background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 35
Gambaran Reaksi Seluler Spesifik
Pasca Vaksinasi BCG pada Anak
0-5
tahun
Liliana Kurniawan*
,
Robert Widjaja*
,
Indah Yuning Prapti*
,
Basundari
Sri
Utami*
,
Sri
Mulyati** dan Roswita*
*
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
**
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.
Departemen Kesehatan R.L,
Jakarta
PENDAHULUAN
Hasil penelitian efektivitas BCG di India menunjukkan bahwa
vaksinasi BCG kurang memberi·daya lindung,
1
dan juga tidak
menjelaskan tentang efektivitas pada anak-anak.
2
Putrali dkk.
3
menunjukkan bahwa daya lindung BCG pada balita adalah 66%
untuk tuberkulosis berat : tuberkulosis tulang, milier dan me-
ningitis, tetapi tidak memberikan daya lindung bermakna pada
tuberkulosis paru.
Reaksi tuberkulin adalah suatu reaksi hipersensitivitas ter-
hadap M tuberculosis, yang dihubungkan dengan daya lindung
seseorang terhadap tuberkulosis dan sering dipakai untuk me-
nilai hasil vaksinasi BCG. Penelitian di Madras, India me-
nunjukkan penurunan reaksi tuberkulin 4 tahun pascavaksinasi
BCG.
1
Pada marmot dapat ditunjukkan bahwa meskipun reaksi
tuberkulin melemah, tetapi daya lindung dapat dipertahankan.
4
Dalam usaha pencegahan tuberkulosis, vaksinasi BCG dalam
Program Pengembangan Imunisasi dilaksanakan dengan meng-
gunakan vaksin produk Biofarma (Paris strain) pada anak usia
3 -- 14 bulan. Vaksinasi BCG dengan cara ini berlangsung pada
tahun 1979 -- 1987. Dalam rangka evaluasi efektivitas vaksinasi
BCG sesuai dengan anjuran WHO,
5
dilakukan pemeriksaan
reaksi tuberkulin dan tes transformasi limfosit terhadap PPD
pada anak-anak yang telah divaksinasi BCG.
BAHAN DAN CARA KERJA
Anak-anak yang telah divaksinasi BCG yang melalui anamne-
sis dan secara klinis tidak dicurigai menderita tuberkulosis,
dari lingkungan Puskesmas Kecamatan Senen dan Matraman,
Poli Bagian Kesehatan Anak RS Gatot Subroto, RS Dr. Minto-
hardjo dan RS St. Carolus oleh vaksinator keliling maupun di
poliklinik, diperiksa antara bulan Agustus 1983 dan
,
April 1984.
Vaksin BCG yang diberikan adalah sejumlah 0,0250 mg/ml.
Kepastian bahwa anak telah divaksinasi, dilihat dari kartu vaksi-
nasi dan/atau parut vaksinasi BCG.
Menurut masa pasca vaksinasi BCG, 826 anak tersebut ter-
diri atas 5 kelompok, yaitu :
1.
Kelompok I : 0--1 tahun pasca vaksinasi BCG, 190 anak
2.
Kelompok II : 1--2 tahun pasca vaksinasi BCG, 228 anak
3.
Kelompok III : 2--3 tahun pasca vaksinasi BCG, 154 anak
4.
Kelompok IV : 3--4 tahun pasca vaksinasi BCG, 133 anak
5.
Kelompok V : 4--5 tahun pasca vaksinasi BCG, 121 anak.
Pada setiap anak dilakukan tes tuberkulin menggunakan PPD
yang berasal dari Statens Serum Institute, Copenhagen (RT--23 :
2 TU, yang disuntikkan intrakutan sebanyak 0,1 ml pada 1/3
lengan bawah sebelah kiri di bagian volar.
Hasil tes tuberkulin dibaca setelah 72 jam dengan mengukur
besar indurasi.
Seratus duapuluh tujuh dari 826 anak tersebut, masing-
masing 16, 21, 32, 24 dan 34 anak dari kelompok I, II, III,
IV dan V diambil darah vena sebanyak 3 ml untuk tes trans-
formasi limfosit terhadap PHA (Phytohaemagg/utinin) dan PPD
(Purified Protein Derivative).
Pada tes transformasi limfosit 10
5
sel limfosit dibiakkan
bersama 10 ul/ml PPD dalam 200 ul RPMI yang mengandung
AB serum. Selama 2 hari pada stimulasi dengan PHA dan
6 hari pada stimulasi dengan PPD, biakan disimpan dalam
inkubator 37° yang mengandung 5%CO
2
. Dua puluh µl (1 µCi)H
--thymidine ditambahkan pada biakan dan disimpan kembali
dalam inkubator selama 18 jam. Sel limfosit dari biakan ter-
sebut dikumpulkan pada Tricarb filter, dengan menggunakan
cell harvester. Tricarb filter tersebut dimasukkan botol yang berisi
2 ml toluene yang mengandung 0,5% BBOT untuk dihitung
pancaran radioaktifnya dengan beta scintillation counter:
Hasil tes ini dinyatakan dengan Indeks Stimulasi (IS) yaitu
hasil bagi hitungan per menit bacaan pada biakan yang di-
rangsang terhadap biakan tanpa rangsangan.
HASIL
Dari 826 anak yang diteliti 25,9% menunjukkan reaksi tuber-
kulin > 5 mm, 12,2% bereaksi > 10 mm dan 6,3% be-
reaksi > 15 mm. Rata-rata indurasi adalah 4,24 mm, 3,32 mm,
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
36
3,82 mm, 4,35 mm dan 4,87 mm secara berurutan untuk ke-
lompok 0-1, 1-2, 2-3, 3-4 dan 4-5 tahun pasca vaksinasi.
Rata-rata indurasi antar kelompok temyata tidak menunjukkan
perbedaan yang berarti.
Pada tabel 1 terlihat bahwa 25,9% dari 826 anak yang diteliti
menunjukkan reaksi tuberkulin > 5 mm dengan rata-rata
indurasi 11,6 mm. Tidak terlihat adanya perbedaan persentase
jumlah anak yang menunjukkan reaksi tuberkulin > 5 mm
antar kelompok, baik pada seluruh sampel penelitian maupun
pada sampel yang juga diperiksa untuk tes transformasi limfosit
(X
2
< 0,15). Juga tidak terlihat adanya perbedaan pada besar
indurasi antara kelompok-kelompok tersebut.
Tabel 1. Persentase dart anak-anak dengan indurasi > 5mm pads -1, 1-2, 2-3, 3-4
dan 4-5 tahun pasca vaksinasi BCG, dan rata-rata ukuran indurasi (mm),
Jakarta, 1984.
Seluruh sampel
+
Tes transfonnasi limfosit
Pasca
Vaksinasi
(tahun)
N % mm N Mo mm
- 1
190
31,5
10,2
16
12,5
11,5
1 - 2
228
21,1
10,9
21 19,0 11,3
2 - 3
154
24,7 11,0 32 21,0 10,0
3 - 4
133
23,3 14,3 24 25,0 12,3
4 - 5
121
30,6 13,4 34 32,0 11,7
- 5
826
25,9
11,6
127
23,6
11,3
Pada tabel 2 terlihat rata-rata ukuran indurasi (mm), pada
berbagai kelompok untuk ukuran indurasi 1-5, 6-10,11-15 dan
> 15 mm. Terlihat bahwa tidak ada perbedaan bermakna indu-
rasi pada berbagai kelompok (p < 0.5).
Tabel 2. Rata-rata ukuran indurasi tea tuberkulin pada -1, 1-2, 2-3, 3-4 dan 4-5
tahun pasca vaksinasi BCG, Jakarta, 1984.
Indurasi (mm)
Pasca
vaksinasi
tahun
0-5
(612)
6-10
(113)
11-15
(51)
> 15
(50)
0 - > 15
(826)
- 1
1,5 7,6 12,2 18,7 4,2
1 - 2
1,3
7,5 13,0 19,1 3,3
2 - 3
1,5
8,1 13,4 18,7 3,8
3 - 4
1,1
8,2
14,3
18,8
4,3
4 - 5
1,1
7,4
13,9 20,6 4,9
- 5
1,3
7,7 13,0 19,0 4,1
Hasil tes transformasi limfosit dengan rangsangan PHA me-
nunjukkan bahwa 127 anak yang diteliti menunjukkan reaksi
umum yang normal.
Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan
persentase anak dengan indurasi > 5 mm, rata-rata indurasi,
IS > 2 maupun rata-rata harga indeks stimulasi antar kelompok
(p < 0.5). Persentase anak yang menunjukkan IS > 2 (66,9%)
lebih banyak dari persentase anak dengan indurasi > 5 mm
(23,6%), yang terlihat pula pada tiap-tiap kelompok (p < 0,5).
Tabel 3. Persentase anak dengan reaksi tuberkulin > 5 mm dan reaksi trans-
formasi limfosit lebih>2, serta rata-rata indurasi reaksi tuberkulin
dan indeks stimulasi.
Indurasi > 5 mm
Indeks Sdmulasi > 2
Pasca
vaksinasi
(tahun)
N
% mm
%
IS
- 1
16
12,5 11,5 44,8
14,5
1 - 2
21
19,0 11,3 71,4
15,0
2 - 3
32
21,9 10,0 75,0
13,1
3 - 4
24
25,0 12,3 62,5
11,8
4 - 5
34
32,4
11,7
67,6
21,9
- 5
127
23,6
11,3
66,9
15,8
PEMBAHASAN
Tes tuberkulin sering dipakai sebagai pedoman keberhasilan
suatu vaksinasi BCG, meskipun tes ini mempunyai kelemahan
sebagai pedoman adanya perlindunganterhadap M tuberculosa.
6
Bleiker dkk' melaporkan pada tahun 1974, bahwa 83,86%
dari 409 balita yang telah divaksinasi BCG; menunjukkan indu-
rasi > 5 mm dengan 2 TU RT 23, sedangkan 34% anak yang
tidak divaksinasi juga menunjukkan reaksi serupa.
Pada penelitian ini hanya 25,9 % anak menunjukkan indurasi
> 5 mm. Reaksi tuberkulin pada anak yang tidak divaksinasi
tidak diteliti. Perbedaan dengan basil penelitian mungkin di-
sebabkan oleh karena vaksin yang dipakai berbeda, dan mungkin
merangsang hipersensitivitas yang lebih tinggi dan vaksin BCG
yang dipakai dalam penelitian ini.
Putrali melaporkan pada tahun 1982
8
bahwa pada 234 anak
usia kurang 12 tahun, hanya 11% dari anak-anak yang telah
divaksinasi menunjukkan reaksi tuberkulin. Pada penelitian
vaksinasi BCG path 40 anak usia kurang dari 1 tahun yang
dilaksanakan secara prospektif, 57,5% anak menunjukkan indu-
rasi > 5 mm pada tes tuberkulin.
9
Pada penelitian prospektif
tersebut 28 anak telah pernah mendapatkan tes tuberkulin
sebelum vaksinasi BCG, bergizi baik, quality control dan cold
chain terjamin dan vaksinator terlatih.
Hasil penelitian-penelitian di atas berbeda-beda, yang dapat
disebabkan oleh karena perbedaan kelompok usia yang di-
teliti, vaksin yang dipakai, rangsangan terjadinya hipersensitivas,
pengawasan vaksinasi BCG, prevalensi tuberkulosis, populasi
yang diteliti dan populasi sampel berasal dari rumah sakit.
Dari tabel 2 tidak dapat ditunjukkan adanya penurunan
(waning) sensitivitas reaksi tuberkulin seperti ditemukan oleh
peneliti-peneliti lain.
1 4
Pada penelitian dengan marmot, vaksi-
nasi hanya dilakukan satu kali, dan tidak ada pengaruh faktor
penularan dari M. tuberculosis. Penelitian dengan marmot me-
nunjukkan bahwa meskipun reaksi tuberkulin menunjukkan
penurunan sesuai lamanya masa pasca vaksinasi, namun dapat
ditunjukkan bahwa daya lindung bertahan. Di India, ditunjukkan
pula adanya penurunan, sedang pada penelitian ini tidak ter-
lihat. Hal ini dapat disebabkan berbagai faktor, seperti keadaan
epidemiologik, kemampuan imunologik, maupun populasi pe-
nelitian yang berbeda.
2
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 37
Pada penelitian ini ditunjukkan bahwa anak-anak yang me-
nunjukkan reaksi positif pada tes transformasi limfosit lebih
banyak daripada yang menunjukkan indurasi > 5 mm, baik
untuk seluruh populasi yang diteliti maupun pada masing=
masing kelompok. Tidak terlihat adanya hubungan antara me-
ningkatnya indurasi dengan meningkatnya indeks stimulasi,
bahkan sebagian besar anak yang menunjukkan indurasi < 5
mm, menunjukkan IS > 2.
Kardjito
10
menuliskan bahwa hipersensitivitas yang teljadi
pada tes tuberkulin dapat menunjukkan bahwa hipersensitivitas
sejenis mungkin teljadi pada jaringan yang malah menyebabkan
kerusakan. Disebutkan pula bahwa reaksi limfosit spesifik dapat
terbentuk tanpa terjadinya hipersensitivitas atau sebaliknya dan
tergantung pada jenis antigen yang merangsang. Daya lindung
seseorang terhadap antigen tuberkulosis yang didapat melalui
vaksinasi BCG tergantung gabungan tipe reaksi imunitas yang
terjadi yaitu reaksi hipersensitivitas dan reaksi imunitas yang
terjadi yaitu reaksi hipersensitivitas dan reaksi yang bersifat
protektif. Dapat disimpulkan bahwa meskipun reaksi hiper-
sensitivitas rendah, kemampuan anak mengenal antigen PPD
setelah vaksinasi cukup tinggi. Bila komponen lain dalam meka-
nisme proteksi tidak lumpuh maka 66,9% dari anak-anak pasca
vaksinasi terlindung terhadap infeksi tuberkulosis.
Pada saat kuman M tuberculosis menyerang pasca vaksinasi
BCG, segera teijadi reaksi limfosit untuk menghancurkan
kuman dengan bantuan makrofag. Bila imunitas tidak ada, maka
kuman dapat menyebar cepat dan secara luas. Dilaporkan oleh
Lindgren bahwa tuberkulosis primer didapat sama banyaknya
pada orang yang belum dan yang telah divaksinasi BCG, namun
kelainan terbatas pada paru-paru, tanpa penyebaran ke kelenjar
limfe. Dan bila di luar paru, kelainan yang terjadi lebih ringan
daripada yang tidak divaksinasi." Hal ini juga terlihat pada pe
nelitian Putrali dkk di Jakarta.
3
Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi BCG yang di-
laksanakan sesuai program dalam status epidemiologik yang ter-
tentu seperti pada daerah yang diteliti, memberikan rangsangan
baik untuk mengenal antigen M. tuberculosis. Hasil ini mem-
perkuat basil penelitian prospektif yang terbatas di RSAL Minto-
hardjo, meskipun adanya berbagai keterbatasan seperti pelaksa-
naan vaksinasi di lapangan, tanpa quality control dan cold
chain yang dapat dipantau. Kemampuan mengenal antigen M.
tuberculosis masih terlihat pada 5 tahun pasca vaksinasi BCG.
Penelitian ini dapat menunjukkan bahwa vaksinasi BCG
dapat merangsang tetjadinya pengenalan antigen Mycobacteria
dan dapat diharapkan bahwa anak-anak tersebut dapat di-
lindungi dari tuberkulosis dan terutama dari tuberkulosis berat.
KEPUSTAKAAN
1.
WHO trial of BCG vaccines in South India for tuberculosis prevention :
first report. Bull WHO 1979; 39 : 819 - 27.
2.
Vaccination against tuberculosis. WHO Tech.Rep Ser 650 - 1980.
3.
Putrali J, Sutrisna B, Rahayoe N, Gunardi AS, Gunowiseso. Penelitian
efektivitas vaksinasi BCG pads anak-anak di rumah sakit di Jakarta. Medika
1982; 10 : 779 - 82.
4.
Tolderlund K, Bunch Christensen K, Guld J. Duration of allergy and immu-
nity in BCG vaccinated guniea pigs. Bull WHO 1967; 36 : 759 - 69.
5.
BCG vaccination policies. WHO Techn. Rep. Ser. 652 - 1980.
6.
Edwards LB, Palmer CE, Magnus K. Response to BCG vaccination. In :
BCG Vaccination 1953; 59 - 64.
7.
Bleiker MA, Gunardi AS, Setiawan P, Sutamo. Report of a study into
specific tuberculin sensitivity in school children in Indonesia 1974.
8.
Putrali J. Laporan pendahuluan penelitian efektivitas vaksinasi pads anak-
anak di 8 rumah sakit di Jakarta 1981.
9.
Liliana Kumiawan, Lilly Zulkarnain, Indah Yuning Prapti, Basundari Sri
Utami. Reaksi imunitas seluler pra.dan pasta vaksinasi BCG pada bayi, usia
kurang satu tahun di rumah sakit Dr. Mintohardjo Jakarta 1981-1982. Acta
Medica 1984.
10.
Kardjito T. Immunology of tuberculosis : humored immune responses and
other serological changes in human pulmonary tuberculosis. Tesis 1983.
11.
Chaparas SD. Immunity in tuberculosis. Bull WHO 1982; 60 : 447 - 62.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan pada Dr. Kendaryanti, Zr. Supanni,
Sdr. Busman, Sdr. Satin dari Puskesmas Kecamatan Matraman, Ny. Suheati
Tartjadi SKM, Zr. Purwandari, ~r. Atun dari 8a/al Kesehatan Masyarakat Kelurah-
an Paseban dari Pelayanan Kesehatan RS St. Caro/us, Dr. Sugandhi dan Dr.
Hemawan dari RS Gatot Subroto, Dr. V.M. Ingkiriwang dari Puskesmas Ke-
camatan Senen, Dr. Lilly Zulkarnain dan Staf Ruang B1 RSAL Dr. Mintohardjo
dan seluruh staf Sub Bidang Pena/itian Antibodi, Puslit Penyakit Menular, Lit-
bangkes, atas kefa sama yang sangat balk dalam
,
peIaksanaan pane/Man ini.