background image
PRAKTIS
Penatalaksanaan LES
pada Berbagai Target Organ
Nanang Sukmana
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit auto-
imun yang melibatkan berbagai organ dengan manifestasi
klinis yang bervariasi dari yang ringan sampai berat
1,2,3
. Pada
keadaan awal, sering sulit dikenal sebagai LES, karena
manifestasinya sering tidak terjadi bersamaan. Sampai saat ini
penyebab LES belum diketahui; ada dugaan faktor genetik,
infeksi dan lingkungan ikut berperan pada patofisiologi
LES.
4,5,6,7
Prevalensi bervariasi di tiap negara. Di Indonesia sampai
saat ini belum pernah dilaporkan. Pada dekade terakhir terlihat
adanya kenaikan kasus yang berobat di RSCM Jakarta. Salah
satu faktor adalah kewaspadaan dokter yang meningkat. Untuk
ini perlu upaya penyebarluasan gambaran klinis kasus LES
yang perlu diketahui sehingga diagnosis lebih dini dan
pengobatan lebih adekuat. Baron dkk
8
melaporkan keter-libatan
ginjal lebih sering ditemukan pada LES dengan onset usia
kurang dari 18 tahun. Sedangkan pada penelitian Font dkk
9
lesi
diskoid dan serositis lebih sering ditemukan sebagai mani-
festasi awal pasien LES laki-laki, sedangkan artritis lebih
jarang. Samanta dkk
10
pada penelitian populasi Asia dan kulit
putih di Inggris melaporkan kelainan ginjal lebih sering
ditemukan di populasi Asia. Wanita lebih sering terkena
dibanding laki-laki dan umumnya pada kelompok usia
produktif.
PATOGENESIS LES
Kelainan sistem imun pada LES ditandai dengan berbagai
faktor dan lingkungan yang mampu mengubah sistem imun
tersebut yang mungkin sudah didasari kelainan genetik, seper-ti
terlihat pada gambar 1.
Antigen dari luar yang akan diproses oleh makrofag (APC)
akan menyebabkan berbagai keadaan seperti: apoptosis,
aktivasi atau kematian sel tubuh, sedangkan beberapa antigen
di tubuh tidak dikenal (selanjutnya disebut Self Antigen) contoh
nucleosomes, U1RP dan Ro/SS-A. Antigen tersebut akan
diproses seperti umumnya antigen lain oleh APC dan sel B.
Peptida ini akan menstimulasi sel T dan akan diikat oleh sel B
pada reseptornya untuk selanjutnya menghasilkan suatu anti-
bodi yang merugikan tubuh. Antibodi yang dibentuk oleh
peptida ini dan antibodi yang dibentuk oleh antigen eksternal
akan merusak organ target (glomerulus, sel endotel dan
thrombosit). Di sisi lain antibodi juga dapat berikatan dengan
antigennya untuk membentuk komplek imun (IC) yang dapat
merusak berbagai organ tubuh bila terjadi endapan.
Aktivasi sel T dan sel B tersebut sebetulnya akan di-
kontrol oleh gen-gen yang berbeda, yang mungkin dapat
direspon tubuh dengan cara pembersihan antigen atau komplek
imun di dalam sirkulasi.
Perubahan abnormal di dalam sistem imun tersebut dapat
mempresentasikan protein RNA, DNA dan phospholipid ke
dalam sistem imun tubuh. Beberapa autoantibodi dapat me-
liputi trombosit dan eritrosit karena antibodi tersebut dapat
berikatan dengan glycoprotein II dan III di dinding trombosit
dan eritrosit. Di sisi lain antibodi juga dapat bereaksi dengan
antigen sitoplasmik trombosit dan eritrosit yang akhirnya akan
menyebabkan proses apoptosis.
Gambar 1. Patogenesis LES
Peningkatan komplek imun di sirkulasi sering ditemukan
Dibacakan pada acara Simposium `Allergy & Clinical Immunology Update',
Hotel Marcopolo, Lampung, 12-13 April 2003
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 27
background image
pada penderita LES dan keadaan ini sering menimbulkan
kerusakan jaringan bila terjadi pengendapan. Komplek imun
tersebut dapat juga berkaitan dengan komplemen yang akhir-
nya berikatan dengan reseptor C3b di sel darah merah yang
akan menimbulkan hemolisis. Bila komplek imun melalui
hepar maka akan dieliminasi dengan cara mengikat C3bR dan
bila melalui limpa akan diikat oleh FcR. IgG. Ketidakmampu-
an kedua organ tersebut akan menimbulkan manifestasi klinik
berupa hemolisis.
Deposit komplek imun sirkulasi (CIC) tidak sederhana
karena melibatkan aktivasi berbagai komplemen, PMN dan
berbagai mediator inflamasi lainnya yang timbul karena
kerusakan/disfungsi sel endotel pembuluh darah.
Berbagai keadaan sitokin yang terjadi pada LES ialah :
penurunan jumlah IL-1dan peningkatan IL-6, IL-4 dan IL-6.
Ketidakseimbangan sitokin ini dapat meningkatkan aktivasi sel
B untuk membentuk antibodi.
Berbagai keadaan sel T dan Sel B yang terjadi pada LES:
1. Sel T
-
Limfopenia
-
Penurunan sel T supresor
-
Peningkatan sel T helper
-
Penurunan memori dan CD4
-
Penurunan aktivasi sel T supresor
-
Peningkatan aktivasi sel T helper
2. Sel B
-
Aktivasi dan poliklonal sel B
-
Peningkatan terhadap respon sitokin
PENATALAKSANAAN LES
Salah satu aspek penting pada penatalaksanaan LES ialah
adanya beberapa perbedaan pendapat Hal ini muncul karena
laporan beberapa sentra yang mengemukakan keberhasilan
pengobatan dan sampai sekarang belum ada satu panduan
umum penatalaksanaan/pengobatan LES yang dapat diterima
semua pihak.
6,7,11
Keadaan ini sebetulnya dapat diatasi dengan
dengan menentukan jenis LES dan derajat penyakitnya.
Dengan makin berkembangnya beberapa pemeriksaan penun-
jang maka deteksi dini LES dapat dengan mudah di-
lakukan.
8,11,12
Beberapa pertanyaan sebelum melakukan penatalaksana-
an LES yaitu :
6,10,11
1.
Apakah pasien masuk kriteria ARA atau tidak.
2.
Bila tidak, apakah pasien memenuhi kriteria biopsi. .
Dengan panduan biopsi apakah pasien termasuk LES atau
diskoid lupus.
3.
Apakah keluhan yang muncul merupakan bagian dari
penyakit konektif lainnya.
4.
Setelah mengetahui LES, pastikan organ sasaran yang
terkena dan derajat sakitnya.
5.
Adakah penyakit lain yang dapat terjadi bersamaan dengan
LES. Bila ada tentukan apakah primer atau sekunder.
6.
Upaya pengobatan ditujukan untuk meningkatkan kualitas
hidup dengan mempertimbangkan untung-rugi dari suatu
regimen pengobatan.
Dari hal-hal tersebut di atas kita dapat mulai penata-
laksanaan LES dengan baik; beberapa keberhasilan pengobat-
an dapat dijadikan panduan penatalaksanaan sesuai dengan
derajat dan target organ sasaran yang terkena. Mengingat
pengobatan akan berlangsung lama bahkan dapat seumur hidup
maka pemberian obat harus rasional, efek samping se-minimal
mungkin, mempunyai efektifitas tinggi, obat mudah didapat
dan murah
11,13,14
. Pada makalah ini akan dibahas pe-
natalaksanaan Lupus eritematosus sistemik, yang terbagi dua
kelompok yaitu :
1.
Penatalaksanaan umum.
2.
Pengobatan farmakologis.
PENATALAKSANAAN UMUM
1. Kelelahan
Hampir setengah penderita LES mengeluh kelelahan. Se-
belumnya kita harus mengklarifikasi apakah kelelahan ini bagi-
an dari derajat sakitnya atau karena penyakit lain yaitu: anemia,
demam, infeksi, gangguan hormonal atau komplikasi
pengobatan dan emotional stress. Gejala ini merupakan manif-
estasi yang berhubungan dengan disfungsi sitokin dalam proses
inflamasi sehingga peningkatan keluhan dapat sebagai
parameter aktivitas inflamasi. Upaya mengurangi kelelahan di
samping pemberian obat ialah : cukup istirahat, batasi aktivi-tas
dan mampu mengubah gaya hidup.
3,15,16
2. Merokok
Walaupun prevalensi LES lebih banyak pada wanita,
cukup banyak wanita perokok. Kebiasaan merokok akan
mengurangi oksigenisasi, memperberat fenomena Raynaud
yang disebabkan penyempitan pembuluh darah akibat bahan
yang terkandung pada sigaret/rokok.
6,15,16
3. Cuaca
Walaupun di Indonesia tidak ditemukan cuaca yang sa-
ngat berbeda dan hanya ada dua musim akan tetapi pada
sebagian penderita LES khususnya dengan keluhan artritis
sebaiknya menghindari perubahan cuaca karena akan mem-
pengaruhi proses inflamasi
15,16
.
4. Stres dan trauma fisik
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa perubahan
emosi dan trauma fisik dapat mempengaruhi sistem imun
melalui : penurunan respon mitogen limfosit, menurunkan
fungsi sitotoksik limfosit dan menaikkan aktivitas sel NK
(Natural Killer).
6,15,16
Keadan stres tidak selalu mempengaruhi aktivasi pe-
nyakit, sedangkan trauma fisik dilaporkan tidak berhubungan
dengan aktivasi LES-nya. Umumnya beberapa peneliti sepen-
dapat bahwa stres dan trauma fisik sebaiknya dikurangi atau
dihindari karena keadaan yang prima akan memperbaiki pe-
nyakitnya
7,15
.
5. Diet
Tidak ada diet khusus yang diperlukan pasien LES,
makanan yang berimbang dapat memperbaiki kondisi tubuh.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa minyak ikan (fish oil)
yang mengandung eicosapentanoic acid dan docosahexanoic
acid dapat menghambat agregasi trombosit, leukotrien dan 5-
lipoxygenase di sel monosit dan polimorfonuklear. Sedangkan
pada penderita dengan hiperkolesterol perlu pembatasan
makanan agar kadar lipid kembali normal.
6,7,15
6. Sinar matahari (sinar ultra violet)
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
28
background image
Seperti diketahui bahwa sinar ultra violet mempunyai tiga
gelombang, dua dari tiga gelombang tersebut (320 dan 400 nm)
berperan dalam proses fototoksik. Gelombang ini terpapar
terutama pada pukul 10 pagi s/d pukul 3 sore, sehingga semua
pasien LES dianjurkan untuk menghindari paparan sinar
matahari pada waktu-waktu tersebut.
4,7,15
7. Kontrasepsi oral
Secara teoritis semua obat yang mengandung estrogen
tinggi akan memperberat LES, akan tetapi bila kadarnya ren-
dah tidak akan membahayakan penyakitnya. Pada penderita
LES yang mengeluh sakit kepala atau tromboflebitis jangan
menggunakan obat yang mengandung estrogen.
4,6,7,15
PENGOBATAN FARMAKOLOGIS
1. Steroid sistemik
Yang paling penting pada pengobatan LES adalah per-
timbangan untuk memilih regimen pengobatan karena
pengobatan akan berlangsung lama, dengan berbagai efek
samping yang akan terjadi.
6,12,15,16,17
LES dibagi dua kelompok besar (Dubois)
16,17
yaitu :
a.
Kelompok ringan
Termasuk pada kelompok ini ialah :demam, artritis, peri-
karditis ringan, efusi pleura/perikard ringan, kelelahan dan
sakit kepala.
b.
Kelompok berat
Termasuk pada kelompok ini ialah : efusi pleura dan
perikard masif, penyakit ginjal, anemia hemolitik, trombosito-
penia, lupus serebral, vaskulitis akut, miokarditis, lupus pneu-
monitis dan perdarahan paru.
Keuntungan pembagian ini ialah untuk menentukan dosis
steroid atau obat lainnya.
2. Panduan umum derajat LES ringan
15,16,17
-
Aspirin dan obat antiinflamasi non steroid merupakan
pilihan utama.
-
Dosis disesuaikan dengan derajat penyakitnya.
-
Penambahan obat anti malaria hanya dikhususkan bila ada
skin rash dan lesi di mukosa membran.
-
Bila pengobatan di atas gagal, dapat ditambah prednison
2,5 mg-5 mg/hari, dapat dinaikkan secara bertahap 20% tiap 1-
2 minggu, sesuai kebutuhan.
3. Panduan umum derajat LES berat
4,6,13,15,16,17
-
Pemberian steroid sistemik merupakan pilihan pertama.
-
Obat anti inflamasi non steroid dan anti malaria tidak
diberikan.
-
Pemberian prednison dan lama pemberian disesuaikan
dengan kelainan organ sasaran yang terkena.
Pengobatan pada kasus-kasus khusus
1. Anemia hemolitik autoimun.
1,4,15,18
Prednison : 60-80 mg/hari (1-1,5 mg/kgbb/hari)
Bila dalam beberapa hari sampai 1 minggu belum ada
perbaikan maka dosis dapat ditingkatkan sampai 100 mg-120
mg/hari. Umunmya respon penuh akan dicapai dalam 8-12
minggu.
2. Trombositopenia otoimun.
6,15,18
Prednison : 60-80 mg/hari (1-1,5 mg/kgbb./hari).
Bila tidak ada respon dalam 4 minggu ditambahkan
Imunoglobulin intravena (IVIG) 0,4 mg/kgbb./hari selama 5
hari berturut-turut.
3. Vaskulis sistemik akut.
4,15,18
Prednison : 60-100 mg/hari, umumnya respon akan ter-
lihat dalam beberapa hari; kecuali pada kasus dengan kompli-
kasi gangren di tungkai, respon terlihat dalam beberapa
minggu. Pada keadaan akut diberikan steroid parenteral.
4. Perikarditis
1,15,18
- Ringan : obat anti inflamasi non steroid atau anti malaria.
Bila dengan obat ini tidak efektif dapat diberi prednison
20-40 mg/hari.
- Berat : prednison 1 mg /kgbb./hari.
5. Miokarditis
15,18
Prednison 1 mg/kgbb/hari; bila tidak efektif dapat di-
kombinasi dengan siklofosfamid.
6. Efusi pleura
1,6,15,18
Prednison 15-40 mg/hari. Bila efusi masif, lakukan pungsi
pleura/drainage.
7. Lupus pneumonitis
1,6,15,16,17,18
Prednison 1-1,5 mg/kgbb./hari selama 4-6 minggu.
8. Lupus serebral
1,6,12,15,18
- Metil prednisolon 2 mg/kgbb./hari untuk 3-5 hari, bila
berhasil dilanjutkan pemberian oral 5-7 hari lalu diturunkan
perlahan.
- Metil prednisolon pulse dosis selama 3 hari berturut-turut.
LUPUS NEPHRITIS (LN)
Penatalaksanaan umun
15,16,17
1.
Bila tidak ada kontraindikasi semua pasien dengan LES
sebaiknya dibiopsi. Biopsi dapat diulang jika dalam perjalanan
pengobatan gejalanya menetap atau memburuk.
2.
Diet rendah garam jika ditemukan hipertensi, rendah
lemak jika ada hiperlipidemia atau sindrom nefritis, begitu juga
diet rendah protein disesuaikan dengan derajat penyakit-nya.
Kalsium dapat diberikan untuk mengurangi efek samping
osteoporosis karena steroid.
3.
Diuretika dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan.
4.
Pemeriksaan rutin periodik meliputi pemeriksaan :
-
Sedimen urin.
-
Urin 24 jam ( protein)
-
Kreatinin dan CCT
-
Albumin serum
-
C3
-
10. anti DNA
Pemeriksaan diulang sesuai dengan perkembangan pe-
nyakit:
1.
Pantau efek samping steroid dan komplikasi yang terjadi
selama pengobatan (infeksi dll).
2.
Hindari pemberian salisilat dan obat inflamasi non steroid
karena akan memperberat kerja ginjal.
3.
Penanganan hipertensi yang baik.
4.
Hindari kehamilan bila LN masih aktif.
5.
Aspirin hanya diberikan selektif bila ada anti fosfolipid.
Pengobatan LN secara umum (memenuhi kriteria
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 29
background image
ARA)
1,4,6,15,16,17,18
KEPUSTAKAAN
-
Prednison : 1 mg/kgbb. /hari untuk 6-12 minggu. Setelah
itu dapat diturunkan secara bertahap.
Pengelolaan LN sampai sekarang masih kontroversial.
Tujuan utamanya adalah mencegah perburukan penyakit.
1.
Pisetsky DS, Glikeson G, Clair EW. Systemic Lupus Erythematosus.
Diagnosis and treatment. Med Clin North Am. 1997 ; 81 : 113-27.
2.
Mills JA. Systemic Lupus Erythematosus.N Engl J Med 1994; 330:1871-
6.
Panduan pengobatan sesuai kelas WHO
15,17
3.
Boumpas DT, Austin HA, Fessler BJ, Balow JE, Klippel JH, Locksin
MD. Systemic Lupus Erythematosus : Emerging Concept. Ann Intern
Med, 1995; 122 : 940-50.
Kelas
I : Tidak ada pengobatan khusus.
Kelas II : Mesangial (IIA) tidak memerlukan pengobatan.
4.
Steinberg AD, Gourley MF, Klinman DM, Tsokos GC, Zscott DE, Krieg
AM. Systemic Lupus Erythematosus. NIH Conference. Ann Intern Med,
1991 ; 115 : 548-57.
Pada pasien kelas II B; dengan protein lebih 1 g, titer DNA
tinggi, dan C3 rendah dapat diberi prednison 20mg/hari selama
6 minggu sampai 3 bulan, setelah itu diturunkan bertahap.
5.
Lewkonia RM. The clinical genetic of lupus. Lupus 1992 ; 1 : 55-62.
6.
Pisetsky DS, Gilkeson G. Systemic Lupus Erythematosus. Med Clin
North Am, 1997 ; 81 : 113-127.
Kelas III : Umumnya pemberian steroid digabung dengan
siklofosfamid
30
Kelas IV : Prednison : 1 mg/kgbb/ hari selama 6-12
minggu
7.
Hochberg MC. The epidemiology of Systemic Lupus Erythematosus.
Dalam: Wallace DJ, Hahn BH eds. Dubois'Lupus Erythematosus, fourth
ed. Philadelphia : William & Wilkins, 1997 : 93-104.
8.
Barron KS, Silverman ED, Gonzales J, Reveile JD. Clinical, serologic
and immunogenetic studies in childhood onset Systemic Lupus
Erythematosus. Arthritis Rheum, 1993 ; 36 : 348-54.
Kelas V
: Umumnya tidak diberi siklofosfamid.
Protokol pemberian siklofosfamid
15,17,18
9.
Font J, Cervera R, Novorro et al. Systemic Lupus Erythematosus in men;
Clinical and immunological characteristics. Ann Rheum Dis 1992; 51:
1050-2.
Dosis 0,5-1 g/m
2
luas permukaan badan diberikan secara
bolus (per infus) tiap bulan selama 6 bulan selanjutnya tiap 3
bulan sampai 1-2 tahun kemudian, atau total dosis mencapai 10
g.
10.
Samanta A, Feehally J, Roy S, Nichol FE, Sheldon PJ, Walls J. High
prevalence of systemic disease and mortality in Asian subjects with
Systemic Lupus Erythematosus. Ann Rheum Dis, 1991 ; 50 : 490-2.
Protokol pemberian pulse metil prednisolon
15,17,18
11.
Wallace DJ. The Clinical presentation of SLE Dalam : Wallace DJ, Hahn
BH, eds. Dubois'Lupus Erythematosus, fourth ed. Philadelphia. William
& Wilkins, 1997 ; 627-634.
Dosis 1 g IV (bolus) selama 3 hari berturut-turut. Diindi-
kasikan pada :
12.
Wallace DJ, Metzger AL. Systemic Lupus Erythematosus and the
nervous system. Dalam : Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois' Systemic
Lupus Erythematosus, fourth ed. Philadelphia : William & Wilkins, 1997
: 723-754.
1.
Oliguria akut (renal failure).
2.
Lupus serebral dengan koma.
3.
Lupus krisis (acute serious SLE)
13.
Schur PH. Third International Conferences on Systemic Lupus Erythe-
matosus. Arthritis and Rheumatism, 1992 ; 35 : 1238-1240.
PENUTUP
14.
Kater L. Systemic Lupus Erythematosus. Diagnosis and treatment.
Advance Posgraduate Course on Immunology. Jakarta, 7-9 November
1994.
Penatalaksanaan LES masih terus berkembang, berbagai
sentra melakukan penelitian dalam upaya meningkatkan
kualitas hidup pasien LES. Tersedianya sarana laboratorium
dan diagnostik yang memadai memudahkan diagnosis dini.
Tingkat ekonomi pasien perlu dipertimbangkan dengan bijak
agar pembiayaan dapat ditekan sekecil mungkin dengan
memilih pemeriksaan yang sangat diperlukan sesuai dengan
skala prioritas.
15.
Faille HB, Kater L. Lupus Erythematosus. Dalam : Dela Faille HB, Kater,
eds. Multi system Autoimmune Disease.Elsevier Science BV, 1994:85-
121.
16.
Kashgarn M. Lupus nephritis: pathology, pathogenesis, clinical
correlation and prognosis. Dalam: Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois'
Systemic Lupus Erythematosus, fourth ed. Philadelphia : William &
Wilkins,1997;1037-51.
17.
Wallace DJ, Hahn BH, Kleppel JH. Lupus nephritis. Dalam : Wallace DJ,
Hahn BH, eds. Dubois' Systemic Lupus Erythematosus, fourth ed.
Philadelphia : William & Wilkins, 1997 ; 1053-65.
18.
Kumberly RP. Steroid use in Systemic Lupus Erythematosus. Dalam:
Lahita RG (ed) Systemic Lupus Erythematosus, second ed. New York;
Churchill Livingstone, 1992 : 967-23.
Death is the farthest limit of our changing life
(Horace)
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004