hidupnya dapat
keluar dari suatu ekosistem yang baru, misalnya diterapkan di
suatu permukiman perkotaan. Strategi ini diharapkan dapat
dikembangkan di daerah-daerah permukiman dataran rendah
yang air limpasannya (got) selalu tergenang sepanjang tahun.
Genangan air limbah rumah tangga menjadi tempat perindukan
yang baik sekali bagi Cx. quinquefasciatus karena masih
banyak mengandung nutrisi dan bahan organik. Walaupun
saluran air limpasan yang barada di dekat jalan dapat ditangani
dengan larvisida misalnya, tetapi saluran dari bak cuci piring
dan dari kamar mandi ke saluran limpasan pinggir jalan biasa-
nya di bawah permukaan tanah (tidak kelihatan), menjadi tem-
pat bersembunyinya nyamuk rumah dan larvanya, yang akan
mempertahankan daur hidup nyamuk itu sepanjang tahun.
24
Sesungguhnya sumber persembunyian nyamuk Cx. quin-
quefasciatus dan Ae. aegypti adalah sama permasalahannya
yaitu air limbah atau air buangan dalam pengertian luas yaitu
air yang tidak terpedulikan hanya profilnya yang berbeda.
Untuk Ae. aegypti air yang tidak terpedulikan itu adalah air
yang terlupakan yang biasanya berada dalam pot-pot bunga
dan tempat-tempat air lainnya, sedangkan untuk Cx. quinque-
fasciatus, adalah badan-badan air yang tersembunyi di tanah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek biore-
mediasi berjenis-jenis tanaman menjalar yang dapat tumbuh
pada bejana/kantong plastik yang mengandung air terhadap
keberadaan larva Ae. aegypti baik secara eksperimen maupun
eksploratif dan mencanangkan (menggagas) suatu desain
saringan bioremediasi untuk limbah rumah tangga yang ber-
potensi menurunkan kepadatan Cx. quinquefasciatus di per-
mukaan perkotaan, serta merta kepadatan Ae. aegypti dengan
bertumpu pada strategi PHT dan daya bioremediasi tumbuhan.
BAHAN DAN CARA
I. Untuk Ae. aegypti
a. Pengamatan dengan eksperimen
Menanam dalam botol aqua bekas yang berisi air 0,5 liter
tumbuhan Syngonium podophyllum Schoot dan melakukan
pengamatan selama satu bulan mengenai infeksi Ae. aegypti.
Jumlah yang diamati sebanyak tiga bejana. Percobaan dilaku-
kan indoor di laboratorium Puslit Ekologi Kesehatan, Jakarta.
Menanam Syngonium sp dalam kantong plastik berisi 0,5
sampai 0,75 liter air dan melakukan pengamatan selama 3
bulan. Jumlah yang diamati sebanyak 30 kantong. Percobaan
ditempatkan indoor dalam laboratorium F.MIPA IPB, Bara-
nangsiang, Bogor.
Menanam Syngonium sp dalam kantong plastik berisi 0,5
sampai 0,75 liter air dan melakukan pengamatan selama 3
bulan. Jumlah yang diamati sebanyak 20 kantong. Percobaan
ditempatkan outdoor, di desa Babakan, Baranangsiang, Bogor
(kawasan pemondokan mahasiswa).
b. Pengamatan secara eksploratif
Pengamatan ini dilakukan di ruang perkantoran Puslit
Ekologi Kesehatan, Perpustakaan Badan Litbang Kesehatan,
kantin dan ruang foto-copy. Yang diamati adalah bejana-
bejana tumbuhan rias yang berisi air (semacam larva survei).
Pengamatan tiga kali seminggu.
II. Untuk Cx. quinquefasciatus
Berdasarkan pengalaman dalam aplikasi larvisida di
selokan-selokan dan rangkuman pengetahuan-pengetahuan
mengenai pengolahan limbah dan teknologi penjernihan,
merancang suatu alat saringan pengolahan limbah rumah
tangga dengan lapisan-lapiran sebagai berikut (Gambar 1).
Gambar 1. Prototip saringan bioremediasi
1. Lapisan paling bawah adalah batu kerikil besar-kecil
dengan diameter (0,5-3) cm, setebal 10 cm.
2. Di atasnya adalah lapisan ijuk setebal 5 cm, tercampur
pasir dan kerikil.
3. Di atas ijuk adalah lapisan pasir diameter (0,3-2) cm se-
tebal 20 cm tempat tumbuhnya tanaman-tanaman yang akar-
nya mempunyai daya bioremediasi.
4. Lapisan ijuk setebal 5 cm, tercampur pasir dan kerikil batu
apung.
5. Paling atas adalah lapisan pasir-kerikil batu apung setebal
10 cm.
Susunan lapisan-lapisan tersebut bertujuan untuk men-
ciptakan kekekaran hidrolik, sehingga bila dilakukan pencuci-
an dengan arus balik tidak akan terjadi perubahan dalam su-
sunan lapisan saringan itu.
Selain itu adanya lapisan pasir-kerikil batu apung di atas
permukaan air limbah yang disaring akan dapat mencegah
bertelurnya nyamuk. Selanjutnya dalam air limbah yang sudah
disaring itu, yang menuju saluran limpasan pinggir jalan (got)
walapun airnya mengalir lemah atau tergenang, akan memung-
kinkan hidupnya ikan-ikan pemakan jentik, karena air sudah
jernih dan kandungan deterjen rendah. Secara hipotetik bila
seluruh rumah tangga menerapkan sistem ini tentunya akan
menurunkan kepadatan Cx. quinquefasciatus karena biological
control akan efektif (strategi PHT).
HASIL PENELITIAN
Hasil yang didapat secara eksperimental dan eksploratif
tertera pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
Tabel 1. Hasil pengamatan secara eksperimental (percobaan sendiri)
infestasi Ae. aegypti dalam air bejana/kantong plastik yang dita-
nami tumbuhan menjalar.
Jumlah
tempat
air
Jenis tumbuhan
Banyaknya
infestasi
Ae. aegypti
Tempat
percobaan
Lama/
waktu
Syngonium
0
Lab. PPEK
1 bulan
3
podophyllum Schoot
Syngonium sp
1
Lab. F.MIPA 3 bulan
30
IPB
Syngonium sp
0 Desa 3
bulan
Babakan,
20*
Bogor
Keterangan * : Mulut kantong plastik terikat dengan batang tanaman.
Tabel 2. Hasil pengamatan eksploratif dari tanaman hias dalam bejana
yang berpeluang diinfestasi Ae. aegypti.
Jumlah
bejana*
Jenis tumbuhan
Banyaknya
infestasi
Ae. aegypti
Tempat
pengamatan
Lama/
waktu
3
Aglaunema montana
var Cordatum
0
Kantor PPEK
1 minggu
2
A. montana dan
andong
0
Ruang tunggu
PPEK
1 minggu
3
A. montana
0 Tempat
foto copi
1 minggu
1
Syngonium
podophyllum dan
A. montana
0 Tempat
absen
1 minggu
3
S. podophyllum
dan A. montana
0 Kantin
1
minggu
2
A. montana
0 Perpustakaan
1
minggu
Keterangan * : Air bejana diganti seminggu sekali, kecuali di tempat foto copi
dan kantin.
Dari kedua tabel itu dapat dilihat bahwa derajat infestasi
Ae. aegypti sangat rendah yang diakibatkan oleh mengikat mu-
lut kantong plastik dengan batang tanaman, mengganti air
dalam bejana seminggu sekali, ataupun dimungkinkan oleh
daya bioremediasi tumbuh-tumbuhan yang ditanam dalam air
berkenaan dengan kemampuannya mengubah profit kualitas air.
PEMBAHASAN
Keengganan Ae. aegypti untuk bertelur pada bejana-bejana
yang ditanami dengan Syngonium maupun Aglaunema tentunya
disebabkan oleh bermacam-macam faktor, antara lain dari
informasi yang didapat melalui pertanyaan-pertanyaan menye-
butkan bahwa air telah diganti seminggu sekali, narnun peng-
amatan langsung secara visual memberi dugaan lain yaitu
airnya kotor mengandung endapan yang mencirikan bahwa
airnya lama tak pernah diganti. Hal ini terdapat dalam beberapa
bejana, narnun bejana-bejana itu juga tidak diteluri Ae. aegypti.
Kalaupun airnya diganti beberapa telur tentu akan masih
ada yang melekat pada akar tanaman yang nantinya akan dapat
menjadi larva. Kenyataannya memang tidak ada larva, sehingga
mungkin ada sebab lain yang berasal dari kegiatan fisiologi
tumbuhan itu.
Percobaan yang dilakukan sendiri dengan memapar 30
kantong plastik berisi air ditanami dengan Syngonium sp se-
lama 3 bulan ternyata yang diteluri hanya satu kantong. Hasil
penelitian Seregeg dkk. (1994) mengenai efek bioremediasi
Syngonium sp menunjukkan bahwa tanaman itu dapat menaik-
kan pH air dari 3,9 menjadi 7,91. Dari pengamatan-pengamatan
di lapangan di tempat-tempat air yang senang dihuni oleh larva
Ae. aegypti umumnya berisi air hujan. Hasil pengukuran me-
nunjukkan pH air hujan di Jakarta dapat mencapai 4,8 sedang-
kan di Bogor dapat mencapai 5,6. Diduga pH yang relatif
rendah inilah yang menarik Ae. aegypti untuk memilih tempat
perindukannya. Bila pH diubah, mungkin Ae. aegypti tidak mau
bertelur lagi di tempat semula, sedangkan tanaman yang tahan
akan perubahan itu masih akan hidup dengan normal dan tetap
dapat dinikmati keindahannya (strategi bioremediasi).
Dari uraian di atas terlihat bahwa efek bioremediasi tum-
buhan berpengaruh pada kesenangan Ae. aegypti untuk memilih
tempat bertelurnya, yang pada hakekatnya terletak pada
kualitas air. Bila profil kualitas air untuk masing-masing jenis
nyamuk dapat diketahui atau dipetakan dalam profil-analisis
(sistem delta bintang), teknologi bioremediasi akan dapat
diarahkan pada perubahan kualitas air habitat (ecological
control). Strategi ini sejajar dengan konsep PHT.
Istilah PHT (Pengendalian Hama Terpadu) mula-mula
dikembangkan di bidang pertanian untuk mengendalikan hama
wereng coklat dalam rangka program swasembada beras. PHT
merupakan suatu konsep pemikiran multi disiplin
(1)
untuk
meminimumkan dampak negatif pestisida yang di Indonesia
terasa cukup parah pada dekade tahun delapan puluhan. Dalam
konsep tersebut pemikiran-pemikiran telah mulai diorientasikan
pada penyelamatan lingkungan, penyelamatan nilai-nilai eko-
logi tanpa harus banyak kehilangan nilai-nilai ekonomi.
Pada waktu itu kerusakan lingkungan tidak hanya
disebabkan oleh dampak negatif pestisida melainkan juga oleh
cemaran bahan-bahan kimia lainnya baik organik maupun
anorganik, sehingga dicanangkanlah suatu konsep Pembangun-
an Berwawasan Lingkungan (Development with Environmental
Outlook). Konsekuensi dari konsep ini di Indonesia akhirnya
menelorkan PP no. 29 tahun 1982, yang mengharuskan setiap
kegiatan melaksanakan AMDAL. Perkembangan selanjutnya,
menjelang tahun sembilan puluhan terjadi ekses negatif
AMDAL yang seakan-akan memperlambat laju pembangunan
tersebut, maka konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan
berubah menjadi Pembangunan Berkelanjutan (Subtainable
Development), dan PP no. 29 tahun `82 kemudian menjelma ke
dalam bentuk yang lebih sederhana yaitu PP no. 51 tahun 1993.
Menjelang tahun sembilan puluhan, di Jerman dan di
Inggris berkembang suatu teknologi pengolahan limbah dengan
mengandalkan daya-kerja akar tanaman untuk menyerap (ab-
sorbsi) dan menjerap (adsorbsi) zat-zat pencemar dalam air
(2)
sehingga kualitas air dapat meningkat. Tanaman herba ditanam
dalam suatu bedengan yang dapat menyaring air limbah
(teknologi bioremediasi). Di Indonesia penelirian serupa de-
ngan menggunakan eceng-gondok
(3)
tidak ditanam dalam
bedengan, juga telah dicoba dan cukup efektif menurunkan
kadar-kadar zat pencemar tertentu (deterjen, fosfor dan bahan
organik).
Konsep PHT, Pembangunan Berwawasan Lingkungan,
Pembangunan Berkelanjutan dan Teknologi Bioremediasi pada
hakekatnya mempunyai tujuan yang sejajar yaitu Penyelamatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
25
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
26
Lingkungan atau Perlindungan Lingkungan dari Pencemaran,
baik pencemaran kimia, maupun pencemaran biologi oleh
satwa pengganggu, vektor penyakit, mikroba dan lain-lainnya;
hanya perkembangannya di masing-masing negara atau wilayah
akan dapat berbeda-beda baik dalam aspek-aspek tersebut
maupun dalam pelaksanaan teknis (implementasi) suatu jenis
aspek.
Sebagai contoh, di Inggris dilaporkan teknologi biore-
mediasi itu dapat menurunkan BOD dari 1006 mg/l menjadi 57
mg/l
(2)
, tetapi karena melibatkan air tergenang, akhirnya men-
jadi perindukan nyamuk. Demikian pula upaya meremediasi
danau yang tercemar dengan menggunakan tumbuhan makro-
fita, akhirnya menjadi tempat perindukan nyamuk dan satwa
pengganggu lainnya
(4,5)
.
Di Indonesia akan diupayakan mendesain saringan biore-
mediasi dengan menambahkan lapisan pasir-kerikil batu apung
di atas permukaan air dalam media saringan setebal 10 cm,
sehingga tidak memungkinkan lagi nyamuk bertelur. Dengan
demikian dampak negatif saringan yaitu meningkatnya densitas
nyamuk dapat dihindarkan. Selain itu air limbah yang sudah
jernih akan memungkinkan hidupnya ikah-ikan pemakan jentik
dalam genangan-genangan air buangan rumah tangga yang
tersembunyi. Selama ini (bila tidak disaring) kandungan
deterjen yang tinggi dari kegiatan cuci mencuci sangat meng-
gangu insang dari ikan-ikan pemakan jentik. Bila seluruh
rumah tangga membuat saringan limbah niscaya Cx. quiquefas-
ciatus akan sangat menurun di suatu permukiman perkotaan.
Selain untuk Cx. quinquefasciatus, teknologi bioremediasi
dapat pula diaplikasikan untuk menurunkan kepadatan Ae.
aegypti melalui perubahan profit kualitas air habitatnya. Im-
plementasinya cukup sederhana antara lain bisa dengan meng-
ubah pH, menyemprotkan air kapur atau meningkatkan salinitas
melalui penyemprotan air mengandung garam. Cara lain, jenis
tanaman hias dipilih/dibuat terhadap kualitas tertentu dari air
habitat, sedangkan Ae. aegypti tidak sanggup lagi hidup pada
kualitas air seperti itu. Untuk maksud ini profit kualitas air
habitat dari masing-masing galur nyamuk perlu mendapat
penelitian selanjutnya.
KESIMPULAN
1. Teknologi Bioremediasi dapat dikembangkan ke arah pe-
ngendalian terpadu untuk menurunkan kepadatan nyamuk
di permukiman perkotaan, melalui perubahan kualitas air
habitatnya, melapangkan jalan bagi efektifnya pengendali-
an hayati.
2. Teknologi Bioremediasi mempunyai konsep yang sejajar
dengan PHT, berorientasi pada penyelamatan dan perlin-
dungan lingkungan, bertumpu pada metoda-metoda pe-
ngendalian secara ekologi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. lr.
Muchammad Sri Saeni MS, guru besar FMIPA IPB yang telah memberikan ijin
kepada penulis untuk mengunakan laboratorium FMIPA IPB. Juga kepada
Bapak Dr. lr Harun Sukarmadijaya, MSc. dan stafnya dari Teknologi
Lingkungan ITB, tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih atas
informasi yang telah diberikan mengenai teknologi Bioremediasi.
KEPUSTAKAAN
1. Flint ML, van Den Bosch. Pengendalian Hama Terpadu. Kanisius.
Yogyakarta, 1990; 144p.
2.
Biddlestone AJ, Gray KR, Job GD. Treatment of Dairy Farm Wastewaters
in Engineered Reed Bed Systems. Process Biochemistry 26 (1991).
England: Elsevier Science Publisher Ltd.
3.
Wargasasmita S, Setiadi S, Hastuti Y. Pendaurulangan Limbah, peranan
eceng-gondok dalm penurunan BOD, N, P, pada efisiensi kolam
sedimentasi. PPSML-UI. Jakarta: 1982: p 8-12.
4. Jorgensen SE, Vollenweider RA.Guidelines of Lake Management.
International Lake Environmental Committee, UNEP, Shiga 520, Japan:
1989: 199 pp.
5.
Pancho JV, Soerjani M. Aquatic Weeds of South East Asia. BIOTROP.
Bogor. 1978: 130 pp.
6.
Seregeg IG, Sri Saeni M, Hardjoamodjojo. Efektivitas Biofilter Beberapa
Jenis Tanaman dalam Memperbaiki Kualitas Air Limbah. Center of
Research for Engineering Application in Tropical Agriculture. JICA-IPB,
(ADAET): JTA -9A (132). Seminar Tahunan Perkembangan teknologi
Pertanian PERTETA. Bogor. 1995; 11 hal.
Nobody can be bound to do beyond what he is able to do