background image
Manajemen Keuangan
Paviliun Khusus Swasta
Rumah Sakit
Dr
Cipto Mangunkusumo
Soepardi Soedibyo
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Swastanisasi di RS Dr Cipto Mangunkusumo didasari
oleh S.K Men Kes No. 138 a/Men Kes/S.K/II/1988 tanggal 28
Pebruari 1988 dan bertujuan untuk :
1) Meningkatkan mutu perawatan meningkatkan citra pela-
yanan.
2) Memberikan kesempatan kepada seluruh dokter ahli me-
rawat pasien swasta di RSCM.
3) Memberikan kesempatan kepada tenaga medik memperoleh
pengetahuan/pengalaman dalam teknologi canggih.
4) Menambah kesejahteraan bagi seluruh pegawai RSCM agar
motivasi kerjanya dapat ditingkatkan,
5) Membantu anggaran RSCM untuk pengadaan dan peme-
liharaan peralatan.
6) Menyediakan anggaran tambahan untuk melaksanakan
penelitian.
7) Membantu mengendalikan tarif rumah sakit
swasta.
Sejak PKS berdiri, terus berkembang sampai sekarang
dengan segala masalah yang dihadapinya. PKS II diresmikan
pada Pebruari 1988, PKS I Juli 1988, PKS III Juli 1988, PKS IV
April 1991.
MACAM, KEGIATAN SWASTANISASI DI RSCM
1) Pelayanan Rawat Nginap
Kapasitas sebesar 60 tempat tidur terdiri dari :
·
PKS I 9 tempat tidur : 1 VIP A, 8 VIP B.
·
PKS II 9 tempat tidur : 1 VIP A, 8 VIP B.
·
PKS III 22 tempat tidur : 2 VIP B, 20 VIP C.
·
PKS IV 20 tempat tidur : VIP C./
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25 November 1993.
2) Pelayanan Rawat Jalan
Disediakan dua kamar periksa yang dilengkapi dengan ECG
dan EECP.
3) Pelayanan Penunjang Medis
Fasilitas penunjang medis bagi pasien dari PKS mengguna-
kan fasilitas penunjang medis yang tersedia di RSCM.
a) Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi Medis, dst.
Tarif bagi pasien PKS sama dengan tarif tertinggi di RSCM
(pasien klas I) ditambah 40%; contoh : Foto paru tarif klas
I Rp. 11.000,­, tarif PKS Rp. 15.000,­. Sedangkan tarif di RS
Swasta Rp. 17.000,­.
Pembagian penghasilan : Dana sebesar tarif klas I disetorkan
ke RSCM, sisanya dibagi sebagai berikut : 70% untuk insentif di
instalasi penunjang, 30% untuk PKS-KPN.
b) Gizi
Makanan diolah oleh instalasi gizi di dapur RSCM. Untuk
ganti rugi penggunaan dapur, kepada RSCM dibayar Rp.
1.000,-- perpasien dan untuk insentif kepada karyawan instalasi gizi juga
dibayarkan Rp. 1.000,­ per pasien.
c) Farmasi
Barang-barang farmasi dikelola tersendiri dan dilakukan
oleh apotik khusus swasta.
4) Pelayanan Non Medis
a) Linen
Milik PKS sendiri, dicuci oleh tenaga PKS dengan bahan
sendiri. Alat cuci menggunakan alat RSCM; untuk ganti rugi
dibayarkan Rp. 100.000,­ per bulan kepada RSCM.
50
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
background image
b)
Telepon
Dipasang 4
line
telepon khusus untuk PKS, satu
line
di-
pergunakan RSCM. Pasien dapat menggunakannya tanpa
biaya, kecuali interlokal.
5) Pelayanan Medis lain
a) Pada bulan Juli 1988 telah dibeli secara
leasing
1
unit color
doppler echo untuk unit kardiologi dan sub unit kardiologi anak/
penyakit dalam seharga Rp. 125.000.000,­;
leasing
dalam
jangka waktu 2 tahun.
b) Pada bulan Januari 1989 telah diadakan pengambilalihan
leasing
alat USG yang ada di sub unit ginjal.
c) Pada bulan Juni 1989 telah ditandatangani perjanjian untuk
pinjam pakai alat hemodialisa dengan pihak swasta. Alat-alat
tidak dibeli koperasi, tetapi hanya dipinjam. Bahan habis pakai
dibeli dari tarif pasien yang menggunakan alat ini adalah
Rp. 165.000,­ (di RS Swasta Rp. 200.000,­). Biaya renovasi
ruangan yang dipergunakan (sebagian ruang bekas SKPD) di-
tanggung perusahaan tersebut.
PEMANFAATAN PENGHASILAN
Menurut kebijaksanaan direktur mulai bulan September
1990, keuntungan dibagi dalam % sebagai berikut :
1. FKUI
: 10% dari laba bersih.
2. RSCM
: 40% dari sisa laba setelah dipotong 10%
3. Koperasi
: 40% dari sisa laba setelah dipotong 10%
4. Pengembangan : 20% dari sisa laba setelah dipotong 10%
EVALUASI KEGIATAN PKS PADA TAHUN 1992
1) Pelayanan Rawat Inap
1.1. Jumlah pasien :
PKS I
284
PKS II
231
PKS III
474
PKS IV 427
1.416
Apabila dikelompokkan berdasarkan kelas maka :
VIP A
53
VIP B
590
VIP C
773
1.416
1.2. Jumlah hari lama perawatan :
VIP A
849 hari
VIP B
5.868 hari
VIP C 10.185 hari
Rata-rata lama perawatan per pasien 10,7 hari.
1.3. BOR :
PKS I 85,3%
PKS II 94,1%
PKS III 71,6%
PKS IV 67,6%
Rata-rata BOR PKS : 80%.
1.4. BOR menurut kelas :
VIP A 88,9%
VIP B 89,3%
VIP C 69,7%
2) Ruang Rawat ICU
2.1. Jumlah tempat tidur
2
2.2. Jumlah pasien
78
2.3. Jumlah hari rawat
193 hari
2.4. BOR
26,5%
(Juga dipakai RSCM pada kasus yang perlu isolasi)
3) Ruang Hemodialisa (08.00 ­ 20.00)
3.1. Jumlah pesawat/alat 10
3.2. Jumlah pasien
Umum 232
Askes
434
666
3.3. Jumlah tindakan
Umum 1.897
Askes
3.158
5.050
4) Ultra Sonografi
4.1. Jumlah pasien yang membayar penuh
120
4.2. Jumlah pasien yang tidak mampu/keringanan
87
207
5) Echo Color Doppler
5.1. Pasien Anak
Yang membayar penuh
434
Yang tidak mampu/keringanan
251
685
5.2. Pasien Dewasa
Yang membayar penuh
73
Yang tidak mampu/keringanan
413
486
6) Radioterapi (14.00 ­ 17.00)
6.1. Pasien yang dilayani
Rawat Inap
574
Rawat Jalan
1.054
1.628
6.2. Jumlah tindakan rawat inap dan rawat jalan : 26.855.
7) Radiodiagnostik (setelah jam 12.00 dan pemeriksaan khusus
07.00 ­ 08.00)
7.1. Pasien yang dilayani
Rawat Inap
1.726
Rawat Jalan
6.710
8.436
7.2. Jumlah tindakan
Rawat Inap
1.960
Rawat Jalan
7.213
9.173
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
51
background image
8) Pelayanan
Poll
Rawat Jalan
Jumlah pasien
6 ­
7/hari.
9) Tindakan Operasi
a. Khusus
85
b. Besar
136
c. Sedang
71
d. Kecil
16
308
MANFAAT PKS
a)
Untuk Pegawai RSCM
1) Bagi karyawan RSCM/FKUI golongan
IV,
apabila me-
merlukan perawatan dengan fasilitas PHB, dapat memanfaatkan
PKS
IV
(Ketentuan PKS
No. 15
/K.PKS/VII/1992). Jumlah kar-
yawan
yang
telah memanfaatkan PKS
IV
sebanyak
25
orang.
2) Membantu memberikan hadiah lebaran bagi seluruh pe-
gawai RSCM dan dokter FKUI.
3) Membantu insentif pendorong pasien (Rp. 200,­/pasien).
b)
Untuk Pelayanan Pasien
1) Memberikan subsidi kepada pasien
yang
kurang/tidak
mampu.
Pasien tersebut dilayani dengan alat-alat PKS,
yang
peng-
adaannya secara leasing, misal :
Ultra
Sonografi dan
Echo Color
Doppler,
maupun pasien Askes sejumlah Rp.
115.759.290,­.
2) Meningkatkan mutu perawatan
Dengan adanya tarif PKS
yang
tinggi jika dibandingkan
dengan tarif RSCM, maka pasien akan mendapatkan pelayanan
maupun mutu perawatan
yang
lebih baik sesuai dengan biaya
perawatan
yang
telah dikeluarkan.
3) Jumlah dokter ahli
yang
merawat pasien
di
PKS setiap
tahun menunjukkan kenaikan.
c)
Untuk FKUI
Memberikan bantuan dana kepada FKUI untuk kegiatan
penelitian
di
FKUI sebanyak Rp.
43.872.205,­.
d)
Untuk RSCM
1) Tambahan uang masuk.
2) Membantu membangun PTK.
3) Membantu membangun ODC.
4) Membangun PKS
IV.
MASALAH YANG DIHADAPI PKS
1) Ruang Perawatan dan Parkir
a) Jumlah pasien
yang
menghendaki satu kamar untuk satu
pasien makin meningkat
(VIP B).
b) Tetap banyaknya pasien
yang
ingin dirawat
di
PKS (daftar
tunggu tetap banyak) sampai
30
pasien.
c) Tempat parkir
yang
tidak memadai.
2) Tenaga
a) Dokter sering diganti oleh asisten.
b) Dokter mengubah/menghendaki tarif
di
luar standar tanpa
diketahui pasien dari permulaan dirawat (sering sekali).
c) Petugas
non
perawatan kurang cepat tanggap.
3) Penunjang
a) Beberapa penunjang kapasitasnya sudah maksimal sehingga
terjadi keterlambatan dalam pelayanan, misal: Radioterapi daftar
tunggunya sampai
2
minggu.
b) Hasil dari pemeriksaan penunjang memerlukan waktu sampai
2 ­ 3
hari (karena dokternya hanya satu).
c) Alat-alat
yang
ada sudah ketinggalan zaman (misal:
EEG).
d) Ruang tunggu dan ruang periksa campur dengan pasien
biasa.
4)
Keuangan
a) Penggunaan
ICU
RSCM sering dimanfaatkan pasien untuk
meminta tarif RSCM.
b) Masih adanya pasien
yang
sulit untuk diminta uang muka/
cicilan sehingga tidak dapat ditagih sampai pasien pulang.
c) Masih banyaknya pasien minta keringanan.
52
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994