HASIL PENELITIAN
Ekspresi CD 44 pada
Jaringan Tumor Karsinoma Payudara
Azamris*, Wirsma Arif*, Eriyati Darwin**
* Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
** Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil, Padang
ABSTRAK
CD 44 merupakan suatu molekul permukaan sel lekosit yang memainkan peranan
penting dalam cell mediated immunity, resirkulasi limfosit, aktifasi sel T, adhesi ke sel
lainnya dan matriks interseluler, metabolisme hyaluronida, transduksi sinyal melewati
membran sel, dan sekresi faktor pertumbuhan. Ekspresi berlebihan gen ini terjadi pada
keganasan dan kemampuan metastasis sel kanker.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ekspresi CD 44 pada jaringan tumor
payudara dan hubungannya dengan metastasis ke kelenjar getah bening.
Dari sampel periode 1 Januari 1999 sampai 1 Juli 2000 didapatkan 20 kasus
Karsinoma Payudara stadium dini yang menjalani operasi Modifikasi Radikal
Mastektomi. Usia yang paling muda adalah 24 tahun dan usia yang paling tua adalah
64 tahun, rerata usia : 42,7 tahun dengan SD 12,5 tahun. Dari Fischer exact test untuk
melihat adanya pengaruh umur terhadap kadar CD 44 didapatkan p=0,39 dengan nilai
kemaknaan p < 0,05, menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna.
Dari ukuran TNM didapatkan pasien dengan T1 = 2 kasus (10%), T2 = 11 kasus
(55%) dan sisanya T3 = 7 kasus (35%). Dari seluruh kasus didapatkan CD 44 positif
pada seluruh kasus dan kadar rata-rata adalah 34,5%. Nilai rata-rata T1 adalah 19%, T2
= 29,45% dan T3 = 49,57%. Dapat dilihat korelasi makin besar T (ukuran tumor) kadar
CD 44 makin tinggi.
Pada pemeriksaan patologi anatomi didapatkan dari 15 (70% kasus) kelenjar getah
bening yang teraba secara klinis ternyata hanya 10 kelenjar yang positif mengandung
metastasis. Pada hasil pemeriksaan CD 44 jaringan tumor pada NO = 37% (5 kasus),
N1 = 35,07% (14 kasus) dan N2 = 21% (1 kasus). Hasil ini menunjukkan terdapat
peningkatan kadar CD 44 pada kasus dengan pembesaran getah bening aksila.
Dari penelitian disimpulkan bahwa kada CD 44 meningkat pada kasus dengan
tumor yang besar dan adanya metastasis aksila. Walaupun demikian pemakaiannya
secara klinis harus mengikutsertakan faktor-faktor prognostik lainnya.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karsinoma payudara sama dengan kanker mulut rahim
merupakan keganasan yang sering pada wanita. Kanker payu-
dara 100 kali lebih sering pada wanita daripada pria. Di
Indonesia insiden relatif karsinoma payudara cukup tinggi, ke
dua setelah keganasan mulut rahim dalam deretan 10 keganas-
an terbanyak di Indonesia; dan terdapat kesan terjadi pening-
katan insiden sebagai refleksi perubahan pola hidup dan
makanan masyarakat Indonesia
(1)
.
Insiden penderita karsinoma payudara bergerak naik terus
dari usia 30 tahun. Keganasan ini jarang sekali ditemukan pada
usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi terdapat pada usia
45-66 tahun. Dari penelitian biomolekuler telah dibuktikan
bahwa kanker disebabkan karena mutasi gen BRCa1 dan
BRCa2 pada 2% kasus maupun akibat mutasi spontan yang
terjadi akibat pengaruh lingkungan
(2)
. Dari penelitian epi-
demiologi didapatkan bahwa faktor yang berpengaruh sebagai
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 27
faktor risiko karsinoma payudara adalah usia, hormonal, diet,
virus, sinar radiasi, menderita tumor di tempat lain dan pola
hidup/kebiasaan yang salah.
(1,2)
Karsinoma Payudara sebagian besar berkembang di
duktus, setelah itu baru menembus parenkim. Lima belas
sampai empat puluh persen bersifat multi sentris. Penyebaran
keganasan payudara terutama melalui aliran limfe aksila
(metastasis lokal), yang kemudian baru menyebar sistemik.
Metastasis jauh terutama ke tulang, paru-paru dan hati.
Prognosis pasien ditentukan oleh tingkat penyebaran dan
potensi metastasis. Bila tidak diobati ketahanan hidup lima
tahun adalah 16-22 % sedangkan ketahanan hidup sepuluh
tahun adalah 1-5 %. Ketahanan hidup tergantung pada tingkat
penyakit, saat mulainya pengobatan, gambaran histopatologis,
reseptor estrogen dan progesteron serta penanda biomolekul
lainnya. Tingkat penyakit pada saat ini dinilai menurut TNM.
Tingkat penyakit pada stadium dini menurut TNM adalah
stadium I-II. Untuk stadium III-IV disebut stadium lanjut.
Ketahanan hidup lima tahun berdasarkan TNM adalah
berturut-turut 85%, 65%, 40%, 10%
(1,2)
. Salah satu faktor yang
menentukan stadium dan prognosis penderita adalah terdapat-
nya metastasis ke kelenjar getah bening aksila. Karena akan
membuat angka rekurensi menjadi lebih tinggi dan survival.
Adanya metastasis sangat menentukan angka ketahanan
hidup penderita.
TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui ekspresi antigen CD 44 var 5 di jaringan
tumor payudara.
2. Mengetahui hubungan antara kadar CD 44 var 5 pada
jaringan tumor dengan ukuran kanker payudara.
3. Mengetahui hubungan antara ekspresi antigen CD 44 var
5 pada jaringan kanker payudara dengan adanya metastasis
pada kelenjar limfe aksila.
TINJAUAN PUSTAKA
Dengan berkembangnya pengetahuan onkologi, telah
diketahui bahwa faktor imunitas memegang peranan dalam
timbulnya keganasan termasuk keganasan payudara; penyim-
pangan sistim imun diduga terlibat dalam pembentukan sel
ganas. Sel tumor merupakan suatu benda asing dalam tubuh
yang memiliki susunan antigenik yang khas; hal ini akan
memicu respon imun dan karena itu disebut sebagai tumor
associated antigen (TAA). TAA merupakan antigen permuka-
an sel yang membangkitkan respon imunitas spesifik bila
diinjeksikan pada hospes yang sama
(3,4,5)
. Pengetahuan ini
digunakan dalam diagnosis dan pengobatan neoplasma tertentu
pada manusia.
Respon individu terhadap pertumbuhan sel tumor ternyata
tidak sama seperti yang terlihat di bawah ini
(6,7)
:
1. Penolakan (rejeksi) disebabkan karena inkompatibilitas.
2. Penerimaan (acceptance).
3. Pertumbuhan
(enhancement).
Penelitian genetik dan perubahan biologis pada keganas-
an telah membuka cakrawala mengenai diagnostik dan inter-
vensi terapi kanker. Sel T merupakan respon host dalam
mengontrol pertumbuhan tumor. Dia memiliki kemampuan
membunuh langsung sel tumor atau melalui aktivasi berbagai
komponen sistim imun. Terdapat 2 jenis subdivisi sel T yaitu
CD 4 dan CD 8; CD 4 akan merangsang pelepasan berbagai
mediator dan menginduksi respon inflamasi dan CD 8 selain
memiliki kemampuan menghasilkan limfokin, yang paling
utama adalah kemampuan membunuh sel tumor secara lang-
sung
(8,9)
. Adanya sel tumor akan membuat sel T memiliki
memori dalam menghadapi sel tumor tersebut, hal ini terutama
tampak dari perubahan antigen permukaan sel T.
Salah satu bentuk antigen yang mengalami perubahan
adalah CD 44 yang terdapat pada permukaan membran sel
T
(10)
. CD 44 merupakan suatu ikatan hyaluronidase. Penelitian
mutakhir tentang ekspresi gen CD 44 memberikan hal yang
menjanjikan dalam diagnostik dini kanker, diagnostik metas-
tasis dan pemantauan pengobatan. CD 44 merupakan suatu
molekul permukaan sel lekosit yang memainkan peranan
penting dalam cell mediated immunity, resirkulasi limfosit,
aktivasi sel T, adhesi ke sel lainnya dan matriks interseluler,
metabolisme hyaluronida, transduksi sinyal melewati membran
sel dan sekresi faktor pertumbuhan. CD 44 memiliki bentuk
varian isoform yang terbagi ke dalam beberapa grup dan
terletak dalam kromosom lokus 11p13. Dengan proses yang
kompleks, gen ini mengatur fungsi sel dan terjadi perubahan
ekspresi pada terjadinya keganasan. Berdasarkan fungsinya ini
maka ekspresi CD 44 berhubungan dengan kemampuan
metastasis pada kanker
(11,12)
. Hal ini memberikan makna
pemakaian CD 44 pada klinis.
Molekul CD 44 terbentuk dalam berbagai isoform (hampir
11 jenis isoform). Maing-masing isoform menunjukkan
migrasi limfosit yang berbeda. Variasi isoform ini tergantung
pada jenis exon antara transmembran dan N-terminus. Epitel
yang normal akan memberikan bentuk isoform CD 44 H
dengan dominasi bentuk ikatan hyaluran tanpa exon v1-v10.
Sedangkan pada kanker terdapat over ekspresi exon-v1-v10,
yang menunjukkan bahwa exon ini berhubungan dengan ada-
nya pertumbuhan yang berlebihan dan penyebaran tumor
(12)
.
Bentuk isoform CD 44 tergantung pada CD44mRNA. Pem-
berian antibodi monoklonal anti CD 44 akan mencegah
terjadinya pertumbuhan tumor dan metastasis.
Abnormalitas ekspresi CD 44 pada kanker payudara dapat
diketahui melalui teknik RT-PCR pada jaringan tumor dan
kelenjar aksila yang segar. Melalui teknik pewarnaan imuno-
histokimia dapat dilihat peningkatan CD 44 dan bentuk
isoformnya v5, v6 dan v9 pada karsinoma jika dibandingkan
dengan epitel normal payudara
(13)
. Penelitian lain menyebutkan
korelasi yang signifikan antara ekspresi v3, v4, v6 dan
peningkatan gradasi kanker payudara
(14,15)
. Beberapa peneliti
melaporkan bahwa terdapatnya reseptor estrogen yang tinggi
pada permukaan sel tumor juga menunjukkan peningkatan
ekspresi varian CD 44; namun setelah diteliti lebih lanjut
ternyata tidak terdapat hubungan antara status reseptor estro-
gen dengan ekspresi CD 44 ini. CD 44 merupakan kelompok
protein permukaan sel yang berhubungan dengan adhesi dan
metastasis tumor. Adanya bentuk isoform spesifik dengan
ekspresi yang berlebihan menunjukkan adanya metastasis dan
prognosis yang jelek pada kanker payudara. Ekspresi v5 yang
terdapat pada jaringan payudara merupakan suatu petanda
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
28
adanya peningkatan gradasi tumor dan kemampuan metastasis
ke kelenjar aksila
(11)
.
METODOLOGI PENELITIAN
Bahan
Pasien :
Sebagai responden diambil pasien karsinoma payudara
stadium yang telah menjalani operasi modifikasi mastektomi
radikal. Teknik modifikasi mastektomi radikal yang dipilih
adalah menurut cara Auchincloss yaitu payudara secara total
diangkat bersama dengan kelenjar limfe aksila secara en blok.
Kemudian atas jaringan tumor dan kelenjar aksila dilakukan
dua pewarnaan yaitu dengan hematoksilin eosin dan pewarna-
an imunohistokimia (antibodi monoklonal).
Pemeriksaan Antibodi Monoklonal
Pemeriksaan Antibodi Monoklonal dilakukan di Labora-
torium Histologi FKUA. Antibodi monoklonal yang digunakan
berasal dari murine monoclonal antibody yaitu : Mo Ab CD 44
var 5.
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi jaringan tumor dan kelenjar
limfe aksila dalam sediaan blok parafin dan diwarnai dengan
hemtoksilin eosin. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium
Patologi Anotomi FKUA.
Sampel pasien karsinoma payudara yang menjalani modi-
fikasi mastektomi radikal sebanyak 20 kasus dan dilakukan
dua macam pemeriksaan yaitu histopatologi dengan blok
parafin dan pemeriksaan antibodi monoklonal untuk antigen
CD 44 var 5. Pemeriksaan antibodi monoklonal untuk antigen
CD 44 var 5 dilakukan dengan pewarnaan imunohistokimia
(Imunoperoksidase indirek ) dengan metoda berikut ini.
Tahap-tahap pewarnaan :
1. Sediaan dikeringkan pada suhu ruangan selama 2-24 jam
dan difiksasi dengan aseton selama 10 menit. Sampel ini
dikeringkan dan dapat langsung diwarnai atau disimpan pada
suhu -30°C. Sebelum proses pewarnaan dimasukkan ke dalam
metanol dengan H
2
O
2
1% untuk mengurangi reaksi warna
endogen.
2. Cuci preparat dengan PBS 5 selama 5 menit.
3. Inkubasi dengan antibodi monoklonal yang telah dilarut-
kan dengan TRIS-BSA selama 30 menit pada suhu kamar
dalam ruang lembab. Sel pelet seluas 1 cm
2
membutuhkan 100
ul Mo Ab.
4. Cuci preparat dengan PBS selama 5 menit.
5. Inkubasi dengan Rabbit anti Mouse POD conjugated
(sigma) yang dilarutkan dengan serum selama 30 menit pada
suhu ruang di dalam ruang lembab.
6. Cuci preparat dengan PBS selama 5 menit.
7. Inkubasi dengan Goat anti Rabit POD conjugated (sigma)
yang dilarutkan dengan serum. Inkubasi dilakukan pada suhu
kamar di ruang lembab selama 30 menit.
8. Cuci dengan PBS selama 5 menit.
9. Inkubasi dengan substrat Peroksida selama 10-15 menit
sampai terlihat warna coklat di bawah kontrol mikroskop.
Substrat dilarutkan dari DAB (diamino tetra benzidine) dengan
TRIS BSA dan perydol.
10. Cuci dengan PBS selama 5 menit.
11. Warnai dengan Hematoxilin.
12. Cuci dengan air.
13. Tutup dengan deckglass yang dilengketkan dengan
glycerine gelatin.
14. Hitung jumlah sel yang positif yaitu sel yang berwarna
coklat dari 100 sel.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam persen, yaitu jumlah
sel limfosit dengan ekspresi CD 44 var 5 terhadap perhitungan
100 sel limfosit. Nilai ambang batas positif adalah lebih besar
dari 50%. Proses pembuatan sediaan dan pewarnaan dilakukan
oleh satu orang tenaga yang menguasai teknik menurut pro-
tokol yang sudah baku. Setiap proses pewarnaan disertai
dengan pewarnaan positif dan negatif.
Analisis Statistik
Data yang diperoleh dari pemerikasaan histopatologi dan
antibodi monoklonal dibuat persentase dan kemudian masing-
masing kelompok sampel dibandingkan dengan memperguna-
kan Fischer exact test. Nilai signifikan secara statistik adalah p
> 0.05. Data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dari tanggal 1 Januari 1999 sam-
pai dengan 1 Juli tahun 2000. Penelitian dilakukan di RSUP
Dr. M. Jamil Padang untuk pengambilan spesimen operasi
sebanyak 20 kasus. Pemeriksaan histopatologi dilakukan di
Laboratorium Patologi Anatomi FK Universitas Andalas dan
pemeriksaan antibodi monoklonal di Laboratorium Histopato-
logi FK Universias Andalas Padang.
HASIL PENELITIAN
Periode 1 Januari 1999 sampai 1 Juli 2000 didapatkan 20
kasus Karsinoma Payudara stadium dini yang menjalani
operasi Modifikasi Mastektomi Radikal, dilakukan pemeriksa-
an histopatologis pada jaringan payudara serta aksila. Pada
kasus tersebut dilakukan pemeriksaan terhadap CD 44 pada
jaringan karsinoma payudara dan pada kelenjar aksila. Usia
pasien paling muda adalah 24 tahun dan usia paling tua adalah
64 tahun, rerata usia: 42,7 tahun, SD=12,5 tahun.
T1
T2
T3
Gambar 1. Distribusi besar tumor menurut ukuran T.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 29
Dari ukuran tumor menurut TNM didapatkan pasien
dengan Tl=2 kasus (10%), T2=11 kasus (55%) dan sisanya
T3=7 kasus (35%). Sedangkan untuk kelenjar getah bening
yang positif secara klinis didapatkan 15 kasus (75%) dengan
perincian N1=14 kasus dan N2=1 kasus; tidak ditemukan
pembesaran kelenjar getah bening (N0) pada 5 kasus (25%).
Tabel 1. Hubungan umur dengan kadar CD 44 tumor
<50%
>50%
Jumlah
< 40 tahun
6
7
8
> 40 tahun
7
5
12
Jumlah 13
7
20
Dari perhitungan dengan Fischer exact test didapatkan
p=0,39 dengan nilai kemaknaan p<0,05, maka tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara usia dengan jumlah CD 44
tumor.
Pada seluruh kasus didapatkan ekspresi CD 44 dengan
nilai rata-rata 34,5% (4% - 87%).
Tabel 2. Hubungan antara ukuran tumor (T) dan kelenjar getah bening
(N) dengan jumlah CD 44 per lapangan pandang.
No
Tumor T
KGB (N)
% CD 44 per lapangan
pandang
1 2
1
68
2 2
1
25
3 3
1
54
4 3
1
24
5 2
0
83
6 3
0
71
7 3
1
87
8 2
1
16
9 2
1
8
10 2
1
4
11 1
0
19
12 3
2
21
13 2
1
36
14 2
1
51
15 2
1
11
16 3
1
7
17 3
1
83
18 2
1
17
19 2
0
5
20 1
0
7
Rata-rata 34,5
0
10
20
30
40
50
60
1
2
3
Gambar 2. Hubungan antara jumlah CD 44 dan ukuran T
Rata-rata ekspresi CDK 44 var 5 pada T1=13%,
T2=29,57%. Peningkatan kadar CD 44 jaringan tumor seban-
ding dengan peningkatan ukuran T.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
N0
N1
N2
Kadar CD 44
Gambar 3. Hubungan antara kadar CD 44 jaringan tumor dengan
terabanya kelenjar getah bening aksila.
Kadar CD 44 jaringan tumor pada N0 adalah 37,2%,
N1=44,64% dan N2=21%.
Pada pemeriksaan Patologi anatomi atas 15 kelenjar getah
bening yang teraba secara klinis ternyata hanya 10 kelenjar
yang positif dengan metastasis karsinoma. Satu kasus yang
tidak teraba ternyata mengandung metastasis.
Tabel 3. Hubungan antara hasil pemeriksaan klinis dan patologi anatomi
PA +
PA -
Total
Klinis +
9 6 15
Klinis -
1 4 5
Total
10 10 20
Dari uji Fischer didapatkan p=0,15 dimana p > 0,05, tidak
terdapat hubungan secara statistik antara pemeriksaan klinis
dan metastasis secara mikroskopis. Pada 5 kasus dengan klinis
teraba ternyata pada pemeriksaan histopatologi menunjukkan
gambaran hiperplasia reaktif.
Tabel 4. Hubungan antara hasil pemeriksaan histopatologi kelenjar
getah bening dengan kadar CD 44 pada jaringan tumor.
CD 44 +
CD 44 -
Total
PA +
5 5 10
PA -
4 6 10
Total 9
11
20
% CD44
Dari uji Fischer didapatkan p=0,5 (p > 0,05), jadi tidak
didapatkan hubungan yang bermakna.
Dari 10 kasus dengan metastasis aksila didapatkan rata-
rata jumlah CD 44 adalah 44,9% dibandingkan dengan tanpa
metastasis aksila adalah sebesar 24,9%.
DISKUSI
Dari penelitian ini (20 kasus) usia yang paling muda
adalah 24 tahun dan usia paling tua adalah 64 tahun, rerata
usia: 42,7 tahun dengan SD=12,5 tahun. Dari 20 kasus tersebut
terdapat 6 kasus (30%) merupakan kanker payudara pada usia
muda (<35 tahun). Perhitungan Fischer exact test untuk
melihat pengaruh umur terhadap kadar CD 44 mendapatkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
30
p=0,39 dengan nilai kemaknaan p < 0,05, yang menunjukkan
tidak terdapat hubungan yang bermakna. Hal ini sesuai dengan
laporan beberapa peneliti yang tidak menemukan hubungan
antara kadar CD 44 dengan usia penderita.
Molekul CD 44 dapat diekspresikan pada beberapa jaring-
an normal dan hampir pada semua sel kanker. Sedangkan
antibodi terhadap CD 44 pada jaringan tumor payudara
memiliki epitop bervariasi yang memiliki distribusi terbatas.
Pemeriksaan CD 44 pada penelitian ini melalui pemeriksaan
pada jaringan tumor. Hasil pemeriksaan dalam bentuk per-
sentase per 100 lapangan pandang seperti yang dilakukan juga
oleh Kinosita dkk. Dari ukuran TNM didapatkan pasien
dengan T1=2 kasus (10%), T2=11 kasus (55%) dan sisanya
T3=7 kasus (35%); CD 44 positif pada seluruh kasus dan
kadar rata-rata adalah 34,5% dengan nilai terendah 4% dan
tertinggi 85%. Nilai rata-rata pada T1 adalah 13%, T2=26,85%
dan T3=73,5%. Dari persentase dapat dilihat korelasi bahwa
makin besar T (ukuran tumor) makan kadar CD 44 makin
tinggi. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan Manfred
Kaufman dkk; peningkatan ukuran tumor akan meningkatkan
kadar CD 44 dan akan membuat prognosis menjadi lebih
buruk.
Dari pemeriksaan patologi anatomi atas 15 (70% kasus)
kelenjar getah bening yang teraba secara klinis, ternyata hanya
10 kelenjar yang positif mengandung metastasis, pada 5 kasus
lainnya berupa hiperplasia reaktif. Satu kasus pada pemeriksa-
an klinis tidak teraba ternyata mengandung metastasis. Dari uji
Fischer ternyata tidak terdapat hubungan antara pemeriksaan
klinis dengan hasil pemeriksaan histopatologi. Pembesaran
dapat terjadi juga akibat infeksi sekunder, atau akibat lepasnya
bahan-bahan inflamasi akibat pertumbuhan tumor. Walaupun
demikian dari 10 kasus dengan metastasis aksila (histopato-
logi) didapatkan rata-rata jumlah CD 44 44,9% dibandingkan
dengan tanpa metastasis aksila sebesar 24,9%. Hal ini menun-
jukkan bahwa peningkatan kadar CD 44 pada jaringan tumor
sebanding dengan angka kajadian metastasis pada kelenjar
getah bening aksila.
Kinosita dkk, melakukan pemeriksaan CD 44 pada
jaringan karsinoma mamae pada 91 kasus dan menghubung-
kannya dengan metastasis ke kelenjar aksila. 31 pasien dengan
CD 44 positif mengalami rekurensi. CD 44 yang positif
menunjukkan kecenderungan tinggi untuk metastasis ke
kelenjar limfe, walaupun CD 44 bukan satu-satunya faktor
yang berhubungan dengan metastasis ke kelenjar limfe. Pada
penelitian ini didapatkan hasil rata-rata pemeriksaan CD 44
jaringan tumor pada N0=37,2%, N1=46,64% dan N2=21%.
Dari diagram 3 tampak bahwa terdapat peningkatan kadar CD
44 sebanding dengan pembesaran kelenjar getah bening aksila
(N0 dan N1). Pada N2 terdapat penurunan nilai CD karena
jumlah sampel hanya 1 kasus dan juga nilai N2 sendiri
menunjukkan adanya perlengkapan antara kgb dengan jaringan
sekitarnya.
Dari uji Fische tidak didapatkan perbedaan yang ber-
makna antara ekspresi CD 44 di jaringan tumor dengan adanya
metastasis ke aksila secara histopatologis (Tabel 4). Namun
kadar CD 44 di jaringan payudara pasien tanpa metastasis ke
kelenjar aksila lebih rendah daripada pada pasien dengan
metastasis ke aksila (37,2% vs 44,64%). Kondisi ini dapat
disebabkan karena jumlah sampel yang masih sedikit atau
karena memang kedua hal ini tidak berhubungan secara
statistik. Sheen chen dkk melaporkan bahwa adanya molekul
CD 44 merupakan faktor prognostik jelek pada karsinoma
payudara; 100 pasien karsinoma duktal invasif dengan kadar
CD 44 tinggi mengandung metastasis. Manfred Kaufman
melaporkan bahwa ekspresi CD 44 yang lebih tinggi memiliki
survival yang lebih pendek. Walaupun demikian masih perlu
penelitian yang lebih lanjut terutama dengan mengikutsertakan
faktor-faktor prognostik lainnya.
KESIMPULAN
1. Ekspresi CD 44 didapatkan pada seluruh kasus kanker
payudara yang diteliti.
2. Kadar ekspresi CD 44 sebanding dengan peningkatan
ukuran tumor, tetapi tidak ada hubungannya dengan usia
penderita.
3. Terdapat peningkatan kadar CD 44 pada jaringan tumor
kasus dengan metastasis ke kelenjar aksila.
4. Perlu penelitian lebih lanjut untuk dapat memakai ekspresi
CD 44 var 5 sebagai faktor prognostik untuk timbulnya
metastasis.
5. Hasil pemeriksaan histopatologis "Hiperplasia Reaktif",
dengan konfirmasi pemeriksaan CD 44 var 5 yang positif perlu
di follow up untuk menentukan hubungan terdapat rekurensi
dan survival rate penderita.
KEPUSTAKAAN
1.
Ramli B. Penerapan mutakhir karsinoma payudara. Makalah Simposium
Terapi Kanker Payudara. Padang; Maret 2000.
2.
Henderson C, Harris MR, Kinne DW, Hellman S. Cancer of the Breast,
In Cancer Principles and Practice of Oncology 3
rd
ed, Devita VT Jr,
Hellman S, Rosenberg SA eds. Philadelphia: JB Lippincott Co. 1989;
1197-1258.
3.
Austyn JM, Wood KJ. Principles of cellular and molecular immunology.
New York: Oxford University Press, 1994 ; 203-17.
4.
Janeway CA, Travers P. Immunobiology: the immune system in health
and disease. New York: Blackwell Scient. Publ, 1994; 601-37.
5. Chandrasoma P, Taylor CR. Concise Pathology. 2
nd
ed. London:.
Prentice Hall International, 1995; 47-68.
6. Belanty JA. Immunology. 3
rd
ed. Jogjakarta: Gajah Mada University
Press, 1993; 18-57.
7.
Roitt I. Essential Immunology. 9
th
ed. London: Blackwell Science Ltd,
1997; 195-1198.
8.
Elgert KD. Immunology: understanding the immune system. New York:
Wiley Liss, 1996; 173-98.
9. Kresno SB. Immunologi : diagnosis dan prosedur laboratorium. Edisi
ketiga. Jakarta: FKUI, 1996; 5-77.
10. Griffioen AW, Coenen MJ, Damen CA, Hellwig SM, Van Weering DH,
Vooys W, Blijham GH, Groenewegen G. CD 44 is involved in tumor
angiogenesis; an activation antigen on human endothelial cells. Blood
1997; 90(3): 1197-1258.
11. Lancher C, Moser R, Bauernhofer T, Wilder TM, Samonigg H, Berghold
A, Zatloukal K. Soluble CD 44 v5 and v6 in serum patients with breast
cancer. Corelation with expression of CD 44 v5 and v6 in primary
tumors and location of metastasis. Breast Cancer Res Treat 1998; 47(1):
29-40.
12. Kitti EM, Ruckser R, Sakery S, Samek V, Hofmann J, Huber K, et al.
Evaluation of solube cd 44 splice variant v5 in the diagnosis and follow-
up in breast cancer patients. Experiment and Clin Immunogenetics 1997;
14(4).
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 31
13. Ermak G, Jennings T, Boguniewicz A, Figge J. Novel CD 44 messenger
RNA isoforms in human thyroid and breast tissues feature unusual
sequence rearrangements. Clin Cancer Res 1996; 2: 1251-54.
15. Murti B. Penerapan metode statistik non parametik dalam ilmu-ilmu
kesehatan. Jakarta: Gramedia, 1996.
16. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.
Jakarta: Binarupa Aksara, 1995.
14. Martin S, Jansen F, Bokelmann J, Kolb H. Soluble CD 44 splice variants
in metastasing human breast cancer, Int J Cancer 1997; 74(4): 443-5.
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE APRIL JULI 2003
Waktu
Kegiatan Ilmiah
Tempat dan Sekretariat
MARET
26 - 29
AOFOG 4 (Feto Maternal)
Tiara Convention Center, Medan
Telp : 061-4534190, 4511522
11 - 13
Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (KIPPIK FKUI 2003)
Hotel Borobudur, Jakarta
Email: cme_fkui@yahoo.com
Phone No:021-3106737
20 - 21
6th International Conference on Hemodynamics of the
International Hemodynamic Society
Nikko Bali Resort & Spa, Bali
Email:bimatama@centrin.net.id
Telp :021-3927958, 3151665, 3144361
20 - 23
Kongres Nasional VI PERKENI
Hotel Tiara, Medan
Telp: 061-836 3009
24 - 26
The 12th Annual Scientific Meeting of the Indonesia Heart
Association (Cardiology Update 2003)
Hotel Borobudur, Jakarta
E-mail: PERKI-JAYA@cbn.net.id,
Tep: 021-5684093, 5684085 (ext. 3508);
Fax : 021-5608239
APRIL
26 - 27
4th Jakarta Antimicrobial Update (JADE) 2003
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp: 021-3908157, 3925491
Fax : 021-3929106
2 - 4
Simposium Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-1 (PIN-1) PB
PAPDI: Therapeutic Update in Internal Medicine
Hotel Sheraton, Jogjakarta
Telp: 021-331384, 3159704, 330808 Ext. 6703
3 - 4
Penatalaksanaan Holistik Autisme
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp: 021-7980888, 7985177, 7940836/7
9 - 10
11
3rd Jakarta Nephrology Hypertension (JNHC)
Symposium Hipertensi
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp : 021-314 9208
16 - 18
International Congress on
Pharmacokinetic/Pharmacodynamic (Antibiotic 2003)
Bali International Convention Center, Bali
Telp: 62-21-5684093 ext. 5019, 62-21-
5684085 ext. 1242
22 - 25
Indo Surgitex 200, IKABI
Jakarta Convention Center
Telp: 021-390 5533
MEI
24 - 25
Temu Ilmiah Geriatri 2003: Penatalaksanaan Pasien Geriatri
dengan Pendekatan Interdisiplin
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp: 021-31900275
JUNI
21 - 22
PIN PERALMUNI 2003
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp :
021-314 1160
4 - 7
Kongres Nasional Ke-XI PGI-PEGI dan PIN ke-XII PPHI
Batu, Malang
email: hegasindo_mlg@telkom.net;
Telp : 0341-348265
4 - 11
Kongres Nasional Obstetri & Ginekologi Indonesia (KOGI
XII)
Hotel Sheraton, Yogyakarta
Telp: (0274)587333 psw 296
9 - 12
Indonesian Digestive Week (IDDW) in Conjunction with the
American Gastroenterological Association (AGA)
Hotel Discovery Kartika Plaza, Bali
Telp: 021-3153957
10 - 13
Mukernas Perdossi / Konas Perdossi
Grand Bali Beach, Bali
Telp : 0361-246082, 227911/25 psw 174
18 - 20
The 2nd National Symposium The Recent Advances in
Critical Care Management
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp: 021-3441008 Ext. 2426, 3518038
JULI
25 - 27
Sewindu Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam
FKUI/RSCM 2003
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp: 021-330956
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
32
25 - 27
Sewindu Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam
FKUI/RSCM 2003
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp: 021-330956
Informasi Terkini, Detail dan Lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbe.co.id Medical >>
Calender of Event >> Complete
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 33