background image
Pencemaran Bahan Makanan
oleh Mikroba
Rabea Pangerti Jekti
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Bahan makanan dapat bertindak sebagai agen penularan
atau pemindahan mikroba yang mencemarinya. Pencemaran
bahan makanan ini dapat terjadi sejak proses produksi,
pengolahan, transportasi, penyimpanan, distribusi, dan sampai
ke penyediaan hingga siap untuk dikonsumsi. Pencemaran
bahan makanan oleh mikroba ini tidak selalu menyebabkan
perubahan yang nyata terlihat, terasa oleh lidah si konsumen
atau tercium oleh hidung, sehingga sering timbul akibat yang
dapat bersifat fatal.
Pencemaran bahan makanan oleh mikroba dibagi dalam
dua macam yaitu :
·
Infeksi saluran pencernaan oleh mikroba karena si korban
menelan mikroba yang mencemari makanan dengan jumlah
banyak.
·
Keracunan makanan yang disebabkan oleh toksin mikroba
dalam makanan (intoksikasi oleh mikroba).
Baik infeksi maupun intoksikasi ,dapat menimbulkan
akibat yang fatal, tergantung pada patogenitas dan jumlah
mikroba serta kerentanan orang yang terkena.
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PENCEMARAN
Mikroba patogen terdapat di tempat yang memungkinkan
untuk tumbuh dan berkembang. Ada beberapa faktor yang me-
nyebabkan mikroba tersebut hidup dan berkembang dalam
makanan, antara lain :
·
Suhu lingkungan, sangat menentukan keselamatan hidup
serta daya multiplikasinya. Hal ini akan tampak pada Gambar 1.
·
Makanan, terutama yang berprotein tinggi seperti susu,
telur, daging, ikan dan kerang. Meskipun demikian sayuran dan
buahbuahan juga dapat sebagai media bagi mikroba dengan
daya multiplikasi yang lebih lambat.
·
Kelembaban ­ sangat dibutuhkan mikroba untuk tumbuh.
Oleh sebab itu makanan kering seperti gula, terigu, biskuit dan
jenis makanan yang dibakar kering lainnya bukan merupakan
media yang baik untuk multiplikasi mikroba, dalam hal ini
bakteri.
Selain itu proses pencemaran makanan didukung pula oleh
faktor-faktor lain, misalnya :
·
Manusia atau orang yang terlibat langsung dengan
pengolahan/penanganan bahan makanan, antara lain meliputi :
kesehatan, pengetahuan dan kesadarannya pada masalah
kesehatan dan kebersihan lingkungan.
·
Lingkungan sekitar, antara lain meliputi :vektor (rodensia,
insekta), sampah, kotoran (manusia, hewan).
·
Prinsip kontrol terhadap bahan makanan serta sarana untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 33
background image
pengolahannya, antara lain meliputi perlengkapan dan
peralatan yang digunakan, dan sistim pengolahan bahan
makanan (pemanasan, pendinginan, pengasapan, dan lain-lain).
BAHAN MAKANAN YANG SERING TERCEMAR
1)
Daging dan produknya
Daging segar dapat tercemar sejak proses pemotongan,
penanganan dan pengolahan menjadi produk lain, misalnya
sosis. Bakteri yang sering dijumpai antara lain : Salmonella sp,
Cl. perfringens, Streptococcus fecalis, Staphylococcus aureus.
Pertumbuhan bakteri sering tak menyebabkan perubahan yang
nyata, walaupun sudah mencapai jumlah yang sedemikian
banyak, kecuali bila telah terjadi pembusukan, sehingga tampak
perubahan warna (coklat menjadi abu-abu) dan berbau busuk.
2)
Telur dan produknya
Telur yang baik berasal dari unggas yang sehat, yang tidak
mengalami kelainan di luar serta di dalam. Pencemaran telur
dapat terjadi sejak telur tersebut dikeluarkan oleh si induk
sampai siap dikonsumsi, yaitu ketika tercemar feses induk,
kerabangnya pecah/rusak, dari tangan si petemak, maupun pada
pencucian. Demikian juga dalam proses penyimpanan yang
panjang akan memungkinkan terjadinya penetrasi mikroba
lewat kerabang telur.
Sedangkan pada produk telur, misalnya : telur beku, telur
kering, telur bubuk juga dapat tercemar mikroba, meskipun se-
belumnya telah dipasteurisasi.
Bakteri yang sering dijumpai dalam telur dan produknya
yang telah tercemar, antara lain :Salmonella sp.,
Staphylococcus aureus.
3)
Susu dan produknya
Air susu mengandung beberapa jenis bakteri ketika keluar
dari susu hewan perah yang sehat, selain itu dapat terkena pen-
cemaran dari bagian luar tubuh hewan tersebut, terutama dari
daerah ambing atau mammae. Mikroba yang mencemari
berasal dari manure, tanah, air.
Walaupun demikian tak dapat dilupakan beberapa faktor
yang berperanan dalam pencemaran air susu sejak proses pro-
duksi air susu serta produknya sampai siap dikonsumsi,
misalnya : pencemaran yang terjadi akibat penggunaan alat
pemerah susu otomatis, tangki truk, dan berbagai alat serta
perlengkapan di pasar susu, pabrik keju, dan lain-lain. Serta
peranan tangan si peternak (pemerah susu dan pekerja lainnya)
dalam menambah organisme patogen penyebab pencemaran air
susu dan produknya.
4)
Ikan, kerang, dan produknya
Pencemaran ikan dan kerang dapat terjadi karena polusi air
yang digunakan untuk kehidupannya, serta pengolahan pasca
panen yang tak baik. Produk hasil ikan, misalnya ikan asap
dapat tercemar akibat cara penanganan yang salah, sehingga
terjadi perubahan bau dan rasa. Bakteri yang dapat mencemari-
nya, antara lain : Proteus sp.
5)
BO-bijian, buah-buahan, dan sayur-sayuran
Pencemarannya berasal dari udara, tanah, air dan cara pe-
nanganannya, hewan perusak (seperti kutu), serta sumber lain-
nya.
BEBERAPA INFEKSI DAN INTOKSIKASI AKIBAT
PENCEMARAN BAHAN MAKANAN OLEH MIKROBA
Botulism
Disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri an-
aerob pembentuk spora, yaitu Clostridium botulinum yang ber-
sumber di tanah. Pencemaran bahan makanan oleh bakteri ini
biasanya pada makanan yang dikemas dalam kaleng yang proses
pengolahannya kurang baik, makanan yang tak mengandung
asam, dan ikan asap yang proses pengolahannya kurang baik.
Sating terlihat perubahan dalam kemasan kalengan, kaleng
tampak berkarat dan menggembung. Bila hal ini terjadi, jangan
mencicipi makanan tersebut sebelum dilakukan perebusan se-
lama kurang lebih 15 menit yang mampu menghancurkan
toksinnya. Sebaiknya makanan tersebut dibuang.
Gejala yang timbul biasanya tampak 12 - 36 jam setelah
mhkan-makanan tercemar, antara lain mual, muntah, lemah,
pandangan kabur, sulit bernafas, diare disusul paralisis akibat
pengaruh eksotoksin Cl. botulinum terhadap susunan saraf
pusat dan perifer. Korban dapat meninggal dunia akibat
paralisis otot pemafasan.
Keracunan Makanan oleh Staphylococcus sp
Disebabkan oleh enterotoksin (racun) yang dihasilkan
Staphylococcus aureus yang berasal dari manusia; sumber
utamanya hidung, tenggorokan, dan luka infeksi. Bahan
makanan yang sering tercemar adalah makanan berprotein
tinggi yang tidak ditangani secara higienis, terutama dalam
temperatur hangat.
Gejala keracunan timbul 2 - 3 jam bahkan 6 jam setelah
menyantap makanan beracun ini dengan tanda-tanda mual,
muntah, diare, kejang perut tetapi tanpa demam dan cepat
sembuh.
Keracunan Makanan oleh Clostridium perfringens
Pencemaran oleh organisme ini selalu berhubungan
dengan penggunaan produk daging dan ayam, terutama
potongan daging panggang dalam ukuran besar atau daging
kalkun yang diisi bumbu-bumbu dan ayam yang dimasak
kurang sempuma dan dibiarkan dingin perlahan-lahan atau
disimpan dalam suhu kamar. Pada beberapa kasus wabah juga
disebabkan oleh pemanasan kembali daging atau kaldunya.
Gejala-gejala keracunan bahan pangan yang tercemar oleh
Clostridiumperfringens akan nampak 8 ­ 22 jam setelah memakan
bahan pangan yang tercemar, dengan gejala utama sakit perut
dan diare. Mungkin disertai demam dan rasa mual, tetapi jarang
disertai muntah. Angka kematiannya termasuk rendah.
Perlu diingat bahwa Clostridium perfringens terdapat luas
di alam sekitar (pernah dilaporkan terdapat dalam debu, tanah,
lantai dapur) dan mungkin merupakan bakteri patogen yang
paling luas penyebanannya. Oleh sebab itu maka faktor kontrol
amatlah penting dilakukan, terutama pada tahap persiapan
bahan pangan dan penyimpanannya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
34
background image
Keracunan Makanan oleh Bacillus cereus
Organisme ini tidak tergolong patogen, namun pada se-
jumlah keracunan karena bahan pangan yang berhubungan
dengan daging saus berempah dan nasi goreng, ditemukan
banyak sel-sel Bacillus cereus. Organisme ini didapatkan
secara luas di alam, pada umumnya di tanah. Kemampuan
membentuk spora memungkinkan organisme ini tetap hidup
pada operasi pengolahan dengan pemanasan.
Ada dua bentuk gejala keracunan bahan m,qkanan yang
tercemar oleh bakteri ini yaitu :
·
Mual dan muntah, dengan masa inkubasi 1 - 5 jam,
·
Kejang perut yang hebat disertai diare, dengan masa
inkubasi 8-12jam.
Infeksi oleh Vibrio parahaemolyticus
Organisme ini didapatkan dalam air dan bahan makanan
yang berasal dari laut, misalnya ikan dan kerang. Proses pe-
masakan dapat menghancurkan bakteri ini, tapi pencemaran
kembali dapat terjadi ketika ada kontak antara bahan makanan
masak dan yang mentah.
Gejala klinis yang nampak adalah diare berair, sakit perut,
mual, muntah, demam, dan sakit kepala, dengan masa inkubasi
12 - 24 jam
Shigelosis
Shigella dipindahkan melalui makanan, jari-jari, dan
melalui lalat. Infeksi Shigella sp terdapat dalam bahan
makanan akibat pencemaran dari para pengelola yang telah
terinfeksi, atau akibat air yang tercemar kotoran.
Infeksi ini mulai menunjukkan gejala setelah melewati
masa inkubasi pendek (1 - 4 hari), yaitu : sakit perut, kejang,
diare, dan demam. Kotoran berupa cairan serta mengandung
lendir dan darah, dapat juga terjadi spasmus rektum. Gejala ini
dapat kembali secara spontan dalam beberapa hari, pada anak-
anak kadang-kadang disertai dehidrasi dan asidosis.
Di antara beberapa species Shigella, penyakit yang
disebabkan oleh Shigella dysenteriae biasanya yang terhebat.
Tabel 1. Beberapa jenis bahan makanan yang sering tercemar mikroba
No.
Jenis bahan makanan
Mikroba yang sering mencemari
1.
Makanan dalam kaleng
Cl. botulinum
2. Keju
S. aureus, E. col/ patogen, Bruce/la sp
3.
Daging dan produknya
makanan mengandung
daging
Salmonella sp, Cl. petfringens, S. aura's
,
C. jejuni, Y. enteroco/itica
4.
Daging ayam dan produk-
nya mengandung daging
ayam
i d e m
5.
Telur dan produknya
Salmonella sp, Streptococcus sp
6. Ikan
Vibrio parahaemoliticus, Proteu.s sp
7.
Buah dan sayuran mentah Shigella sp, E. coli, Listeria sp
8, Air
susu
mentah
Salmonella sp, S. aureus, Streptococcus
9. Kentang
Bacillus cereus, Cl. botulinum
10. Beras
Bacillus cereus
Keterangan :
*) Dikutip dari Edwin Lennette : Manual of Clinical Microbiology Fourth Ed.
1985.
KESIMPULAN
Pencemaran bahan makanan oleh mikroba dapat membawa
dampak yang merugikan, bahkan dapat menimbulkan
kematian. Oleh sebab itu upaya pencegahannya amat penting
diketahui untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada
beberapa faktor yang terlibat dalam pengaruh kasus
pencemaran bahan makanan oleh mikroba, antara lain :
1) Manusia, tindakannya :
·
Peningkatan pengetahuan tentang penanganan/pengolahan
bahan makanan secara sehat dan benar.
·
Carrier (pembawa) suatu penyakit dilarang menangani/me-
ngolah bahan makanan.
·
Dilakukan isolasi terhadap orang yang sakit.
·
Kebersihan diri diutamakan.
2) Lingkungan, tindakannya :
·
Areal penanganan/pengolahan bahan makanan harus bebas
vektor (lalat, lipas, rodensia).
·
Jangan biarkan hewan peliharaan memasuki areal
penanganan/pengolahan.bahan makanan.
·
Kebersihan lingkungan diutamakan, bila peruu adakan
tindakan desinfeksi secara teratur.
3) Alat-alat
·
Harus bersih, dipisahkan untuk pemakaian bahan makanan
yang mentah dengan yang matang.
4) Bahan makanan
·
Proses pengolahan, penyimpanan, penyebaran sampai ke
konsumen harus memenuhi standar kesehatan; misalnya proses
pemanasan, pasteurisasi, pendinginan, dan lain-lain.
·
Kontrol terhadap sanitasi bahan makanan, air, dan lain-lain.
·
Bila terjadi perubahan warna, bau, dan rasa pada bahan
makanan maka jangan dikonsumsi.
·
Kemasan bahan makanan yang berubah patut dicurigai ter-
hadap kemungkinan pencemaran.
KEPUSTAKAAN
1.
Clark DW, Mahon BM, Preventive and Community Medicine, 2nd edition,
USA : Little Company, 1981.
2.
Frobisher, Sommermeyer, Fuerst. Microbiology in Health and Disease.
Tokyo; WB Saunders Company, 1969.
3.
Howie JW. Gillespie TG. Report of the Royal Society of Health Confe-
rence on the Safety of Canned Food London : The Royal Society of
Health. 1966.
4.
Lennette EH, Manual of Clinical Microbiology. Washington DC;
American Society for Microbiology, 1985.
5.
Longre K, Blaker GG. Sanitary Techniques in Feed Service. New York;
John Wiley & Sons, 1971.
6.
Mc Kinney RE. Microbiology for Sanitary Engineers. New York; Mc
Graw Hill Book Company Inc, 1962.
7.
World Health Organization, Health Hazards of the Human Environment.
Geneva; WHO, 1972.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 35