background image
HASIL PENELITIAN
Persalinan dengan Cara Ekstraksi
Vakum oleh Bidan
di RSUD Dr. Soedono Madiun
Tahun 1998
Roekmi Hadi
Bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedono, Madiun
ABSTRAK
Telah diteliti secara retrospektif, 522 kasus persalinan dengan pertolongan extraksi
vakum di RSUD Dr. Soedono Madiun, selama 1 Januari 1998-31 Desember 1998.
Angka ini adalah 22% dari 2363 persalinan. Sebanyak 341 kasus (65%) lahir dengan
skor Apgar > 7, satu kasus gagal; dilakukan Sectio Caesaria.
Terdapat 13 kematian (3,5%) dibanding dengan kematian pada Sectio Caesaria 7
di antara 419 (1,7%). Sebagian besar kasus adalah kiriman bidan. Perawatan bayi yang
lahir dengan pertolongan extraksi vakum lebih lama dibandingkan dengan bayi
spontan.
PENDAHULUAN
Tujuan akhir dari sistem pelayanan kesehatan ibu hamil
adalah hasil persalinan dengan bayi sehat dan ibu sehat.
Adanya komunikasi yang baik antara daerah dan rumah sakit
rujukan diharapkan bisa memperpendek jalur rujukan dengan
harapan penderita yang dirujuk ke rumah sakit dapat ditolong
dengan hasil yang baik. Untuk ini perlu persiapan pengiriman
penderita dengan baik dan penanganan yang baik pula di
rumah sakit rujukan.
Adanya bidan di pondok bersalin desa memungkinkan
antenatal care yang baik serta pengenalan dini ibu hamil.
Dapat ditentukan secara tepat tingkat risiko dari parturiente
serta dibuat catatan dan laporan yang memadai sehingga dapat
dilanjutkan penatalaksanaan persalinan secara baik.
Tersedianya alat extraksi vakum di kamar bersalin,
seyogyanya disertai dengan pengetahuan yang cukup untuk
diagnosis, pelaksanaan pertolongan dengan perawatan bayi
yang baru dilahirkan.
Pada indikasi yang tepat serta penggunaan alat yang
benar, maka pertolongan persalinan dengan extraksi vakum
akan menghasilkan bayi dengan skor-apgar yang tinggi dan
angka kesakitan dan kematian yang rendah. Demikian pula
hari perawatan bayi tidak menjadi panjang dan pemakaian
antibiotik bisa ditekan serendah mungkin.
MASALAH
Perlu evaluasi persalinan dengan pertolongan memakai
extraksi vakum oleh bidan di RSUD Dr. Soedono Madiun,
karena:
a)
Jumlah kasus yang cukup tinggi.
b)
Nilai Apgar yang kurang baik.
c)
Hari perawatan neonatus lebih lama.
d)
Pemakaian antibiotika pada bayi baru lahir.
e)
Angka kematian bayi baru lahir yang tinggi.
TUJUAN
A.
Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari
gambaran tentang pertolongan persalinan dengan memakai alat
ekstraksi vakum di RSUD Dr. Soedono Madiun selama
periode 1 Januari 1998 sampai dengan 31 Desember 1998.
B.
Tujuan Khusus
1)
Mengetahui angka kejadian persalinan dengan extraksi
vakum di RSUD Dr. Soedono Madiun.
2)
Mengetahui karakteristik parturiente: umur, paritas dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
31
background image
riwayat persalinan yang lalu.
3)
Mengetahui indikasi pertolongan dengan extraksi vakum
serta hasil akhir pertolongan tersebut.
4)
Mengetahui adanya hubungan antara faktor-faktor di
dalam masalah pertolongan dengan ekstraksi vakum di RSUD
Dr. Soedono Madiun.
KEGUNAAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai untuk
memperbaiki sistem pelayanan persalinan, khususnya
persalinan dengan ekstraksi vakum di RSUD Dr. Soedono
Madiun.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan secara retrospektif terhadap
parturiente yang ditolong dengan ekstraksi vakum di RSUD
Dr. Soedono Madiun selama 1 Januari sampai dengan 31
Desember 1998.
BAHAN DAN CARA
Data untuk penelitian ini didapat dari status penderita
yang melahirkan dengan ekstraksi vakum yang dapat diperoleh
di Bagian Rekam Medik. Status penderita dicari berdasar buku
register di Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD
Dr. Soedono Madiun. Data untuk bayi diperoleh dari Buku
Bayi Masuk dan catatan bayi meninggal di Ruang Bayi.
Data yang dicatat:
-
Karakteristik parturiente: umur, parietas, asal.
-
Apakah dilakukan rujukan atau datang sendiri.
-
Indikasi yang disebut dalam tindakan persalinan.
-
Keadaan bayi: berat badan, nilai Apgar, dan kematian
bayi.
BATASAN
a)
Ekstraksi vakum adalah tindakan untuk melahirkan bayi
dengan berat badan 500 g atau lebih dengan memakai alat
ekstraksi vakum.
b)
Tindakan ini dianggap gagal, bila:
·
·
·
Tiga kali lepas kop dari kepala.
½ jam dilakukan tindakan tidak berhasil
Terdapat distress pada bayi selama dilakukan tindakan.
c)
Kematian perinatal adalah kematian yang terjadi pada
janin dalam kandungan dengan umur 28 minggu atau lebih dan
kematian bayi sampai umur 7 hari.
Pada penelitian ini kriteria umum kehamilan 28 minggu
diganti dengan berat badan 1000 gram atau lebih (ICD WHO
Geneva 1847). Karena tidak dilakukan follow up maka dibatasi
sampai penderita pulang.
HASIL PENELITIAN
Selama periode 1 Januari 1998 sampai dengan 31
Desember 1998 berhasil dikumpulkan dan dianalisis sebanyak
522 status penderita persalinan dengan pertolongan memakai
alat ekstraksi vakum di Bagian Kebidanan RSUD Dr. Soedono
Madiun. Selama periode yang sama didapatkan jumlah
persalinan 2363 (Tabel 1).
Tabel 1. Angka kejadian Ekstraksi Vakum (EK)
Partus
Fisiologik
Partus
Sungsang
Ekstraksi
Vacum
Sectio
Caesar
Perforasi/K
ranioclasi
Dekapitasi Jumlah
1232 182 522 419 3
5 2363
52% 7.7% 22% 17% 0.12% 0.2% 100%
Adalah menarik bahwa partus dengan ekstraksi vacum
lebih banyak dibanding dengan partus secara Sectio Caesar.
Akan lebih menarik lagi bila kita membandingkan outcome
dari kedua cara persalinan tersebut.
Tabel 2. Cara parturiente datang.
Datang
Sendiri
Kiriman
Bidan
Kiriman
Dokter
Jumlah
114 397 11 522
21.8% 76% 2.2% 100%
Jumlah terbesar parturiente adalah kiriman bidan
sebanyak 76%. Dari jumlah kiriman bidan tersebut, ternyata
tidak ada satu pun yang menyertakan partograf; sehingga agak
menyulitkan diagnosis terutama untuk partus lama; apakah
terjadi pada kala I atau kala II. Demikian pula bila terjadi
ketuban pecah dini, berapa lama sudah terjadi pecah ketuban
tersebut. Pada parturiente yang datang sendiri, tidak
sepenuhnya dapat dideteksi, apakah sebenarnya mereka datang
dari rumah sendiri atau dari rumah bersalin tanpa surat
rujukan, atau telah dilakukan pertolongan oleh dukun
sebelumnya, sehingga tidak dapat dicatat dalam status
sebenarnya mulai kapan proses persalinan telah berlangsung.
Hal ini akan berpengaruh pada outcome bayi yang dilahirkan.
Tabel 3. Gravida yang ditolong dengan Ekstraksi Vacum
Gravida I
Gravida II-V
Gravida >VI
Jumlah
347 168 7 522
66.5% 32% 1.5% 100%
Tampak pada tabel 3 primigravida merupakan jumlah
yang terbesar (66.5%). Seluruh indikasi dari grande multi
adalah partus lama (1.5%). Meskipun jumlah grande multi
gravida ini kecil, namun merupakan sesuatu yang perlu
diperhatikan, apakah KB masih perlu digalakkan.
Tabel 4. Indikasi persalinan dengan Ekstraksi Vakum.
No. Indikasi
Jumlah
Prosentase
1 Partus
lama
175
33
2
Partus Lama Kala II
116
22
3
Ketuban Pecah Dini
93
17
4
Disproporsi Kepala panggul
11
20
5
Pasca Bedah Caesar
21
4
6 Pre
Eklamsi
59
11
7 Eklamsi
9
1.7
8 Gemelli
7
1.3
9 Distress
Janin
3
0.5
10
Kelainan Jantung Ibu
2
0.3
11
Primi Para Tua
5
0.9
12 Post
Term
21
4.3
Jumlah
522
100
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
32
background image
Pada tabel 4 indikasi terbanyak adalah partus lama (kala I
dan kala II) sebanyak 55%. Masih adanya diagnosis suspek
disproporsi panggul dan kepala (2%), merupakan suatu yang
harus diputuskan lebih tegas. Bisa partus spontan atau
dilakukan tindakan caesar. Preeklamsi dan eklamsi (12.7%)
perlu pemikiran lanjut apakah tidak sebaiknya dilakukan bedah
caesar. Pasca bedah caesar (4%) perlu juga dipertimbangkan
dengan kesungguhan bila kala II memanjang sebaiknya
dipikirkan untuk dilakukan bedah caesar ulang.
Tabel 5. Berat Badan Bayi
Berat Badan Bayi
Jumlah
Prosentase
Kurang dari 2000 gr
7
1.3
2000-2500 gr
48
9.7
2501-3000 gr
54
10
3001-4000 gr
408
78
> 4000 gr
5
1
Jumlah 522
100
Pada tabel 5 didapatkan jumlah terbesar adalah berat
badan antara 3000 dan 4000 gr (78%). Pada bayi dengan berat
badan lebih dari 4000 gr kesemuanya dengan indikasi partus
lama; dengan hasil 4 bayi nilai Apgar kurang dari 6 dan 1 bayi
dengan kesulitan pengeluaran bahu dan akhirnya meninggal
sebelum persalinan selesai. Satu bayi gagal eketraksi vakum,
kemudian dilakukan bedah caesar dengan hasil nilai Apgar 2
dan beberapa saat kemudian bayi meninggal.
Tabel 6. Nilai Apgar Menit Pertama
Nilai Apgar
Jumlah
Prosentase
3 atau kurang
15
2.8
4-6 165
31.4
7 atau lebih
341
65.6
0 1
0.2
Jumlah 522
100
Jumlah terbesar nilai Apgar adalah baik. Lebih dari 7
sebanyak 65.6% (Tabel 6). Nilai Apgar tidak sebanding
dengan berat badan bayi secara langsung karena ada beberapa
faktor yang tidak ditulis di dalam status: suhu rektal ibu,
tinggi/station kepala bayi, dan keadaan umum ibu pada waktu
datang.
Tabel 7. Lama Perawatan Bayi di Rumah Sakit
Lama Perawatan
Jumlah
Prosentase
Meninggal
1 hari atau kurang
4
0.7
2
2-3 hari
94
18
5
4 hari
222
42
5 hari
162
30.3
6 hari atau lebih
40
9
6
Jumlah 522
100
13
Terbanyak adalah perawatan selama 4 dan 5 hari yaitu
72.3%. Waktu untuk perawatan ini digunakan untuk
memperbaiki kondisi bayi dengan memberikan antibiotik dan
melatih bayi untuk minum. Sebagai bandingan standar untuk
bayi dengan persalinan fisiollogis adalah perawatan 2 hari.
Bayi yang dirawat kurang 2 hari 2 meninggal di rumah sakit
dan 2 lainnya diminta pulang paksa karena cacat bawaan
(hidrosefalus ringan).
Seluruh kasus neonatus yang lahir dengan ekstraksi
vakum diberi antibiotik, ini berbeda dengan bayi lahir spontan
yang tidak diberi antibiotik, sehingga biaya perawatan pun
menjadi sangat tinggi.
Tabel 8. Kematian bayi
Indikasi Jumlah
Prosentase
Partus lama
7
53
Serotinus (Postterm)
2
15
Disproporsi Kepala Panggul
3
23
KPD 1
8
Jumlah 13
100
Dari 13 kasus kematian seluruhnya dengan berat badan
bayi 3000 g atau lebih. Satu kasus dengan nilai Apgar 7
dengan indikasi partus lama dirawat selama 12 hari, meninggal
karena sepsis. Jumlah kasus meninggal merupakan 2,5% dari
seluruh partus dengan pertolongan ekstraksi vakum sebanyak
522 kasus.
PEMBAHASAN
Dari penelitian retrospektif selama 1 tahun (1 Januari
sampai dengan 31 Desember 1998) di Bagian Kebidanan
RSUD Dr. Soedono Madiun, didapatkan sebanyak 522 kasus
persalinan dengan ekstraksi vakum atau 22% dari 2363
persalinan keseluruhan.
Sebagian terbesar dari kasus persalinan yang ditolong
dengan ekstraksi vakum adalah partus lama; dan sebagian
terbesar adalah kiriman bidan. Ini merupakan suatu sistem
rujukan yang telah berjalan. Meskipun hampir semua kasus
rujukan diantar oleh bidan, tetapi tidak satupun dilengkapi
dengan partograf; sehingga menyulitkan penegakan diagnosis
partus lama atau diagnosis lain yang lebih tepat.
Umumnya parturiente telah diberi antibiotik dan rehidrasi
saat dirujuk, sehingga keadaan ibu lebih baik dan tidak
didapatkan kematian ibu pasca persalinan.
Secara umum diagnosis ditegakkan berdasar laporan bidan
jaga di Kamar Bersalin kemudian dianalisis oleh Dokter Jaga
di rumah baru ditetapkan tindakan untuk persalinan dengan
ekstraksi vakum. Pelaksanaan tindakan ekstraksi vakum
seluruhnya diserahkan kepada bidan.
Kegagalan ekstraksi vakum terjadi pada satu kasus,
dilanjutkan dengan tindakan bedah caesar tetapi kemudian
bayi meninggal beberapa saat sesudah operasi. Satu kasus
kepala sudah berhasil dilahirkan, karena besarnya bayi (5000
g) terjadi kesulitan melahirkan bahu. Ini merupakan kesalahan
estimasi berat badan janin yang terjadi pada primigravida
dengan partus lama. Bayi meninggal sebelum bahu berhasil
dilahirkan.
Pada kasus-kasus yang ditolong dengan ekstraksi vakum
sulit dilacak, apakah pernah melakukan pemeriksaan antenatal
secara baik atau tidak, karena baik di dalam surat rujukan
maupun dalam status tidak disebutkan secara khusus.
Dibandingkan dengan kematian bayi oleh karena partus
dengan pertolongan bedah caesar tujuh kematian diantara 419
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
33
background image
persalinan (1.6%), maka angka kematian bayi yang ditolong
dengan ekstraksi vakum jauh lebih tinggi secara bermakna.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, pada kasus rujukan
maupun kasus tercatat di Kamar Bersalin RSUD Dr. Soedono
Madiun sebaiknya dibuat partograf.
Angka kematian bayi keseluruhan di RSUD Dr. Soedono
Madiun tahun 1998 diantara 2363 persalinan (3.7%) yang
terbagi atas:
Untuk hasil/outcome bayi yang baik perlu ditegakkan
diagnosa yang tepat dengan syarat dan batasan yang benar;
sehingga tidak terjadi perkiraan yang salah dengan hasil
kesulitan didalam pertolongan persalinan.
-
Berat badan lahir rendah : 50
-
Kelainan bawaan (berat) : 11
-
Asfiksia neonatus
: 18
SARAN
-
Sepsis dan diare : 10
Sistem rujukan perlu ditingkatkan dengan pembuatan
status yang baik, di Pondok Bersalin desa maupun di Kamar
Bersalin RSUD Dr. Soedono Madiun, sebaiknya dibiasakan
memakai partograf.
RINGKASAN
Angka kejadian pertolongan persalinan dengan ekstraksi
vakum sebanyak 522 (22%) diantara 2363 persalinan di RSUD
Dr. Soedono Madiun Tahun 1998. Angka kejadian bedah
caesar sebanyak 419 (17%).
Untuk hasil yang baik diagnosis dan tindakan pertolongan
persalinan secara ekstraksi vakum dilakukan oleh dokter.
Nilai Apgar terbanyak tujuh atau lebih yaitu 342 dari 522
persalinan ekstraksi vakum. Angka kematian dengan
pertolongan ekstraksi vakum adalah 13 diantara 522 (2.5%).
Lama perawatan bayi terbanyak adalah 4-5 hari yaitu
72.3% dibanding dengan perawatan bayi persalinan normal 1-2
hari.
KEPUSTAKAAN
1.
Ilyas M, Harijadi R, Macrosomia. Karakteristik Ibu dan Aspek
Persalinannya di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya (1984-1987).
Penelitian di Lab/UPF Obstetri Ginekologi FK Unair/RSUD Dr.
Soetomo Surabaya 1988.
Pada kasus persalinan dengan pertolongan ekstraksi
vakum terbanyak adalah kiriman bidan dengan angka tertinggi
primigravida 66.5% dan partus lama 55%.
2.
Johanson RB, Rice C. A Randomised Prospective Study Comparring The
New Vacume Extraction Policy with Forceps delivery. Br J Obstet
Gynecol. 1993; 100: 524-30.
KESIMPULAN
Pertolongan persalinan dengan ekstraksi vakum masih
diperlukan.
Perawatan bayi dengan persalinan secara ekstraksi vakum
lebih lama dibanding dengan persalinan spontan, dan
memerlukan penatalaksanaan khusus untuk menghindari
asfiksi dan sepsis.
3.
Lucas MJ. The Role of Vacuum Extraction in Modern Obstetrics. Clin
Obstet Gynecol. 1994; 37: 794-805.
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
34