background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Imunoterapi pada Asma Alergi
Frans Abednego Barus, Wiwien Heru Wiyono, Faisal Yunus
Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Asma merupakan penyakit yang prevalensinya meningkat
dari waktu ke waktu dengan sebab yang belum diketahui.
1
Diperkirakan asma disandang oleh 100-150 juta jiwa di seluruh
dunia. Permasalahan ini tidak hanya timbul di negara maju
namun juga di negara berkembang.
2
Di Amerika setiap tahun
sekitar 1,5-2 juta kunjungan ke unit gawat darurat dan kasus
asma akut mencapai 2,5-10% angka kunjungan di pusat ke-
sehatan perkotaan.
2
Asma ditandai dengan penyempitan saluran
pernapasan yang berhubungan dengan hipereaktiviti otot polos
dan inflamasi yakni hipersekresi mukus, edema dinding saluran
pernapasan, deskuamasi epitel dan infiltrasi sel inflamasi.
1-3
Asma dapat timbul pada berbagai usia dengan derajat yang
berbeda dan dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan.
Pengobatan asma terus berkembang untuk mengatasi penyakit
ini tetapi angka kematian akibat penyakit ini terus mengalami
peningkatan.
2
Patogenesis asma sangat kompleks dan hanya sebagian
yang sudah dimengerti. Secara umum asma dibagi menjadi 2
golongan yaitu asma alergi/atopi dan nonalergi dengan gambar-
an patologi yang ditemukan tidak berbeda walaupun berbeda
penyebabnya.
4
Suatu pendekatan lain dalam mengontrol asma
alergi selain menghindari pajanan alergi adalah dengan imuno-
terapi alergen. Definisi imunoterapi alergen adalah pemberian
berulang alergen spesifik pada keadaan atau penyakit yang
diperantarai imunoglobulin E, yang bertujuan sebagai pence-
gahan dan perlindungan dari gejala alergi dan reaksi inflamasi
yang berhubungan dengan pajanan alergen.
5
Banyak penelitian
yang telah dikembangkan mengenai hal ini termasuk hasil
imunoterapi, pengetahuan yang baik tentang mekanisme kerja
dan pembuatan alergen yang lebih murni dan baik yang mem-
buat peranan imunoterapi menjadi pertimbangan dalam penata-
laksanaan asma alergi pada masa yang akan datang.
6
SEJARAH
Pertama kali imunoterapi alergen dilakukan dan dilaporkan
oleh Noon dan Freeman
dikutip dari 7
pada tahun 1910 yang mengu-
raikan pembuatan ekstrak grass pollen dan disuntikkan dengan
dosis yang meningkat pada penderita rhinitis alergi. Sejak itu
digunakan selama kurang lebih 90 tahun untuk mengobati
penyakit alergi yang disebabkan oleh alergen inhalasi dan
ternyata efektif pada rhinitis dan juga asma alergi, tetapi tidak
diindikasikan pada alergi makanan.
dikutip dari 7
Tahun 1918
Cooke
dikutip dari 8,9
dari Amerika Serikat melaporkan suatu kondisi aler-
gi seperti hay fever dan asma yang berasal dari antibodi yang
timbul setelah pajanan agen sensitizing. Pada tahun 1922 ia
mengemukakan metode hiposensitisasi untuk mengobati pasien
alergi dan hal ini yang berkembang menjadi imunoterapi
sampai saat ini.
Sebelum itu, Prausnitz dan Kustner tahun 1921
dikutip dari 9,10
melakukan percobaan dengan menyuntikkan serum
yang tidak dipanaskan dari donor alergi kepada resipien non-
alergi (uji P-K). Mereka berhasil membuktikan bahwa individu
alergi memiliki serum terhadap antigen spesifik (reagin) yang
dapat dipindahkan secara pasif kepada individu non alergi.
Cooke
dikutip dari 10
tahun 1935
mengemukakan konsep antibodi
penghalang (blocking antibody) yang meningkat pada pemberi-
an imunoterapi. Tahun 1967 pertamakali dikemukan nama im-
munoglobulin E (IgE) oleh Ischikawa dan tahun 1977 Yungiger
dan Gleich mengemukakan bahwa terjadi kenaikan titer IgE
pada saat musim semi dan terjadi penurunan apabila musim
tersebut berganti.
dikutip dari 9
MEKANISME KERJA
Atopi adalah peningkatan sensitivitas sebagai hasil pening-
katan antibodi IgE spesifik terhadap alergen lingkungan yang
umum seperti tungau, serbuk sari atau bulu hewan. Pajanan
berulang terhadap alergen secara bermakna akan meningkatkan
prevalensi asma.
11
Sembilan puluh persen penyandang asma
anak dan 80% dewasa adalah atopi.
11,12
Asma alergi/atopi
ditandai dengan infiltrasi eosinofil dan sel T helper 2 (Th-2) ke
mukosa bronkus, peningkatan antibodi IgE spesifik dalam
sirkulasi, uji kulit positif dengan menggunakan alergen yang
umum dan hipereaktivitas bronkus. Melalui Interleukin-4 (IL-
4) dan IL-13, sel B akan distimulasi untuk menghasilkan IgE
dan melalui IL-5 akan terjadi pertumbuhan, diferensiasi dan
mobilisasi eosinofil ke saluran pernapasan pada pajanan ulang
terhadap alergen. Interleukin-13 berperan sebagai regulator
respons inlamasi dengan menghambat aktivasi dan penglepasan
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 39
background image
sitokin inflamasi.
12-14
Gambar 1 menunjukkan inflamasi alergi
sebagai dasar patogenesis asma atopi.
Gambar 1. Skema proses inflamasi alergi. LTs, leukotrien; Eos, eosino-
fil; Bas, basofil
Dikutip dari (12)
Mekanisme kerja imunoterapi terhadap asma atopi masih
merupakan hipotesis.
7
Efek imunologis yang terjadi setelah
pemberian imunoterapi adalah sebagai berikut:
7,12,15-18
1.
Antibodi penghalang
Imunoterapi akan menginduksi IgG spesifik alergen
(IgG4) yang berperan sebagai antibodi penghalang yang
bersaing dengan IgE untuk berikatan dengan alergen.
Sejumlah studi mengemukakan bahwa terbukti ada
hubungan antara pengurangan gejala alergi dengan jumlah
IgG serum
2.
Penurunan IgE
Penurunan secara bertahap IgE spesifik alergen pada
pemberian imunoterapi, walau pada awalnya terjadi
peningkatan. Respons Th
2
terhadap alergen akan dihambat
dan menginduksi respons Th
1
dengan peningkatan inter-
feron (IFN-) dan IL-12. Perubahan fungsi ini akan
mempengaruhi produksi IgE, pematangan populasi sel,
penglepasan mediator oleh sel mast dan basofil sehingga
akhirnya akan menurunkan respons alergi.
3.
Modulasi sel mast dan basofil
Imunoterapi memodulasi fungsi sel mast dan basofil se-
hingga terjadi penurunan penglepasan mediator walaupun
terdapat IgE spesifik pada permukaannya. Efek ini ditun-
jukkan dengan penurunan penglepasan histamin pasca-
imunoterapi setelah pajanan alergen spesifik yang di-
dahului oleh penurunan IgE spesifik atau peningkatan IgG
spesifik.
4.
Peningkatan aktivitas limfosit T supresor
Imunoterapi akan mengubah jaringan kerja pengaturan sel
oleh karena peningkatan aktivitas limfosit T supresor.
Produksi IgE, pematangan sel mast, aktifasi makrofag,
penglepasan mediator oleh sel mast dan basofil akan ber-
kurang dan mempengaruhi mekanisme alergi.
Gambar 2 menerangkan secara skematis mekanisme kerja
imunoterapi dalam imunopatogensis asma.
Gambar 2. Mekanisme kerja imunoterapi
Dikutip dari (15)
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Menurut panduan Allergic Rhinitis and its Impact on
Asthma (ARIA)
19
yang dirumuskan oleh 34 ahli yang bertemu
pada bulan Desember 1999 di Jenewa, indikasi imunoterapi
adalah untuk penyandang rhinitis atau asma alergi yang di-
sebabkan oleh alergen spesifik. Alergen yang diberikan ter-
sebut telah dijamin efektivitas dan keamanannya melalui
penelitian klinis.
19
Imunoterapi juga diindikasikan sebagai pro-
filaksis untuk pasien yang sensitif terhadap alergen selama
musim pollen atau perrenial.
20
Penyandang asma yang di-
maksud adalah penyandang asma derajat ringan-sedang dan
gejalanya dapat berkurang dengan pengobatan atau sudah ter-
kontrol dengan farmakoterapi.
21,22
Sedangkan kontraindiikasi relatif imunoterapi pada asma
adalah sebagai berikut:
18,23
1.
penyakit imunopatologik seperti pneumonitis hipersensitif
termasuk aspergilosis bronkopulmoner alergi
2.
keadaan imunodefisiensi yang berat
3.
keganasan
4.
kelainan psikiatri yang berat
5.
pengobatan dengan penyekat beta, karena reaksi anafilak-
sis keadaan akan memberat dan sulit diatasi dengan cara
konvensional
6.
pasien tidak patuh
7.
pasien mengalami efek samping yang berat yang berulang
selama terapi
8.
asma berat yang tidak terkontrol dengan farmakoterapi
9.
obstruksi kronik saluran pernapasan dengan volume eks-
pirasi paksa detik 1 (VEP
1
)
< 70% prediksi walaupun telah
mendapatkan farmakoterapi yang optimal
10.
pasien dengan penyakit kardiovaskular berat yang disebab-
kan oleh efek anafilaksis terhadap miokardium. Hipotensi dan
vasokontriksi pulmoner akan menambah beban jantung juga
perfusi miokardium sendiri akan berkurang
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
40
background image
11.
anak dibawah usia 5 tahun, untuk menghindari kesulitan
penatalaksanaan pasien pada saat terjadi reaksi anafilaksis
12.
usia tua, karena efek samping imunoterapi terhadap sistem
kardiovaskular dapat ireversibel
13.
keadaan hamil sebaiknya tidak dimulai imunoterapi, akan
tetapi bila imunoterapi telah dilakukan sebelum kehamilan,
maka dapat diteruskan.
Pertimbangan untuk memulai imunoterapi dapat dilihat
dari tabel 1.
Tabel 1. Pertimbangan untuk melakukan imunoterapi.
Penyakit yang terbukti diperantarai IgE
Uji kulit positif dan/atau peningkatan IgE spesifik serum
Terdapat riwayat sensitivitas spesifik sehingga menimbulkan gejala
Pajanan alergen (didapat dari uji alergi) yang berhubungan dengan gejala
Bila perlu, dilakukan provokasi dengan menggunakan alergen yang
berhubungan
Pajanan terhadap pencetus lain mungkin berhubungan dengan gejala
Derajat berat dan lama gejala
Gejala subyektif
Parameter obyektif seperti absen dari pekerjaan atau sekolah
Faal paru: bukan derajat asma berat
Pemantauan faal paru dengan menggunakan
peak flow rate meter
Respons terhadap terapi nonimunologik
Respons terhadap penghindaran pajanan alergen
Respons terhadap farmakoterapi
Ketersediaan vaksin dengan kualitas baik terstandar
Kontraindikasi relatif
Pengobatan dengan penghalang
Penyakit imunologik lain
Ketidakmampuan pasien untuk patuh
Faktor sosiologi
Biaya
Pekerjaan
Kualitas hidup tidak meningkat walau telah mendapat pengobatan
adekuat
Bukti obyektif efikasi imunoterapi yang dilakukan kepada pasien tertentu
(memiliki studi klinik terkontrol)
Dikutip dari (21)
BENTUK DAN CARA PEMBERIAN
Keputusan untuk memberikan imunoterapi berdasarkan
kriteria pemilihan pasien yang tepat, antigen yang tepat dan
dilakukan hanya oleh tenaga medis yang telah mendapat pe-
latihan dan pengalaman dalam bidang asma dan imunoterapi.
11
Untuk persiapan pasien dapat mengikuti petunjuk di bawah
ini:
18
a.
identifikasi pasien, kehadiran, memanggil nama lengkap
dan mencocokkan tanggal lahir atau nomor pasien
b.
tanyakan pada pasien apakah gejala asma telah terkontrol
c.
tanyakan pada pasien apakah terjadi reaksi pada pemberian
terakhir
d.
terapkan aturan "3 benar", yaitu :
·
kartu (chart) yang benar
·
antigen benar
·
pasien benar
e.
triple check antigen, yakni :
·
label, nama pasien
·
isi
·
pengenceran
·
tanggal kadaluarsa
·
tanggal penyuntikan terakhir
Sebelum melakukan imunoterapi, harus memenuhi syarat se-
bagai berikut:
11,24,25
1.
observasi pasien dalam 15 menit dan lakukan spirometri
atau pengukuran arus puncak ekspirasi (APE). Bila hasil peng-
ukuran 20% di bawah nilai tertinggi yang pernah dicapai maka
penyuntikan imunoterapi tidak dilakukan.
2.
petugas pelaksana memahami :
a.
cara penyesuaian dosis untuk meminimalkan reaksi
b.
cara penatalaksanaan reaksi lokal dan sistemik
c.
telah mendapat pelatihan resusitasi jantung paru
3.
memiliki alat resusitasi termasuk stetoskop,
sfigmomano-meter, turniket, jarum suntik, epinefrin,
antihistamin, steroid, oksigen, oral airway, cairan intravena, set
infus, set trakeos-tomi, nebulizer dan obat bronkodilator
inhalasi.
Ekstrak alergen inhalasi
Diberikan dengan cara suntikan subkutan pada regio
deltoid secara bergantian pada periode imunoterapi. Dengan
menggunakan semprit 0,5-1,0 ml untuk pengukuran yang
akurat jumlah antigen yang masuk dan jarum 27G untuk ke-
nyamanan pasien. Jarum disuntikkan dan setelah masuk pada
posisi subkutan jarum diaspirasi. Apabila darah teraspirasi
maka semprit tersebut harus dibuang dan prosedur dimulai lagi
dari awal. Semprit yang digunakan harus berbeda untuk setiap
pasien untuk mencegah penularan penyakit infeksi. Setelah
penyuntikan pasien diminta menunggu selama 20-30 menit
untuk mengantisipasi reaksi sistemik yang mungkin muncul
dalam periode tersebut. Pasien dengan derajat hipersensitivitas
tinggi harus diobservasi selama 30 menit atau lebih.
18
Lakukan
penilaian ulang spirometri atau APE 30 menit setelah suntikan
dan bila terjadi penurunan 10% akan menjadi dasar untuk
mengurangi dosis pada suntikan berikutnya.
11
Ekstrak alergen dapat diberikan secara tunggal atau di-
campur (idealnya kurang dari 10 jenis alergen), akan tetapi
campuran ini akan mengencerkan kadar setiap alergen dan
dapat mengurangi respons terhadap imunoterapi.
17,18
Jenis
alergen yang diberikan tergantung penilaian klinisi didasarkan
pada jenis alergen yang memberi hasil positif pada uji kulit dan
yang menimbulkan gejala klinis bila terpajan. Jenis alergen
yang dapat diberikan secara injeksi subkutan adalah bermacam
jenis serbuk sari (pollen), tungau debu rumah dan bulu
kucing.
dikutip dari 7
Imunoterapi dapat diberikan satu sampai dua kali seming-
gu dengan dosis awal dimulai dengan 0,05 ml alergen konsen-
trasi 1:10.000 sampai 1:1.000.000 berat/volume (wt/vol) diting-
katkan sampai tercapai dosis pemeliharaan yaitu 0,05 ml
alergen konsentrasi 1:100. Lama penyuntikan 6-10 bulan untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 41
background image
mencapai dosis pemeliharaan.
26
Dosis pemeliharaan diberikan
dalam interval 2-4 minggu selama 3-5 tahun dan berdasarkan
penelitian, cukup untuk memberikan perlindungan jangka pan-
jang pada hampir semua pasien (cara lambat).
11,18,26
Imuno-
terapi dengan durasi yang lebih panjang ternyata tidak ber-
guna.
26
Pemberian imunoterapi dengan cara cepat menurut Dina
Mahdi, dilakukan dengan menyuntikkan alergen 4 kali sehari
dengan interval 1/2 jam dan diulang setelah 2 minggu. Respons
antibodi yang diinginkan terjadi setelah 5 kali kunjungan.
dikutip
dari 20
Cara Cluster merupakan modifikasi cara lambat dan cepat
dengan memberikan 2-4 kali suntikan dalam sehari, diulang
setelah 1-2 minggu sampai dosis maksimal dan dipertahankan
dengan dosis pemeliharaan.
dikutip dari 20
Seluruh tindakan dicatat
dalam kartu jadwal imunoterapi seperti gambar 3.
Tanggal
Konsentrasi
ekstrak
Wt/vol
Konsentrasi ekstrak
Protein Nitrogen Unit
(PNU)/ml
Volume Catatan
1 : 10.000
100
0,05
0,10
0,15
0,20
0,30
0,40
0,50
1 : 1000
1000
0,05
0,10
0,15
0,20
0,30
0,40
0,50
1:100 10.000
0,05
0,10
0,15
0,20
0,30
0,40
0,50
Gambar 3. Contoh kartu jadwal imunoterapi ekstrak alergen inhalasi.
Dikutip dari (18)
Local nasal aeroallergen immunotherapy
Merupakan bentuk imunoterapi alternatif yang mengguna-
kan larutan alergen yang disemprotkan ke mukosa hidung
dengan interval waktu tertentu. Efek samping lokal yang timbul
berupa pruritus, kongesti dan bersin. Belum ada penelitian yang
merekomendasikan bentuk ini sebagai salah satu imunoterapi.
18
Alum-precipitated allergen extracts
Adalah modifikasi ekstrak alergen cair dengan melakukan
presipitasi protein dengan menggunakan aluminium hidroksida
yang didahului dengan ekstraksi alergen dengan piridin untuk
menghasilkan efek sistemik yang lebih sedikit. Dengan demi-
kian dimungkinkan untuk memberikan imunoterapi dengan
peningkatan dosis yang lebih cepat sehingga mengurangi
jumlah suntikan. Contoh ekstrak piridin alum-precipitated pada
rumput terbukti efektif tetapi pada ragweed akan mengalami
denaturasi sehingga efektivitasnya berkurang.
17-18
Ekstrak alergen dimodifiksi
Agregasi protein dan ekstrak alergen cair akan mengurangi
sifat alergen sedangkan imunogenisitasnya dapat dipertahan-
kan. Terdapat dua metode modifikasi yaitu formalin-treated
allergen (allergoids) dan glutaraldehyde-treated allergen
(polymerized allergen extracts). Regimen ini memungkinkan
program imunoterapi diselesaikan 10-15 kali suntikan dengan
efek samping reaksi sistemik kurang dari 1%.
17,18
Imunoterapi sublingual/oral
Sebagai alternatif pemberian imunoterapi yang lebih aman
dan nyaman bagi pasien adalah ekstrak tumbuhan yang di-
campur dengan alergen dan diberikan secara oral atau sub-
lingual. Beberapa studi menyebutkan keberhasilan imunoterapi
pada rhinitis alergi. Cara kerja imunoterapi sublingual adalah
dengan mengubah respons limfosit T terhadap alergen.
27,28
Pemberian imunoterapi sublingual ternyata lebih hemat, lebih
aman dan nyaman bagi pasien serta tidak memerlukan supervisi
medis dalam pelaksanaan tetapi efektifitinya lebih rendah dari-
pada imunoterapi suntikan.
28
Andre dkk
29
melakukan penelitian
terhadap 690 subyek dengan rhinokonjungtivitis dengan atau
tanpa asma selama 2 bulan - 4 tahun, menyimpulkan tidak ada
efek samping serius pada pemberian imunoterapi sublingual
kepada anak dan dewasa penyandang rhinitis alergi dan asma
sedang. Penelitian LaRosa dkk
30
pada 41 anak penyandang
rhinokonjungtivitis alergi, menyimpulkan bahwa imunoterapi
dengan alergen ekstrak Parietaria judaica sublingual dengan
dosis 375 kali dosis suntikan secara bermakna menurunkan
gejala rhinitis. Diperlukan penelitian yang lebih jauh untuk
mengevaluasi keberhasilan imunoterapi sublingual.
27-30
EFEK SAMPING DAN PENATALAKSANAANNYA
Alergen yang diberikan kepada penyandang asma alergi
biasanya sudah dibuktikan terlebih dahulu dengan uji tusuk
kulit (skin prick test), sehingga besar kemungkinan terjadi efek
samping. Efek samping yang paling sering adalah manifestasi
sistemik hipersensitivitas seperti serangan asma, urtikaria,
spasme laring, hipotensi dan angioedema.
18,31
Faktor risiko
yang umum adalah penyandang asma, riwayat peningkatan
dosis alergen, efek samping sebelumnya dan penyuntikan di-
lakukan pada musim parenial. Beberapa studi menganjurkan
premedikasi dengan antihistamin atau kortikosteroid, peng-
ukuran APE sebelum penyuntikan dan penyuntikan anti-
histamin atau epinefrin setelah imunoterapi untuk mencegah
reaksi dan meningkatkan keamanan imunoterapi.
31
Reaksi fatal
yaitu kematian menurut The American Academy of Asthma,
Allergy and Immunology
18
tahun 1900-1991 sebanyak 10 kasus
sedangkan di Inggris
25
tahun 1986 sebanyak 26 kasus. Biasanya
reaksi sistemik terjadi dalam 20-30 menit sedangkan reaksi
lambat dapat terjadi 6 jam setelah penyuntikan imunoterapi.
25,31
Imunoterapi dengan cara sublingual atau oral juga memiliki
efek samping yang dapat dilihat pada tabel 2.
Selain efek sistemik yang telah diuraikan di atas dapat
terjadi efek samping lokal dan reaksi vasovagal. Reaksi lokal
yaitu kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan
yang menimbulkan sedikit keluhan. Pengobatannya dengan
melakukan kompres dingin, pemberian antihistamin oral dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
42
background image
Tabel 2. Efek samping imunoterapi sublingual pada anak.
Efek samping
Imunoterapi
Plasebo
Anafilaksis
Mulut gatal
Pembengkakan bibir
Keluhan gastrointestinal
Konjungtivitis
Rhinitis
Serangan asma ringan
Serangan asma berat
Gatal yang menyeluruh
0
3
2
19
1
1
0
0
1
0
2
2
1
1
1
1
1
1
Total 27 10
Dikutip dari (30)
pengurangan dosis. Reaksi vasovagal meliputi penurunan
tekanan darah dengan perlambatan frekuensi nadi, kulit men-
jadi dingin atau hangat disertai pengeluaran keringat tanpa
timbul urtikaria atau angioedema. Reaksi vasovagal tidak me-
merlukan pengobatan dan modifikasi dosis karena segera mem-
beri respons dengan menelentangkan pasien.
18
Penanganan
reaksi lokal dan sistemik dapat dilihat pada kedua bagan
(Gambar 4 dan 5).
PRO DAN KONTRA
Banyak studi yang melakukan penelitian efikasi imuno-
terapi dalam tatalaksana asma alergi, walaupun demikian
penggunaannya masih menjadi perdebatan.
32
Hedlin dan
kawan-kawan
33
melakukan penelitian penggunaan imunoterapi
pada asma alergi dikombinasikan dengan inhalasi budesonid,
mendapatkan penurunan bermakna derajat berat asma, hiper-
sensitivitas alergen dan hipereaktivitas bronkus terhadap
histamin dalam 3 tahun pengobatan.
Penelitian pada penyandang asma dewasa dilakukan oleh
Creticos dan kawan-kawan membandingkan imunoterapi
raweed dengan plasebo. Hasil penelitiannya, terdapat per-
bedaan bermakna pada kelompok imunoterapi daripada pla-
sebo, yaitu nilai rerata APE yang lebih tinggi, penggunaan obat
lebih sedikit, peningkatan IgG spesifik terhadap ragweed dan
penurunan sensitivias terhadap ragweed baik dengan uji kulit
maupun uji provokasi bronkus dalam 2 tahun pengobatan.
34
Penelitian tersebut dipertanyakan oleh Barnes
Gambar 4. Skema penanganan efek samping lokal imunoterapi alergen suntikan
Dikutip dari (20)
dengan mengemukakan bahwa penelitian tersebut tidak mem-
bandingkan imunoterapi dengan obat asma, risiko efek samping
imunoterapi yang lebih besar, ketersediaan kortikosteroid
sebagai obat pengontrol asma yang lebih efektif, aman, relatif
lebih murah dan mudah.
35
Durham dan kawan-kawan dalam randomized double blind
placebo-controlled trial (RCT) dengan menggunakan imuno-
terapi grass pollen, mendapatkan setelah 4 tahun akan terjadi
Efek samping
lokal
Segera
Lambat
Bengkak
< 5 cm
Bengkak
5- 10 cm
Teruskan
dosis
Bengkak
10 cm
Ulangi
dosis akhir
Teruskan
dosis
Bengkak
> 10 cm
Kurangi dosis
sampai dosis
yang dapat
ditoleransi
Bengkak
> 10 cm
Berikan antihistamin
Observasi sedikitnya 60
menit
Ulangi
Dosis
yang sama
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 43
background image
penurunan skor gejala klinik asma dan perubahan respons
imunologi tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna untuk
jangka waktu yang lebih lama.
36
Penelitian ini ditanggapi oleh
Robinson dengan mengatakan bahwa hasil imunoterapi tersebut
hanya sedikit meningkatkan nilai APE dan tidak lebih baik
daripada penggunaan kortikosteroid atau terapi konvensional
asma.
16
Gambar 5. Skema penanganan efek samping sistemik imunoterapi alergen suntikan
Dikutip dari (20)
Badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pem-
berian imunoterapi dengan ketentuan sebagai berikut:
37
44
1.
imunoterapi sebagai terapi tambahan selain menghindari
pajanan alergen dan sebagai pengobatan pasien rhinitis yang
diinduksi alergen
2.
imunoterapi harus dimulai sejak dini untuk mengurangi
risiko efek samping dan untuk mencegah perkembangan pe-
nyakit menjadi lebih berat. Argumen untuk melakukan imuno-
terapi adalah sebagai berikut :
·
respons terhadap farmakoterapi tidak maksimal
·
terjadi efek samping obat
·
penolakan tatalaksana dengan menggunakan farmako-
terapi
3.
imunoterapi spesifik secara injeksi (subkutan) dapat di-
gunakan pada rhinitis berat dan berkepanjangan (biasanya
berhubungan dengan asma)
4.
imunoterapi spesifik secara lokal (intranasal dan sub-
lingual-oral) dapat digunakan pada pasien tertentu dengan
riwayat terjadi efek samping dan menolak suntikan.
Dari beberapa studi metaanalisis yang pernah dilakukan
mendapatkan hasil yang bervariasi. Portnoy melakukan dua
metaanalisis untuk mengidentifikasi efikasi imunoterapi dan
menyatakan dalam kesimpulannya, bahwa terdapat kegagalan
untuk menunjukkan efek terapeutik imunoterapi karena hasil-
nya bervariasi yang disebabkan heterogeniti setiap uji klinik.
Perbedaan tersebut meliputi seleksi subyek, populasi, protokol
Reaksi
Sistemik
Reaksi umum
Syok anafilaksis
Asma, rhinitis, eksim,
urtikaria, angioedema
Gejala dini syok :
Tenggorokan gatal,
telapak tangan, kaki dan
seluruh tubuh dingin
Segera/
lambat
Timbul
beberapa
Tanpa asma :
-
adrenalin subkutan:
dewasa: 0,5 ml
anak: 3 tahun 0,2 ml
10 tahun 0,4 ml
-
hidrokortison dosis 100-1000
mg iv/im (dewasa=anak)
-
antihistamin oral/iv
-
monitor tanda vital warna kulit, faal paru
Dengan asma :
- agonis -2, aerosol/nebulisasi
- teofilin 5 mg/kgBB (10-15
menit)
- oksigen 2 l/menit
-
Segera injeksi 0,3-0,5 ml adrenalin
1:1000 subkutan. Ulangi 15 menit Jika
perlu ulangi 15-30 menit
-
Posisi terlentang, trendelenberg,
bebaskan saluran pernapasan
-
Turniket proksimal tempat suntikan,
tiap 10-15 menit longgarkan
-
Infiltrasi intradermal dengan 0,2 ml
adrenalin di sekitar lokasi
-
Infus dextrose 0,5%
-
Pertimbangkan rawat inap
Kurangi dosis sampai
dosis terakhir yang
Stop
imunoterapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
background image
pengobatan, efek pengobatan yang dilakukan secara con-
comitant atau concurrent, durasi pengobatan dan follow up.
32
Abramson dan kawan-kawan melakukan metaanalisis ter-
hadap 20 RCT tentang penggunaan imunoterapi pada asma.
Mereka mendukung imunoterapi sebagai terapi tambahan asma
alergi, walaupun harus ada panduan yang harus diikuti. Faktor
yang harus diperhatikan adalah penilaian risiko, kontraindikasi,
penilaian awal, supervisi ketat seorang konsultan, follow up
dilaksanakan dengan baik, ketersediaan ekstrak alergen yang
spesifik dan efektif serta fasilitas dan sumber daya yang me-
ngerti pengelolaan efek samping yang timbul.
6
Pengkajian ter-
hadap data studi metaanalisis Abramson tersebut dilakukan
oleh Finegold dan menyimpulkan imunoterapi pada asma
merupakan pengobatan yang efektif namun perlu pertimbangan
sebagai yang utama dalam pengobatan asma alergi.
38
KESIMPULAN
1.
Mekanisme kerja imunoterapi adalah memberikan efek
imunologi yaitu menginduksi antibodi penghalang yang ber-
saing dengan IgE, menurunkan IgE, memodulasi sel mast dan
basofil dan peningkatan aktivitas limfosit T supresor, sehingga
terjadi penurunan respons alergi.
2.
Indikasi imunoterapi adalah penyandang rhinitis dan asma
alergi derajat ringan sedang yang sudah terkontrol.
3.
Imunoterapi alergen diberikan dengan cara suntikan sub-
kutan tetapi disamping itu ada cara lain yang relatif lebih aman
dan mudah yaitu lokal nasal dan sublingual-oral.
4.
Penggunaan imunoterapi sebagai pengontrol dalam tata-
laksana asma masih menjadi kontroversi karena penggunaan
steroid inhalasi masih lebih efektif dan memberikan hasil yang
baik. Selain itu imunoterapi direkomendasikan sebagai tambah-
an bukan sebagai yang utama dalam penatalaksanaan asma.
KEPUSTAKAAN
1.
Lemanske RF Jr, Busse WW. Asthma. JAMA 1997;278:1855-73.
2.
Brenner B. Asthma. Available at: http://www.emedicine.com/emerg/
topic43.htm. Accessed October 24, 2000.
3.
McConnell W, Holgate S. The definition of asthma: its relationship to
other chronic obstructive lung disease. In: Clark TJH, Godfrey S, Lee TH,
Thomson NC, eds. Asthma, 4
th
ed. London: Arnold; 2000.p. 1-31.
4.
National Institute of Health National Heart, Lung and Blood Institute.
Definition. In: Global initiative for asthma, 2002 (revised).p. 1-7.
5.
Condemi JJ, Dykewicz MS, Fineman SM, Hannaway PJ, Lockey RF,
Nicholas SS et al. Practice parameters for allergen immunotherapy. J
Allergy Clin Immunol 1996; 98: 1001-11.
6.
Abramson MJ, Puy RM, Weiner JM. Is allergen immunotherapy effective
in asthma? A meta-analysis of randomized controlled trial. Am J Respir
Crit Care Med 1995; 151: 969-74.
7.
Palilingan JF. Dasar-dasar imunoterapi alergen. Dalam: Margono B,
Widjaja A, Amin M, Sargowo Dj, Saleh WBMT, Kabat H dkk, editor.
Proceeding Book Pertemuan Ilmiah Paru Milenium. Surabaya, 2002.
8.
Finegold I. Immunotherapy historical prespective. Ann Allergy Asthma
Immunol 2001; 87(Suppl): 3-4.
9.
Norman PS. Immunotherapy: past and present. J Allergy Clin Immunol
1998; 102: 1-10.
10.
Platts-Mills TAE, Mueller GA, Wheatley LM. Future direction for
allergen immunotherapy. J Allergy Clin Immunol 1998;102:335-43.
11.
Field PI, Gillis D. Specific allergen immunotherapy for asthma. MJA
1997; 167: 540-4
12.
Creticos PS. The consideration of immunotherapy in the treatment of
allergic asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 2001; 87(Suppl): 13-27.
13.
Humbert M, Menz G, Ying S, Corrigan CJ, Robinson DS, Durham SR et
al. The immunopathology of extrinsic (atopic) and intrinsic (non-atopic)
asthma: more similarities than differences. Review Immunology Today
1999; 11: 528-33.
14.
Corry DB, Kheradmand F. Induction and regulation of the IgE response.
Nature 1999; 402(Suppl): 18-22.
15.
Durham SR, Till SJ. Immunologic changes associated with allergen
immunotherapy. J Allergy Clin Immunol 1998; 2: 157-64.
16.
Robinson DS. Allergen immunotherapy: does it work and, if so. How and
for how long? Thorax 2000; 55(Suppl 1): S11-4.
17.
Ledford DK. Immunotherapy: A practical review and guide. Efficacy of
immunotherapy. Immunology and Allergy Clinics of North America
2000; 3: 35-57.
18.
Tippet J. Allergen immunotherapy. Immunology and Allergy Clinics of
North America 1999; 1: 129-48.
19.
Lockey RF. "ARIA": Global guidelines and new forms of allergen
immunotherapy. J Allergy Clin Immunol 2001; 108: 497-9.
20.
Moeliawan H. Imunoterapi praktis efek samping dan penanganannya.
Dalam: Margono B, Widjaja A, Amin M, Sargowo Dj, Saleh WBMT,
Kabat H dkk, editor. Proceeding Book Pertemuan Ilmiah Paru Milenium.
Surabaya, 2002.
21.
Bousquet J, Demoly P, Michel FB. Specific immunotherapy in rhinitis
and asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 2001; 87(Suppl): 38-42.
22.
Manuhutu EJ. Imunoterapi pada asma alergi. Disampaikan pada Kongres
Nasional Perhimpunan Dokter Paru Indonesia IX tanggal 8-11 Juli 2002
di Medan.
23.
Moeliawan H. Imunoterapi pada asma bronkial di tahun 2002 dan di era
mendatang. Dalam: Margono B, Widjaja A, Amin M, Sargowo Dj, Saleh
WBMT, Kabat H dkk, editor. Proceeding Book Pertemuan Ilmiah Paru
Milenium. Surabaya, 2002.
24.
Georgitis JW. Immunotherapy and allergen avoidance for allergic airway
disorders. Available at: http://www.chestnet.org/education/pccu/vol12/
lesson03.htm. Accessed July 28, 2000.
25.
Lockey RF, Nicoara-Kasti GL, Theodoropoulos DS, Bukantz SC.
Systemic reactions and fatalities associated with allergen immunotherapy.
Ann Allergy Asthma Immunol 2001; 87(Suppl): 47-55.
26.
Patterson R. The role of immunotherapy is respiratory allergic diseases. J
Allergy Clin Immunol 1998; 101: S403-4.
27.
Frew AJ, White PJ, Smith HE. Sublingual immunotherapy. J Allergy Clin
Immunol 1999; 104: 267-70.
28.
Frew AJ, Smith HE. Sublingual immunotherapy. J Allergy Clin Immunol
2001; 107: 441-4.
29.
Andre C, Vatrinet C, Galvain S, Carat F, Sicard H. Safety of sublingual-
swallow immunotherapy in children and adults. International Archives of
Allergy and Immunology 2000; 121: 229-34.
30.
LaRosa M, Ranno C, Andre C. Clinical and immunological effects of a
rush sublingual immunotherapy to
Parietaria
species: a double-blind,
placebo-controlled trial. J Allergy Clin Immunol 1999; 104: 425-32.
31.
Greineder DK. Risk management in allergen immunotherapy. J Allergy
Clin Immunol 1996; 98: S330-4.
32.
Portnoy JM. Immunotherapy for asthma: unfavorable studies. Ann
Allergy Asthma Immunol 2001; 87(Suppl): 28-32.
33.
Hedlin G, Wille S, Browaldh L, Hildebrand H, Holmgren D, Lindfors A
et al. Immunotherapy in children with allergic asthma: effect on bronchial
hyperreactivity and pharmacotherapy. J Allergy Clin Immunol 1999; 103:
609-14.
34.
Creticos PS, Reed CE, Norman PS, Khoury J, Adkinson NF, Buncher CR
et al. Ragweed immunotherapy in adult asthma. N Engl J Med 1996; 334:
501-7.
35.
Barnes PJ. Is immunotherapy for asthma worthwhile? N Engl J Med
1996; 334: 530-2.
36.
Durham SR, Walker SM, Varga EM, Jacobson MR, O'Brien F, Noble W
et al. Long-term clinical efficacy of grass-pollen immunotherapy. N Engl
J Med 1999; 341: 468-75.
37.
Bousquet J, Van Cauwenberge P, Khaltaev N. Alergic rhinitis and its
impact on asthma. J Allergy Clin Immunol 2001; 108: S147-334.
38.
Finegold I. Analyzing meta-analysis of specific immunotherapy in the
treatment of asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 2001; 87 (Suppl) :
33-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 45