TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Hematuri pada Anak
Nyoman Sunarka
Rumah Sakit Umum Daerah Bangli, Bali
ABSTRAK
Hematuri adalah suatu gejala berupa adanya darah atau sel darah merah di dalam
urin. Secara klinis dikenal dua jenis hematuri yaitu hematuri makroskopis dan hematuri
mikroskopis.
Pada anak, hematuri dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dari trauma sampai
kelainan sistem pembekuan, juga kelainan yang bersifat diturunkan maupun yang di-
dapat. Oleh karena itu pemeriksaan secara sistematik meliputi anamnesis, pemeriksaan
fisik, laboratorium dan pemeriksaan khusus harus dilakukan untuk menentukan
penyebab hematuri. Setiap kasus hematuri sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk
menetapkan diagnosis etiologik.
Kata kunci: hematuri, rawat inap, diagnosis etiologik.
PENDAHULUAN
Urin yang berwarna kemerahan atau coklat tidak selama-
nya berarti hematuri, karena selain oleh darah, juga dapat
disebabkan oleh berbagai macam obat atau bahan kimia
lainnya (tabel 1 dan 2)
(1)
.
Hematuri adalah suatu gejala yang ditandai dengan adanya
darah atau sel darah merah dalam urin(
1,2,3,4)
. Secara klinis,
hematuri dapat dikelompokkan menjadi: Hematuri
makroskopis (Gross hematuria) adalah suatu keadaan urin
bercampur darah dan dapat dilihat dengan mata telanjang.
Keadaan ini dapat terjadi bila 1 liter urin bercampur dengan 1
ml darah
(3,5)
. Hematuri mikroskopis yaitu hematuri yang ha-
nya dapat diketahui secara mikroskopis atau tes kimiawi
(1,6)
.
Jumlah minimal eritrosit dalam urin untuk diagnosis hematuri
mikroskopis berbeda; karena cara pemeriksaan yang dipakai
berbeda. Beberapa penulis mengatakan diagnosis hematuri
sudah dapat dibuat bila dari 10 l urin yang disentrifus dengan
pembesaran 500 kali ditemukan sekurang-kurangnya 5-10
eritrosit
(5,6,7)
. Penulis lain menyatakan diagnosis hematuri dapat
dibuat bila pada pemeriksaan sedimen urin yang sudah
disentrifus, di bawah mikroskopis dengan memakai kamar
hitung ditemukan
10 eritrosit/ml atau secara langsung
ditemukan
3-5 eritrosit/lpb
(1)
. Pada umumnya 3 eritrosit/lpb
diterima sebagai batas atas nilai normal; tetapi batasan ini tidak
berlaku bagi perempuan yang sedang menstruasi atau bila urin
diperoleh dengan cara kateterisasi
(2)
.
Selain istilah di atas juga dikenal beberapa istilah lain
seperti
(1,6)
:
1)
Hematuri asimtomatik (isolated hematuria) yaitu hematuri
sebagai gejala tunggal atau tanpa disertai rasa sakit.
2)
Hematuri simtomatik, hematuri yang ditemukan bersama
dengan gejala lain atau disertai rasa nyeri saat miksi.
3)
Hematuri persisten, hematuri timbul setiap kali miksi.
4)
Hematuri rekuren, hematuri yang diselingi dengan urin
5)
normal, biasanya bersifat mikroskopis.
Tabel 1. Obat-obatan dan bahan kimia yang dapat menyebabkan urin
berwarna kemerahan atau coklat
(1)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 27
Antipirin Asam
homogentisik
Anilin Fenoftalin
Antosianin Piridium
Pigmen empedu
Asam urat
Frambus hitam
Rodamin B
Merah kongo
Tabel 2. Obat-obatan dan bahan kimia yang dapat menyebabkan
hemoglobinuria
(1)
.
Arsin Pamaquin
Asidium Fenilhidrasin
Beta naftol
Fosfor
Asam karbolik
Kalium Chlorida
Karbon monoksida
Quinin
Kloroform Racun
ular
Derivat hidroquinon
Sulfonamide
Naftalen Senyawa
timah
Asam oksalat
ETIOLOGI
Hematuria pada anak bisa disebabkan oleh bermacam-
macam penyebab dari trauma sampai kelainan sistem pem-
bekuan. Selain itu juga dapat disebabkan oleh kelainan yang
diturunkan maupun didapat. Beberapa penyakit di antaranya
tidak ganas dan tidak progresif tetapi lainnya dapat merupakan
penyakit saluran kemih atau bagian tubuh lainnya yang cukup
berbahaya. Begitu pula sumber perdarahan bisa berasal dari
berbagai tempat di saluran kemih, mulai dari kapiler glomeru-
lus sampai uretra anterior. Pada anak, hematuri karena penya-
kit parenkhim ginjal lebih sering daripada orang dewasa
(1,2,3)
.
Selanjutnya etiologi hematuria pada anak dapat dilihat pada
tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Etiologi Hematuri
(2)
Parenchymal Renal Disorders
1. Glomerular
Inherited:
Alport
syndrome
Familial benign hematuria
Nail-patella syndrome
Fabry disease
Acquired:
Primary glomerular disease
Ig A nephropathy
Mesangial proliferative glome-
rulonephritis
Membranoproliferative glome-
rulonephritis
Crescentic glomerulonephritis
Membranous glomerulonephritis
Focal glomerulosclerosis
Minimal change disease
Glomerular disease as part of systemic disease:
Systemic lupus erythematosus
Henoch-Schonlein purpura
Vasculitis, including polyarteritis
nodosa, Wagener granulomatosis
and other collagen vascular
diseases
Hemolytic uremic syndrome
Goodpasture syndrome
Diabetes mellitus
Amyloidosis
Infectious: Poststreptococcal
glumerulonephritis
Subacute bacterial endocarditis
"Shunt" nephritis
HepatitisB-associated
glomerulonephritis
Congenital syphilis-associated
glomerulonephritis
Malaria
Schistosomiasis
Filariasis
Toxoplasmosis
2.
Tubulointerstitial: Congenital or inherited:
Polycystic
kidney
disease
(infantile or adult type)
Medullary cystic disease
(juvenile nephronophtisis)
Congenital nephritic syndrome
(mycrocystic disease)
Ask-Upmark kidney
Cystinosis
Oxalosis
Renal dysplasia
Nephrocalcinosis associated with
renal tubular acidosis
Tuberous sclerosis
Aquired
Renal transplant rejection
Nephrolithiasis
Exogenous toxins
Aminoglycoside toxicity
Cyclosporine toxicity
Cytotoxic drugs use for cancer
therapy (cisplatin, etc.)
Heavy metal toxicity (lead,
mercury)
Radiation injury
Radiocontrast medium injury
Analgesic abuse
Infectious (bacterial, viral,
fungal, rickettsial, protozoal)
Obstructive uropathy
Reflux uropathy
Hypersensitivity ti drugs
(penicillin, sulfa drugs,
Nonsteroidal anti-inflamatory
drugs, diuretics, and others)
Metabolic disorders
Hypercalcemia, hypercalciuria
Hyperuricemia
Tumors
Wilms tumor and other
neoplasias
Leucemic or lymphomatous
infiltrates
Multisystem disorders
Systemic lupus erythematosus
Sarcoidosis
Sjogren syndrome
Idiopathic interstitial nephritis
Renal papillary necrosis (sickle
cell disease, diabetes, analgesic
abuse)
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
28
3. Vascular:
Sickle cel diseases
Renal vein thrombosis
Renal arterial thrombosis or embolism
Loin pain hematuria
Arteriovenous malformations
Malignant hypertension
Urinary Tract Disorders
Urinary infections (bacterial, fungal, viral, protozoal, rickett-
sial)
Calculi
Trauma
Hydronephrosis
Periureteritis (appendicitis, etc.)
Ureterocele
Cyclophosphamide cystitis
Prostatitis
Foreign body
Urethritis
Associated Bleeding and Coagulation Defects
Hemophilia
Thrombocytopenic purpura
Anticoagulants
Others congenital or defects of coagulation
Factitious Hematuria
Tabel
4. Penyebab hematuri asimtomatik baik tanpa atau dengan
proteinuri minimal
(2)
.
Glomerular: IgA
nephropathy
Poststreptococcal glomerulonephritis
Benign famial hematuria
Mesangioproliferative glomerulonephritis
Systemic lupus erythematosus
Alports syndrome
Membranoproliferative glomerulonephritis
Exercise-induced hematuria
Nonglomerular renal:
Sickle cell disease
Polycystic kidney disease
Renovascular hypertension
Hypercalciuria
Renal vein thrombosis
Nephrocalcinosis
Renal tumor
Leukemic or lymphomatous infiltrates in kidney
Hydronephrosis
Renal tuberculosis
Renal hemangioma
Nonrenal: Calculi*
Urinary tracts infection*
Foreign body (urethra or bladder)*
Bladder tumors and arteriovenous malformation
* Hematuri mungkin dapat disertai rasa nyeri.
PENDEKATAN DIAGNOSIS
Hematuri merupakan gejala yang penting dan serius, serta
dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Agar diagnosis pe-
nyebab hematuri dapat ditegakkan secara pasti, diperlukan
pemeriksaan yang sistematik dan terarah meliputi anamnesis,
pemerikasaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan khsusus
lainnya, dan menghindari pemeriksaan yang tidak perlu
(2,3,4)
.
1)
Anamnesis
Dari data yang diperoleh melalui pertanyaan yang diaju-
kan, kadang-kadang etiologi hematuri sudah dapat diduga
seperti:
a)
Pada glomerulonefritis akut post streptokokus (GNAPS),
sakit tenggorokan sering mendahului hematuri makroskopis
7-14 hari sebelumnya. Keluhan sakit tenggorokan biasanya
menghilang bila hematuri mulai timbul
(1,2,8)
. Sedangkan pada
nefropati IgA, hematuri makroskopis terjadi selama ISPA
berlangsung dan biasanya menghilang bersamaan dengan
redanya ISPA tersebut
(2)
.
b)
Hematuri makroskopis tanpa rasa nyeri dengan warna
urin seperti air cucian daging (coke-colored urine) mungkin
disebabkan oleh glomerulonefritis. Bila urin berwarna merah
terang biasanya berkaitan dengan kelainan nonglomerulus
seperti trauma, tumor, kelainan koagulasi, tbc ginjal
(2)
.
c)
Sakit waktu miksi (disuri), sering miksi (polakisuri),
ngompol (enuresis), miksi mendesak (urgency), demam,
merujuk ke arah infeksi saluran kemih (ISK). Lebih lanjut bila
hematuri disertai demam, sakit pinggang, mungkin ISK bagi-
an atas (pielonefritis); tetapi bila disertai gejala lokal seperti
nyeri suprapubik, disuri, mungkin ISK bagian bawah. Disuri
disertai hematuri yang timbul pada permulaan miksi mungkin
akibat uretritis anterior, dan bila disertai hematuri terminal
mungkin akibat uretritis posterior atau batu kandung
kemih
(1,2,4)
. Nyeri menyerupai kolik di daerah pinggang atau
menyebar ke lipatan paha mungkin akibat batu atau bekuan
darah di ginjal atau ureter
(2)
.
d)
Riwayat penyakit ginjal kronis dalam keluarga dengan
atau tanpa gangguan pendengaran atau penglihatan, men-
dukung ke arah sindrom Alport
(1,2,6)
.
e)
Ada riwayat rash kulit (purpura), sakit sendi, sakit perut
dan demam mengarah ke kemungkinan sindrom Schonlein
Henoch atau lupus eritematosus sistemik
(2)
.
f)
Sesudah makan jengkol; diduga akibat intoksikasi
jengkol
(1)
.
g)
Hematuri disertai perdarahan gusi, epitaksis, ingat pada
penyakit leukemia
(1,2)
.
h)
Pemakaian obat tertentu, pikirkan kemungkinan obat
tersebut sebagai penyebab
(1,3)
.
i)
Timbul setelah melakukan kegiatan jasmani, mungkin
akibat latihan fisik yang berat dan biasanya segera hilang pada
saat istirahat
(3)
.
2)
Pemeriksaan fisik
a)
Hematuri disertai gejala edema dan hipertensi, mungkin
merupakan manifestasi dari GNAPS, glomerulonefritis kronis
atau sindrom nefrotik
(1,6,8)
.
b)
Ruam di lokasi yang khas (bokong dan anggota gerak
bawah), artralgia, mungkin karena sindrom Schonlein atau
lupus eritematosus sistemik
(2,3,6)
.
c)
Massa di abdomen, harus dipikirkan kemungkinan tumor
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 29
Wilms, ginjal polikistik, hidronefrosis, uropati obstruktif, atau
tumor buli-buli
(1,3)
.
d)
Adanya tanda-tanda perdarahan di tempat lain memberi
dugaan kemungkinan penyakit darah
(1,3)
.
e)
Kelainan genitalia eksterna, mungkin oleh karena laserasi
orifisium uretra eksterna atau fimosis
(1)
.
f)
Kelainan mata dan gangguan pendengaran, pikirkan sin-
drom Alport
(1,2)
.
g)
Tinggi dan berat badan tidak bertambah, mungkin penya-
kit ginjal kronis
(1)
.
3)
Pemeriksaan laboratorium
a)
Urinalisis: sebaiknya diambil urin segar karena penyim-
panan akan mengubah keasaman dan berat jenis urin sehingga
mengakibatkan lisisnya eritrosit
(1,3)
. Dengan melihat sifat urin
yang diperiksa setidak-tidaknya dapat ditentukan asal terjadi-
nya perdarahan renal atau ekstra renal (tabel 5). Lebih lanjut
hal-hal yang lebih spesifik dapat mengarahkan kita ke etiologi
hematuri tersebut.
Warna urin: urin berwarna seperti air cucian daging
menunjukkan glomerulonefritis, sedangkan urin yang berwar-
na merah terang dengan atau tanpa bekuan darah menjurus ke
arah trauma ginjal, atau perdarahan saluran kemih bagian
bawah
(1,3)
.
Protein urin: pemeriksaan protein sebaiknya dikerjakan di
luar serangan hematuri makroskopis, karena hematuri itu sen-
diri dapat menyebabkan proteinuri, walaupun jarang melebihi
positif 1 atau 2. Bila hematuri disertai proteinuri positif 3 atau
lebih, mengarah ke kerusakan glomerulus
(1,2,3)
.
Sedimen urin: sebelumnya sebaiknya diperiksa terlebih
dahulu pH urin, hemoglobin dan metabolit lain dalam urin.
Urin dengan pH tinggi (8 atau lebih) memberi petunjuk akan
adanya urea splitting bacteria seperti kuman Proteus
(1)
.
Pemeriksaan sedimen urin sangat membantu mencari
kemungkinan etiologi hematuri. Jumlah sel leukosit
5/lpb
memberi petunjuk adanya ISK
(1,3,9)
. Silinder eritrosit dan sel
eritrosit yang dismorfik merupakan petanda penyakit
glomerulus
(1,2,3)
. Silinder leukosit tanpa didapat silinder lain
mungkin pielonefritis
(3,6,9)
.
Biakan urin: bila biakan urin positif menunjukkan adanya
ISK
(1,2)
.
Tabel 5. Perbedaan perdarahan renal dan ekstrarenal
(3)
.
Perdarahan
Pemeriksaan
urin
Renal Ekstra
renal
Warna
seperti air cucian daging
merah terang
Test 3 tabung
jumlah eritrosit sama
untuk semua tabung
Jumlah eritrosit dapat sama
banyak pada tabung I/ke III
Silinder eritrosit Positif
Negatif
Bekuan darah
Negatif
Positif
b)
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah rutin: hematuri yang disertai dengan
leukositoisis kemungkinan oleh karena leukemia, nefritis lupus
atau sindrom hemolitik uremik. Leukopenia mungkin oleh
karena obat-obatan (siklofosfamid). Trombositopenia terutama
oleh karena penyakit darah
(1-4)
.
Pemeriksaan kimia darah: meliputi pemeriksaan albumin,
kolesterol, protein total, kalsium, fosfor, ureum, kreatinin.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adanya tanda-tanda
sindrom nefrotik atau gagal ginjal
(1,3)
.
Pemeriksaan darah khusus: pemeriksaan ini meliputi
ASTO, bila meninggi kemungkinan GNAPS, sel LE yang
positif diperkirakan nefritis lupus. Pada kadar komplemen C3
yang menurun selain disebabkan oleh GNAPS juga oleh
karena glomerulonefritis membranoproliferatif. Kultur darah
dilakukan bila dicurigai endokarditis bakterial subakut.
Sedangkan pemeriksaan DNA antibody dilakukan bila
dicurigai lupus eritematosus sistemik
(2,3,4)
.
4)
Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan foto polos abdomen, pielografi intravena dan
ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan
ginjal seperti batu, tumor, penyakit ginjal polikistik, hidro-
nefrosis dan trombosis vena renalis
(2,3,4)
. Sedangkan uji tuber-
kulin dilakukan mengingat tbc ginjal memberi gejala tidak
jelas seperti hematuri asimtomatik, kultur urine negatif (untuk
bakteri) dan tidak ada massa
(1,2)
.
Untuk mengetahui lokasi perdarahan dan menyisihkan
kemungkinan adanya tumor buli-buli atau hemangioma salur-
an kemih dapat dilakukan pemeriksaan sistoskopi
(3)
.
Biopsi ginjal tidak rutin dikerjakan. Biasanya sebagai
tahap akhir bila diagnosis belum dapat ditegakkan dengan pasti
dan bila yakin bahwa hematuri disebabkan oleh karena proses
intrarenal
(3)
. Menurut Burke (dikutip dari 3) biopsi ginjal
dilakukan bila:
1)
Hematuri menetap dengan fungsi ginjal menurun.
2)
Hematuri disertai proteinuri, hipertensi, penurunan fungsi
ginjal, kemungkinan besar disebabkan oleh glomerulonefritis
difus.
3)
Biopsi seri dilakukan untuk menetapkan apakah penyakit-
nya berjalan progresif atau menuju perbaikan dan untuk
evaluasi serta menentukan program terapi.
4)
Berbagai jenis nefropati seperti sindrom Goodpasture,
sindrom uremik hemolitik, trombosis vena renalis, nefritis
interstitialis dan lupus eritematosus.
Biopsi sebaiknya dilengkapi dengan pemeriksaan
imunofluoresensi untuk mengetahui adanya timbunan
imunoglobulin mesangial
(3)
.
Selanjutnya diagnosis hematuri secara skematis dapat
dilihat pada gambar 1.
PENATALAKSANAAN
Karena hematuri hanya merupakan salah satu gejala
berbagai penyakit, maka penatalaksanaannya ditujukan kepada
penyakit primernya. Hematuri sendiri tidak memerlukan
pengobatan khusus. Meskipun demikian setiap kasus dengan
hematuri sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk menetapkan
etiologi. Bila hematuri ternyata hanya merupakan gejala satu-
satunya, (hematuri monosimtomatik), tidak memerlukan tin-
dakan khusus selain istirahat saat serangan karena keadaan ini
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
30
dianggap benigna
(1,3,5)
.
RBC cast
No cast
Protein
Minimal to 0 protein
low
normal
steril
positif
Acute glomerulonephritis
Hemolytic uremic syndrome
Benign hematuria
Systemic lupus erythematosus
Anaphylactoid purpura chronic
Healing gn
Infection
Chronic hypocomplementemic glomerulonephritis
Anatomical hemangioma
glomerulonephritis
Periarteritis nodosa
vascular bleeding diathesis
Shunt-SBE
Congenital and familial
Miscellaneous causes
Goodpasture syndrome
Vascular bleeding
Rapidly
progressive
glomerulonephritis
Abnormal
Normal
Normal
Abnormal
Tumor ect As above
Cystitis
Infection
tumor
ect
Increased
normal
Arteriogram
or
Renal biopsy Cystoscopy Cystoscopy
therapy
Normal
Abnormal
Severe disease:
Healing mild disease
Diagnosis Tumor Etiology
Consider renal biopsy
I.V.P
Arteriogram
retrograde
Cystoscopy
Arteriogram
Pyelogram
for
possible
transplant
depending
on
history,
hypertension, etc.
Renal biopsy
Tissue
diagnosis
Gambar 1. Diagnosis hematuri
(3)
KEPUSTAKAAN
HEMATURIA
Serum complement
Urine culture
1.
Syarifudin Rauf. Hematuria. Dalam: Alatas H, Tambunan T, Trihono PP,
eds. Nefrologi Anak Jilid I, Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia, 1993;
81-90.
2.
Makker SP. Hematuria syndrome. In: Kher, Makker SP, eds. Clinical
Pediatric Nephrology. New York: McGraw-Will, Inc, 1992; 101-16.
3.
Soepinardi, Kosnadi LH. Hematuri pada anak. Medika, 1983; 7: 545-57.
I.V.P and
cystourethrogram
4.
Trompeter RT, Barratt TM. Clinical Evaluation. In: Holliday MA,
Barratt TM, Avner ED, eds. Pediatric Nephrology, 3
rd
ed. London:
Williams & Wilkins; 1994; 366-7.
Cystoscopy
Serum creatine
5.
Raharjo D, Firdaoessaleh. Pengelolaan penderita dengan keluhan
hematuri. Cermin Dunia Kedokt. 1982; 28: 53-5.
6.
Gonzales R. The Urinary System and Pediatric Gynecology. In: Berham
RE, Kliegman RM, Nelson WB, Vaughan VC, eds. Nelson Textbook of
Pediatrics, 14
th
ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1992; 1326-39.
7.
Travis LB. Evaluating Clinic Clue. In: Rudolph AM, ed. Rudolph
Pediatrics, 19
th
. Philadelphia: Appleton & Lange, 1991; 1241-2.
8.
Levin M, Walters MDS. Infectious Diseases and the Kidney. In: Holliday
MA, Barratt TM, Avner ED, eds. Pediatrics Nephrology, 3
rd
ed. London:
Williams & Wilkins, 1994; 923-4.
9.
Sizeland P. The Interpretation of urine test result. J Pediatr Obstet and
Gynaecol. Jul/Aug, 1994: 23-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 31