Displasia Ektodermal
S Fasihah R, Titi Lestari S, Mochtar Hamzah
Bagian/UPF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RS Ciptomangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Displasia ektodermal (DE) merupakan kelainan herediter
karakteristik, yaitu kelainan epidermis yang umumnya tidak
progresif, disertai paling sedikit salah satu perubahan apendiks-
nya
(1,2)
. Kelainan ini disebabkan oleh kegagalan evolusi lapisan
epiblastik pada blastoderm
(3)
. Istilah DE dipakai untuk sekelom-
pok kelainan yang secara anatomis maupun fisiologis mengalami
kerusakan berbagai struktur, yaitu gigi, kulit beserta apendiks-
nya, termasuk rambut, kuku, kelenjar ekrin dan kelenjar se-
basea
(1,2,4)
. Kelainan ini sering disertai malformasi organ-organ
lainnya sebagai akibat langsung, atau timbul bersamaan dengan
DE selama perkembangan embriologis
(1)
.
Danz pada tahun 1792 menemukan kelainan pada rambut
dan gigi. Kemudian pada tahun 1848, Thurman menemukan
kelainan pada rambut, gigi, kuku dan kelenjar keringat. Weech
pada tabula 1929 menyebutkan istilah DE dan pertama kali
menetapkan secara klinis dan genetis perbedaan antara bentuk
anhidrotik dengan bentuk anomali lainnya. Sejak itu banyak
dilaporkan variasi baru DE dalam kepustakaan
(1)
.
Solomon dan Keuer menganjurkan agar istilah DE dibatasi
pada kelainan kongenital, lesi difus, tidak progresif, serta meli-
batkan epidermis dan sekurangnya satu apendiks kulit
(1)
. Freire-
Maia membuat sistem klasifikasi melibatkan berbagai struktur
yang berasal dari lapisan ektoderm menjadi beberapa sub-grup,
yaitu
(1)
:
Sub-grup 1 : rambut (trikodisplasia)
Sub-grup 2 : gigi (odontodisplasia)
Sub-grup 3 : kuku (onikodisplasia)
Sub-grup 4 : kelenjar keringat (dishidrosis)
Sub-grup 5 : malfonnasi organ atau jaringan lain yang ber-
asal dari lapisan ektoderm.
Pembagian di atas dapat dikelompokkan menjadi dua tipe,
yaitu :
tipe A : kelainan sekurangnya dua sub-grup di antara sub-
grup 1 sampai 4.
tipe B : kelainan sekurangnya saw sub-grup di antara sub-
grup 1 sampai 4, ditambah sub-grup 5.
Ditemukan sekurangnya 117 sindrom yang dapat dimasuk-
kan dalam kombinasi sub-grup klasifikasi DE dari Freire-Maia
(1)
.
Pembagian DE adalah
(1,5,6,7,8)
:
1.
Displasia ektodermal anhidrotik (DEA), termasuk kelainan
anhidrotik dan hipohidrotik.
2.
Displasia ektodermal hidrotik (DEH).
Variasi lain, misalnya
(19)
:
1.
DEH Rapp-Hodgkin
2.
Sindrom EEC (Ectrodactily-Ectodermal Dysplasia-CleftLip/
Palate)
3.
Sindrom TRF (trikorinofalangeal)
4.
Sindrom OFD (orofasiodigital)
5.
Sindrom Nail Dystrophy-Deafness
6.
Sindrom Trichodento-osseous
7.
Sindrom Johanson-Blizzard.
EMBRIOLOGI
Kulit dan apendiksnya berasal dari lapisan ektoderm dan
mesoderm. Epidermis dan derivatnya yaiw rambut, kuku dan
kelenjar kulit berasal dari lapisan ektoderm superfisialis. Pada
embrio 17 minggu, sel stratum germinativum berproliferasi
membentuk epidermal ridges, yang tampak sebagai ridges dan
grooves pada telapak serta jari tangan dan kaki. Penelitian
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
30
terhadap garis kulit ini disebut dermatoglyphics. Semua lapisan
epidermis pada kulit orang dewasa sudah ada sejak lahir
(9)
.
Rambut berasal dari epidermis yang tumbuh ke arah
dennis. Pada embrio 20 minggu, kulit seluruh tubuh ditumbuhi
rambut halus, disebut lanugo, yang setelah lahir menetap
sebagai rambut velus. Rambut terdpat pada hampir seluruh
tubuh, kecuali daerah aksila dan pubis, yang akan tumbuh pada
masa pubertas sebagai rambut terminal. Pada pria rambut
terminal tumbuh juga di wajah dan dada
(1,9)
.
Kelenjar sebasea tumbuh ke atas dari tepi folikel rambut.
Sel kelenjar menghasilkan sekret seperti minyak yang disebut
sebum, dan akan dikeluarkan ke permukaan kulit melalui folikel
rambut, kemudian bersama sel periderm akan berdeskuamasi
membentuk vernixkaseosa
(9)
. Pada embrio 2024 minggu, ke-
lenjar keringat tumbuh dari epidermis ke dalam dermis, kemu-
dian memanjang dan berkelok-kelok
(1,9)
.
Kuku mulai tumbuh di ujung jari pada embrio 10 minggu.
Pada mulanya kuku dilapisi epidermis superfisialis, disebut
eponikium, yang kemudian berdegenerasi, kecuali pada bagian
proksimal kuku yaitu kutikula. Kuku tumbuh sempurna pada
embrio 32 minggu di jari tangan, dan 36 minggu di jari kaki
(9)
.
Gigi berasal dari lapisan ektoderm dan mesoderm. Lapisan
email berasal dari sel ektoderm, sedangkan bagian gigi lainnya
berasal dui mesoderm. Malformasi gigi kongenital adalah ke-
rusakan email atau bagian gigi lainnya, kelainan bentuk, serta
variasi dalam jumlah dan posisi
(9)
.
DISPLASIA EKTODERMAL ANHIDROTIK
Sinonim : Defek ektodermal kongenital
Displasia ektodermal hipohidrotik
Sindrom Christ-Siemens-Touraine
Sindrom Weech
(1,5)
.
Displasiaektodermal anhidrotik (DEA) merupakan sindrom
herediter yang karakteristik dengan tidak ada atau sangat se-
dikitnya jumlah kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan kelenjar
mukosa, disertai hipotrikosis dan anodonsia
(5,10)
.
Secara epidemiologis mempunyai distribusi ras yang luas,
yaitu di Amerika Utara, Eropa dan Asia. Lebih dui 200 kasus
dilaporkan melibatkan semua ras dengan perbandingan laki-
laki : perempuan 5 : 1
(5,10)
. Charles Darwin pada tahun 1875
melaporkan kelainan pada laki-laki keturunan Hindu.
Penyakit ini diturunkan secara rangkai seksX resesif
(1,4,8,11,12)
.
Lebih dari 90% laki-laki memperlihatkan seluruh gejala; se-
dangkan perempuan hanya pembawa sifat (carrier) yang mem-
punyai gejala ringan
(1,6,7,11)
;
pada duapertiga kasus, berupa ram-
but badan yang berbercak-bercak, disfungsi kelenjar keringat
dengan distribusi segmental, serta gigi yang tumbuh kecil dan
berbentuk peg
(1,5,6,11)
. Namun adanya heterogenisasi dalam bebe-
rapa keluarga mengakibatkan penyakit ini dapat diturunkan se-
cara dominan autosom
(1,4,5,13)
. Jarang yang diturunkan secara
resesif autosom, dengan gejala yang sama berat pada kedua
jenis kelamin
(4,6)
.
Etiologi DEA belum jelae. Beberapa peneliti menge-
mukakan bahwa proses patologis kemungkinan suatu aplasi,
bukan atrofi, karena struktur degeneratif jarang terlihat pada
pemeriksaan histopatologik. Perubahan ini dapat terjadi pada
embrio 3 bulan
(5,10)
.
Gejala klinis yang panting merupakan trias, yaitu hipo-
trikosis, hipohidrosis atau anhidrosis, dan hipodonsia atau
anodonsia
(1,3,5)
. Penderita lahir tanpa kelainan yang mencolok
(5,8)
.
Pada tahun pertama kehidupan, penderita sering mengalami
demam sekunder yang sangat dipengaruhi lingkungan akibat
kurangnya fungsi kelenjar keringat
(1,5,8)
.Apabila banyak bergerak
dapat timbul demam dan intoleransi terhadap panas
(1,2)
; demikian
juga bila musim panas dan sesudah makan makanan panas
(1,2)
.
Pada lingkungan panas, suhu tubuh penderita dapat meningkat
sampai 102°104°F (39°C), sehingga frekuensi nadi dan per-
napasan meningkat
(5)
; persentase panas yang hilang pada ling-
kungan panas, 3545% melalui radiasi, 4452% melalui kon-
duksi dan konveksi, dan hanya 46% melalui evaporasi
(14)
. Ke-
mungkinan besar penderita meninggal pada masa bayi karena
hipertermia atau akibat konvulsi
(5)
.
Kelainan kelenjar dapat berupa aplasi atau hipoplasi be-
berapa bagian kelenjar atau duktus kelenjar ekrin. Pada
beberapa kasus malformasi kelenjar, jumlah absolut kelenjar
pada beberapa tempat berkurang, sementara pada bagian kulit
lainnya norma
(1)
.
Pada masa kanak-kanak tampak rambut daerah kepala, alis
mata dan built mata tipis, kering, jarang dan hipokrom, atau
tidak ada sama sekali
(1,4,5,8)
. Pada masa pubertas rambut daerah
aksila dan pubis tidak tumbuh
(5,7)
atau sangat tipis dan jarang
(5)
.
Rambut kumis dan jenggot biasanya normal
(5)
.
Gigi mengalami kelainan hipodonsia atau anodonsia
(1,3,6,7,8)
yang ditandai oleh mahkota gigi berbentuk kerucut, karies dan
maloklusi gigi
(1,45,8)
. Gigi seri dan taring berbentuk peg
(1.6.8)
.
Penulis lain melaporkan pertumbuhan gigi yang lambat
(5,6)
, gigi
susu dan gigi tetap hanya tumbuh beberapa buah (310 gigi),
dan menempati rahang yang lebar
(2,4,5)
.
Wajah yang karakteristik dapat tampak pada usia 1 tahun
ditandai dengan frontal bossing, tulang maksila mendatar dan
saddle nose, sehingga menyerupai gejala penyakit sifilis
kongenital
(1,4,5,7,8)
. Tanda lain adalah bentuk telinga yang men-
colok, dagu menyempit dan kulit supraorbital berkerut
(1,3,5,6)
.
Tulang pipi tampak tinggi dan melebar, mata seperti penderita
Mongolism, puncak hidung kecil dan membelok ke atas, se-
dangkan lubang hidung besar dan mencolok, bibir tebal dengan
bagian atas tampak menonjol, serta pada sudut mulut terdapat
pseudorhagades
(3,4,5)
.
Pala 50% penderita tampak kuku menipis, rapuh, berkerut
dan mikronikia
(1,8)
. Gejala ini tidak terlalu mencolok dibanding-
kan kelainan kuku pada DEW). Biasanya kuku tumbuh nor-
mal
(5,6)
, tetapi dapat juga distrofi ringan, aplasi maupun malfor-
masi
(2)
, yang biasanya tidak mengenai seluruh kuku
(8)
.
Kulit yang kering, halus, tipis dan berkilap merupakan
gejala klinis akibat aplasi kelenjar sebasea
(1,4,6,7)
sehingga sering
disebut seperti kulit wanita
(6,8)
atau bayi prematur
(4)
. Erupsi
menyerupai dermatitis atopik tampak pada kulit yang terpajan,
terutama sekitar mata, berupa kulit yang kusam, kering, hiper-
pigmentasi dan berkerut
(1,4,6,11)
. Kelainan tersebut timbul sebagai
tanda kurangnya sekresi kelenjar ekrin, kelenjar sebasea, dan se-
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 31
ring kali pembuluh darah mudah terlihat
(5,6,7,11)
. Telapak tangan
dan kaki tampak hiperkeratotik
(5)
.
Membran mukosa cenderung memperlihatkan perkem-
bangan hipoplastik, yaitu tidak ada atau sedikit lakrimasi
(1,2,7)
.
Hal ini ditandai dengan kurangnya rasa mengecap dan mencium,
hidung dan mulut terasa kering, rinitis atrofikan, disfagi, si-
nusitis, faringitis, laringitis yang diikuti suara serak dan afoni
rekuren, bronkhitis serta pnemonia
(1,4,5,6)
. Secara umum
penderita mudah terinfeksi bakteri atau virus yang dapat
menyebabkan kematian
(1,4,5)
. Hipoplasi kelenjar di daerah kolon
ditemukan pada autopsi
(5,6,11)
.
Walaupun jarang, kelainan pada mata dapat berupa distrofi
kornea dengan pembentukan pannus sehingga tampak kekeruh-
an kornea dan lensa mata, atresia muara saluran lakrimalis,
mikroftalmia, fotofobia, katarak, atrofi korioretina dan uvei-
tis
(1,2,5,6)
.
Kelainan pada telinga jarang, dapat berupa tuli konduktif
(1,2)
maupun tuli saraf
(5,6)
.
Pada perkembangan fisik, tinggi badan sering kali kurang
dibandingkan dengan orang normal
(6)
, sedangkan perkembang-
an mental, kecerdasan umumnya normal, meskipun dilaporkan
juga adanya gangguan mental ringan
(4,5,6,8)
.
Anomali lain yang juga dilaporkan adalah perubahan
skeletal, celah palatum, sindaktili, polidaktili, penebalan tulang
kranium, serta kelainan genital misalnya hipospadi, epispadi
dan testis tidak turun
(4,5)
.
Pada pemeriksaan histopatologis tampak lapisan kulit lebih
tipis dibandingkan dengan kulit normal, walaupun serat kolagen,
elastin dan pembuluh darah normal
(5)
. Kelenjar ekrin tidak ada
atau rudimenter. Kelenjar sebasea berkurang, kecuali pada
wajah. Kelenjar apokrin dapat normal, hipoplasia atau aplasi
(5,6)
.
Pada mukosa hidung dan saluran pemapasan bagian atas lainnya
tampak perubahan hipoplastik pada epitel dan kelenjarnya
(5)
.
Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan biopsi kulit
yang diambil bersamaan dengan fetoskopi dari fetus laki-laki
berusia 20 minggu, akan tampak adanya aplasi unit pilose-
basea
(1)
. Biopsi kulit telapak tangan penderita dilakukan untuk
mengevaluasi struktur kelenjar, akan tampak aplasi atau hipo-
plasi kelenjar keringat
(1,2)
. Pada penderita carrier yang diturun-
kan secara rangkai seks X, kelainan ini dapat dibuktikan dengan
menghitung jumlah pori-pori kulit menggunakan iodium kanji,
biru bromofenol atau oftaldehid
(1,2,5)
. Kulit penderita yang ber-
kilap, halus, kering dan tanpa keringat, dapat dibuktikan
dengan pemeriksaan iontoforesis pilo;.arpin secara kuantitatif
yang menentukan kemampuan berkeringat
(1,2)
.
Penatalaksanaan penyakit ini hanya simtomatik
(5)
, tidak
ada terapi spesifik yang dapat diberikan
(6)
. Penderita memerlu-
kan perawatan medis selama masa neonatus, yaitu pada saat
demam persisten yang penyebabnya tidak diketahui
(1)
. Hindari
keadaan yang menginduksi hiperpireksia
(1,4,5,8)
. Dianjurkan
pemakaian pendingin ruangan, pakaian tipis, serta pembatasan
aktivitas berlebihan, terutama pada musim panas
(1,8)
.
Memperhatikan kebersihan mulut dapat mengurangi karies
dan gigi tanggal prematur. Perawatan gigi harus teratur dengan
rekonstruksi bila ada indikasi
(1,2,4,8)
. Tindakan bedah plastik ter-
hadap hidung akan memperbaiki wajah penderita dan umumnya
bermanfaat secara psikis
(5)
. Tandur kulit harus benar-benar se-
lektif
(5)
.
Gangguan lakrimasi dikoreksi dengan pemakaian air mata
buatan
(1,2)
. Dapat juga diberikan obat tetes mata untuk mengu-
rangi kekeringan
(5)
.
Kulit yang kering memerlukan perawatan dengan memakai
pelembab yang cocok dan dapat menimbulkan rasa nyaman
bagi penderita
(1)
. Semprotan garam faal pada hidung dan
tenggorokan akan menghalangi pembentukan krusta dan iritasi
mukosa
(1,5)
, sedangkan semprotan hidung yang mengandung
estrogen diberikan pada penderita rinitis kronis
(5)
. Alopesia
dapat diatasi dengan pemakaian rambut palsu
(2,5)
.
DISPLASIA EKTODERMAL HIDROTIK
Sinonim : Sindrom Clouston
(1,2,5)
.
Displasia ektodermal hidrotik (DEH) merupakan sindrom
herediter yang karakteristik dengan hipotrikosis generalisata,
distrofi kuku, hiperkeratosis palmoplantar dan hiperpigmen-
tasi
(4,5,7,8,15)
.
Secara epidemiologis DEH pertama kali ditemukan oleh
Clouston pada tahun 1920 yaitu pada keturunan Prancis-
Kanada
(4,5,6,8)
. Dilaporkan juga penyakit ini pada keluarga
Negro Amerika
(1,5,16)
. dan keturunan Cina
(1,5,15)
. Penyakit ini
sangat jarang
(3)
.
Penyakit ini diturunkan secara dominan autosom
(4,5,6,7)
.Laki-
laki dan perempuan dapat diturunkan dengan perbandingan
yang sama
(5,8)
.
Fried melaporkan ada yang diturunkan secara
rangkai seks X resesif
(4,5)
.
Etiologi DEH belum jelas. Ada teori yang mengatakan ter-
jadi peningkatan sejumlah sulfhidril reaktif pada keratin
(5)
dan
terdapat kelainan molekul keratin secara biokimia
(5,6,8)
.
Penderita DEH mempunyai wajah normal
(3,8)
. Rambut
tampak jarang, kasar, pendek, kadang-kadang dengan alopesia
totalis atau parsialis pada kepala, bulu mata dan alis mata.
Telah diketahui bahwa kerusakan susunan lapisan keratin
rambut ada hubungannya dengan kuatnya ikatan disulfida
(1)
.
Walaupun merupakan gejala primer, distrofi kuku dapat
terjadi dalam berbagai bentuk kelainan kuku, namun tidak ada
yang karakteristik
(8)
. Pada akhir masa kanak-kanak, tumbuh
kuku yang rapuh, mikronikia dan onychauxis
(1)
. Dalam perkem-
bangannya kuku tumbuh lambat, dapat tipis atau tebal, datar,
pendek, kasar, terbelah-belah, adanya alur-alur yang
memanjang dan warna sedikit berubah
(4,5,8)
. Sering terjadi
paronikia disertai kerusakan matriks kuku
(8)
. Pada sekitar 30%
penderita, tidak jelas kelainannya kecuali distrofi kuku
(8)
.
Garis-garis telapak tangan dan kaki menghilang disertai
hipertrofi
(1)
, dengan pernmkaan yang kasar (hiperkeratosis)
(5,6,7,8)
.
Tampak kerutan dan lipatan kulit pada jaringan paronikia. Kulit
daerah glabrosa terlihat kering dan halus, bisa disertai akne
ringan akibat hipoplasia unit pilosebasea
(1)
.
Selain pada kulit daerah persendian, hiperpigmentasi juga
tampak pada buku jari, aksila, areola mama, umbilikus,pubis dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
32
tulang pinggul
(1,5,7)
.
Fungsi kelenjar keringat dan kelenjar sebasea biasanya
normal, seperti juga kelenjar mukosa
(2,4,6,7)
. Namun Wilkinson
melaporkan terdapatnya tumor jinak duktus kelenjar keringat
yang difus pada usia tua, yaitu poroma eerin (dikutip dari 1, 5,
6, 18).
Kelainan pada mata jarang. Telah dilaporkan adanya ke-
keruhan lentikular pada satu keluarga dan katarak prematur
bilateral pada sanak keluarga yang lain
(1,7)
. Gejala lainnya adalah
konjungtivitis, pterigium, strabismus dart katarak kongenital
(5)
.
Kelainan pada gigi berupa tumbuhnya gigi yang kecil pada
gusi yang relatif lebar, pertumbuhan gigi lambat dan karies
gigi
(1,2,4,8)
. Laporan lain menyebutkan tidak terdapat kelainan
pada gigi
(4,6,7,8)
.
Tull saraf telah dilaporkan sebagai kasus yang jarang
(1,4,6,7)
.
Beberapa penderita mengalami retardasi mental
(1,4,6,7)
dan epi-
lepsi
(5)
. Selain itu dapat ditemukan kelainan skeletal, misalnya
polidaktili dan sindaktili
(1,5)
. Terdapat juga penebalan tulang
tengkorak dan gejala dwarfism
(5)
.
Pada pemeriksaan histopatologis, biasanya tampak kelenjar
apokrin dan ekrin normal, sedangkan kelenjar sebasea dapat
normal atau atrofi
(5)
.
Penatalaksanaan penyakit ini hanya simtomatik, tidak ada
pengobatan spesifik Katig dapat diberikan
(4)
. Terhadap oniko-
mikosis diberikan antimikosis. Pada mata dila
p
ukan lubrikasi
okular. Perawatan gigi hanya bersifat profilaksis dan kamuflase
kosmetis
(1)
. Pada kulit yang hiperkeratosis dapat diberikan ke-
ratolitik
(8)
.
KESIMPULAN
DE merupakan kelainan herediter. Gejala klinis dan
frekuensi penyakit ini bergantung pada fenotipnya. Misalnya
penderita dengan kelainan rambut dan gigi akan lebih sering
berobat dibandingkan penderita dengan kelainan kuku dan
hipohidrosis
(1)
.
Penyakit DEH secara klinis lebih ringan dibandingkan
DEA, walaupun sebenarnya jumlah penderita DEH lebih banyak
daripada DEA, tetapi yang dilaporkan hanya sedikit. Mungkin
karena gejalanya kunang mencolok
(5)
.
KEPUSTAKAAN
1.
Schachner LA, Hansen RC. Pediatric Dermatology, 1st ed. New York:
Churchill Livingstone, 1988. Hal. 32832, 63941.
2.
Nelson WE. Ectodermal Dysplasias. In: Nelson's Textbook of Pediatrics,
13th ed. Philadelphia: WB Saunders Co. 1987. Hal. 138990.
3.
Domonkos AN et al. Seine Genodennatosis. In: Andrew's Diseases of the
Skin, 7th ed. Philadelphia: WB Saunders Co. 1982. Hal. 726-8.
4.
Kaloustian VM, Kurban AK. Genetic Diseases of the Skin, 1st ed. Berlin
1979. Hal. 10914.
5.
Butterworth T, Ladda RL. Clinical Genodernatology, 1st ed. New York:
Praeger Publ 1981. Hal. 20817.
6.
Moschella SL, Hurley HI. Hereditary Cutaneous Disorders. In: Dennato-
logy, 2nd ed. Philadelphia: WB Saunders Co. 1985. Hal. 12113.
7.
Fitzpatrick TB et al. Cutaneous manifestation of disease in other organ
system. In: Dermatology in General Medicine, 3rd ed. New York: Mc
Graw-Hill Book Co. 1987. Hal. 2042.
8.
Hurwitz S. Congenital Ectodermal Defect. In: Clinical Pediatric Dem a-
tology, 1st ed. Philadelphia: WB Saunders Co. 1981. Hal. 1378.
9.
Moore ICI The Integumentary System. The Developing Human, Clini-
cally Oriented Embryology, 1st ed. Philadelphia: WB Saunders Co. 1973.
Hal. 35261.
10.
Reddy BSN et al. Anhydrotic ectodermal dysplasia. Intemat J. Dermatol.
1978; 17: 13941.
11.
Reed WB et al. Clinical spectrum of anhydrotic ectodermal dysplasia.
Arch. Dermatol. 1970; 102: 13442.
12.
Kitz SI, Penneys NS. Sebaceous gland papules in anhydrotic ectodennal
dysplasia. Arch. Dermatol. 1971; 103: 5079.
13.
Witkop Cl et al. Hypoplastic enamel, onycholysis and hypohydrosis
inherited as an autosomal dominant trait. Oral Surgery 1975; 39: 7186.
14.
Rietschel RL, Wilmore DW. Heat loss in anhydrotic ectodermal
dysplasia. J. Invest. DennatoL 1978; 71: 1457.
15.
Rajagopalan K, Tay CH. Hydrotic ectodennal dysplasia. Arch. DennatoL
1977; :f3: 4815.
16.
Mc Naughton PZ et'al. Hydrotic ectodermal dysplasia in a black mother
and daughter. Arch. Dermatol. 1976; 112: 144850.
17.
Hazen PG et aL Premature cataracts in a family with hydrotic ectodermal
dysplasia. Arch. Dermatol. 1980; 116: 13857.
18.
Wilkinson RD 'et' al. Hydrotic ectodermal dysplasia with diffuse eccrine
poromatosis. Arch. Dermatol. 1977; 113: 4726.
19.
Solomon LM, Keuer EL The ectodermal dysplasias. Arch. DennatoL
1980; 116: 12959
Fortune does not change men, it only unmasks them.
(Mme Riccoboni)
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 33