Taman Penitipan Anak
Dr Husain Albar dan Dr P. Palada
Lembaga 1/mu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/
RSU Ujung Pandang, Ujung Pandang
PENDAHULUAN
Dalam tahun 1965 di Amerika Serikat, dari 1 juta anak di
bawah umur 14 tahun, 40.000 balita tinggal di rumah tanpa
pngasuh karena ibunya bekerja. Selama periode 19701980,
pekerja wanita mencakup ibu-ibu anak balita meningkat men-
jadi 2x lipat sehingga jumlah anak yang memerlukan tempat
penitipan sebagai sarana pengganti sementara peranan ibu ber-
tambah sekitar 11 juta
1,2
.
Indonesia mempunyai angka kematian bayi dan anak yang
tinggi dan angka harapan hidup yang rendah. Hasil survey
Depkes RI (1980) menunjukkan angka kematian kasar berkisar
21,1 per 1000 penduduk dalam kurun waktu 1 tahun, di
antaranya 41,7% anak balita. Ini berarti kemungkinan balita
meninggal tiap tahun 3x lebih banyak daripada kelompok umur
lain
3
.
Dalam rangka peningkatan derajat kesehatan anak sekali-
gus menurunkan angka kematian, pemerintah berusaha me-
ningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan, antara
lain: program pengembangan imunisasi, kesejahteraan ibu dan
anak, peningkatan gizi, penanggulangan diare, keluarga
berencana dan lain-lain yang dilakukan secara tervadu melalui
pos pelayanan kesehatan terpadu (pos yandu)
4
.
Dengan meningkatnya tenaga kerja wanita khusus ibu-ibu
anak balita, timbul kendala baru dalam upaya peningkatan ke-
sejahteraan anak. Peter dan Mayling Gardiner (1980) .melapor-
kan, peran serta wanita Indonesia pada pendidikan dan tenaga
kerja berdasarkan standar Asia tergolong tinggi..
Sekitar 25% pegawai negeri dan 4,5 juta kepala keluarga
adalah wanita
s
. Sedangkan dari hasil sensus Biro Pusat Statis-
tik (1981) terdapat tenaga kerja wanita umur 2040 tahun
sebanyak 7.637.493 orang, sebagian besar ibu rumah tangga
6
.
Selma kerja, kesempatan mengasuh dan membimbing anak
tersita sehingga anak akan tumbuh dan berkembang tanpa
asuhan, bhnbingan dan kasih sayang yang sangat diperlukan
dalam masa balita untuk pembentukan kepribadian
6
.
Tulisan ini menguraikan sekedar perihal Taman Penitipan
Anak (TPA).
DEFINISI, MAKSUD DAN TUJUAN
TPA adalah suatu lembaga pelayanan kesejahteraan sosial
yang memberikan pelayanan kepada anak-anak ibu pekerja
dalam bentuk asuhan, bimbingan dan perawatan agar anak
terhindar dari keterlantaran serta terhambatnya perkembangan
fisik, mental dan sosial, dan memberikan bimbingan dan
konsultasi pada ibu pekerja
2,5,6,7
Pengertian tersebut mencerminkan, pelayanan TPA tidak
saja untuk anak tetapi juga ibu sebagai suatu kesatuan keluarga
dalam mencapai kesejahteraan.
MAKSUD DAN TUJUAN TPA
5,6,8,9
1)
Merawat dan melindungi anak ibu pekerja sebagai pelayan-
an pengganti untuk meningkatkan kesejahteraan anak dalam
perkembangan fisik, mental dan sosial menuju pembentukan
kepribadian.
2)
Membantu ibu pekerja agar memperoleh ketenangan kerja
dan mencapai prestasi kerja yang optimal.
3)
Memberikan pelayanan pada anak sedemikian rupa
sehingga merasa berada dalam keluarganya sendiri.
4)
Menumbuhkan dan memantapkan kerjasama masyarakat
sekitar TPA.
JENIS-JENIS TPA
TPA dapat digolongkan menurut status dan lokasi
6
°'
,a
A. Menurut status, TPA terdiri atas 3 jenis:
1.
TPA Pemerintah
Pengelolaan dan pembiayaan oleh pemerintah pusat dan
daerah.
2.
TPA swasta-bersubsidi
Pengelolaan oleh lembaga swasta dan pembiayaan
sebagian dibantu pemerintah.
3.
TPA swasta
Pengelolaan dan pembiayaan secara penuh oleh lembaga
swasta yang menaunginya.
B. Pembagian TPA menurut lokasi
1. TPA Kantor
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
34
Lokasi di gedung perkatoran atau sekitarnya untuk melayani
anak ibu pekerja kantor.
2.
TPA Pasar
Terdapat di sekitar pasar, melayani anak ibu pedagang
yang membawa anaknya ke pasar.
3.
TPA Industri
Lokasi di sekitar industri untuk anak-anak pekerja industri.
4.
TPA Perkebunan
Bertempat di daerah perkebunan, melayani anak ibu buruh
perkebunan yang membawa anaknya ke tempat kerja.
5.
TPA Lingkungan
Terdapat di daerah pemukiman penduduk, melayani anak
anak pekerja di sekitar lokasi tersebut, misalnya pabrik
dan lain-lain.
6.
TPA Keluarga
TPA yang bertempat di rumah pengasuh sendiri, khusus me-
layani 16 anak dan diasuh oleh ibu tidak terlatih. Selain
TPA ini, umumnya melayani 1075 anak balita.
FUNGSI TPA
TPA merupakan sarana pembinaan kesejahteraan anak
yang berfungsi sebagai
6
:
1) Pusat pelayanan kesejahteraan anak:
a.
Pencegahan
Ditujukan untuk pembinaan lingkungan sosial anak agar
terhindar dari pola tingkah laku agresif dan tercapai tingkah
laku yang wajar.
b.
Perlindungan
Melindungi anak dari keterlantaran, perlakuan kejam dan
eksploitasi orang tua serta meningkatkan kemampuan ke-
luarga dalam mengasuh dan melindungi perpecahan anak
dalam keluarga.
c.
Pengembangan
Mengembangkan kepribadian anak mencakup peranan,
tanggung jawab dan kepuasan anak karena kegiatan yang
dilakukannya.
d.
Pengganti
Sebagai pengganti sementara peranan ibu dalam mengasuh
anak meliputi perlindungan, perawatan, pengawasan dan
pemeliharaan anak.
2) Pusat informasi dan konsultasi kesejahteraan anak:
Ini merupakan fungsi jangka panjang yang bersifat mem-
berikan informasi dan konsultasi mengenai kesejahteraan
sosial anak.
Kegiatan yang dilakukan:
a.
Pengumpulan data
Meliputi pendataan secara menyeluruh keperluan anak,
masalah yang dihadapi dan peranannya dalam suatu ke-
giatan.
b.
Penyebaran informasi tentang usaha kesejahteraan anak
Informasi yang disebarkan berkaitan erat dengan pelayanan
anak dan sumber pelayanan dalam masyarakat sekitarnya.
Maksud informasi untuk penyempurnaan kebijakan pro-
gram pelayanan 'kesejahteraan anak di dalam maupun luar
TPA, pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan pening
-
katan kesadaran dan peran serta masyarakat dalam upaya
ppningkatan kesejahteraan anak, baik perorangan, kelom-
pok maupun lembaga sosial swasta.
c.
Peran serta aktif. dalam pemecahan masalah kerawanan
sosial lingkungan melalui pertemuan di dalam dan luar TPA.
d. Bimbingan dan konsultasi kepada ibu penitip untuk me-
ningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembinaan
kesejahteraan keluarga terutama pengembangan
kepribadian anak.
3)
Pusat pengembangan ketrampilan :
TPA berfungsi untuk pengembangan fisik dan kepribadian
anak, meningkatkan ketrampilan keluarga dalam pembinaan
dan pelaksanaan kesejahteraan anak serta menumbuhkan peran
serta aktif masyarakat dalam upaya peningkatan kesejahteraan
sosial, terutama anak.
SASARAN TPA
TPA bertujuan untuk pelayanan kesejahteraan sosial anak-
anak ibu pekerja dari umur 3 bulan sampai 5 tahun
5,6,8
CARA DAN PELAKSANAAN PELAYANAN
Prinsip dasar TPA yaitu memberikan pelayanan kepada
anak sebagai sarana penunjang dalam menutupi kesenjangan
asuhan selama ibunya bekerja dan ibu agar memperoleh ke-
tenangan kerja. Dalam proses pelayanan anak dan ibu diguna-
kan beberapa cara yang meliputi fase pendekatan awal, pe-
nerimaan .dan bimbingan sosial
s,6,10
1) Fase pendekatan awal:
Selama fase dilakukan pengamatan terhadap masalah
keluarga, keadaan ekonomi dan sosial para calon penitip;
konsultasi dengan instansi berwenang; pengenalan masalah
anak dan ibu, keadaan dan tempat tinggal keluarga; motivasi
keluarga agar mengikuti pertemuan dan anjangsana yang bet-
hubungan dengan masalah sosial anak; dan pertemuan calon
penitip yang diterima. Penitip selanjutnya mengisi formulir
pendaftaran, keterangan kesehatan anak, penghasilan dan ke-
adan lingkungan keluarga.
2) Fase penerimaan:
Rangkaian kegiatan yang dilakukan setelah anak diterima:
a.
Registrasi.
b.
Penelahaan/pengungkapan masalah anak dan ibu.
c.
Penempatan anak dan ibu dalam sistem pelayanan yang
sesuai dengan masalah yang dihadapi.
3) Fase bimbingan sosial:
Selama fase ini dilakukan bimbingan sosial perorangan
atau kelompok terhadap:
a. Anak agar terhindar dari keterlantaran dan dapat mengem-
bangkan kepribadian yang wajar.
b. Ibu dan keluarga agar terjamin ketenangan kerja, serta ter-
cipta kondisi keluarga harmonis dan sejahtera.
c. Masyarakat agar aktif berperan serta
.
dalam menumbuhkan
minat dan meningkatkan pengetahuan dalam usaha kesejah-
teraan sosial.
PELAKSANAAN PELAYANAN TPA MELIPUTI
5,6,10
:
1)
Pendidikan anak
Meningkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi secara
verbal, penghayatan nilai-nilai sosial, pengembangan tingkah
laku dan sikap disiplin melalui kegiatan terjadwal.
2)
Pekerjaan sosial
Meliputi bimbingan sosial perorangan, kelompok maupun
masyarakat, agar dapat memahami masalah anak atau keluarga
untuk peningkatan penyesuaian sosial antar keluarga, mem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 35
berikan kesempatan saling menukar pengalaman para ibu pe-
nitip melalui diskusi kelompok dan dapat menciptakan jalur
hubungan saling menunjang melalui bantuan sosial dan pe-
nanggulangan dengan rujukan.
PELAYANAN TERHADAP ANAK DAN IBU
1) Pelayanan terhadap anak
a.
Asuhan
Pemenuhan keperluan fisik dan psikik serta penanaman
disiplin hidup sehat, tertib pribadi dan sosialisasi.
b.
Perawatan
Usaha mencegah dan pengobatan penyakit ringan.
c.
Bimbingan sosial
Usaha peningkatan daya motorik, pengembangan inteli-
gensia dan kepribadian anak serta penciptaan kelompok
bermain.
2) Pelayanan terhadap ibu
Pelayanan ini dilakukan dalam bentuk konsultasi, ceramah dan
pertemuan atau tukar informasi antar ibu penitip, keluarga dan
masyarakat agar mampu mengetahui masalah kesehatan anak
seutuhnya maupun mengasuh bayi dan anak di rumah sebagai-
mana cara TPA sehingga tercapai keseimbangan antara pe-
layanan di rumah dan TPA yang akan memantapkan tumbuh
kembang anak.
ORGANISASI, SARANA DAN PRASARANA
A. Struktur Organisasi dan Sistem Pelayanan TPA
5-8,10
:
Sistem pelayanan TPA bersifat terbuka karena anak berada
di TPA hanya dalam waktu relatif singkat dan perlunya
penggunaan fasilitas diluar TPA. Juga dapat memberikan ke-
sempatan pada masyarakat memakai fasilitas TPA, seperti
ruang pertemuan.
Struktur Organisasi TPA terdiri atas:
1.
Pimpinan
Pimpinan harus mengetahui aspek perkembangan, pendidik-
an dan keperluan bayi dan anak serta bertanggung jawab
terhadap terlaksananya seluruh proses pelayanan TPA.
2.
Petugas Tata-Usaha
Mengurus tata-usaha, kepegawaian, keuangan Ian rumah
tangga.
3.
Pengasuh dan Pendidik
Bertugas dalam pengembangan fisik, perawatan dan pen-
didikan anak.
4.
Pekerja Sosial
Melakukan bimbingan dan konsultasi dalam pemecahan
masalah serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
ibu dalam mengasuh anak.
5.
Psikolog
Mengawasi tingkah laku dan menangani masalah perkem-
bangan anak sehingga anak mampu menumbuhkan kepri-
badian, rasa percaya diri dan tertip pribadi/disiplin sesudah
keluar TPA. Selain itu, memberikan konsultasi pada ibu
penitip tentang tumbuh kembang anak agar mampu meng-
asuh dan merawat bayi dan anak sebagaimana mestinya.
Tenaga ini penting namun tidak berarti harus tetap berada
dalam TPA. Tenaganya bisa dipenuhi melalui kerjasama
dengan instansi lain.
6.
Tenaga medis
Terdiri atas dokter, perawat dan bidan. Melakukan perawat
an kesehatan dalam bentuk pencegahan/imunisasi dan pe-
ngobatan penyakit ringan. Dokter Anak sangat penting tetapi
tidak selalu harus diperlukan. Tenaganya dapat dipenuhi
melalui konsultasi.
7.
Tenaga pembantu
Terdiri atas tukang masak, tukang cuci, tukang kebun,
pesuruh, penaga malam dan pengemudi. Jumlah dan tugas-
nya diatur oleh pirnpinan.
Untuk mencapai daya dan tepat guna dalam pelayanan
TPA, perlu diperhatikan perbandingan antara jumlah pe-
ngasuh/petugas dan bayi/anak. Misalnya seorang pengasuh
untuk 4 orang bayi atau 10 anak, seorang pendidik untuk 20
anak dan seorang perawat untuk 10 bayi atau 25 anak.
B. Sarana dan Prasarana TPA
2,3,4,5,7
Sarana fisik sebuah TPA meliputi luas bangunan sekitar
400500 m2 di atas tanah seluas 10002000 m2. Lokasinya
disesuaikan dengan pemukiman yang mempunyai tenaga kerja
wanita padat khususnya ibu-ibu anak balita. Bangunan TPA
harus cukup luas yang terdiri atas ruang kantor berupa ruang
pimpinan, tata-usaha dan ruang tamu, :uang dokter termasuk
kamar periksa, ruang konsultasi, ruang serba guna atau per-
temuan, ruang istirahat bayi dan anak, ruang makan, kamar
mandi dan WC, dapur dan gudang. Selanjutnya diperlukan pula
lapangan, perlengkapan bermain, air, tilpon dan mobil. Venti-
lasi dan peneranganruangan harus memenuhi syarat kesehatan.
Jam kerja pelayanan umumnya dimulai pk 07.00 sampai pk.
17.00 tiap hari kecuali jumat din sabtu berturut-turut sampai pk
11.30 dan 14.00, hari raya dan minggu tutup.
Biaya diperoleh dari pemerintah, uang pangkal dan iuran
bulanan penitip bagi TPA pemerintah. TPA swasta-bersubsidi
memperoleh biaya selain bantuan pemerintah juga uang pang-
kal dan iuran bulanan penitip serta sumbangan lembaga sosial
atau donatur syah yang tidak bertentangan dengan ketentuan
lembaga sosial yang menaunginya dan TPA swasta penuh
mendapat dana dari lembaga sosial yang menaunginya, donatur
tetap dan pungutan dari ibu penitip.
Syarat-syarat untuk mendirikan sebuah TPA ialah:
·
Harus ada izin tertulis Departemen Sosial daerah berwenang.
·
Luas bangunan 400500 m2, di atas tanah seluas 1000
2000 m2.
·
Bangunan harus memenuhi syarat kesehatan dan tidak
mudah terbakar.
·
Mempunyai organisasi lengkap dan peralatan/perlengkapan
cukup.
·
Perbandingan antara petugas dan jumlah bayi atau anak
harus sesuai, misalnya seorang petugas untuk 6 anak umur
kurang dari 2 tahun, 10 anak umur 24 tahun dan 15 anak
umur 45 tahun.
HAMBATAN-HAMBATAN TPA
Selain manfaat yang diperoleh baik anak maupun ibu pe-
nitip, ditemukan pula hambatan dan kerugian dalam pelayanan
TPA terutama bila diasuh oleh tenaga tidak terlatih. Hambatan
dan kerugian yang dapat dialami seorang anak dalam TPA
ialah
1,7,,10,11
:
1)
Anak akan tumbuh dan berkembang dengan respons emosi-
onal yang salah sehingga mengganggu pembentukan kepribadi-
annya.
2)
Meskipun trampil petugas dan sempurna organisasi TPA
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
36
ini tidak sama dengan asuhan ibunya sendiri.
3) Anak akan mempunyai risiko relatif tinggi mendapat pe-
nularan penyakit yang biasanya terjadi karena petugas kurang/
tidak terlatih, kerja berlebihan dan tidak memperhatikan
higiene.
Yang pernah dilaporkan mewabah di lingkungan TPA
ialah diare ,oleh shigella/salmonella, virus dan giardia lamblia,
hepatitis virus A, radang saluran napas bagian atas oleh
Haemophilus influenzae dan streptokok grup A, juga batuk
rejan, campak, cacar air dan mumps.
PROSPEK MASA DEPAN TPA
Dengan bertambahnya tenaga kerja wanita oleh faktor-
faktor, antara lain demografik dan sosiologik, kesempatan ibu
dalam mengasuh anak makin berkurang terutama dalam era
perkembangan teknologi yang pesat. Hal inilah yang me-
nyebabkan animo masyarakat terhadap TPA makin meningkat
RINGKASAN
TPA mempunyai peranan penting dalam membantu ibu-
ibu pekerja sebagai sarana pengganti sementara asuhan anak
titipan sehingga tercipta suasana kerja relaks dan bergairah.
Selain manfaat terdapat pula kerugian pada anak titipan ter-
utama dalam asuhan petugas tidak terlatih, seperti gangguan
pembentukan kepribadian dan penyebaran penyakit menular.
Meskipun sarana TPA sudah sempurna, namun ini tidak
dapat menggantikan kedudukan ibu sendiri dalam hal asuhan.
KEPUSTAKAAN
1.
Bartlett AV. Public Health Consideration of Infectious Diseases. in Child
Day Cace Centers. J Pediatr 1984; 105 : 683. 697.
2.
Peters AD. Day Care: A Child Development Service In: Maternal and
Child
.
Health Practices. Springfield Illinois, USA: Charles C Thomas
Publisher 1973; pp 744, 749, 753, 757.
3.
Sampoerno D. Tolok Ukur Pelaksanaan Kesejahteraan Ibu dan Anak.
Majalah Kesehatan Masyarakat 1985; 3 : 170.
4.
Utomo B dan Iskandar WB. Masalah Utama Kesehatan dan Penyebab
Kematiana Anak di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat 1985; 3 :
155.
5.
Farid Kaspan M. Taman Pentipan Anak. Kursus Khusus Ilmu Kesehatan
Anak I FKUNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya 1985, hal 7377, 87
88.
6.
Direktorat Bina Kesejahteraan Anak, Keluarga dan Usia Lanjut Dirjen
Bina Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial R.I.: Petunjuk Teknik
Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Keluarga Melalui Sarana
Penitipan Anak, Jakarta 1986.
7.
Li Ki, Dashefsky B and Wald ER. Haemophilus influenzae type B
Colonization in Household Contacts of Infected and Colonized Children
Enrolled in Day Care Pediatr 1986; 78 : 1516.
8.
BIKA FKUI. Kumpulan Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, cetakan ke-2,
Bagian I 1974; hal 109110.
9.
Helmy D. Taman Penitipan Anak adalah satu cara untuk Mendukung
Program Tahun Anak-anak PBB. Majalah Kesehatan 1979; 77 2627,40.
10.
Fernandez JA. The Medical Day Care Centers. Kursus Khusus Ilmu
Kesehatan Anak I FKUNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya 1985; hal.
6166.
11.
Pickering LK, Woodward WE, Dupont HL and Sullivan P. Occurrence of
Giardia Lamblia in Children in Day Care Centers J Pediatr 1984; 104 :
522.