background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sistatin C dan Hubungannya
dengan Fungsi Ginjal pada Anak
Sudung O. Pardede
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Sistatin C atau human
-trace adalah suatu protein kation yang terdiri dari 120
asam amino dengan berat molekul 13,3 kilodalton. Sistatin C diproduksi secara konstan
oleh semua sel yang mempunyai nukleus dan dieliminasi melalui filtrasi glomerulus se-
hingga dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk menilai laju filtrasi
glomerulus(LFG). Produksi sistatin C tidak dipengaruhi oleh proses inflamasi, jenis ke-
lamin, dan penyakit di luar ginjal, serta tidak bergantung pada umur kecuali pada umur
di bawah 1 tahun. Konsentrasi sistatin C paling tinggi didapatkan pada umur 1 hari
diikuti penurunan yang cepat selama 4 bulan pertama dan setelah umur 1 tahun kadar
sistatin C menjadi konstan. Sistatin C merupakan petanda endogen baru terhadap fung-
si ginjal dan hubungannya dengan LFG lebih baik daripada kreatinin. Konsentrasi
kreatinin dan sistatin C serum berbanding terbalik dengan LFG dan terdapat korelasi
linier yang kuat antara resiprokal kadar kreatinin (1/kreatinin) dan resiprokal sistatin C
(1/sistatin C), tetapi korelasi ini lebih kuat pada hubungan antara resiprokal kadar sis-
tatin C dengan LFG pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal. Efisiensi diagnostik
sistatin C paling baik (98%) didapatkan jika digunakan batas atas titik potong kadar
sistatin C 1,31 mg/l, dan spesifisitas 100% diperoleh jika batas atas titik potong kadar
sistatin C 1,58 mg/l; sedangkan untuk kreatinin efisiensi diagnostik maksimum (88%)
didapatkan jika digunakan batas titik potong kadar kreatinin 91
µ mol/l.
PENDAHULUAN
LFG merupakan parameter yang penting dalam menilai
fungsi ginjal dan kreatinin serum merupakan zat yang paling
sering digunakan untuk menilai LFG. Di lain pihak kadar
kreatinin serum dalam sirkulasi merefleksikan produksi kreati-
nin, sehingga mengurangi nilai kreatinin sebagai petanda untuk
menilai fungsi ginjal terutama pada ana-anak.
(1,2)
Perkembangan terapi yang sangat pesat di bidang nefrologi
seperti pemakaian obat antiinflamasi, transplantasi ginjal ter-
masuk pengobatan terhadap rejeksi, serta pemakaian obat-
obatan yang cenderung nefrotoksik menyebabkan perlunya
pemeriksaan yang cepat, sederhana, dan mudah untuk menilai
fungsi ginjal.
((3,4)
Berbagai kekurangan kreatinin membuat para peneliti
mencari petanda lain untuk menilai LFG yang secara klinik
lebih baik. Klirens inulin dan
51
Cr-EDTA merupakan peme-
riksaan yang ideal tetapi mahal dan membutuhkan waktu lama
sehingga penggunaannya secara klinik tidak praktis.
(1-4)
Beberapa protein dengan berat molekul rendah telah dite-
liti sebagai petanda LFG
(3-4)
dan salah satu di antaranya adalah
sistatin C yang ditemukan di berbagai cairan tubuh manusia.
Berbagai penelitian melaporkan bahwa pemeriksaan sistatin C
serum atau plasma lebih baik dari kreatinin serum sebagai
petanda LFG.
(5-10)
Dibandingkan pemeriksaan sistatin C plasma
merupakan prosedur pemeriksaan yang dapat memenuhi keku-
rangan kreatinin.
(3,4)
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
28
background image
Petanda laju filtrasi glomerulus
Untuk menilai LFG telah digunakan beberapa pemeriksaan
seperti pengukuran kreatinin dan ureum plasma, klirens kreati-
nin, klirens inulin, dan klirens
51
Cr-EDTA.
(1,3,11)
Kreatinin adalah petanda endogen LFG yang disintesis
terutama dalam otot skelet dan sebagian kecil disintesis di hati,
pankreas, dan ginjal. Sintesis kreatinin relatif konstan tetapi
dapat terjadi peningkatan kreatinin pada kerusakan otot.
(1,2,11)
Pada anak, massa otot bertambah secara linier dengan pertum-
buhan dan kreatinin berhubungan dengan tinggi badan, massa
otot, dan jenis kelamin sehingga akan berpengaruh dalam
penilaian fungsi ginjal pada anak.
(1,2)
Kadar kreatinin akan me-
ningkat sesuai dengan pertambahan umur. Sebagian kecil
kreatinin disekresi pada tubulus. Beberapa obat seperti simeti-
din, probenesid, dan trimetoprim dapat meningkatkan kreatinin
serum.
(1,22)
Klirens kreatinin merupakan cara yang lebih baik
dapat dipercaya, sehingga kadar kreatinin merupakan pemerik-
saan yang sering digunakan untuk menghitung LFG; tetapi
pengumpulan urin terutama pada anak membuat pemeriksaan
ini tidak mudah.
Untuk menilai LFG, pemeriksaan ureum lebih buruk
dibandingkan dengan kreatinin karena ureum dipengaruhi oleh
banyak faktor di luar ginjal. Beberapa keadaan yang dapat me-
nyebabkan peningkatan kadar ureum adalah masukan protein
yang tinggi, perdarahan saluran cerna, dan peningkatan
katabolisme protein seperti infeksi, luka bakar, dan pemberian
kortikosteroid. Penurunan ureum dapat disebabkan oleh masuk-
an protein yang berkurang, penyakit hati, dan malnutrisi berat.
Selain itu ureum akan direabsorbsi di tubulus sehingga kadar
ureum urin lebih rendah daripada ureum yang difiltrasi
glomerulus.
Kadar kreatinin dan ureum serum baru meningkat jika
LFG kurang dari 30% dari nilai normal sehingga kreatinin dan
ureum tidak dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan
ginjal yang dini.
(1,11)
Insulin merupakan petanda eksogen yang ideal untuk
pemeriksaan LFG karena inulin difiltrasi bebas oleh glomeru-
lus, tidak direabsorbsi, tidak disekresi, dan tidak terikat pada
protein plasma. Klirens inulin merupakan baku emas untuk
pengukuran LFG tetapi pelaksanaannya sulit.
(4,11,12) 51
Cr-EDTA
juga merupakan petanda eksogen yang ideal untuk pemeriksaan
LFG tetapi secara klinis pemakaiannya terbatas karena metode-
nya susah, rumit dan bersifat radioaktif.
(4)
Menurut hipotesis, protein dengan berat molekul rendah
akan difiltrasi dengan bebas melalui glomerulus dan kemudian
direabsorbsi, dimetabolisme, dan diekskresi.
(4)
Umumnya pro-
tein dengan berat molekul rendah ini dipengaruhi oleh infeksi,
faktor diet, dan penyakit hati
.(3,4)
Peranan protein berat molekul
rendah seperti mikroglobulin -1 (protein HC), mikroglobulin
-2, dan protein pengikat retinol (retinol binding protein) dalam
menilai LFG telah diteliti, tetapi tidak satu pun yang memuas-
kan karena adanya pengaruh faktor non renal terhadap zat
tersebut dalam sirkulasi.
(4)
Mikroglobulin -1 serum, berasal
dari hati dan sebagian besar berikatan dengan lgA dan albumin
sehingga tidak difiltrasi secara bebas, terbukti tidak lebih baik
daripada kreatinin. Produksi mikroglobulin -2 bervariasi,
terutama dihasilkan oleh limfosit dan dipengaruhi oleh reaksi
imun.
(9,10)
Mikroglobulin -2 merupakan petanda yang baik
untuk menilai LFG dan sensitivitasnya lebih baik daripada
kreatinin serum dalam mendeteksi penurunan LFG,
(12-14)
tetapi
mikroglobulin -2 akan meningkat pada penyakit infeksi dan
beberapa keganasan terutama penyakit limfoproliferatif.
(15)
Mikroglobulin -2 tidak dipengaruhi oleh umur dan jenis
kelamin.
(14)
Iohexol adalah medium kontras sinar X dengan berat
molekul rendah, bersifat nonionik, didistribusikan ke dalam
ruang ekstraselular dan dieliminasi dari plasma melalui filtrasi
glomerulus. Farmakokinetiknya identik dengan
51
Cr-EDTA se-
hingga merupakan petanda yang ideal untuk LFG. Iohexol
telah terbukti aman dan nontoksik untuk pemeriksaan angio-
grafi dan urografi. Pemeriksaan iohexol secara klinis lebih
praktis dan aman dan dilakukan dengan high performance
liquid chromatography
.(4)
SISTATIN C
Sistatin C atau human -trace adalah non-glycosilated
basic protein yang berfungsi sebagai inhibitor terhadap sistem
protease dan tersebar luas di dalam cairan tubuh.
(4,9,10)
Sistatin
C, suatu protein kation yang terdiri dari 120 asam amino
dengan berat molekul rendah yaitu 13,3 kilodalton, diproduksi
secara konstan oleh semua sel yang mempunyai nukleus dan
dieliminasi secara eksklusif melalui filtrasi glomerulus se-
hingga dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk
LFG. Sebagian protein dengan berat molekul rendah, sistatin C
dapat dengan mudah melewati membran basalis glomerulus
dan kemudian dikatabolisme di sel tubulus ginjal.
(6,7,8,16)
Kombinasi berat molekul yang rendah dan production rate
sistatin C yang stabil membuat pengukuran kadar sistatin C
sangat penting dalam menentukan LFG.
(3,9,10)
Sistatin C me-
rupakan petanda endogen yang baru terhadap fungsi ginjal dan
hubungannya dengan LFG lebih baik daripada kreatinin.
(4,9,10)
Pada pasien normal atau dengan penurunan fungsi ginjal dera-
jat sedang kadar sistatin C plasma lebih informatif dibanding-
kan dengan kadar kreatinin.
(4)
Karena sistatin C tidak dipang-
aruhi oleh komposisi tubuh, maka sistatin C dapat digunakan
untuk menilai fungsi ginjal pada pasien dengan kelainan yang
mempengaruhi kadar kreatinin seperti anoreksia, penyakit hati,
dan penyakit neuromuskular.
(10)
Berteli dkk (1997) melaporkan bahwa setelah 48 jam
kelahiran, kadar sistatin C akan menurun secara bermakna.
Sistatin C tidak dapat melewati sawar plasenta dan pada neo-
natus diproduksi sendiri oleh neonatus tersebut. Tidak ada
korelasi antara kadar sistatin C ibu dengan neonatus seperti
pada kreatinin.
(17)
Sistatin C juga merupakan petanda yang sen-
sitif dan sangat berguna untuk mengetahui permeabilitas mem-
bran peritoneum pada pasien dengan dialisis peritoneal mandiri
berkesinambungan.
(18)
Meskipun sistatin C telah dikenal sebagai petanda LFG
yang potensial sejak 20 tahun yang lalu, tetapi saat itu
pemeriksaannya sulit dan memakan waktu yang lama sehingga
jarang dikerjakan. Dengan perkembangan metode immuno-
turbidimetri, saat ini sistatin C telah dapat diperiksa dengan
standard laboratorium yang berlaku.
(9,10)
Hubungan sistatin C dengan faktor tertentu
Heparin dan EDTA dapat mempengaruhi sistatin C sehing-
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 29
background image
ga pemeriksaan sistatin C lebih baik menggunakan serum
daripada plasma.
(7,8,14)
Peranan EDTA terhadap sistatin C
belum jelas, tetapi diduga berperan dalam reaksi imuno-
agregasi. Peranan heparin juga belum dapat dikerjakan.
(7,13)
Molekul sistatin C sangat stabil terhadap pengaruh fisik
dan kimiawi.
(10)
Sistatin C serum tidak dipengaruhi oleh berat
badan, tinggi badan, jenis kelamin, komposisi tubuh,
(9,10,13,14)
dan tidak bergantung pada umur kecuali pada umur di bawah 1
tahun.
(9,10,14)
Meskipun kadar sistatin C tidak dipengaruhi jenis
kelamin,
(13,16)
tetapi Pergande dan Jung (1993) mendapatkan
nilai yang lebih tinggi pada lelaki.
(5)
Proses inflamasi
(16)
dan
kelainan di luar ginjal tidak mempengaruhi sistatin C.
(13,19)
Hiperbilirubinemia mempunyai hubungan dengan kadar sistatin
C yang tinggi,
(10)
tetapi menurut Newmann dkk, (1994) kadar
sistatin C tidak dipengaruhi oleh ikterus atau hemolisis.
(7)
Sistatin C juga tidak dipengaruhi oleh faktor reumatoid. Kadar
trigliserida > 10 mmol/liter akan menghambat pemulihan kadar
sistatin C.
(13)
Nilai normal
Beberapa penulis melaporkan kadar normal sistatin C pada
orang dewasa. Menurut Kyhse-Andersen dkk, (1994) kadar
normal sistatin C pada LFG 80 mmol/menit/1,73 m
2
adalah
0,61-0,21 mg/l;(6) menurut Norlund dkk, nilai normal sistatin
C adalah 0,7-1,21 mg/l;
(19)
sedangkan menurut Newman dkk,
(1995) titik potong nilai maksimal sistatin C pada pasien
dengan LFG < 72 ml/menit/1,73 m
2
adalah 1,25 mg/l.
(13)
Per-
gande dan Jung (1993) melaporkan batas atas nilai normal yang
lebih tinggi yaitu 2,75 mg/l pada lelaki dan 2,29 mg/l pada
perempuan, tetapi perbedaan ini mungkin karena perbedaan
materi kalibrator.
(5)
Newman dkk, (1995) melaporkan bahwa
rerata kadar sistatin C pada perempuan (1,17 mg/l) lebih kecil
daripada lelaki (1,24 mg/l) atau rerata kadar sistatin C pada
lelaki lebih tinggi 6% daripada rerata kadar sistatin C pada
perempuan, sedangkan untuk kadar kreatinin perbedaannya
17%.
(13)
Selama tahun pertama, kadar sistatin C berbanding terbalik
dengan logaritma umur dan setelah umur 1 tahun kadar sistatin
C pada anak tanpa kelainan ginjal tetap konstan.
(9,10)
Menurut
Bokenhamp dkk (1998), kadar sistatin C normal pada anak
adalah 0,7-1,38 mg/l
(9)
sedangkan menurut Helin dkk, (1998)
nilai normal sistatin C untuk anak di atas 1 tahun adalah 0,63-
1,33 mg/l.
(20)
Tidak terdapat perbedaan kadar sistatin C pada
lelaki (1,06±0,161 mg/dl) dan perempuan (1,04±0,204 mg/dl).
Nilai normal ini menggambarkan bahwa kadar sistatin C
pada anak lebih tinggi dari nilai pada dewasa, tetapi belum ada
bukti yang dapat menjelaskannya.
(9,10)
Konsentrasi sistatin C paling tinggi didapatkan pada umur
1 hari dengan rentang nilai 1,64-1 mg/l diikuti penurunan yang
cepat selama 4 bulan pertama.
(9,10)
Penelitian lain melaporkan
bahwa pada neonatus nomal, kadar sistatin C serum pada umur
24 jam pertama berkisar antara 1,55-2,98 mg/l (median 2,2
mg/l) dan akan turun perlahan sehingga pada umur 72 jam
didapatkan nilai dengan rentang 1,38-2,67 mg/l (median 1,82
mg/l).
(21)
Tingginya kadar sistatin C pada neonatus yang diikuti
dengan penurunan yang cepat sampai umur 1 tahun kemung-
kinan disebabkan oleh faktor kematangan ginjal atau LFG yang
rendah.
(9,10)
Pemeriksaan sistatin C
Sistatin C lebih sensitif daripada kreatinin sebagai petanda
perubahan fungsi ginjal karena sistatin C akan meningkat lebih
dini dan lebih tinggi dibandingkan dengan kreatinin
serum.
(9,10,13)
Beberapa penelitian pada dewasa menunjukkan
bahwa korelasi antara sistatin C dengan LFG lebih kuat atau
minimal sama dengan korelasi kreatinin dengan LFG
(6,8,13)
dan
hasil yang sama juga telah dilaporkan pada anak.
(9,10,20)
Hubungan antara sistatin C dengan kreatinin tidak begitu
baik tetapi hubungannya dengan resiprokal kreatinin serum
(1/kreatinin) merupakan kurve linier.
(9,10,13)
Penelitian terhadap
dewasa dan anak menunjukkan bahwa hubungan resiprokal
sistatin C (1/sistatin C) dengan LFG lebih baik daripada
hubungan 1/kreatinin dengan LFG.
(6,8,13)
Untuk mengetahui hubungan antara kreatinin dengan sis-
tatin C apakah bergantung pada umur atau tidak, maka dila-
kukan koreksi kadar kreatinin terhadap tinggi badan dengan
menghitung rasio kreatinin/tinggi badan. Setelah dilakukan
koreksi, tidak terlihat hubungannya pada anak di atas 1 tahun
sedangkan pada anak usia muda, terdapat korelasi bermakna
antara sistatin C dengan rasio kreatinin/tinggi badan.
(9,10)
Filler dkk (1999) melakukan penelitian terhadap 381 anak
berumur 1,7-18 tahun dengan berbagai kelainan ginjal yang
terdiri dari 216 anak dengan LFG normal (>90/ml/menit/
1,73m2) dan 165 anak dengan LFG yang menurun (<90
ml/menit/1,73 m
2
). Pada penelitian ini terdapat korelasi positif
antara klirens
51
Cr-EDTA dengan LFG yang dihitung menurut
formula Schwartz. Selain itu terdapat juga korelasi positif
antara klirens
51
Cr-EDTA dengan resiprokal sistatin C, re-
siprokal mikroglobulin ß-2, resiprokal kreatinin, dan dengan
rasio tinggi badan/kreatinin. Untuk mengevaluasi validitas
diagnostik sistatin C, mikroglobulin ß-2, kreatinin, dan rasio
tinggi badan/kreatinin, dilakukan analisis receiver operating
characteristics. Berdasarkan analisis ini terbukti bahwa nilai
diagnostik sistatin C tidak berbeda bermakna dengan mikro-
globulin ß-2 dan LFG menurut formula Schwartz. Analisis ini
menunjukkan bahwa sistatin C tidak lebih baik daripada mikro-
globulin ß-2, kreatinin, dan rasio tinggi badan/kreatinin dalam
menilai LFG pada pasien normal maupun dengan fungsi ginjal
yang menurun.
Tabel 1. Sensitivitas, spesifisitas, dan efisiensi diagnostik sistatin C,
mikroglobulin -2, dan formula Schwartz untuk menilai LFG
(14)
Parameter Titik
potong
Sensitivitas Spesifitas Efisiensi
Sistatin C
1,38 mg/l
0,67
0,95
0,86
Mikroglobulin beta-2
2,27 mg/l
0,59
0,94
0,83
Formula Schwartz
90 ml/mmt/1,73 m
2
0,84 0,91
0,89
Jika digunakan batas atas nilai normal kadar sistatin C
adalah 1,38 mg/l, maka untuk menilai LFG didapatkan sensiti-
vitas, spesifitas, dan efisiensi diagnostik sistatin C secara
berturut-turut 67%, 95% dan 86%. Untuk mikroglobulin ß-2
dengan batas atas nilai normal 2,27 mg/l, didapatkan sensiti-
vitas, spesifisitas, dan efisiensi diagnostik secara berturut-turut
59%, 94%, dan 83%.
(14)
Ylinen dkk (1999) membandingkan sistatin C dan kreati-
nin untuk menilai fungsi ginjal pada anak dengan mengguna-
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
30
background image
kan LFG berdasarkan
51
Cr-EDTA sebagai baku emas. Pene-
litian dilakukan terhadap 52 anak dengan kelainan ginjal
berumur 2-16 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
kadar kreatinin dan sistatin C serum berbanding terbalik
dengan LFG dan terdapat korelasi linier yang kuat antara
resiprokal kadar kreatinin dan resiprokal sistatin C dengan
LFG, tetapi korelasi ini lebih kuat pada hubungan antara
resiprokal kadar sistatin C dengan LFG. Akurasi diagnostik
sistatin C lebih baik daripada kreatinin untuk menilai LFG dan
sensitivitas maupun spesifisitas sistatin C lebih baik dibanding-
kan kreatinin. Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas,
spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), nilai prediksi negatif
(NPN), dan efisiensi diagnostik antara sistatin C dan kreatinin
terhadap penurunan LFG dengan menggunakan titik potong
yang berbeda (tabel 2).
KEPUSTAKAAN
1.
Schwartz GJ, Brion LP, Spitzer A. The use of plasma creatinine
concentration for estimating glomerular filtration rate in infants, children,
and adolescents. Pediatr. Clin North Am 1986; 34: 571-90.
2.
Perrone RD, Medias NE, Levey AS. Serum creatinine as an index or renal
function: new insight into old concepts. Clin Chem 1992; 38: 1933-53.
3.
Ylinen EA, Ala-Houhala M, Harmoinen APT, Knip M. Cystatin C as a
marker for glomerular filtration rate in pediatric patients. Pediatr Nephrol.
1999; 13: 506-9.
4.
Nilsson-Ehle P, Grubb A. New markers for determination of GFR:
iohexol clearance and cystatin C serum concentration. Kidney Int 1994;
46 (Suppl 47): S17-9.
5.
Pergande M, Jung K. Sandwich enzyme immunoassay of cystatin C in
serum with commercially available antibodies. Clin Chem 1993; 39:
1885-90.
Tabel 2. Efisiensi diagnostik sistatin C dan kreatinin terhadap penurunan
LFG pada titik potong yang berbeda
(3)
Titik potong
%
Sensitivitas
%
Spesifitas
%
NPP
%
NPN
%
Efisiensi
%
Sistatin C
1,31
100
97
95
100
98
(mg/l) 1,55 63
100
100
83
87
Kreatinin 91 74 97
93
86
88
(umol/l) 114
56
53
100
100
55
100
56
79
100
83
71
6.
Kyhse-Andersen J, Schmidt C, Nordin G, Andersen B, Nilsson-Ehle P,
Lindstrom V, Grubb A. Serum cystatin C, determined by a repid,
automated particle-enhanced turbidimetric method, is a better marker than
serum creatinine for glomerular filtration rate. Clin Chem 1994; 40: 1921-
6.
7.
Newmann DJ, Thakkar H, Edwards RG, Wilkie M, White T, Grubb A,
Price CP. Serum cystatin C: A replacement for creatinine as a
biochemical marker of GFR. Kidney Int 1994; 46: Suppl 47: S20-1.
8.
Jung K, Jung M. Cystatin C. A promising marker of glomerular filtration
rate to replace creatinine. Nephron 1995; 70: 370-1.
9.
Bokenhamp A, Domanetzki M, Zinck R, Schumann G, Brodehl J.
Reference values for cystatin C serum concentration in children. Pediatr
Nephrol 1998; 12: 125-9.
Untuk menilai penurunan LFG, nilai sensitivitas, spesifi-
sitas, dan efisiensi diagnostik sistatin C yang paling baik (98%)
didapatkan jika digunakan titik potong batas atas kadar sistatin
C 1,31 mg/l, sedangkan jika dipakai titik potong batas atas
kadar sistatin C yang lebih tinggi yaitu 1,58 mg/l; maka di-
dapatkan sensitivitas dan efisiensi diagnostik yang lebih
rendah. Nilai sensitivitas, spesifisitas, dan efisiensi diagnostik
sistatin C ini lebih baik dibandingkan dengan kreatinin. Efi-
siensi diagnostik yang paling baik (88%) untuk kreatinin
didapatkan jika digunakan titik potong batas atas kadar
kreatinin 91 umol/l tetapi dengan sensitivitas 74% dan spesifi-
sitas 97%. Jika titik potong batas atas kreatinin dinaikkan
menjadi 114 umol/l, maka didapatkan efisiensi diagnostik 83%,
sensitivitas 53%, dan spesifisitas 100% sedangkan jika titik
potong batas atas kreatinin diturunkan menjadi 56 umol/l, maka
didapatkan efisiensi diagnostik 71%, sensitivitas 100%, dan
spesifisitas 55%.
(3)
10.
Bokenhamp A, Domanetzki M, Zinck R, Schumann G, Byrd D, Brodehl
J. Cystatin C - a new marker of glomerular filtration rate in children
independent of age and height. Pediatrics 1998; 101: 875-81.
11.
Mole DR, Mason PD. Assessment of renal function. Medicine Int 1999;
99: 5-9.
12.
Nolte S, Mueller B, Pringskeim W. Serum 1-microglobulin and 2-
microglobulin for the estimation of fetal glomerular renal function.
Pediatr Nephrol. 1991; 5: 573-7.
13.
Newmann DJ, Thakkar H, Edwards RG, Wilkie M, White T, Grubb A,
Price CP. Serum custatin C measured by automated immunoassay: a more
sensitive marker of changes in GFR than serum creatinine. Kidney Int
1995; 47: 312-8.
14.
Filler G, Priem F, Vollmer I, Gellermann J, Jung K. Diagnostic sensitivity
of serum cystatin for impaired glomerular filtration rate. Pediatr Nephrol
1999; 13: 501-5.
15.
Bataille R, Durie BGM, Grenier D, Grenier J. Serum -2 microglobulin
and survival duration in multiple myeloma: a simple marker for staging.
Br J Haematol 1983; 55: 439-47.
16.
Grubb A. Diagnostic value of analysis of cystatin C and protein HC in
biological fluids. Clin Nephrol 1992; 38: S20-7/
17.
Bertelli L, Mussap M, Fanos V, Moggi G, Ruzanne N, Cataldi L, dkk.
Assessment of serum cystatin C levels in healthy pregnant women and in
their newborns respectively. Pediatr Nephrol 1997: C62.
18.
Iarux C, Bonzel KE, Bald M, Rubbrt-Lauterbach, Boehm W, Wingen
AM. Cystatin C ­ A medium sized endogenous substrate for testing
peritoneal permeabillity. Pediatr Nephrol 1997: C76.
KESIMPULAN
Sistatin C serum merupakan parameter diagnostik yang
lebih daripada kreatinin serum untuk menilai fungsi ginjal pada
anak. Metode turbidimetri merupakan pemeriksaan yang relatif
mudah dan praktis untuk memeriksa sistatin C serum. Tampak-
nya, pemeriksaan sistatin C merupakan pemeriksaan yang
sangat bermanfaat dan sederhana untuk identifikasi penurunan
LFG pada anak (sensitivitas tinggi) dan menyingkirkan anak
dengan LFG normal (spesifisitas tinggi).
19.
Norlund L, Fex G, Lanke J, Schenk H Von, Nilsson J-E, Leksell H,
Grubb A. Reference intervals for the glomerular filtration rate and cell
formation markers: serum cystatin and serum 2-microglobulin/cystatin C-
ratio. Scand J Clin Lab Invest 1997; 57: 463-70.
20.
Helin I, Axenram M, Grubb A. Serum cystatin C as a determination of
glomerular filtration rate in children. Clin Nephrol 1998; 49: 221-5.
21.
Cataldi L, Mussap M, Plebani M, Bertelli L, Pesce M, Fanos V. Serum
cystatin C in the newborn : Reference values for a new index for the
glomerular filtration rate (GFR). Pediatr Nephrol 1996; 10: P27.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 31